Anda di halaman 1dari 99

DESAIN DAN KONSTRUKSI GRID PATTERNATOR UNTUK

PENGUJIAN KINERJA PENYEMPROTAN SPRAYER

NGUDI AJI JAKA YUWANA

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Desain dan Konstruksi
Grid Patternator untuk Pengujian Kinerja Penyemprotan Sprayer adalah benar
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2014

Ngudi Aji Jaka Yuwana


NIM F14090089
ABSTRAK
NGUDI AJI JAKA YUWANA. Desain dan Konstruksi Grid Patternator untuk
Pengujian Kinerja Penyemprotan Sprayer. Dibimbing oleh TINEKE MANDANG
dan I DEWA MADE SUBRATA

Kinerja sprayer sangat ditentukan oleh jenis nosel dan kesesuaian ukuran
droplet yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu. Penambahan jumlah
dan ketinggian nosel pada sprayer gendong bermotor adalah untuk meningkatkan
luas penyemprotan sehingga mempercepat waktu kerja. Informasi mengenai
distribusi cairan semprot atau pola penyemprotan yang terbentuk dari hasil
penyemprotan suatu nosel sangat dibutuhkan pengguna untuk menentukan dengan
tepat jenis nosel yang akan digunakan dalam penyemprotan. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengembangkan metode uji kinerja penyemprotan sprayer
untuk mengetahui distribusi cairan dan pola penyemprotan dengan metode grid.
Pengujian dengan grid patternator menunjukkan bahwa peningkatan tekanan dari
3, 5, 7 dan 9 bar menyebabkan ketidakseragaman pola dan distribusi cairan
penyemprotan pada nosel flat dan solid cone. Distribusi penyemprotan pada
tekanan 5 bar lebih seragam dibandingkan dengan tekanan 3, 7 dan 9 bar.

Kata kunci : patternator, grid, nosel, sprayer,

ABSTRACT

NGUDI AJI JAKA YUWANA. Design and Construction of Grid Patternator to


Verify The Performance of Sprayer. Supervised by TINEKE MANDANG and I
DEWA MADE SUBRATA.
.
The performance of a sprayer is determined by the type of a nozzle and the
appropriate of the droplets size within a certain time unit. The addition number
and height of nozzles on the knapsack power sprayer increase spraying area thus
speeding up work time. The Information of the spray liquid distribution or the
spraying patterns that formed from the spray nozzle is needed by the user to
determine the exact type of nozzle to be used in spraying. The purpose of this
research is to develop the method that determines the performance of spraying
liquid distribution and spraying pattern with a grid method. Testing with grid
patternator indicates that the increased pressure of 3, 5, 7 and 9 bar causes the
distribution pattern varies for both flat and cone nozzles. The distribution of
spraying at 5 bar pressure is more uniform than the 3, 7 and 9 bar pressure.

Keywords: patternator, grid, nozzle, sprayer


DESAIN DAN KONSTRUKSI GRID PATTERNATOR UNTUK
PENGUJIAN KINERJA PENYEMPROTAN SPRAYER

NGUDI AJI JAKA YUWANA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknologi Pertanian
pada
Departemen Teknik Mesin dan Biosistem

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Judul Skripsi : Desain dan Konstruksi Grid Patternator untuk Pengujian Kinerja
Penyemprotan Sprayer
Nama : Ngudi Aji Jaka Yuwana
NIM : F14090089

Disetujui oleh

Prof Dr Ir Tineke Mandang, MS Dr Ir I Dewa Made Subrata, MAgr


Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Desrial, MEng
Ketua Departemen

Tanggal Lulus :
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa taala atas
segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan, dengan judul Desain
dan Konstruksi Grid Patternator untuk Pengujian Kinerja Penyemprotan Sprayer.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Prof Dr Ir Tineke Mandang, MS
dan Bapak Dr Ir I Dewa Made Subrata, MAgr selaku pembimbing, serta Bapak Dr
Ir Gatot Pramuhadi, MSi yang telah membantu dalam mendesain dan
pengumpulan data untuk pengembangan metode uji sprayer. Di samping itu,
ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, kakak dan keluarga besar
al ihya serta teman-teman TEP 46, atas segala doa dan dukungannya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2014

Ngudi Aji Jaka Yuwana


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 3
Penyemprotan 3
Sprayer 4
Butiran Semprot (Droplet) 5
Pengujian Kinerja Sprayer 8
METODE PENELITIAN 11
Waktu dan Tempat 11
Bahan dan Alat 11
Metode Penelitian 11
Prosedur Penelitian 14
HASIL DAN PEMBAHASAN 15
Modifikasi Alat dan Metode Uji Kinerja Penyemprotan Sprayer 15
Evaluasi Alat dan Metode Pengujian Grid Patternator 16
Usulan Konsep Sistem Kontrol Otomatis Grid Patternator 32
SIMPULAN DAN SARAN 36
Simpulan 36
Saran 36
DAFTAR PUSTAKA 37
LAMPIRAN 38
RIWAYAT HIDUP 81
DAFTAR TABEL
1 Klasifikasi volume aplikasi untuk tanaman 3
2 Pengaruh tekanan dan ketinggian terhadap lebar efektif penyemprotan
pada nosel tipe flat 29
3 Pengaruh tekanan dan ketinggian terhadap lebar efektif penyemprotan
pada nosel tipe cone 30

DAFTAR GAMBAR
1 Penyemprot tipe gendong 5
2 ASABE S-572.1 klasifikasi ukuran droplet 6
3 Semprotan nosel tipe Flat 7
4 Semprotan nosel tipe Flooding 7
5 Semprotan nosel tipe Even Spray 7
6 Semprotan nosel tipe Hollow Cone 8
7 Peralatan uji penyemprotan 9
8 Sudut penyemprotan 10
9 Ilustrasi pengukuran debit knapsack power sprayer 12
10 Grafik pola penyemprotan sebelum ada tumpang tindih 12
11 Grafik pola penyemprotan setelah ada tumpang tindih 13
12 Pengujian dengan patternator konvensional 13
13 Pengujian dengan grid patternator 1
14 Diagram skematik kegiatan penelitian 14
15 Grid pada patternator hasil modifikasi 16
16 Tabung penampung cairan hasil penyemprotan 16
17 Aliran pada tangki 17
18 Grafik debit cairan tipe nosel flat 17
19 Grafik debit cairan tipe nosel cone 17
20 Grafik volume cairan 8 nosel flat 18
21 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat 19
22 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel cone 20
23 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel cone dengan patternator
konvensional pada ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b) 22
24 Distribusi penyemprotan 1 nosel cone dengan grid patternator pada
ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b) 22
25 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat dengan patternator
konvesional pada ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b) 23
26 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat dengan grid patternator
pada ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b) 23
27 Grafik pengaruh ketinggian dan tekanan terhadap luas penyemprotan
pada nosel cone (a) dan flat (b) 24
28 Grafik sebaran cairan 1 nosel cone ketinggian 40 cm 25
29 Grafik sebaran cairan 1 nosel cone ketinggian 60 cm 25
30 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel cone (a) dan 2 nosel cone (b)
dengan patternator konvensional 26
31 Distribusi cairan 1 nosel cone (a) dan 2 nosel cone (b) pada tekanan 7
bar dan ketinggian 40 cm dengan grid patternator 27
32 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat (a) dan 2 nosel flat (b)
dengan patternator konvensional 27
33 Distribusi cairan 1 nosel flat (a) dan 2 nosel flat (b) pada tekanan 7 bar
dan ketinggian 40 cm dengan grid patternator 28
34 Grafik tumpang tindih pada penyemprotan 1 nosel cone 29
35 Grafik pengaruh jumlah nosel dan tekanan terhadap lebar efektif
penyemprotan pada nosel flat 30
36 Pola penyemprotan knapsack power sprayer dengan 8 nosel tipe flat
pada ketinggian 40 cm 31
37 Pola penyemprotan knapsack power sprayer dengan 8 nosel tipe flat
pada ketinggian 60 cm 31
38 Pemetaan overlapping penyemprotan 4 nosel cone pada tekanan 3 bar
dan ketinggian 40 cm 32
39 Sistem pengukuran otomatis grid patternator 33
40 Diagram blok sistem kontrol 33
41 Sensor load cell 33
42 LCD character 16 x 2 34
43 Grid patternator dengan sistem pengukuran otomatis 35

DAFTAR LAMPIRAN
1 Alat uji penyemprotan (patternator) 39
2 Data debit power sprayer TASCO TF 820 dengan 1 nosel 40
3 Data debit power sprayer TASCO TF 820 dengan 2 nosel 41
4 Data debit power sprayer TASCO TF 820 dengan 8 nosel 42
5 Hasil pengujian penyemprotan sprayer 43
6 Data pola distribusi cairan dengan patternator konvensional 44
7 Data lebar efektif penyemprotan pada 1 nosel tipe cone 51
8 Data lebar efektif penyemprotan pada 1 nosel tipe flat 59
9 Data lebar efektif penyemprotan knapsack power sprayer dengan 8
nosel flat 63
10 Data pola distribusi cairan dengan grid patternator 68
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pencapaian produksi pertanian tidak terlepas dari gangguan sistem produksi di


lapangan. Perlindungan tanaman dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaman
tidak identik dengan penggunaan pestisida, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa
pertanian di Indonesia sangat bergantung dengan penggunaan pestisida. Ada beberapa
macam aplikasi dalam penggunaan pestisida, tetapi yang paling umum digunakan
adalah dengan cara penyemprotan karena relatif lebih mudah. Penyemprotan bertujuan
untuk melindungi tanaman dari jasad pengganggu dalam batas-batas yang
menguntungkan petani (Daywin 1992). Pengaplikasian pestisida biasanya
menggunakan alat yang dikenal dengan spayer. Pengertian sprayer dapat didefinisikan
dari fungsi utamanya, yaitu untuk memecah cairan atau larutan menjadi butiran-butiran
dengan ukuran efektif dan mendistribusikannya secara merata pada permukaan yang
dilindungi. (Bronson dan Anderson 1990).
Pada umumnya penyemprotan dilakukan di dua tempat yaitu di dalam ruangan
(greenhouse) dan di luar ruangan (lahan). Penyemprotan di dalam greenhouse
dilakukan secara statis (static spraying) sedangkan penyemprotan di lahan secara
dinamis (dynamic spraying). Pada proses penyemprotan dibutuhkan informasi
mengenai unjuk kinerja alat semprot (sprayer) agar penyemprotan lebih efektif dan
efisien saat dilakukan di dalam atau di luar ruangan. Terdapat beberapa metode
pengujian untuk mengukur kinerja sebuah sprayer, diantaranya adalah pengukuran
diameter dan volume penyemprotan, pengukuran jumlah dan diameter butiran semprot
serta penghitungan keseragaman hasil penyemprotan. Pengukuran parameter yang
disebut di atas dilakukan dengan menggunakan alat uji kinerja penyemprotan sprayer
(patternator).
Pola penyemprotan dan besarnya dimensi butiran semprot yang dihasilkan suatu
alat penyemprot dipengaruhi oleh nosel yang digunakan. Terdapat beberapa jenis nosel
untuk penyemprotan dalam berbagai kondisi penyemprotan. Setiap jenis nosel akan
menghasilkan pola penyemprotan dan distribusi cairan yang berbeda. Pengujian dengan
patternator tidak dapat menentukan pola yang terbentuk dari hasil penyemprotan
dengan tipe nosel yang berbeda. Hasil pengujian hanya menunjukkan distribusi
penyebaran dari arah lateral sedangkan arah longitudinal tidak diketahui. Besar
jangkauan semprot atau nilai diameter mayor dan minor dari jenis nosel yang
membentuk pola lingkaran, lingkaran penuh dan kerucut berongga, seperti nosel tipe
cone, solid cone, atau hollow cone tidak dapat diukur. Nosel tipe flat yang memiliki
pola seperti kipas dapat diketahui pola penyemprotannya dengan patternator karena
penyebaran cairan ke arah longitudinal kecil sehingga hanya dilakukan pengukuran
arah lateral.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada
patternator dalam pengujian kinerja penyemprotan sprayer yaitu dengan
menambahkan grid (pembagi luasan) pada rancangan patternator. Penambahan grid
pada bidang semprot bertujuan untuk mengetahui distribusi cairan pada setiap area
penyemprotan tertentu dan menentukan pola penyemprotan yang terbentuk dari hasil
penyemprotan dengan berbagai jenis nosel. Grid patternator dapat digunakan untuk
menentukan jangkauan semprot dengan mengukur nilai diameter mayor dan minor saat
dilakukan penyemprotan. Pemasangan posisi nosel pada saat pengujian dengan grid
patternator tidak berpengaruh pada hasil pengukuran jangkauan semprot dan penentuan
2

pola penyemprotan karena patternator dapat mengukur distribusi cairan pada semua
bagian bidang semprot, termasuk dari arah lateral maupun longitudinal.

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah merancang alat dan metode pengujian kinerja
penyemprotan sprayer (grid patternator) serta melakukan uji kinerja penyemprotan
untuk mengetahui distribusi cairan dan pola penyemprotan dengan tipe nosel yang
berbeda.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Penyemprotan

Tujuan dari kegiatan penyemprotan adalah untuk melindungi tanaman dari jasad
pengganggu dalam batas-batas yang menguntungkan petani (Daywin 1992). Sedangkan
tujuan umum dari penyemprotan adalah untuk memberantas hama dan penyakit
tanaman, memberantas tanaman pengganggu (gulma), menyemprotkan pupuk, dan
menyemprotkan cairan hormon dengan fungsi tertentu misalnya untuk mempercepat
berbuah.
Suatu sistem penyemprotan yang efisien dapat ditentukan setelah mempelajari
faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Beberapa faktor terpenting
diantaranya adalah karakteristik dari jasad pengganggu tanaman, karakteristik tanaman,
luas areal pertanaman, dan kondisi fisik lapangan. Secara umum, jasad pengganggu
tanaman yang dapat diberantas dengan cara penyemprotan dapat digolongkan pada
insekta (serangga), cendawan dan tanaman pengganggu (gulma). Insekta dapat
diberantas dengan menggunakan insektisida. Cendawan dapat diberantas dengan
menggunakan fungisida. Sedangkan gulma dapat diberantas dengan menggunakan
herbisida.
Penyemprotan dengan menggunakan insektisida efektif bila dilakukan dengan
penyemprot bertekanan sedang dan tinggi, agar butiran semprot yang dihasilkan
berukuran halus dan dapat melayang di udara dengan waktu yang relatif lama.
Penyemprotan menggunakan fungisida untuk memberantas cendawan cukup
menggunakan penyemprot bertekanan rendah pada penyemprotan jarak dekat agar
diperoleh ukuran partikel yang cukup besar sehingga dapat menempel pada tanaman.
Penggunaan herbisida untuk memberantas tanaman pengganggu cukup dengan
menggunakan penyemprot bertekanan rendah (Daywin 1992).
Menurut Teoh (1985), volume aplikasi yang digunakan dalam penyemprotan
tergantung pada jenis pestisida yang digunakan, banyaknya hama atau penyakit
tanaman yang akan diberantas, penggunaan alat, dan lain-lain. Pada masa lampau,
volume sedang dan tinggi digunakan pada pengendalian gulma secara umum. Akan
tetapi sebuah survey pada tahun 1979 menunjukkan bahwa larutan herbisida yang biasa
diaplikasikan kira-kira 450 liter/hektar (Teoh 1985) dan hal tersebut menunjukkan
bahwa aplikasi penyemprotan yang digunakan adalah aplikasi volume rendah (Tabel 1).

Tabel 1 Klasifikasi volume aplikasi untuk tanaman


Klasifikasi volume aplikasi Kapasitas (liter/ha)
Tinggi > 1000
Sedang 500 1000
Rendah 200 500
Sangat rendah 50 200
Amat sangat rendah < 50

Sehubungan dengan itu, maka dibuatlah alat penyemprotan yang biasa disebut sprayer
dan blower yang telah ditemukan oleh para penemunya dan kemudian dikembangkan
secara mutakhir oleh para pakar masa kini serta telah disesuaikan dengan berbagai
keperluan disertai dengan berbagai kemudahan dalam cara pengoperasiannya, sehingga
para petani di pedesaan manapun dapat menggunakan alat-alat pemberantas hama
tersebut dengan baik (Mulyani M 1989).
4

Sprayer

Sprayer pertama kali dikembangkan dan digunakan untuk pemberian fungisida


dalam pengendalian penyakit tanaman anggur di sekitar Bordeaux, Prancis. Sprayer
tangan untuk memberantas serangga dikembangkan antara tahun 1850-1860 oleh John
Bean dari California, D. B Smith dari New York dan Brandt bersaudara dari Minnesota.
Sprayer dengan tenaga bensin dikembangkan sekitar tahun 1900. Penyemprot yang
dipasang pada traktor belum dikembangkan sampai beberapa tahun setelah
diperkenalkan traktor untuk tanaman larikan pada tahun 1925. Palang penyemprot
dipasang pada pesawat udara pertama kali pada awal tahun 1940-an.

Fungsi Sprayer
Menurut Bronson dan Anderson (1990), fungsi utama dari sprayer adalah
memecah cairan menjadi tetes-tetes dengan ukuran yang efektif untuk didistribusikan
secara merata di atas permukaan atau ruang yang harus dilindungi. Fungsi lain dari
sprayer adalah mengatur banyaknya insektisida untuk menghindarkan pemberian yang
berlebihan yang terbukti bersifat merusak atau merupakan pemborosan. Tujuan utama
dari penyemprotan obat anti hama dengan menggunakan sprayer adalah untuk
melindungi tanaman dari jasad pengganggu dalam batas-batas yang menguntungkan
petani (Daywin et al. 1992).

