Anda di halaman 1dari 24

TUGAS IRIGASI DAN

BANGUNAN AIR

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Dalam perencanaan jaringan irigasi, air yang digunakan dalam pengairan diambil
dari sungai terdekat. Pengambilan air dari sungai dapat dilakukan secara bebas apabila
elevasi sawah lebih rendah daripada elevasi sungai, karena air akan dengan mudah
mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Permasalahan yang timbul
adalah apabila sungai tersebut memiliki elevasi yang lebih rendah daripada elevasi sawah
yang akan diairi. Untuk mencapai sawah yang tinggi tersebut, air sungai harus memiliki
kecepatan yang tinggi dan konstan. Sedangkan kecepatan aliran sungai tidaklah selalu
konstan, kadang sangat tinggi, rendah bahkan sampai tidak ada air sama sekali (saat
musim kemarau).
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan pompa air. Akan tetapi,
karena biaya pengelolaannya tinggi, maka harga air irigasi akan menjadi tinggi pula.
Alternatif ini jarang digunakan dengan pertimbangan ekonomis.
Alternatif lain yang lebih ekonomis adalah dengan membuat bendung yang
memotong langsung aliran sungai. Bendung ini berfungsi untuk menaikkan elevasi muka
air sungai untuk mendapatkan kecepatan aliran yang diinginkan, sehingga sawah terjauh
dapat dialiri air. Dengan adanya bendung ini, air sungai dapat ditampung untuk jangka
waktu tertentu sehingga sawah dapat tetap diairi walaupun aliran sungai rendah.

I.2. Landasan Teori


I.2.1 Pengertian Bendung
Bendung merupakan salah satu apa yang disebut dengan Diversion Hard Work,
yaitu bangunan utama dalam suatu jaringan irigasi yang berfungsi untuk menyadap air
dari suatu sungai sebagai sumbernya.
Bendung adalah suatu bangunan konstruksi yang terletak melintang memotong
suatu aliran sungai dengan tujuan untuk menaikkan elevasi muka air yang kemudian akan
digunakan untuk mengaliri daerah yang lebih tinggi atau daerah yang sama tinggi. Hal ini
harus dibedakan dengan waduk yang bersifat menampung dan menyimpan air. Pada
hakekatnya bendung dapat disamakan sebagai bangunan pelimpah atau Over Flow Weir
Type.

1
TUGAS IRIGASI DAN
I.2.2 Fungsi Bendung BANGUNAN AIR

Fungsi dari suatu bendung antara lain :


1. Menaikkan elevasi air sehingga daerah yang bisa dialiri menjadi lebih luas.
2. Memasukkan air dari sungai ke saluran melalui Intake
3. Mengontrol sedimen yang masuk ke saluran sungai.
4. Mengurangi fluktuasi sungai.
5. Menyimpan air dalam waktu singkat.

I.2.3 Syarat-syarat dan Lokasi Bendung


Syarat-syarat konstruksi bendung yang harus dipenuhi antara lain :
1. Bendung harus stabil dan mampu menahan tekanan air pada waktu banjir.
2. Pembuatan bendung harus memperhitungkan kekuatan daya dukung tanah di
bawahnya.
3. Bendung harus dapat menahan bocoran (seepage) yang disebabkan oleh aliran
air sungai dan aliran air yang meresap ke dalam tanah.
4. Tinggi ambang bendung harus dapat memenuhi tinggi muka air minimum
yang diperlukan untuk seluruh daerah irigasi.
5. Bentuk peluap harus diperhitungkan, sehingga air dapat membawa pasir,
kerikil dan batu-batu dari sebelah hulu dan tidak menimbulkan kerusakan pada
tubuh bendung.

Lokasi yang tepat untuk membangun bendung adalah :


1. Lokasi dengan profil sungai yang teratur serta kelandaian (I) yang kecil,
sehingga penggerusan pada waktu banjir yang terjadi pada bagian dasar atau
tepi sungai tidak terlampau besar.
2. Lokasi dengan sungai yang lurus atau belokan dengan jari-jari (R) yang besar
serta arah pengaliran yang tetap, sehingga tidak terjadi penggerusan tepi.
3. Lokasi dengan bagian sungai yang tanah dasarnya cukup kuat dan cukup
kedap air, tanggul banjir sependek mungkin hubungkan dengan saluran
pembawa.
4. Jika sungai berbelok-belok, maka dicari lokasi bendung dengan coupure yang
seideal mungkin. Bendung dibangun di coupure, kemudian setelah
pembangunan bendung selesai ditimbun, sungai baru yang melewati bendung
tersebut dibangun. Dengan demikian, lokasi bendung akan berada pada di
sungai yang lurus.
2
TUGAS IRIGASI DAN
I.2.4 Pembagian Bendung BANGUNAN AIR

a) Berdasarkan Cara Pembendungannya.


