Anda di halaman 1dari 18

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Mengukur dan mengendalikan aktiva yang dikelola

OLEH KELOMPOK 7 :

EKO B1C1 13 023

NURUL FADILLA IBRAHIM B1C1 13 108

IDRIS B1C1 13 110

INTAN MAUDYSARI PUTRI B1C1 14 023

MUHAMMAD HARI SETIAWAN B1C1 14 039

NUR AINUN INDARWATI B1C1 14 043

REZKI WULANDARI YUSUF B1C1 14 047

ADELINA PUTRI SUZRIADI B1C1 14 057

HALIN BAHAYULANDA B1C1 14 059

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan atas ke hadirat Allah Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahan-Nya, Makalah Tugas Sistem Pengendalian Manajamen ini dapat
kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Makalah ini membahas mengenai Mengukur dan
mengendalikan aktiva yang dikelola.

Makalah ini membahas mengenai kumpulan aktiva yang menjadi dasar investasi.
Kemudian akan dibahas pula, dua metode yang menghubungkan laba dengan dasar investasi:
ROI dan EVA. Akana dijelaskan keuntungan dan persyaratan dari penggunaan dua metode
tersebut. Dan yang terakhir, akan dibahas masalah perbedaan dalam mengukur nilai ekonomi
dari suatu pusat investasi.

Dalam proses pembuatan makalah ini, tentunya kami mendapat arahan, bimbingan,
serta saran, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Sistem
Pengendalian Manajemen Ibu Yuli, SE.,M.Si selaku serta rekan-rekan sesama mahasiswa
yang telah membantu.

Akhir kata, Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari para
pembaca untuk makalah ini.

Kendari, Oktober 2016

Penulis

PEMBAHASAN

2
A. Struktur Analisis
Tujuan pengukuran penggunaan aktiva merupakan analogi dari tujuan pusat laba yang
didiskusikan, yaitu:
Untuk memberikan informasi yang berguna dalam membuat keputusan yang bagus mengenai aktiva
yang digunakan dan untuk memacu para manajer agar membuat keputusan yang merupakan
kepentingan perusahaan.
Untuk mengukur kinerja unit usaha sebagai suatu entitas ekonomi.

Dalam analisis mengenai perlakuan alternative atas aktiva dan perbandingan ROI dengan
EVA dua cara dalam mengaitkan laba dengan aktiva yang digunakan-yang paling menarik
adalah seberapa baiknya alternatif-alternatif tersebut melayani kedua tujuan diatas untuk
menyediakan informasi guna pengambilan keputusan yang baik dan pengukuran kinerja
ekonomi suatu unit usaha.
Umumnya, para manajer unit usaha memiliki dua sasaran kinerja. Pertama, mereka harus
menghasilakan laba yang mencukupi dari sumber daya yang digunakan. Kedua, mereka dapat
menggunakan sumber daya tambahan hanya jika penggunaan tersebut menghasilkan tingkat
pengembalian yang memadai. (sebaliknya, mereka harus menghentikan penggunaan aktiva
itu jika laba tahunan yang diperkirakan dari penggunaan aktiva tersebut lebih rendah daripada
kas yang dapat direalisasikan dari penjualannya). Tujuan dari menghubungkan laba dengan
investasi adalah untuk memotivasi para manajer unit usaha guna mencapai sasaran-sasaran
tersebut diatas.
Seperti yang akan dilihat nanti, ada hambatan-hambatan yang signifikan dalam membuat
suatu system yang fokus pada aktiva yang digunakan selain fokus pada laba.
Tampilan 7.1 merupakan laporan keuangan hipotesis yang disederhanakan dari suatu unit
usaha yang akan digunakan dalam analisis ini. Tampilan tersebut menunjukkan dua cara
dalam menghubungkan laba dengan aktiva yang digunakan yaitu, melalui ROI dan Eva.
Tingkat pengembalian atas investasi (ROI) adalah suatu rasio perbandingan.
Pembilangnya (numerator) adalah pendapatan yang dilaporkan pada laporan tampilan 7.1,
yang menjadi penyebut adalah modal perusahaan diunit usaha. Jumlah tersebut dihasilkan
dari jumlah kewajiaban tidak lancar (noncurrent liabilities) ditambah dengan ekuitas
pemegang saham dineraca dari perusahaan yang terpisah. Hal ini, secara matematis, adalah
sama dengan aktiva tidak lancer (noncurrent asset) ditambah modal kerja (working capital).
Nilai tambah ekonomi (EVA) adalah jumlah uang, bukan rasio. EVA dapat diperoleh
dengan mengurangkan beban modal (capital charge) dari laba operasi bersih (net operating

