Anda di halaman 1dari 28

Analisis Kebudayaan Guyang Cekathak Sunan Muria

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas
pada Mata Kuliah Metode Penelitian Kebudayaan
yang Diampu oleh Ken Widyawati, S.S., M.Hum

Disusun oleh :

Nurul Hidayah

13010112130091

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia disebut sebagai negara multikultural, hal ini dikarenakan


banyaknya ragam suku yang mendiami negara ini dengan membawa
kebudayaannya masing-masing. Salah satunya adalah suku Jawa, jika membahas
tentang kebudayaan secara geografis tentunya masih dikatakan cakupan tersebut
sangat luas, untuk itu lebih spesifik lagi pada budaya Jawa di wilayah pesisir
utara. Pesisir Jawa utara memiliki kebudayaan yang khas dibandingkan
kebudayaan dari daerah lain. Hal ini dikarenakan kebudayaan yang muncul dan
berkembang sangat erat kaitannya dengan pengaruh agama Islam dan ajaran
Hindu-Budha yang sebelumnya sudah melekat pada identitas masyarakatnya.
Percampuran budaya tersebut disebabkan masuknya Islam ke tanah Jawa melalui
pantai utara, para ulama yang mensyiarkan agama Islam membawa budaya dari
negeri asalnya, sehingga terjadilah akulturasi budaya menjadi bentuk kebudayaan
yang baru. Seperti halnya dakwah para Walisongo yang menyebarkan agama
Islam dengan perdamaian tidak memusuhi agama lain dan dengan unsur
keindahan yaitu memanfaatkan kesenian rakyat.

Salah satu tokoh walisongo adalah Sunan Muria yang berdakwah dengan
tetap menjaga perdamaian, ia tidak menghapus tradisi masyarakat Hindu-Budha
yang pada saat itu ada. Namun tetap melaksanakan tradisi dengan memasukkan
ajaran Islam. Tradisi seperti ini pun hingga saat ini masih berkembang
dilingkungan masyarakat, salah satunya adalah tradisi Guyang Cekathak Sunan
Muria, yaitu tradisi memandikan pelana kuda peninggalan Sunan Muria yang oleh
sebagian masyarakat dianggap benda keramat.

Dalam laporan ini akan dibahas mengenai pengertian dan prosesi tradisi
tersebut, serta dideskripsikan pula tanggapan masyarakat mengenai ritual tersebut.
Sehingga pembaca dapat mengetahui makna ritual Guyang Cekathak bagi
masyarakat setempat, dan dijadikan referensi pengetahuan tentang kebudayaan.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang tertulis diatas, maka penulis mencoba


merumuskan beberapa permasalahan yang muncul untuk kemudian dijadikan
acuan kegiatan penelitian, sebagai berikut :

1. Bagaimana sejarah lahirnya Sunan Muria?

2. Apa saja upacara tradisi di makam Sunan Muria?

3. Bagaimana prosesi Guyang Cekathak?

4. Bagaimana pandangan masyarakat mengenai ritual guyang Cekathak?

C. Tujuan Penelitian

Setelah diadakannya penelitian, maka diharapkan penelitian dan hasil ini dapat
bertujuan sebagai berikut :

1. Menjelaskan sejarah lahirnya Sunan Muria

2. Menyebutkan serta menjelaskan apa saja upacara tradisi di makam Sunan


Muria

3. Mendeskripsikan prosesi Guyang Cekathak

4. Memaparkan pandangan masyarakat sekitar mengenai ritual Guyang


Cekathak.

D. Metode Penelitian

Dalam Penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif.


Creswell (2003) menyatakan bahwa di dalam penelitian kualitatif, pengetahuan
dibangun melalui interpretasi terhadap multi perspektif yang berasal dari berbagai
masukan segenap partisipan yang terlibat di dalam penelitian dan bukan hanya
berasal dari penelitian semata. Sumber datanya bermacam-macam, seperti catatan
observasi, catatan wawancara pengalaman individu, maupun sejarah.
Strauss dan Corbin (1997 : 11-13) menyatakan bahwa penelitian kualitatif
merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak
dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik maupun cara-cara
lain dari kuantifikasi (pengukuran). Alasan menggunakan pendekatan ini adalah
pengalaman peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan
maupun memahami apa yang tersembunyi dibalik suatu fenomena dan dianggap
sebagai sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.

Jenis metode kualitatif yang digunakan adalah metode kualitatif dengan


tipe deskriptif yang kemudian disebut metode kualitatif deskriptif. Pengertian
metode kualitatif deskriptif adalah metode yang melihat realitas sebagai salah
sesuatu yang kompleks (multiple), subjektif, dan ada dalam aktor maupun objek-
objek yang diteliti (Thohir, 2013:3).

a. Pengumpulan Data

Pada tahap ini data yang dikumpulkan ada dua macam yaitu data primer
dan sekunder. Data primer berupa hasil wawancara dengan beberapa narasumber
yang mengetahui betul mengenai objek yang diteliti penulis. Sedangkan data
sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen dan publikasi, artinya data
sudah dalam bentuk jadi. Peneliti mendapatkan data dengan mencari sumber
referensi atau daftar pustaka dari buku, jurnal dan artikel.

b. Analisis Data

Setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah analisis data


menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu data yang diperoleh kemudian
dianalisis dan dideskripsikan dengan detail. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teori yang telah dipilih.

c. Penyajian Hasil Analisis Data

Data yang sudah terkumpul dan sudah dianalisis berdasarkan teori yang ada
kemudian disajikan secara formal. Penyajian secara formal merupakan penyajian
berupa perumusan menggunakan kerangka yang sesuai dengan aturan yang resmi
atau baku. Semua data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan
urutan analisis dalam menjawab rumusan masalah yang telah dikemukakan.

