Anda di halaman 1dari 8

Peningkatan Yield Biodisel Dari Minyak Biji Nyamplung (Antonius Prihanto, dkk)

PENINGKATAN YIELD BIODISEL DARI MINYAK BIJI NYAMPLUNG


MELALUI TRANSESTERIFIKASI DUA TAHAP

Antonius Prihanto1, Bambang Pramudono2, Herry Santosa2


1
AKIN Santo Paulus, Jl. Sriwijaya 104 Semarang
2
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudarto, SH., Semarang, 50239
*email: antoniusprihanto@ymail.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang peningkatan yield biodisel dari minyak biji nyamplung
melalui transesterifikasi dua tahap. Transesterifikasi dua tahap digunakan untuk menggeser
reaksi ke arah kanan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan yield biodisel. Penelitian ini
dilakukan untuk mengkaji pengaruh rasio molar metanol-minyak, pengaruh suhu dan
pengaruh konsentrasi katalis terhadap yield biodisel dari minyak nyamplung. Perlakuan
pendahuluan untuk pemurnian bahan baku yang dilakukan meliputi proses degumming,
esterifikasi dan netralisasi. Transesterifikasi dua tahap dilakukan dengan menggunakan
variasi rasio molar metanol-minyak (6:1; 7:1; 8:1; 9:1; 10:1), suhu (30 oC, 40 oC, 50 oC, 60
o
C, 70 oC) dan konsentrasi katalis KOH (1 %, 1,25 %, 1,5 %, 1,75 %, 2,0 %). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa rasio molar metanol-minyak, suhu dan konsentrasi katalis berpengaruh
terhadap yield biodisel. Pada rasio molar metanol-minyak 8:1, suhu 60 oC dan konsentrasi
katalis KOH 1,25 % memberikan yield biodisel maksimal sebesar 92,98 %. Sebagian besar
parameter biodisel dari kondisi terbaik yang diuji telah memenuhi standar SNI 04-7182-2006.
Transesterifikasi dua tahap dapat meningkatkan yield biodisel dari minyak nyamplung,
walaupun tidak begitu besar.

Kata kunci : yield biodisel, nyamplung (Callophyllum inophyllum), transesterifikasi dua tahap

PENDAHULUAN Sumber minyak nabati yang tidak bersaing


Krisis energi dunia yang terjadi pada dekade dengan kebutuhan pangan bila digunakan
terakir memberikan dampak yang signifikan sebagai bahan baku biodisel diantaranya adalah
pada meningkatnya harga bahan bakar minyak. biji karet, biji jarak pagar, dan biji nyamplung.
Hal inilah yang mendorong pengembangan Penggunaan biji karet sebagai bahan baku
energi alternatif dengan pemanfaatan biodisel juga mengalami kendala karena
sumberdaya energi terbarukan. Salah satu produktifitas biji karet hanya sekitar 2
bentuk energi alternatif yang saat ini mulai ton/ha/tahun (Supriadi dan Balittri, 2012).
dikembangkan adalah biodisel. Biodisel Penelitian tentang pembuatan biodisel dari
merupakan salah satu bahan bakar alternatif minyak biji jarak juga telah banyak dilakukan.
pengganti solar yang ramah lingkungan. Penggunaan biji jarak sebagai bahan baku
Penggunaan biodisel sebagai bahan bakar biodisel juga mengalami kendala karena
mesin disel dapat menurunkan emisi bila produktifitas biji karet hanya sekitar 5 ton/ha
dibandingkan dengan minyak solar. Biodisel (Bustomi dkk., 2008). Dari ketersedian bahan
terbuat dari minyak nabati yang berasal dari baku, biji nyamplung memiliki beberapa
sumber daya alam yang dapat diperbaharui. kelebihan. Produktivitas biji dari tanaman
Berbagai minyak nabati telah diteliti untuk nyamplung termasuk tinggi yaitu 20 ton/ha
menghasilkan biodisel yang memenuhi syarat yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan biji
sebagai bahan bakar mesin disel. Salah satu karet 2 ton/ha, biji jarak pagar 5 ton/ha
minyak nabati yang banyak digunakan sebagai (Bustomi dkk., 2008). Kandungan minyak dari
bahan baku biodisel adalah minyak kelapa biji nyamplung tergolong tinggi yaitu sebesar
sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40-73 %, sedangkan jarak pagar 40-60 % dan
biodisel dari minyak kelapa sawit memenuhi biji karet 40-50 % (Soerawidjaja, 2006).
syarat sebagai bahan bakar mesin disel atau Minyak biji nyamplung merupakan sumberdaya
biodisel (Herizal, 2006; Kansedo et al., 2008). energi terbarukan yang cukup potensial sebagai
Minyak kelapa sawit sebagai minyak tanaman bahan dasar biodisel tanpa harus bersaing
pangan ketika digunakan sebagai sumber energi dengan kebutuhan pangan.
alternatif maka akan berkompetisi dengan Sampai saat ini belum banyak penelitian
kebutuhan pangan manusia. tentang pembuatan biodisel dari minyak biji

