Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia
yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga1550 M. Kerajaan ini mencapai
puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang
luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun
1350 hingga1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir
yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar
dalam sejarah Menurut Negarakertagama, kekuasaannya terbentang di Jawa,
Sumatra, Semenanjung, Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun
wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.
Hanya terdapat sedikit bukti fisik dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit, dan
sejarahnya tidak jelas.Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah
Pararaton ('Kitab Raja-raja') dalam bahasa Kawai dan Nagarakretagama dalam
bahasa Jawa Kuno. Pararaton terutama menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan
Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya
Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang
ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.
Setelah masa iCtu, hal yang terjadi tidaklah jelas. Selain itu, terdapat beberapa
prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan
negara-negara lain.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit ?
2. Dimanakah Letak Wilayah Kerajaan Majapahit ?
3. Darimanakah Sumber-sumber Sejarah Kerajaan Majapahit ?
4. Siapa saja Silsilah Raja-raja Kerajaan Majapahit ?
5. Prasasti apa saja yang berada di Kerajaan Majapahit ?
6. Bagaimana Kehidupan di Kerajaan Majapahit ?
7. Apa penyebab runtuhnya Kerajaan Majapahit ?

1
C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit ?
2. Untuk mengetahui Letak Wilayah Kerajaan Majapahit ?
3. Untuk mengetahui Sumber-sumber Sejarah Kerajaan Majapahit ?
4. Untuk mengetahui Silsilah Raja-raja Kerajaan Majapahit ?
5. Untuk mengetahui Prasasti di Kerajaan Majapahit ?
6. Untuk mengetahui Kehidupan di Kerajaan Majapahit ?
7. Untuk mengetahui runtuhnya Kerajaan Majapahit ?

D. Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan kita
tentang sejarah Kebudayaan Majapahit.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit


Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling
kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di
Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang
menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak
untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak
wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu
memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan
membunuh Kertanegara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan
pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang
menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke Daha, yang membawa
surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada
Jayakatwang. Jawaban dari surat di atas disambut dengan senang hati. Raden
Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa
baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa
"pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan
pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Setelah berhasil
menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya
sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-
kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan
terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka
terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit
adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika
tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia
dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini
menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa, termasuk

3
Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun
pemberontakan tersebut tidak berhasil. Pemberontakan Ranggalawe ini didukung
oleh Panji Mahajaya, Ra Arya Sidi, Ra Jaran Waha, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra
Gelatik, dan Ra Tati. Semua ini tersebut disebutkan dalam Pararaton. Slamet
Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi
untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi
tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir
(Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya
meninggal dunia pada tahun 1309.
Putra dan penerus Wijaya adalah Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala
Gemet, yang berarti "penjahat lemah". Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun
pemerintahan Jayanegara, seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone
mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh
oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya
menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana
dan menjadi bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana
Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana
menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada saat pelantikannya Gajah Mada
mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan
kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan
Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di
kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya
pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

B. Letak dan Wilayah


Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia,
yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan Majapahit
Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana
yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang
menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam

4
sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung
Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya
masih diperdebatkan.

Peta wilayah kekuasaan Majapahit berdasarkan Nagarakertagama; keakuratan wilayah


kekuasaan Majapahit menurut penggambaran orang Jawa masih diperdebatkan

C. Sumber-sumber Sejarah
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit
berasal dari berbagai sumber yakni :
1. Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya
setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa
keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan
kerajaan
2. Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini
menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun-
tahun awal perkembangan Majapahit
3. Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan
Majapahit
4. Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam
Wuruk ke Jawa Timur.

