Anda di halaman 1dari 33

Contoh Format Raperda RDTR (Kabupaten)

H
LAMBANG
KAB.

PEMERINTAH KABUPATEN ...

PERATURAN DAERAH KABUPATEN ...


NOMOR ... TAHUN ...
TENTANG
RENCANA DETAIL TATA RUANG ...
TAHUN -

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI ...,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal ..., Peraturan


Daerah Kabupaten ... Nomor ... Tahun ... tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten ... perlu menetapkan
Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang ...;

a.

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor Tahun Tentang
Pembentukan Kabupaten di Provinsi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun Nomor ...,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
...);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
-2-

Negara Republik Indonesia Nomor 4844);


4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang
Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5160);
7. Peraturan Daerah Kabupaten Nomor Tahun
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten ...
(Lembaran Daerah Kabupaten Tahun Nomor
Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Nomor );
-3-

Dengan Persetujuan Bersama,


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN
dan
BUPATI ...

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA DETAIL TATA


RUANG ... TAHUN -

BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Kabupaten adalah Kabupaten ...
2. Kecamatan adalah Kecamatan ...
3. Kelurahan adalah Kelurahan ...
4. Desa adalah Desa ...
5. Kawasan Perkotaan adalah kawasan ...
6. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang
laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan
kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
7. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
8. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan
tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
9. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk
menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan
dan penetapan rencana tata ruang.
-4-

10. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman


dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai
pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis
memiliki hubungan fungsional.
11. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam
suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan
peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.
12. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan
struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui
penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
13. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan
dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
14. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk
mewujudkan tertib tata ruang.
15. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang
persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan
disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya
dalam rencana rinci tata ruang.
16. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan
ketentuan khusus yang ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan,
dan/atau persil.
17. Rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota yang
selanjutnya disebut RTRW Kabupaten/Kota adalah rencana tata ruang
yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang merupakan
penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dan yang berisi
tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten/kota,
rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pola ruang
wilayah kabupaten/kota, penetapan kawasan strategis kabupaten/kota,
arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan ketentuan
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota.
18. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat
RDTR adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah
kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.
19. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang selanjutnya
disingkat RTBL adalah panduan rancang bangun suatu
lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan
pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat
materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana
umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan
-5-

pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan


pengembangan lingkungan/kawasan.
20. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis
beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
21. Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP
adalah bagian dari kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis
kabupaten/kota yang akan atau perlu disusun rencana rincinya, dalam hal
ini RDTR, sesuai arahan atau yang ditetapkan di dalam RTRW
kabupaten/kota yang bersangkutan, dan memiliki pengertian yang sama
dengan zona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
22. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut
Sub BWP adalah bagian dari BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan
terdiri dari beberapa blok, dan memiliki pengertian yang sama dengan
Subzona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
23. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai
kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
24. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang
penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan.
25. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan
dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
26. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan
fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan.
27. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang
terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana,
sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di
kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
28. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari
pemukiman, baik perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan
prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan
rumah yang layak huni.
-6-

29. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan


hunian yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat
tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman.
30. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan
unsur yang lain.
31. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-
kurangnya oleh batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai,
selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi, dan pantai,
atau yang belum nyata seperti rencana jaringan jalan dan rencana jaringan
prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota, dan memiliki
pengertian yang sama dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang.
32. Subblok adalah pembagian fisik di dalam satu blok
berdasarkan perbedaan Subzona.
33. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan
karakteristik spesifik.
34. Subzona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki
fungsi dan karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi
dan karakteristik pada zona yang bersangkutan.
35. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB
adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar
bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan
yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
36. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH
adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka
di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi
pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan
yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
37. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB
adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai
bangunan gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang
dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
38. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat
GSB adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap
tepi jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor (riol) sampai batas
terluar muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak
bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap
lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa
bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik,
jaringan pipa gas, dsb (building line).
-7-

39. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH


adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang
tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
40. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat
RTNH adalah ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak
termasuk dalam kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras atau yang
berupa badan air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat
ditumbuhi tanaman atau berpori.
41. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang selanjutnya
disingkat SUTET adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat
penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari
pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 278 kV.
42. Saluran Udara Tegangan Tinggi yang selanjutnya disingkat
SUTT adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar
di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat
pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 70 kV sampai dengan
278 kV.