46
Momentum, Vol. 9, No. 2, Oktober 2013, Hal. 46-53 ISSN 0216-7395

nyamplung. Muniarsih (2006) telah melakukan minyak biji nyamplung, diharapkan dapat
penelitian pembuatan biodisel dari minyak biji meningkatkan yield biodisel dari minyak biji
nyamplung dengan menggunakan 4 kombinasi nyamplung.
proses. Kombinasi yang dilakukan adalah
esterifikasi-transesterifikasi (E1T), esterifikasi- METODOLOGI
esterifikasi-transesterifikasi (E1E2T), Bahan dan Alat
esterifikasi-netralisasi-transesterifikasi (E1NT) Bahan utama penelitian ini adalah minyak
dan esterifikasi-transesterifikasi-netralisasi biji nyamplung yang diperoleh dari daerah
(E1TN) untuk menghasilkan biodisel yang Cilacap, Jawa Tengah. Sebelum diolah menjadi
maksimal. Kombinasi proses esterifikasi- biodisel, minyak nyamplung ini dimurnikan
transesterifikasi memberikan rendemen biodisel lebih dulu melalui proses degumming,
tertinggi hanya sebesar 79,03 %. Venkana dan esterifikasi dan netralisasi. Bahan kimia yang
Venkataramana (2009) juga telah melakukan digunakan adalah H2SO4 PA, KOH PA, H3PO4
penelitian pembuatan biodisel dari minyak biji teknis, methanol teknis, etanol teknis, CCl4
nyamplung melalui esterifikasi-transesterifikasi teknis, NaOH PA, asam oksalat PA,
dengan menggunakan variasi rasio molar Phenolphthalein PA, Na2B4O7. 10 H2O PA,
metanol-minyak, konsentrasi katalis, temperatur HIO4 PA, KI teknis, Na2S2O3. 5H2O PA,
dan waktu untuk menghasilkan biodisel yang K2Cr2O7 PA dan Reagen Wijs PA. Alat yang
maksimal. Pada transesterifkasi dengan rasio digunakan dalam penelitian ini meliputi neraca
molar metanol-minyak 8:1, konsentrasi katalis analitis, hotplate dengan magnetik stirrer, labu
KOH 1,25 %, temperatur 60 oC dan waktu leher tiga, pendingin bola, termometer, vacuum
reaksi transesterifikasi 120 menit dihasilkan rotary evaporator, corong pisah, gelas piala,
yield biodisel dari minyak biji nyamplung pipet volume, erlenmeyer, gelas ukur, labu
sebesar 89 %. takar dan buret.
Tahap yang paling menentukan dalam
proses mengubah minyak menjadi metil ester Prosedur Penelitian
adalah transesterifikasi yang merupakan reaksi Proses degumming
dua arah. Untuk menggeser reksi ke arah kanan Limaratus ml minyak nyamplung yang telah
dapat dilakukan dengan menambahkan reaktan disaring dipanaskan pada suhu 80 oC dalam
berlebih atau dengan cara mengambil produk. gelas piala 600 ml sambil diaduk dengan
Yang umum dilakukan untuk menggeser reaksi menggunakan magnetic stirrer. Setelah 15
ke arah kanan pada transesterifikasi ini adalah menit, minyak ditambah larutan asam pospat 85
dengan menambahkan reaktan, dalam hal ini % sebanyak 1,5 ml atau 0,3 % (v/v) dan
alkohol dalam jumlah berlebih. Penambahan pengadukan dilanjutkan hingga 30 menit.
reaktan berlebih ternyata yield biodisel yang Selanjutnya minyak didiamkan semalam hingga
terbentuk kurang maksimal masih di bawah 90 gum dan kotoran terpisah dari minyak. Minyak
%. Pengambilan produk yang terbentuk pada selanjutnya dimasukkan ke dalam corong
proses transesterifikasi diharapkan dapat pemisah, dan dicuci dengan air hangat ( 60
o
meningkatkan yield biodisel dari minyak biji C). Pencucian diulang hingga air pencucian
nyamplung. Pengambilan produk biodisel netral dan dikeringkan dengan pengeringan
dalam proses transesterifikasi dapat dilakukan vakum pada suhu 85 oC selama 30 menit.
melalui transesterifikasi dua tahap.
Mendow et al. (2011) telah melakukan Proses esterifikasi
pembuatan biodisel dari minyak murni biji Tigaratus ml minyak hasil degumming
matahari melalui transesterifikasi dua tahap. dipanaskan dalam labu leher tiga hingga suhu
Pada rasio molar etanol-minyak 4,25:1 (25% v / mencapai 60 oC dengan hotplate. Minyak
v alkohol terhadap minyak), suhu reaksi 55 oC, ditambah 65 ml metanol sehingga rasio molar
konsentrasi katalis 1,06 % dari berat minyak methanol-FFA 8:1 dan ditambah 3 ml H2SO4 98
dengan penambahan katalis dan etanol 50 % %. Pemanasan dilakukan selama 120 menit
pada tiap tahap reaksi, waktu reaksi dengan kecepatan pengadukan 500 rpm
transesterifikasi 30 menit pada tahap 1 menggunakan magnetic stirrer. Minyak dan
menghasilkan konversi sebesar 91 % dan 60 metil ester yang terbentuk selanjutnya
menit pada tahap 2 menghasilkan nilai konversi dipisahkan dari sisa metanol dengan
hingga 99%. Transesterifikasi dua tahap ini bila menggunakan corong pisah. Hasil esterifikasi
diterapkan pada pembuatan biodisel dari dicuci dengan air hangat yang mengandung

