Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL IN CLINIC (TIC)

LAPORAN TUTORIAL PADA KASUS APENDISITIS PADA Ny. D


DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD dr. ABDUL AZIZ
KOTA SINGKAWANG

Disusun Oleh:

KELOMPOK 1 STASE KMB

1. Rizky Ananda Putri 7. Budi Ramanda


2. Dewi Oktavia 8. Nurul Hamiah
3. Ira Febrianti 9. Dini Yuni Anisa
4. Muhammad Untung 10. Ayu Arifiani
Saputra 11. Kartika Sari
5. Rica Pustikawaty 12. Ainun Najib
6. Utari Panggabean 13. Raup Sutrianto

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

2017
Tutiorial In Clinic (TIC)

A. Kasus
Ny. D umur 38 tahun datang ke RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang, pada tanggal 27
Februari 2017 dengan keluhan nyeri perut pada bagian kanan bawah sejak 1 minggu
yang lalu SMRS (tanggal 20 Februari 2017), klien juga mengatakan 2 hari SMRS
klien mengalami demam dan BAB cair dengan warna kuning kehitaman, dengan
frekuensi > 6 x/hari. Kesadaran umum compos mentis (GCS 15 E4, V5, M6). Klien
mengatakan juga memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak 1 tahun yang lalu.
Saat pengkajian pada tanggal 27 februari 2017, klien mengeluhkan terasa nyeri pada
perut bagian kanan bawah, dengan karakteristik nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri
dirasakan hilang timbul dan saat ditanya berapa skala nyeri yang dirasakan klien
mengatakan skala 5 dari skala 0-10 (Skala nyeri sedang). Selain itu klien juga
mengatakan susah tidur dan sering terbangun ketika tidur, klien mengatakan tidak
merasa nyaman saat bangun dari tidur karena nyeri yang ia rasakan. Klien mengatakan
tidur malamnya dari jam 23:00- 05: 30 wib dan tidur siang tidak teratur. Saat ini klien
juga mengatakan takut untuk menjalani operasi karena klien mengatakan tidak pernah
menjalani operasi sebelumnya. Klien terpasang infus Ringer Laktat (RL) 20 tpm. GCS
15 ( E4V5M6 ) TD = 140/80 mmHg, N = 88x/Menit, RR= 20x/menit, T= 36,70C.
Pemeriksaan MC burney (+), Psoas Sign (+).
Hasil pemeriksaan lab pada 27 februari 2017 menunjukkan hasil sebagai berikut:
HB : 9,6 g/dl
Leukosit : 20.700 /l
Trombosit : 419.000 /l
Hematokrit : 27.3 %
Eritrosit : 4,63x106 /l
Laju endap darah : 120/ jam
Hitung jenis leukosit: basofil (0), eosinofil (0), batang (0), segmen (92), limfosit (6),
Monosit (2).
Hasil pemeriksaan USG abdomen menunjukkan kesan : suspek fluid collection di
region MC burney dan di Kavum Douglan.
Saat ini klien mendapatkan terapi medikasi (Tanggal 27 Februari 2017) sebagai
berikut :
- Infus Ringer laktat 20 tpm
- Ranitidin 50 mg 2x1 iv
- Ketorolac 30 mg 3x1 iv
- Ceftriaxone 1gr 2x1 iv
- Infus metronidazole 500 mg 3x1