Bagian Kedua
Bagian Wilayah Perkotaan

Pasal 2
(1) Wilayah perencanaan RDTR ... disebut sebagai BWP ...
(2) Lingkup ruang BWP... berdasarkan aspek ... (administratif atau fungsional)
dengan luas kurang lebih hektar, beserta ruang udara di atasnya dan
ruang di dalam bumi.
(3) Batas-batas BWP... meliputi:
a. Sebelah utara berbatasan dengan ...;
b. Sebelah selatan berbatasan dengan ...;
c. Sebelah timur berbatasan dengan ...; dan
d. Sebelah barat berbatasan dengan ...
(4) BWP..., terdiri atas:
a. Kecamatan ... dengan luas kurang lebih hektar;
-8-

b. Kecamatan ... dengan luas kurang lebih hektar; dan


c. Dst.
Atau (pilih yang sesuai)
a. Kelurahan/Desa ... dengan luas kurang lebih hektar;
b. Kelurahan/Desa ... dengan luas kurang lebih hektar; dan
c. Dst.
(5) BWP... dibagi menjadi ... Sub BWP yang terdiri atas :
a. Sub BWP..., terdiri atas Kelurahan/Kecamatan ... dengan luas kurang
lebih ... hektar.
b. Sub BWP..., terdiri atas Kelurahan/Kecamatan ... dengan luas kurang
lebih ... hektar.
c. Dst.
Bagian Ketiga
Jangka Waktu

Pasal 3
(1) RDTR ... berlaku selama 20 tahun.
(2) RDTR ... ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.
(3) RDTR kabupaten dapat ditinjau kembali kurang dari 5 (lima)
tahun apabila:
a. terjadi perubahan kebijakan provinsi dan strategi yang mempengaruhi
pemanfaatan ruang BWP, dan/atau ;
b. terjadi dinamika internal BWP yang mempengaruhi pemanfaatan ruang
secara mendasar, seperti: bencana alam skala besar atau pemekaran
wilayah yang ditetapkan melalui peraturan perundang-undangan.

BAB II
TUJUAN PENATAAN BWP

Pasal 4
Penataan BWP ... bertujuan untuk ...

BAB III
RENCANA POLA RUANG
-9-

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 5
(1) Rencana pola ruang terdiri atas:
a. zona lindung; dan
b. zona budidaya.
(2) Rencana pola ruang RDTR digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(3) Peta rencana pola ruang RDTR tersebut merupakan peta zonasi
bagi Peraturan Zonasi.

Bagian Kedua
Zona Lindung

Pasal 6
Zona lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a meliputi:
a. zona hutan lindung;
b. zona yang memberikan perlindungan terhadap zona di bawahnya;
c. zona perlindungan setempat;
d. zona RTH kota yang antara lain meliputi taman RT, taman RW, taman kota
dan pemakaman;
e. zona suaka alam dan cagar budaya;
f. zona rawan bencana alam; dan
g. zona lindung lainnya.

Paragraf 1
Zona Hutan Lindung

Pasal 7
Zona hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a terdapat di
blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
- 10 -

Paragraf 2
Zona Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

Pasal 8
(1) Zona yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b terdiri atas :
a. Subzona bergambut; dan
b. Subzona resapan air.
(2) Subzona bergambut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdapat
di blok ...
(3) Subzona resapan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdapat
di blok ...