Fakultas Teknik 47
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
Peningkatan Yield Biodisel Dari Minyak Biji Nyamplung (Antonius Prihanto, dkk)

NaHCO3 0,01 % hingga netral, selanjutnya Produk metil ester dicuci dengan air hangat
dikeringkan dengan pengeringan vakum pada ( 60 oC) yang mengandung asam acetat 0,01
suhu 85 oC selama 30 menit. %. Pencucian dilanjutkan dengan menggunakan
air hangat hingga air cucian menjadi netral.
Proses netralisasi Setelah metil ester dicuci, dikeringkan dengan
Tigaratus ml minyak hasil esterifikasi pengeringan vakum pada suhu 85 oC selama 30
dipanaskan hingga suhu 60 oC, selanjutnya menit.
ditambah 13,4 ml larutan NaOH 20 oBe dan Penentuan Yield Biodisel
diaduk selama 2 menit. Minyak dipindahkan ke Setiap hasil biodisel dari transesterifikasi
dalam corong pisah dan ditambah air suhu 70 dua tahap selanjutnya ditentukan yield biodiesel
o
C sebanyak 10 % dari volume minyak dan dengan menggunakan rumus :
dibiarkan hingga minyak dan air dapat
dipisahkan. Proses pencucian diulang hingga air berat biodisel
cucian netral, selanjutnya dikeringkan pada Yield biodisel = x
berat minyak nyamplung
suhu 85 oC dengan pengeringan vakum selama
30 menit. 100 %

Proses transesterifikasi dua tahap Pengujian kualitas produk.


Tahap pertama : 200 ml (183,19 gram) Biodisel dari proses transesterifikasi dua
minyak biji nyamplung hasil netralisasi tahap yang menghasilkan yield biodisel
dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan maksimal, selanjutnya diuji kualitasnya.
dipanaskan dengan hotplate hingga mencapai Parameter yang diuji antara lain masa jenis,
suhu 60 oC. Sebagian (50%) metanol dan katalis viskositas kinematik, angka setana, titik kabut,
(larutan metanolik-KOH) yang telah ditetapkan angka asam, gliserol bebebas, gliserol total,
ditambahkan ke dalam minyak, magnetic stirrer angka iodium dan kadar metil ester.
dihidupkan dengan kecepatan 500 rpm dan
proses beralangsung selama 30 menit. Setelah HASIL DAN PEMBAHASAN
transesterifikasi tahap pertama selesai, hasilnya Pengaruh Rasio Molar Metanol-Minyak
dipindahkan ke dalam corong pisah dan Untuk mengkaji pengaruh rasio molar
dibiarkan selama 2 jam hingga terbentuk dua minyak-metanol telah dilakukan dengan
lapisan (lapisan metil ester yang berada di menggunakan variabel tetap pada suhu 40 oC
bagian atas dan gliserol di bagian bawah). dengan konsentrasi katalis KOH 1 %. Hasil
Lapisan bagian bawah dibuang selanjutnya penelitian pengaruh rasio molar metanol-
lapisan bagian atas diteruskan ke dalam proses minyak terhadap yield biodisel seperti yang
transesterifikasi tahap kedua. ditunjukkan Gambar 1.
Tahap kedua : minyak hasil transesterifikasi Gambar 1. menunjukkan bahwa, bila rasio
tahap pertama dimasukkan kembali ke dalam metanol terhadap minyak ditingkatkan ternyata
labu leher tiga dan dipanaskan kembali hingga yield biodisel yang dihasilkan semakin
suhu 60 oC. Larutan metanolik-KOH sisa (50 meningkat. Hal ini dapat terjadi karena dengan
%) ditambahkan ke dalam minyak hasil bertambahnya jumlah metanol, jumlah
transesterifikasi tahap pertama. Proses tumbukkan yang efektif untuk menghasilkan
transesterifikasi tahap kedua dilakukan selama biodisel semakin meningkat. Reaksi
60 menit. transesterifikasi adalah reaksi dua arah,
Produk transesterifikasi tahap kedua sehingga dengan menambah jumlah metanol
dipindahkan ke dalam corong pisah dan maka akan menggeser reaksi ke arah produk,
dibiarkan kira kira 12 jam (semalam). Setelah sehingga jumlah biodisel yang dihasilkan
dibiarkan semalam campuran akan membentuk semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan
2 lapisan. Lapisan atas jernih kekuningan beberapa laporan penelitian sebelumnya (Meher
merupakan metil ester (biodisel) dan lapisan et al., 2006; Mendow et al., 2011; Venkana dan
bawah berwarna gelap adalah gliserol. Lapisan Venkataramana, 2009). Yield biodisel
bagian bawah di buang, dan lapisan bagian atas maksimal dicapai pada rasio molar metanol-
yang merupakan produk metil ester (biodisel) minyak 8:1 yaitu sebesar 86,93 %. Hal ini
diambil. sesuai dengan penelitian Venkana dan
Venkataramana (2009) pada pembuatan
Proses pemurnian produk biodisel dari minyak nyamplung pada rasio