Klasifikasi Sprayer
Tenaga yang digunakan untuk menggerakkan pompa pada sprayer bisa berasal
dari tenaga manusia sebagai operator, motor bakar bensin, ataupun putaran dari PTO
suatu traktor. Menurut Smith (1990), sprayer dibedakan menjadi dua kelompok
berdasarkan tenaga penggeraknya, yaitu:
1. Sprayer dengan penggerak tangan (hand operated Sprayer), yang terdiri atas:
1) Hand Sprayer, yaitu sprayer yang berukuran kecil dan khusus untuk keperluan di
lapangan rumah, taman dan penyemprotan ringan lainnya.
2) Sprayer otomatis, yaitu Sprayer dengan tekanan tinggi dimana tekanan diberikan
atau dibentuk melalui pemompaan sebelum penyemprotan dilakukan. Sprayer ini
disebut juga comprassed air sprayer dengan tekanan dalam tangki sekitar 140
200 psi atau 10 14 kg/cm2
3) Sprayer semi otomatis, yaitu sprayer yang bentuk fisiknya menyerupai sprayer
otomatis tetapi tidak memerlukan tekanan tinggi. Pembentukan tekanan melalui
pemompaan yang diberikan sebelum dan selama penyemprotan berlangsung.
4) Jenis-jenis lainnya seperti bucket sprayer, barrel prayer, cheel barrow sprayer,
slide pump sprayer. Pada tipe-tipe ini tangki dan pompa tidak tersusun dalam satu
unit, melainkan saling terpisah.
2. Sprayer bermotor (power sprayer), menggunakan sumber tenaga penggerak dari
motor bakar atau motor listrik atau PTO traktor. Ada beberapa tipe dari power
sprayer yaitu: hydraulic sprayer, hydraulic-pneumatic sprayer, blower sprayer dan
aerosol generator.
Menurut Barus (2003) sprayer dibagi menjadi tiga jenis yaitu hand atau
knapsack sprayer, motor sprayer dan CDA sprayer. Controlled Droplet Application
(CDA) sprayer merupakan sprayer yang tidak menggunakan tekanan udara untuk
menyebarkan larutan herbisida ke arah gulma sasaran, melainkan berdasarkan gaya
gravitasi dan putaran piringan. Putaran piring digerakkan oleh dinamo dengan sumber
tenaga baterai 12 volt. Putaran piringan sekitar 2000 rpm dan butiran yang keluar
berbentuk seragam dengan ukuran 250 mikron. Ukuran butiran 250 mikron merupakan
ukuran butiran yang optimal untuk membasahi permukaan gulma dan meresap ke
dalam jaringan gulma.
5

Hand sprayer atau alat semprot punggung merupakan sprayer yang paling
banyak digunakan di perkebunan. Prinsip kerjanya, larutan dikeluarkan dari tangki
akibat adanya tekanan udara melalui tenaga pompa yang dihasilkan oleh gerakan
tangan penyemprot, pada waktu gagang pompa digerakkan, larutan keluar dari tangki
menuju tabung udara sehingga tekanan di dalam tabung meningkat. Keadaan ini
menyebabkan larutan herbisida dipaksa keluar melalui klep dan selanjutnya diarahkan
oleh nosel ke gulma sasaran. Pada penggunaan hand sprayer, tekanan udara yang
dihasilkan harus diusahakan agar tetap konstan, tekanan pompa yang tidak konstan
mengakibatkan butiran-butiran herbisida tidak seragam dari waktu ke waktu. Dari
seluruh butiran yang dihasilkan, sekitar 80% berukuran 100 mikron. Hal ini
menyebabkan terjadinya drift karena butiran yang kecil dan halus mudah terbawa oleh
hembusan angin.
Menurut Hardjosentono et al. (2000) ada dua jenis alat penyemprot
tangan/penyemprot gendong (hand sprayer) yang lebih dikenal di Indonesia yaitu
penyemprot semi otomatis (lihat Gambar 1a) dan penyemprot otomatis (lihat Gambar
1b). Perbedaan kedua penyemprot tersebut terletak pada sistem pemompaan.
Penyemprot semi otomatis menggunakan tipe pompa cairan (pompa isap), dalam
pengoperasiannya pemompaan tambahan diperlukan terus-menerus selama pekerjaan
penyemprotan berlangsung agar diperoleh kondisi semprotan yang konstan.
Penyemprot otomatis menggunakan tipe pompa angin, dalam pengoperasiannya
memerlukan sejumlah pemompaan untuk memasukkan angin (udara) sehingga terdapat
cukup tekanan udara untuk menyemprotkan habis seluruh cairan yang ada di dalam
tangki, tanpa pemompaan ulang.

tuas pompa
tuas pompa

tabung
vakum pipa
sabuk gendong
sabuk gendong

silinder pompa katup


pengatur air

(a) (b)
Gambar 1 Penyemprot tipe gendong (Hardjosentono 2000);
(a) Tipe semi otomatis (b) Tipe otomatis

Butiran Semprot (Droplet)

Butiran Semprot (droplet) yang dihasilkan oleh suatu alat penyemprot (sprayer)
memiliki jumlah yang sangat banyak dengan ukuran diameter kurang dari 0.5 mm
(Matthews GA 1992). Ukuran diameter droplet dipengaruhi oleh bentuk nosel, jarak
semprot, tekanan operasi, sifat bahan penyemprot, dan keadaaan udara luar. Nosel
dapat dijumpai dengan bermacam-macam jenis dan kegunaannya sesuai dengan bentuk
atau pola penyemprotan yang diinginkan. Jarak semprot yang dekat akan memberikan
hasil penyemprotan yang lebih seragam dengan tetes yang lebih halus. Tekanan operasi
memberikan pengaruh yang besar terhadap ukuran diameter butiran, yaitu semakin
6

besar tekanan operasi maka ukuran diameter butiran akan semakin halus dengan sudut
semprot yang lebar.
Besarnya ukuran diameter droplet yang terjadi pada penyemprotan merupakan
suatu paramenter penting dalam efisiensi dan efektifitas semprotan. Ukuran droplet
biasa dinyatakan dengan parameter VMD (Volume Median Diameter) dan NMD
(Number Median Diameter) yang dinyatakan dalam satuan mikro meter (m). VMD
adalah diameter semprot dimana setengah bagian dari volume semprotan memiliki
ukuran butiran yang lebih besar dan setengah bagian lain lebih kecil dari diameter
tersebut. NMD adalah diameter butiran semprot dimana setengah bagian dari jumlah
butiran semprot memiliki ukuran butiran yang lebih besar dan setengah bagian lain
lebih kecil dari diameter tersebut.
The American Society of Agricultural and Biological Engineers (ASABE)
memiliki standar kategori tersendiri terhadap nilai VMD yang dihasilkan dari suatu
penyemprotan. Kategori ini diberi nilai sangat baik (very fine) hingga sangat kasar
sekali (extra coarse) seperti pada Gambar 10. Fungsi dari standar ini adalah
memudahkan pemakai dalam menentukan jenis nosel yang diinginkan dengan warna
sebagai pembedanya.

Gambar 2 ASABE S-572.1 klasifikasi ukuran droplet (Wilson 2011)

Nosel penyemprot merupakan komponen terpenting yang berfungsi untuk


memecah cairan semprotan menjadi tetes-tetes dengan ukuran yang diinginkan dan
memancarkannya ke permukaan yang harus disemprot (Smith dan Wilkes 1990).
Besarnya dimensi butiran semprot yang dihasilkan suatu alat penyemprot dipengaruhi
oleh nosel yang digunakan. Satu nosel tidak mungkin mampu memenuhi seluruh
persyaratan berbagai kondisi penyemprotan, maka dibuatlah beberapa tipe nosel
berdasarkan tugas-tugas penyemprotan tertentu. Berdasarkan buku petunjuk yang
dikeluarkan oleh Ciba Geigy Plant Protection, nosel dibagi menjadi empat tipe.

Flat Spray Nozzles


Hasil semprotan dengan menggunakan nosel tipe ini akan berpola kipas dengan
ukuran butiran medium (Gambar 3). Nosel tipe ini dapat digunakan sebagai pemancar
cairan yang diaplikasikan pada boom sprayer yang digandengkan pada traktor. Hasil
semprotannya cukup seragam dan meliputi seluruh lebar semprotan karena pola
semprotannya yang berupa kipas datar sehingga taraf penutupannya sangat baik. Nosel
tipe ini dianjurkan terutama untuk penyemprotan bahan herbisida. Selain itu, nosel tipe
kipas ini dapat digunakan untuk menyemprotkan bahan insektisida atau fungisida.
7

Gambar 3 Semprotan nosel tipe Flat (Geigy C 1985)

Flooding Nozzles
Hasil semprotan dengan menggunakan nosel tipe ini berpola kipas dengan
butiran-butiran yang agak kasar (Gambar 4). Nosel tipe ini dapat digunakan untuk
penyemprotan bahan semprotan ke seluruh permukaan lahan. Biasanya digunakan pada
alat semprot yang digendong oleh operator (knapsack sprayer). Nosel ini dianjurkan
untuk menyemprotkan bahan herbisida.

Gambar 4 Semprotan nosel tipe Flooding (Geigy C 1985)

Even Spray Nozzles


Hasil semprotan dengan menggunakan nosel tipe ini akan menghasilkan pola
semprotan yang seragam di seluruh lebar semprotan dengan ukuran butiran medium
(Gambar 5). Digunakan untuk penyemprotan di antara barisan lahan yang dilindungi
saja, dan dianjurkan untuk penyemprotan herbisida.

Gambar 5 Semprotan nosel tipe Even Spray (Geigy C 1985)


8

Cone Nozzles
Tipe nosel ini bisa disebut dengan tipe kerucut berongga dan akan memberikan
hasil semprotan yang sangat baik (Gambar 6). Dapat digunakan untuk penyemprotan
secara keseluruhan dan juga untuk penyemprotan di atas barisan tanaman. Hasilnya
dapat diandalkan meliputi seluruh areal pertanaman yang hendak dilindungi.
Dianjurkan untuk penyemprotan bahan insektisida dan fungisida.

Gambar 6 Semprotan nosel tipe Cone (Geigy C 1985)

Menurut Smith dan Wilkes (1990), tipe semprotan yang dihasilkan suatu nosel
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tipe kerucut berongga (hollow cone), tipe kerucut
padat (solid cone), dan tipe kipas datar (flat fan). Dalam beberapa macam nosel
dipasang sebuah tapisan yang dapat dilepas dengan lubang-lubang yang sedikit lebih
kecil dari pada nosel untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Dalam pemilihan nosel,
terutama untuk jenis sprayer hidrolik yang harus diperhatikan adalah ukuran lubang
(orifice) pada ujung nosel, banyaknya nosel dalam hubungannya dengan volume
aplikasi, dan arah semprot dari nosel atau sudut penyemprotan.

Pengujian Kinerja Sprayer

Uji Penyemprotan
Uji penyemprotan dimaksudkan untuk menentukan besar sudut penyemprotan,
lebar penyemprotan efektif, dan tinggi penyemprotan efektif. Pada umumnya uji
penyemprotan sebuah sprayer menggunakan sebuah alat uji yang disebut patternator.
Patternator digunakan untuk mengalirkan butiran halus dari mulut nosel ke botol-botol
penampung. Selain itu dapat digunakan untuk mengukur besar sudut penyemprotan,
lebar penyemprotan efektif, dan tinggi penyemprotan efektif. Dalam Gambar 6a dapat
dilihat peralatan uji penyemprotan tersebut (patternator).
Prosedur uji penyemprotan menggunakan patternator berdasarkan pedoman
dari Badan Standar Nasional (SNI 02-4513.1-2008 tentang unjuk kerja dan metode uji
penyemprotan), adalah sebagai berikut :
1) Pipa penyemprot (lance) diposisikan di dalam peralatan uji penyemprotan
(patternator) sedemikian rupa sehingga butiran halus (droplets) yang keluar dari
mulut nosel dapat terdistribusi secara vertikal. Jarak vertikal nosel ke bidang
horisontal adalah 600 mm
2) Tangki sprayer diisi dengan air hingga paling tidak 75% dari volume nominalnya
3) Tuas pompa digerakkan dengan frekuensi maksimum 35 langkah/menit sedemikian
rupa sehingga tercapai tekanan semprot optimum sesuai petunjuk dalam buku
instruksi
4) Jika tidak ada informasi dalam buku instruksi maka penyemprotan dilakukan pada
tekanan (300 20) kPa atau (3 0.2) bar
9

5) Penyemprotan dilakukan dengan cara membuka katup penutup, dan ukur besar
sudut penyemprotan, (), menggunakan busur derajat, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 7a
6) Penyemprotan dilakukan kembali dengan cara membuka katup penutup dan volume
cairan yang tertampung pada setiap botol penampung diukur
7) Gambarkan grafik distribusi volume cairan, lalu tumpang-tindihkan grafik bagian
sisi kanan dan kiri
8) Volume cairan yang masuk dalam kurva tumpang-tindih dijumlahkan
9) Koefisien variasi (CV) dihitung dari data volume cairan tersebut
10) Lebar penyemprotan efektif, LPE (mm), diperoleh dari menghubungkan grafik-
grafik volume cairan yang mempunyai CV terkecil dari beberapa kali tumpang-
tindih
11) Tinggi penyemprotan efektif, TPE (mm) dihitung menggunakan persamaan 1,
seperti ditunjukkan dalam Gambar 7b.

(1)

rangka utama

pengatur ketinggian

nosel

bidang semprot

tabung penampung air

(a)
nosel

cairan semprot

(b)

Gambar 7 Peralatan uji penyemprotan (a), dan contoh pada saat penyemprotan (b)
(SNI 02-4513.1-2008)
10

(a) (b)

Gambar 8 Sudut penyemprotan (a) dan tinggi penyemprotan efektif (b)


(SNI 02-4513.1-2008)

Uji Debit Penyemprotan


Uji keluaran (output) sprayer dimaksudkan untuk mengukur besarnya laju
output (debit penyemprotan) pada tekanan semprot tertentu. Prosedur uji keluaran
sprayer berdasarkan BSN (SNI 02-4513.1-2008 tentang unjuk kerja dan metode uji
penyemprotan) adalah sebagai berikut :
1) Laju keluaran sprayer (debit penyemprotan) diukur untuk setiap tipe dan jumlah
nosel dengan kesalahan pengukuran maksimum 1% pada tekanan semprot optimum
atau pada tekanan semprot yang diatur (disetel) sesuai petunjuk dalam buku
instruksi
2) Jika tidak ada informasi dalam buku instruksi maka pengujian dilakukan pada
tekanan (300 20) kPa atau (3 0,2) bar
3) Besar debit penyemprotan (liter/menit) dicatat dan dihitung besar persentase
penyimpangannya (deviasi) dari nilai yang ditunjukkan sesuai spesifikasi dalam
buku instruksi, sebagaimana ditulis ke dalam persamaan (2).

.... (2)

Keterangan:
QM = debit penyemprotan terukur (liter/menit)
QS = debit penyemprotan sesuai spesifikasi (liter/menit)
11

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni 2013 sampai dengan November 2013 di
Laboratorium Lapangan Siswadhi Soepardjo dan Laboratorium Uji Proteksi Tanaman,
Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, Leuwikopo, Darmaga, Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah air yang diberi zat pewarna,
knapsack power sprayer merek TASCO TF 820 dan nosel tipe flat dan solid cone.
Dalam pengukuran debit dan lebar efektif (LPE) digunakan peralatan pengukur waktu
digital, timbangan, gelas ukur dan penggaris. Untuk mengetahui pola sebaran
semprotan dan lebar efektif penyemprotan (LPE) menggunakan patternator
konvensional ukuran 1.5 x 1.5 meter dan 4 x 1.5 meter serta grid patternator ukuran 2
x 2 meter.

Metode Penelitian

Perancangan
Pada tahap ini dilakukan perancangan alat uji dan metode uji kinerja
penyemprotan sprayer dengan menggunakan pembagi luasan (grid). Grid patternator
(hasil modifikasi) bertujuan untuk mengetahui distribusi cairan dan pola penyemprotan
pada luasan tertentu.