E. LANDASAN TEORI

1. Teori Folklor

Folklor berasal dari kata folk dan lore. Folk sama artinya dengan kolektif.
Folk dapat berarti rakyat dan lore artinya tradisi. Jadi folklor adalah salah satu
bentuk tradisi rakyat. Folklor memiliki ragam yang bermacam-macam. Dalam
kaitannya dengan budaya ragam folklor antara lain: budaya material, organisasi
politik dan religi. Menurut Balys, folklor terdiri dari: kepercayaan rakyat, ilmu
rakyat, puisi rakyat, dsb. Menurut Espinosa, folklor terdiri dari: kepercayaan, adat,
tahayul, teka-teki, mitos, magi, ilmu gaib,dsb (Endraswara, 2006: 58).
Melalui ciri-ciri tersebut peneliti dapat mengenali tata kelakuan,
pandangan hidup, etika pendukungnya. Menurut Bascom ( Sudikan, 2001: 100)
ada beberapa fungsi folklore bagi pendukungnya, yaitu: a) sebagai sistem
proyeksi, b) sebagai alat pengesahan kebudayaan, c) sebagai alat pendidikan, dan
d) sebagai alat pemaksaan pemberlakuan norma-norma ( Endraswara, 2006: 59).
Dalam fenomena budaya, biasanya ada data yang berupa tata cara
dan perilaku budaya serta sastra lisan. Keduanya perlu menjadi fokus peneliti
folklor, karena akan saling terkait. Keduanya tidak akan lepas dari kajian budaya
secara holistik. Bentuk-bentuk folklore yang perlu mendapat perhatian peneliti
budaya, menurut Brunvand (Danandjaja, 1990: 98) ada tiga, folklor lisan,
sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Peneliti perlu membatasi diri pada bentuk-
bentuk folklore ini agar penelitiannya lebih optimal. Penelitian folklor sebagian
besar banyak memanfaatkan penelitian kualitatif (Danandjaja, 1990: 97). Karena,
dalam folklore terkandung unsur-unsur budaya yang dimanfaatkan oleh
pendukungnya. Unsur-unsur budaya lisan tersebut harus berimbang dalam
kajiannya. Artinya, peneliti tidak hanya menitikberatkan masalah folk namun juga
unsur lore-nya. Kedua unsur ini saling jalin-menjalin dan membentuk sebuah
komunitas budaya yang unik (Endraswara, 2006: 61-62).

2. Teori Resepsi
Secara definitif resepsi, berasal dari kata recipere (Latin), reception
(Inggris), yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca (Ratna,
2013:165). Resepsi memberikan porsi utama kepada masyarakat atau pelaku
kebudayaan yang disebut reseptor melalui tanggapan dari apa yang lakukan atau
didengar bila kajiannya merupakan cerita lisan. Dari kajian reseptif ini nanti
penulis juga dapat mengetahui seberapa besar peranan tradisi Guyang Cekathak di
masyarakat dibanding dengan cerita lisan yang lebih akrab keberadaannya di
masyarakat.

BAB II
Analisis Kebudayaan Guyang Cekathak Sunan Muria

A. Sejarah Sunan Muria

Sunan Muria dikenal disebut juga Raden Umar said atau biasa disapa
Raden merupakan salah satu tokoh wali songo yang menyebarkan Islam di pulau
Jawa. Dalam riwayat dikatakan bahwa ia adalah putra Sunan Kalijaga, nama
kecilnya adalah Raden Prawoto. Sunan Muria menikah dengan Dewi Soejinah
putri Sunan Ngudung mendapatkan seorang putra yang diberi nama pangeran
Santri yang kemudian mendapat julukan Sunan Ngadilangu. Mengenai sejarah
kelahirannya, Tidak ada artefak yang menunjukkan kapan Sunan Muria lahir,
namun ada beberapa tulisan purba yang ditemukan di bekas masjid yang
menunjukkan sekitar tahun 1660-an dan diperkirakan merupakan bagian dari
renovasi masjid waktu itu. Jadi menurut saya beliau hidup pada abad 15-16
berdasarkan legenda yang berkembang di sekitar masyarakat Muria serta ketika
masih muda saya pernah bertemu dengan tokoh atau sesepuh yang bernama Mbah
Ismail Tunggoyono juga keturunan dari Sunan Muria.

Versi lain menyebutkan bahwa Sunan Muria merupakan putra dari Nyi
Ageng Maloka dengan Sayed Karomat, versi tersebut berdasarkan silsilah lama
yang dulu pernah ada di makam sekitar tahun 1960-an. Semasa hidupnya ia
menjalankan dakwah islam di desa yang jauh dari kota, ia lebih suka menyepi di
desa dan bergaul dengan masyarakatnya. Sunan Muria mensyiarkan Islam di
sepanjang lereng gunung Muria yang letaknya kurang lebih 18 Km sebelah utara
kota kudus. Namun ada sumber yang mengatakan bahwa Sunan Muria memang
asli bermukim di puncak gunung Muria meskipun bukan penduduk asli Muria,
kemudian mengajarkan agama Islam di puncak Gunung Muria sampai sekitar
daerah Pati, Juwana, Rembang dan sebagainya maka beliau terkenal dengan
Sunan Muria.