Paragraf 3
Zona Perlindungan Setempat

Pasal 9
(1) Zona perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 huruf c terdiri atas:
a. Subzona sempadan pantai;
b. Subzona sempadan sungai;
c. Subzona sekitar danau atau waduk; dan
d. Subzona sekitar mata air.
(2) Subzona sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a terdapat di blok
(3) Subzona sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b terdiri atas:
a. Subzona sempadan sungai di kawasan non permukiman terdapat di blok
; dan
b. Subzona sempadan sungai di kawasan permukiman terdapat di blok
(4) Subzona sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c meliputi danau/waduk (atau sebutkan blok)
(5) Subzona sekitar mata air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
terdapat di blok
- 11 -

Paragraf 4
Zona RTH Kota

Pasal 10
(1) Zona RTH Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d,
terdiri atas:
a. Subzona taman RT;
b. Subzona taman RW;
c. Subzona taman kota; dan
d. Subzona pemakaman.
(2) Subzona taman RT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(3) Subzona taman RW sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona taman kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(5) Subzona pemakaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 5
Zona Suaka Alam dan Cagar Budaya

Pasal 11
(1) zona suaka alam dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 huruf e terdiri atas :
a. Subzona suaka alam;
b. Subzona cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
(2) Subzona suaka alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(3) Subzona cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b terdapat di blok ... dengan luas kurang
lebih ... hektar.
Paragraf 6
Zona Rawan Bencana Alam
- 12 -

Pasal 12
(1) Zona rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf f
terdiri atas:
a. Subzona rawan tanah longsor;
b. Subzona rawan gelombang pasang; dan
c. Subzona rawan banjir.
(2) Subzona rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(3) Subzona rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 7
Zona Lindung Lainnya

Pasal 13
(1) Zona lindung lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf g terdiri
atas :
a. ...;
b. ...;

c. Dst.

(2) zona ... sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di blok...
dengan luas kurang lebih ... hektar; dan
(3) zona ... sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di blok...
dengan luas kurang lebih ... hektar.

Bagian Ketiga
Zona Budi Daya

Paragraf 1
Umum
Pasal 14
- 13 -

Zona budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b, terdiri
atas :
a. zona perumahan;
b. zona perdagangan dan jasa;
c. zona perkantoran;
d. zona sarana pelayanan umum;
e. zona industri;
f. zona khusus;
g. zona lainnya; dan
h. zona campuran.

Paragraf 2
Zona Perumahan

Pasal 15
(1) Zona perumahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a terdapat
di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona perumahan meliputi:
a. Subzona perumahan dengan kepadatan sangat tinggi;
b. Subzona perumahan dengan kepadatan tinggi;
c. Subzona perumahan dengan kepadatan sedang;
d. Subzona perumahan dengan kepadatan rendah; dan
e. Subzona perumahan dengan kepadatan sangat rendah;
(bila diperlukan dapat dirinci lebih lanjut ke dalam rumah susun, rumah
kopel, rumah deret, rumah tunggal, rumah taman, dan sebagainya);
zona perumahan juga dapat dirinci berdasarkan kekhususan jenis
perumahan, seperti perumahan tradisional, rumah sederhana/sangat
sederhana, rumah sosial, dan rumah singgah;
(3) Subzona perumahan dengan kepadatan sangat tinggi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a terdapat di blok dengan luas kurang
lebih ... hektar.
(4) Subzona perumahan dengan kepadatan tinggi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
- 14 -

(5) Subzona perumahan dengan kepadatan sedang sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) huruf c terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
(6) Subzona perumahan dengan kepadatan rendah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf d terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
(7) Subzona perumahan dengan kepadatan sangat rendah sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf e terdapat di blok dengan luas kurang
lebih ... hektar.

Paragraf 3
Zona Perdagangan dan Jasa

Pasal 16
(1) Zona perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
huruf b terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona perdagangan dan jasa meliputi:
a. Subzona perdagangan dan jasa tunggal;
b. Subzona perdagangan dan jasa kopel; dan
c. Subzona perdagangan dan jasa deret.
(3) Subzona perdagangan dan jasa tunggal sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona perdagangan dan jasa kopel sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(5) Subzona perdagangan dan jasa deret sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf c terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 4
Zona Perkantoran

Pasal 17
(1) Zona perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c
terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona perkantoran meliputi:
a. Subzona perkantoran pemerintah;
- 15 -

b. Subzona perkantoran swasta.