3
profit). Beban modal diperoleh dari perkalian antara jumlah aktiva yang digunakan dengan
suatu tingkat tarif (rate), yang dalam tampilan 7.1 besarnya adalah 10%. Turunan dari tariff
ini akan dibahas pada bagian berikutnya.

Contoh. AT&T menggunakan ukuran EVA untuk mengevaluasi para manajer unit
usahanya. Sebagai contoh, Long-Distance Group terdiri dari 40 unit usaha yang menjual
jasa seperti sambungan 0-800, telemarketing, dan sambungan telepon umum.

Tampilan 7.1 laporan keuangan


Neraca (dalam ribuan $)
Aktiva Lancar: Kewajiban lancar:
Kas $50 Utang usaha $90
Kewajiban lancar
Piutang 150 lainnya 110
Persediaan 200
Total aktiva lancar 400
Total kewajiban
Aktiva tetap: lancar 200
Biaya $600
Penyusutan -300 Ekuitas perusahaan 600
Nilai buku 300
Total aktiva $700 Total ekuitas $700

Laporan Laba Rugi


Pendapatan $1.000
Pengeluaran, di luar
penyusustan $850
penyustan 50
pendapatan sebelum
pajak 900
Beban modal ($500
x 10%) 100
Economic value
added (EVA) 50
Return on $100
= 20% 50
investment (ROI) = $500

Untuk alasan-alasan yang akan dijelaskan nanti, EVA lebih unggul dibandingkan dengan
ROI dari sisi konsep, dan oleh karena itu, EVA akan digunakan dalam contoh-contoh yang

4
ada. Tetapi, sangat jelas dari survey-survei yang ada bahwa ROI lebih luas digunakan dalam
bisnis dibandingkan dengan EVA.

B. Mengukur Aktiva yang Digunakan


Kas
Hampir semua perusahaan mengendalikan kas secara terpusat karena pengendalian
pusat memungkinkan penggunaan saldo kas yang dibutuhkannya untuk menyeibangkan
perbedaan antara arus kas masuk dan arus kas keluar. Saldo kas unit usaha mungkin
hanya akan merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran harian.
Akibatnya, saldo kas aktual pada tingkat unit usaha cenderung jauh lebih kecil
dibandingkan dengan saldo kas yang diperlukan, jika unit usaha merupakan suatu
perusahaan independen. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang menggunakan rumus
untuk menghitung kas yang akan digunaka dalam dasar investasi.
Satu alasan untuk memasukkan kas pada jumlah yang lebih besar dari pada saldo
yang biasanya dipegang oleh suatu unit usaha adalah bahwa jumlah yang lebih besar ini
diperlukan untuk memungkinkan perbandingan dengan perusahaan luar. Hanya jika kas
actual ditunjukkan, tingkat pengembalian dari unit internal akan terlihat sangat tinggi dan
dapat menyesatkan manajemen senior.

Piutang
Memasukkan unsur piutang pada harga jual atau pada harga pokok penjualan
merupakan hal yang masih diperdebatkan. Suatu pihak dapat berargumen bahwa
investasi riil dari suatu unit dalm piutang adalah hanya sebesar harga pokok penjualan
dan bahwa tingkat pengembalian yang memuaskan atas investasi ini mungkin sudah
mencukupi. Di lain pihak, adalah mungkin untuk mengatakan baha unit usaha dapat
menginvestasikkan kembali uang yang diperoleh dari piutang, dank arena itu, piutang
harus dimasukkan pada harga jualnya. Yang biasanya dilakukan adalah mengambil
alternative yang lebih sederhana-yaitu, memasukkan piutang pada nilai buku yang
meupakan haga jual dikurangi penyisihan atas piutang tak tertagih.
Jika unit usaha tersebut tidak mengendalikan kredit maupun penagihannya, maka
piutang dapat dihitung berdasarkan suatu rumus. Rumus ini harus konsisten dengan
periode pembayaran normal-misalnya, penjualan 30 hari dimana pembayaran biasanya
dilakukan 30 hari setelah barang dikirim.