48
Momentum, Vol. 9, No. 2, Oktober 2013, Hal. 46-53 ISSN 0216-7395

molar metanol-minyak 8:1 memberikan yield menurunkan jumlah yield biodisel yang
maksimal. Hasil ini berbeda dengan pendapat terbentuk. Ini terjadi karena pada suhu ini telah
Freedman et al. (1986) yang menyebutkan melewati titik didih metanol, sehingga sebagian
bahwa untuk transesterifikasi minyak nabati metanol mengalami perubahan fasa dari cair
menggunakan katalis basa, rasio molar menjadi gas. Terjadinya perubahan fasa
metanol-minyak yang optimal sebesar 6:1. metanol ini menyebabkan jumlah metanol
Penambahan rasio metanol-minyak diatas 8:1 dalam fasa cair berkurang. Berkurangnya
ternyata justru akan menurunkan yield biodisel, jumlah metanol dalam larutan menyebabkan
karena penambahan metanol diatas rasio ini berkurangnya jumlah tumbukan efektif untuk
akan menurunkan konsentrasi katalis dalam menghasilkan biodisel sehingga yield bidisel
larutan (Mendow et al., 2011). Menurunnya yang terbentuk akan berkurang.
konsentrasi katalis dalam larutan akan Menurunnya yield biodisel pada suhu di atas
mengurangi jumlah metoksida yang menyerang 60 oC juga disebabkan karena terjadinya reaksi
trigliserida sehingga jumlah biodisel yang penyabunan dari minyak sebelum reaksi
dihasilkan akan menurun. transesterifikasi selesai (Phan, 2008; Leung et
al., 2010; Meher et al., 2006; Venkana dan
Venkataramana, 2009).

Gambar 1. Pengaruh rasio molar metanol-


minyak terhadap yield biodisel
Gambar 2. Pengaruh suhu terhadap yield
(KOH 1 % dan t = 40 oC)
biodisel
(KOH 1 % dan rasio molar 8:1)
Pengaruh Suhu
Untuk mengkaji pengaruh suhu dilakukan
Pengaruh Konsentrasi Katalis
dengan menggunakan variabel tetap rasio
Untuk mengkaji pengaruh konsentrasi
metanol-miyak 8:1 (merupakan rasio terbaik)
katalis dilakukan dengan menggunakan variabel
dengan konsentrasi katalis KOH 1 %. Hasil
tetap rasio metanol-minyak 8:1 (merupakan
penelitian pengaruh suhu terhadap yield
rasio terbaik) dan suhu 60 oC (merupakan suhu
biodisel seperti ditunjukkan Gambar 2.
terbaik). Hasil penelitian pengaruh konsentrasi
Gambar 2. menunjukkan bahwa bila suhu reaksi
katalis KOH terhadap yield biodisel seperti
ditingkatkan, yield biodisel yang dihasilkan
yang ditunjukkan Gambar 3. Gambar 3.
semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan
menunjukkan bahwa pada konsentrasi katalis
dengan pendapat Leung et al. (2010) yang
KOH 1 % menghasilkan yield biodisel sebesar
menyatakan bahwa meningkatnya suhu reaksi
90,60 %. Bila konsentrasi katalis ini dinaikkan,
dapat menurunkan viskositas minyak sehingga
yield biodisel yang terbentuk juga meningkat.
mengakibatkan meningkatnya laju reaksi.
Hal ini terjadi karena fungsi katalis adalah
Meningkatnya suhu reaksi dapat
menurunkan energi aktivasi. Semakin besar
mengakibatkan jumlah tumbukkan efektif untuk
konsentrasi katalis dalam larutan, maka energi
menghasilkan biodisel. Suhu terbaik pada
aktivasi suatu reaksi semakin kecil, sehingga
reaksi transesterifikasi dua tahap ini adalah 60
o produk akan semakin banyak terbentuk.
C, menghasilkan yield biodisel maksimal
Meningkatnya konsentrasi katalis akan
sebesar 91,03 %. Hasil ini sesuai dengan hasil
meyebabkan meningkatnya yield biodisel.
penelitian Venkana dan Venkataramana (2009)
Pada konsentasi katalis KOH 1,25 % adalah
yang menyatakan bahwa peningkatan suhu
kondisi terbaik yang menghasilkan yield
hingga 60 oC akan meningkatkan yield biodisel.
biodisel maksimal yaitu sebesar 92,98 %. Bila
Tetapi penambahan suhu sampai 70 oC justru