Sejarah kedatangan sunan Muria ke wilayah Muria juga masih diperdebatkan, Ada
beberapa versi yang mengatakan Sunan Muria datang dengan membawa Kerbau
dan berhenti untuk duduk di daerah Petoko (tempat yang agak tinggi), yaitu
sekitar 6 km sebelah selatan Makam Sunan Muria untuk mendirikan masjid di
sana tetapi akhirnya tidak jadi karena melihat tempat yang lebih tinggi di daerah
Colo. Ada juga versi mengatakan kerbau itu berhenti di daerah Petoko hanya
sejenak, belum sempat mendirikan masjid kerbau sudah bergerak menuju ke
daerah Colo kemudian merumput di sana. Kemudian lahan atau tanah untuk
merumput menjadi tanah kesunanan milik Sunan Muria untuk mendirikan Masjid.
Selain menyebarkan agama Islam, ia juga dikenal sebagai salah seorang
penyokong dari kerajaan Bintaro bahkan ikut serta dalam pembangunan masjid
Demak. Sunan Muria merupakan salah satu penasehat kerajaan Demak.

B. Upacara Tradisi di Makam Sunan Muria

Sunan Muria sangat mengerti dan memahami tradisi serta budaya Jawa, hal
inilah yang kemudian menjadi ciri dari strategi dakwah Wali Songo, terutama
Sunan Muria. Wali Songo menyebarkan Islam dengan perdamaian tanpa adanya
penentangan secara radikal terhadap budaya yang saat itu ada. Seperti halnya
Kudus yang menjadi pusat agama Hindu bahkan sejarah mengatakan bahwa
Gunung Muria dianggap suci bagi agama Hindu. Melihat fenomena tersebut Wali
Songo tidak menghilangkan sepenuhnya tradisi-tradisi yang dilakukan masyarakat
setempat, namun justru merangkul mereka dengan memberikan nafas Islam ke
dalam budaya dan tradisi Jawa. Misalnya tradisi selamatan 7 hari, 40 hari, seratus
hari, 100 hari, sampai mendak/haul bagi orang yang meninggal.

Hal ini tampak pula pada dua tradisi pokok yang dilaksanakan di makam
Sunan Muria saat ini, yaitu Guyang Cekathak dan Ganti luwur. Guyang Cekathak
dilaksanakan pada hari Jumat Wage bulan September. Sedangkan Ganti Luwur
(mori) diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan haul Sunan Muria pada setiap
15 Muharram. Rangkaian kegiatannya meliputi pembacaan manaqib (1
Muharram), istighatsah dan santunan anak yatim (10 Muharram), khatmil quran
serta pembagian nasi kepada masyarakat (14 Muharram). Acara tersebut diakhiri
dengan pengajian umum, pembacaan shalawat nabi, penggantian luwur dan
selamatan (15 Muharram).
C. Prosesi Guyang Cekathak
Menurut sumber diceritakan bahwa dahulu Sunan Muria memiliki kuda
putih yang digunakan sebagai alat transportasinya dalam mengembangkan agama
Islam di Muria dan sekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pelana
kuda yang oleh masyarakat kudus disebut Cekathak. Ritual Guyang Cekathak
berarti memandikan pelana kuda milik Sunan Muria, sebagai bentuk
penghormatan terhadap Sunan Muria dan juga sebagai ritual memohon hujan.
Upacara tradisi tersebut diselenggarakan pada hari Jumat Wage bulan September,
pelaksanaan pada bulan September dikarenakan menurut perhitungan orang Jawa
puncak kemarau atau biasa disebut mangsa ketiga terjadi pada tanggal 25 Agustus
sampai dengan 24 September. Acara ini diikuti oleh pengurus makam Sunan
Muria, penduduk setempat, ojek muria, penjual dan pemilik kios di sekitar lereng
gunung Muria, serta Sinom (nama perkumpulan penjual assesoris dibawah masjid
Sunan Muria).
Ritual dimulai dengan membawa Cekathak peninggalan Sunan Muria dari
kompleks masjid Muria menuju mata air Sendang Rejoso diiringi terbangan dan
shalawat nabi. Kostum yang digunakan adalah seragam masing-masing profesi,
bagi pengurus makam menggunakan seragam pengurus warna hitam, ojek muria
menggunakan seragam ojek, begitu juga dengan sinom, dan untuk yang lainnya
menggunakan pakaian bebas dan sopan. Menurut sumber Sendang Rejoso dahulu
adalah tempat wudlu Sunan Muria, hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa
sendang tersebut merupakan satu-satunya mata air yang terletak dekat dengan
masjid Sunan Muria, letaknya sekitar 300 meter dari masjid. Ada cerita yang
mengatakan bahwa Sendang Rejoso terbentuk dari kesaktian Sunan Muria yang
menarik sumber air dengan menggunakan selendang dari mata air gunung
Nglaren. Hal ini dikarenakan letak mata air gunung Nglaren jauh dari masjid
Sunan Muria. Nglaren berasal dari kata leren atau dalam bahasa Indonesia berarti
istirahat. Konon sekali dalam seminggu Sunan Muria keramas di tempat itu.
Guyang Cekathak semula dilakukan untuk mengajak masyarakat disekitar
gunung Muria untuk melestarikan sumber mata air yang berada di sebelah utara
masjid Sunan Muria itu (Sendang Rejoso). Di Sendang tersebut Cekathak
kemudian dicuci, usai dicuci air sendang dipercik-percikkan kepada warga
sebagai ungkapan bahagia karena mata air itu tetap memancarkan airnya. Tradisi
ini merupakan salah satu kearifan lokal yang harus dipertahankan untuk
melestarikan alam di lereng gunung Muria.
Usai pencucian pelana, acara selanjutnya adalah selamatan dan makan
bersama dengan lauk khas desa Colo, yakni sayur-sayuran yang dicampur dengan
parutan kelapa, opor ayam, dan gulai kambing. Makanan ditutup dengan minum
dawet khas Kudus.