5
Persediaan
Persediaan biasanya diperlakukan sama seperti piutang yaitu, dicatat pada jumlah
akhir periode meskipun rata-rata antarperiode lebih baik secara konsep. Jika perusahaan
menggunakan (last in, first out-LIFO) untuk tujuan akuntansi keuangan, maka metode
penilaian lain biasanya digunakan untuk pelaporan laba unit usaha, karena saldo
persediaan LIFO cenderung sangat rendah pada periode terjadinya inflasi.
Jika persediaan barang dalam proses (work-in-process) ditandai melalui pembayaran
di muka (advance payment) atau pembayaran cicilan (progress payment) dari konsumen,
seperti yang biasa terjadi jika barang tersebut membutuhkan waktu produksi yang lama.
Pembayaran tersebut akan dikurangi dari jumlah persediaan kotor (gross inventory
amounts), atau dilaporkan sebagai kewajiban.Beberapa perusahaan mengurangkan utang
usaha dari persediaan dengan dasar bahwa utang mencerminkan pendanaan atas sebagian
persediaan oleh pemasok, tanpa biaya untuk unit usaha.

Modal Kerja secara Umum


Perlakuan atas modal kerja sangatlah bervariasi. Pada satu sisi, perusahaan
memasukkan seluruh aktiva lancar ke dalam dasar investasi dengan tidak mengeliminasi
kewajiban lancar. Metode tersebut adalah beralasan dari sudut pandang motivasional jika
unit-unit usaha tidak dapat mempengaruhi utang atau kewajiban lancar lainnya. Tetapi,
metode tersebut menyatakan terlalu tinggi (overstate) jumlah modal korporat yang
diperlukan untuk mendanai unit usaha, karena kewajiban lancar merupakan sumber
modal, sering kali dengan biaya bunga sama dengan nol. Di lain pihak, seluruh
kewajiban lancar dapat dikurangkan dari aktiva lancar.

Properti, Pabrik, dan Peralatan


Dalam akuntansi keuangan, aktiva tetap awalnya dicatat pada biaya porelahan, dan
biaya ini dihapuskan sepanjang umur ekonomis dan aktiva melalui penyusutan. Hampir
semua perusahaan menggunakan pendekatan yang sama dalam mengukur profitabilitas
atas dasat aktiva dari unit usaha. Hal ini menyebabkan permasalahan serius dalam
penggunaan sistem tersebut untuk tujuan yang dimaksudkan. Permasalahan tersebut akan
dianalisis pada bagian-bagian berikut.

6
- Akuisisi Peralatan Baru
Jika aktiva yang telah disusutkan dimasukkan kedalam dasar investasi pada nilai
buku bersih, maka profitabilitas unit usaha tersebut akan dinyatakan salah saji pada
nilai buku bersih dan para manajer unit usaha akan termotivasi untuk mengambil
keputusan akuisisi yang tepat. Untuk mengilustrasikan bagaimana manajer akan
mengambil keputusan, akan diperlihatkan pada contoh berikut ini:
a. Asumsinya bahwa:
Investasi mesin baru $100.000
Perkiraan kas masuk per tahun $27.000
Masa manfaat 5 tahun
Required return 10 % (Investasinya termasuk baik)
b. Asumsinya bahwa:
- Mesin tersebut dibeli dan perusahaan mengukur dasar aktiva seperti gambar 7.1
- Perusahaan melaporkan penurunan EVA pada tahun pertama.
- Penyusutan dihitung berdasarkan metode garis lurus
Tampilan 3
(dalam ribuan $)

A. Perhitungan ekonomi
Investasi pada mesin 100
Masa manfaat 5 tahun,
Arus kas masuk, $27.000 per tahun
Nilai sekarang dari arus kas masuk ($27.000 x 3,791)* 1024
Nilai sekarang bersih 24
Keputusan: Membeli mesin.