Pembendungan air dapat tidak hanya dengan puncak pelimpah yang
permanen saja, tetapi dapat juga dilengkapi dengan pintu pengatur yang bekerja di
atas puncak ambang bendung. Berdasarkan hal tersebut, maka bendung dapat
dibagi menjadi :
1. Bendung
Bila seluruh atau sebagian besar dari pembendungannya dilakukan oleh
sebuah puncak pelimpah yang permanen. Meskipun bendung juga dilengkapi
dengan pintu, tetapi bagian dari pintu ini lebih kecil dalam pelaksanaan
pembendungan air .
2. Barrage
Jika seluruh pembendungan atau sebagian besar dari pembendungan
dilakukan oleh pintu. Pada Barrage yang pembendungannya dilakukan
seluruhnya oleh pintu, maka pada waktu banjir pintu tersebut dibuka
sehingga peluapannya akan menjadi minimum/ berkurang.

b) Berdasarkan Fungsinya.
1. Bendung Pengarah ( Diversion Weir ).
Diversion Weir adalah suatu bangunan pelimpah dengan atau tanpa pintu
penutup dan terletak melintang atau memotong kedalaman dasar sungai.
Fungsinya adalah untuk membelokkan air sungai ke saluran primer
2. Bendung Penahan.
Fungsinya adalah untuk menyimpan air banjir atau manahan air banjir pada
saat banjir datang sebagai penahan atau pengontrol banjir.

c) Berdasarkan Bentuk dan Material Konsruksi.


1. Masonary Weir With Vertical Drops.
Bendung tipe ini terdiri dari sebuah lantai horisontal dan sebuah puncak
ambang dari pasangan batu tembok dengan permukaan air hampir tegak.
(kadang-kadang juga dilengkapi dengan pintu ). Bendung tipe ini cocok
untuk tanah dasar lempung keras.
2. Rock Dry Stone Weir.
Bendung tipe ini adalah tipe yang sederhana, tipe ini cocok untuk tanah
dasar berpasir halus seperti tanah alluvial.
3
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN AIR

Bendung tipe ini juga membutuhkan jumlah batu yang sangat banyak, jadi
bendung tipe ini tidak banyak dipakai.

Sebelum dapat merencanakan dan melaksanakan pekerjaan bangunan utama, maka


yang pertama kali diperlukan adalah data data perencanaan. Data data yang diperlukan
antara lain :
a) Data Topografi
Meliputi :
Peta yang menyajikan seluruh daerah aliran sungai
Peta situasi untuk letak bangunan utama
Gambar potongan memanjang dan melintang sungai baik di sebelah
hulu maupun hilir bangunan utama.
Dalam tugas ini data topografi antara lain :
Lebar dasar sungai pada lokasi bendung
Elevasi dasar sungai pada dasar bendung
Elevasi muka tanah pada sungai
Kemiringan atau slope dasar sungai

b) Data Hidrologi
Faktor faktor yang diperhitungkan antara lain :
Masalah banjir rencana
Perhitungan banjir rencana
Curah hujan efektif
Distribusi curah hujan tiap jamnya
Unit Hidrograph
Dalam tugas ini data hidrologi antara lain :
Debit rencana
Koefisien pengaliran akibat curah hujan

c) Data Morfologi
Meliputi :

4
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN
Kandungan sedimen, kandungan sedimen AIR
dasar maupun laying
termasuk distribusi ukuran butir.

Perubahan perubahan yang terjadi pada dasar sungai secara


vertikal maupun horisontal.
Unsur kimiawi sedimen.

d) Data Geologi
Meliputi :
Kondisi umum permukaan tanah daerah yang bersangkutan
Keadaan geologi lapangan
Kedalaman lapisan tanah keras
Permeabilitas tanah
Bahaya gempa bumi

e) Data Mekanika Tanah


Meliputi :
Tegangan ijin tanah
Bahaya pondasi
Keadaan muka air tanah
Berat jenis tanah

f) Data Lingkungan dan Ekologi

g) Peraturan Peraturan yang Berlaku


Standar untuk perencanaan peraturan dan standar yang telah ditetapkan secara
nasional, seperti SNI Beton, Daftar Baja, dll

Setelah diketahui semua data perencanaan di atas, dapat dilanjutkan dalam perencanaan
dan pelaksanaan bangunan utama.