5
D. Silsilah Raja-raja Majapahit

Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat


periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan
Girishawardhana yg mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yg memecahkan
keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.
1. Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
2. Kalagamet bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
3. Sri Gitarja bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
4. Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
5. Wikramawardhana (1389 - 1429)
6. Suhita (1429 - 1447)
7. Kertawijaya bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
8. Rajasawardhana bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
9. Purwawisesa atau Girishawardhana bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
10. Pandanalas atau Suraprabhawa bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
11. Kertabumi bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
12. Girindrawardhana bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
13. Hudhara bergelar Brawijaya VII (1498-1518)

6
E. Prasasti Prasasti Kerajaan Majapahit
Prasasti adalah bukti sumber tertulis
yang sangat penting dari masa lalu
yang isinya antara lain mengenai
kehidupan masyarakat misalnya
tentang administrasi dan birokrasi
pemerintahan, kehidupan ekonomi,
pelaksanaan hukum dan keadilan,
sistem pembagian bekerja,
perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat (Noerhadi 1977: 22).
Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak
berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau sima.
Meskipun demikian, banak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara
lain, yaitu:
1. Prasasti Kudadu (1294 M)
Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang
telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang
setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana
Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya
(Rama) diberi hadiah tanah sima.
2. Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara
yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka
Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi
Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadni Dyah Dewi Gayatri, serta
menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan
raja muda di Daha.
3. Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit
yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang
bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre

7
Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga,
Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura,
Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
4. Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan
garam dan ketentuan pajaknya.
5. Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt) Mengenai sengketa tanah,
persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-
kitab hukum adat setempat.
6. Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang
meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai
tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah
Gunung Lejar.
7. Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai
Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan
dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
8. Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino
Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi
daerah perdikan.
9. Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan
tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk
Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah
doa (Kuti).

8
10. Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra,
raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca
Mahaksobhya di Wurare. Gelar raja itu ialah Krtanagara setelah ditahbiskan
sebagai Jina (dhyani Buddha).
11. Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana
memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.
12. Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai
Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi
kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi
diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara
keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa
tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi,
penguasa tempat penyeberangan di Terung.

F. Kehidupan di Kerajaan Majapahit


1. Kehidupan Politik
Kehidupan politik Kerajaan Majapahit berhubungan pemerintahan dan
kepemimpinan rajanya. Raja-raja itu antara lain:
a. Raden Wijaya
Berdirinya Kerajaan Majapahit sangat berhubungan dengan runtuhnya
Kerajaan Singasari. Kerajaan Singasari runtuh setelah salah satu raja
vasalnya yaitu Jayakatwang mengadakan pemberontakan. Kerajaan
Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja
Singasari terakhir yaitu Kertanegara. Raden Wijaya beserta istri dan
pengikutnya dapat meloloskan diri ketika Singasari diserang Jayakatwang.
Raden Wijaya meloloskan diri dan pergi ke Madura untuk menemui dan
meminta perlindungan Bupati Sumenep dari Madura yaitu Aryawiraraja.
Berkat Aryawiraraja juga, Raden Wijaya mendapat pengampunan dari

9
Jayakatwang, bahkan Raden Wijaya sendiri diberi tanah di hutan Tarik
dekat Mojokerto yang kemudian daerah itu dijadikan sebagai tempat
berdirinya kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya kemudian menyusun kekuatan di Majapahit dan
mencari saat yang tepat untuk menyerang balik Jayakatwang. Untuk itu, dia
mencoba mencari dukungan kekuatan dari raja-raja yang masih setia pada
Singasari atau raja yang kurang senang pada Jayakatwang. Kesempatan
untuk menghancurkan Jayakatwang akhirnya muncul setelah tentara
Mongol mendarat di Jawa untuk menyerang Kertanegara. Keadaan seperti
ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya dengan cara memperalat mereka untuk
menyerang Jayakatwang. Raden Wijaya bersama-sama dengan pasukan
Kubhilai Khan berhasil mengalahkan pasukan Jayakatwang. Begitu pula
Jayakatwang berhasil ditangkap dan lalu dibunuh oleh pasukan Kubhilai
Khan.
Setelah Jayakatwang terbunuh, lalu Raden Wijaya melakukan
serangan balik terhadap pasukan Kubhilai Khan. Raden Wijaya berhasil
memukul mundur pasukan Kubhilai Khan, sehingga mereka terpaksa
menyelamatkan diri keluar Jawa. Setelah berhasil mengusir pasukan
Kubhilai Khan, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit pada
tahun 1293 M dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.
Sebagai seorang raja yang besar, Raden Wijaya memperistri empat
putri Kertanegara sebagai permaisurinya. Dari Tribuana, ia mempunyai
seorang putra yang bernama Jayanegara. Sedangkan dari Gayatri, ia
mempunyai dua orang putri, yaitu Tribuanatunggadewi dan Rajadewi
Maharajasa.
Para pengikut Raden Wijaya yang setia dan berjasa dalam mendirikan
kerajaan Majapahit, diberi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan.
Tetapi ada saja yang tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya. Hal
ini menimbulkan pemberontakan di sana-sini. Pada tahun 1309 M, Raden
Wijaya meninggal dunia dan didarmakan di Antahpura, dekat Blitar. Setelah