Bagaimana dicerminkan dalam laporan laba rugi unit usaha


Seperti pada Tahun Pertama
Tampilan 7.1 dengan Mesin
pendapatan $1.000 $1.000
pengeluaran, di luar penyusutan $850 $823
penyusutan 50 900 70 893
pendapatan sebelum pajak 100 107
dikurangi beban modal pada tingkat 10% 50 60
50 47

- Nilai Buku Kotor

7
Fluktuasi dalam EVA dan ROI dari tahun ke tahun pada Tampilan 7.4 dapat
dihindari dengan memasukkan unsur aktiva yang dapat disusutkan (depreciable asset)
dalam dasar investasi pada nilai buku kotornya (gross book value), dan bukan nilai
buku bersih (net book value). Beberapa perusahaan melakukan hal ini. Jika hal
tersebut dilakukan pada kasus ini, maka investasi setiap tahunnya adalah sebesar
$100.000 (biaya awalnya), dan pendapatan tambahan adalah sebesar $7.000 (arus kas
masuk sebesar $27.000 penyusutan sebesar $20.000). Meskipun demikian, EVA-nya
akan menurun sebesar $3.000 ($7.000 beban bunga sebesar $10.000), ROI-nya
sebesar 7 persen ($7.000/$100.000).
Tampilan 7.4

Nilai Buku Pendapatan


Awal Beban
Inkremental* EVA ROI
Tahun Modal
Tahun (a) (b) (b-c) (b/a)
1 100 7 10 -3 7%
2 80 7 8 -1 9
3 60 7 6 1 12
4 40 7 4 3 18
5 20 7 2 5 35

Kedua angka tersebut menandakan bahwa prifitabilitas unit usaha tersebut


menurun, yang pada kenyataannya, tidak benar. ROI yang dihitung berdasarkan nilai
buku kotor akan selalu menyatakan terlalu rendah tingkat pengembalian sebenarnya.

- Disposisi Aktiva
Jika satu mesin baru dianggap akan menggatikan mesin yang telah ada dan yang
masih memiliki nilai buku yang belum disusutkan, diketahui bahwa nilai tersebut
tidak relevan dalam analisis ekonomi atas usulan pembelian (bahwa secara tidak
langsung hal tersebut mempengaruhi pajak penghasilan). Tetapi, menghilangkan nilai
buku dari aktiva lama dapat mempengaruhi perhitungan profitabilitas unit usaha
secara substansial. Nilai buku kotor akan meningkat hanya sebesar selisih antara nilai
buku bersih setelah tahun pertama dan mesin yang baru dengan nilai buku bersih dan
mesin yang lama.

8
Secara total, jika aktiva dimasukkan kedalam dasar investasi pada biaya awalnya,
maka manajer unit usaha akan termotivasi untuk menghilangkan aktiva tersebut
meskipun aktiva it memiliki suatu kegunaan karena dasar investasi unit usaha akan
berkurang sejumlah biaya penuh dari aktiva tersebut.

- Penyusutan Anuitas
Jika penyusutan ditentukan oleh metode anuitas, dan bukan oleh garis lurus maka
perhitungan profitabilitas unit usaha akan menentukan EVA dan ROI yang tepat,
sebagaimana ditunjukkan di Tampilan 7.5 dan 7.6. Hal ini disebabkan karena metode
penyusutan anuitas sesungguhnya mengaitkan pengembalian investasi yang implisit
dalam perhitungan nilai sekarang. Penyusutan anuitas merupakan kebalikan dari
penyusustan yang dipercepat, dimana jumlah penyusutan tahunan adalah rendah pada
tahun-tahun pertama ketika nilai investasinya masih tinggi dan meningkat setiap
tahunnya seiring dengan menurunnya nilai investasi, tetapi tingkat pengembalian hasil
tetap konstan.
Tampilan 7.5 dan 7.6 menunjukkan perhitungan ketika jumlah arus kas masuk
sama setiap tahunnya. Persamaan-persamaan yang akan menurunkan penyusutan
untuk pola arus kas lain, seperti penurunan arus kas ketika biaya perbaikan naik, atau
peningkatan arus ketika produk baru mulai diterima pasar.
Tampilan 7.5
Nilai Arus
Beban
Buku Kas
Tahun Awal Masuk EVA* Modal Penyusutan
1 $100,0 $27,0 $0,6 $10,0 $16,4
2 83,6 27 0,6 8,4 18
3 65,6 27 0,6 6,6 19,8
4 45,8 27 0,6 4,6 21,8
5 24 27 0,6 2,4 24
Total $135,0 $3,0 $32,0 $100,0
Tampilan 7.6
Tingkat
Nilai Arus Pengembalian
Laba
Buku Kas atas
Tahun Awal Masuk Bersih* Penyusutan Investasi Awal
1 $100,0 $27,0 $11,0 $16,0 11%
2 84 27 9,2 17,8 11
3 66,2 27 7,3 19,7 11