I.2.5. Bangunan yang Terdapat pada Bendung


1. Tubuh Bendung ( Weir )

5
TUGAS IRIGASI DAN
Adalah bagian yang selalu atau boleh dilewati air baik dalam keadaan
BANGUNAN AIR normal

maupun air banjir.


Tubuh bendung harus aman terhadap:
- Tekanan air
- Tekanan akibat perubahan debit yang mendadak.
- Tekanan gempa
- Akibat berat sendiri
2. Bangunan Pembilas
Pada hulu bendung tepat di hilir pengambilan, dibuat bangunan pembilas guna
mencegah masuknya bahan sidemen kasar ke dalam saluran irigasi.
Ada empat tipe, yaitu:
- Pembilas pada tubuh bendung dekat pengambilan.
- Pembilas bawah
- Shunt undersluice
- Pengambilan bawah tipe boks
Untuk mengurangi aliran yang bergolak (Turbulent) yang terjadi didekat intake
maka perlu dibangun bangunan penguras (Under Sluice).
3. Bangunan Penguras
Fungsinya adalah untuk mengurangi aliran yang bergolak (Turbulent) yang
terjadi di dekat intake. Puncak ambang dari under sluice dijaga agar lebih
rendah dari puncak ambang bendung, sehingga akan membantu membawa
debit pada musim kering ke arah under sluice. Normalnya, permukaan puncak
ambang under sluice ini sama dengan permukaan dasar saluran terdalam pada
musim kering. Dengan membukanya pintu penguras, maka akan menggelontor
endapan lumpur yang terdapat di depan intake maupun di under sluice.
4. Dinding Pemisah (Divide Wall)
Terbuat dari susunan batu kali atau beton yang dibangun disebelah kanan
sumbu bendung dan membatasi antara tubuh bendung dengan under sluice
(Bangunan Penguras).
Fungsi utama dari dinding pemisah yaitu :
- Membagi antara bendung utama dan under sluice, karena kedudukan
under sluice lebih rendah daripada tubuh bendung.
- Membantu mengurangi arus yang bergolak didekat intake sehingga lumpur
akan mengendap di under sluice dan air yang bebas lumpur akan masuk ke
intake.
6
TUGAS IRIGASI DAN
5. Canal Head Regulator BANGUNAN AIR

Berfungsi sebagai :
- Mengatur pemasukan air kedalam saluran.

- Mengontrol masuknya lumpur kedalam sungai.


- Menahan banjir sungai masuk kedalam saluran.
Regulator umumnya terletak di sisi sebelah kanan bendung dan agak menyudut
(antara 90 110 dengan sumbu horizontal)
6. Kantong Lumpur.
Berfungsi untuk mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih besar dari
fraksi pasir halus (0,06 s/d 0,07mm) dan biasanya ditempatkan persis disebelah
hilir bangunan pengambilan. Bahan-bahan yang telah mengendap dalam
kantung lumpur kemudian dibersihkan secara berkala melalui saluran pembilas
kantong lumpur dengan aliran yang deras untuk menghanyutkan endapan-
endapan itu ke sungai sebelah hilir.
7. Bangunan Pelengkap.
Terdiri dari bangunan-bangunan atau pelengkap yang akan ditambahkan ke
bangunan utama untuk keperluan :
- Pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di saluran sungai.
- Pengoperasian pintu
- Peralatan komunikasi, tempat berteduh serta perumahan untuk tenaga
eksploitasi dan pemeliharaan.
- Jembatan diatas bendung, agar seluruh bagian bangunan utama mudah
dijangkau atau agar bagian-bagian itu terbuka untuk umum.

Keadaan Tubuh Bendung


a) Menentukan tinggi muka air maksimum pada sungai dipengaruhi oleh :
Kemiringan dasar sungai (I)
Lebar dasar sungai (b)
Debit rencana (Qd)

b) Menentukan tinggi mercu bendung dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara


lain :
Elevasi sawah bagian hilir

7
TUGAS IRIGASI DAN
Elevasi kedalaman air sawah BANGUNAN AIR

Kehilangan tekanan dari saluran tersier ke sawah


Kehilangan tekanan dari saluran sekunder ke tersier

Kehilangan tekanan dari bangunan ke alat ukur


Kehilangan tekanan pada pintu intake ke saluran induk
Kehilangan tekanan pada waktu eksploitasi
Kehilangan tekanan akibat kemiringan sungai, dll

c) Menentukan tinggi air di atas mercu bendung, dipengaruhi oleh :