D. Pandangan Masyarakat Sekitar Mengenai Ritual Guyang Cekathak


Menurut sebagaian masyarakat mereka meyakini bahwa ritual Guyang
Cekathak ini bukan merupakan sebuah bentuk kemusyrikan dengan memuliakan
pelana, namun suatu bentuk pelestarian adat istiadat yang telah berlaku. Ada
beberapa pendapat lain juga yaitu, memang pada dasarnya ritual ini untuk
meminta hujan karena doa yang dibacakan merupakan doa minta hujan. Hal ini
seperti halnya prosesi sholat minta hujan hanya dikemas dalam tradisi budaya.
Sebuah bentuk penghormatan untuk Sunan Muria yang telah menyebarkan
kebenaran di wilayah Muria, karena Sunan Muria sudah wafat maka bentuk
penghormatan tersebut disimbolkan dengan memandikan pelana kuda yang
merupakan salah satu peninggalan Sunan Muria yang sampai saat ini masih ada.
Selain itu, acara ritual ini sebagai pelestarian alam dengan prosesi
mengiring Cekathak ke mata air yang masih sangat alami agar masyarakat
menjaganya sehingga tetap terjaga dan tetap memancarkan sumber air bagi
masyarakat. Acara makan bersama dengan hidangan olahan sayur khas desa juga
sebagai bentuk pelestarian agar makanan khas daerah tetap ada dan tidak
tergantikan dengan makanan modern yang cepat saji, begitu juga dengan minum
dawet khas Kudus sebagai bentuk mempertahankan eksistensi kuliner daerah.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sejarah Sunan Muria atau Raden Umar said nama kecilnya adalah Raden
Prawoto. Ada dua versi mengenai silsilah keturunan Sunan Muria, yaitu ada yang
menyebutkan bahwa ia adalah putra Sunan Kalijaga, sedangkan versi lain
menyebutkan bahwa Sunan Muria merupakan putra dari Nyi Ageng Maloka
dengan Sayed Karomat, versi tersebut berdasarkan silsilah lama yang dulu pernah
ada di makam sekitar tahun 1960-an. Tidak ada sejarah yang pasti dan bukti
konkrit mengenai kapan ia lahir, namun menurut masyarakat Muria ia hidup pada
abad 15-16.
Dalam kegiatan berdakwah Sunan Muria sangat mengerti dan memahami
tradisi serta budaya Jawa, ia tidak menghilangkan sepenuhnya tradisi-tradisi yang
dilakukan masyarakat setempat, namun justru merangkul mereka dengan
memberikan nafas Islam ke dalam budaya dan tradisi Jawa. Misalnya tradisi
selamatan 7 hari, 40 hari, seratus hari, 100 hari, sampai mendak/haul bagi orang
yang meninggal. Hal ini tampak pula pada tradisi yang dilaksanakan di makam
Sunan Muria saat ini, yaitu Guyang Cekathak.
Ritual Guyang Cekathak berarti memandikan pelana kuda milik Sunan
Muria, sebagai bentuk penghormatan terhadap Sunan Muria dan juga sebagai
ritual memohon hujan. Upacara tradisi tersebut diselenggarakan pada hari Jumat
Wage bulan September, pelaksanaan pada bulan September dikarenakan menurut
perhitungan orang Jawa puncak kemarau atau biasa disebut mangsa ketiga terjadi
pada tanggal 25 Agustus sampai dengan 24 September. Acara ini diikuti oleh
pengurus makam Sunan Muria serta penduduk setempat. Ritual dimulai dengan
membawa Cekathak peninggalan Sunan Muria dari kompleks masjid Muria
menuju mata air Sendang Rejoso diiringi terbangan dan shalawat nabi. Di
Sendang tersebut Cekathak kemudian dicuci, usai dicuci air sendang dipercik-
percikkan kepada warga. Usai pencucian pelana, acara selanjutnya adalah
selamatan dan makan bersama dengan lauk khas desa Colo.
Menurut sebagaian masyarakat mereka meyakini bahwa ritual Guyang
Cekathak ini bukan merupakan sebuah bentuk kemusyrikan dengan memuliakan
pelana, namun suatu bentuk pelestarian adat istiadat yang telah berlaku. Selain itu,
acara ritual ini sebagai pelestarian alam dan usaha mempertahankan eksistensi
kuliner daerah.

Daftar Pustaka
Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.
------------------ 1980. Berita Antropologi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas
Indonesia.

Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta:


Gadjah Mada.

Koentjaraningrat. 1988. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta:


Gramedia.

