Anda di halaman 1dari 21

Bab V

Bentuk Lahan Asal Proses Solusional

A. Pengertian
Karst merupakan istilah dalam Bahasa Jerman yang diturunkan dari
Bahasa Slovenia (kras) yang berarti lahan gersang berbatu. Istilah ini di
Negara asalnya sebenarnya tidak berkaitan dengan batu gamping dan proses
pelarutan, namun saat ini istilah kras telah diadopsi untuk istilah bentuk
lahan hasil proses perlarutan. Forddan Williams (1989) mendefinisikan karst
sebagai medan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari
batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang
berkembang baik. Karst dicirikan oleh:
1. Terdapatnya cekungan tertutup dan atau lembah kering dalam berbagai
ukuran dan bentuk,
2. Langkanya atau tidak terdapatnya drainase/sungai permukaan, dan
3. Terdapatnya goa dari system drainase bawah tanah.
Karst tidak hanya terjadi di daerah berbatuan karbonat, tetapi terjadi
juga di batuan lain yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder
(kekar dan sesar intensif), seperti batuan gypsum dan batu garam. Namun
demikian, karena batuan karbonat mempunyai sebaran yang paling luas,
karst yang banyak dijumpai adalah karst yang berkembang di batuan
karbonat.

B. Proses dan Syarat Terbentuknya Lahan Solusional


Karstifikasi atau proses permbentukan bentuklahan karst didominasi
oleh proses pelarutan. Proses pelaturan batugamping diawali oleh larutnya
CO2 di dalam air membentuk H2CO3. Larutan H2CO3 tidak stabil terurai
menjadi H- dan HCO32- Ion H- inilah yang selanjutnya menguraikan CaCO 3
menjadi Ca2+ dan HCO3.Secara ringkas proses pelarutan dirumuskan dengan
reaksi sebagai berikut.

CaCO3 + H2O + CO2 Ca2+ + 2 HCO32-


Karstifikasi dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, faktor pengontrol
dan faktor pendorong. Faktor pengontrol menentukan dapat tidaknya proses
karstifikasi berlangsung, sedangkan faktor pendorong menentukan
kecepatan dan kesempurnaan proses karstifikasi.

1. Faktor Pengontrol

a. Batuan mudah larut, kompak, tebal, dan mempunyai banyak


rekahan.

Batuan yang mengandung CaCO3 (Calcium Carbonate)merupakan


contoh batuan yang mudah larut karena jika batuan yang
mengandung CaCO3 bereaksi dengan air yang mengandung karbon
dioksida maka akan terjadi pelarutan batuan dengan mudah sehingga
dapat mengembangkan bentuklahan karst. Kekompakan batuan
menentukan daya tahan bentukan atau kestabilan bentukan semakin
kompak batuan pembentuknya, semakin stabil atau semakin kuat dan
tahan lama bentukan yang dihasilkannya. Ketebalan batuan juga
merupakan faktor pengontrol bentukan bentuklahan karst, semakin
tebal lapisan batuan pada suatu daerah semakin banyak pula
terbentuk sirkulasi air vertikal sehingga dapat terjadi karstifikasi.
Rekahan dapat membantu terjadinya karstifikasi karena semakin
banyak rekahan, semakin banyak pula aliran vertikal yang terbentuk.

b. Curah hujan yang cukup (>250 mm/tahun)

Curah hujan merupakan faktor yang penting dalam proses


karstifikasi, karena semakin besar curah hujan semakin besar pula
tingkat pelarutan yang terjadi pada batuan karbonat sehingga
semakin banyak pula bentuk-lahan karst terbentuk.

c. Batuan terekspos di ketinggian yang memungkinkan perkembangan


sirkulasi air/drainase secara vertikal.
Ketinggian batu gamping di atas permukaan laut menetukan drainase
vertikal, karena semakin tebal lapisan CaCO 3 pada suatu daerah
semakin banyak pula terbentuk sirkulasi air vertikal sehingga dapat
mempengaruhi tingkat karstifikasi.