Perlakuan
Faktor utama dalam perlakuan yang diberikan dalam pengujian kinerja grid
patternator adalah faktor tekanan penyemprotan (P), ketinggian (T) dan jenis nosel (N).
Nilai masing-masing perlakuan adalah :
Untuk tekanan (P) digunakan empat taraf tekanan yang pembagiannya didasarkan pada
kemampuan maksimal sprayer dalam menghasilkan tekanan.
P1= 3 bar
P2= 5 bar
P3= 7 bar
P4= 9 bar
Untuk ketinggian (T) digunakan dua taraf ketinggian yang disesuaikan dengan tinggi
tanaman.
T1 = 40 cm
T2 = 60 cm
Untuk jenis nosel (N) digunakan dua jenis yaitu :
N1 = Flat fan spray nozzle
N2 = Solid cone nozzles
12

Evaluasi Metode Uji Kinerja Grid Patternator


Pengujian yang dilakukan pada alat uji penyemprotan grid patternator meliputi
pengujian pembagian luasan (grid) pada patternator dalam penentuan pola
penyemprotan dari setiap nosel dan distribusi cairan yang terjadi pada saat
penyemprotan. Selain itu untuk mengetahui keberhasilan alat, dilakukan pengujian
langsung menggunakan beberapa jenis nosel. Pengukuran parameter yang dicari sesuai
dengan prosedur penggunaan patternator yang telah ada sebelumnya, SNI 02-4513.1-
2008 tentang unjuk kerja dan metode uji penyemprotan (hal 8). Hasil pengukuran grid
patternator dibandingkan dengan patternator konvensional.
Debit penyemprotan. Tangki air diisi penuh hingga batas leher tutup tangki. Waktu
perhitungan dimulai ketika air mulai keluar dari nosel dan dihentikan ketika tidak ada
air yang keluar dari nosel. Tahap berikutnya dilakukan pembersihan sisa air pada tangki
dan selang nosel. Debit didapatkan dengan mengurangi jumlah air awal dengan sisa air
pada tangki kemudian dibagi dengan waktu (Gambar 9).

nosel
sprayer
penampung air

pengukur waktu

Gambar 9 Ilustrasi pengukuran debit knapsack power sprayer (Houny 1999)

Besar sudut, lebar dan tinggi efektif penyemprotan. Lebar penyemprotan diperoleh
dari banyaknya tempat penampung yang terisi oleh cairan. Sedangkan lebar kerja
efektif merupakan lebar kerja penyemprotan optimal yang menghasilkan sebaran
melintang volume per satuan luas yang paling seragam. Berdasarkan SNI 02-4513.1-
2008, lebar penyemprotan digambarkan dengan grafik yang diperoleh dari distribusi
volume cairan menggunakan kertas millimeter kemudian grafik digeser kiri dan kanan
(tumpang tindih) sehingga terjadi perpotongan antar grafik untuk memperoleh lebar
kerja efektif. Penentuan lebar kerja efektif tidak hanya didasarkan pada perkiraan
gambar, tetapi juga didasarkan pada hasil perhitungan besaran kuantitatif yang
dinamakan koefisien variasi (CV). Nilai CV dibandingkan untuk berbagai percobaan
lebar kerja dengan membuat daftar lebar kerja dan CV. Lebar kerja efektif dipilih dari
lebar kerja dengan CV yang minimum (paling merata) sehingga besar lebar efektif
didapatkan dari perkalian antara interval dari 2 titik perpotongan grafik murni dan
overlapping yang memiliki CV minimum dengan nilai lebar 1 interval.

Gambar 10 Grafik pola penyemprotan sebelum ada tumpang tindih (Elisa 2004)
13

Lebar efektif

Titik perpotongan 1 Titik perpotongan 2

Gambar 11 Grafik pola penyemprotan setelah ada tumpang tindih (Elisa 2004)

Besar sudut didapatkan dengan pengukuran menggunakan busur derajat saat


dilakukan penyemprotan sedangkan tinggi efektif penyemprotan didapatkan dengan
perhitungan menggunakan persamaan 1.

Pola distribusi cairan penyemprotan


a) Alat uji penyemprotan (patternator) konvensional
Pengukuran distribusi cairan penyemprotan dilakukan diatas plat
bergelombang yang ditampung dengan wadah plastik, seperti terlihat pada Gambar
12.
nosel

8 cm

plat bergelombang

tabung penampung

Gambar 12 Pengujian dengan patternator konvensional

b) Alat uji penyemprotan dengan pembagi luasan (grid patternator)


Metode pengukuran distribusi penyemprotan yang dilakukan grid
patternator adalah sama dengan patternator konvensional. Cairan yang tertampung
pada tempat penampung diukur dengan timbangan digital. Perbedaan terletak pada
jumlah tempat penampung pada patternator dengan pembagi luasan (grid) yang
lebih banyak dibandingkan patternator konvensional karena pada setiap satu grid
terdapat satu tempat penampung air. Hal ini bertujuan untuk mengetahui distribusi
cairan dan pola penyemprotan yang dihasilkan oleh sebuah nosel. Cairan yang
digunakan diberi zat pewarna agar memudahkan penentuan pola sebaran cairan
semprot secara visual. Pengujian tidak dilakukan dengan water sensitive paper
karena pengujian tidak bertujuan untuk mengetahui ukuran droplet dari nosel tetapi
mengukur jumlah droplet yang terkena pada bidang semprot.
14

nosel

grid ukuran 5 x 5 cm

Gambar 13 Pengujian dengan grid patternator

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dilakukan dalam empat tahap yaitu persiapan, perancangan,


pengujian dan analisis data.

Gambar 14 Diagram skematik kegiatan penelitian


15

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang didapatkan dari hasil pengujian akan dibahas dalam bab ini
diantaranya pengaruh tekanan pada penyemprotan, volume cairan yang dihasilkan,
distribusi cairan dan pola penyemprotan yang dihasilkan dari jenis nosel yang berbeda.

Modifikasi Alat dan Metode Uji Kinerja Penyemprotan Sprayer

Modifikasi yang dilakukan pada alat uji penyemprotan yang sudah ada
sebelumnya (patternator konvensional) didasarkan pada tujuan fungsional yang
diinginkan. Tujuan fungsional yang ingin dicapai adalah mengembangkan metode uji
kinerja penyemprotan sprayer untuk mengetahui distribusi cairan serta pola
penyemprotan yang dihasilkan sebuah nosel dengan hasil pengujian yang lebih akurat.
Secara umum modifikasi yang dilakukan terletak pada jumlah tempat penampung
cairan hasil penyemprotan pada patternator dengan pembagi luasan (grid) yang lebih
banyak dibandingkan patternator konvensional karena pada setiap satu grid terdapat
satu tempat penampung air

Rancangan Alat Uji Penyemprotan (Grid Patternator)


Grid patternator, desain alat yang dapat meningkatkan kinerja alat uji
penyemprotan (patternator) yang sudah ada sebelumnya sehingga didapatkan metode
pengujian penyemprotan sprayer yang dapat mengukur kinerja sprayer pada berbagai
kondisi penyemprotan dengan berbagai jenis nosel yang berbeda. Alat uji
penyemprotan grid patternator berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2 x 2 meter
yang terbuat dari plat datar dengan pembagi luasan (grid) ukuran 0.05 x 0.05 meter
sehingga di dalam patternator terdapat 1600 grid. Pada bagian bawah lubang grid
dipasang tempat penampung cairan berbentuk tabung berdiameter 0.04 meter dengan
volume 150 ml untuk menampung cairan hasil penyemprotan sprayer pada saat
pengujian. Grid patternator juga dilengkapi penyangga pada keempat sisinya yang
terbuat dari besi siku dengan ukuran panjang 1 meter dan pada bagian atas terdapat
tiang penyangga sebagai tempat nosel sprayer dan untuk mengatur ketinggian
penyemprotan sprayer pada saat pengujian sehingga diperoleh tinggi efektif dalam
penyemprotan
Metode pengujian dengan grid patternator adalah hampir sama dengan metode
patternator konvensional yang sesuai dengan SNI (hal 8). Dilakukan pengukuran
volume pada masing-masing tabung penampung cairan dengan menggunakan
timbangan digital. Nilai volume yang terbaca pada tiap tabung merupakan besar nilai
distribusi penyemprotan pada tiap grid sehingga pola distribusi atau penyebaran cairan
semprot dapat diketahui dengan mengeplotkan data hasil volume pada grafik. Besar
sudut efektif penyemprotan diperoleh dengan pengukuran menggunakan busur derajat
sedangkan lebar penyemprotan dihitung dari luasan tabung yang mampu menangkap
cairan semprot.
16

Gambar 15 Grid pada patternator hasil modifikasi

Gambar 16 Tabung penampung cairan hasil penyemprotan

Evaluasi Alat dan Metode Pengujian Kinerja Penyemprotan Sprayer

Debit Cairan
Pengambilan data ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tekanan yang
diberikan terhadap debit cairan yang dikeluarkan oleh sprayer. Dari hasil pengukuran
debit pada masing-masing perlakuan terlihat bahwa tekanan penyemprotan dan jumlah
nosel sangat berpengaruh terhadap debit keluaran dari sprayer. Peningkatan tekanan
dan jumlah nosel berbanding lurus dengan debit keluaran yang dihasilkan oleh sprayer.
Semakin besar tekanan dan jumlah nosel yang digunakan, maka debit yang dihasilkan
akan semakin besar. Prinsip hukum Bernoulli mengatakan bahwa jumlah dari tekanan
(P), energi kinetik persatuan volume (2), dan energi potensial per satuan volume
(gh) memiliki nilai yang sama pada setiap titik sepanjang suatu garis arus (Chengel et
al. 1998).

P1 + 1/2..v12 + .g.h1 = P2 + 1/2..v22 + .g.h2 (3)

Prinsip Bernoulli menjelaskan tentang konsep dasar aliran fluida bahwa


peningkatan kecepatan pada suatu aliran zat cair atau gas, akan mengakibatkan
penurunan tekanan pada zat cair atau gas tersebut. Artinya, akan terdapat penurunan
energi potensial pada aliran fluida tersebut. Konsep dasar ini berlaku pada fluida aliran
termampatkan (compressible flow), juga pada fluida dengan aliran tak termampatkan
(incompressible flow). Suatu fluida dikatakan mempunyai peningkatan kecepatan, jika
fluida tersebut mengalir dari suatu bagian dengan tekanan tinggi menuju bagian lainnya
yang bertekanan rendah. Sedangkan suatu fluida dikatakan mempunyai penurunan
17

kecepatan, jika fluida tersebut mengalir dari suatu bagian bertekanan rendah, menuju
bagian lain bertekanan tinggi.

Keterangan :
1. outlet 1
2. outlet 2
3. tekanan outlet 1 (P1)
4. tekanan outlet 2 (P2)

Gambar 17 Aliran pada tangki

Pada kasus aliran air yang keluar dari tangki, debit air dipengaruhi oleh tekanan
(pers 3). Misalkan v1 = 0, P1 = P2 = tekanan udara luar dan h2 = 0 m. Dari persamaan
Bernouli didapatkan :
.g.h1 = 1/2..v22
v2 = (2.g.h1)1/2
Diketahui bahwa .g.h adalah tekanan hidrostatik cairan. Debit dinyatakan sebagai
volume per satuan waktu (Q = v.A). Dengan demikian debit air dipengaruhi oleh
tekanan dan kedalaman air. Peningkatan tekanan menyebabkan peningkatan debit
cairan.

Gambar 18 Grafik debit cairan tipe nosel flat

Gambar 19 Grafik debit cairan tipe nosel cone


18

Gambar 18 dan 19 menunjukkan debit yang dihasilkan nosel tipe flat lebih besar
dibandingkan tipe cone. Debit terbesar dan terkecil pada nosel tipe flat dan cone
diperoleh dari perlakuan dengan parameter yang sama yaitu pada tekanan sebesar 9 bar
dengan 8 buah nosel untuk debit terbesar sedangkan debit terkecil diperoleh dari
pemberian tekanan sebesar 3 bar dengan menggunakan 1 buah nosel. Nilai debit
terbesar pada nosel tipe flat adalah 0.126 liter/detik sedangkan tipe cone adalah 0.061
liter/detik. Untuk debit terkecil pada nosel tipe flat adalah 0.021 liter/detik dan tipe
cone adalah 0.007 liter/detik.
Pada tekanan yang sama, penambahan jumlah nosel akan meningkatkan debit
cairan yang dikeluarkan sprayer saat penyemprotan. Penambahan nosel dari 1, 2 dan 8
nosel menyebabkan peningkatan debit cairan. Akan tetapi besar peningkatan debit tidak
sesuai dengan kelipatan jumlah nosel. Pada tekanan 3 bar, nosel cone dengan 1 nosel
memiliki debit sebesar 0.007 liter/detik, 0.012 liter/detik untuk 2 nosel dan 0.029
liter/detik untuk 8 nosel. Hasil yang sama juga ditunjukkan nosel flat, 1 nosel memiliki
debit sebesar 0.021 liter/detik, 0.040 liter/detik untuk 2 nosel dan 0.077 liter/detik untuk
8 nosel. Hal ini dikarenakan semakin panjang pipa batang nosel dan adanya
percabangan yang menyebabkan terjadinya headloss pada saat penyemprotan. Dari hasil
pengujian penyemprotan dengan lebih dari 1 nosel juga menunjukkan bahwa volume
cairan yang keluar dari setiap nosel memiliki nilai yang hampir sama (Gambar 20).
Penyemprotan dengan 8 nosel flat pada tekanan 3 bar, volume yang keluar dari 1 nosel
hampir sama dan memiliki nilai rata-rata sebesar 102.7 ml. Pada kejadian ini berlaku
prinsip hukum Pascal yang menyatakan bahwa tekanan yang diberikan zat cair di dalam
ruang tertutup diteruskan oleh zat cair itu ke segala arah dengan sama besar. Tekanan
yang sama besar dan melewati penampang (pipa) dengan diameter yang sama
menyebabkan laju aliran yang mengalir sama besar sehingga volume cairan yang keluar
pada setiap nosel memiliki nilai yang hampir sama.

Nomor wadah

Gambar 20 Grafik volume cairan 8 nosel flat pada tekanan 3 Bar

Pola Distribusi Penyemprotan


Pengukuran pola distribusi cairan knapsack power sprayer TASCO TF 820
menggunakan dua jenis patternator yaitu patternator konvensional dan grid
patternator. Nilai sebaran penyemprotan memiliki keterkaitan yang erat terhadap debit
yang dikeluarkan dari sprayer dengan jenis nosel yang berbeda. Nilai sebaran atau pola
distribusi cairan sangat berpengaruh pada aplikasi penyemprotan dalam penentuan jenis
nosel yang akan digunakan untuk penyemprotan. Pengukuran distribusi cairan dan pola
penyemprotan dilakukan dengan mengambil metode yang dijelaskan pada SNI (hal 8).
Pengujian menggunakan patternator konvensional menghasilkan pola penyemprotan
yang menunjukkan lebar (jangkauan) penyemprotan dari sisi kiri-kanan pusat
19

penyemprotan (arah lateral), sedangkan grid patternator menunjukkan jangkauan


penyemprotan dari sisi kiri-kanan (arah lateral) dan depan-belakang pusat
penyemprotan (arah longitudinal).
Hasil pengujian pola distribusi penyemprotan dengan variasi tipe, ketinggian
dan jumlah nosel dapat dilihat pada gambar grafik di bawah. Penomoran tabung
penampung cairan dilakukan dengan angka positif dan negatif. Angka nol sebagai posisi
tengah berdiri atau posisi tengah nosel di atas patternator. Angka positif menunjukan
areal penyemprotan nosel sebelah kanan dan negatif menunjukan nosel sebelah kiri.

Pola distribusi penyemprotan dengan variasi tipe nosel. Variasi tipe nosel sangat
berpengaruh terhadap distribusi penyemprotan cairan. Berdasarkan hasil pengukuran,
terlihat perbedaan yang sangat jelas pada distribusi cairan hasil penyemprotan dengan
menggunakan nosel tipe cone dan flat dengan lama penyemprotan yang sama. Nosel
tipe flat menghasilkan volume cairan yang lebih besar dibanding tipe cone.

(a)

(b)
Gambar 21 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat pada tekanan 3 Bar dengan
patternator konvensional (a) dan grid patternator (b)
20

Nomor wadah
(a)

Nomor wadah
Nomor wadah

(b)
Gambar 22 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel cone pada tekanan 3 Bar dengan
patternator konvensional (a) dan grid patternator (b)

Grafik pada Gambar 21 dan 22 merupakan hasil pengujian pola distribusi cairan
nosel cone dan nosel flat menggunakan patternator konvensional (a) dan grid
patternator (b) dengan tiga kali pengulangan. Pengujian dengan patternator
konvensional dan grid patternator menghasilkan volume cairan rata-rata yang berbeda.
Volume pada pengujian grid patternator lebih besar dibandingkan patternator
konvensional. Nilai volume cairan yang didapatkan dari patternator konvensional pada
tekanan 3 Bar adalah sebesar 344.4 ml untuk nosel cone dan 1305 ml untuk nosel flat
sedangkan volume cairan yang dihasilkan dengan grid patternator adalah sebesar 365
ml untuk nosel cone dan 1329 ml untuk nosel flat. Perbedaan terjadi karena cairan
penyemprotan pada pengujian dengan patternator konvesional tidak semuanya
tertampung pada wadah penampung. Pada saat penyemprotan, cairan terkena bidang
21

semprot yang berupa plat bergelombang dan sebagian cairan memantul sehingga keluar
dari bidang semprot.
Pengujian dengan patternator konvensional hanya menunjukkan distribusi
cairan dalam 2 sisi sehingga pola penyemprotan yang terbentuk dari sebuah nosel tidak
diketahui. Hal ini berbeda dengan pengujian menggunakan patternator hasil modifikasi
dengan penambahan jumlah grid pada bagian penampung cairan hasil penyemprotan.
Pengujian dengan grid patternator dapat menunjukkan bahwa nosel tipe cone memiliki
pola penyemprotan berbentuk lingkaran penuh sedangkan nosel tipe flat memiliki pola
penyemprotan berbentuk persegi panjang dengan bagian ujung yang meruncing.
Berdasarkan grafik juga dapat diketahui bahwa distribusi cairan tidak sama dalam setiap
grid.
Ketidakseragaman pola dan distribusi cairan penyemprotan nosel tipe flat dan
cone pada setiap grid atau titik tertentu pada area penyemprotan dapat dilihat pada
lampiran 10. Perubahan tekanan sangat berpengaruh terhadap keseragaman distribusi
cairan penyemprotan. Peningkatan tekanan dari 3, 5, 7 dan 9 bar menyebabkan
distribusi penyemprotan kurang seragam pada nosel flat dan cone. Tekanan akan
berpengaruh pada ukuran butiran cairan untuk suatu nosel yang sama. Semakin besar
tekanan, proses penumbukan cairan pada waktu akan keluar dari nosel makin besar.
Selisih kecepatan antara udara yang meniup dengan cairan di dalam tangki juga menjadi
semakin besar, sehingga lembaran cairan yang terbawa semakin tipis, tumbukannya
semakin besar dan butiran cairan yang dihasilkan semakin kecil. Hal ini yang
mempengaruhi bentuk penyebaran dan kemampuan melekatnya butiran pada bagian
tanaman. Keseragaman butiran cairan semprot ditentukan dari perbandingan nilai VMD
(Volume Median Diameter) dan NMD (Number Median Diameter) yang didapatkan
dengan pengujian menggunakan water sensitive paper. Pengujian menggunakan grid
patternator hanya dapat mengetahui keseragaman distribusi cairan penyemprotan pada
setiap luasan tertentu (grid) dengan menghitung volume dari jumlah cairan semprot
yang tertampung pada penampung di setiap grid. Berdasar hasil pengujian menunjukkan
bahwa tekanan yang lebih rendah akan menghasilkan distribusi cairan semprot yang
lebih seragam. Distribusi penyemprotan pada tekanan 3 dan 5 bar lebih seragam
dibanding dengan tekanan 7 dan 9 bar. Hasil ini berbeda dengan literatur yang
seharusnya pada tekanan tinggi akan menghasilkan distribusi cairan yang lebih seragam
karena ukuran butiran semprot yang dihasilkan lebih kecil. Perbedaan disebabkan
tekanan yang diberikan engine tidak stabil. Tekanan yang tidak stabil juga
menyebabkan pola kerucut padat atau lingkaran penuh yang terbentuk dari nosel cone
distribusi cairannya tidak seragam. Volume cairan bervariasi mulai dari 1 ml sampai 16
ml.
Pada tipe nosel yang sama, diameter atau lubang nosel juga berpengaruh
terhadap keseragaman distribusi cairan. Semakin lebar, maka penyebaran ukuran
butirannya semakin tidak seragam dan mempunyai ukuran butiran yang menjadi lebih
besar. Karena penyebaran ukurannya menjadi lebih besar, maka penyebaran butiran
menjadi kurang merata. Hal ini disebabkan karena pada waktu butiran keluar dari nosel
akan mengalami hambatan yang sebanding dengan ukuran butiran cairan, viskositas
udara dan kecepatan awal butiran tersebut.

