Anda di halaman 1dari 8

Limnologi adalah ilmu tentang ekosistem perairan darat.

Dalam pengertian luas limnologi adalah


suatu pembelajaran tentang hubungan fungsional dan produktivitas komunitas air tawar
bagaimana mereka dipengaruhi oleh factor-faktor fisika, kimia dan biotic lingkungan. (Wetzet,
1989)
Kualitas perairan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap survival dan pertumbuhan
makhluk-makhluk yang hidup di air. Air tawar merupakan lingkungan hidup untuk hewan dan
tumbuh-tumbuhan tingkat rendah, untuk itu air terlebih dahulu harus merupakan lingkungan
hidup yang baik renik yang mampu berasimilasi. (Asmawi,1986)
Parameter lingkungan yang dapat dijadikan control adany polusi dalah oksigen terlarut,
konsentrasi ammonia, pH dan suhu perairan. Selain itu bahwa toksik, polutan tersuspensi dan
jasad renik pathogen merupakan kelompok pencemar suatu perairan. (Connell dan Miller, 1995
dalam Sari 2007).
Kualitas suatu perairan ditentukan oleh sifat fisik, kimia, dan biologis dari perairan tersebut.
Interaksi antara ketiga sifat tersebut menentukan kemampuan periairan untuk mendukung
kehidupan organisme di dalamnya. Kualitas air mempengaruhi jumlah, komposisi,
keanekaragaman jenis, produksi dan keadaan fisiologi organisme perairan. Habitat air tawar
menempati daerah yan relatif kecil pada permukaan bumi, dibandingkan dengan habitat lautan
dan daratan, tetapi bagi manusia kepentingannya jauh lebih berarti dibandingkan dengan luas
daerahnya, sedangkan sifat fisik, kimia, dan biologi perairan seperti suhu, kecerahan, kedalaman,
konduktivitas, pH, alkalinitas, kadar oksigen terlarut (DO), sangat mudah berubah. Oleh karena
itu diperlukan suatu cara tertentu untuk menentukan kualitas perairan baik secara kualitatif
maupun kuantitatif (Adsense, 2010)

Suhu
a. Pengertian
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan
penyerapan organisme. Proses kehidupan vital yang sering disebut proses metabolisme. Hanya
berfungsi dalam kisaran suhu yang relatif sempit. Biasanya 00C-40C (Nybakken 1992 dalam
sembiring, 2008)
Menurut Handjojo dan Djoko Setianto (2005) dalam Irawan (2009), suhu air normal adalah suhu
air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolism dan berkembang biak.
Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air
b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi suhu
Pola temperature ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya
matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga
oleh faktor kanopii (penutup oleh vegetari) dari pepohonan yang tumbuh sel tepi (Brehm dan
Melfering, 1990, dalam Barus, 2010). Disamping itu pola temperature perairan dapat
dipengaruhi oleh faktor-faktor anthrcopogen (faktor yang diakibatkan oleh aktifitas manusia)
seperti limbah panas yang berasal dari pendinginan pabrik. Pengunduran BAS yang
menyebabkan hilangnya perlindungan sehingga badan air terkena cahaya matahari secara
langsung. Hal ini terutama akan menyebabkan peningkatan temperatur suatu sistem perairan
(Barus, 2001)
Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan
panas (heat flux) curah hujan (prespiration) aliran sungai (Flux) dan pola sirkulasi air
(Hadikusumah, 2008)
Suhu
Suhu air adalah parameter fisika yang dipengaruhi oleh kecerahan dan kedalaman.Air yang
dangkal dan daya tembus cahaya matahari yang tinggi dapat meningkatkan suhu perairan
(Erikarianto, 2008).
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari
permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta
kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, biologi badan
air. Suhu juga sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik
memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai biasa pertumbuhannya.
Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia,evaporasi dan volatisasi.
Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2,
N2, CH4, dan sebagainya. Selain itu peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme dan respirasi organisme dalam air, dan selanjutnya mengakibatkan
peningkatan konsumsi oksigen. Peningkatan suhu perairan sebesar 10o C menyebabkan
terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2 3 kali lipat. Namun,
peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut shingga keberadaan
oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk
melakukan proses metabolisme dan respirasi (Haslam, 1995 dalam Effendi, 2003).
Suhuair mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara
bersama-sama mengurani perubahan suhu sampai tingkat minimal, sehina perbedaan suhu dalam
air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada udara. Sifat yang terpenting
adalah Panas jenis yang tinggi, relatif sejumlah besar panas dinutuhkan untuk merubah suhu air.
1 gram kalori (gkal) panas dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 ml (=1 gram) air 10 C lebih
tinggi (antara 15-160) hanya amonia dan beberapa senyawa lain mempunyai nilai lebih dari satu.
Walaupun variasi suhu dalam air tidak sebesar di udara, hal ini merupakan faktor pembatas
utama, karena organisme akuatik seringkali mempunyai toleransi yang sempit (stenoterma)
(Anonim, 2008)
Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara
bersama-sama mengurangi perubahan suhu sampai tingkat minimal; sehingga perbedaan suhu
dalam air lebih lambat dari pada udara. Sifat-sifat air yang terpenting adalah: (1) memiliki panas
jenis yang relatif tinggi; (2) memiliki panas fusi yang tinggi; (3) panas evaporasi yang tinggi; (4)
kerapatan air tertinggi terjadi pada suhu 4oC (Odum, 1996).

Kecepatan arus
Arus air pada perairan lotik umumnya bersifat tusbulen yaitu arus air yang bergerak ke segala
arah sehingga air akan terdistribusi ke seluruh bagian dari perairan.

pH
a. Pengertian
Derajat keasaman lebih dikenal dengan istilah H. pH (singkatan dari pulscane negatif te H), yaitu
logaritma dari kepekatan ion-ion H (hidrogen) yang terlepas dalam satu cairan. Derajat keasaman
atau pH air menunjukkan aktifitas ion hydrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai
konsentrasi ion hydrogen (dalam nol per lter) pada suhu tertentu atau dapat ditulis pH = - log
(H+) (kordi dan Tancung, 2007).
Suatu ukuran yang menunjukkan apakah air bersifat asam atau dasar dikenal sebagai pH. Lebih
tepatnya pH menunjukkan konsentrasi ion hydrogen dalam air dan didefinisikan sebagai
logaritma asam bila pH dibawah 7 dan dasar ketika pH di atas 7. sebagian besar nilai pH ditemui
jatuh antara 0 sampai 14. pH yang baik dalam budidaya adalah 6,5-9,0 (Mutris, 1992).
b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi
Peningkatan keasaman air (pH rendah) umumnya disebabkan limbah yang mengandung asam-
asam mineral bebas dan asam karbonat. Keasaman tinggi (pH rendah) juga dapat disebabkan
adanya FeS2 dalam air akan membentuk H2SO4 dan ion Fe2+ (larut dalam air ) (manik, 2003).
Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif stabil dan berada dalam kisaran yang sempit.
Biasanya berkisar antara 7,7 8,4 pH dipengaruhi olah kapasitas penyangga (buffer) yaitu
adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982, Nybakkan, 1992
dalam Irawan et al, 2009)

DO
a. Pengertian
Oksigen terlarut (Dssolved Oxigen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan,
proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan
dan pembiakan. Di samping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi dan anorganik dalam
proses aerobic (Salmin, 2005)
Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam ekosistem akuatik, terutama
sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme (Suin, 2002 dalam
Semburing, 2008)
b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi
Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung dari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu,
salinitas, pergerakan massa dan udara, seperti kekeruhan, suhu, salinitas, pergerakan massa air
dan udara, seperti arus, gelombang dan pasang surut (Salmin, 2005)
Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tumbuhan air dan dari proses fotosintesis
tumbuhan air dan dari udara yang masuk ke dalam air. Konsentrasi DO dalam air tergantung
pada suhu dan tekanan udara. Pada suhu 200C tekanan udara satu atmosfer konsentrasi DO
dalam keadaan jenuh 9,2 ppm dan pada suhu 500 C (tekanan udara sama) konsentrasi DO adalah
5,6 ppm (Manik, 2000)
Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen)
DO atau Dissolved Oxygen atau oksigen terlarut adalah parameter kimia perairan yang
menunjukkan banyaknya oksigen yang terlarut dalam ekosistem perairan (Erikarianto, 2008).
Kadar oksigen di atmosfer sekitar 210 mg/l.Oksigen adalah salah satu gas yang ditemukan
terlarut pada perairan.alam bervariasi bergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan
atmosfer. Kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian/altitude
dan berkurangnnya tekanan atmosfer (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi,2000).
Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, tekanan atmosfer semakin rendah.Setiap
peningkatan suatu tempat sebesar 100 m diikuti dengan penurunan tekanan hingga 8 mm Hg 9
mm Hg.Pada kolom air, setiap peningkatan kedalaman sebesar 10 m disertai peningkatan tekanan
sebesar 1 atmosfer (Cole, 1998 dalam Effendi, 2000). Selanjutnya dikatakan pula bahwa kadar
oksigen terlarut berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada percampuran
(mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktifitas fotosintesis, respirasi dan limbah
(effluent) yang masuk ke badan air.
Oksigen terlarut mungkin merupakan parameter kualitas air yang paling umum
digunakan. Kelarutan oksigen atmosfer dalam air segar/tawar berkisar dari 14.6 mg/liter pada
suhu 0 oC hingga 7.1 mg/liter pada suhu 35 oC pada tekanan satu atmosfer. Rendahnya
kandungan oksigen terlarut dalam air berpengaruh buruk terhadap kehidupan ikan dan kehidupan
akuatik lainnya, dan kalau tidak ada sama sekali oksigen terlarut mengakibatkan munculnya
kondisi anaerobik dengan bau busuk dan permasalahan estetika (Sedana et el, 2001).
Oksigen terlarut merupakan parameter kimia yang paling penting dalam kegiatan
budidaya. Rendahnya kandungan oksigen terlarut dapat menyebabkan tingginya kematian pada
suatu organisme, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ikan membutuhkan oksigen
untuk kebutuhan respirasi di mana jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh organisme tergantung
pada ukuran, jumlah makanan yang dikonsumsi , tingkat aktifitas dan suhu. Organisme dapat
mencapai pertumbuhan yang baik, jika di pelihara pada kandungan oksigen terlarut yang
optimal. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu
proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan
tersebut (Salmin, 2000).

2.3.3 CO2
a. Pengertian
Menurut Kordi dan Tancung (2007), karbondioksida (CO2) atau disebut asam arang sangat
mudah larut dalam suatu larutan. Pada umumnya perairan alami mengandung karbondioksida
sebesar 2 mg/ L. karbondioksida (CO2) merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan
air renik maupun tingkat tinggi untuk melakukan fotosintesis.
Istilah karbondioksida bebas (free CO2) digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut dalam
air, selain yang berada dalam bentuk terikat sebagai ion bikarbonat (HCO3) dan ion karbonat
(CO3-2) CO2 bebas menggambarkan keberadaan gas CO2 di perairan yang membentuk
kesetimbangan dengan CO2 di atmosfer. Nilai CO2 yang terukur biasanya berupa CO2 bebas
(Effendi, 2003).
b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi
Adanya arus dan angin diduga menyebabkan bergeraknya massa CO2 terlarut ini. Selain faktor
cuaca seperti kecepatan angin, arah angin dan curah hujan, salinitas dan pH juga mempengaruhi
konsentrasi karbondioksida terlarut (CO2 latur) bakker et al 1996 dalam Sukatno dan Bayu.
2010).
Menurut Alffandi (2009), karbondioksida yang terdapat di perairan berasal dari berbagai sumber
yaitu sebagai berikut:
1. Difusi dari atmosfer, karbondiosida yang terdapat di atmosfer
2. air hujan
3. air yang melewati tanah organik, karbondioksida hasil dekomposisi ini akan terlarut dalam
air
4. respirasi tumbuhan, hewan dan bakteri aerob maupun anaerob respirasi tumbuhan dan
hewan mengeluarkan karbondioksida

Plankton
Plankton adalah tumbuhan (fitoplankton) atau hewan (zooplankton) renik air tawar atau
air laut yang posisi dan pesebarannya bergantung yang ditentukan oleh gerakan air atau arus air
serta masa udara disekitarnya, meskipun mampu untuk bergerak sendiri secara terbatas (Rifai,
2002). Bentuk tubuh plankton yang umumnya mikroskopik dan tidak atau hanya mempunyai
daya renang yang lemah sehingga mudah terbawa oleh arus yang sekecil apapun (Anonim,
2007).
Secara garis besar , plankton dibedakan atas fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton
(terdiri atas algae mikroskopik dan bacterial) dapat berbentuk sel tunggal, koloni atau rangkaian
sel. Sebagian besar fitoplankton dapat melakukan proses fotosintesis (produsen primer) dan
merupakan mangsa zooplankton dan hewan akuatik lainnya. Sedangkan zooplankton terdiri dari
berbagai jenis hewan mulai dari fillum protozoa hingga ke filum chordate. Kelompok
zooplankton ini dibedakan lagi kedalam Holoplankton yanitu plankton hewan yang seluruh daur
hidupnya dilalui sebagai plankton (seperti Copepoda dan Chaetognata) dan meroplankton yaitu
plankton hewan yang hanya pada stadia telur dan larva saja hidup sebagai plankton tetapi setelah
dewasa berubah menjadi nekton (ikan dan cumi-cumi) atau bentos (berbagai jenis kerang dan
cacing) (Arinardi dalam Anonim, 2007). Plankton net adalah plankton yang tertangkap di dalam
jaringan yang amat halus yang ditarik dengan perlahan-lahan di dalam air; nanoplankton terlalu
kecil untuk dapat ditangkap dengan jaring dan harus disarikan dengan air yang diambil dengan
botol atau dengan pompa (Odum, 1996).
Berdasarkan daur hidupnya plankton di bagi menjadi dua kelompok yaitu holoplankton dan
meroplankton.Holoplankton yaitu organisme akuatik yang seluruh daur hidupnya bersifat
planktonik.Sedangkan meroplankton ialah organisme akuatik yang seluruh daur hidupnya
bersifat planktonik (Sachlan, 1972).

Analisis
Suhu
Pada praktikum pengukuran parameter suhu di perairan diperoleh hasil yaitu 29C. suhu sangat
berpengaruh terhadap laju pertumbuhan biota air. Menurut Asmawi (1986), bahwa suhu optimum
untuk selera makan ikan adalah 25C sampai C. Dari data keseluruhan dapat disimpulkan suhu
rata-rata di waduk selorejo adalah 25C sehingga optimum untuk selera makan ikan.

Suhu merupakan parameter penting pada perairan tergenang dan mengalir. sehingga suhu yang di
peroleh pada pengukuran ini adalah pada sungai wanggu ditemukan 270C dan 310Cpada
perairan kolam rawa faperta Hal ini menunjukkan bahwa suhu pada sungai wanggu yang pada
daerah tropis masih dalam batasan wajar dan tidak membahayakan kehidupan ikan serta
organisme-organisme lainnya yang hidup pada daerah tersebut. Boyd (1990) dalam Subroto
(2002), menyatakan bahwa suhu noptimal untuk kehidupan ikan dan organisme adalah 25-32oC.
Beberapa hasil pengukuran yang dilakukan oleh beberapa kelompok praktek di sungai Ameroro
perubahan suhu yang signifikan dalam pengamatan tidak terjadi. Sedangkan pada kolam rawa
faperta memiliki kisaran suhu yang cukup tinggi dimana tingginya suhu pada daerah ini
disebabkan oleh waktu pengamblan data dimana pada saat pengambilan data suhu pada daerah
ini kondisi cuaca cerah dan di ambil pada siang hari dan kondisis pada kolam rawah ini juga
cukup dangkal sehingga sinar matahari yang terserap mudah sampai kedasar perairan dan folume
air yang ada juga berbeda karna pada kolam rawa ini volume air yang hanya terbatasi dengan
liasan kolam sehingga proses pemnasan air yang dilakukan oleh matahari cukup cepat berbeda
dengan kondisi perairan yang memiliki perairan yang cukup luas namun suhu pada perairan ini
masih berada pada batas toleransi dari organisme perairan.

1. pH
Dari pengaruh PH yang telah dilakukan, di dapatkan hasil dari kelompok PH perairan
sebesar 7. dapat disimpulkan bahwa pada PH 8 ini ikan masih bisa melakukan kelangsungan
hidupnya. Menurut Asmawi (1986), bahwa untuk menciptakan suasana yang bagus dalam
perairan, PH air harus sudah agak mantap atau tidak terlalu berguncang karena ikan perairan
yang baik untuk kehidupan ikan adalah perairan dengan PH 6 sampai 8,7.
Dari data diatas dapat diketahui bahwa PH juga sangat berpengaruh pada kehidupan fitoplankton
maupun organisme air, sehingga dengan PH = 8 pada perairan waduk selorejo membuat
pertumbuhan ikan maksimal.
2. DO
Hasil pengukuran DO perwakilan inlet dalah sebesar 9,67 mg/L sedangkan untuk outlet
sebesar 9,1 mg/L. Menurut Asmawi (1986), kalu jumlah oksigen terlarut diperairan hanya 1,5
mg/l, kecepatan makan ikan filapia akan berkurang atau jika kadar oksigen makan ikan tersebut
akan berhenti makan tetapi kalau oksigen terlarut dalam jumlah yang sangat banyak ikan-ikan
memang jarang sekali mati, tapi pada keadaan-keadaan tertentu hal ini demikian dapat
mematikan.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa kandungan DO pada waduk selorejo cukup baik untuk
pertumbuhan ikan. Jumlah oksigen yang dikonsumsi ikan sangat baik untuk pertimbuhan ikan.,
sehingga kebutuhan oksigen tiap spesies ikan juga berbeda-beda

Oksigen terlarut(DO) merupakan unsur yang paling penting sebagai pengatur metabolisme bagi
tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembangbiak. Sumber oksigen diperairan berasal dari
proses fotosintesis organisme nabati yang berklorofil, difusi dari udara, air hujan dan air
permukaan yang masuk. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan dengan DO yang
diperoleh adalah 11,892 ml/L dimana kandungan DO pada sungai wanggu ini cukup tinggi
diman kandungin ini disebabkan karna pada perairan ini mengalir sehingga luas permukaan air
pada daerah ini menjadi lebih besar yang menagkibatkan oksigen yang terlarut pun lebih besar
pada perairan ini berbeda dengan perairn yang tergenang atau tidak mengalir pada pearairan yang
tidak menaglir kan dungan DO relatif lebih rendah dimana pada kolam rawa paferta didapatkan
DO 5,331 ml/L. Rendahnya kadar DO diduga dipengaruhi oleh tingginya kekeruhan sehingga
proses fotosintesis tidak berjalan dengan baik. Selain itu menurut Jeffries dan Mills (1996)
dalam Effendi (2000) rendahnya kadar oksigen diperairan disebabkan oleh semakin
meningkatnya suhu, ketinggian dan berkurangnya tekanan atmosfer. Dan pada kolam rawa
paferata kandungan DO yang di temukan dipengaruhi pada saat pengambilan sampel DO,
dimana pada pengambilan sampelnya terdapat penyebab meningkatnya masuknya DO pada
perairan ini karna kemi turun pada perairan tersebut untuk menegambil sampel dan banyaknya
aktifitas yang telah kemilakukan didalam perairanteebut sehingga membuat permukaan air pada
daerh ini bergerak lebih besar dari buasanya sehingga DO yang terlarut dalam perairan cukup
besar.

3. Karbondioksida (CO2)
Dari pengukuran karbondioksida yang telah dilakukan di dapatkan hasil CO2 sebesar
39,95 mg/l. Menurut Kordi dan Andi (2007), karbondioksida (CO2) atau biasa disebut asam
orang sangat mudah larut dalam suatu larutan . pada ummnya perairan alami mengandung
karbondioksida sebesar 2 mg/ l pada kosentrasi tinggi (> 10 mg/l). karboindioksida dapat
beracun, karena keberadaannya dalam darah dapat menghambat pengikatan oksigen oleh homo
globin. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa kandungan CO2 pada waduk selorejo kurang
baik untuk pertumbuhan ikan maupun organisme lainnya karena kandungan CO2-nya terlalu
besar.

Dapus
Andayani, Sri. 2005. Manajemen Kualitas Air Untuk Budidaya Peraiaran. Universitas Brawijaya.
Malang
Andri, dkk. 2009. Makalah Faktor-faktor Penting Dalam proses Pembesaran Ikan Di Fasilitas
Nursery dan Pembesaran. http:google.com Diakses pada tanggal 11 November 2009 pukul 20.00
WIB
Anwar, Nurmila. 2009. Tinjauan Pustaka. http:google.com Diakses pada tanggal 11 November
2009 pukul 20.00 WIB
Asmawi, 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Jakarta : Gramedia
Brotowidjoyo, dkk. 1996. Pengantar Lingkungan dan Perairan dan Budidaya Laut. Liberty.
Yogyakarta
Efriyeldi, 1999. Sebaran Spasial Karakteristik Sedimen dan Kualitas Air Muara Sungai Bantan
Tengah, Bengkalis Kaitannya dengan Budidaya KJA (Keramba Jaring Apung) : http: /e
journal.ac.id Diakses pada tanggal 11 November 2009 pukul 20.00 WIB
Kordi, K, M. Ghufran dan Andi Baso Tanjung, 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya
Perairan. Jakarta : Rineka Cipta
Pappo, Ari dkk. 2009. Studi Kualitas Perairan Pantai Dikawasan Industri Perikanan Desa
Rembangan Kecamatan Naegara, Kabupaten Jembaran, Ude.Journal/pappo.paf
http:akademikunsri.ac.id Diakses pada tanggal 11 November 2009 pukul 20.00 WIB
Pirzan Andi M dan Petrus Rani D. 2008. Hubungan Keragaman Fitoplankton Dengan Kualitas
Air Dipulau Gaululuang Kabupaten Takalar,Sulawesi Selatan www.uhud.ac.id. Diakses pada
tanggal 11 November 2009 pukul 20.00 WIB
Yudha, Indra Gumay. 2005. Aplikasi Sistem Resirkulasi Tertutup (Closed Resirculation System)
Dalam Pengelolan Kualitas Air Tambak Udang. Http//e journal.ac.id Diakses pada tanggal 11
November 2009 pukul 20.00 WIB

Sari, Sam gendro. 2007 Kualitas Air Sungai Manon Dengan Perlakuan Keramba Ikan Di
Kecamatan Rawae Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. www.uncam.ac.id Diakses pada tanggal
11 November 2009 pukul 20.00 WIB
Wetzel, Robert G. 1989. Limnology Second Edition. Sainders Collage Publishing Philadelphia
new york Chicago. San Francisco Montrea Noronto London Sydney Tokyo Mexico city. Rio de
jamnamadrid

Beri Nilai