2. Faktor pendorong

1. Temperatur.

Temperatur atau suhu udara merupakan faktor yang mempengaruhi


cepat lambatnya proses karstifikasi karena temperatur mempengaruhi
tingkat ke idealan makhluk hidup untuk hidup pada suatu daerah
tertentu, sebab semakin hangat temperatur suatu daerah semakin
tinggi pula perkembangan makhluk hidup yang dapat menghasilkan
CO2 (Carbon Dioxide) sehingga apabila CO 2 dalam air bereaksi
dengan kalsit (CaCO3), maka akan terjadi karstifikasi.

2. Penutupan hutan.

Penutupan hutan merupakan faktor yang mempengaruhi cepat-


lambatnya proses karstifikasi karena semakin rapat suatu area tertutup
oleh hutan, semakin banyak CO2 yang terkandung dalam tanah
sebagai akibat dari perombakan zat zat organik sehingga semakin
tinggi pula tingkat daya larut air terhadap batu gamping.

B.1. Proses terbentuknya lahan Karst

Pembentukan topografi karst dimulai pada saat air permukaan


memasuki rekahan yang diikuti oleh pelarutan batuan pada zona
rekahan tersebut.Akibatnya adanya proses pelarutan tersebut, rekahan
yang ada menjadi semakin lebar, akhirnya membentuk sungai bawah
tanah atau gua.
Davis (1930, dalam Endarto, 2007) mengemukakan teori
pembentukan gua yang dikenal sebagai deep phreatic theory yang
mengemukakan bahwa gua terbentuk ditempat yang jauh dibawah
muka airtanah karena aliran air preatik dapat mencapai tempat yang
sangat dalam.

Apabila suatu saat ada suatu sebab yang menyebabkan gua


tersebut beerada diatas muka airtanah, misalnya pengangkatan atau ada
penurunan muka airtanah, maka didalam gua tersebut akan terdapat
ruangan yang hanya berisi udara (atmosfer gua). Dengan demikian
maka airtanah yang bergerak dari atas dan masuk kedalam gua tersebut
akan menetes kedasar atau lantai gua. Pada saat airtanah yang
membawa larutan kalsium bikarbonat menetes kedalam gua maka gas
CO2 dari larutan tersebut berdifusi dan masuk kedalam atmosfer gua,
akibatnya akan terendapkan mineral kalsit baik ditempat jatuhnya
airtanah maupun pada tempat menetesnya airtanah tersebut. Endapan
kalsit tersebut membentuk Stalagtit dan Stalagmite atau dikenal dengan
nama Speleothem.

Dengan adanya gua dan sungai bawah tanah ini maka dapat
terbentuk depresi tertutup yangdisebut surupan. Surupan (dolines)
terbentuk bila atap gua atau sungai bawah tanah runtuh, dan surupan
yang terbentuk ini dikenal dengan nama collapse dolines atau subjacent
karst collapse dolines. Selanjutanya Bloom (1979) mengemukakan
bahwa surupan dapat terbentuk oleh proses pelarutan pada saat air
permukaan memasuki rekahan pada batuan. Surupan jenis ini disebut
solution dolines.

Pekembangan surupan runtuhan dimulai dengan adanya rongga


bawah tanah (gua) pada batugamping. Kemudian gua tersebut
mengalami pelebaran bersma-sama dengan berkembangnya Stalagmit
dan Stalagtit. Fase selanjutnya adalah runtuhnya atap gua tersebut dan
membentuk surupan yang bentuknya tidak teratur.
Surupan pelarutan mulai berkembang saat terjadi pelebaran
kekar vertikal oleh pelarutan. Kemudian terjadi pelebaran kekar
tersebut sehingga mambentuk celah yang lebih lebar. Pelarutan lebih
efektif pada daerah yang dekat dengan permukaan. Fase selanjutnya
lapisan penutup dipermukaan terbuka sehingga terbentuk surupan.

Selain yang tersebut diatas, surupan juga dapat terbentuk oleh


proses subsiden pada material sukar larut yang menutup batuan mudah
larut. surupan jenis ini disebut subsidence dolines.