Fakultas Teknik 49
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
Peningkatan Yield Biodisel Dari Minyak Biji Nyamplung (Antonius Prihanto, dkk)

konsentrasi katalis KOH ini terus ditingkatkan biodisel dari minyak biji nyamplung
hingga 2 %, yield biodisel yang terbentuk justru sebelumnya melalui transesterifikasi satu tahap,
semakin menurun. Hal ini terjadi karena maka yield biodisel dari minyak biji nyamplung
penambahan konsentrasi katalis yang melalui transesterifikasi dua tahap ini lebih
berlebihan, mendorong reaksi terbentuknya besar. Dari penelitian penelitian pembuatan
sabun (Hingu et al., 2010; Koh et al., 2011; biodisel dari minyak nyamplung melalui
Wang et al., 2012). Fakta ini terjadi ketika transesterifikasi satu tahap sebelumnya, yield
proses pencucian produk, adanya sabun akan maksimal yang dihasilkan sebesar 89 %
menghasilkan emulsi berwarna putih. Ternyata (Venkana dan Venkataramana, 2009).
semakin besar konsentrasi katalis KOH yang Muniarsih (2009) juga melaporkan pembuatan
digunakan, jumlah sabun yang dihasilkanpun dari minyak nyamplung melalui
semakin banyak. Semakin banyak sabun yang transesterifikasi satu tahap dan hanya
terbentuk, berarti jumlah minyak yang menjadi menghasilkan rendemen sebesar 79,03 %.
sabun semakin banyak. Semakin banyak Pembuatan biodisel dari minyak nyamplung
minyak yang menjadi sabun berarti semakin melalui transesterifikasi dua tahap ternyata
sedikit minyak yang dikonversi menjadi mampu meningkatkan yield biodisel, walaupun
biodisel, sehingga yield biodisel menjadi tidak begitu besar, dari 89 % (Venkana dan
menurun. Venkataramana, 2009) menjadi 92,98 %. Hasil
ini sesuai dengan yang dilaporkan Dorado et
al. (2002), bahwa transesterifikasi dua tahap
pada minyak nabati memiliki tingkat konversi
yang sedikit lebih tinggi dibandingkan
transesterifikasi satu tahap. Pada
transesterifikasi satu tahap menghasilkan
konversi sebesar 83-91% , sedangkan pada
transesterifikasi dua tahap menghasilkan
konversi sebesar 87-95%.

Kualitas Produk Biodisel Dari Miyak Biji


Nyampung
Produk biodisel minyak biji nyamplung
Gambar 3. Pengaruh konsentrasi katalis melalui transesterifikasi dua tahap dari kondisi
terhadap yield biodisel. terbaik rasio molar metanol-minyak 8:1,
(rasio molar 8:1 dan t = 60 oC) konsentrasi katalis KOH 1,25 % pada suhu 60
o
C telah diuji sifat fisika-kimianya. Hasil uji
Yield Biodisel Minyak Biji Nyamplung
laboratorium produk biodisel minyak biji
Kondisi terbaik pada pembuatan biodisel
nyamplung dari penelitian ini seperti yang
melalui transesterifikasi dua tahap ini adalah disajikan pada Tabel 1.
pada rasio molar minyak-metanol 8:1,
Dari data hasil uji laboratorium pada Tabel
konsentrasi katalis KOH 1,25 % pada suhu 60
o 1. menunjukkan bahwa 8 dari 9 parameter yang
C. Pada kondisi ini yield biodisel yang
telah diuji kelayakannya sebagai bahan bakar
dihasilkan dari minyak biji nyamplung murni
mesin disel telah memenuhi syarat menurut
adalah sebesar 92,98 %. Bila dibandingkan
ketentuan SNI 04-7182-2006.
dengan penelitian penelitian pembuatan
Tabel 1. Spesifikasi biodisel minyak nyamplung hasil transesterifikasi dua tahap
No Parameter Satuan Hasil uji Standar SNI
1 Masa jenis pada 40 oC kg/m3 871 850 890
2 Viskositas kinematik pada 40 oC mm2/s (cSt) 3,3 2,3 6,0
3 Angka setana - 68,3 min 51
o
4 Titik kabut C 21 maks 18
5 Angka asam mg-KOH/g 0,78 maks 0,8
6 Gliserol bebas % massa 0,02 maks 0,02
7 Gliserol total % massa 0,22 maks 0,24
8 Kadar ester alkil % massa 99,61 min 96,5
9 Angka iodium g I2/100 g 19,37 maks 115