9
4 46,5 27 5,1 21,9 11
5 24,6 27 2,4 24,6 10
Total $135,0 $35,0 $100,0 10%
- Metode Penilaian yang Lain
Beberapa perusahaan menggunakan nilai buku bersih tetapi menetapkan batas
bawah, biasanya 50 persen, sebagai biaya awal yang dapat dihapus. Hal ini
mengurangi distorsi yang terjadi dalam unit usaha yang memiliki aktiva yang tua.
Kesulitan dalam metode ini adalah bahwa suatu unit usaha dengan aktiva tetap yang
memiliki nilai buku bersih diatas 50 persen nilai buku kolomnya dapat mengurangi
dasar investasi dengan sepenuhnya membuang aktiva-aktiva yang masih bagus.
Perusahaan-perusahaan lain sama sekali tidak menggunakan catatan akuntansi dan
menggunakan estimasi nilai sekarang (current value) dari aktiva. Perusahaan-
perusahaan memperoleh jumlah tersebut dengan menggunakan investasi berkala,
dengan menyesuaikan biaya awal menggunakan suatu indeks perubahan pada harga
peralatan atau dengan menggunakan nilai estimasi.
Permasalahan dalam menggunakan nilai-nilai nonakuntansi adalah yang tampak
lebih objektif dan umumnya tidak menimbulkan pertentangan. Akibatnya, data
akuntansi memiliki aura realitas bagi manajemen operasi. Masalah yang berkaitan
dengan penggunaan jumlah nonakuntansi dalam system internal adalah bahwa
profitabilitas unit usaha tidak akan konsisten dengan profitabilitas perusahaan yang
dilaporkan kepada para pemegang saham.

Asset-aset yang disewagunausahakan


Dampak dari Sewa Guna Usaha atas Aktiva Laporan Rugi (dalam ribuan $)

Jika Aset
Tampilan 7.1 Disewagunausahakan
Pendapatan 1,000 1,000
Pengeluaran selain di bawah
ini 850 850
Penyusutan 50 900
Beban Sewa 60 910
Laba sebelum pajak 100 90
Beban modal $500 x 10% 50
$200 x 10% 20
EVA 50 70

10
Banyak perjanjian sewa guna usaha merupakan perjanjian pendanaan yaitu
perjanjian tersebut memberikan cara alternatif untuk menggunakan aktiva yang
seharusnya didapatkan dari pendanaan dengan utang dan modal. Sewa guna usaha jangka
panjang yang setara dengan nilai sekarang dari arus beban sewa adalah sama dengan
utang dan dilaporkan pula dalam neraca. Keputusan pendanaan biasanya dilakukan oleh
kantor pusat. Karena alasana tersebut, pembatasan biasanya diberlakukan pada
kebebasan manejer unit usaha untuk melakukan sewa guna usaha atas aktiva.

Aktiva yang menganggur


Jika suatu unit usaha memiliki aktiva yang menganggur (idle assets) yang dapat
digunakan oleh unit lain, maka unit usaha tersebut dapat diperbolehkan untuk
mengeluarkan aktiva tersebut dari dasar investasinya. Tujuan dari izin ini adalah untuk
mendorong para manajer unit usaha guna melepas aktiva menganggur ke unit lain yang
mungkin menggnakannya. Tetapi, jika aktiva tersebut tidak dapat digunakan oleh unit
lain, maka pemberian izin untuk menjual/mengganti aktiva tersebut akan menimbulkan
tindakan-tindakan yang disfungsional.