Pola distribusi penyemprotan dengan variasi ketinggian nosel. Faktor lain yang
berpengaruh terhadap pola distribusi penyemprotan adalah ketinggian semprot.
Ketinggian semprot merupakan jarak antara titik pusat semprot dengan bidang semprot.
Gambar 23, 24, 25 dan 26 menunjukkan hasil pengujian dengan patternator
konvensional dan grid patternator pada ketinggian yang berbeda yaitu 40 cm dan 60
cm. Grid yang bertanda merah adalah titik yang sejajar dengan nosel. Angka yang
22

terdapat di dalam grid menunjukkan besarnya volume cairan yang terdapat dalam grid
tersebut yang dinyatakan dalam satuan mililiter (ml). Pewarnaan grid didasarkan pada
kesamaan nilai volume yang didapatkan dari pengujian yang bertujuan untuk
memudahkan penentuan pola sebaran cairan semprot secara visual. Sebaran nilai
volume akan menunjukkan keseragaman distribusi cairan saat penyemprotan.

Nomor wadah Nomor wadah


(a) (b)
Gambar 23 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel cone dengan patternator
konvensional pada tekanan 5 Bar dan ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b)

(a) (b)
Gambar 24 Distribusi cairan (dalam ml) 1 nosel cone dengan grid patternator pada
tekanan 5 Bar dan ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b)
23

Nomor wadah Nomor wadah


(a) (b)
Gambar 25 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat dengan patternator
konvensional pada tekanan 5 bar dan ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b)

(a) (b)

Gambar 26 Distribusi penyemprotan (dalam ml) 1 nosel flat dengan grid patternator
pada tekanan 5 bar dan ketinggian 40 cm (a) dan 60 cm (b)

Berdasarkan grafik hasil pengujian dengan patternator konvensional dapat


diketahui bahwa penyemprotan dengan nosel tipe flat yang dilakukan dengan ketinggian
penyemprotan yang besar akan menghasilkan jangkauan penyemprotan yang lebih luas
tetapi mengalami penurunan volume cairan semprot pada area titik tengah. Sedangkan
pada nosel tipe cone tidak terjadi perbedaan yang besar pada area penyemprotan.
24

Distribusi cairan dengan perlakuan penambahan ketinggian dari 40 cm menjadi 60 cm


menyebabkan peningkatan jangkauan penyemprotan sebesar 1 interval atau dari 120 cm
menjadi 128 cm. Volume cairan pada area di titik tengah juga memiliki nilai yang
hampir sama. Hal ini karena butiran semprot yang dihasilkan nosel cone berukuran
kecil atau lebih halus dibandingkan nosel flat sehingga distribusi cairan lebih merata.
Pada pengujian dengan grid patternator, perubahan ketinggian dari 40 cm
menjadi 60 cm meningkatkan luas area penyemprotan nosel tipe flat dan cone. Luas
area penyemprotan dapat diketahui dengan penjumlahan grid yang terisi cairan. Nosel
tipe cone pada ketinggian 40 cm dengan tekanan 5 bar mengalami peningkatan luas area
penyemprotan dari 319 grid (7975 cm2) menjadi 323 grid (8075 cm2) pada ketinggian
60 cm. Jangkauan semprot dari titik pusat penyemprotan sampai titik terjauh meningkat
dari 9 grid menjadi 11 grid untuk sisi kiri dan untuk sisi depan meningkat dari 9 grid
menjadi 10 grid sedangkan sisi kanan dan belakang tidak berubah yaitu sebesar 9 grid
dan 10 grid. Pada nosel tipe flat dengan ketinggian 40 cm dan tekanan 5 bar, area
penyemprotan meningkat dari 92 grid (2300 cm2) menjadi 123 grid (3075 cm2).
Jangkauan semprot mengalami peningkatan pada sisi kanan dan kiri yaitu sebesar 2 grid
sedangkan sisi depan-belakang tidak berubah.
Grafik di bawah (Gambar 27) akan menunjukkan luas area penyemprotan
dengan penghitungan panjang dan lebar luasan penyemprotan sisi kanan-kiri dan depan-
belakang dari titik pusat penyemprotan. Pada nosel cone panjang luasan kanan-kiri
hampir mendekati jumlah luasan sisi depan-belakang. Hal ini menunjukkan bahwa
distribusi atau pola penyemprotan pada nosel tersebut berbentuk kerucut penuh atau
lingkaran. Pada nosel flat panjang luasan kanan-kiri lebih besar dibandingkan luasan
sisi depan-belakang, sehingga dapat diketahui bahwa pola penyemprotan pada nosel
tersebut berbentuk seperti kipas atau persegi panjang dengan bagian ujung yang
meruncing.

(a) (b)

Gambar 27 Grafik pengaruh ketinggian dan tekanan terhadap luas penyemprotan pada
nosel cone (a) dan flat (b)

Perubahan ketinggian juga berpengaruh terhadap distribusi sebaran cairan saat


penyemprotan (Lampiran 10). Gambar 28 dan 29 memperlihatkan hasil pengujian grid
patternator yang menunjukkan tingkat keseragaman sebaran cairan 1 nosel cone pada
setiap grid dengan tekanan dan ketinggian yang berbeda. Sebaran volume cairan sangat
beragam pada setiap grid. Salah satu metode untuk menentukan keseragaman
penyemprotan adalah secara visual yaitu pengamatan pola penyemprotan pada grafik
grid yang telah ada pewarnaan sesuai dengan kesamaan volume semprot. Keseragaman
didapatkan dengan menghitung jumlah sebaran cairan pada setiap grid dengan volume
cairan yang sama. Pada ketinggian 40 cm, tingkat keseragaman tertinggi adalah pada
25

saat pemberian tekanan sebesar 5 bar. Grid dengan nilai volume 5 ml memiliki jumlah
terbesar yaitu 81 grid atau sebesar 25.39%. Pada ketinggian 60 cm, keseragaman
tertinggi adalah pada tekanan 3 bar. Grid dengan nilai volume 4 ml memiliki presentase
terbesar yaitu sebesar 28.57%.

Gambar 28 Grafik sebaran cairan 1 nosel cone ketinggian 40 cm

Gambar 29 Grafik sebaran cairan 1 nosel cone ketinggian 60 cm

Pola distribusi penyemprotan dengan variasi jumlah nosel. Penambahan jumlah


nosel dapat meningkatkan efektifitas penyemprotan. Semakin banyak jumlah nosel yang
digunakan maka area penyemprotan menjadi semakin luas. Hal ini juga menyebabkan
terjadi perubahan bentuk pola distribusi penyemprotan untuk setiap nosel. Berdasarkan
hasil pengujian dengan patternator konvensional dan grid patternator dapat diketahui
bahwa pola distribusi cairan nosel cone dan flat mengalami peningkatan luas
penyemprotan dan volume cairan.
Pengujian dengan patternator konvensional menunjukkan penambahan jumlah
nosel dari 1 nosel menjadi 2 nosel dengan jarak 0.25 m pada tekanan 7 bar dan
ketinggian 40 cm meningkatkan lebar penyemprotan untuk nosel cone dari 16 satuan
menjadi 21 satuan atau dari 128 cm menjadi 168 cm, karena tiap satuan pada
patternator konvensional memiliki jarak 8 cm. Pada nosel tipe flat meningkat dari 19
menjadi 22 satuan atau dari 152 cm menjadi 176 cm. Volume cairan meningkat dari
519.67 ml menjadi 805.67 ml untuk nosel cone dan pada nosel flat meningkat dari
2209.67 ml menjadi 4257.33 ml dalam waktu penyemprotan 60 detik.
26

Pengujian dengan grid patternator juga menunjukkan perubahan yang signifikan


pada luasan area penyemprotan. Gambar 30 dan 31 menggambarkan distribusi cairan
penyemprotan nosel cone dengan 1 dan 2 nosel. Lebar atau jangkauan penyemprotan
meningkat dari 21 grid (105 cm) menjadi 28 grid (140 cm) dan luas penyemprotan
meningkat dari 292 grid (7300 cm2) menjadi 460 grid (11500 cm2) untuk nosel cone.
Gambar 32 dan 33 menunjukkan luas penyemprotan pada nosel flat meningkat dari 130
grid (3250 cm2) menjadi 191 grid (4775 cm2). Volume cairan juga meningkat dari
554.40 ml menjadi 879.60 ml untuk nosel cone dan pada nosel flat meningkat dari
2488.00 ml menjadi 3513.00 ml.
Penambahan jumlah nosel juga berpengaruh terhadap tingkat keseragaman
distribusi cairan pada area bidang semprot. Penyemprotan dengan 1 nosel menunjukkan
hasil penyemprotan yang lebih seragam dibandingkan penyemprotan dengan lebih dari
1 nosel. Hal ini dikarenakan sebaran volume yang didapatkan pada 1 nosel memiliki
nilai dengan perbedaan kecil atau tidak terdapat variasi nilai volume yang besar pada
grafik grid. Pada penyemprotan dengan lebih dari 1 nosel terjadi overlapping sehingga
terdapat area semprot atau grid yang menampung cairan dari beberapa nosel secara
bersamaan.

Nomor wadah Nomor wadah


(a) (b)
Gambar 30 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel cone (a) dan 2 nosel cone (b) dengan
patternator konvensional
27

(a)

nosel

(b)
Gambar 31 Distribusi cairan (dalam ml) 1 nosel cone (a) dan 2 nosel cone (b) pada
tekanan 7 bar dan ketinggian 40 cm dengan grid patternator

Nomor wadah Nomor wadah


(a) (b)
Gambar 32 Grafik distribusi penyemprotan 1 nosel flat (a) dan 2 nosel flat (b) dengan
patternator konvensional
28

nosel

(a)

(b)

Gambar 33 Distribusi cairan (dalam ml) 1 nosel flat (a) dan 2 nosel flat (b) pada tekanan
7 bar dan ketinggian 40 cm dengan grid patternator

Besar sudut, lebar dan tinggi efektif penyemprotan. Pengukuran sudut semprot
dilakukan sebelum pengujian distribusi penyemprotan. Perubahan tekanan dan
ketinggian kurang berpengaruh pada sudut semprot yang dihasilkan oleh suatu nosel.
Metode pengukuran yang digunakan langsung menggunakan busur derajat. Pada nosel
tipe flat didapatkan sudut semprot sebesar 105 sedangkan untuk nosel tipe cone,
perhitungan sudut penyemprotan menggunakan theorema phythagoras setelah diketahui
tinggi dan lebar teoritis penyemprotan. Hal ini dikarenakan hasil penyemprotan nosel
cone tidak terlihat jelas. Setelah sudut semprot dan lebar penyemprotan diketahui maka
tinggi efektif penyemprotan dapat dicari menggunakan rumus persamaan I.
Pengukuran lebar efektif penyemprotan (LPE) dilakukan dengan metode grafik
tumpang tindih (overlapping). Grafik tumpang tindih terdiri dari grafik murni yang
didapatkan dari data peneyemprotan langsung dan grafik overlapping yang merupakan
pergeseran dari grafik murni ke arah kanan dan kiri sehingga terjadi perpotongan dari
grafik-grafik tersebut. Grafik yang dipilih adalah grafik overlapping dengan data yang
memiliki nilai koefisien variasi (CV) minimum (paling seragam). Sehingga 2 titik
perpotongan yang terjadi antara grafik murni dan overlapping dengan CV minimum
29

pada grafik tumpang tindih merupakan lebar efektif penyemprotan (SNI 02-4513.1-
2008).

Nomor wadah

Gambar 34 Grafik tumpang tindih pada penyemprotan 1 nosel cone dengan tekanan 5
Bar dan ketinggian 40 cm

Gambar 34 menunjukkan metode grafik tumpang tindih untuk menentukan lebar


efektif penyemprotan 1 nosel cone pada tekanan 5 bar. Pada perhitungan ini dilakukan
5 kali pergeseran grafik sehingga terdapat 1 grafik murni dan 5 grafik overlapping.
Nilai CV overlapping 1 sampai 5 yang didapatkan dari perhitungan berturut-turut
adalah 6.50%, 14.70%, 15.50%, 27.90% dan 40.90%. Grafik overlapping 1 memiliki
nilai CV terkecil sehingga perpotongan grafik ini dengan grafik murni merupakan lebar
efektif penyemprotan. Perpotongan terjadi pada titik -4 dan 4 atau sebesar 8 interval.
Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa lebar efektif penyemprotan 1
nosel cone pada tekanan 5 bar adalah sebesar 8 interval atau 64 cm dan memiliki
efisiensi sebesar 57.14%. Hasil perhitungan lebar efektif penyemprotan dengan variasi
tipe, ketinggian dan jumlah nosel dapat dilihat pada lampiran 7, 8 dan 9.

Tabel 2 Pengaruh tekanan dan ketinggian terhadap lebar efektif penyemprotan pada 1
nosel tipe flat
Tipe nosel flat
Sudut Lebar Lebar Tinggi
Ketinggian Tekanan Debit Efisiensi
semprot teoritis efektif efektif
(cm) (Bar) (liter/detik) (%)
() (cm) (cm) (cm)
3 0.021 105 128 72.00 56.25 27.62
5 0.036 105 144 82.40 57.22 31.61
40
7 0.044 105 144 80.00 55.56 30.69
9 0.064 105 152 88.00 57.89 33.76
3 0.021 105 184 100.00 54.35 38.37
5 0.036 105 216 120.00 55.56 46.04
60
7 0.044 105 216 116.00 53.70 44.50
9 0.064 105 224 120.00 53.57 46.04
30

Tabel 3 Pengaruh tekanan dan ketinggian terhadap lebar efektif penyemprotan pada 1
nosel tipe cone
Tipe nosel cone
Sudut Lebar Lebar Tinggi
Ketinggian Tekanan Debit Efisiensi
semprot teoritis efektif efektif
(cm) (Bar) (liter/detik) (%)
() (cm) (cm) (cm)
3 0.007 104.86 104 60.00 57.69 23.08
5 0.008 108.92 112 64.00 57.14 22.86
40
7 0.011 112.62 120 68.00 56.67 22.67
9 0.021 115.98 128 72.00 56.25 22.50
3 0.007 86.04 112 64.00 57.14 34.29
5 0.008 90.00 120 70.00 58.33 35.00
60
7 0.011 97.16 136 78.40 57.65 34.59
9 0.021 97.16 136 77.60 57.06 34.24

Tabel 2 dan 3 menunjukkan bahwa tinggi penyemprotan sangat berpengaruh


terhadap lebar efektif penyemprotan (LPE) sedangkan perubahan tekanan hanya
memiliki pengaruh yang kecil. Pada nosel flat dan cone, lebar penyemprotan pada
ketinggian 60 cm lebih besar dibandingkan dengan ketinggian 40 cm. Pada ketinggian
yang sama, LPE yang dihasilkan juga mengalami peningkatan seiring terjadinya
peningkatan tekanan penyemprotan. Efisiensi penyemprotan yang dilakukan dengan
nosel flat berkisar antara 51.72% sampai 57.89%. Nilai efisiensi terkecil terjadi pada
penyemprotan dengan ketinggia 60 cm dan tekanan 9 bar sedangkan efisiensi terbesar
didapatkan pada ketinggian 40 cm dengan tekanan 9 bar. Pada nosel cone, efisiensi
penyemprotan memiliki nilai yang hampir sama dari beberapa perlakuan yaitu berkisar
antara 56.25% sampai 58.33%. Nilai efisiensi terkecil terjadi pada penyemprotan
dengan ketinggia 40 cm dan tekanan 9 bar sedangkan efisiensi terbesar didapatkan pada
ketinggian 60 cm dengan tekanan 5 bar. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui
bahwa peningkatan tekanan dan tinggi penyemprotan menyebabkan peningkatan LPE
tetapi efisiensi yang didapatkan tidak selalu meningkat.
Penambahan jumlah nosel juga meningkatkan LPE (Gambar 35). Pada nosel flat
dengan ketinggian 40 cm, penambahan nosel dari 1, 2 dan 8 nosel menyebabkan
peningkatan LPE, tetapi besar peningkatan LPE tidak sama dengan kelipatan jumlah
nosel. Pada tekanan 3 bar, nosel flat dengan 1 nosel memiliki LPE sebesar 72 cm, 80
cm untuk 2 nosel dan 172 cm untuk 8 nosel. Peningkatan LPE dengan penambahan
jumlah nosel dan tekanan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 35 Grafik pengaruh jumlah nosel dan tekanan terhadap lebar efektif
penyemprotan pada nosel flat pada ketinggian 40 cm
31