Apabila surupan-surupan yang berdekatan berkembang sehingga


saling berhubungan dan membentuk suatu depresi besar dengan lantai
dasar yang bergelombang, maka depresi ini disebut Uvala.

Uvala dapat tersusun oleh 14 buah doline dengan ukuran yang


bervariasi dan beraneka ragam. Selanjutnya disebutkan pula bahwa bila
depresi yang besar tersebut memanjang searah jurus perlapisan atau
sepanjang zona lemah structural, lantai dasarnya datar dan dindingnya
curam maka disebut Polje (Endarto, 2007).

B.2. Syarat terbentuknya lahan karst

Secara umum berdasarkan komposisinya, batugamping dapat


dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, tetapi sesuai dengan
namanya, batugamping sedikitnya mengandung 50% mineral karbonat
yang umumnya berupa kalsit (CaCO3). Dua jenis mineral karbonat yang
umum ada pada batugamping adalah kalsit dan dolomite. Bila batuan
mengandung mineral dolomite lebih dari 50% maka batuannya disebut
dolomite dan bila batuannya mengandung mineral kalsit lebih dari 50%
maka batuannya disebut batugamping. Batugamping inilah yang
mempunyai kecenderungan untuk membentuk topografi karst.
Pembentukan topografi karst diperlukan sedikitnya 60% kalsit
dalam batuan. Untuk perkembangan topografi karst yang baik
diperlukan kurang lebih 90% kalsit dalam batuan tersebut, tetapi bila
kandungan mineral kalsit lebih dari 95% (batugamping murni, misal
kalk) maka batuan tersebut tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk
pembentukan topografi karst. Topografi karst yang dapat terbentuk pada
kalk hanya lembah kering, lubang pelarutan (solution pits) dari lubang-
lubang yang dangkal (swallows holes) atau bentuk minor yang terdapat
dipermukaan lainnya. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa dolomit
mempunyai pelarutan dan kekuatan (strength) yang lebih kecil
dibanding kalsit (batugamping), sehingga perkembangan topografi kars
pada dolomit lebih jelek dibandingkan dengan perkembangan karst
pada batugamping. Topografi karst yang dapat berkembang pada
dolomit adalah surupan kecil, depresi yang dangkal dan beberapa
depresi dengan lantai dasar dan dinding yang terjal.

Batuan yang mengandung CaCO3 tinggi akan mudah larut.


Semakin tinggi kandungan CaCO3, semakin berkembang bentuklahan
karst. Kekompakan batuan menentukan kestabilan morfologi karst
setelah mengalami pelarutan. Apabila batuanlunak, maka setiap
kenampakan karst yang terbentuk seperti karen dan bukit akan cepat
hilang karena proses pelarutan itu sendiri maupun proses erosi dan
gerak masa batuan, sehingga kenampakan karst tidak dapat berkembang
baik. Ketebalan menentukan terbentuknya sikulasi air secara vertikal
lebih. Tanpa adanya lapisan yang tebal, sirkulasi air secara vertikal yang
merupakan syarat karstifikasi dapat berlangsung. Tanpa adanya
sirkulasi vertikal, proses yang terjadi adalah aliran lateral seperti pada
sungai-sungai permukaan dan cekungan-cekungan tertutup tidak dapat
terbentuk. Rekahan batuan merupakan jalan masuknya air membentuk
drainase vertikal dan berkembangnya sungai bawah tanah serta
pelarutan yang terkonsentrasi.
Batuan mudah larut (dalam hal ini batugamping) yang baik
untuk perkembangan topografi karst harus tebal. Batugamping tersebut
dapat masif atau terdiri dari beberapa lapisan yang membentuk satu unit
batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst
sebelum batuan tersebut habis terlarutkan dan tererosi. Batugamping
yang berlapis (meskipun membentuk satu unit yang tebal), tidak sebaik
batugamping yang massif dan tebal dalam pembentukan topografi karst
ini. Hal ini dikarenakan material sukar larut dan lempung yang
terkonsentrasi pada bidang perlapisan akan mengurangi kebebasan
sirkulasi air untuk menembus seluruh lapisan. Sebaliknya pada
batugamping yang massif, sirkulasi air akan berjalan lancar sehingga
mempermudah terjadinya proses karstifikasi.