(3) Subzona perkantoran pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona perkantoran swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
b terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 5
Zona Sarana Pelayanan Umum

Pasal 18
(1) Zona Sarana Pelayanan Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
huruf d terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona Sarana Pelayanan Umum terdiri atas :
a. Subzona sarana pendidikan;
b. Subzona sarana transportasi;
c. Subzona sarana kesehatan;
d. Subzona sarana olahraga;
e. Subzona sarana pelayanan umum sosial budaya; dan
f. Subzona sarana peribadatan.
(3) Subzona sarana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona sarana transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(5) Subzona sarana kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(6) Subzona sarana olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(7) Subzona sarana pelayanan umum sosial budaya sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf e terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ...
hektar.
(8) Subzona sarana peribadatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 6
Zona Industri
- 16 -

Pasal 19
(1) Zona Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf e terdapat di
blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona Industri terdiri atas :
a. Subzona industri kimia dasar;
b. Subzona industri mesin dan logam dasar;
c. Subzona industri kecil; dan
d. Subzona aneka Industri.
(3) Subzona Industri kimia dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona Industri mesin dan logam dasar sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(5) Subzona Industri kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.
(6) Subzona Aneka Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d
terdapat di blok ... dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 7
Zona Khusus

Pasal 20
(1) Zona khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf f terdapat di
blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona khusus terdiri atas :
a. Subzona untuk keperluan pertahanan dan keamanan;
b. Subzona IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah);
c. Subzona Tempat Pemrosesan Akhir (TPA); dan
d. Subzona ... .
(3) Subzona untuk keperluan pertahanan dan keamanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a terdapat di blok dengan luas kurang
lebih ... hektar.
(4) Subzona IPAL sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b terdapat di
blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
- 17 -

(5) Subzona Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf c terdapat di blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(6) Subzona ... sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf ... terdapat di blok
dengan luas kurang lebih ... hektar.

Paragraf 8
Zona Lainnya

Pasal 21
Zona Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf g terdiri atas :
a. Zona pertanian;
b. Zona perkebunan;
c. Zona peternakan;
d. Zona perikanan;
e. Zona pertambangan; dan
f. Zona pariwisata.

Pasal 22
(1) Zona Pertanian sebagaimana dimaksud pada pasal 21 huruf a terdapat di
blok dengan luas kurang lebih ... hektar.
(2) Zona Pertanian meliputi:
a. Subzona pertanian lahan basah;
b. Subzona pertanian lahan kering.
(3) Subzona pertanian lahan basah sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a meliputi:
a. Subzona Sawah irigasi teknis terdapat di blok dengan luas kurang
lebih ... hektar.
b. Subzona Sawah irigasi non teknis terdapat di blok dengan luas
kurang lebih ... hektar.
(4) Subzona pertanian lahan kering sebagaimana dimaksud pada ayat (2)huruf
b meliputi:
a. Subzona Pertanian tanaman pangan terdapat di blok dengan luas
kurang lebih ... hektar.
b. Subzona Pertanian tanaman palawija terdapat di blok dengan luas
kurang lebih ... hektar.
- 18 -

Pasal 23
Zona perkebunan sebagaimana dimaksud pada pasal 21 huruf b meliputi:
a. Subzona perkebunan terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
b. Subzona perkebunan terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
c. Dst.

Pasal 24
Zona peternakan sebagaimana dimaksud pada pasal 21 huruf c meliputi:
a. Subzona peternakan terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
b. Subzona peternakan terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
c. Dst.

Pasal 25
Zona perikanan sebagaimana dimaksud pada pasal 21 huruf d meliputi:
a. Subzona perikanan terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
b. Subzona perikanan terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
c. Dst.
Pasal 26
Zona Pertambangan sebagaimana dimaksud pada pasal 21 huruf e meliputi:
a. Subzona Bahan galian A terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
b. Subzona Bahan galian B terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.
c. Subzona Bahan galian C terdapat di blok dengan luas kurang lebih ...
hektar.