Knapsack power sprayer dengan 8 nosel tipe flat memiliki jarak 25 cm antar
noselnya. Pola atau overlapping yang terjadi pada penyemprotan 8 nosel flat dapat
diketahui dengan analisis perhitungan sudut penyemprotan dan LPE. Berdasar
pengukuran didapatkan sudut semprot pada satu nosel adalah 105 dan lebar efektif
penyemprotan pada ketinggian 40 cm adalah 72 cm sedangkan pada ketinggian 60 cm
adalah 100 cm untuk tekanan 3 Bar. Tinggi efektif penyemprotan dapat dihitung dengan
persamaan 1, yaitu sebesar 27.62 cm dan 38.37 cm. Pemetaan dari hasil perhitungan
tersebut menunjukkan pola overlapping pada penyemprotan 8 nosel flat (Gambar 36
dan Gambar 37).

nosel

Gambar 36 Pola penyemprotan knapsack power sprayer dengan 8 nosel tipe flat pada
ketinggian 40 cm

nosel

Gambar 37 Pola penyemprotan knapsack power sprayer dengan 8 nosel tipe flat pada
ketinggian 60 cm

Gambar 36 dan 37 menunjukkan bahwa peningkatan ketinggian menyebabkan


peningkatan lebar penyemprotan dan overlapping. Pada ketinggian 40 cm terjadi 4
overlapping yang berbeda yaitu area penyemprotan yang terkena cairan semprot dari 1,
2, 3 dan 4 nosel sedangkan pada ketinggian 60 cm terjadi 5 overlapping yaitu terdapat
area yang terkena cairan dari 5 nosel. Penambahan jumlah nosel bertujuan agar terjadi
overlapping saat penyemprotan sehingga volume keluaran yang dihasilkan pada area
penyemprotan lebih seragam.
Penentuan overlapping yang terjadi pada penyemprotan nosel cone dilakukan
dengan metode mapping atau pemetaan sebaran cairan penyemprotan dari pengujian
menggunakan grid patternator (Gambar 38). Pengujian dilakukan dengan
penyemprotan 4 nosel cone pada tekanan 3 bar dan ketinggian 40 cm.
32

Nosel
11

22

33

22

11

Gambar 38 Pemetaan overlapping penyemprotan 4 nosel cone pada tekanan 3 bar dan
ketinggian 40 cm (dalam ml)

Gambar pemetaan di atas menunjukkan terjadinya overlapping pada


penyemprotan dengan 4 nosel cone. Pada ketinggian 40 cm dan pemberian tekanan 3
bar terjadi 4 overlapping yang berbeda yaitu area penyemprotan yang terkena cairan
semprot dari 1, 2, 3 dan 4 nosel. Volume cairan pada grid yang terkena 4 nosel lebih
besar dibandingkan dengan grid yang hanya terkena 1, 2 atau 3 nosel. Pada tekanan dan
ketinggian yang sama, pemetaan sebaran cairan semprot akan memiliki pola yang sama
dari setiap nosel untuk penyemprotan dengan lebih dari 1 nosel cone. Hal ini
dikarenakan sudut semprot yang terbentuk dan debit keluaran saat penyemprotan dari
masing-masing nosel memiliki nilai hampir sama sehingga pola yang dihasilkan akan
sama.

Usulan Konsep Sistem Pengukuran Otomatis Grid Patternator

Grid patternator adalah modifikasi alat uji penyemprotan sprayer (patternator


konvensional) yang dirancang untuk mengetahui distribusi cairan dan pola
penyemprotan sebuah nosel pada pengujian kinerja sprayer. Bentuk umum alat ini
menyerupai patternator konvensional, perbedaan terletak pada jumlah tempat
penampung pada grid patternator yang lebih banyak dibandingkan patternator
konvensional karena pada setiap satu grid terdapat satu tempat penampung cairan.
Salah satu mekanisme yang memungkinkan untuk digunakan pada grid
patternator adalah pemakaian sistem pengukuran otomatis yang berfungsi untuk
mengukur distribusi cairan penyemprotan. Konsepnya adalah pemasangan sensor berat
(load cell) pada bagian bawah tabung tempat penampung untuk mengetahui gaya yang
bekerja pada bagian tersebut. Sensor akan membaca gaya tekan saat cairan semprot dari
sprayer tertampung pada tabung penampung. Besar gaya yang didapatkan akan
33

dikonversi sehingga diketahui nilai volume cairan penyemprotan pada tiap penampung.
Besar nilai volume dapat terlihat pada display yang disambungkan pada sensor dan
mikrokontroler. Nilai volume yang terbaca dari tiap tabung merupakan besar nilai
sebaran cairan semprot pada tiap satu grid.

Keterangan :
1. Display
2. Rangkaian pengkondisi
sinyal (RPS)
3. Kabel
4. Sensor load cell
5. Tabung penampung air

Gambar 39 Sistem pengukuran otomatis grid patternator

Alat ini menggunakan sensor load cell untuk mendeteksi berat benda yang akan
ditimbang. Prinsip kerja alat ini adalah jika ada pertambahan berat, sensor akan
mendeteksi berat benda. Kemudian keluaran dari sensor yang berupa perubahan
resistansi ini akan diubah menjadi perubahan tegangan oleh rangkaian pengkondisi
sinyal agar dapat diolah oleh rangkaian mikrokontroller. Rangkaian ADC yang terdapat
pada mikrokontroller ini akan mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital.
Kemudian hasil konversi dari rangkaian ADC akan diproses oleh rangkaian
mikrokontroler untuk ditampilkan ke display. Secara umum, proses akan ditunjukkan
pada diagram blok di bawah ini.

Gambar 40 Diagram blok sistem pengukuran load cell

Sensor load cell digunakan untuk mengkonversi berat dari suatu beban menjadi
resistansi. RPS berfungsi untuk mengubah keluaran dari sensor yang berupa perubahan
resistansi menjadi perubahan tegangan. Mikrokontoller yang berupa ATMega 8535 ini
selain digunakan untuk mengolah data juga digunakan untuk mengubah keluaran RPS
yang berupa data analog menjadi data digital melalui ADC yang terdapat di dalam
mikrokontroller ini. Sedangkan display digunakan untuk menampilkan angka yang
terdeteksi oleh sensor.

Gambar 41 Sensor load cell (Mariza W 2012)


34

Load cell merupakan sensor timbangan yang bekerja secara mekanis dengan
menggunakan prinsip tekanan yang memanfaakan strain gauge sebagai pengindera
(sensor). Strain gauge adalah sebuah transduser pasif yang mengubah suatu pergeseran
mekanis menjadi perubahan tahanan. Perubahan ini kemudian diukur dengan jembatan
Wheatsone dan tegangan keluaran dijadikan referensi beban yang diterima load cell.
Optimasi bentuk dan dimensi load cell dilakukan dengan memperhatikan
dimensi ruang yang tersedia serta gaya atau beban yang akan bekerja. Output load cell
tidak hanya ditentukan oleh berat atau beban yang diterima, tetapi juga oleh kekuatan
tegangan eksitasi yang dinilai dalam output sensitivitas (mV/V) pada kapasitas
maksimal penuh. Sebuah keluaran khas beban maksimal untuk load cell adalah 3 mV/V,
ini berarti bahwa untuk setiap volt tegangan eksitasi diterapkan pada beban maksimal
akan ada 3 milivolt output sinyal. Untuk menampilkan output dari setiap pendeteksi
maka dibutuhkan sebuah display untuk menampilkannya. Pada alat ini, display yang
digunakan adalah LCD 16 x 2 atau bisa disambungkan langsung dengan komputer.

Gambar 42 LCD character 16 x 2 (Mariza W 2012)

Modul LCD terdiri dari sejumlah memori yang digunakan untuk display. Semua teks
yang dituliskan ke modul LCD akan disimpan di dalam memori dan modul LCD secara
berurutan membaca memori ini untuk menampilkan teks ke modul LCD itu sendiri.
Nilai yang terbaca berupa data digital akan ditampilkan pada layar LCD (Gambar 43).
Keuntungan penggunaan sistem pengukuran otomatis pada grid patternator
adalah memudahkan pengguna dalam pembacaan data saat melakukan pengujian kinerja
sprayer. Berikut adalah sketsa alat uji kinerja penyemprotan sprayer dengan sistem
pengukuran otomatis.
35

Gambar 43 Grid patternator dengan sistem pengukuran otomatis

Keterangan : 1. Display 6. Plat datar grid berlubang


2. Rangkaian ADP 7. Pengatur ketinggian
3. Kabel 8. Tempat nosel
4. Sensor load cell 9. Rangka utama
5. Tabung penampung air
36

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pengujian kinerja penyemprotan knapsack power sprayer menggunakan grid


patternator dapat mengetahui distribusi cairan dan pola penyemprotan yang terbentuk
dari penyemprotan dengan berbagai jenis nosel berbeda. Grid patternator memiliki
pembagi area bidang semprot (grid) yang lebih kecil dibandingkan patternator
konvensional. Pola overlapping yang terjadi pada penyemprotan dengan menggunakan
lebih dari satu nosel dapat diketahui dengan metode mapping atau pemetaan sebaran
cairan penyemprotan dari hasil pengujian menggunakan grid patternator.
Distribusi cairan dan pola penyemprotan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
tekanan, ketinggian, tipe dan jumlah nosel yang digunakan. Pengujian dengan 1 nosel
menunjukkan hasil penyemprotan dengan distribusi cairan yang lebih seragam
dibandingkan penyemprotan dengan lebih dari 1 nosel. Pada tekanan 5 bar distribusi
cairan lebih merata dibanding dengan tekanan 3, 7 dan 9 bar. Distribusi cairan paling
merata pada nosel cone adalah pada penyemprotan 1 nosel dengan tekanan 5 bar dan
ketinggian 40 cm yaitu sebesar 25.39% sedangkan pada nosel flat adalah sebesar
15.45% pada perlakuan tekanan 5 bar dan ketinggian 60 cm. Pengujian penyemprotan
dengan 1 nosel flat dan cone pada tekanan 9 bar dan ketinggian 60 cm memiliki area
penyemprotan terluas dibandingkan penyemprotan dengan 1 nosel pada tekanan 3, 5
dan 7 bar pada ketinggian 40 cm dan 60 cm. Area penyemprotan terluas pada nosel cone
memiliki jangkauan panjang maksimal sebesar 24 grid (120 cm) dan lebar sebesar 23
grid (115 cm) sedangkan pada nosel flat memiliki jangkauan panjang maksimal sebesar
37 grid (185 cm) dan lebar sebesar 7 grid (35 cm).

Saran

Evaluasi pengujian sprayer dengan grid patternator menggunakan lebih banyak


variasi nosel untuk menentukan akurasi pengujian dengan metode tersebut. Pengujian
dilakukan di dalam ruang tertutup dengan penambahan plastik sebagai penutup pada
patternator untuk mencegah masuknya udara dari luar. Diperlukan adanya sistem
pengukuran volume otomatis pada grid patternator, yaitu pemasangan sensor berat di
bagian bawah penampung cairan untuk mengukur distribusi cairan penyemprotan agar
mempermudah pengguna dalam menentukan pola penyemprotan sebuah nosel.
Pengaplikasian boom sprayer atau knapsack power sprayer dengan 8 nosel yang
berjarak 25 cm antar noselnya akan lebih efektif dan efisien jika digunakan pada
ketinggian 27-34 cm dari obyek semprot untuk nosel tipe flat dan pada ketinggian 34-35
cm untuk nosel tipe cone.
37

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional. 2008. SNI Sprayer Kompresi Tipe Gendong-Unjuk Kerja dan
Cara Uji. Jakarta (ID) : BSN.
Barus E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Yogyakarta (ID) : Kanisius.
Chengel, Yunus and Michael Boles. 1998. Thermodynamics: An Engineering Approach.
Highstown (US) : McGraw-Hill.
Daywin FJ, RG Sitompul and Imam H. 1992. Mesin- mesin Budidaya Pertanian. Bogor
(ID) : JICA-DGHE/IPB Project.
Elisa. 2004. Mesin Pengendali Hama. Yogyakarta (ID) : Gadjah Mada University Press.
Geigy C. 1985. Application Techniques for Plant Protection in Field Crops. Basle
Switzerland (CH) : Ciba Geigy Plant Protection.
Hardjosentono M, Wijato E. Rachlan IW Badra dan Tarmana. 2000. Mesin-Mesin
Pertanian. Jakarta (ID) : Bumi Aksara.
Houny K. 1999. Knapsack Sprayer a Partical Users Guide. Morocco (MA) : Institu
Agronomique et Veterenaire Hasan II.
Mariza W. 2012. Sensor Load Cell [internet]. [diunduh 2013 Mar 23]. Tersedia pada :
http://staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/31925/Sensor.ppt
Matthews GA. 1992. Pesticide Application Methodes. London (GB) : Longman.
Mulyani M. 1989. Hama Tanaman Keras dan Alat Pemberantasannya. Jakarta (ID) :
Bina Aksara.
Smith HP dan Wilkes LH. 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Ed ke-6. Purwadi T,
penerjemah. Yogyakarta(ID) : Gadjah Mada University Press.
Teoh CH. 1985. Introduction to LV, VLV, ULV, and CDA Application, Recent
Development in Pesticide Application Technology. Di dalam : Teoh CH, editor.
Proceeding of The Workshop on Application Technology; 1985 Jan 21; Serdang,
Malaysia.
Wilson. 2011. Understanding Droplet Size [Internet]. [diunduh 2013 Des 15]. Tersedia
pada : http://pesticidestewardship.org.
Wudianto. 2010. Peningkatan Hasil Tanaman Pangan. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.
38

LAMPIRAN
39

Lampiran 1 Alat uji penyemprotan (patternator)

1) Alat uji penyemprotan patternator konvensional

Dimensi (p x l x t)= (161 x 158 x 72) cm

2) Alat uji penyemprotan grid patternator

Dimensi (p x l x t)= (200 x 200 x 30) cm


40

Lampiran 2 Data debit power sprayer TASCO TF 820 dengan 1 nosel

Tipe nosel : cone


Tekanan Waktu Volume Debit rata-rata
(Bar) (detik) (liter) (liter/detik) (liter/detik)
833 5 0.006
3 735 5 0.007 0.007
725 5 0.007
575 5 0.009
5 625 5 0.008 0.008
610 5 0.008
459 5 0.011
7 485 5 0.010 0.011
417 5 0.012
229 5 0.022
9 238 5 0.021 0.021
250 5 0.020

Tipe nosel : flat


Tekanan Waktu Volume Debit rata-rata
(Bar) (detik) (liter) (liter/detik) (liter/detik)
248 5 0.020
3 245 5 0.020 0.021
213 5 0.023
137 5 0.036
5 142 5 0.035 0.036
141 5 0.036
116 5 0.043
7 115 5 0.044 0.044
114 5 0.044
77 5 0.065
9 81 5 0.062 0.064
78 5 0.064
41

Lampiran 3 Data debit power sprayer TASCO TF 820 dengan 2 nosel

Tipe nosel : 2 nosel cone


Tekanan Waktu Volume Debit rata-rata
(Bar) (detik) (liter) (liter/detik) (liter/detik)
500 5 0.010
3 455 5 0.011 0.012
357 5 0.014
278 5 0.018
5 278 5 0.018 0.018
294 5 0.017
250 5 0.020
7 238 5 0.021 0.021
231 5 0.022
198 5 0.025
9 193 5 0.026 0.026
192 5 0.026

Tipe nosel : 2 nosel flat


Tekanan Waktu Volume Debit rata-rata
(Bar) (detik) (liter) (liter/detik) (liter/detik)
120 5 0.042
3 122 5 0.041 0.041
125 5 0.040
94 5 0.053
5 98 5 0.051 0.052
96 5 0.052
78 5 0.064
7 80 5 0.062 0.064
75 5 0.067
60 5 0.083
9 59 5 0.085 0.083
62 5 0.081
42

Lampiran 4 Data debit power sprayer TASCO TF 820 dengan 8 nosel flat

1) Tekanan 3 Bar

Waktu Volume (ml) Volume Debit


Ulangan
(detik) 1 2 3 4 5 6 7 8 total (liter) (liter/detik)
1 10.52 104 105 106 100 110 108 105 101 0.8390 0.0798
2 10.43 100 105 107 100 106 105 104 100 0.8270 0.0793
3 10.49 99 101 103 98 102 99 100 97 0.7990 0.0762
Rata-rata 10.48 101.0 103.7 105.3 99.3 106.0 104.0 103.0 99.3 0.8217 0.0768

2) Tekanan 5 Bar

Waktu Volume (ml) Volume Debit


Ulangan
(detik) 1 2 3 4 5 6 7 8 total (liter) (liter/detik)
1 10.39 122 125 127 120 128 125 125 118 0.9900 0.0953
2 9.48 102 106 108 100 103 103 102 97 0.8210 0.0866
3 10.08 112 114 115 109 113 113 113 108 0.8970 0.0890
Rata-rata 9.983 112.0 115.0 116.7 109.7 114.7 113.7 113.3 107.7 0.9027 0.0903