Lebar bendung (B)
Lebar efektif bendung (Leff)
Leff = B b t + 0,8 b
= B t 0,2 b
Keterangan :
Leff = lebar efektif bendung
B = lebar seluruh bendung
t = jumlah tebal pilar
t = jumlah lebar pintu bilas

d) Menentukan panjang dan dalam kolam olakan


Kolam olak berfungsi untuk peredam energi yang terkandung dalam aliran
dengan memanfaatkan loncatan hidrolis dari suatu aliran yang berkecepatan
tinggi.

e) Menentukan panjang lantai muka


Digunakan rumus/teori :
Teori Bleigh
L
H
C bleigh

Teori Lane
Dimana energi arah vertikal lebih besar daripada arah horisontal atau
dengan perbandingan 3 : 1, sehingga didapat :

8
TUGAS IRIGASI DAN
LV = 3 LH BANGUNAN AIR

LV 1 LH
H 3
Clane

f) Menentukan stabilitas bendung


Ditentukan oleh :
Gaya berat sendiri
Gaya gempa
Gaya hidrostatis
Tekanan lumpur
Tekanan up lift pressure

g) Perencanaan pintu
Berfungsi mengatur banyaknya air yang masuk dan mencegah masuknya
benda benda padat ke dalam saluran.
Pada bendung, tempat pengambilan bisa terdiri dari 2 buah, yaitu di kiri
dan kanan atau hanya bisa sebuah, tergantung letak daerah yang akan
dialiri.
Tinggi ambang tergantung material yang terbawa oleh sungai, makin tinggi
ambang makin baik.
Ukuran pintu ditentukan dari segi praktis dan estetika, lebarnya maksimum
2 meter.
Pintu penguras biasanya diambil 1/10 lebar bendung (B), pada waktu
banjir pintu penguras ditutup.

I.2.6 Tipe Mercu Bendung.


Di Indonesia ada beberapa tipe mercu untuk bendung pelimpah yang umum
digunakan :
a. Tipe Vlughter
Tipe ini digunakan pada tanah dasar alluvial dengan kondisi sungai tidak
membawa batuan-batuan besar. Tipe ini banyak dipakai di Indonesia.
b. Tipe Schoklitsch

9
TUGAS IRIGASI DAN
Tipe ini merupakan modifikasi dari tipe Vlughter terlalu AIR
BANGUNAN besar yang
mengakibatkan galian atau koperan yang sangat besar.
c. Tipe Mercu Bulat
Memiliki harga koefisien debit yang lebih tinggi (44%) dibandingkan koefisien
bendung ambang lebar. Pada sungai, mercu ini akan banyak memberikan

keuntungan karena bangunan ini akan mengurangi tinggi muka air hulu selama
banjir. Harga koefisien debit menjadi lebih tinggi karena lengkung streamline dan
tekanan negatif pada mercu.
d. Tipe Mercu Ogee
Mercu Ogee berbentuk tirai luapan bawah dari bendung ambang tajam aerasi. Tipe
ini dipilih karena tanah disepanjang kolam olak dalam keadaan baik, dan
memerlukan lantai muka untuk menahan penggerusan. Maka untuk menahan
penggerusan digunakan tumpukan batu sepanjang kolam olak sehingga dapat lebih
hemat.

1.2.7 Tinggi Jagaan


Tinggi Jagaan berguna untuk :
Menaikkan muka air di atas tinggi muka air maksimum
Mencegah kerusakan tanggul saluran
Meningginya muka air sampai di atas tinggi yang telah direncanakan bisa
disebabkan oleh penutupan pintu secara tiba tiba disebelah hilir; variasi ini akan
bertambah dengan membesarnya debit. Meningginya muka air dapat pula
diakibatkan oleh pengaliran air buangan ke dalam saluran.
Tinggi jagaaan minimum yang diberikan pada saluran primer dan sekunder
dikaitkan dengan debit rencana saluran, seperti yang diperlihatkan dalam tabel.
Tabel tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah
Q (m3/dt) Tinggi Jagaan (m)
< 0,5 0,40
0,5 1,5 0,50
1,5 5,0 0,60
5,0 10,0 0,75
10,0 15,0 0,85
>15,0 1,00
Sumber : Kriteria perencanaan KP-03

10
TUGAS IRIGASI DAN
1.3 Metode Penulisan BANGUNAN AIR

Metode penulisan yang dipakai adalah metode studi literatur, yaitu berdasarkan
teori teori yang diambil dari buku dan literatur pendukung lainnya.