Pasal 27
Zona Pariwisata sebagaimana dimaksud pada pasal 21 huruf f meliputi:
- 19 -

a. Subzona Pariwisata Alam berupa terdapat di blok dengan luas kurang


lebih ... hektar.
b. Subzona Pariwisata Buatan berupa terdapat di blok dengan luas
kurang lebih ... hektar.
c. Subzona Pariwisata Budaya berupa terdapat di blok dengan luas
kurang lebih ... hektar.

Paragraf 9
Zona Campuran

Pasal 28
Zona Campuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf h terdiri atas :
a. Subzona Perumahan dan Perdagangan/Jasa terdapat di blok dengan
luas kurang lebih ... hektar.
b. Subzona Perdagangan/Jasa, dan Perkantoran terdapat di blok dengan
luas kurang lebih ... hektar.
c. Subzona Perumahan, Perdagangan/Jasa, dan Perkantoran terdapat di blok
dengan luas kurang lebih ... hektar.

BAB III
RENCANA JARINGAN PRASARANA

Bagian Kesatu
Umum
Pasal 29
(1) Rencana jaringan prasarana terdiri atas:
a. Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan;
b. Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan;
c. Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi;
d. Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum;
e. Rencana Pengembangan Jaringan Drainase;
f. Rencana Pengembangan Jaringan air Limbah; dan
g. Rencana Pengembangan Jalur Evakuasi Bencana.
- 20 -

(2) Rencana jaringan prasarana digambarkan dalam peta dengan tingkat


ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kedua
Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan

Pasal 30
Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 huruf a meliputi:
a. Jaringan jalan arteri;
b. Jaringan jalan kolektor;
c. Jaringan jalan lokal;
d. Jaringan jalan lingkungan;
e. Jalur moda transportasi umum;
f. Jalur ka;
g. Jalur pelayaran; dan
h. Jalur pejalan kaki/sepeda.

Pasal 31
(1) Pengembangan jaringan jalan arteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 huruf a meliputi:
a. Jaringan jalan arteri primer; dan
b. Jaringan jalan arteri sekunder.
(2) Pengembangan jaringan jalan arteri primer meliputi ruas ... .
(3) Pengembangan jaringan jalan arteri sekunder meliputi ruas ... .

Pasal 32
(1) Pengembangan jaringan jalan kolektor sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 huruf b, meliputi:
a. Jaringan jalan kolektor primer; dan
b. Jaringan jalan kolektor sekunder.
(2) Pengembangan jaringan jalan kolektor primer meliputi ruas ... .
- 21 -

(3) Pengembangan jaringan jalan kolektor sekunder meliputi ruas ... .

Pasal 33
Pengembangan jaringan jalan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
huruf c meliputi ruas .

Pasal 34
Pengembangan jaringan jalan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 huruf d meliputi ruas ... .

Pasal 35
Pengembangan jalur moda transportasi umum sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 huruf e meliputi:
a. Ruas dari. menuju .
b. Ruas dari. menuju .
c. Dst.

Pasal 36
Pengembangan jalur KA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf f
meliputi ruas .

Pasal 37
Pengembangan jalur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf g
meliputi ruas .

Pasal 38
Pengembangan jalur pejalan kaki/sepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 huruf h meliputi ruas .

Bagian Ketiga
Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan
Pasal 39
(1) Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 huruf b, meliputi:
- 22 -

a. Jaringan subtranmisi;
b. Jaringan distribusi primer;
c. Jaringan distribusi sekunder;
d. Jaringan pipa minyak; dan
e. Jaringan gas bumi.
(2) Pengembangan jaringan subtranmisi (jika ada) meliputi ... .
(3) Pengembangan jaringan distribusi primer sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 34 huruf b terdiri atas;
a. SUTUT terdapat di .
b. SUTET terdapat di .
c. SUTT terdapat di .
d. Gardu induk terdapat di .
e. Gardu hubung terdapat di .
(4) Pengembangan jaringan distribusi sekunder sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34 huruf c terdiri atas:
a. Jaringan distribusi terdapat di ; dan
b. Gardu distribusi terdapat di ... .
(5) Pengembangan jaringan pipa minyak terdapat di ... .
(6) Pengembangan jaringan gas minyak terdapat di ... .