Pengkajian tanggal (28 Februari 2017) klien mengatakan sudah menjalani operasi,
klien mengatakan keluhan setelah operasi yaitu masih nyeri di bagian luka operasi
dengan karakteristik nyeri yaitu nyeri seperti di tusuk-tusuk, dan bersifat terus
menerus, klien mengatakan skala nyeri yang ia rasakan adalah 4 dari 0-10 (skala nyeri
sedang). Selain itu klien juga mengatakan jika bergerak nyeri yang ia rasakan semakin
bertambah, klien mengatakan aktivitasnya dibantu oleh keluarga seperti berganti
pakaian, mempersiapkan makanan dll (50% aktivitas dibantu oleh keluarga : partial
care). Saat ini klien terpasang infus ringer laktat 20 tpm, GCS 15 ( E4V5M6 ) TD =
140/70 mmHg, N = 80x/Menit, RR= 20x/menit, T= 36,80C. Klien terpasang drain
pada perut sebelah kiri. Terdapat luka operasi dengan P 16 Cm dan L 2.5 cm
vertikal. Kekuatan otot klien 5 5
3 3
Hasil pemeriksaan lab Urinalisa pada 28 februari 2017 menunjukkan hasil sebagai
berikut:
Warna : kuning
Berat jenisi : 1.020
PH : 6
Protein : 1+
Keton : Trace
Bilirubin : negatif
Urobilinogen : 0.2 umol/L
Leukosit : negatif
Saat ini klien mendapatkan terapi medikasi (Tanggal 28 Februari 2017) sebagai
berikut:
- Infus Ringer laktat 20 tpm
- Ranitidin 50 mg 2x1 iv
- Ketorolac 30 mg 3x1 iv
- Ceftriaxone 2gr 2x1 iv
- Infus metronidazole 500 mg 3x1

B. Step I
1. Nyeri pada perut bagian kanan bawah
2. Nyeri pada bagian luka post op
3. Riwayat hipertensi
4. Hasil USG Abdomen
5. Nilai leukosit 20.700 /l
6. Terpasang Drain
C. Step II
1. Apakah ada hubungan keluhan klien saat ini dengan riwayat bab cair berwarna
kehitaman
2. Mengapa nilai leukosit klien tinggi ?
3. Apa fungsi pemeriksaan MC burney dan Psoas sign pada kasus klien ?
4. Apa saja diagnosa keperawatan yang dapat diangkat dari kasus ini ?
5. Kapan klien dapat melakukan Mobilisasi dan posisi apa yang tepat pasca operasi
pada klien ?
6. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi jika tidak segera ditangani dengan tepat?
7. Apa fungsi drain pada post operasi klien ?
8. Apa saja fungsi obat-obatan yang diberikan kepada klien ?
9. Apa tindakan keperawatan dalam manajemen nyeri yang di alami klien ?

D. Step III
Berdasarkan diskusi kami, maka hipotesa pada kasus ini adalah apendisitis
E. Step IV
1. Fases klien berwarna kehitaman karena adanya infeksi yang terjadi di mukosa usus
sehingga menyebabkan feses bercampur dengan darah yang akhirnya
menyebabkan feses berwarna kehitaman
2. Karena klien mengalami infeksi pada ususnya sehingga menyebabkan peningkatan
pada nilai leukosit yang ditandai dengan keluhan demam.
3. Pemeriksaan MC berney dan psoas sign berfungsi untuk mengetahui apakah klien
mengalami apendisitis, jika hasil menunjukan (+) pada saat pemeriksaan maka
klien tersebut diindikasikan terkena apendisitis
4. Diagnosa keperawatan yang dapat diambil yaitu : Nyeri berhubungan dengan
infeksi, gangguan pola tidur b.d nyeri akut, ansietas berhubungan dengan tindakan
pemedahan, defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tindakan pembedahan.
Untuk diagnosa post operasi yaitu nyeri berhubungan dengan kerusakan integritas
kulit, kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan,
intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri post operasi
5. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk di tempat tidur dan posisi
yang terbaik adalah semi fowler
6. Jika tidak ditangani secara tepat maka dapat menyebabkan peradangan pada
peritonium dan juga abses
7. Fungsi drain pada post operasi yaitu untuk mengeluarkan cairan yang berlebih
pada area sekitar perut
8. Fungsi obat-obatan yang diberikan kepada klien yaitu
- Ranitidin berfungsi untuk mengurangi asam lambung sehingga dapat
menurunkan rasa nyeri
- Ketorolac berfungsi untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat untuk
sementara waktu.
- Ceftriaxone berfungsi untuk mengobati infeksi bakteri
- Metronidazole berfungsi untuk mengobati infeksi akibat bakteri
9. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri yaitu dengan
teknik relaksasi nafas dalam, yaitu klien di minta untuk menarik nafas dalam
hidung dengan bibir tertutup kemudian tahan napas sekitar 1-2 detik dan disusul
dengan menghembuskan nafas melalui bibir
F. STEP V
1. Definisi Apendisitis ?
2. Etiologi Apendisitis ?
3. Klasifikasi Apendisitis?
4. Tanda gejala klinis Apendisitis?
5. Patofisiologi Apendisitis ?
6. Pemeriksaan penunjang Apendisitis?
7. Komplikasi Apendisitis?
8. Penatalaksanaan Apendisitis?
9. Asuhan keperawatan Apendisitis?