50
Momentum, Vol. 9, No. 2, Oktober 2013, Hal. 46-53 ISSN 0216-7395

Masa jenis Angka setana yang tinggi juga berhubungan


Masa jenis merupakan salah satu parameter dengan rendahnya polutan NOx (Knothe et al.,
keberhasilan reaksi transesterifikasi. Masa jenis 2005). Secara umum biodisel memiliki angka
menunjukkan perbandingan berat per satuan setana yang lebih tinggi daripada solar.
volume (Prihandana dkk., 2006). Hasil Panjangnya rantai hidrokarbon dan tingginya
pengukuran produk dari minyak nyamplung ini kandungan asam lemak jenuh yang terdapat
adalah 871 kg/m3, sehingga telah memenuhi pada biodisel menyebabkan tingginya angka
standar masa jenis SNI sebagai biodisel yaitu setana dibandingkan dengan solar (Knothe et
antara 850-890 kg/m3. Masa jenis minyak al., 2005). Angka setana biodisel minyak
nabati lebih tinggi dibanding masa jenis nyamplung dari transesterifikasi dua tahap ini
biodisel yang ditetapkan SNI. Dengan adalah 68,3 sedangkan menurut ketentuan SNI
terpenuhinya nilai masa jenis biodisel seperti angka setana biodisel minimal adalah 51,
yang telah ditetapkan SNI maka proses sehingga telah memenuhi syarat sebagai bahan
transesterifikasi dapat dikatakan berhasil. bakar mesin disel.
Terpenuhinya nilai masa jenis ini juga
menunjukkan bahwa proses pemurnian biodisel Titik kabut
berhasil. Tidak murninya biodisel karena masih Temperatur pada saat terjadi kristal pada
mengandung pengotor, dapat menyebabkan biodisel yang dapat dilihat dengan mata disebut
nilai masa jenis tinggi. titik kabut (cloud point). Meski bahan bakar
masih bisa mengalir pada titik ini, keberadaan
Viskositas kinematik kristal di dalam bahan bakar bisa
Minyak nabati memiliki viskositas di atas mempengaruhi kelancaran aliran bahan bakar di
viskositas bahan bakar disel. Hal inilah yang dalam filter, pompa, dan injektor. Titik kabut
menjadi kendala penggunaan langsung minyak dari biodisel minyak nyamplung pada penelitian
nabati sebagai bahan bakar disel. Salah satu ini adalah 21 oC. Titik kabut biodisel minyak
tujuan utama transesterifikasi adalah nyampug dari tansesterifikasi dua tahap ini
menurunkan viskositas minyak nabati agar belum memenuhi ketentuan SNI yaitu
memenuhi standar bahan bakar diesel. maksimal 18 oC. Menurut Knothe et al. (2005),
Viskositas biodisel akan mempengaruhi pada umumnya titik kabut dan titik tuang
kecepatan alir bahan bakar melalui injektor biodisel lebih tinggi dibandingkan dengan solar.
sehingga dapat mempengaruhi atomisasi bahan Tingginya titik kabut ini berhubungan dengan
bakar di dalam ruang bakar. Selain itu, tingginya kandungan asam lemak jenuh dan
viskositas juga berpengaruh secara langsung rendahnya asam lemak tak jenuh penyusun
terhadap kemampuan bahan bakar bercampur biodisel. Hal ini sesuai dengan tingginya nilai
dengan udara. angka setana 68,3 dan rendahnya angka iodium
Viskositas kinematik biodisel yang produk biodisel yaitu 19,37.
dihasilkan pada penelitian ini adalah 3,3 cSt,
sedangkan viskositas kinematik biodisel Angka asam
menurut SNI pada suhu 40 C berkisar 2,3 6,0 Angka asam menunjukkan adanya asam
cSt, sehingga telah memenuhi syarat sebagai lemak bebas dalam biodisel. Adanya asam
bahan bakar mesin disel sesuai dengan lemak bebas dalam biodisel dapat
ketentuan SNI. Terpenuhinya nilai viskositas mengakibatkan terbentuknya abu pada saat
biodisel ini menurut ketentuan SNI, dapat pembakaran . Angka asam dapat menjadi
diartikan proses transesterifikasi dua tahap ini indikator kerusakan yang terjadi pada biodisel,
telah berjalan dengan baik untuk mengubah yang diduga akibat terjadinya aktivitas oksidasi.
minyak nyamplung menjadi biodisel. Angka asam biodisel yang dihasilkan dari
penelitian ini adalah 0,78 mg KOH/g biodisel.
Angka setana Angka asam ini cukup tinggi tetapi masih
Angka setana menunjukkan seberapa cepat memenuhi standar mutu yang ditetapkan SNI
bahan bakar mesin disel yang diinjeksikan ke yaitu maksimum 0,8 mg KOH/g biodisel.
ruang bakar dapat terbakar secara spontan Munculnya angka asam yang cukup tinggi ini
(setelah bercampur dengan udara). Semakin dimungkinkan karena dibiarkannya terlalu lama
tinggi angka setana, semakin cepat bahan bakar produk setelah proses transesterifikasi. Hal ini
mesin disel terbakar setelah diinjeksikan ke seperti yang telah dilaporkan Sumangat (2008),
dalam ruang bakar (Prihandana dkk., 2006). bahwa metil ester hasil proses transesterifikasi