10
Raden Wijaya meninggal dunia, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh
Jayanegara dengan gelar Sri Jayanegara.
b. Jayanegera.
Pada masa pemerintahannya, Jayanegara dirongrong oleh serentetan
pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan ini datang dari Ranggalawe
(1309), Lembu Sora (1311), Juru Demung dan Gajah Biru (1314), Nambi
(1316), dan Kuti (1320).
Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling
berbahaya karena Kuti berhasil menduduki ibu kota Majapahit, sehingga
raja Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah Badandea. Jayanegara
diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan Gajah Mada.
Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari Gajah Mada, pemberontakan Kuti
berhasil ditumpas. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada
diangkat menjadi Patih di Kahuripan pada tahun 1321 M dan Patih di Daha
(Kediri).
Pada tahun 1328, Jayanegara tewas dibunuh oleh Tabib Israna
Ratanca, ia didharmakan di dalam pura di Sila Petak dan Bubat. Jayanegara
tidak mempunyai putra, maka takhta kerajaan digantikan oleh adik
perempuannya yang bernama Tribhuanatunggadewi. Ia dinobatkan menjadi
raja Majapahit dengan gelar Tribhuanatunggadewi Jaya Wisnu Wardhani.

c. Tribhuanatunggadewi
Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta
pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada.
Sebagai penghargaan atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih
di Majapahit oleh Tribhuanatunggadewi.
Di hadapan raja dan para pembesar Majapahit, Gajah Mada
mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa. Isi
sumpahnya, ia tidak akan Amukti Palapa sebelum ia dapat menundukkan
Nusantara, yaitu Gurun, Seran, Panjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali,
Sunda, Palembang, dan Tumasik.

11
Dalam rangka mewujudkan cita-citanya, Gajah Mada menaklukkan
Bali pada tahun 1334, kemudian Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi,
Maluku, Sumatra, dan beberapa daerah di Semenanjung Malaka. Seperti
yang tercantum dalam kitab Negarakertagama, wilayah kekuasaan Kerajaan
Majapahit sangat luas, yakni meliputi daerah hampir seluas wilayah
Republik Indonesia sekarang.
Tribhuanatunggadewi memerintah selama dua puluh dua tahun. Pada
tahun 1350, ia mengundurkan diri dari pemerintahan dan digantikan oleh
putranya yang bernama Hayam Wuruk. Pada tahun 1350 M, putra mahkota
Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Sri
Rajasanagara dan ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.
d. Hayam Wuruk
Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk. Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi
seluruh Nusantara. Pada saat itulah cita-cita Gajah Mada dengan Sumpah
Palapa berhasil diwujudkan.
Usaha Gajah Mada dalam melaksanakan politiknya, berakhir pada
tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa di Bubat, yaitu perang antara
Pajajaran dengan Majapahit. Pada waktu itu, Hayam Wuruk bermaksud
untuk menikahi putri Dyah Pitaloka. Sebelum putri Dyah Pitaloka dan
ayahnya beserta para pembesar Kerajaan Pajajaran sampai di Majapahit,
mereka beristirahat di lapangan Bubat. Di sana terjadi perselisihan antara
Gajah Mada yang menghendaki agar putri itu dipersembahkan oleh raja
Pajajaran kepada raja Majapahit. Para pembesar Kerajaan Pajajaran tidak
setuju, akhirnya terjadilah peperangan di Bubat yang menyebabkan semua
rombongan Kerajaan Pajajaran gugur.
Pada tahun 1364 M, Gajah Mada meninggal dunia. Hal itu merupakan
kehilangan yang sangat besar bagi Majapahit. Kemudian pada tahun 1389
Raja Hayam Wuruk meninggal dunia. Hal ini menjadi salah satu penyebab
surutnya kebesaran Kerajaan Majapahit di samping terjadinya pertentangan
yang berkembang menjadi perang saudara.