Bagian Keempat
Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi

Pasal 40
(1) Pengembangan Jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 huruf c meliputi:
a. Pengembangan infrastruktur dasar telekomunikasi;
b. Penyediaan jaringan telekomunikasi telepon kabel;
c. Penyediaan jaringan telekomunikasi telepon nirkabel;
d. Pengembangan sistem televisi kabel;
e. Penyediaan jaringan serat optik; dan
f. Peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi.
- 23 -

(2) Rencana pengembangan infrastruktur dasar telekomunikasi berupa


penetapan pusat automatisasi sambungan telepon terdapat di .
(3) Rencana penyediaan jaringan telekomunikasi telepon kabel sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 40 huruf b terdiri atas;
a. Penetapan stasiun telepon otomat terdapat di ;
b. Penetapan rumah kabel terdapat di ... ; dan
c. Penetapan kotak pembagi terdapat di ... .
(4) Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi telepon nirkabel,
berupa penetapan menara telekomunikasi/menara BTS terdapat di .
(5) Rencana penyediaan jaringan serat optik terdapat di ... .
(6) Rencana peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi terdapat di ... .

Bagian Kelima
Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum

Pasal 41
(1) Pengembangan Jaringan Air Minum sebagaimana dimaksud dalam Pasal
29 huruf d terdiri atas:
a. Sistem penyediaan air minum wilayah kabupaten;
b. Bangunan pengambil air baku;
c. Pipa transmisi air baku dan instalasi produksi;
d. Pipa unit distribusi hingga persil;
e. Bangunan penunjang dan bangunan pelengkap; dan
f. Bak penampung.
(2) Pengembangan sistem penyediaan air minum wilayah kabupaten
meliputi:
a. Sistem jaringan perpipaan terdapat di ; dan
b. Sistem jaringan non perpipaan terdapat di .
(3) Pengembangan bangunan pengambil air baku terdapat di .
(4) Pipa transmisi air baku dan instalasi produksi terdapat di .
(5) Pipa unit distribusi terdapat di .
(6) Bangunan penunjang dan bangunan pelengkap terdapat di .
(7) Bak penampung terdapat di .
- 24 -

Bagian Keenam
Rencana Pengembangan Jaringan Drainase

Pasal 42
(1) Pengembangan Jaringan Drainase sebagaimana dimaksud dalam Pasal
29 huruf e terdiri atas:
a. Sistem jaringan drainase yang berfungsi untuk mencegah genangan;
b. Rencana kebutuhan sistem jaringan drainase.
(2) Pengembangan sistem jaringan drainase yang berfungsi untuk mencegah
genangan meliputi:
a. Kolam retensi terdapat di .
b. Sistem pemompaan terdapat di .
c. Pintu air terdapat di .
(3) Rencana kebutuhan sistem jaringan drainase terdiri atas:
a. Rencana jaringan drainase primer terdapat di ruas jalan ... yang
bermuara di ...
b. Rencana jaringan drainase sekunder meliputi:
1. Saluran drainase yang terdapat di ruas jalan yang bermuara di ...
2. ...
3. Dst.
c. Rencana jaringan drainase tersier meliputi:
1. Saluran drainase yang terdapat di ruas jalan yang bermuara di ...
2. ...
3. Dst.
d. Rencana jaringan drainase lingkungan meliputi:
1. Saluran drainase yang terdapat di ruas jalan yang bermuara di ...
2. ...
3. Dst.
Bagian Ketujuh
Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah

Pasal 43
- 25 -

(1) Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 29 huruf f terdiri atas:
a. Sistem pembuangan air limbah setempat; dan
b. Sistem pembuangan air limbah terpusat.
(2) Sistem pembuangan air limbah setempat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a meliputi:
a. Bak septik terdapat di .
b. Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja terdapat di .
(3) Sistem pembuangan air limbah terpusat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b meliputi:
a. Saluran pembuangan terdapat di .
b. Bangunan pengolahan air limbah terdapat di .