Curah hujan merupakan media pelarut utama dalam proses


karstifikasi. Semakin besar curah hujan, semakin besar media pelarut,
sehingga tingkat pelarutan yang terjadi di batuan karbonat juga semakin
besar.

Porositas dan Permeabilitas berpengaruh terhadap sirkulasi air


dalam batuan. Porositas primer ditentukan oleh tekstur batuan dan
berkurang oleh proses sementasi, rekristaslisasi dan penggantian
mineral (missal dolomitisasi) sehingga porositas primer tidak begitu
berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Sebaliknya dengan porositas
sekunder yang biasanya terbentuk oleh adanya retakan atau pelarutan
dalam batuan. Porositas (baik primer maupun sekunder) biasanya
mempengaruhi permeabilitas yaitu kemampuan batuan batuan untuk
melalukan air. Disamping itu permeabilitas juga dipengaruhi oleh
adanya kekar yang saling berhubungan dalam batuan. Semakin besar
permeabilitas suatu batuan maka sirkulasi air akan berjalan semakin
lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif.

Intersitas struktur terutama kekar sangat berpengaruh terhadap


proses karstifikasi. Disamping kekar dapat mempertinggi permeabilitas
batuan, zona kekar merupakan zona yang lemah yang mudah
mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam
batuan proses pelarutan dan erosi berjalan intensif. Kekar biasanya
terbentuk dengan pola tertentu dan berpasangan (kekar gerus), tiap
pasang membentuk sudut antara 70 sampai 90 dan mereka saling
berhubungan. Hal inilah yang menyebabkan kekar dapat mempertinggi
porositas dan permeabilitas sekaligus sebagai zona lemah yang
menyebabakan proses pelarutan dan erosi berjalan lebih intensif.
Apabila intensitas pengkekaran sangat tinggi maka batuan menjadi
mudah hancur atau tidak memiliki kekauatan yang cukup. Disamping
itu permeabilitas mejadi sangat tingi sehingga waktu sentuh batuan dan
air sangat cepat. Hal ini menghambat proses karstifikasi. Adanya
kontrol struktur dalam pembentukan topografi karst ini diberikan
contoh pada pembentukan gua.

Ketinggian batugamping terekspos dipermukaan menentukan


sirkulasi/drainase secara vertikal. Walaupun batu gamping mempunyai
lapisan tebal tetapi hanya terekspos beberapa meter di atas muka laut,
karstifikasi tidak akan terjadi. Drainase vertikal akan terjadi apabila
julat/jarak antara permukaan batugamping dengan muka air tanah atau
batuan dasar dari batugamping semakin besar. Semakin tinggi
permukaan batugamping terekspose, semakin besar julat antara
permukaan batugamping dengan muka air tanah dan semakin baik
sirkulasi air secara vertikal, serta semakin intensif proses karstifikasi.

Temperatur mendorong proses karstifikasi terutama dalam


kaitannya dengan aktivitas organisme. Daerah dengan temperatur
hangatseperti di daerah tropis merupakan tempat yang ideal bagi
perkembangan organisme yang selanjutnya menghasilkan CO2 dalam
tanah yang melimpah. Temperatur juga menetukan evaporasi, semakin
tinggi temperatur semakin besar evaporasi yang pada akhirnya akan
menyebabkan rekristalisasi larutan karbonat di permukaan dan dekat
permukaan tanah. Adanya rekristalisasi ini akan membuat pengerasan
permukaan (case hardening) sehingga bentuk lahan karst yang telah
terbentuk dapat dipertahankan dari proses denudasi yang lain (erosi dan
gerak masa batuan). Kecepatan reaksi sebenarnya lebih besar di daerah
temperatur rendah, karena konsentrasi CO2 lebih besar pada temperatur
rendah. Namun demikian tingkat pelarutan di daerah tropis lebih tinggi
karena ketersediaan air hujan yang melimpah dan aktivitas organisme
yang lebih besar.