12
Setelah Hayam Wuruk meninggal, takhta Kerajaan Majapahit
diduduki oleh Wikramawardhana. Ia adalah menantu Hayam Wuruk yang
menikah dengan putrinya yang bernama Kusumawardhani. Ia memerintah
Kerajaan Majapahit selama dua belas tahun.
Pada tahun 1429 M, Wikramawardhana meninggal dunia. Selanjutnya
raja-raja yang memerintah Majapahit setelah Wikramawardhana adalah:
1) Suhita (1429 M 1447 M), putri Wikramawardhana;
2) Kertawijaya (1448 M 1451 M), adik Suhita;
3) Sri Rajasawardhana (1451 M 1453 M);
4) Girindrawardhana (1456 M 1466 M), anak dari Kertawijaya;
5) Sri Singhawikramawardhana (1466 M 1474 M);
6) Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.
2. Kehidupan Ekonomi
Majapahit merupakan negara agraris dan juga sebagai negara maritim.
Kedudukan sebagai negara agraris tampak dari letaknya di pedalaman dan
dekat aliran sungai. Kedudukan sebagai negara maritim tampak dari
kesanggupan angkatan laut kerajaan itu untuk menanamkan pengaruh
Majapahit di seluruh nusantara. Dengan demikian, kehidupan ekonomi
masyarakat Majapahit menitikberatkan pada bidang pertanian dan pelayaran.
Udara di Jawa panas sepanjang tahun. Panen padi terjadi dua kali dalam
setahun, butir berasnya amat halus. Terdapat pula wijen putih, kacang hijau,
rempah-rempah, dan lain-lain kecuali gandum. Buah-buahan banyak jenisnya,
antara lain pisang, kelapa, delima, pepaya, durian, manggis, langsa, dan
semangka. Sayur mayur berlimpah macamnya. Jenis binatang juga banyak.
Untuk membantu pengairan pertanian yang teratur, pemerintah Majapahit
membangun dua buah bendungan, yaitu Bendungan Jiwu untuk persawahan
dan Bendungan Trailokyapur untuk mengairi daerah hilir. Majapahit memiliki
mata uang sendiri yang bernama gobog. Gobog merupakan uang logam yang
terbuat dari campuran perak, timah hitam, timah putih, dan tembaga.
Bentuknya koin dengan lubang di tengahnya. Dalam transaksi perdagangan,
selain menggunakan mata uang gobog, penduduk Majapahit juga