Aktiva tidak berwujud


Ada keuntungan dalam mengkapitalisasi aktiva tidak berwujud seperti (R&D) dan
pemasaran, serta kemudian mengamortisasinya selama masa manfaatnya. Metode
tersebut akan mengubah cara para manajer unit usaha memandang pengeluaran semacam
ini. Dengan menghitung aktiva semacam ini sebagai investasi jangka penjang, manajer
unit usaha akan memperoleh manfaat jangka pendek yang lebih sedikit dari pengurangan
atas pengeluaran untuk pos tersebut.

Kewajiban Tidak Lancar


Suatu unit usaha menerima modal permanennya dari kumpulan dana korporat.
Korporat memperoleh dana tersebut dari pemberi pinjaman, investor modal, dan laba
ditahan. Bagi unit usaha, jumlah total dari dana tersebut adalah relevan tetapi tidak
dengan sumber daya dari mana dana tersebut berasal. Meskipun demikian dalam situasi
yang tidak lazim pendanaan suatu unit usaha mungkin saja merupakan hal yang aneh
bagi unit usaha itu sendiri.

11
Beban Modal
Kantor pusat korporat menentukan tarif (rate) yang digunakan untuk menghitung
beban modal (capital charge). Tarif tersebut seharusnya lebih tinggi daripada tarif
korporat untuk pendanaan dengan utang karena dana yang terlibat merupakan campuran
antara utang dan modal berbiaya lebih tinggi (higher-cost equity). Biasanya tarif tersebut
ditetapkan di bawah estimasi biaya modal perusahaan sehingga EVA atas rata-rata unit
usaha berada di atas nol.Beberapa perusahaan menggunakan tarif yang lebih rendah
untuk modal kerja daripada untuk aktiva tetap. Hal ini dapat mencerminkan penilaian
bahwa modal kerja lebih kecil risikonya daripada aset tetap, karena dananya disalurkan
untuk periode yang lebih pendek.

Survei-survei Praktik
Kebanyakan perusahaan memasukkan unsur aktiva tetap ke dalam dasar investasi
pada nilai buku bersih. Perusahaan-perusahaan tersebut melakukannya karena ini
merupakan jumlah dengan mana aktiva tersebut dicatat dalam laporan keuangan, dan
oleh karenanya, sesuai dengan laporan keuangan tersebut,mencerminkan jumlah modal
yang digunakan dalam divisi tersebut.

Aktiva-aktiva yang Termasuk dalam Dasar Investasi

Persentase Responden
yang Memasukkan
Aktivanya ke dalam dasar
akuntansi
Amerika
Serikat Belanda
Aktiva Lancar
Kas 47% 59%
Piutang 90% 94%
Persediaan 95% 93%
Aktiva lancar lainnya 83% 79%
Aktiva Tetap
Tanah dan bangunan yang digunakan
sendiri oleh pusat laba tersebut 97% 82%
Alokasi tanah dan bangunan yang
digunakan oleh dua pusat laba atau lebih 49% 47%

12
Peralatan yang digunakan oleh pusat laba
tersebut 96% 88%
Alokasi peralatan yang digunakan oleh
dua pusat laba atau lebih 48% 46%
Sebuah alokasi aset untuk sentra riset
kantor pusat 19% 16%
Lain-lain
Investasi 53% Tidak ada
Goodwill 55% Tidak ada

Kewajiban yang Dikurangka dalam Menghitung Dasar Investasi

Persentase Responden yang


Memasukkan Kewajibannya ke
dalam dasar akuntansi
Amerika
Serikat Belanda

Utang usaha 73% 91%


Utang intraperusahaan 46% 57%
Kewajiban lancar lainnya 68% 69%
Utang pajak 28% Tidak ada
Kewajiban tak lancar lainnya 47% 58%

C. EVA vs. ROI


Ada tiga keuntungan dari ROI, yaitu:
1. ROI merupakan pengukuran yang komprehensif dimana semua mempengaruhi
laporan keuangan tercermin dari rasio ini.
2. ROI mudah dihitung mudah dipahami, dan sangat berarti dalam pengertian absolut.
3. ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke setiap unit organisasi yang
bertanggung jawab terhadap profitabilitas, tanpa mempedulikan ukuran dan jenis
usahanya.
EVA tidak memberikan dasar perbandingan semacam ini. Tetapi, pendekatan EVA juga
memiliki beberapa keunggulan. Ada empat alasan yang membuatnya lebih unggul dari ROI,
yaitu:

13
1. Dengan EVA seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk perbandingan
investasi. Di lain phak, pendekatan ROI memberikan insentif yang berbeda untuk
investasi di antara unit-unit usaha.
2. Keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI suatu pusat investasi dapat
menurunkan laba keseluruhan.
3. EVA adalah tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis aktiva yang
berbeda pula. Dengan demikian, para manajer unit usaha harus bertindak secara
konsisten ketika memutuskan untuk berinvestasi pada aktiva yang baru.
4. EVA, berlawanan dengan ROI, memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap
perubahan-perubahan dalam nilai pasar perusahaan. Para pemegang saham
merupakan pemilik kepentingan (stakeholder) yang penting dalam perusahaan. Ada
beberapa alasan mengapa penciptaan nilai pemegang saham menjadi sangat penting
bagi perusahaan:
a) mengurangi risiko pengambilalihan (takeover),
b) menciptakan nilai tukar untuk agresivitas dalam merger dan akuisisi, dan
c) mengurangi biaya modal, sehingga memungkinkan investasi yang lebih cepat
untuk pertumbuhan masa depan.

EVA memecahkan permasalahan mengenai perbedaan tujuan laba untuk aktiva yang
sama dalam unit usaha yang berbeda dan tujuan laba yang sama untuk aktiva berbeda pada
unit usaha sama . metode tersebut memungkinkan untuk memasukkan peraturan keputusan
yang sama dengan yang digunakan dalam proses perencanaan kedalam system pengukuran.
Semakin rumit proses perencanaan, semakin rumit juga perhitungan EVA-nya.

EVA diukur dengan cara sebagai berikut:


EVA = Laba bersih Beban modal
Atau
EVA = Modal yang digunakan (ROI- Biaya modal)

D. Pertimbangan tambahan dalam mengevaluasi manajer

Dengan melihat kelemahan ROI, kelihatannya mengejutkan bahwa ROI digunakan


secara luas. Diketahui dari pengalaman pribadi bahwa kesalahan konseptual ROI untuk
evaluasi kinerja adalah nyata dan menyebabkan timbulnya prilaku disfungsional dari para
manajer unit usaha. Tetapi, cakupan dari kesalahan tersebut tidak dapat ditentukan karena
hanyasedikit jumlah manajeryang mau mengakui adanya kesalahn tersebut dan banyak yang
tidak menyadari bahwa kesalahan tersebut terjadi.

14
Penggunaan EVA sebagai perangkat pengukuran kinerja sangat disarankan. Tetapi,
EVA tidak menyelesaikan seluruh masalah yang berkaitan dengan perhitungan aktiva tetap,
seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, kecuali metode penyusutan anuitas (annuity
depreation) dipergunakan, dan hal ini jarang dilakukandalam praktik bisnis sehari-hari.

Dengan pertimbangan hal ini, beberapa perusahaan memutuskan untuk mengeluarkan


unsur aktiva tetap dari dasar investasi. Perusahaan-perusahaan tersebut membebankan beban
bunga hanya untuk aktiva yang dapat dikendalikan, dan mengendalikan aktiva tetap dengan
perangkat terpisah. Aktiva yang dapat dikendalikan pada dasarnya merupakan modal kerja.
Investasi dalam aktiva tetap akan dikendalikan oleh proses anggaran modal sebelum
terjadinya dan oleh audit setelah penyelesaian (postcomletion audit) untuk menentukan
apakah ada arus kas yang diantisipasi terwujud. Hal tersebut jauh dari memuaskan karena
penghematan atau pendapatan actual dari akuisisi aktiva tetap tidak dapat diidentifikasikan.

E. Mengevaluasi kinerja ekonomi suatu entitas

Laporan-laporan manajerial dibuat bulanan atau kuartalan sementara laporan kinerja


ekonomi biasanya dibuat dengan senggang waktu yang tidak tetap, biasanya sekali dalam
selang beberapa tahun. Laporan-laporan manajer cenderung menggunakan informasi historis
atas biaya aktual yang terjadi, sedangkan laporan-laporan ekonomi menggunakn informasi
yang cukup berbeda. Pada bagian ini akan dibahas tujuan dan sifat informasi ekonomi.

Laporan-laporan ekonomi merupakan instrument yang diagnostic. Laporan tersebut


memberikan indikasi apakah strategi unit usaha yang sekarang sudah memuaskan dan jika
tidak, keputusan apa yang harus diambil untuk unit usaha tersebut, memperbesarnya,
memperkecil, mengubah arah, atau menjualnya. Analisis ekonomi atas suatu unit usaha dapat
memperlihatkan bahwa rencana yang sekarang atas produk-produk, pabrik dan peralatan
baru, atau strategi baru yang lain, bila dilihat secara keseluruhan tidak menghasilkan laba
yang memuaskan dimasa depan, meskipun laba tersebut kelihatannya dapat dihasilkan bila
masing-masing keputusan dilakukan secara terpisah.

Laporan-laporan ekonomi dapat dijadikan dasar untuk memperoleh nilai perusahaan


secara keseluruhan. Nilai semacam ini disebut breakup value- yaitu, estimasi jumlah yang
akan diterima oleh para pemegang saham jika masing-masing unit usaha dijual. Breakup
value berguna bagi organisasi luar yang sedang akan membuat penawaran pengambilalihan

15
perusahaan, dan tentu saja, laporan ini juga berguna bagi pihak manajemen dalam menilai
suatu tawaran.

Perbedaan yang paling nyata antara kedua jenis laporan tersebut adalah bahwa
laporan ekonomi lebih terfokus pada profitabilitas dimasa depan daripada profitabilitas yang
sekarang atau yang lalu. Nilai buku dari aktiva dan penyusutan berdasarkan biaya historis
dari aktiva tersebut digunakan dalam laporan kinerja para manajer, meskipun keterbatasannya
diketahui. Informasi ini tidaklah relevan untuk laporan yang memperkirakan masa depan
dalam laporan tersebut, penekanannya adalah pada biaya penggantian (replacement cost).

16
KESIMPULAN

Pusat-pusat investasi menghadapi permasalah baru mengenai bagaimana mengukur


aset yang digunakan khususnya aset mana yang dilibatkan, bagaimana menilai aset tetap dan
aset lancar, metode depresiasi apa yang akan digunakan aset tetap, aset perusahaan mana
yang harus dialokasikan dan kewajiban mana yang harus dikurangi.
Sebuah tujuan penting dari suatu organisasi bisnis adalah untuk mengoptimalkan
return atas ekuitas pemegang saham (yaitui, net present value dari arus kas di masa depan).
Sangat tidak praktis untuk menggunakan pengukuran semacam ini untuk mengevaluasi
kinerja para manajer unit usaha dengan basi bulanan atau triwulan. Menghitung rate of return
adalah pengukuran yang paling baik untuk kinerja para manajer unit usaha. Nilai tambah
ekonomis (economic value added/EVA) secara konsep lebih unggul daripada tingkat
pengendalian investasi (return on investment/ROI) dalam mengevaluasi para manajer unit
usaha.
Sebagai tambahan unsur dalam laporan laba rugi, ketika kita menentukan sasaran loba
tahunan, maka harus ada tarif bunga yang eksplisit terhadap saldo yang diproyeksikan atas
unsur modal kerja yang terkendali, khususnya piutang dan persediaan. Ada perdebatan yang
cukup alot tentang pendekatan yang tepat bagi manajemen dalam mengontrol aset tetap.
Melaporkan kinerja ekonomi dari suatu pusat investasi berbeda dengan melaporkan kinerja
manajer yang berwenang dalam pusat investasi tersebut.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Robert N dan Vijay Govindarajan. 2005. Management Control System : Sistem
Pengendalian Manajemen Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

Umar, Utami Rizki. 2014. Mengukur dan Mengendalikan Aktiva yang Dikelola. [Online].
Tersedia dalam: http://mimiakuntansi.blogspot.co.id/2014/03/mengukur-dan-
mengendalikan-aktiva-yang.html. [2 Oktober 2016].

18