BAB II
MENENTUKAN DEBIT RENCANA

II.1 Data hujan wilayah (Area Rainfall)

Tahun X (mm) X (mm2)


1986 140 19600
1987 135 18225
1988 120 14400
1989 145 21025
1990 110 12100
1991 115 13225
1992 127 16129
1993 85 7225
1994 94 8836
1995 104 10816
1996 105 11025
1997 80 6400
1998 142 20164
1999 115 13225
2000 95 9025
2001 103 10609
2002 87 7569
2003 92 8464
2004 140 19600
2005 115 13225
Jumlah 2249 260887

II.2 Analisa Probabilitas Hujan (E. J. Gumbel)


Dengan cara analistis
X = 2249 mm
X2 = 260887 mm2

11
TUGAS IRIGASI DAN

X
BANGUNAN AIR

n
2249
112,45 mm
20


2
X.
n 1
260887 112,45 . 2249

20 1

420,3658

= 20,503 mm

Dengan jumlah data n = 20, maka dari Tabel 8-5 hal 148 dan Tabel 8-6 hal 149,
Buku Hidrologi Teknik, Diperoleh : Sn = 1,0628 dan Yn = 0,5236

1 1 20,503

a Sn a 1,0628

= 19,291 mm
1
b X Yn . 112,45 0,5236 .19,291
a
102,349 mm

Reduced Variate (YT )


YT ln ln (Tr 1) / Tr

Untuk 50 tahun
YT ln ln (50 1) / 50
= 3,9019
Maka persamaannya menjadi :
YT
XT b
a
102,349 YT .19,291
102,349 3,9019.19,291
177,621 mm

II.3 Koefisien Pengaliran (C)

12
TUGAS IRIGASI DAN
Koefisien pengaliran adalah suatu variabel yang didasarkan pada kondisi
BANGUNAN AIR daerah

pengaliran dan karakteristik hujan yang jatuh pada daerah tersebut.

Adapun kondisi dan karakteristik tersebut adalah:


a. Keadaan hujan
b. Luas dan bentuk daerah pengaliran
c. Kemiringan daerah pengaliran dan kemiringan dasar sungai
d. Daya infiltrasi dan perkolasi
e. Kebasahan tanah
f. Suhu udara dan angina serta evaporasi yang berhubungan dengan ketiga faktor di
atas
g. Tata guna tanah
Koefisien pengaliran diambil = 0,5

II.4 Hujan Netto


Hujan netto adalah bagian hujan total yang menghasilkan limpasan langsung atau
direct run-off. Limpasan langsung ini terdiri dari limpasan permukaan (surface run-off)
dan interflow (air yang masuk ke dalam lapisan tipis di bawah lapisan tanah dengan
permeabilitas yang rendah, yang keluar lagi di tempat yang lebih rendah dan berubah
menjadi limpasan permukaan).
Dengan menganggap bahwa proses transformasi hujan menjadi limpasan langsung
mengikuti proses linier dan tidak berubah oleh waktu (linier and time invariant process).

Hujan netto (Rn) dapat dinyatakan :


Rn = C . R
Dimana:
Rn = Hujan Netto (mm)
C = Koefisien pengaliran
R = Curah hujan nyata / Bruto (mm)
Untuk 50 tahun
Rn = C . R
= 0,5 . 177,621
= 88,811 mm

13
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN AIR

II.5 Perhitungan distribusi hujan jam-jaman (hourly rainfall distribution).


II.5.1 Rata rata hujan sampai jam keT
Dihitung dengan rumus :
Rt = R0 (5/T)2/3
dimana :
Rt = rata-rata curah hujan dari awal sampai dengan jam ke-T
R0 = R24/5
T = waktu hujan dari awal sampai dengan jam ke-T
R24 = jumlah hujan sehari = Rnetto yang menyebabkan limpasan
5 = dianggap hujan terpusat selama 5 jam per hari
Kemudian dengan perumusan diatas, dengan memasukkan harga T = 1 sampai
dengan 5 dilakukan sebagai berikut :
Untuk : T = 1
2/3
R24 5
R t1 = 0,58 5 R24
5 1

Untuk : T = 2
2/3
R24 5
R t2 = 0,368 R24
5 2

Untuk : T = 3
2/3
R24 5
R t3 = 0,281 R24
5 3

Untuk : T = 4
2/3
R24 5
R t4 = 0,232 R24
5 4

Untuk : T = 5
2/3
R24 5
R t5 = 0,200 R24
5 5

14
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN AIR

II.5.2 Curah hujan pada jam ke T


Dihitung dengan rumus :
R T t.Rt (t 1).Rt ( t 1)