Penutupan hutan yang lebat akan mempunyai kandungan CO2


dalam tanah yang melimpah akibat dari hasil perombakan sisa-sisa
organik (dahan, ranting, daun, bangkai binatang) oleh mikro organisme.
Semakin besar konsentrasi CO2 dalam air semakin tinggi tingkat daya
larut air terhadap batugamping. CO2 di atmosfer tidaklah bervariasi
secara signifikan, sehingga variasi proses karstifikasi sangat ditentukan
oleh CO2 dari aktivitas organisme.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka dapat disimpulkan


syarat-syarat terbentuknya karst adalah sebagai berikut:

1. Tebal lapisan batugamping >200 m, agar memungkinkan


terbentuknyabentuklahan karst yang sempurna.

2. Harus terdapat batuan mudah larut (batugamping) di permukaan


atausedikit di bawah permukaan.

3. Batuan tersebut kompak, banyak memiliki rekahan-rekahan


danberlapis tipis.

4. Terdapatnya lembah-lembah utama pada ketinggian lebih rendah


daribatuan ini.

5. Memiliki iklim basah dan hangat, agar memungkinkan terjadinya


prosespelarutan dan pembentukan karst.

6. Harus terdapat curah hujan (minimal sedang).


7. Adanya proses tektonik (pengangkatan) yang perlahan dan merata
dikawasan batugamping.

C. Dampak dan Bentuk Lahan Proses Solusional

Dampak dari adanya proses solusional maka akan banyak ditemui


patahan dan lipatan. kawasan karst yang sudah dikenal di dunia adalah di
sebelah timur laut Adriatic. Di kawasan ini, batua-batunya mengalami patahan
dan retakan yang hebat. Tahap pertama hanya terjadi batu kapur. Walaupun
begitu, adanya aliran air di permukaan tanah adalah hal yang sudah biasa.
Kadang juga ditemukan lekukan-lekukan yang mempunyai sisi yang curam
yang berasak dari proses gerak bumi. Dan di tengah-tengahnya ada retakan
yang biasa disebutpoljes. Bentuk-bentuk ini adalah bentukan kawasan karst
yang sudah biasa ditemui di kawasan karst yang sudah mengalami perubahan
seperti yang ada di Kentucky. Aliran air di kawasan ini diketahui mengikuti
zona-zona patahan dan lipatan.

Dampak dari adanya proses solusional atau daerah karst adalah


munculnya bentuk lahan positif, bentuk lahan negatif, dan bentuk lahan
deposisional.

1. Bentuk lahan positif

Pada prinsipnya ada 2 macam bentuklahan karst yang positif yaitu


kygelkarst dan turmkarst.

a. Kygelkarst
Kygelkarst merupakan satu bentuklahan karst tropic yang didirikan oleh
sejumlah bukit berbentuk kerucut, yang kadang-kadang dipisahkan oleh
cockpit. Cockpit-cockpit inisialing berhubungan satu sama lain dan
terjadi pada suatu garis yang mengikuti pola kekar.
Diambil dari : ( https://allaboutgeo.wordpress.com/2013/10/26/betukan-
lahan-landform/).

b. Turmkarst
Turmkarst merupakan istilah yang berpadanan dengan menara karst,
mogotewill, pepinohill atau pinnacle karst. Turmkarst merupakan
bentuka positif yang merupakan sisa proses solusional. Menara karst/
tumkarst terdiri atas perbukitan belerang curam atau vertical yang
menjulang tersendiri diantara dataran alluvial.