3) Tekanan 7 Bar

Waktu Volume (ml) Volume Debit


Ulangan
(detik) 1 2 3 4 5 6 7 8 total (liter) (liter/detik)
1 10.02 138 141 144 134 139 139 138 133 1.1060 0.1104
2 9.49 129 131 132 128 136 134 133 123 1.0460 0.1102
3 10.31 141 142 143 134 145 140 139 138 1.1220 0.1088
Rata-rata 9.94 136.0 138.0 139.7 132.0 140.0 137.7 136.7 131.3 1.0913 0.1098

4) Tekanan 9 Bar

Waktu Volume (ml) Volume Debit


Ulangan
(detik) 1 2 3 4 5 6 7 8 total (liter) (liter/detik)
1 9.24 143 145 148 140 153 152 149 144 1.1740 0.1271
2 10.17 160 163 165 154 171 164 165 160 1.3020 0.1280
3 10.51 162 166 167 158 173 171 167 163 1.3270 0.1263
Rata-rata 9.97333 155.0 158.0 160.0 150.7 165.7 162.3 160.3 155.7 1.2677 0.1271
43

Lampiran 5 Hasil pengujian penyemprotan sprayer

1) Patternator konvensional

2) Patternator grid
a) Tipe cone

b) Tipe flat
44

3) Penyemprotan 1 nosel tipe flat

4) Penyemprotan dengan 4 nosel tipe flat


45

Lampiran 6 Data pola distribusi cairan dengan patternator konvesional

1) Data distribusi cairan nosel tipe cone dengan ketinggian 40 cm


a) Tekanan 3 Bar c) Tekanan 5 Bar
No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
-8 0 0 0 0.00 -8 0 0 0 0.00
-7 0 0 1 0.33 -7 3 2 3 2.67
-6 5 3 4 4.00 -6 12 7 11 10.00
-5 20 17 16 17.67 -5 24 19 17 20.00
-4 37 26 22 28.33 -4 38 26 37 33.67
-3 38 28 27 31.00 -3 42 37 49 42.67
-2 37 34 31 34.00 -2 53 50 49 50.67
-1 33 36 34 34.33 -1 49 53 61 54.33
0 35 34 44 37.67 0 68 64 69 67.00
1 32 41 49 40.67 1 61 67 54 60.67
2 36 38 42 38.67 2 59 51 52 54.00
3 31 30 34 31.67 3 42 38 45 41.67
4 29 23 29 27.00 4 35 37 33 35.00
5 12 17 11 13.33 5 12 16 21 16.33
6 7 5 2 4.67 6 4 3 15 7.33
7 0 0 0 0.00 7 0 1 6 2.33
8 0 0 0 0.00 8 0 0 0 0.00

b) Tekanan 7 Bar d) Tekanan 9 Bar


No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
-9 0 0 0 0.00 -9 0 0 0 0.00
-8 2 3 2 2.33 -8 3 1 5 3.00
-7 6 11 8 8.33 -7 7 4 9 6.67
-6 15 18 16 16.33 -6 13 7 16 12.00
-5 16 22 23 20.33 -5 27 21 18 22.00
-4 28 26 31 28.33 -4 39 36 32 35.67
-3 38 37 42 39.00 -3 47 41 46 44.67
-2 47 53 56 52.00 -2 49 45 63 52.33
-1 53 63 51 55.67 -1 53 44 67 54.67
0 44 61 64 56.33 0 57 58 59 58.00
1 57 67 59 61.00 1 68 53 53 58.00
2 53 55 56 54.67 2 51 61 57 56.33
3 48 45 49 47.33 3 54 47 43 48.00
4 35 32 33 33.33 4 47 50 42 46.33
5 27 25 21 24.33 5 37 29 32 32.67
6 11 16 18 15.00 6 14 21 17 17.33
7 4 6 5 5.00 7 3 5 13 7.00
8 0 0 1 0.33 8 0 1 4 1.67
9 0 0 0 0.00 9 0 0 0 0.00
46

2) Data distribusi cairan nosel tipe cone dengan ketinggian 60 cm


a) Tekanan 3 Bar c) Tekanan 5 Bar
No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
-8 0 0 0 0.00 -8 0 0 0 0.00
-7 6 3 0 3.00 -7 7 11 5 7.67
-6 12 9 8 9.67 -6 19 16 10 15.00
-5 21 19 22 20.67 -5 24 25 19 22.67
-4 26 28 27 27.00 -4 28 25 31 28.00
-3 33 28 31 30.67 -3 42 37 35 38.00
-2 33 36 36 35.00 -2 39 44 42 41.67
-1 27 31 45 34.33 -1 49 41 53 47.67
0 39 42 33 38.00 0 69 57 68 64.67
1 34 42 32 36.00 1 66 61 65 64.00
2 28 35 28 30.33 2 58 62 52 57.33
3 31 30 26 29.00 3 45 51 43 46.33
4 24 25 31 26.67 4 34 39 31 34.67
5 16 19 26 20.33 5 24 22 32 26.00
6 10 16 21 15.67 6 17 15 16 16.00
7 9 7 11 9.00 7 5 3 12 6.67
8 0 0 0 0.00 8 3 0 7 5.00
9 0 0 0 0.00

b) Tekanan 7 Bar d) Tekanan 9 Bar


No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
-9 0 0 0 0.00 -9 0 0 0 0.00
-8 8 4 6 6.00 -8 5 3 5 4.33
-7 11 16 18 15.00 -7 9 11 14 11.33
-6 22 25 27 24.67 -6 17 16 21 17.83
-5 29 23 26 26.00 -5 38 32 36 35.17
-4 29 31 32 30.67 -4 57 49 48 51.33
-3 32 43 44 39.67 -3 63 79 57 66.33
-2 52 61 68 60.33 -2 75 83 67 75.00
-1 79 68 89 78.67 -1 72 86 62 73.33
0 88 72 81 80.33 0 66 76 65 69.00
1 75 83 76 78.00 1 54 77 58 63.00
2 73 69 67 69.67 2 57 61 58 58.67
3 58 54 46 52.67 3 56 65 53 57.83
4 40 41 39 40.00 4 47 52 47 48.50
5 19 36 29 28.00 5 42 49 37 42.67
6 11 22 17 16.67 6 26 34 28 29.17
7 8 12 13 11.00 7 17 18 13 15.83
8 7 11 5 7.67 8 8 10 7 8.17
9 2 5 3 3.33 9 3 0 2 2.50
10 0 0 0 0.00 10 0 0 0 0.00
47

3) Data distribusi cairan nosel tipe flat dengan ketinggian 40 cm


a) Tekanan 3 Bar c) Tekanan 5 Bar
No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
-9 0 0 0 0.00 -9 2 0 0 0.67
-8 2 14 7 7.67 -8 9 12 9 10.00
-7 22 16 42 26.67 -7 28 21 23 24.00
-6 68 59 53 60.00 -6 59 87 76 74.00
-5 87 79 61 75.67 -5 96 134 148 126.00
-4 76 78 64 72.67 -4 146 126 161 144.33
-3 110 98 86 98.00 -3 158 156 165 159.67
-2 104 126 145 125.00 -2 192 146 174 170.67
-1 130 130 117 125.67 -1 183 167 198 182.67
0 110 141 131 127.33 0 224 195 201 206.67
1 114 124 134 124.00 1 210 217 179 202.00
2 122 130 100 117.33 2 165 187 185 179.00
3 98 103 116 105.67 3 133 135 147 138.33
4 86 88 94 89.33 4 91 97 102 96.67
5 104 82 52 79.33 5 102 89 109 100.00
6 48 52 43 47.67 6 76 57 74 69.00
7 12 22 19 17.67 7 26 17 23 22.00
8 8 7 2 5.67 8 10 2 7 6.33
9 0 0 0 0.00 9 0 0 3 1.00

b) Tekanan 7 Bar d) Tekanan 9 Bar


No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
-11 0 0 0 0 -11 0 0 0 0.00
-10 13 10 9 10.67 -10 22 25 16 20.90
-9 35 28 37 33.33 -9 54 58 64 58.75
-8 65 54 56 58.33 -8 74 95 85 84.76
-7 89 74 84 82.33 -7 93 134 98 108.37
-6 -6 134 162 143 146.45
101 92 124 105.67
-5 162 203 146 170.31
-5 154 140 145 146.33
-4 223 258 201 227.22
-4 157 144 146 149.00
-3 274 200 252 242.00
-3 176 158 162 165.33 -2 221 376 234 276.96
-2 157 172 176 168.33 -1 223 369 201 264.27
-1 187 178 196 187.00 0 276 293 187 251.98
0 189 196 193 192.67 1 212 236 236 228.16
1 211 170 180 187.00 2 186 169 182 179.14
2 203 160 186 183.00 3 182 141 158 160.39
3 186 124 132 147.33 4 154 162 154 156.78
4 125 142 143 136.67 5 121 145 176 147.24
5 114 126 110 116.67 6 58 92 58 69.25
6 98 80 86 88.00 7 32 39 32 34.27
7 52 30 25 35.67 8 20 12 20 17.45
8 9 8 0 8 5.33
22 8 19 16.33
10 0 0 0 0.00
9 0 0 0 0.00
48

4) Data distribusi cairan nosel tipe flat dengan ketinggian 60 cm


a) Tekanan 3 Bar b) Tekanan 5 Bar
No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
12 0 0 0 0.00 -15 0 0 0 0.00
-11 5 3 2 3.33 -14 0 8 3 3.67
-10 6 8 15 9.67 -13 7 14 10 10.33
-9 14 15 27 18.67 -12 16 25 29 23.33
-8 25 33 42 33.33 -11 26 32 35 31.00
-7 56 34 61 50.33 -10 32 33 43 36.00
-6 57 40 53 50.00 -9 39 41 41 40.33
-5 68 67 75 70.00 -8 52 66 55 57.67
-4 79 61 81 73.67 -7 67 62 71 66.67
-3 102 89 87 92.67 -6 79 73 86 79.33
-2 113 97 96 102.00 -5 93 89 94 92.00
-1 110 121 100 110.33 -4 100 95 112 102.33
0 97 116 93 102.00 -3 110 104 134 116.00
1 114 101 117 110.67 -2 109 112 129 116.67
2 103 89 102 98.00 -1 114 123 125 120.67
3 95 107 110 104.00 0 120 124 126 123.33
4 71 68 85 74.67 1 127 133 137 132.33
5 85 61 48 64.67 2 130 126 123 126.33
6 75 57 53 61.67 3 128 125 110 121.00
7 56 42 45 47.67 4 125 131 103 119.67
8 41 51 39 43.67 5 84 112 97 97.67
9 29 45 25 33.00 6 98 102 93 97.67
10 22 33 18 24.33 7 114 89 87 96.67
11 11 17 8 12.00 8 87 67 74 76.00
12 6 7 0 4.33 9 50 37 53 46.67
13 0 0 0 0.00 10 21 24 32 25.67
11 9 11 21 13.67
12 4 7 9 6.67
13 1 2 2 1.67
14 0 0 0 0.00
49

c) Tekanan 7 Bar d) Tekanan 9 Bar


No Ulangan (ml) rata-rata No Ulangan (ml) rata-rata
wadah 1 2 3 (ml) wadah 1 2 3 (ml)
15 0 0 0 0.00 16 0 0 0 0.00
14 9 0 3 4.00 15 5 0 0 1.67
13 17 7 16 13.33 14 11 0 4 5.00
12 22 23 31 25.33 13 17 8 18 14.33
11 31 39 35 35.00 12 32 31 24 29.00
10 42 42 49 44.33 11 45 39 41 41.67
9 42 58 42 47.33 10 47 42 49 46.00
8 56 53 69 59.33 9 68 65 75 69.33
7 72 78 86 78.67 8 87 64 78 76.33
6 81 89 96 88.67 7 76 86 97 86.33
5 97 106 118 107.00 6 97 101 92 96.67
4 115 95 126 112.00 5 101 113 121 111.67
3 137 129 148 138.00 4 146 129 153 142.67
2 112 143 153 136.00 3 145 131 143 139.67
1 106 132 165 134.33 2 167 141 144 150.67
0 127 131 154 137.33 1 154 163 176 164.33
-1 142 119 164 141.67 0 136 164 184 161.33
-2 146 124 142 137.33 -1 145 187 179 170.33
-3 138 130 145 137.67 -2 154 196 141 163.67
-4 119 132 114 121.67 -3 176 185 153 171.33
-5 93 112 97 100.67 -4 146 157 114 139.00
-6 98 102 101 100.33 -5 124 137 135 132.00
-7 85 89 87 87.00 -6 98 108 109 105.00
-8 64 67 74 68.33 -7 85 96 102 94.33
-9 67 49 53 56.33 -8 75 83 88 82.00
-10 56 35 32 41.00 -9 67 75 78 73.33
-11 43 27 21 30.33 -10 65 56 53 58.00
-12 22 5 9 12.00 -11 49 27 36 37.33
-13 6 1 2 3.00 -12 35 23 13 23.67
-14 0 0 0 0.00 -13 12 6 3 7.00
-14 0 0 0 0.00
50

5) Grafik pola distribusi 2 nosel tipe cone pada ketinggian 40 cm

Nomor wadah

6) Grafik pola distribusi 2 nosel tipe flat pada ketinggian 40 cm

Nomor wadah
51

7) Grafik pola distribusi 8 nosel tipe flat pada ketinggian 40 cm

Nomor wadah

8) Grafik pola distribusi 8 nosel tipe flat pada ketinggian 60 cm

Nomor wadah
52

Lampiran 7 Data lebar efektif penyemprotan pada 1 nosel tipe cone

1) Ketinggian 40 cm
a) Tekanan 3 bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)


No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-8 0 34 38 34 34 38 34
-7 1 38 41 34 39 42 35
-6 4 41 39 38 45 43 42
-5 18 39 32 41 57 50 59
-4 28 32 27 39 60 55 67
-3 31 27 13 32 58 44 63
-2 34 13 5 27 47 39 61
-1 34 5 0 13 39 34 47
0 38 0 1 5 38 39 43
1 41 1 4 0 42 45 41
2 39 4 18 1 43 57 40
3 32 18 28 4 50 60 36
4 27 28 31 18 55 58 45
5 13 31 34 28 44 47 41
6 5 34 34 31 39 39 36
7 0 34 38 34 34 38 34
rata-rata 45.250 45.500 45.250
SD 8.481 8.181 11.066
CV 0.187 0.180 0.245

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 60 cm


Lebar teoritis = 104 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.69%
53

b) Tekanan 5 Bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Over 4 Over 5 Grafik tumpang tindih (ml)
No
(ml) (ml) (ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3 Over 4 Over 5
-8 0 67 60 54 54 42 67 60 54 54 42
-7 3 60 54 67 42 35 63 57 70 45 38
-6 10 54 42 60 35 16 64 52 70 45 26
-5 20 42 35 54 16 7 62 55 74 36 27
-4 34 35 16 42 7 3 69 50 76 41 37
-3 43 16 7 35 3 0 59 50 78 46 43
-2 51 7 3 16 0 3 58 54 67 51 54
-1 54 3 0 7 3 10 57 54 61 57 64
0 67 0 3 3 10 20 67 70 70 77 87
1 60 3 7 0 20 34 63 67 60 80 94
2 54 7 16 3 34 43 61 70 57 88 97
3 42 16 35 10 43 51 58 77 52 85 93
4 35 35 42 20 51 54 70 77 55 86 89
5 16 42 54 34 54 67 58 70 50 70 83
6 7 54 60 43 67 60 61 67 50 74 67
7 3 60 67 51 60 54 63 70 54 63 57
8 0 67 60 54 54 42 67 60 54 54 42
rata-rata 62.765 62.353 61.882 61.882 61.176
SD 4.101 9.192 9.591 17.255 24.993
CV 0.065 0.147 0.155 0.279 0.409

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 64 cm


Lebar teoritis = 112 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.14%
54

c) Tekanan 7 bar
Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)
No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-9 0 56 56 52 56 56 52
-8 3 56 61 56 59 64 59
-7 8 61 55 56 69 63 64
-6 16 55 47 61 71 63 77
-5 20 47 33 55 67 53 75
-4 28 33 24 47 61 52 75
-3 39 24 15 33 63 54 72
-2 52 15 5 24 67 57 76
-1 56 5 0 15 61 56 71
0 56 0 3 5 56 59 61
1 61 3 8 0 64 69 61
2 55 8 16 3 63 71 58
3 47 16 20 8 63 67 55
4 33 20 28 16 53 61 49
5 24 28 39 20 52 63 44
6 15 39 52 28 54 67 43
7 5 52 56 39 57 61 44
8 0 56 56 52 56 56 52
rata-rata 60.67 60.67 60.44
SD 5.657 5.657 11.768
CV 0.093 0.093 0.195

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 68 cm


Lebar teoritis = 120 cm
Effisiensi lebar kerja = 56.67%
55

d) Tekanan 9 bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)


No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-9 0 58 55 58 58 55 58
-8 3 58 58 56 61 61 59
-7 7 56 58 48 63 65 55
-6 12 48 56 46 60 68 58
-5 22 46 48 33 68 70 55
-4 36 33 46 17 69 82 53
-3 45 17 33 7 62 78 52
-2 52 7 17 2 59 69 54
-1 55 2 7 0 57 62 55
0 58 0 2 3 58 60 61
1 58 3 0 7 61 58 65
2 56 7 3 12 63 59 68
3 48 12 7 22 60 55 70
4 46 22 12 36 68 58 82
5 33 36 22 45 69 55 78
6 17 45 36 52 62 53 69
7 7 52 45 55 59 52 62
8 2 55 52 58 57 54 60
9 0 58 55 58 58 55 58
rata-rata 61.68 61.53 61.68
SD 4.056 8.488 8.387
CV 0.066 0.138 0.136