Fakultas Teknik 51
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
Peningkatan Yield Biodisel Dari Minyak Biji Nyamplung (Antonius Prihanto, dkk)

dua tahap memiliki bilangan asam yang lebih alkil ester yang tinggi menunjukkan proses
tinggi. Pada proses transesterifikasi dua tahap, transesterifikasi untuk mengkonversi
metil ester memerlukan waktu 14 jam untuk trigliserida menjadi alkil ester telah berjalan
pengendapan, dua jam lebih lama daripada maksimal. Kadar alkil ester yang tinggi juga
proses satu tahap. Dengan waktu pengendapan menunjukkan bahwa kerusakan yang
yang lebih lama, mengakibatkan meningkatnya diakibatkan oleh aktivitas oksidasi elkil ester
bilangan asam. Selain itu penyimpanan produk menjadi asam lemak bebas rendah. Kadar alkil
biodisel tanpa ditutup juga mengakibatkan ester biodisel dari penelitian ini adalah 99,61 %
tingginya angka asam karena aktivitas oksidasi. dan lebih tinggi dibandinggkan kadar minimal
yang ditetapkan SNI yitu sebesar 96,5 %
Gliserol bebas sehingga telah memenuhi syarat sebagai bahan
Gliserol bebas menunjukkan adanya gliserol bakar mesin disel.
dalam biodisel. Semakin kecil kadar gliserol
bebas, artinya biodisel semakin murni. Semakin Angka iodium
kecil kandungan gliserol bebas menunjukkan Angka iodium menunjukkan kandungan
bahwa proses pemurnian biodisel tersebut telah asam lemak tak jenuh penyusun alkil ester
maksimal. Sebaiknya tingginya kandungan dalam biodisel. Keberadaan senyawa lemak tak
gliserol bebas dalam biodisel menunjukkan jenuh dapat meningkatkan performansi yaitu
proses pemurnian yang tidak sempurna karena meningkatkan angka setana (Knothe et al.,
biodisel masih bercampur degan gliserol dalam 2005). Di sisi lain besarnya asam lemak tak
jumlah yang cukup besar. Keberadaan gliserol jenuh dapat meningkatkan emisi gas NOX ,
bebas dapat menjadi sumber deposit karbon sehingga semakin tinggi angka iodium makin
pada mesin disebabkan pembakaran yang tidak tinggi gas NOX yang dihasilkan (Knothe et al.,
sempurna. Gliserol bebas biodisel dari minyak 2005). Banyaknya senyawa lemak tak jenuh di
nyamplung ini sebesar 0,02 %, dan telah dalam biodisel juga memudahkan senyawa
memenuhi syarat standar SNI sebagai bahan tersebut bereaksi dengan oksigen di atmosfer,
bakar disel maksimum 0,02 %. Dengan terpolimerisasi membentuk material serupa
terpenuhinya syarat gliserol bebas maksimal plastik. Oleh karena itu, terdapat batasan
dalam biodisel, maka proses pemurnian biodisel maksimal harga angka iodium yang
pada penelitian ini telah berjalan degan baik. diperbolehkan untuk biodisel, menurut SNI
maksimal 115. Angka iodium biodisel minyak
Gliserol total nyamplung dari transesterifikasi dua tahap ini
Gliserol total merupakan salah satu hanya sebesar 19,37, maka memenuhi syarat
parameter kualitas yang penting. Tingginya sebagai bahan bakar disel yang telah ditetapkan
gliserol total dalam produk biodisel, selain SNI.
kurang sempurnanya proses pemurnian juga
menunjukkan kurang sempurnanya proses KESIMPULAN
transesterifikasi. Gliserol total yang tinggi Pembuatan biodisel dari minyak nyamplung
menunjukkan masih banyak minyak yang melalui transesterifikasi dua tahap, semakin
belum dapat dikonversi menjadi metil ester dari meningkat rasio molar metanol-minyak, yield
suatu proses transesterifikasi. Tingginya biodisel yang diperoleh semakin meningkat.
gliserol total juga dapat menunjukkan Rasio terbaik untuk menghasilkan yield
rendahnya kemurnian biodisel. Gliserol total biodisel maksimal adalah 8:1.
produk biodisel penelitian ini adalah 0,22 %. Bila suhu reaksi transesterifikasi
Hasil ini masih di bawah dari kadar gliserol ditingkatkan, maka yield biodisel yang
maksimal yang ditetapkan SNI yaitu 0,24 %. diperoleh semakin meningkat. Suhu terbaik
Gliserol total dari biodisel ini telah memenuhi untuk menghasilkan yield maksimal adalah
syarat sebagai bahan bakar mesin disel menurut pada suhu 60 oC.
SNI, artinya transesterifikasi dua tahap pada Bila konsentrasi katalis dinaikkan, maka
penelitian ini telah berhasil mengkonversi yield biodisel yang dihasilkan meningkat.
trigliserida menjadi biodisel dengan baik. Konsentrasi katalis terbaik untuk menghasilkan
yield maksimal adalah pada konsentrasi KOH
Kadar alkil ester 1,25 %.
Kadar alkil ester dapat menunjukkan Transesterifikasi dua tahap dapat
kesempurnaan proses transesterifikasi. Kadar meningkatkan yield biodisel dari minyak biji