Diambil dari : (https://www.posterlounge.de/turmkarst-landschaft-am-


wanfenglin-pr189357.html)
2. Bentuk lahan negatif

Bentuklahan negatif dimaksudkan bentuklahan yang berada


dibawah rata-rata permukaan setempat sebagai akibat proses pelarutan,
runtuhan maupun terban. Bentuklahan-bentuklahan tersebut antara lain
terdiri atas doline, uvala, polye, cockpit, blind valley.

a. Doline
Doline merupakan bentuklahan yang paling banyak dijumpai di
kawasan karst. Bahkan di daerah beriklim sedang, karstifikasinya selalu
diawali dengan terbentuknya doline tunggal akibat dari proses pelarutan
yang terkonsentrasi. Tempat konsentrasi pelarutan merupakan tempat
konsentrasi kekar, tempat konsentrasi mineral yang paling mudah larut,
perpotongan kekar, dan bidang perlapisan batuan miring. Doline-doline
tungal akan berkembang lebih luas dan akhirnya dapat saling menyatu.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa karstifikasi (khususnya di daerah
iklim sedang) merupakan proses pembentukan doline dan goa-goa
bawah tanah, sedangkan bukit-bukit karst merupakan bentukan
sisa/residual dari perkembangan doline.Menurut Monroe (1970) doline
adalah suatu ledokan atau lubang yang berbentuk corong pada
batugamping dengan diameter dari beberapa meter hingga 1 km dan
kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter. Karena
bentuknya cekung, doline sering terisi oleh air hujan, sehingga menjadi
suatu genangan yang disebut danau doline.
Diambil dari : (http://www.wikiwand.com/it/Dolina_Pozzatina)

b. Uvala
Uvala adalah cekungan tertutup yang luas yang terbentuk oleh
gabungan dari beberapa danau doline. Uvala memiliki dasar yang tak
teratur yang mencerminkan ketinggian sebelumnya dan karakteristik
dari lereng doline yang telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya
tidak serata polje (Whittow, 1984)

Diambil dari : (http://uvala-strunac.com/gallery.html)


c. Polje
Polje adalah ledokan tertutup yang luas dan memanjang yang terbentuk
akibat runtuhnya dari beberapa goa, dan biasanya dasarnya tertutup oleh
alluvium.

Diambil dari :
(https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Polje_Argon_Field.jpg).
d. Blind Valley
Blind Valley adalah satu lembah yang mendadak berakhir/ buntu dan
sungai yang terdapat pada lembah tersebut menjadi lenyap dibawah
tanah.

Diambil dari:
(http://minnesotaseasons.com/Destinations/Cherry_Grove_Blind_Valley_S
NA.html).

3. Bentuk lahan deposisional


Bentuk lahan deposisional merupakan bentukan lahan dari hasil
pengendapan material yang terlarut oleh air. Pengendapan ini juga bisa
terjadi akibat pengkristalan material yang terlarut akibat pelarutan yang
hilang.
a. Stalaktit
Merupakan betukan akibat proses solusional berupa batu kapur runcing
yang menggatung pada langit langit goa. Hal ini terjadi akibat
pengkristalan terjadi sebelum air yang mengandung material batuan
yang terlarut jauh dari langit-langit goa menuju lantai goa.
Diambil dari
(https://commons.wikimedia.org/wiki/File:WonderCaves_Stalagmites.JPG
)

b. Stalagmit
Merupakan betukan akibat proses solusional berupa batu kapur runcing
yang menghadap keatas pada lantai goa. Hal ini bisa terjadi karena
pengendapan terjadi setelah air turun ke lantai goa.

Diambil dari : (http://razya4greatlife.blogspot.co.id/2013/12/foto-foto-


menakjubkan-keindahan-didalam.html)

D. Klasifikasi Karst
Klasifikassi karst secara umum telah dikategorikan menjadi tiga kelompok, antara
lain :
1. Klasifikasi Cvijic

A. Holokarst, merupakan karst dengan perkembangan sempurna, baik dari


sudut pandang bentuk lahannya maupun hidrologi bawah permukaannya.
Terjadi bila perkembangan karst secara horizontal dan vertical tidak
terbatas,batuan karbonat masif dan murni dengan kekar vertikal yang
menerus dari permukaan hingga batuan dasarnya, serta tidak terdapat
batuan impermeable yang berarti. Di Indonesia karst tipe ini jarang
ditemukan karena besarnya curah hujan menyebabkan sebagian besar karst
terkontrol oleh proses fluvial.