Dimana :
R T = besar curah hujan pada jam ke T

t = waktu hujan dari awal sampai dengan jam ke T


Rt = rata-rata curah hujan dari awal sampai dengan jam ke T
Rt ( t 1) = rata-rata curah hujan dari awal sampai dengan jam ke T
Dengan perumusan di atas maka akan didapat harga RT , dengan memasukkan
harga t adalah sebagai berikut :
Untuk t = 1
R T 1 1.0,58R 24 0 0,585R 24
Untuk t = 2
R T 2 2.0,368R 24 1.0,585R 24 0,151R 24
Untuk t = 3
R T 3 3.0,281R 24 2.0,368R 24 0,107 R 24
Untuk t = 4
R T 4 4.0,232R 24 3.0,281R 24 0,085R 24
Untuk t = 5
R T 5 5.0,200R 24 4.0,232R 24 0,072R 24

Hasil perhitungan di atas ditabelkan pada tabel 2. Dari perhitungan di atas atau
tabel 2 dapat disimpulkan, untuk R24 = Rnetto = 100% , didapat suatu rasio (%) yang
hasilnya dapat dilihat dalam tabel 3. Hasil Tabel 3 dapat digambarkan sebagai
berikut pada gambar. 1. Kemudian dari data yang dibuat distribusi jam-jaman yang
terjadi, hasil dari distribusi tersebut dapat dilihat dalam tabel. 4.

15
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN AIR

Tabel 1. Rata rata pembagian hujan sampai jam ke T


Jam ke t Rt Besar (mm)
1 Rt1 0,585 R24
2 Rt2 0,368 R24
3 Rt3 0,281 R24
4 Rt4 0,232 R24
5 Rt5 0,200 R24

Tabel 2. Besar curah hujan pada jam ke T


Jam ke T RT Besar (mm)
1 RT1 0,585 R24
2 RT2 0,151 R24
3 RT3 0,107 R24
4 RT4 0,085 R24
5 RT5 0,072 R24

Tabel 3. Besar curah hujan dalam persen (%)


Waktu Ratio (%)
1 58,5
2 15,1
3 10,7
4 8,5
5 7,2

16
TUGAS IRIGASI DAN
Pola distribusi hujan pada DAS BANGUNAN AIR

Pola Distribusi Hujan Pada Daerah Aliran Sungai (DAS)

Curah Hujan (mm)

0,585.R
24

0,151.R
24
0,107R
24
0,085R
24

0,072.R
24

0 1 2 3 4 5 Jam (t)

Tabel. 4. Hasil Distribusi Hujan


Waktu Ratio Hujan jam-jaman
(Jam) (%) 50 tahun
1 58,5 51,954
2 15,1 13,410
3 10,7 9,503
4 8,5 7,549
5 7,2 6,3944

Hujan Efektif (mm) 88,8104


Koefisien Pengaliran ( C ) 0,50
Probabilitas hujan harian ( mm ) 177,621

II.6 Unit Hidrograf


Hidrograf banjir pada daerah aliran dihitung dengan metode Unit Hidrograf Nakayasu
dengan rumus sebgai berikut:
1 R0
Qp A
3,6 0,3T p T0,3

17
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN AIR

Dimana:
Qp = debit puncak banjir (m3/dtk)
= Qmaks
A = luas daerah aliran (km2)
R0 = curah hujan satuan ( = 1 mm)
Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)
T0,3 = waktu yang diperlukan pada penurunan debit puncak (jam) sampai ke debit
sebesar 30% dari debit puncak (jam)

0,8.T Tg
r Tr
Ro = 1
mm

1 2

0 2 4 6 8 10 12 14
P 0,3 0,3

* Tg = Lag time di daerah aliran (jam)


Tg = 0, 4 + 0,058 . L Untuk L > 15 km
Tg = 0,21 . L0,7 Untuk L < 15 km

Diambil : L = 10 km dan A = 35 km2


Tg = 0,21 . L0,7
= 1,1 jam
* Tr = Satuan waktu hujan (jam)
disini diambil = 1 jam