52
Momentum, Vol. 9, No. 2, Oktober 2013, Hal. 46-53 ISSN 0216-7395

nyamplung walaupun peningkatannya tidak L. Oil. Renewable and Sustainable Energy


begitu besar. Kondisi terbaik pembuatan Reviews 15 : 22402251
biodisel dari minyak biji nyamplung melalui Leung, D.Y.C., Wu, X. and Leung, M. K. H.
transesterifikasi dua tahap ini adalah pada rasio (2010). A review on Production Using
metanol-minyak 8:1, konsentrasi katalis KOH Catalyzed Transesterification. Applied
1,25 %, suhu 60 oC yang menghasilkan yield Energy 87: 1083-1095
biodisel sebesar 92,98 %. Meher, L.C., Vidya S..D. and Naik, S.N.
Biodisel yang diperoleh dari minyak biji (2004). Technical Aspect of Biodisel
nyamplung melalui transesterifikasi dua tahap Production by Transesterification.
ini menghasilkan biodisel yang sebagian besar Renewable and Sustainable Energy Reviews
telah memenuhi ketentuan SNI 04-7182-2006 10: 248-268.
sebagai bahan bakar mesin disel dengan kadar Mendow, N.S., Veizaga, B.S. and Sanchez,
metil ester 99,61 %. C.A. (2011). Biodisel Production by Two-
Stage Transesterification with Etanol.
DAFTAR PUSTAKA Bioresource Technology 102: 1040710413
_____. 2006. : SNI 04-7182-2006. Biodisel. Muniarsih, D. (2009). Kajian Proses Produksi
BSN, Jakarta. Biodisel dari Minyak Biji Nyamplung
Bustomi, S.,Tati Rostiwati, T., Sudradjat, R., (Calophyllum inophyllum L.). Skripsi,
Leksono, B., Kosasih, S., Anggraeni, I., Fakultas Teknologi Pertanian Institut
Syamsuwida, D., Lisnawati, Y., Mile, Y., Pertanian Bogor
Djaenudin, D., Mahfudz, Rachman, E. Phan, A.N. and Phan, T.M. (2008). Production
(2008). Nyamplung (Calophyllum from Waste Cooking Oils. Fuel 87: 3490
inophyllum L.) Sumber Energi Biofuel yang 3496
Potensial. Jakarta: Badan Litbang Prihandana, P., Hendroko, R. dan Munamin, M.
Kehutanan. (2006). Menghasilkan Biodisel Murah
Dorado., M.P., Ballesteros, E., De Almeida, Mengatasi Polusi dan Kelangkaan BBM.
J.A., Schellert, C., Lohrlein,H.P. and Jakarta : PT. Agromedia Pustaka
Krause, R. (2002). An Alkali-Catalyzed Soerawidjaja,T.H. (2006). Raw Material
Transesterification Process for High Free Aspects of Biodisel Production in Indonesia.
Fatty Acid Waste Oils. Transaction of Seminar Business Opportunities of Biodisel
American Society of Agricultural Engineers. into the Fuel Market in Indonesia,8 Maret
45: 525-529 2006. Jakarta: BPPT
Freedman, B., Butterfield, R.O. and Pryde.E.H. Sumangat, D. dan Hidayat, T. (2008).
(1986). Transesterification Kinetics of Karakteristik Metil Ester Minyak Jarak
Soybean Oil. JAOCS. 63 : 1375 1380 Pagar Hasil Poses Transesteriikasi satu dan
Herizal dan Rahman, M. (2008). Optimalisasi dua Tahap. J.Pascapanen 5: 18-26
Transesterifikasi Minyak Kelapa Sawit Supriadi, H. dan Balittri, E. R. 2012. Potensi
Menjadi Biodisel dengan Katalis NaOH. Pemanfaatan Biji Karet sebagai Biodisel
Lembaran Publikasi Lemigas, 42: 61 66 Ramah lingkungan. Warta Penelitian dan
Hingu, S.M., Gogate, P.R., Rathod, V.K. Pengembangan Tanaman Industri 18: 16
(2010). Synthesis of from Waste Cooking 19
Oil using Sonochemical Reactors. Venkanna, B.K. and Venkataramana, R.C.
Ultrasonics Sonochemistry 17: 827832 (2009). Biodisel Production and
Kansedo, J., Lee, K.T. and Bhatia, S. (2008). Optimization from Calophyllum Inophyllum
Biodisel Production from Palm Oil via Linn Oil (Honne Oil) A Three Stage
Heterogeneous Transesterification. Biomass Method. Bioresource Technology 100:
Bioenergy. 33: 271276. 51225125
Knothe, G., Van Gerpen, J. H. and Krahl, J. Wang, R., Zhou,W.W., Hanna, M.A., Zhang,
(2005). The biodisel handbook, AOCS Y.P., Bhadury, P.S., Wanga, Y., Song, B.A.
Press, Champaign, Ill. and Yang, S. (2012). Preparation,
Koh, M.Y., Mohd, T.I. and Ghazi. (2011). A Optimization, and Fuel Properties from
Review of Production from Jatropha Curcas Non-Edible Feedstock,Datura Stramonium
L. Fuel 91: 182186

Fakultas Teknik 53
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

Beri Nilai