13
menggunakan uang kepeng dari berbagai dinasti. Menurut catatan Wang Ta-
yuan seorang pedagang dari Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu
ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Sedangkan komoditas impornya
adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi.
3. Kehidupan Sosial Budaya
Pola tata masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan
masyarakat yang perbedaannya lebih bersifat statis. Walaupun di Majapahit
terdapat empat kasta seperti di India, yang lebih dikenal dengan catur warna,
tetapi hanya bersifat teoritis dalam literatur istana. Pola ini dibedakan atas
empat golongan masyarakat, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.
Namun terdapat pula golongan yang berada di luar lapisan ini, yaitu Candala,
Mleccha, dan Tuccha, yang merupakan golongan terbawah dari lapisan
masyarakat Majapahit. Brahmana (kaum pendeta) mempunyai kewajiban
menjalankan enam dharma, yaitu: mengajar; belajar; melakukan persajian
untuk diri sendiri dan orang lain; membagi dan menerima derma (sedekah)
untuk mencapai kesempurnaan hidup; dan bersatu dengan Brahman (Tuhan).
Mereka juga mempunyai pengaruh di dalam pemerintahan, yang berada pada
bidang keagamaan dan dikepalai oleh dua orang pendeta tinggi, yaitu pendeta
dari agama Siwa (Saiwadharmadhyaksa) dan agama Buddha
(Buddhadarmadyaksa). Saiwadyaksa mengepalai tempat suci (pahyangan) dan
tempat pemukiman empu (kalagyan). Buddhadyaksa mengepalai tempat
sembahyang (kuti) dan bihara (wihara). Menteri berhaji mengepalai para ulama
(karesyan) dan para pertapa (tapaswi). Semua rohaniawan menghambakan
hidupnya kepada raja yang disebut sebagai wikuhaji. Para rohaniawan biasanya
tinggal di sekitar bangunan agama, yaitu: mandala, dharma, sima, wihara, dan
sebagainya. Kaum Ksatria merupakan keturunan dari pewaris tahta (raja)
kerajaan terdahulu, yang mempunyai tugas memerintah tampuk pemerintahan.
Keluarga raja dapat dikatakan merupakan keturunan dari kerajaan Singasari-
Majapahit yang dapat dilihat dari silsilah keluarganya dan keluarga-keluarga
kerabat raja tersebar ke seluruh pelosok negeri, karena mereka melakukan
sistem poligami secara meluas yang disebut sebagai wargahaji atau sakaparek.

14
Semua anggota keluarga raja masing-masing diberi nama atas gelar, umur, dan
fungsi mereka di dalam masyarakat. Pemberian nama pribadi dan nama gelar
terhadap para putri dan putra raja didasarkan atas nama daerah kerajaan yang
akan mereka kuasai sebagai wakil raja.
Waisya merupakan masyarakat yang menekuni bidang pertanian dan
perdagangan. Mereka bekerja sebagai pedagang, peminjam uang, penggara
sawah, dan beternak.
Kemudian kasta yang paling rendah dalam catur warna adalah kaum
sudra yang mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada kasta yang lebih
tinggi, terutama pada golongan brahmana.
Golongan terbawah yang tidak termasuk dalam catur warna dan sering
disebut sebagai pancama (warna kelima), yaitu:
a. Candala merupakan anak dari perkawinan campuran antara laki-laki
(golongan sudra) dengan wanita (dari ketiga golongan lainnya: brahmana,
waisya, dan waisya). Sehingga sang anak mempunyai status yang lebih
rendah dari ayahnya.
b. Mleccha adalah semua bangsa di luar Arya tanpa memandang bahasa dan
warna kulit, yaitu para pedagang-pedagang asing (Cina, India, Champa,
Siam, dll.) yang tidak menganut agama Hindu.
c. Tuccha ialah golongan yang merugikan masyarakat, salah satu contohnya
adalah para penjahat. Ketika mereka diketahui melakukan tatayi, maka raja
dapat menjatuhi hukuman mati kepada pelakunya. Perbuatan tatayi adalah
membakar rumah orang, meracuni sesama, mananung, mengamuk, merusak,
dan memfitnah kehormatan perempuan.
Dari aspek kedudukan dalam masyarakat Majapahit, wanita mempunyai
status yang lebih rendah dari para lelaki. Hal ini terlihat pada kewajiban
mereka untuk melayani dan menyenangkan hati para suami mereka saja.
Wanita tidak boleh ikut campur dalam urusan apapun, selain mengurusi dapur
rumah tangga mereka. Dalam undang-undang Majapahit pun para wanita yang
sudah menikah tidak boleh bercakap-cakap dengan lelaki lain, dan sebaliknya.

15
Hal ini bertujuan untuk menghindari pergaulan bebas antara kaum pria dan
wanita.
Pada masa Majapahit bidang seni budaya berkembang pesat, terutama
seni sastra. Karya seni sastra yang dihasilkan pada masa zaman awal
Majapahit, antara lain sebagai berikut:
a. Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada tahun 1365. Isinya
menceritakan hal-hal sebagai berikut:
1) Sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit dengan masa pemerintahannya.
2) Keadaan kota Majapahit dan daerah-daerah kekuasaannya.
3) Kisah perjalanan Raja Hayam Wuruk ketika berkunjung ke daerah
kekuasaannya di Jawa Timur beserta daftar candi-candi yang ada.
4) Kehidupan keagamaan dengan upacara-upacara sakralnya, misalnya
upacara Srrada untuk menghormati roh Gayatri dan menambah kesaktian
raja.
b. Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Kitab tersebut berisi riwayat
Sutasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Buddha.
c. Kitab Arjunawijaya karangan Empu Tantular. Kitab tersebut berisi tentang
riwayat raja raksasa yang berhasil ditundukkan oleh Raja Arjunasasrabahu.
d. Kitab Kunjarakarna dan Parthayajna, tidak jelas siapa pengarangnya. Kitab
itu berisi kisah raksasa Kunjarakarna yang ingin menjadi manusia, dan
pengembaraan Pandawa di hutan karena kalah bermain dadu dengan
Kurawa.
Sedangkan, karya seni sastra yang dihasilkan pada zaman akhir
Majapahit antara lain, sebagai berikut:
a. Kitab Pararaton, isinya menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan
Majapahit.
b. Kitab Sudayana, isinya tentang Peristiwa Bubat.
c. Kitab Sorandakan, isinya tentang pemberontakan Sora.
d. Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe.
e. Kitab Panjiwijayakrama, isinya riwayat R.Wijaya sampai dengan menjadi
Raja Majapahit.

16
f. Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan
Aryadamar.
g. Kitab Tantu Panggelaran, tentang pemindahan gunung Mahameru ke Pulau
Jawa oleh Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Di samping seni sastra, seni bangunan juga berkembang pesat.
Bermacam-macam candi didirikan dengan ciri khas Jawa Timur, yaitu dibuat
dari bata, misalnya Candi Panataran, Candi Tigawangi, Candi Surawana, Candi
Jabung, dan Gapura Bajang Ratu.
4. Kehidupan Agama
Pada masa Kerajaan Majapahit berkembang agama Hindu Syiwa dan
Buddha. Kedua umat beragama itu memiliki toleransi yang besar sehingga
tercipta kerukunan umat beragama yang baik. Raja Hayam Wuruk beragama
Syiwa, sedangkan Gajah Mada beragama Buddha. Namun, mereka dapat
bekerja sama dengan baik. Rakyat ikut meneladaninya, bahkan Empu Tantular
menyatakan bahwa kedua agama itu merupakan satu kesatuan yang disebut
SyiwaBuddha. Hal itu ditegaskan lagi dalam Kitab Sutasoma dengan kalimat
Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. Artinya, walaupun
beraneka ragam, tetap dalam satu kesatuan, tidak ada agama yang mendua.
Urusan keagamaan diserahkan kepada pejabat tinggi yang disebut
Dharmmaddhyaksa. Jabatan itu dibagi dua, yaitu Dharmmaddhyaksa Ring
Kasaiwan untuk urusan agama Syiwa dan Dharmmaddhyaksa Ring Kasogatan
untuk urusan agama Buddha. Kedua pejabat itu dibantu oleh sejumlah pejabat
keagamaan yang disebut dharmmaupatti. Pejabat itu, pada zaman Hayam
Wuruk yang terkenal ada tujuh orang yang disebut sang upatti sapta. Di
samping sebagai pejabat keagamaan, para upatti juga dikenal sebagai
kelompok cendekiawan atau pujangga. Misalnya, Empu Prapanca adalah
seorang Dharmmaddhyaksa dan juga seorang pujangga besar dengan kitabnya
Negarakertagama.
Untuk keperluan ibadah, raja juga melakukan perbaikan dan
pembangunan candi-candi.

17
G. Keruntuhan Kerajaan Majapahit
Sesudah mencapai puncak pada abad ke-14 kekuasaan Majapahit berangsur-
angsur melemah. Tampak terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun
1405-1406 antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah
terjadi pergantian raja yg dipertengkarkan pada tahun 1450-an dan pemberontakan
besar yg dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yg berbunyi
sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adl tahun berakhir Majapahit dan
harus dibaca sebagai 0041 yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Arti sengkala
ini adl sirna hilanglah kemakmuran bumi. Namun demikian yg sebenar
digambarkan oleh candrasengkala tersebut adl gugur Bre Kertabumi raja ke-11
Majapahit oleh Girindrawardhana.
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama
sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15
pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan
sebuah kerajaan perdagangan baru yg berdasarkan agama Islam yaitu Kesultanan
Malaka mulai muncul di bagian barat nusantara.
Catatan sejarah dari Tiongkok Portugis (Tome Pires) dan Italia (Pigafetta)
mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari
tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus penguasa dari Kesultanan Demak
antara tahun 1518 dan 1521 M.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah pada masanya Majapahit
mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di
bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak
wilayah. Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan
Majapahit meliputi Sumatra, Semenajung Malaya, Kalimantan Sulawesi,
kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) sebagian
kepulauan Filipina. Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak
kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

B. Saran
Makalah ini tentulah masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya
sangat membutuhkan kontribusi kritik dan saran dari pembaca agar dijadikan
sebagai intropeksi bagi makalah ini untuk menjadi lebih baik lagi. Terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah terlibat untuk mendukung dan membantu agar
makalah ini dapat terselesaikan.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://nesaci.com/sejarah-lengkap-kerajaan-majapahit/
http://id.wikepedia.org/wiki/majapahit

20
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena alhamdulillah
dengan limpahan karunia dan nikmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Tak lupa shalawat serta salam semoga tetap tercurah pada Nabi akhir zaman
Muhammad SAW, kepada para Sahabatnya, keluarga, serta sampai kepada kita
selaku umatnya. Amin.
Makalah berjudul KERAJAAN MAJAPAHIT ini saya buat untuk
memenuhi salah satu tugas yang diberikan guru mata pelajaran. Dan semoga,
selain memenuhi tugas tersebut, makalah ini dapat bermanfaat bagi khalayak
pembaca pada umumnya dan kami khususnya.
Kritik dan saran sangat kami harapkan dalam upaya perbaikan kami dalam
membuat makalah.

Talaga, Oktober 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................... 2
D. Manfaat ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit ............................................ 3
B. Letak dan Wilayah ............................................................................ 4
C. Sumber-sumber Sejarah .................................................................... 5
D. Silsilah Raja-raja Majapahit .............................................................. 6
E. Prasasti Prasasti Kerajaan Majapahit ............................................. 7
F. Kehidupan di Kerajaan Majapahit .................................................... 9
G. Keruntuhan Kerajaan Majapahit ....................................................... 18
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 19
B. Saran ................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20

ii
Pertanyaan
1. Tahun berapa Kertanegara gugur oleh penghianat Jaya Katwang?
Jawab: 1292 (kelompok 6) Lia Rosnawati

2. Sebutkan salah satu faktor pendorong kerajaan Majapahit sebagai


Kerajaan yang besar!
Jawab: Letak Majapahit yang strategis (kelompok 7) Novi Oktapiani

3. Sebutkan peninggalan kerajaan Majapahit!


Jawab: prasasti, bangunan dan candi (kelompok 5) Hermawati

4. Apa gelar Raja Wijaya?


Jawab: Kertajasa Jayawardhana (kelompok 4) Esti Listiani

5. Kitab/hukum perundang-undangan Majapahit disebut?


Jawab: Kutaramarawa (kelompok 3) Cecep Ahmad Fauzi

ii