Bagian Kedelapan
Rencana Pengembangan Prasarana Lainnya

Pasal 44
Rencana pengembangan jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 huruf g terdiri atas:
a. Rencana pengembangan jalur evakuasi bencana
b. ...
c. Dst.
Pasal 45
(1) Rencana pengembangan jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 huruf g terdiri atas:
a. Jalur evakuasi bencana; dan
b. Tempat evakuasi sementara.
(2) Jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdapat di .
(3) Tempat evakuasi sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b terdapat di .

BAB IV
PENETAPAN SUB BWP YANG DIPRIORITASKAN PENANGANANNYA
- 26 -

Pasal 46
Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya terdiri atas :
a. Seluruh Sub BWP ... ;
b. Sebagian Sub BWP ... yang terdapat di blok ... dengan luas
kurang lebih ... hektar.
Pasal 47
(1) Rencana penanganan Sub BWP ... dilakukan melalui ... (masukkan tema)
(2) Rencana penanganan Sub BWP ... dilakukan melalui ...
(3) ...
(4) Dst.
Pasal 48
Rencana Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya
digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana
tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.

Pasal 49
Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya merupakan dasar penyusunan
RTBL yang akan ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota yang
dikeluarkan paling lama 24 bulan sejak ditetapkannya Peraturan Daerah
Rencana Detail Tata Ruang ini.

BAB V
KETENTUAN PEMANFAATAN RUANG

Pasal 50
(1) Ketentuan pemanfaatan ruang ... merupakan acuan dalam mewujudkan
rencana pola ruang dan rencana jaringan prasarana sesuai dengan
RDTR ... .
(2) Ketentuan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. Program pemanfaatan ruang prioritas di BWP;
b. Lokasi;
c. Besaran;
d. Sumber pendanaan;
e. Instansi pelaksana; dan
- 27 -

f. Waktu dan tahapan pelaksanaan.

Pasal 51
Program perwujudan rencana pola ruang di BWP sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a meliputi:
a. Program perwujudan rencana pola ruang di BWP; dan
b. Program perwujudan rencana jaringan prasarana di BWP.
c. Program perwujudan penetapan Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya.
d. Program perwujudan ketahanan terhadap perubahan iklim (kalau
diperlukan).
Pasal 52
Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b terdapat di
blok dalam sub BWP.
Pasal 53
Besaran program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf c berupa jumlah satuan masing-masing volume kegiatan.
Pasal 54
Sumber pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d berasal dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD); dan
b. Sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 55
Instansi pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e terdiri atas:
a. Pemerintah;
b. Pemerintah provinsi;
c. Pemerintah kabupaten; dan
d. Masyarakat.

Pasal 56
Waktu pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f terdiri atas 4
(empat) tahapan, sebagai dasar bagi instansi pelaksana dalam menetapkan
prioritas pembangunan pada wilayah perencanaan RDTR ... yang meliputi:
- 28 -

a. Tahap pertama pada periode tahun ... -... ;


b. Tahap kedua pada periode tahun ... -...;
c. Tahap ketiga pada periode tahun ... -...;
d. Tahap keempat pada periode tahun ... -... .

Pasal 57
Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun
berdasarkan indikasi program utama 5 (lima) tahunan sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.