B. Merokarst, merupakan karst dengan perkembangan tidak sempurna atau


parsial dengan hanya mempunyai sebagian ciri bentuk lahan karst.
Merokarst berkembang di batugamping yang relatif tipis dan tidak murni,
serta khususnya nila batugamping diselingi oleh lapisan batuan napalan.
Perkembangan secara vertical tidak sedalam perkembangan holokarst
dengan evolusi relief yang cepat. Erosi lebih dominan dibandingkan
pelarutan dan sungai permukaan berkembang. Merokarst pada umunya
tertutup oleh tanah, tidak ditemukan dolin, goa, swllow hole berkembang
hanya setempat-setempat. Sistem hidrologi tidak kompleks, alur sungai
permukaan dan bawah permukaan dapat dengan mudah diidentifikasi.
Drainase bawah tanah terhambat oleh lapisan impermeable. Contoh karst
tipe ini yang terdapat di indonesia adalah karst disekitar Rengel Kabupaten
Tuban.

C. Karst Transisi, berkembang di batuan karbunat relatif tebal yang


memungkinkan perkembangan karst bawah tanah, akan tetapi batuan dasar
yang impermeable tidak sedalam di holokarst, sehingga evolusi karst lebih
cepat. Lembah fluvial lebih banya dijumpai dan polje hamper tidak
ditemukan. Contoh karst transisi di Indonesia adalah Karst Gunung Sewu
(Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan), Karst Karangbolong (Gombong),
dan Karst Maros (Sulsel).
2. Klasifikasi Gvozdeckij (1965)

A. Bare karst, lebih kurang sama dengan karst Dinaric (holokarst)

B. Covered karst, merupakan karst yang terbentuk apabila batuan karbonat


tertutup alluvium, material fluvio-glasial, atau batuan lain seperti batupasir.

C. Soddy karst / soil covered karst, merupakan karst yang berkembang di batu
gamping yang tertutup oleh tanah atai terarossa yang berasal dari pelarutan
batugamping.

D. Burried karst, merupakan karst yang telah tertutup oleh batuan lain,
sehingga bukti karst hanya dapat dikenali melalui data bor.

E. Tropical karst of cone karst, merupakan karst yang terbentuk di daerah


tropis.

F. Permaforst karst, merupakan karst yang terbentuk di daerah bersalju.

3. Klasifikasi Sweeting

A. True karst, merupakan karst dengan perkembangan sempurna. Karst yang


sebenarnya harus meupakan karst dolin yang disebabkan oleh pelarutan
karst secara vertical. Semua kast yang bukan tipe karst dolin dikatakan
sebagai deviant. Contohnya adalah karst Dinaric.

B. Fluvio karst, dibentuk oleh kombinasi proses fluvial dan proses pelarutan.
Fluvio karst pada umumnya terjadi pada daerah batugamping yang dilalui
oleh sungai alogenik (sungai berhilir di daerah non karst). Sebaran batu
gamping baik secara vertical maupun lateral jauh lebih kecil dari pada true
karst. Permukaan batugamping pada umumnya tertutup oleh tanah yang
terbentuk oleh proses erosi dan sedimentasi proses fluvial. Singkapan
batugamping ditemukan bila telah terjadi erosi yang terjadi karena
penggundulan hutan. Lembah sungai permukaan dan ngarai banyak
ditemukan. Bentukan hasil dari proses masuknya sungai permukaan ke
bawah tanah dan keluarnya kembali sungai bawah ke permukaan merupakan
fenomena yang banyak dijumpai (lembah buta dan lembah saku).

C. Glasiokarst, merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi yang


didominasi oleh proses glasiasi dan pross glacial di daerah batugamping.
Terdapat di daerah berbatugamping yang pernah ,mengalami proses glasiasi.
Dicirikan oleh kenampakan hasil penggogosan, erosi, dan sedimentasi
glacier. Hasil erosi glacier pada umumnya membentuk limstoe pavement.
Erosi lebih intensif terjadi disekitar kekar menghasilkan cekungan dengan
lereng terjal memisahkan pavement satu dengan yang lainnya. Dolin
terbentuk terutama oleh hujan salju. Contohnya karst di lereng atas
pegunungan alpen.

