Anda di halaman 1dari 5

PROGRAM KERJA

PENANGGULANGAN HIV/AIDS
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LANGSA

A. PENDAHULUAN

Penyebaran virus HIV/AIDS di Aceh semakin mengkhawatirkan. Seperti tidak


mengenal batasan umur, virus mematikan ini menyasar berbagai lapisan masyarakat dan
strata sosial. Mulai anak-anak, remaja, mahasiswa, lelaki dan perempuan dewasa, sampai
ibu rumah tangga masuk dalam daftar panjang para penderita.

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Provinsi Aceh menyebutkan, sampai


September 2014 tercatat ada 297 kasus HIV/AIDS di Aceh, tersebar di 23
kabupaten/kota. Sebanyak 97 penderita di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Aceh mencatat kasus HIV AIDS di Tahun 2015
mengalami penurunan jika dibandingkan pada tahun 2014. KPA mencatat ada 58 kasus
HIV AIDS di Aceh tahun 2015, rinciannya 18 penderita HIV dan 40 penderita AIDS.
Angka itu mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2014 yang jumlahnya
mencapai 83 kasus, Total penderita HIV AIDS di Aceh selama 2014 hingga 1 Desember
2015 mencapai 141 kasus. Paling banyak terjadi di Banda Aceh 20 kasus, Aceh Utara 16
kasus, Aceh Tamiang 13 kasus, Bireuen 11 kasus dan Aceh Besar 10 kasus.

Masalah HIV bukan lagi masalah kesehatan semata akan tetapi telah menjadi
masalah social yang sangat kompleks. Upaya pencegahan dan penanggulangannya
memerlukan pendekatan dan diselenggarakan oleh berbagai pihak. Pemerintah berperan
sebagai pemimmpin upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS baik di pusat
maupun di daerah. Menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanngulangan
HIV/AIDS ini, mengharuskannya adanya koordinasi yang baik sejak perencanaan sampai
evaluasinya. Memperhatikan kecendrungan epedemi HIV/AIDS dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya, upaya pencegahan dan penanggulangan di Indonesia akan memakan
waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS harus dapat dijamin kesinambungannya sangat ditentukan oleh komitmen
politik, kepemimpinan yang kuat dan tersedianya dana yang terus menerus, perawatan,
sarana dan prasarana yang digunakan. Manajemen secara terarah dan terorganisir, guna
kelancaran tugas dan optimalisasi kerja dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan
rumah sakit terutama setiap unit pelayanan maka diperlukan suatu program kerja atau
kerangka acuan program kerja penanggung jawab program. Dimana suatu kegiatan yang
terprogram, terinci dan bersrategi dalam setiap kegiatan yang dipimpin dapat mencapai
tujuan umum dan khusus sesuai dengan program kerja tersebut.

1
B. LATAR BELAKANG
Rumah Sakit merupakan salah satu sarana untuk memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat yang memiliki peran srategis dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat sebagai tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang
optimal, oleh karena itu rumah sakit dituntun untuk memberikan pelayanan yang bermutu
sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan memberikan pelayanan VCT, ART,
PMTCT, IO, ODHA dengan factor resiko IDU dan penunjang di Rumah Sakit.
Tenaga yang profesioanal mempunyai kedudukan yang penting dalam
menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan. Memberikan pelayan berdasarkan
pendekatan bio-psikososial-spiritual merupakan pelayanan yang dilaksanakan secara
berkala dan berkesinambungan. Kinerja merupakan implementasi dari rencana yang telah
disususn, implementasi kinerja dilakukan dan dilaksanakan oleh sumber daya manusia
yang memiliki kemampuan, kompetensi, motivasi dan pentingan. Penurunan kinerja
pelaksana akan mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan.
Didalam organisasi Rumah sakit pengelola program adalah pimpinan yang
langsung membawahi pelaksana, yang merupakan suatu unsur proses dalam manajemen
Rumah Sakit. Pimpinan program sebagai manajerial harus dapat menjamin mutu
pelayanan yang diberikan oleh pelaksana dalam memberikan pelayanan dan
mementingkan kenyamanan pasien. Kemampuan manajerial yang harus dimiliki oleh
pimpinan program antara lain : perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan
pelaksanaan, pengawasan serta pengendalian dan evaluasi. Dari beberapa fungsi beberapa
fungsi manajerial pimpinan program yang harus dijalankan adalah bagaimana melakukan
suatu perencanaan yang dituangkan ke dalam program kerja pimpinan program dalam
usaha meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan dalam pencapaian target program.
C. TUJUAN
Tujuan Umum :
Tercapainya usaha pencegahan dan mengurangi resiko penularan HIV dan AIDS,
meningkatkan kualitas hidup ODHA, dengan memberikan pelayanan VCT, ART, IO,
PMTCT, dengan faktor risko IDU.
Tujuan Khusus :
1. Memberikan konseling dan testing secara rahasia
2. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium
3. Menyediakan dan melaksanakan pelayanan perawatan dan dukungan dan
pengobatan, IO, PMTCT, kepada ODHA
4. Membuat pencatatan dan pelaporan
5. Mengevaluasi program