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 72 cm


Lebar teoritis = 128 cm
Effisiensi lebar kerja = 56.25%
56

2) Ketinggian 60 cm
a) Tekanan 3 bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)


No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-8 0 38 36 30 38 36 30
-7 3 36 30 29 39 33 32
-6 10 30 29 27 40 39 37
-5 21 29 27 20 50 48 41
-4 27 27 20 16 54 47 43
-3 31 20 16 9 51 47 40
-2 35 16 9 0 51 44 35
-1 34 9 0 3 43 34 37
0 38 0 3 10 38 41 48
1 36 3 10 21 39 46 57
2 30 10 21 27 40 51 57
3 29 21 27 31 50 56 60
4 27 27 31 35 54 58 62
5 20 31 35 34 51 55 54
6 16 35 34 38 51 50 54
7 9 34 38 36 43 47 45
8 0 38 36 30 38 36 30
rata-rata 45.294 45.176 44.824
SD 6.283 7.716 10.795
CV 0.139 0.171 0.241

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 64 cm


Lebar teoritis = 112 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.14%
57

b) Tekanan 5 bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)


No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-8 0 65 64 58 65 64 58
-7 8 64 58 46 72 66 54
-6 15 58 46 35 73 61 50
-5 23 46 35 26 69 58 49
-4 28 35 26 16 63 54 44
-3 38 26 16 7 64 54 45
-2 42 16 7 5 58 49 47
-1 48 7 5 0 55 53 48
0 65 5 0 8 70 65 73
1 64 0 8 15 64 72 79
2 58 8 15 23 66 73 81
3 46 15 23 28 61 69 74
4 35 23 28 38 58 63 73
5 26 28 38 42 54 64 68
6 16 38 42 48 54 58 64
7 7 42 48 65 49 55 72
8 5 48 65 64 53 70 69
9 0 65 64 58 65 64 58
rata-rata 61.833 61.778 61.444
SD 7.015 6.992 12.515
CV 0.113 0.113 0.204

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 70 cm


Lebar teoritis = 120 cm
Effisiensi lebar kerja = 58.33%
58

c) Tekanan 7 bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)


No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-9 0 78 79 80 78 79 80
-8 6 70 80 78 76 86 84
-7 15 53 78 70 68 93 85
-6 25 40 70 53 65 95 78
-5 26 28 53 40 54 79 66
-4 31 17 40 28 48 71 59
-3 40 11 28 17 51 68 57
-2 60 8 17 11 68 77 71
-1 79 3 11 8 82 90 87
0 80 0 8 3 80 88 83
1 78 6 3 0 84 81 78
2 70 15 0 6 85 70 76
3 53 25 6 15 78 59 68
4 40 26 15 25 66 55 65
5 28 31 25 26 59 53 54
6 17 40 26 31 57 43 48
7 11 60 31 40 71 42 51
8 8 79 40 60 87 48 68
9 3 80 60 79 83 63 82
10 0 78 79 80 78 79 80
rata-rata 70.900 70.950 71.000
SD 12.087 16.567 12.157
CV 0.170 0.234 0.171

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 78.4 cm


Lebar teoritis = 136 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.60%
59

d) Tekanan 9 bar

Murni Over 1 Over 2 Over 3 Grafik tumpang tindih (ml)


No
(ml) (ml) (ml) (ml) Over 1 Over 2 Over 3
-10 0 63 59 69 63 59 69
-9 4 59 58 63 63 62 67
-8 11 58 49 59 69 60 70
-7 18 49 43 58 67 61 76
-6 35 43 29 49 78 64 84
-5 51 29 16 43 80 67 94
-4 66 16 8 29 82 74 95
-3 75 8 3 16 83 78 91
-2 73 3 0 8 76 73 81
-1 69 0 4 3 69 73 72
0 63 4 11 0 67 74 63
1 59 11 18 4 70 77 63
2 58 18 35 11 76 93 69
3 49 35 51 18 84 100 67
4 43 51 66 35 94 109 78
5 29 66 75 51 95 104 80
6 16 75 73 66 91 89 82
7 8 73 69 75 81 77 83
8 3 69 63 73 72 66 76
9 0 63 59 69 63 59 69
rata-rata 76.150 75.950 76.450
SD 10.059 15.422 9.730
CV 0.132 0.203 0.127

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 77.6 cm


Lebar teoritis = 136 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.06%
60

Lampiran 8 Data lebar efektif penyemprotan pada 1 nosel tipe flat

1) Ketinggian 40 cm
a) Tekanan 3 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 72 cm


Lebar teoritis = 128 cm
Effisiensi lebar kerja = 56.30%

b) Tekanan 5 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 82.4 cm


Lebar teoritis = 144 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.22%
61

c) Tekanan 7 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 80 cm


Lebar teoritis = 144 cm
Effisiensi lebar kerja = 55.60%

d) Tekanan 9 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 88 cm


Lebar teoritis = 152 cm
Effisiensi lebar kerja = 57.89%
62

2) Ketinggian 60 cm
a) Tekanan 3 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 100 cm


Lebar teoritis = 184 cm
Effisiensi lebar kerja = 54.35%

b) Tekanan 5 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 120 cm


Lebar teoritis = 216 cm
Effisiensi lebar kerja = 55.56%
63

c) Tekanan 7 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 116 cm


Lebar teoritis = 216 cm
Effisiensi lebar kerja = 53.70%

d) Tekanan 9 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 120 cm


Lebar teoritis = 224 cm
Effisiensi lebar kerja = 53.57%
64

Lampiran 9 Data lebar efektif penyemprotan pada 8 nosel tipe flat

1) Ketinggian 40 cm
a) Tekanan 3 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 172 cm


Lebar teoritis = 328 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.44%

b) Tekanan 5 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 180 cm


Lebar teoritis = 344 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.30%
65

c) Tekanan 7 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 184 cm


Lebar teoritis = 352 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.27%

d) Tekanan 9 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 187.2 cm


Lebar teoritis = 360 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.00%
66

2) Ketinggian 60 cm
a) Tekanan 3 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 180 cm


Lebar teoritis = 344 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.33%

b) Tekanan 5 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 188 cm


Lebar teoritis = 360 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.22%
67

c) Tekanan 7 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 192 cm


Lebar teoritis = 368 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.17%

d) Tekanan 9 bar

Nomor wadah

Lebar efektif penyemprotan = 192 cm


Lebar teoritis = 368 cm
Effisiensi lebar kerja = 52.17%
Lampiran 10 Data pola distribusi cairan dengan grid patternator
1) Data distribusi cairan 1 nosel cone dengan ketinggian 40 cm (dalam satuan ml)
a) Tekanan 3 Bar

No -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)


-10 1 37 37
-9 2 24 48
-8 1 1 1 1 3 32 96
-7 1 1 2 3 2 1 1 1 4 46 184
-6 1 3 4 4 3 3 1 1 1 5 49 245
-5 1 1 2 3 4 4 4 4 2 3 3 1 6 21 126
-4 1 1 2 4 5 5 4 6 4 4 4 3 7 8 56
-3 1 3 2 3 5 5 5 3 5 5 5 5 4 1 8 0 0
-2 2 4 4 5 3 4 3 3 4 5 5 6 4 4 1 9 0 0
-1 1 3 7 5 5 3 4 4 3 4 5 5 6 5 4 2 1 10 0 0
0 2 3 5 5 5 5 5 4 3 4 5 6 7 6 3 2 1 11 0 0
1 2 3 6 5 5 3 3 4 4 4 6 5 7 6 3 2 1 12 0 0
2 1 4 5 5 5 6 5 4 4 5 6 5 6 5 3 2 13 0 0
3 2 5 5 5 6 6 5 5 5 6 5 6 6 4 3 14 0 0
4 1 3 5 5 6 7 6 6 7 5 5 5 3 4 2 15 0 0
5 2 4 4 5 6 7 6 7 5 6 5 4 4 2 16 0 0
6 3 2 4 4 8 5 5 7 4 4 3 3 Jumlah 217 792
7 1 1 3 2 4 4 4 4 4 4 1 1
8 1 1 2 2 2 2 2 1
9 1 1 1 1
10
b) Tekanan 5 Bar

No -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)


-11 1 62 62
-10 2 42 84
-9 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 3 34 102
-8 1 1 2 1 2 2 2 3 2 2 4 2 1 1 4 48 192
-7 1 1 3 2 3 4 4 4 4 3 5 4 2 1 1 5 81 405
-6 1 2 2 4 3 3 5 4 6 4 5 5 4 3 2 1 1 6 27 162
-5 1 1 1 2 3 5 3 3 3 5 5 5 4 5 5 4 3 2 1 7 23 161
-4 1 1 2 3 4 5 5 4 4 4 5 5 5 6 5 5 5 3 2 8 2 16
-3 1 2 2 5 5 5 4 3 2 3 5 4 5 6 5 5 5 4 2 9 0 0
-2 1 1 3 6 5 4 5 2 2 3 5 5 7 5 7 6 5 5 3 1 10 0 0
-1 2 2 3 5 7 5 7 2 4 3 4 5 5 5 7 5 6 7 5 1 11 0 0
0 1 2 4 5 6 5 5 4 5 4 4 6 6 5 6 4 7 5 5 1 12 0 0
1 1 3 3 5 6 6 7 5 4 5 5 7 5 5 6 5 5 5 4 1 13 0 0
2 1 3 4 7 5 7 6 5 4 7 4 7 7 6 5 5 3 4 3 14 0 0
3 1 1 2 6 5 4 6 6 5 7 5 5 7 7 6 5 5 3 2 15 0 0
4 1 3 5 5 5 6 7 7 5 6 7 8 8 5 4 4 2 2 16 0 0
5 1 2 4 4 6 5 6 6 6 5 6 6 5 4 5 3 2 2 Jumlah 319 1184
6 2 3 4 5 4 7 7 7 4 4 5 5 5 4 3 2 1
7 1 2 2 3 3 4 4 4 4 5 5 1 1 1 1
8 1 1 1 1 2 2 4 3 2 2 1 1 1
9 1 1 1 1 1 1 1 1
10
c) Tekanan 7 Bar

No -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
-10 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-9 1 72 72
-8 1 1 1 2 34 68
-7 1 2 3 2 2 2 1 1 1 3 16 48
-6 1 2 3 4 3 5 5 4 2 2 1 1 1 4 23 92
-5 2 2 4 4 7 7 7 8 4 5 3 2 2 1 1 1 5 39 195
-4 1 3 5 5 7 9 9 10 8 7 6 4 2 3 2 1 1 6 12 72
-3 1 5 7 8 11 10 10 7 7 8 5 4 4 8 2 2 1 1 7 30 210
-2 1 1 5 7 12 10 13 7 5 5 3 4 5 7 7 3 3 1 1 8 18 144
-1 1 1 1 4 6 12 11 11 8 5 3 3 5 7 8 5 5 5 2 1 1 9 18 162
0 1 1 1 5 7 7 8 10 7 7 4 2 4 5 7 6 5 5 2 1 1 10 14 140
1 1 1 1 5 5 6 8 10 7 6 5 3 4 7 7 9 6 5 2 1 11 10 110
2 1 1 2 5 9 7 11 8 9 8 6 4 4 8 7 11 6 5 1 1 12 5 60
3 1 1 2 6 9 8 11 12 9 9 9 8 7 9 8 10 6 4 1 13 1 13
4 1 1 5 5 9 9 10 11 12 10 9 10 8 11 7 4 3 1 14 0 0
5 1 1 4 7 8 9 11 10 9 10 8 12 7 9 5 5 2 1 15 0 0
6 1 2 4 5 10 5 9 7 11 10 9 5 7 5 3 1 16 0 0
7 1 2 4 5 5 6 6 8 7 7 2 4 2 2 1 Jumlah 292 1386
8 1 1 1 2 3 4 5 4 5 5 2 2 1 1
9 1 1 1 2 3 2 2 2 1 1 1
10 1 1 1 1 1 1
11
d) Tekanan 9 Bar
No -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
-13 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-12 1 42 42
-11 1 1 1 2 45 90
-10 1 1 1 2 1 3 2 2 2 1 1 3 22 66
-9 2 2 3 5 7 8 11 10 5 3 2 2 1 1 4 50 200
-8 1 4 5 5 9 14 10 12 11 11 10 7 4 4 1 1 1 5 50 250
-7 2 4 7 8 13 16 9 12 14 12 11 14 13 10 7 3 1 6 19 114
-6 4 5 13 11 14 8 10 12 12 11 11 10 12 10 11 3 2 7 42 294
-5 2 5 6 9 10 13 7 9 9 8 9 10 8 10 9 11 7 5 2 8 15 120
-4 1 6 6 9 10 7 9 9 7 6 8 7 5 7 7 11 7 7 4 2 9 27 243
-3 1 6 10 9 9 6 5 2 6 7 9 5 4 5 6 11 9 8 5 2 10 17 170
-2 1 5 9 9 9 7 7 2 4 4 7 4 4 4 5 7 10 8 6 2 1 11 16 176
-1 1 8 9 11 7 7 9 4 5 4 7 4 5 4 5 10 10 5 5 2 1 12 6 72
0 2 7 11 11 7 7 9 3 6 4 6 2 5 3 7 7 9 9 7 3 1 13 5 65
1 2 5 8 11 7 7 5 3 4 4 7 2 2 4 4 8 7 6 5 3 1 14 4 56
2 3 8 9 9 5 7 2 3 5 6 2 4 5 4 7 6 5 4 2 15 0 0
3 3 7 8 10 10 6 4 4 6 5 4 4 5 5 7 5 5 4 3 16 1 16
4 2 7 7 9 13 9 4 3 5 5 5 7 5 5 4 4 4 2 Jumlah 361 1974
5 2 6 11 5 8 8 5 7 6 4 3 9 5 5 4 5 4 1
6 4 7 5 8 7 5 5 4 4 2 9 4 4 3 2 1
7 2 4 5 5 7 7 5 5 5 5 4 4 5 1 1
8 1 2 3 4 4 6 2 3 4 4 2 2 3 1
9 1 2 2 3 4 2 2 4 3 2 2 2
10 1 1 2 3 1 1 2 1 1 1 1
11 1 1 1
2) Data distribusi cairan 1 nosel cone dengan ketinggian 60 cm (dalam satuan ml)
a) Tekanan 3 Bar

No -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
-11 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-10 1 1 1 1 1 52 52
-9 1 1 2 3 2 2 2 2 2 28 56
-8 1 1 3 4 4 3 3 1 1 1 3 31 93
-7 1 1 2 3 4 4 4 4 2 3 3 1 4 70 280
-6 1 1 5 4 4 5 4 6 4 4 4 3 5 30 150
-5 1 3 2 3 5 6 5 3 5 6 5 5 4 1 6 21 126
-4 1 2 4 4 4 3 4 3 5 4 4 4 6 4 4 1 7 10 70
-3 1 3 7 4 7 7 4 4 3 4 5 4 4 5 4 2 1 8 3 24
-2 1 2 3 5 4 5 6 5 4 4 4 4 4 7 6 4 3 1 9 0 0
-1 1 2 4 6 4 4 5 3 4 6 4 6 5 8 6 5 3 2 1 10 0 0
0 1 1 4 5 4 6 4 4 4 6 3 4 5 8 4 3 2 2 1 11 0 0
1 2 2 5 7 4 5 4 5 4 5 6 7 6 5 4 3 1 1 12 0 0
2 1 1 3 5 6 6 7 6 4 7 5 6 4 5 4 2 1 13 0 0
3 1 1 4 4 6 4 7 6 7 4 6 5 4 4 2 14 0 0
4 2 3 2 4 4 8 5 5 7 4 4 3 3 15 0 0
5 1 1 3 2 4 5 4 3 3 4 1 1 16 0 0
6 1 1 1 1 2 2 4 4 2 1 Jumlah 245 851
7 1 2 2 2 1 1 1
8 1 1
9
10
b) Tekanan 5 Bar

No -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
-14 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-13 1 56 56
-12 2 51 102
-11 1 1 1 1 3 40 120
-10 1 1 1 2 1 2 2 1 1 4 54 216
-9 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 1 1 5 63 315
-8 1 1 3 2 3 4 2 3 3 3 5 4 2 1 1 6 30 180
-7 1 2 2 4 3 2 5 4 6 4 5 5 4 3 2 8 1 7 21 147
-6 1 1 1 2 3 4 4 3 3 5 5 5 4 5 5 4 3 2 1 8 4 32
-5 1 1 2 3 4 5 5 4 4 4 6 6 5 6 8 5 5 3 2 9 1 9
-4 2 2 2 5 11 10 4 3 2 3 5 4 5 6 5 6 6 4 2 10 1 10
-3 2 1 4 6 11 4 5 3 4 5 5 5 7 3 7 6 5 5 3 1 11 2 22
-2 1 2 2 4 5 7 5 7 2 4 3 4 5 5 3 7 5 6 8 2 1 12 0 0
-1 1 1 2 4 3 5 5 7 4 5 4 4 6 6 4 6 4 7 5 2 1 13 0 0
0 1 1 3 3 5 6 6 7 5 4 6 6 7 5 5 6 5 4 5 4 1 14 0 0
1 2 2 4 7 5 7 6 5 4 7 4 7 4 5 5 5 3 4 3 15 0 0
2 1 1 2 6 5 4 6 6 5 7 5 5 7 7 6 5 5 3 2 16 0 0
3 1 3 6 5 5 6 7 7 5 6 7 4 4 5 4 3 2 2 Jumlah 323 1209
4 1 2 4 4 6 5 8 9 6 5 6 6 5 4 5 5 2 1
5 2 3 3 5 4 7 6 7 4 4 5 4 4 4 3 1
6 1 2 2 4 3 4 3 3 4 5 5 1 1 1
7 1 1 1 3 2 4 3 2 2 1 1
8 1 1 2 2 1 1 1 1
9 1
10
c) Tekanan 7 Bar