18
TUGAS IRIGASI DAN
BANGUNAN AIR

* Tp = Tg + 0,8 Tr
= 1,1 + 0,8 . 1
= 1,9 jam, mendekati, dari pengamatan hidrograf antara 1 2 jam
* T0,3 = . Tg = koefisien
Harga berkisar antara 1,5 3,5
Dicoba dengan rumus :
T0,3 = 0,47 . (A . L)0,25
T0,3 = 0,47 . (35 . 10)0,25
= 2,033 jam
Jadi : T0,3 = 2,033 jam
T0,3
=
Tg

2,033
= 1,1

= 1,8
Disini untuk perhitungan diperkirakan = 2
Sehigga didapat:
T0,3 = . Tg
= 2 . 1,1
= 2,2 jam Desain

Puncak Banjir (Flood Peak):


1 R0
Q maks A
3,6 0,3T p T0, 3

1 1
Q maks 35
3,6 0,3.1,9 2,2
3,51 m 3 / dtk

Grafik I (Rising Curve):


Grafik pada lengkung naik
0 t Tp 0 t 1,9
2, 4
t
Q Qmaks
Tp

2, 4
t
Q 3,51
1,9
19
TUGAS IRIGASI DAN
Untuk t = 0 BANGUNAN AIR
2, 4
0
Q 3,51 0
1,9

Untuk t = 1
2, 4
1
Q 3,51 0,752 m 3 /dtk
1,9

Untuk t = 1,9
2, 4
1,9
Q 3,51 3,51 m 3 /dtk
1,9

Hasil perhitungan di atas ditabelkan pada Tabel. 5

Tabel. 5 Hubungan T dan Q pada lengkung naik hidrograf


t (jam) Q ( m3/dtk)
0 0
1 0,752
1,9 3,51

Grafik II (Recession)
Grafik lengkung menurun.
KONDISI 1
1. Tp t (Tp T0,3 )
1,9 t (1,9 2,2)
1,9 t 4,1

t T p

T
Q 0,3 0,3
Qmaks
t 1, 9
2 , 2
Q 0,3
3,51

Untuk t = 2
2 1, 9
3
Q 0,3 2, 2
3,51 3,323 m /dtk

Untuk t = 3
31, 9

Q 0,3 2, 2
3,51 1,922 m 3 /dtk

Untuk t =4
20
TUGAS IRIGASI DAN
41, 9
3
BANGUNAN AIR
Q 0,3 2,2
3,51 1,112 m /dtk

Untuk t =4,1
4 ,11, 9
2 , 2
3
Q 0,3 3,51 1,053 m /dtk

Hasil perhitungan di atas ditunjukan pada Tabel. 6

Tabel. 6 Hubungan T dan Q pada lengkung turun hidrograf (kondisi 1)


t (jam) Q ( m3/dtk)
2 3,323
3 1,922
4 1,112
4,1 1,053

KONDISI 2
2. (T p T0,3 ) t (T p T0,3 1,5T0,3 )
4,1 t 7,4

t T p 0 , 5T0 , 3

1, 5.T0 , 3
Q 0,3
Qmaks
t 0 ,8

Q 0,3 3, 3
3,51

Untuk t = 5
5 0 ,8
3, 3 3
Q 0,3
3,51 0,758 m /dtk

Untuk t = 6
6 0,8
3
Q 0,3 3, 3
3,51 0,526 m /dtk

Untuk t = 7
7 0,8
3
Q 0,3 3, 3
3,51 0,365 m /dtk

Untuk t = 7,4
7 , 4 0 ,8
3
3, 3
Q 0,3
3,51 0,3159 m /dtk
21
TUGAS IRIGASI DAN
Tabel. 7 Hubungan T dan Q pada lengkung turun hidrograf (kondisi
BANGUNAN2) AIR
t (jam) Q ( m3/dtk)
5 0,758
6 0,526
7 0,365
7,4 0,3159

KONDISI 3
3. t (T p T0,3 1,5T0,3 )
t 7,4

t T p 1, 5T0 , 3

2.T0 , 3
Q 0,3
Qmaks
t 1, 4

Q 0,3 4, 4
3,51

Dengan mengambil harga t 7,4 , kita masukkan harga t tersebut kedalam persamaan di
atas hingga didapat debit (Q) = 0,00. Perhitungan dilakukan sama seperti mencari Q
dengan t 7,4 , selanjutnya hasil perhitungan dapat dilihat dalam Tabel. 8