Strauss, Anselm dan Juliet M.Corbin.1998. Basics of Qualitative Researh:


Techniques and Procedures for Developing Grounded Theory. Sage
Publications.

Thohir, Mudjahirin. 2007. Memahami Kebudayaan : Teori, Metodologi, dan


Apikasi. Jakarta : Fasindo.

Widodo, Sutejo Kuwat., dkk. 2014. Sunan Muria Today. Semarang: Tigamedia
Pratama.

Lampiran 1 Hasil Wawancara


Narasumber: K.H. Mastur
Selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid Makam Sunan Muria
Umur: 61 tahun

Keterangan:
M = Mahasiswa
N = Narasumber
M: Bagaimanakah silsilah Sunan Muria, karena ada beberapa sumber yang
mengatakan Sunan Muria adalah keturunan langsung dari Sunan Kalijaga dan
versi lain mengatakan Sunan Muria bukan keturunan langsung dari Sunan
Kalijaga?
N: Untuk silsilah memang seperti pendapat pak Solihin Salam mengatakan Sunan
muria adalah bin sunan Ngudung dan beberapa versi mengatakan bin sunan
Kalijaga. Kalau menurut kepercayaan saya, meskipun apapun yang terjadi saya
tetap percaya asal itu dibuktikan dengan pendekatan yang ilmiah. Tetapi kalau di
sini ada silsilah bin Sayyid Karomat dan Nyi Ageng Maloka itu ada tertulis dulu
di dinding makam dan sekarang disimpan sebagai kekayaan sejarah.
Sunan Muria bukan asli penduduk Gunung Muria dan mempunyai Istri benama
Raden Ayu Sujinah yang merupakan adiknya Sunan Kudus. Raden Ayu Sujinah
adalah anaknya Sunan Ngudung tetapi ada juga yang mengatakan Sunan Murialah
yang anaknya Sunan Ngudung. Jadi kalau memang benar, berarti Sunan Muria itu
adalah anak menantu dari Sunan Ngudung.
M: Sunan Muria dikenal dengan nama Umar Said, apakah juga ada versi lain?
N: Umar Said memang nama Sunan Muria dan memang tidak terbantahkan, tidak
ada versi lain. Diketahui bahwa nama kecilnya itu Raden Pratwoto. Ada sumber
yang mengatakan Umar Said memang asli bermukim di puncak gunung Muria
meskipun bukan penduduk asli Muria, kemudian mengajarkan agama Islam di
puncak Gunung Muria, sampai sekitar Pati, Juwana, Rembang dan sebagainya
maka beliau terkenal dengan Sunan Muria, sedangkan Muria sendiri adalah nama
sebuah gunung.
M: Apakah ada bukti keberadaan sunan Muria di Gunung Muria baik dari cerita
rakyat, pelaku sejarah, atau petilasan-petilasan yang ditinggalkan oleh beliau
tentang tahun kelahiran Sunan Muria?
N: Tidak ada artefak yang menunjukkan kapan Sunan Muria lahir. Hanya ada
beberapa tulisan purba yang ditemukan di bekas masjid yang menunjukkan sekitar
tahun 1660-an dan diperkirakan merupakan bagian dari renovasi masjid waktu itu.
Jadi menurut saya beliau hidup pada abad 15-16 berdasarkan legenda yang
berkembang di sekitar masyarakat Muria.
M: Bagaimana cerita Sunan Muria menyebarkan agama Islam di Muria ?
N: Ada beberapa versi yang mengatakan Sunan Muria datang dengan membawa
Kerbau dan berhenti duduk di daerah Petoko (tempat yang agak tinggi), 6 km
sebelah selatan Makam Sunan Muria untuk mendirikan masjid di sana tetapi
akhirnya tidak jadi karena melihat tempat yang lebih tinggi di daerah Colo. Ada
juga versi mengatakan kerbau itu berhenti di daerah Petoko hanya sejenak, belum
sempat mendirikan masjid kerbau sudah bergerak menuju ke daerah Colo dan
merumput di sini sampai selanjutnya lahan atau tanah untuk merumput menjadi
tanah kesunanan milik Sunan Muria untuk mendirikan Masjid. Hingga pada
akhirnya menetap di Muria dan menyebarkan agama Islam pada penduduk sekitar
dengan perdamaian, dan toleransi terhadap agama lain yaitu agama Hindu pada
saat itu dengan melaksakan tradisi Hindu tapi dikemas dengan nafas Islam seperti
halnya mendoakan orang mati 7 hari, 40 hari, 100 hari, dst.
M: Membahas tentang tradisi, di makam Sunan Muria tradisi apa saja yang
menjadi agenda pokok ?
N: Ada dua tradisi pokok yang dilaksanakan di makam Sunan Muria saat ini, yaitu
Guyang Cekathak dan Ganti luwur. Guyang Cekathak dilaksanakan pada hari
Jumat Wage bulan September. Sedangkan Ganti Luwur (mori) diselenggarakan
sebagai rangkaian kegiatan haul Sunan Muria pada setiap 15 Muharram.
M: Apa itu tradisi Ganti Luwur ?
N: Luwur itu mori atau dalam bahasa Indonesia disebut kain kafan. Jadi ganti
mori itu mengganti kain kafan. Rangkaian kegiatannya meliputi pembacaan
manaqib (1 Muharram), istighatsah dan santunan anak yatim (10 Muharram),
khatmil quran serta pembagian nasi kepada masyarakat (14 Muharram). Acara
tersebut diakhiri dengan pengajian umum, pembacaan shalawat nabi, penggantian
luwur dan selamatan (15 Muharram).
N: Lalu apa itu Guyang Cekathak ?
M: Guyang itu berarti menandikan dan Cekathak itu sebutan untuk pelana kuda
bagi orang kudus. Jadi Guyang cekathak ya memandikan pelana kuda. Menurut
sumber diceritakan bahwa dahulu Sunan Muria memiliki kuda putih yang
digunakan sebagai alat transportasinya dalam mengembangkan agama Islam di
Muria dan sekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pelana kuda yang
oleh masyarakat kudus disebut Cekathak.
M: Bagaimana prosesi Ritual Guyang Cekathak ?
N: Upacara tradisi tersebut diselenggarakan pada hari Jumat Wage bulan
September, pelaksanaan pada bulan September dikarenakan menurut perhitungan
orang Jawa puncak kemarau atau biasa disebut mangsa ketiga terjadi pada tanggal
25 Agustus sampai dengan 24 September. Acara ini diikuti oleh pengurus makam
Sunan Muria, penduduk setempat, ojek muria, penjual dan pemilik kios di sekitar
lereng gunung Muria, serta Sinom.
Ritual dimulai dengan membawa Cekathak peninggalan Sunan Muria dari
kompleks masjid Muria menuju mata air Sendang Rejoso diiringi terbangan dan
shalawat nabi. Kostum yang digunakan adalah seragam masing-masing profesi,
bagi pengurus makam menggunakan seragam pengurus warna hitam, ojek muria
menggunakan seragam ojek, begitu juga dengan sinom, dan untuk yang lainnya
menggunakan pakaian bebas dan sopan. Menurut sumber Sendang Rejoso dahulu
adalah tempat wudlu Sunan Muria, hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa
sendang tersebut merupakan satu-satunya mata air yang terletak dekat dengan
masjid Sunan Muria, letaknya sekitar 300 meter dari masjid. Ada cerita yang
mengatakan bahwa Sendang Rejoso terbentuk dari kesaktian Sunan Muria yang
menarik sumber air dengan menggunakan selendang dari mata air gunung
Nglaren. Hal ini dikarenakan letak mata air gunung Nglaren jauh dari masjid
Sunan Muria. Nglaren berasal dari kata leren atau dalam bahasa Indonesia berarti
istirahat. Konon sekali dalam seminggu Sunan Muria keramas di tempat itu. Di
Sendang tersebut Cekathak kemudian dicuci, usai dicuci air sendang dipercik-
percikkan kepada warga.
Usai pencucian pelana, acara selanjutnya adalah selamatan dan makan bersama
dengan lauk khas desa Colo, yakni sayur-sayuran yang dicampur dengan parutan
kelapa, opor ayam, dan gulai kambing. Makanan ditutup dengan minum dawet
khas Kudus.
Narasumber: Sutawar
Selaku: Peserta Ritual Guyang Cekathak (Anggota Ojek PASMM)\
Umur: 45 tahun