No -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
-14 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-13 1 75 75
-12 2 43 86
-11 3 27 81
-10 1 1 1 1 4 36 144
-9 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 5 33 165
-8 1 2 4 5 5 5 2 3 3 2 3 3 2 6 23 138
-7 1 2 2 5 5 5 5 5 2 3 3 2 3 3 1 1 7 37 259
-6 1 1 3 3 5 4 4 6 7 4 4 3 4 4 1 2 2 8 26 208
-5 2 4 4 5 8 6 7 11 9 6 6 4 6 7 2 3 1 9 17 153
-4 1 2 5 7 7 7 7 8 8 9 9 7 4 6 7 7 2 3 1 10 7 70
-3 1 3 7 7 8 9 7 6 7 8 6 6 8 10 10 7 5 4 2 11 10 110
-2 1 2 3 6 9 9 8 8 7 7 8 9 12 12 5 5 10 7 4 2 1 12 3 36
-1 1 2 4 7 9 7 8 7 5 6 7 6 10 8 5 5 11 11 4 1 2 1 13 2 26
0 1 2 3 4 9 11 15 8 8 9 7 8 7 9 7 9 13 8 3 1 1 1 14 1 14
1 1 3 2 5 8 10 11 10 9 9 8 9 9 8 8 11 7 7 5 2 1 1 15 1 15
2 1 3 1 4 8 9 8 8 11 5 12 11 8 10 11 14 7 5 5 1 1 1 16 0 0
3 1 1 4 6 6 6 7 7 8 7 6 7 8 11 13 8 7 5 2 1 Jumlah 341 1580
4 1 2 3 5 4 4 6 6 7 9 7 7 5 7 8 6 6 3 3 1
5 2 1 5 6 6 5 6 6 5 3 4 2 6 4 1 1 1 2 1
6 1 2 3 4 5 4 5 5 5 5 4 5 4 1 1 2
7 1 2 3 2 2 2 2 3 2 4 1 1 1 1
8 1 2 3 1 1 2 2 1 1 1 1
9 1 1 1 1 2 1 1 1
10 1 1 1 1 1
11
d) Tekanan 9 Bar

No -12 -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12


-14 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-13 1 58 58
-12 1 1 1 2 42 84
-11 1 1 1 3 3 2 2 2 2 1 3 23 69
-10 1 5 4 4 4 4 4 4 4 3 3 2 1 4 39 156
-9 1 3 3 5 6 5 6 4 5 4 5 5 4 3 2 5 49 245
-8 1 1 2 2 5 9 9 8 11 9 8 10 5 8 8 5 4 4 1 6 40 240
-7 2 2 3 6 7 7 8 8 9 9 7 6 7 7 7 9 7 6 1 7 47 329
-6 2 2 5 6 7 10 11 15 6 8 5 5 6 6 9 6 9 7 5 8 41 328
-5 1 3 3 6 8 12 8 9 9 8 10 7 4 5 7 8 9 7 8 6 1 9 37 333
-4 1 1 4 3 6 9 10 8 9 9 10 11 6 6 5 6 7 7 8 12 4 1 10 17 170
-3 2 1 4 5 7 10 9 7 8 3 4 7 8 5 7 7 6 7 7 10 4 1 11 14 154
-2 1 2 4 4 8 10 9 7 6 8 3 6 8 5 7 5 8 8 6 9 7 3 2 12 8 96
-1 1 2 5 6 11 8 8 5 7 8 11 8 9 7 5 5 4 11 6 4 5 3 1 1 13 1 13
0 1 2 5 6 9 9 7 8 6 9 8 10 8 5 5 9 11 12 8 7 5 2 1 1 14 1 14
1 1 2 6 6 8 6 7 12 4 5 9 8 11 6 5 5 5 5 5 7 3 2 1 1 15 1 15
2 1 1 4 5 6 8 10 9 7 8 8 11 9 5 7 5 5 6 7 7 4 2 2 1 16 0 0
3 1 1 3 2 6 12 13 8 6 9 9 10 8 7 7 6 5 5 11 6 5 2 2 1 Jumlah 418 2304
4 2 2 4 5 10 14 11 8 7 9 9 9 6 5 8 5 12 4 3 3 2 1
5 1 2 5 6 8 10 11 12 10 7 7 9 6 10 7 9 4 3 1 1
6 2 1 4 5 7 7 7 6 7 9 7 9 6 10 11 4 3 1
7 1 2 2 6 7 8 9 11 12 10 9 9 4 8 4 2 1
8 1 2 2 4 4 4 5 7 5 4 5 4 4 2 1
9 1 1 1 3 4 3 2 2 2 2 2 2 1
10 1 1 1 1 1 1 1
11
3) Data distribusi cairan nosel tipe flat dengan ketinggian 40 cm
a) Tekanan 3 Bar b) Tekanan 5 Bar
No -3 -2 -1 0 1 2 No -3 -2 -1 0 1 2
-15 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml) -15 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-14 1 1-5 38 66 -14 1 3 2 1-5 27 56
-13 3 2 6 - 10 18 158 -13 1 30 6 6 - 10 20 164
-12 1 6 2 11 - 15 13 161 -12 5 21 7 11 - 15 10 125
-11 1 10 9 16 - 20 1 19 -11 12 53 11 16 - 20 2 35
-10 2 21 9 21 - 25 9 206 -10 12 38 9 21 - 25 11 254
-9 1 2 19 11 26 - 30 4 112 -9 1 19 46 9 26 - 30 7 197
-8 1 5 28 15 31 - 35 1 32 -8 1 23 44 7 31 - 35 0 0
-7 1 12 25 10 36 - 40 1 39 -7 1 24 48 8 36 - 40 2 75
-6 1 12 32 9 1 41 - 45 0 0 -6 1 22 71 9 41 - 45 1 44
-5 1 9 62 8 1 46 - 50 0 0 -5 1 27 86 10 46 - 50 2 94
-4 1 10 64 9 2 51 - 55 0 0 -4 23 100 7 51 - 55 2 106
-3 2 25 69 14 2 56 - 60 2 117 -3 26 88 7 56 - 60 0 0
-2 3 21 70 12 2 61 - 65 2 126 -2 25 80 8 1 61 - 65 0 0
-1 2 27 76 11 1 66 - 70 2 139 -1 27 89 11 1 66 - 70 1 70
0 2 28 78 10 71 - 75 0 0 0 1 28 82 10 71 - 75 1 71
1 3 23 59 12 76 - 80 2 154 1 1 23 70 12 76 - 80 1 80
2 1 22 58 9 81 - 85 0 0 2 1 22 53 9 81 - 85 1 82
3 1 13 39 5 86 - 90 0 0 3 1 13 37 5 86 - 90 3 263
4 14 24 10 91 - 95 0 0 4 14 30 10 91 - 95 0 0
5 10 29 13 96 - 100 0 0 5 7 29 13 96 - 100 1 100
6 11 24 9 Jumlah 93 1329 6 10 24 8 Jumlah 92 1816
7 8 21 6 7 7 25 16
8 2 11 2 8 4 22 9
9 2 7 2 9 4 15 5
10 1 1 1 10 2 12 2
11 1 1 11 2 7 2
12 12 1 5 1
13
c) Tekanan 7 Bar d) Tekanan 9 Bar

No -3 -2 -1 0 1 2 3 No -4 -3 -2 -1 0 1 2 3
-16 1 2 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml) -16 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-15 1 3 2 1-5 58 113 -15 3 2 1-5 56 117
-14 1 4 6 6 - 10 10 70 -14 1 4 6 6 - 10 11 76
-13 5 11 7 11 - 15 9 113 -13 2 21 9 11 - 15 5 67
-12 7 21 12 16 - 20 7 123 -12 4 15 23 16 - 20 10 180
-11 5 24 19 21 - 25 13 295 -11 8 19 28 21 - 25 11 254
-10 1 16 31 12 26 - 30 9 250 -10 1 11 36 16 26 - 30 4 111
-9 1 18 28 11 2 31 - 35 5 158 -9 1 17 48 20 2 31 - 35 8 260
-8 1 22 42 9 2 36 - 40 2 77 -8 1 31 37 33 2 36 - 40 4 148
-7 2 14 56 16 2 41 - 45 3 125 -7 2 21 43 41 2 41 - 45 4 166
-6 1 11 52 23 2 46 - 50 0 0 -6 1 19 64 32 2 46 - 50 3 142
-5 1 9 71 28 3 51 - 55 1 52 -5 1 17 88 25 3 51 - 55 1 52
-4 2 15 65 42 7 1 56 - 60 2 113 -4 1 2 22 79 17 7 1 56 - 60 0 0
-3 2 20 87 41 7 1 61 - 65 1 65 -3 1 3 25 87 32 7 1 61 - 65 2 127
-2 2 24 88 32 6 1 66 - 70 0 0 -2 1 4 23 102 41 6 1 66 - 70 1 67
-1 1 29 125 23 6 1 71 - 75 2 144 -1 1 5 18 117 35 6 1 71 - 75 0 0
0 1 39 93 26 5 1 76 - 80 0 0 0 8 27 98 52 5 1 76 - 80 1 79
1 1 30 89 33 3 2 81 - 85 0 0 1 6 33 88 63 3 2 81 - 85 0 0
2 1 24 94 21 3 86 - 90 3 264 2 7 41 101 48 3 86 - 90 4 350
3 1 31 102 22 6 91 - 95 2 187 3 3 20 96 46 6 91 - 95 0 0
4 1 26 112 31 4 96 - 100 0 0 4 2 14 112 25 3 96 - 100 2 194
5 1 22 73 27 2 101 - 105 1 102 5 1 22 87 37 2 101 - 105 2 203
6 1 16 57 18 2 106 - 110 0 0 6 1 32 67 32 1 106 - 110 0 0
7 3 38 24 1 111 - 115 1 112 7 17 38 24 1 111 - 115 1 112
8 4 26 15 116 - 120 0 0 8 4 26 15 116 - 120 1 117
9 2 30 12 121 - 125 1 125 9 4 30 12 121 - 125 0 0
10 2 23 2 Jumlah 130 2488 10 2 23 2 Jumlah 131 2822
11 1 22 1 11 3 5 1
12 1 4 2 12 1 4 2
13 2 3 13 2 1
14 2 1 14 1 1
15 15
3) Data distribusi cairan nosel tipe flat dengan ketinggian 60 cm
a) Tekanan 3 Bar b) Tekanan 5 Bar
No -3 -2 -1 0 1 2 3 No -4 -3 -2 -1 0 1 2
-17 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml) -17 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)
-16 1-5 41 82 -16 1 3 2 1-5 41 76
-15 1 6 - 10 14 113 -15 1 6 3 6 - 10 19 155
-14 2 1 11 - 15 18 221 -14 3 9 4 11 - 15 16 206
-13 2 1 1 16 - 20 6 102 -13 9 16 12 16 - 20 15 266
-12 2 2 3 21 - 25 7 158 -12 13 21 9 21 - 25 12 266
-11 4 3 3 26 - 30 4 111 -11 1 17 22 9 26 - 30 4 107
-10 5 6 8 31 - 35 3 95 -10 1 22 32 7 31 - 35 4 131
-9 11 11 12 36 - 40 1 39 -9 2 20 21 8 36 - 40 1 39
-8 5 22 12 1 41 - 45 1 42 -8 2 25 33 6 41 - 45 2 83
-7 6 23 11 1 46 - 50 1 48 -7 2 31 35 16 46 - 50 0 0
-6 1 8 31 15 2 51 - 55 2 105 -6 3 26 41 11 51 - 55 1 52
-5 1 8 22 11 2 56 - 60 0 0 -5 1 19 52 10 56 - 60 1 115
-4 1 12 39 14 2 61 - 65 1 65 -4 2 17 59 8 1 61 - 65 3 127
-3 1 11 48 9 1 66 - 70 2 137 -3 2 20 63 12 1 66 - 70 2 137
-2 1 9 67 16 71 - 75 0 0 -2 2 28 81 20 1 71 - 75 1 73
-1 1 18 78 23 76 - 80 2 155 -1 1 23 73 19 2 76 - 80 0 0
0 1 22 77 17 81 - 85 0 0 0 1 22 70 26 2 81 - 85 1 81
1 1 27 65 14 86 - 90 0 0 1 1 15 67 22 2 86 - 90 0 0
2 2 29 70 11 91 - 95 0 0 2 1 16 64 11 3 91 - 95 0 0
3 2 31 51 10 96 - 100 0 0 3 1 21 61 14 1 96 - 100 0 0
4 33 54 18 Jumlah 103 1473 4 21 42 9 1 Jumlah 123 1914
5 24 42 15 5 22 39 15 1
6 16 27 11 6 27 24 7
7 9 22 15 7 19 16 10
8 12 28 9 8 15 13 9
9 8 17 7 9 11 17 18
10 7 11 12 10 13 15 12
11 5 9 3 11 9 13 8
12 3 2 3 12 11 16 6
13 1 3 2 13 4 9 3
14 2 1 1 14 2 7 3
15 15 1 3 3
16 1 1
79

c) Tekanan 7 Bar

No -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)


-18 1-5 66 146
-17 2 1 6 - 10 18 136
-16 3 2 1 11 - 15 16 203
-15 6 5 3 16 - 20 14 241
-14 7 7 5 21 - 25 18 403
-13 5 10 5 26 - 30 6 171
-12 1 16 11 8 31 - 35 5 159
-11 1 11 14 13 36 - 40 1 37
-10 1 19 17 16 41 - 45 2 89
-9 2 21 28 12 46 - 50 3 142
-8 3 26 21 21 51 - 55 2 109
-7 2 16 30 17 1 56 - 60 1 60
-6 2 18 25 12 1 61 - 65 4 250
-5 2 23 44 9 2 66 - 70 2 137
-4 5 15 48 17 2 71 - 75 1 71
-3 6 13 55 21 2 76 - 80 0 0
-2 4 10 64 25 3 1 81 - 85 0 0
-1 1 3 11 60 34 7 1 86 - 90 1 89
0 1 3 19 63 45 8 1 91 - 95 0 0
1 1 2 31 71 31 7 1 96 - 100 0 0
2 1 1 22 89 25 6 2 101 - 105 0 0
3 1 29 67 22 6 2 106 - 110 0 0
4 1 14 62 30 3 2 111 - 115 0 0
5 18 70 22 4 116 - 120 0 0
6 21 61 19 7 121 - 125 0 0
7 17 54 23 4 Jumlah 160 2443
8 22 48 25 4
9 16 46 22 2
10 10 37 21 2
11 11 32 16 3
12 15 31 11 2
13 12 28 14 1
14 9 21 7 1
15 5 14 5
16 3 6 3
17 2 4 3
18 2 1 2
19 1 1 1
20
80

a) Tekanan 9 Bar

No -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Nilai (ml) Jumlah (grid) Total (ml)


-18 1-5 55 107
-17 6 - 10 13 90
-16 3 2 11 - 15 9 112
-15 1 4 6 16 - 20 10 181
-14 8 5 7 21 - 25 13 288
-13 11 13 5 26 - 30 11 305
-12 9 18 21 31 - 35 11 358
-11 14 34 16 36 - 40 6 227
-10 22 31 26 41 - 45 4 170
-9 1 23 48 22 46 - 50 2 94
-8 1 28 38 35 51 - 55 0 0
-7 1 39 44 46 56 - 60 3 170
-6 2 33 56 43 1 61 - 65 2 126
-5 1 26 74 38 1 66 - 70 2 135
-4 1 27 98 21 2 71 - 75 2 145
-3 2 2 32 83 56 2 76 - 80 3 233
-2 2 3 29 67 31 2 81 - 85 1 83
-1 2 4 32 61 20 2 86 - 90 1 87
0 1 7 30 87 15 6 1 91 - 95 0 0
1 1 6 28 77 18 5 1 96 - 100 1 98
2 1 6 31 80 27 3 1 101 - 105 0 0
3 2 7 35 65 19 7 1 106 - 110 0 0
4 3 3 38 71 21 7 111 - 115 0 0
5 4 2 20 76 25 3 116 - 120 0 0
6 1 22 68 31 2 121 - 125 0 0
7 1 18 65 42 1 Jumlah 149 3009
8 25 58 33 1
9 21 41 27
10 38 36 22
11 29 28 13
12 19 22 12
13 16 21 17
14 11 12 6
15 8 11 1
16 1 4 2
17 2 2 1
18 1 1 1
19
81

RIWAYAT HIDUP

Ngudi Aji Jaka Yuwana lahir di Grobogan, 9 November 1991. Anak kedua
dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Slamet dan Ibu Sukarsih. Penulis pernah
bersekolah di SD N 1 Nglobar dan lulus pada tahun 2003. Penulis melanjutkan
pendidikan di SMP N 1 Purwodadi dan lulus pada tahun 2006. Penulis kemudian
melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMA N 1 Purwodadi, Jawa Tengah dan
lulus pada tahun 2009 serta pada tahun yang sama penulis diterima di Departemen
Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui
jalur USMI. Penulis melaksanakan kegiatan Praktik Lapangan di daerah Klaten
dengan mengambil judul Aspek Keteknikan Pertanian pada Budidaya Tanaman
Padi di Kabupaten Klaten.
68