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


a. Kegiatan Pokok
1. Menyusun program kerja tahunan
2. Mengadakan pertemuan
3. Mengusulkan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan SDM
4. Menyusun dan merencanakan kebutuhan tenaga sarana dan prasarana

2
5. Mengawasi dan mengevaluasi kegiatan dalam usaha penaggulangan HIV/AIDS.
b. Rincian Kegiatan
1. Menyusun program kerja
a) Membuat anggaran dan pembiayaan
b) Membuat laporan setiap bulan
c) Membuat jadwal kegiatan konselor
2. Mengadakan pertemuan rutin triwulan
a) Mengadakan rapat bersama Tim guna membahas masalah yang ada terkait
dengan pelaksanaan tugas
b) Melakukan pencatatan, pelaporan, evaluasi, analisa serta tindak lanjut dari
masalah yang ditemukan.
3. Mengusulkan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan SDM
a) Membuat rekapitulasi tenaga berdasarkan teknis pelatihan yang pernah
diikuti serta tahun terakhir mengikuti
b) Membuat daftar pengajuan calon-calon nama yang akan mengikuti
pendidikan atau pelatihan berdasarkan tugas masing-masing.
4. Menyusun dan merencanakan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana
a) Membuat kebutuhan tenaga tiap tahun
b) Membuat kebutuhan sarana dan prasarana setiap tahun
5. Mengawasi dan mengevaluasi kegiatan dalam usaha pencegahan dan
penganggulangan HIV/AIDS
a) Mengontrol dan melihat secara langsung pelaksanaan kegiatan tugas
masing-masing Tim tiap 6 bulan
b) Mengadakan evaluasi program
E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
1. Membuat TIM penanggulangan HIV/AIDS
2. Rapat TIM
Menyusun kegiatan yang direncanakan
Melaksanakan kegiatan dan evaluasi
3. Melakukan audit

F. SASARAN
1. Menyusun program kerja 100% pencatatan dan pelaporan pada bulan Desember 2016
2. Mengadakan pertemuan rutin triwulan 75% pencatatan dan pelaporan pada bulan
Desember 2016
3. Mengusulkan pendidikan dan pelatihan untuk SDM 50% pencatatan dan pelaporan
pada bulan Desember 2016
4. Mengusulkan dan merencanakan kebutuhan sarana dan prasarana 100% pencatatan
dan pelaporan bulan Desember 2016
G. SKEDUL (JADWAL) PELAKSANAAN KEGIATAN
JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

N JENIS KEGIATAN 2016


O 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 1
0 2
1 Melaksanakan dan menerapkan standar

pelayanan penanggulangan HIV/AIDS


Konsolidasi Organisasi :
Penyusunan rencana RS untuk

3
melaksanakan program penanggulangan

HIV/AIDS
MOU rujukan dengan rumah sakit
perujuk
2 Mengembangkan kebijakan dan SPO sesuai
dengan standar
Pelayanan VCT
Pelayanan perawatan dan pengobatan ART
Pelayanan PMTCT
3 Memberikan pendidikan kesehatan tentang

HIV
4 Pertemuan dengan klien HIV (+) kelompok

dukungan setiap 3 bulan sekali


5 Melakukan pertemuan dengan petugas

puskesmas yang memegang program HIV


4 Peningkatan mutu SDM dengan pelatihan
5 Pengusulan sarana dan prasarana
6 Rapat TIM

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


Pembuatan evaluasi kegiatan penyelenggaraan penanggulangan HIV/AIDS dilakukan
setiap tahun.
I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN
1. Laporan setiap pelaksanaan kegiatan dilakukan setiap bulannya ke Dinas Provinsi dan
Daerah.
2. Laporan hasil evaluasi kegiatan dilakukan diakhir bulan

Langsa, Januari 2016


Direktur RSUD Langsa

dto.

dr. HERMAN I
NIP. 19630923 200003 1
001

4
5