Anda di halaman 1dari 4

Identifikasi Morfologi Koloni

Morfologi koloni Av. paragallinarum diamati setelah 24 jam hingga 48 jam inkubasi.

Koloni punctiform, bertepi halus dan transparan seperti yang dideskripsikan oleh Priya dkk

(2012), Blackall dan Soriavo-Vargas (2013) diambil untuk dilakukan uji lanjut sebagai koloni

dugaan Av. paragallinarum.

Koloni dengan bentuk sirkuler, bertepi halus dengan permukaan cembung, berwarna

putih atau kuning yang tumbuh berdekatan dengan koloni dugaan Av. paragallinarum juga

diidentifikasi sebagai koloni dugaan Staphylococcus sp (Markey dkk., 2013).

Identifikasi Morfologi Sel

Identifikasi morfologi sel dilakukan dengan melakukan pengecatan Gram. Satu koloni

terpisah dari masing-masing dugaan Av. paragallinarum dan Staphylococcus sp. dari agar

coklat diambil dengan osa steril secara terpisah kemudian dicampur hingga homogen dengan

NaCl steril yang telah diteteskan pada kaca obyek. Preparat difiksasi di atas api Bunsen.

Preparat yang telah mengering diwarnai dengan cat Gram. Pewarna pertama yang dipakai

ialah gentian violet 1% yang diteteskan ke permukaan preparat apus secara merata dan

dibiarkan meresap selama dua menit. Preparat kemudian ditetesi lugol dan dibiarkan selama

satu menit lalu dicuci. Alkohol 95% diteteskan dan dibiarkan selama satu menit untuk

mendekolorisasi warna, kemudian preparat ditetesi air fuksin sebagai pewarna kedua

(counterstain) dan dibiarkan meresap selama dua menit. Preparat yang sudah diwarnai dicuci

di bawah air mengalir kemudian dikeringkan dalam posisi miring. Preparat yang sudah

mengering setelah diwarnai Gram diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran

100x lensa objek. Pandangan diperjelas menggunakan minyak emersi. Bakteri digolongkan

Gram positif apabila berwarna ungu, dan digolongkan Gram negatif jika berwarna merah

(Markey dkk., 2013).


Uji Katalase

Uji katalase dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menghasilkan

enzim katalase yang digunakan untuk mendegradasi hidrogen peroksida yang bersifat toksik

bagi sel, menjadi air dan oksigen (Leboffe dan Pierce, 2011). Pengujian dilakukan mengacu

pada Markey dkk (2013) dengan mencampur satu osa biakan bakteri dugaan Av.

paragallinarum dari PAC dengan satu tetes larutan H2O2 3%. Campuran langsung diamati

terhadap pembentukan gelembung udara. Bakteri dinyatakan katalase positif (memiliki enzim

katalase) apabila campuran memperlihatkan gelembung udara dan dinyatakan katalase

negatif (tidak memiliki enzim katalase) apabila tidak terbentuk gelembung (Markey dkk.,

2013).

Uji Oksidase

Uji ini bergantung pada sitokrom c oksidase yang dimiliki bakteri (Markey dkk., 2013).

Enzim tersebut dimiliki oleh bakteri yang mampu melakukan respirasi sel secara aerobik

(Prescott, 2002). Kertas oksidase digunakan untuk mendeteksi enzim oksidase yang dimiliki

bakteri. Sebanyak satu osa biakan bakteri dari PAC digoreskan ke permukaan kertas oksidase.

Hasil positif ditunjukkan dengan adanya perubahan warna kertas dari warna putih menjadi

warna ungu. Hasil dinyatakan negatif apabila kertas tidak berubah warna setelah digores

biakan bakteri (Markey dkk., 2013).

Uji Motilitas

Motilitas bakteri diketahui dengan melakukan uji motilitas pada media semisolid.

Biakan bakteri dari PAC diambil menggunakan osa bermata lurus, kemudian ditusuk lurus ke

dalam media semisolid hingga sepertiga basal tabung. Media diinkubasi pada temperatur 37

C dalam sungkup lilin (mikroaerofilik) selama 24 jam. Bakteri dinyatakan motil apabila
bakteri tumbuh menyebar dalam media. Bakteri dinyatakan tidak motil apabila pertumbuhan

teramati hanya pada bekas tusukan (Markey dkk., 2013).

Uji Urease

Agar miring urea digunakan untuk menguji kemampuan bakteri dalam memproduksi

urease. Satu osa biakan bakteri dari PAC dikultur ke agar miring urea menggunakan metode

goresan zig-zag. Media diinkubasi pada temperatur 37 C dalam sungkup lilin selama 24 jam.

Urea yang terkandung di dalam media akan terurai menjadi ammonia oleh enzim urease yang

dihasilkan bakteri. Ammonia meningkatkan pH media, mengubah warna media yang semula

kuning menjadi merah dengan indikator phenol red (Leboffe dan Pierce, 2011). Perubahan

warna media yang semula berwarna kuning menjadi merah mengindikasikan bakteri memiliki

kemampuan memproduksi urease (urease positif). Media dapat berubah warna menjadi merah

secara parsial (reaksi urease lambat) atau menyeluruh (reaksi urease cepat) dalam 24 jam

inkubasi. Tidak terjadinya perubahan warna media mengindikasikan bakteri yang tumbuh

tidak memproduksi urease (urease negatif) (Markey dkk., 2013),

Uji Indole

Uji dilakukan dengan mengkultur biakan bakteri dari PAC ke dalam kaldu pepton,

kemudian diinkubasi pada temperatur 37 C dalam sungkup lilin selama 24 jam. Reagen

Kovach sebanyak 10 tetes (hingga menutupi permukaan cairan) ditambahkan ke dalam kaldu

pepton yang telah diinkubasi selama 24 jam, kemudian diamati dalam 5 menit terhadap

perubahan pada media (Prescott, 2002). Reagen Kovach terdiri dari HCl, p-

dimethylaminobenzaldehyde dan isoamil alkohol. Enzim tryptophanase yang dihasilkan

bakteri akan mengurai asam amino tryptophane dan bereaksi dengan p-

dimethylaminobenzaldehyde yang terkandung di dalam reagen Kovach, membentuk cincin

rose indole berwarna merah di permukaan media pepton (Leboffe dan Pierce, 2011). Hasil uji
dinyatakan positif apabila pada permukaan media terbentuk cincin merah dan dinyatakan

negatif apabila cincin merah tidak terbentuk (Prescott, 2002).

Uji Fermentasi Karbohidrat

Karbohidrat yang digunakan adalah laktosa, manitol, maltosa dan sorbitol. Tiap isolat

bakteri dikultur ke dalam empat media gula-gula kemudian diinkubasi pada temperatur 37 C

dalam sungkup lilin selama 24 jam. Bakteri yang memfermentasi karbohidrat akan

menghasilkan asam yang menurunkan pH media. Perubahan pH menjadi asam mengubah

warna media yang mengandung indikator warna phenol red dari warna merah menjadi kuning

(Presscott, 2002). Bakteri yang tidak memfermentasi karbohidrat tidak menghasilkan asam

sehingga media tetap berwarna merah (Presscott, 2002).