G. STEP VI
1. Definisi
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering (Mansjoer dkk, 2007). Apendisitis merupakan
inflamasi di apendiks, dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi
apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya
(Corwin, 2009).
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks), infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga
membutuhkan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya
berbahaya (Wim de Jong et al, 2005).

2. Etiologi
ligasi (obstruksi) apendiks menyebabkan peningkatan mencolok tekanan
intralumen, yang dengan cepat melebihi tekanan darah sistolik. Pada awalnya
kongesti darah vena menjelek menjadi trombosis, nekrosis dan perforata. Secara
klinis, obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. Obstruksi ini
disebabkan oleh pengerasan bahan tinja (fekolit). Fekalit merupakan penyebab
tersering dari obstruksi apendiks. Bahan yang mengeras ini bisa mengapur, terlihat
dalam foto rontgen sebagai apendikolit (15-20%). Obstruksi akibat dari edema
mukosa dapat disertai dengan infeksi virus atau bakteri (Yersinia, Salmonella,
Shigella) sistemik. Mukus yang tidak normal terkesan sebagai penyebab
meningkatnya insidens apendisitis pada anak dengan kistik fibrosis. Tumor
karsinoid, benda asing, dan ascaris jarang menjadi penyebab apendisitis (Hartman,
2008).
Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan apendisitis adalah erosi
mukosa apendiks karena parasit seperti E. Histolytica. Penelitian epidemiologi
menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh
konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan
meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya akan
mempermudah terjadinya apendisits akut (Pieter, 2005).

3. Klasifikasi
a. Appendicitis Akut
- Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa
disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen
appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang
mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan
kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus,
mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan. Pada appendicitis
kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia,
edema, dan tidak ada eksudat serosa.
- Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema
pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke
dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa
menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat
eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal
seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler,
dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat
terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
b. Appendicitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai
terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-
tanda supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding
appendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada
appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan
peritoneal yang purulen.
c. Appendicitis Infiltrat
Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang
penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan
peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat
erat satu dengan yang lainnya
d. Apendicitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah
(pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal,
subcaecal, dan pelvic.
e. Appendicitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah
ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga
terjadi peritonitis umum. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi
dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
f. Appendicitis Kronis
Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif
sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan
virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa
appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri
berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding
appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis.
Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa,
muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi
(Hartman,2008)

4. Tanda dan gejala


Gejala awal yang khas yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri
samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau
periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang
muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa
jam, nyeri akan beralih ke kuadaran kanan bawah. Apendisitis juga disertai dengan
demam derajat rendah sekitar 37,5-38,5 derajat celcius (Price dan Wilson, 2006).
Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak
ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Gejala apendisitis akut pada anak
tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak
sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya dalam beberapa jam kemudian akan
timbul muntah-muntah dan anak akan menjadi lemah dan letargik. Karena gejala
yang tidak khas tadi, sering apendisitis diketahui setelah perforata. Pada bayi, 80-
90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforata (Pieter, 2005).
Manifestasi klinis apendisitis akut (Pieter, 2005) :
tanda awal
nyeri mulai di epigastrium atau regio umbilikus disertai mual dan anoreksi
nyeri pindah ke kanan bawah dan menunjukkan tanda rangsangan peritoneum
lokal di titik McBurney : nyeri tekan, nyeri lepas dan defans muskuler
nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung
nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing), nyeri kanan bawah bila tekanan
di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg), nyeri kanan bawah bila peritoneum
bergerak seperti nafas dalam, berjalan, batuk, mengedan

5. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus
yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut
makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendistis akut fokal yang
ditandai oleh nyeri epigastrium (Price, 2005).
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus
dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat
sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah, keadaan ini disebut dengan
apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang
diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila
dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi (Mansjoer,
2007).
Pathway
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada darah lengkap didapatkan leukosit ringan umumnya pada apendisitis
sederhana. Lebih dari 13.000/mm3 umumnya pada apendisitis perforata. Tidak
adanya leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis leukosit
terdapat pergeseran kekiri. Pada pemeriksaan urin, sedimen dapat normal atau
terdapat leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang
menempel pada ureter atau vesika
b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan pencitraan yang mungkin membantu dalam mengevaluasi anak
dengan kecurigaan apendisitis adalah foto polos perut atau dada,
ultrasonogram, enema barium, dan kadang-kadang CT scan. Temuan
apendisitis pada foto perut meliputi apendikolit yang mengalami kalsifikasi,
usus halus yang distensi atau obstruksi, dan efek massa jaringan lunak
(Hartman, 2000). Foto polos abdomen dikerjakan apabila hasil anamnesa atau
pemeriksaan fisik meragukan. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah.
Gambaran perselubungan mungkin terlihat ileal atau caecal ileus (gambaran
garis permukaan air-udara disekum atau ileum).
c. Foto polos pada apendisitis perforata:
1 gambaran perselubungan lebih jelas dan dapat tidak terbatas di kuadran
kanan bawah
2 penebalan dinding usus disekitar letak apendiks, sperti sekum dan ileum.
3 Garis lemak pra peritoneal menghilang
4 Skoliosis ke kanan
5 Tanda-tanda obstruksi usus seperti garis-garis permukaan cairan-cairan
akibat paralisis usus-usus lokal di daerah proses infeksi.
d. Pemindaian CT scan merupakan alat terbaik untuk mendiagnosis apendisitis,
terutama telah menjadi modalitas pilihan untuk mendiagnosis usus buntu pada
anak-anak (Nashar, 2013).
7. Komplikasi
Komplikasi apendisitis terjadi pada 25-30% anak dengan apendisitis, terutama
komplikasi yang dengan perforata (Hartman, 2008). Menurut Smeltzer dan Bare
(2013), komplikasi potensial setelah apendiktomi antara lain:
a. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya
yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas
pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum.
Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang,
dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan
sirkulasi, dan oligouria Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat,
muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis
b. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak
di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini
terjadi bila appendicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.
c. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak
awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.19 Perforasi dapat diketahui
praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36
jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh
perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik
berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis

8. Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer dkk. (2007), penatalaksanaan apendisitis terdiri dari:
1. Sebelum operasi
- Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
- Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin
- Rehidrasi
- Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena
- Obat obatan penurun panas, phenergan sebagai anti mengigil, largaktil
untuk membuka pembuluh pembuluh darah perifer diberikan setelah
rehidrasi tercapai
- Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi
2. Operasi
- Apendiktomi
- Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforata bebas, maka abdomen
dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika
- Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV, massa mungkin mengecil, atau
abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.
Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6
minggu sampai 3 bulan
3. Pasca Operasi
- Observasi Tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di
dalam, syok, hipertermia atau gangguan pernafasan.
- Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan
lambung dapat dicegah
- Baringkan pasien dalam posisi semi fowler
- Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selam pasien
dipuasakan
- Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforata, puasa dilanjutkan
sampai fungsi usus kembali normal.
- Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4 5 jam lalu naikkan menjadi 30
ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya
diberikan makanan lunak
- Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur
selama 2x30 menit
- Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar
- Hari ke-7 jahitan dapat diangkat
Jika apendiks telah perforata, terutama dengan peritonitis menyeluruh,
resusitasi cairan yang cukup dan antibiotik spektrum luas mungkin diperlukan
beberapa jam sebelum apendiktomi. Pengisapan nasogastrik harus digunakan jika
ada muntah yang berat atau perut kembung. Antibiotik harus mencakup
organisme yang sering ditemukan (Bacteroides, Escherichia coli, Klebsiella, dan
pseudomonas spesies). Regimen yang sering digunakan secara intravena adalah
ampisilin (100 mg/kg/24 jam), gentamisin (5 mg/kg/24 jam), dan klindamisin (40
mg/kg/24 jam), atau metrobnidazole (Flagyl) (30 mg/kg/24 jam). Apendiktomi
dilakukan dengan atau tanpa drainase cairan peritoneum, dan antibiotik
diteruskan sampai 7-10 hari (Hartman, 2008).