D. Nival karst, merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi oleh hujan
salju pada lingkunagn glacial dan periglasial.

E. Tropical karst, merupakan karst yang terbentuk pada daerah tropis. Tropical
karst secara umum dibedakan menjadi kegelkarst dan turmkarst. Kegelkarst
dicirikan oleh kumpulan bukit-bukit berbentuk kerucut yang sambung
menyambung. Sela antar bukit kerucut membentuk cekungan dengan bentuk
seperti bintang yang dikenal dengan cockpit. Cockpit sering membentuk
pola kelurusan sebagai akibat control kekar atau sesar. Contoh di Indonesia
adalah Karst Gunung sewu dan Karst Karanagbolong.

F. Turmkarst, dicirikan dengan bukit-bukit dengan lereng terjal, biasanya


ditemukan dalam kelompok yang dipisahkan satu sama lain dengan sungai
atau dataran alluvial. Beberapa ahli beranggapan bahwa turmkarst
merupakan bentukan lebih lanjut dari kegelkarst karena kondisi hidrologi
tertentu. Distribusi sebaran bukit dan menara pada umumnya dikontrol oleh
kekar atau sesar dengan ukuran yang bervariasi. Kontak dari menara dengan
dataran alluvium merupakan tempat pemunculan mata air dan
perkembangan gua.
4. Tipe karst yang lain

A. Labyrint karst, karst yang dicirikan oleh koridor-koridor memanjang yang


terkontrol oleh adanya kekar atau sesar. Morfologi karst tersusun oleh blok-
blok batugamping yang dipisahkan satu sama lain oleh koridor karst.
Terbentuk karena pelarutan yang jaul lebih intensif di jalur sesar dan
patahan. Contoh di Indonesia adalah di Papua dan sebagian Gunungsewu.

B. Karst polygonal, merupakan penamaan yang didasarjan dari sudut pandang


morfometri dolin. Dapat berupa kerucut karst maupun menara karst. Karst
dikatakan poligonal apabila semua batuan karbonat telah berubah menjadi
kumpulan dolin-dolin dan dolin telah bersambung dengan lainnya.

C. Karst fosil, merupakan karst yang terbentuk pada masa geologi lampau dan
saat ini proses karstifikasinya sudah berhenti. Tipe ini dapat dibedakan
menjadi dua. Pertama, bentuk lahan tinggalan (relict landform) yaitu karst
yang dibentuk pada waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi batuan
lainnya. Kedua, bentuk lahan tergali (exhumed landform) yaitu karst yang
dibentuk pada waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi batuan non
karbonat yang selanjutnya muncul ke permukaan karena batuan ataonya
telah tersingkap oleh proses denudasi

DAFTAR PUSTAKA

Haryono, Eko dan Tjahyo Nugroho Adji. 2004. Bahan Ajar Geomorfologi dan
Hidrologi Karst. Yogyakarta : Fakultas Geografi Universitas Gajah
Mada.
Endarto, Danang. 2007. Geomorfologi Umum. UNS Press: Solo.

Prodjosumarto, Partanto dan Budi Wijaya. 2011. Morfologi Karst. Program


Studi Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung.

MAKALAH GEOMORFOLOGI DASAR


BENTUK LAHAN SOLUSIONAL

Dosen Pengampu:
Drs. Sudarno Herlambang, M.Si

Disusun Oleh:

Aathif Haidar El Adl (160722614646)


Aldi Osama Fahlevi (160722614673)
Diorahma Indra M. (160722614626)
Fitri Nur Azizah (160722614639)
Hanri Bawafi (130722607348)
Ilham Diki Pratama (160722614644)

Offering/Thn :Offering: G/2016

PROGRAM STUDI GEOGRAFI

JURUSAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2016