M: Apakah anda pernah mengikuti prosesi Guyang Cekathak Sunan Muria ?


N: Ya mbak pernah
M: Anda mengikuti prosesi dari awal hingga akhir ?
N: Iya, karena ini perintah dari ketua PASMM (Persatuan Anggota Sepeda Motor
Muria). Semua anggota ojek harus mengikuti acara itu kalau tidak nanti ada
sangsi.
M: siapa saja yang mengikuti acara ini ?
N: Anggota ojek, sinom (yang jualan assesoris di bawah masjid sunan muria),
pemilik kios. Masyarakat sekitar dan pengurus makam Sunan Muria.
M: Bagaimana tanggapan bapak mengenai ritual tersebut ?
N: Menarik ya, karena ini seperti acara khas daerah Muria.
M: Kegiatan inti apa yang dilakukan dalam ritual ini ?
N: Kegiatan pokoknya ya mencuci Cekathak.
M: Bagaimana penilaian Cekathak bagi masyarakat Colo ?
N: Itu kan peninggalan kanjeng Sunan Muria. Dianggap penting ya, dan
dikeramatkan. Sekarang saja disimpan pengurus, dan tidak ada yang boleh
megang.
M: Maaf, apakah menurut anda tradisi ini suatu penyimpangan karena dalam
Islam tidak diajarkan tentang ritual demikian.
N: oh tidak mbak... Ini kan ritual penghormatan terhadap Sunan Muria dengan
merawat peninggalannya seperti cekathak dan gentong. Sebernarnya acara ini
adalah ritual memohon hujan karena doa yang dibaca itu doa meminta hujan.
Narasumber: Sukeni
Selaku: Pemilik kios di terminal Colo
Umur: 55 tahun

M: Apakah anda pernah mengikuti prosesi Guyang Cekathak Sunan Muria ?


N: Ya mbak pernah
M: Anda mengikuti prosesi dari awal hingga akhir ?
N: iya.
M: Bagaimana tanggapan ibu mengenai ritual tersebut ?
N: acaranya ya begitu mbak.. Berdoa minta hujan
M: Kegiatan inti apa yang dilakukan dalam ritual ini ?
N: Kegiatan inti Guyang cekathaknya itu di sendang rejoso
M: Bagaimana penilaian Cekathak bagi masyarakat Colo ?
N: Cekathak adalah salah satu benda peninggalan Sunan Muria, selain itu ada
Gentong juga. Ya dijaga dirawat itu kan peninggalan bersejarah jadi sangat
penting untuk masyarakat desa Colo.
M: Apakah menurut anda tradisi ini suatu penyimpangan karena dalam Islam
tidak diajarkan tentang ritual demikian.
N: Menurut saya tidak. Justru malah itu melestarikan budaya. Ada makan nasi
lauk sayur khas muria, es dawet khas kudus itu juga melestarikan makanan khas
daerah mbak.
Lampiran 2 Dokumentasi Prosesi Guyang Cekathak

Gambar 1 Doa bersama memulai ritual Guyang Cekathak

Gambar 2 Mengiring cekathak ke Sendang Rejoso


Gambar 3 Pencucian cekathak Gambar 4 Makan
bersama usai

di Sendang Rejoso Ritual Guyang Cekathak


Lampiran 3 Laporan Monografi Desa Colo

Profil Desa Colo

Jumlah penduduk: 4.346

Jumlah KK: 1307

Jumlah Dukuh/RW: 4

Jumlah RT: 20

Jumlah warga miskin: 679 jiwa

A. Sejarah Desa

Sejarah dinamakan desa Colo karena pada waktu Sunan Muria menyebarkan
agama Islam di sekitar Muria. Pada waktu itu ada pencuri yang datang dari luar
wilayah Muria, yang kemudian tertangkap oleh santri Sunan Muria. Dari situlah
lalu Sunan Muria menamakan desa di bawah gunung Muria dengan nama Colo
(wong monco marai olo). Versi yang lain menyebutkan bahwa Colo berasal dari
kata Acala yang berarti gunung.

B. Kondisi Geografis

Desa Colo kecamatan dawe kabupaten Kudus provinsi Jawa Tengah merupakan
satu dari 18 desa di kecamatan Dawe yang memiliki jarak 18 km dari kota Kudus.
Secara geografis terletak di perbatasan dengan:

Sebelah Utara: Hutan lindung Muria


Sebelah Timur: Desa Japan dan desa Dukuhwaringin
Sebelah selatan: Desa Kuwukan, Dukuhwaringin dan kajar
Sebelah Barat: Desa Ternadi dan hutan lindung
Secara topografis desa Colo terdiri atas dataran tinggi dengan ketinggian 1300
meter di atas permukaan air laut. Sesuai dengan letak geografis, dipengaruhi iklim
daerah tropis yang dipengaruhi oleh angin muson dengan 2 musim, yaitu musim
kemarau pada bulan April - September dan musim penghujan antara bulan
Oktober - Maret. Desa Colo dalam suatu sistem hodrologi merupakan kawasan
rawan terhadap bencana alam tanah longor pada musim penghujan.

Pola tata guna lahan terdiri dari perumahan, tegalan atau kebon, sawah dan
penggunaan lainnya dengan sebaran perumahan seluas 6,18 %; tegalan 14,20%;
sawah seluas 7,49%; perkebunan rakyat 16,64%; hutan seluas 53,96%; dan
penggunaan lainnya meliputi jalan, sungai dan tanah kosong seluas 1,09%.

C. Keadaan Sosial

Peta sosial dibuat oleh masyarakat karena mereka yang banyak mengetahui
kondisi masing-masing daerahnya, sehingga dalam peta sekaligus disepakati
tanda-tanda agenda untuk peta sosial misalnya tentang tanda/ simbol batas dususn
atau desa, tanda jalan, perumahan, pertanian, ladang, tempat industri, kelompok
pengrajin, letak potensi desa dan lain sebagainya. Masyarakat menyepakati bila
rumah masyarakat miskin diberi simbol bujur sangkar berwarna merah,
masyarakat menengah diberi simbol segitiga biru, dan untuk masyarakat kaya
diberi simbol bintang kuning. Peta sosial ini memudahkan setiap orang atau
masyrakat sebagai media untuk melihat kondisi dan menganalisis kebutuhan dari
masing-masing dusun atau kelompok masyarakat.

D. Kondisi Pemerintahan Desa

Desa Colo terdirii dari 1 (satu) dusun, 4 (empat) RW dan 20 (dua puluh RT),
dengan potensi perangkatnya terdiri dari seorang kepala desa (kades), satu orang
pejabat sekretaris desa (sekdes atau carik), lima orang kaur kesra, empat orang
pembantu kaur kesra, satu kepala dusun (kadus) dan satu pembantu kadus. Colo
memiliki jumlah penduduk 4.346 orang yang terdiri dari 2.115 orang laki-laki dan
2.231 orang perempuan dengan jumlah Rumah tangga miskin sebanyak 162.
E. Kondisi Perekonomian Desa

Desa Colo sebagai salah satu desa di wilayah kecamatan Dawe, dimana Dawe
merupakan lumbung padi bagi kabupaten Kudus, maka mata pencaharian warga
masyarakat adalah mayoritas sebagai petani, buruh pabrik dan buruh bangunan.
Dengan demikian bidang pertanian merupakan prioritas utama dalam
pengembangan perekonomian masyarakat desa. Adapun mata pencaharian
masyarakat desa Colo sebagai berikut:

No Jenis Pekerjaan Jumlah Orang

1 Petani 85 orang
2 Buruh Tani 532 orang
3 Nelayan 0 orang
4 Pengusaha 52 orang
5 Buruh Industri 157 orang
6 Buruh bangunan 121 orang
7 Pedagang 347 orang
8 Pengankutan 20 orang
9 Angkutan Ojek 391 orang
10 Pegawai Negeri 32 orang
11 Pensiunan 23 orang
12 Lain-lain 1.407 orang

Luas lahan pertanian di desa Colo terdiri dari tanah seluas 50,00 Ha dan tanah
kering/tadah hujan seluas 2,00 Ha. Setiap tahunnya menghasilkan produksi beras
rata-rata 12,5 ton/Ha. Adapun tanaman utama di desa Colo adalah sebagai berikut:

No Jenis Luas Luas yg Rata-rata Jumlah


Tanaman Tanaman Dipane produksi Produksi
Akhir Bulan
n (Ha) Kw/Ha (Kg)
(Ha)

1 Padi 16,5 Ha 16,5 Ha 200 Kw 2.000 Kg

2 Jagung 3 Ha 3 Ha 150 Kw 1.500 Kg

3 Ketela Pohon 5 ha 5 Ha 200 Kw 2.000 Kg

4 Ketela Rambat 0,5 Ha 0,5 Ha 50 Kw 500 Kg

5 Kacang Tanah - Ha - Ha - Kw - Kg

6 Kedelai - - - -

7 Sayur-sayuran 0,25 ha 0,25 Ha 2,5 Kw 205 Kg

8 Buah-buahan - - - -

F. Sosial Budaya Desa

Jumlah kepala keluarga di Desa Colo sebanyak 1.307 KK, dengan jumlah
penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin sebagai berikut:

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah

0-4 119 133 252

5-9 154 165 319

10-14 176 188 364

15-19 313 319 632

20-24 487 497 984

25-29 316 324 640

30-39 254 262 516

40-49 180 190 370

50-59 96 103 199

60 + 35 35 70

Jumlah 2.115 2.231 4.346


Tingkat pendidikan masyarakat desa Colo sebagai berikut:

No Tingkat Pendidikan Jumlah Orang

1 Perguruan Tinggi 79 Orang

2 S3 0

3 S2 2 orang

4 S1 60 orang

5 Akademi 5 orang

6 SMU/SMK/MAN 203 orang

7 SLTP/MTs 547 orang

8 SD/MI 2.259 orang

9 Belum Tamat SD 123 orang

10 Tidak Tamat SD 123 orang

11 Tidak sekolah 224 orang

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas pendidikan masyarakat desa
Colo adalah pendidikan menengah. Untuk itu perlu upaya terusmenerus dan
berkesinambungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
pendidikan dalam rangka peningkatan SDM serta peningkatan sarana dan
prasarana pendidikan yang ada di desa.

Mayoritas penduduk desa Colo memeluk agama Islam dengan jumlah penduduk
pemeluk agama sebagai berikut:

No Agama Jumlah Orang

1 Islam 4.282 orang


2 Kristen Katholik -
3 Kristen Protestan 13 orang
4 Hindu -
5 Budha 54 orang

Berkaitan dengan seni dan budaya yang ada di desa Colo dilakukan upaya secara
terus menerus untuk mempertahankan nilai-nilai budaya dan agama yang
mengakar dari warisan leluhur, dengan harapan dapat menumbuhkan nilai-nilai
kepribadian masyarakat yang bermartabat.

G. Potensi Wisata

Daya tarik wisata ada dua, yaitu:

1. Wisata Religi: - Makam Sunan Muria

- Gentong keramat peninggalan Sunan Muria

- Masjid Sunan Muria

- Sendang Rejoso

- Makam Pangeran Pandak

- Makam Pangeran Gadung

- Makam Pangeran Gading

- Makam Syeh Kyai Sumur Bandung

- Makam Pangeran Nyi Ageng Mas

- Makam Nyi Ageng Ratu

2. Wisata Alam: - Air terjun Montel

- Perkebunan kopi rakyat

- Taman Ria
Seni Budaya: - seni tradisional Gamelan dan Wayang Kulit

- Sedekah Bumi

- Kupatan/ Parade Sewu Kupat

- Tradisi Wiwitan Kopi

- Haul Sunan Muria (setiap tanggal 15 Muharram)

- Haul Syeh Kyai Sumur Bandung (setiap tanggal 13 Muharram)

Kuliner khas daerah:

No Nama Kuliner Pengrajin Lokasi

1 Pecel Pakis Kaswadi (pemasok) Rt 05/02

2 Kopi Muria Sofil Fuad Rt 04/01

3 Pisang Byar Pasar Buah

4 Jeruk Pamelo Sriyono


Suhadi

5 Parijotho Maskuri Rt 01/03


Masyhuri Rt 01/03
Trimo Rt 04/-3
Kustur Rt 04/03
Suwono Rt 04/03

Kerajinan Tangan:

No Nama Kerajinan Pengrajin Lokasi

1 Kerajinan Kayu (asbak, mainan Kunarto Rt 03/01


anak-anak, alu)

2 Kerajinan Tongkat Wardono Rt 02/03


Bambang siswoyo Rt 03/03

3 Kerajinan Gantungan Kunci Wakijan Rt 01/03

4 Batik Muria Wati Rt 04/01


Teguh Budiwiyono Rt 05/01
Triyanto Rt 06/01