9. Asuhan Keperawatan
a Pengkajian
1. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang
digunakan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor
register, tanggal dan jam masuk rumah sakit, dan diagnosis medis.
Pada umumnya, keluhan utama pada kasus apendisitis adalah rasa nyeri
yang hebat. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap mengenai
rasa nyeri klien, perawat mengunakan PQRST.
P (Provoking Incident): hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri
Q (quality of pain): kualitas nyeri yang dirasakan klien, seperti di
tusuk-tusuk atau di remas-remas.
R (Region, Radiation, Relief): lokasi terjadinya nyeri
S (Scale of pain): skala yang dialami oleh klien
T (Treatment) : waktu terjadinya nyeri
2) Riwayat penyakit sekarang
Kaji kronologi terjadinya apendisitis, pertolongan apa yang telah
didapatkan dan apakah sudah berobat ke puskesmas sebelumnya.
Dengan mengetahui mekanisme terjadinya apendisitis, perawat dapat
mengetahui proses terjadinya apendisitis pada klien.
3) Riwayat penyakit dahulu
Penyakit tertentu seperti riwayat penyakit maag, sesak nafas ataupun
penyakit keturunan seperti penyakit diabetes.
4) Riwayat penyaklit keluarga
Kaji riwayat penyakit keluarga untuk mengetahui apakah di dalam
keluarga klien juga ada yang mengalami penyakit seperti klien.
5) Riwayat psikospiritual
Kaji respon emosis klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran
klien dalam keluarga, masyarakat, serta respon atau pengaruhnya
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Keadaan baik dan buruknya klien. Tanda-tanda gejala yang perlu
dicatat adalah kesadaran diri pasien (apatis, sopor, koma, gelisah,
komposmetis yang bergantung pada keadaan klien), kesakitan atau
keadaaan penyakit (akut, kronis, berat, ringan, sedang, dan pada kasus
apendisitis ) tanda vital biasanya tidak normal karena terdapat inflamasi
pada usus sehingga dapat terjadi kenaikan pada suhu badan klien.
2) B1 (Breathing)
Pada pemeriksaan sistem pernafasan, kaji apakah klien mengalami
kelainan pernapasan, lakukan palpasi thorak untuk mengetahui taktil
fremitus apakah seimbang kanan dan kiri. Lakukan auskultasi untuk
menentukan suara nafas klien .
3) B2 (Blood)
Lakukan inspeksi untuk mengetahui iktus jantung, palpasi nadi,
auskultasui suara jantung klien apakah terdapat suara tambahan sepeti
murmur,.
4) B3 (Brain)
a) Tingkat kesadaran biasanya compos mentis.
Kepala: kaji apakah terdapat gangguan atau tidak, kesemistrian
kanan dan kiri, adanya benjolan atau sakit kepala.
Leher: kaji apakah terdapat gangguan, lihat kesemistrian kanan
dan kiri, adanya benjolan dan kesulitan menelan.
Wajah : perhatikan ekspresi wajah yang dapat menggambarkan
skala nyeri yang sedang dialami klien , perhatikan juga
kesemestrian wajah, lesi dan edema.
Mata: kaji keadaan mata apakah terdapat gangguan, perhatikan
konjungtiva apakah terdapat tanda anemis. Kaji juga sklera dan
pupil pada mata
Telinga : lakukan uji Tes bisik dan weber pada klien untuk
mengetahui keadaan fungsi telinga klien, perhatikan adanya lesi
dan nyeri tekan
Hidung: inspeksi bentuk hidung, dan bentuk pernapasan
Mulut dan Faring: perhatikan apakah terdapat pembesaran tonsil,
mukosa mulut apakah terlihat pucat.
b) Pemeriksaan fungsi serebral
Status mental, observasi penampilan, dan tingkah laku klien. Biasanya
status mental tidak mengalami perubahan.
c) Pemeriksaan saraf kranial
Lakukan pemeriksaan saraf kranial I-XII :
- Saraf I: fungsi penciuman tidak ada gangguan.
- Saraf II: ketajaman penglihatan normal
- Saraf III, IV, VI: tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata,
pupil isokor.
- Saraf V: tidak mengalami paralisis pada otot wajah dan reflek
kornea tidak ada kelainan.
- Saraf VII: persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah
simetris.
- Saraf VIII: tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi.
- Saraf IX dan X: kemampuan menelan baik
- Saraf XI: tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
- Saraf XII: lidah simeteris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak
ada faskulasi. Indra pengecapan normal.
d) Pemeriksaan refleks
Biasanya tidak ditemukan reflek patologis.
d) Pemeriksaan sensori
Biasanya pada pasien apendisitis tidak ditemukan kelainan pada sensori.
5) B4 (Bladder)
Kaji urine yang meliputi wana, jumlah dan karakteristik urine, termasuk
berat jenis urine.
6) B5 (Bowel)
Inspeksi abdomen: bentuk, kesemestrian. Palpasi: turgor, hepar. Perkusi:
suara abdomen. Auskultasi peristaltik usus. Inguinal, genital. Pada
pasien dengan apendisitis biasanya di temukan rasa nyeri saat di lakukan
palpasi.
7) B6 (Bone)
Pada ekstremitas kaji adanya lesi, hematoma, apakah terdapat fraktur
atau tidak. Kaji juga kekuatan otot yang dimilik oleh klien.

b Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


Diagnosa
a. Pre operasi
1) Nyeri berhubungan dengan infeksi
2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri akut
3) Ansietas berhubungan dengan tindakan operatif
b. Post operasi
1) Nyeri berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan
2) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri pada luka post operasi

Intervensi keperawatan
a. Pre Operasi
Rencana Perawatan
Diagnosa
No Nursing Intervention
Keperawatan
Nursing Out Come (NOC) Classification (NIC)

1 Nyeri berhubungan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji nyeri pasien dengan


dengan infeksi keperawatan selama 3x24 pengkajian nyeri PQRST
jam diharapkan nyeri b. Mengobservasi reaksi
hilang/berkurang dengan nonverbal dari
kriteria hasil: ketidaknyamanan
a. Melaporkan nyeri c. Kendalikan faktor
berkurang atau hilang lingkungan yang dapat
b. TTV dalam batas mempengaruhi respon
normal pasien terhadap
c. Ekspresi wajah tidak ketidaknyamanan (misal
menahan nyeri suhu ruangan,
pencahayaan, dan
kegaduhan)
d. Mengukur tanda-tanda
vital (nadi,suhu, RR,
tekanan darah)
e. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi:
relaksasi
f. Memberikan analgestik
sesuai instruksi medikasi
2 Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan tindakan a. Jelaskan pentingnya tidur
b.d Nyeri akut keperawatan selama 3x24 yang adekuat
jam diharapkan gangguan b. Ciptakan lingkungan
pola tidur dapat teratasi yang nyaman
kriteria hasil: c. Diskusikan dengan
pasien dan keluarga
a. Jumlah jam tidur dalam
tentang teknik tidur
batas normal 6-8 jam/
d. Monitor waktu makan
hari
dan minum dengan
b. Pola tidur, kualitas
waktu tidur
dalam batas normal
c. Perasaan segar sesudah
tidur atau istirahat

3 Ansietas b.d Setelah dilakukan tindakan a. Gunakan pendekatan


tindakan keperawatan selama 3x24 yang menenangkan
jam diharapkan ansietas b. Jelaskan semua
pembedahan dapat teratasi kriteria hasil: prosedur dan apa yang
dirasakan selama
a. Klien mampu
prosedur
mengidentifikasi dan
c. Dorong keluarga untuk
mengungkapkan gejala
menemani pasien
cemas
d. Dorong pasien untuk
b. Mengidentifikasi,
mengungkapkan
mengungkapkan dan
perasaan, ketakutan,
menunjukkan teknik
persepsi
untuk mengontrol
e. Instruksikan pasien
cemas
menggunakan teknik
c. Vital sign dalam batas
relaksasi
normal
d. Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh
dan tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan
4 Defisiensi Setelah dilakukan tindakan a. Berikan penilaian tentang
Pengetahuan keperawatan 1x24 jam tingkat pengetahuan
berhubungan dengan defisiensi pengetahuan pasien dan keluarga
kurang terpajan dapat teratasi. tentang proses penyakit
informasi b. Jelaskan proses penyakit
Kriteria hasil :
dengan tepat
a. Pasien dan keluarga c. Gambarkan tanda dna
menyatakan gejala yang biasa muncul
pemahaman tentang pada penyakit
penyakit, kondisi d. Identifikasi kemungkinan
prognosis dan penyebab dengan cara
pengobatan tepat
b. Pasien dan keluarga e. Sediakan bagi keluarga
mampu melaksanakan informasi mengenai
prosedur yang kesehatan
dijelaskan dengan benar
c. Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan oleh perawat

b. Post Operasi
Rencana Perawatan
Diagnosa
No Nursing Intervention
Keperawatan
Nursing Out Come (NOC) Classification (NIC)