BAB VI
PERATURAN ZONASI

Pasal 58
(1) Peraturan zonasi berfungsi sebagai:
a. Perangkat operasional pengendalian pemanfaatan ruang;
b. Acuan dalam pemberian izin pemanfaatan ruang termasuk di dalamnya
air right development dan pemanfaatan ruang di bawah tanah;
c. Acuan dalam pemberian insentif dan disinsentif;
d. Acuan dalam pengenaan sanksi; dan
e. Rujukan teknis dalam pengembangan atau pemanfaatan lahan dan
penetapan lokasi investasi.
(2) Peraturan zonasi terdiri atas:
a. Materi wajib; dan
b. Materi pilihan.
(3) Materi wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi:
a. Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan;
b. Ketentan intensitas pemanfaatan ruang;
c. Ketentuan tata bangunan;
d. Ketentuan prasarana dan sarana minimal; dan
e. Ketentuan pelaksanaan.
(4) Materi pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
(dimasukkan kalau ada)
- 29 -

a. Ketentuan tambahan;
b. Ketentuan khusus;
c. Standar teknis; dan
d. Ketentuan pengaturan zonasi.

Pasal 59
Ketentuan peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana
tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.

BAB VII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 60
Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap rencana detail tata ruang
yang telah ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB VIII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 61
(1) Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, semua peraturan daerah
yang berkaitan dengan perwujudan RDTR ini yang telah ada tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan atau belum diganti berdasarkan
peraturan daerah ini.
(2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka:
a. Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan masa
berlakunya;
b. Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai
dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan:
1. Untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut
disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah
ini;
- 30 -

2. Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, dilakukan


penyesuaian dengan masa transisi berdasarkan ketentuan
perundang-undangan; dan
3. Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak
memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi
kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah
diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul
sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat diberikan penggantian
yang layak;
c. Pemanfaatan ruang di Daerah yang diselenggarakan tanpa izin dan
bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, akan diterbitkan
dan disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini.
d. Pemanfaatan ruang yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah
ini, agar dipercepat untuk mendapatkan izin yang diperlukan.

BAB XI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 62

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah
Nomor Tahun ... tentang Rencana Detail Tata Ruang ... dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 63
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahui, memerintahkan pengundangan


Peraturan Daerah ini, dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten ...
- 31 -

Ditetapkan di ...
pada tanggal

BUPATI ...,

............................................
Diundangkan di ...
pada tanggal

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN ...,

...................................................
- 32 -

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ... TAHUN 2011

TENTANG
RENCANA DETAIL TATA RUANG WILAYAH (RDTR) ...
TAHUN 2012 - 2032

I. UMUM

Ruang sebagai wadah kehidupan yang meliputi ruang daratan, ruang


lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia
dan mahluk hidup lainnya melakukan kegiatan dan memelihara
kelangsungan hidupnya, perlu ditata agar pemanfaatannya dapat
dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Penataan ruang
yang meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian,
merupakan tugas dan wewenang pemerintah daerah bersama-sama
dengan masyarakat yang dituangkan dalam Peraturan Daerah dan
peraturan pelaksana lainnya, dengan melibatkan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah, masyarakat dan duania usaha.
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang sebagai perangkat
operasionalisasi kebijakan Pemerintah Daerah yang tertuang dalam RTRW
Kabupaten.... RDTR merupakan acuan lebih detil pengendalian
pemanfaatan ruang kabupaten, sebagai salah satu dasar dalam
pengendalian pemanfaatan ruang dan sekaligus menjadi dasar
penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR ditentukan sebagai
zona yang penanganannya diprioritaskan.
Rencana Detail Tata Ruang rencana yang menetapkan blok pada
kawasan fungsional sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang
yang memperhatikan keterkaitan antarkegiatan dalam kawasan fungsional
agar tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan
kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional tersebut. Berdasarkan hal
tersebut diatas dan sejalan dengan amanat Peraturan Perundang-
undangan, maka perlu untuk mengadakan Penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR) ....
- 33 -

II. PASAL DEMI PASAL

asal 1
Cukup jelas
asal 2
Cukup jelas
..
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH
LAMPIRAN
4. Peta Rencana Pola Ruang
5. Peta Rencana Jaringan Prasarana
6. Peta Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya
7. Tabel Ketentuan Pemanfaatan ruang
8. Tabel Zoning Text