Tabel. 8 Hubungan T dan Q pada lengkung turun hidrograf (kondisi 3)


t (jam) Q (m3/det)
8 0.2681
9 0.2039
10 0.1551
11 0.1180
12 0.0897
13 0.0682
14 0.0519
15 0.0395
22
TUGAS IRIGASI DAN
16 0.0300 BANGUNAN AIR
17 0.0228
18 0.0174
19 0.0132
20 0.0101
21 0.0076
22 0.0058
23 0.0044
24 0.0034
25 0.0026
26 0.0019
27 0.0015
28 0.0011
29 0.0009
30 0.0007
31 0.0005
32 0.0004
33 0.0003
34 0.0002
35 0.0002
36 0.0001
37 0.0001
38 0.0001
39 0.0001
40 0.0000

Tabel. 9 Hidrograf Banjir 50 Tahunan

Tabel Hidrograf Banjir 50 Tahunan


Waktu Unit Hidrograf Limpasan (m3/dtk), akibat hujan netto (mm) Q total
T (jam) (m3/dtk/mm) 51.954 13.41 9.503 7.549 6.3944 (m3/dtk)
0 0 0.000 0
1 0.752 39.0694 0 39.0694
2 3.323 172.6431 10.0843 0 182.7275

23
TUGAS IRIGASI DAN
3 1.922 99.8556 44.5614 7.1463 0 BANGUNAN151.5633
AIR
4 1.112 57.7728 25.7740 31.5785 5.6768 0 120.8022
5 0.758 39.3811 14.9119 18.2648 25.0853 4.8086 102.4517
6 0.526 27.3278 10.1648 10.5673 14.5092 21.2486 83.8177
7 0.365 18.9632 7.0537 7.2033 8.3945 12.2900 53.9047
8 0.2681 13.9273 4.8947 4.9986 5.7221 7.1106 36.6532
9 0.2039 10.5933 3.5948 3.4686 3.9708 4.8470 26.4744
10 0.1551 8.0574 2.7343 2.5475 2.7554 3.3635 19.4580
11 0.1180 6.1286 2.0797 1.9376 2.0237 2.3340 14.5035
12 0.0897 4.6615 1.5819 1.4738 1.5392 1.7141 10.9705
13 0.0682 3.5456 1.2032 1.1210 1.1708 1.3038 8.3443
14 0.0519 2.6968 0.9152 0.8526 0.8905 0.9917 6.3468
15 0.0395 2.0512 0.6961 0.6485 0.6773 0.7543 4.8275
16 0.0300 1.5602 0.5294 0.4933 0.5152 0.5737 3.6718
17 0.0228 1.1867 0.4027 0.3752 0.3919 0.4364 2.7928
18 0.0174 0.9026 0.3063 0.2854 0.2980 0.3319 2.1243
19 0.0132 0.6865 0.2330 0.2171 0.2267 0.2525 1.6157
20 0.0101 0.5222 0.1772 0.1651 0.1724 0.1920 1.2290
21 0.0076 0.3972 0.1348 0.1256 0.1312 0.1461 0.9348
22 0.0058 0.3021 0.1025 0.0955 0.0998 0.1111 0.7110
23 0.0044 0.2298 0.0780 0.0727 0.0759 0.0845 0.5408
24 0.0034 0.1748 0.0593 0.0553 0.0577 0.0643 0.4113
25 0.0026 0.1329 0.0451 0.0420 0.0439 0.0489 0.3129
26 0.0019 0.1011 0.0343 0.0320 0.0334 0.0372 0.2380
27 0.0015 0.0769 0.0261 0.0243 0.0254 0.0283 0.1810
28 0.0011 0.0585 0.0199 0.0185 0.0193 0.0215 0.1377
29 0.0009 0.0445 0.0151 0.0141 0.0147 0.0164 0.1047
30 0.0007 0.0338 0.0115 0.0107 0.0112 0.0124 0.0796
31 0.0005 0.0257 0.0087 0.0081 0.0085 0.0095 0.0606
32 0.0004 0.0196 0.0066 0.0062 0.0065 0.0072 0.0461
33 0.0003 0.0149 0.0051 0.0047 0.0049 0.0055 0.0350
34 0.0002 0.0113 0.0038 0.0036 0.0037 0.0042 0.0267
35 0.0002 0.0086 0.0029 0.0027 0.0028 0.0032 0.0203
36 0.0001 0.0066 0.0022 0.0021 0.0022 0.0024 0.0154
37 0.0001 0.0050 0.0017 0.0016 0.0016 0.0018 0.0117
38 0.0001 0.0038 0.0013 0.0012 0.0013 0.0014 0.0089
39 0.0001 0.0029 0.0010 0.0009 0.0010 0.0011 0.0068
40 0.0000 0.0000 0.0007 0.0007 0.0007 0.0008 0.0030

24