1 Nyeri berhubungan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji nyeri pasien dengan


dengan kerusakan keperawatan selama 3x24 pengkajian nyeri PQRST
jaringan jam diharapkan nyeri b. Mengobservasi reaksi
hilang/berkurang dengan nonverbal dari
kriteria hasil: ketidaknyamanan
d. Melaporkan nyeri c. Kendalikan faktor
berkurang atau hilang lingkungan yang dapat
e. TTV dalam batas mempengaruhi respon
normal pasien terhadap
f. Ekspresi wajah tidak ketidaknyamanan (misal
menahan nyeri suhu ruangan,
pencahayaan, dan
kegaduhan)
d. Mengukur tanda-tanda
vital (nadi,suhu, RR,
tekanan darah)
e. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi:
relaksasi
f. Memberikan analgestik
sesuai instruksi medikasi
2 Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan a. Anjurkan pasien untuk
kulit berhubungan keperawatan selama 3x24 menggunakan pakaian
dengan tindakan jam diharapkan kerusakan yang longgar
pembedahan integritas kulit dapat teratasi b. Jaga kulit agar tetap
kriteria hasil: bersih dan kering
f. perfusi jaringan normal c. Mobilisasi pasien
g. tidak ada tanda-tanda d. Monitor kulit akan adanya
infeksi kemerahan
h. ketebalan dan tekstur e. Memberikan perhatian
jaringan normal pada kulit yang luka
i. menunjukkan f. Melindungi kulit abdomen
pemahaman dalam yang sehat dari
proses perbaikan kulit kemungkinan maserasi
dan mencegah g. Menjaga kelembapan kulit
terjadinya cidera andomen
berulang h. Observasi luka : lokasi,
j. menunjukkan terjadinya dimensi, kedalaman luka,
proses penyembuhan jaringan nekrotik, tanda-
luka tanda infeksi
3 Intoleransi aktivitas Dalam waktu 3 x 24 jam a. Letakkan pasien pada
berhubungan dengan setelah diberikan intervensi, posisi tertentu untuk
nyeri pada luka post klien dapat meningkatkan menghindari kerusakan
operasi kekuatan dan fungsi karena tekanan. Ubah
pergerakan tubuh dalam posisi pasien secara
beraktivitas dan merawat teratur dan buat sedikit
dirinya sendiri. perubahan posisi antara
waktu perubahan posisi
Kriteria Hasil :
tersebut.
a. Berpartisipasi dalam b. Instruksikan/bantu pasien
aktivitas fisik tanpa dengan program latihan
disertai peningkatan dan penggunaan alat
tekanan darah, nadi , mobilisasi. Tingkatkan
dan RR. aktivitas dan partisipasi
b. Mampu melakukan dalam merawat diri
aktivitas sehari-hari sendiri sesuai kemampuan
(ADLs) secara mandiri. c. Bantu klien untuk
c. Tanda-tanda vital mengidentifikasi aktivitas
normal. yang mampu dilakukan.
d. Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
di waktu luang
DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC


2. Hartman. 2008. Apendisitis Akut. In: Nelson, W.E., Behrman, R.E . Ilmu Kesehatan Anak
Nelson Vol 2 Edisi 15. Jakarta: EGC
3. Mansjoer, A. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
4. Nashar. 2013. The Disease Diagnose dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Cendikia Press
5. Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardhi. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis
Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda, NIC,NOC dalam berbagai Kasus. Jogjakarta:
MediAction Publishing.
6. Pieter, J. 2005. Usus Halus, Apendiks, Kolon dan Anorektum. In: Sjamsuhidajat and De
Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC
7. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
EGC
8. Smeltzer dan Bare. 2013. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC
9. Wim De Jong et al. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC