Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering

dijumpai, merupakan 60-70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendisitis

akut. Penyebab yang paling sering dari obstruksi ileus adalah adhesi/ streng, sedangkan

diketahui bahwa operasi abdominalis dan operasiobstetri-ginekologik makin sering

dilaksanakan yang terutama didukung oleh kemajuan di bidang diagnostik kelainan

abdominalis.Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana

merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus

(Sabara, 2007).
Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia di diagnosa ileus

(Davidson, 2006). Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus

setiap tahunnya (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada7.059 kasus ileus paralitik dan

obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004

menurut Bank data Departemen Kesehatan Indonesia.Terapi ileus obstruksi biasanya

melibatkan intervensi bedah. Penentuan waktu kritis serta tergantung atas jenis dan lama

proses ileus obstruktif. Operasi dilakukan secepat yang layak dilakukan dengan

memperhatikan keadaan keseluruhan pasien.


B. Tujuan Umum
C. Tujuan Khusus

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI
Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina,

2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan

tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001). Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang

menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional. (Tucker,

1998)Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang

menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan.


Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan

penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara,

2007). Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus

(Davidson, 2006).

Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)

aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik,

partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan

perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru mengenai usus

halus.Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis

dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.

Beberapa pengertian obstruksi usus dan ileus obstruksi menurut para ahli, yaitu:

a. Obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal

melalui saluran pencernaan. (Brunner and Suddarth, 2001).


b. Obstruksi usus adalah gangguan isi usus disepanjang saluran usus (Patofisiologi vol

4, hal 403).
c. Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus

intestinal (Nettina, 2001).


d. Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi

usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001).


e. Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan,

flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional (Tucker, 1998).
f. Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan

penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara,

2007).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan total

atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau gangguan

usus disepanjang usus. Sedangkan Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya

pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik.

B. ETIOLOGI
Ileus obstruktif dapat disebabkan oleh (Doherty et al 2002) :
1. Adhesi (perlekatan usus halus) merupakan penyebab tersering ileus obstruktif, sekitar

50-70% dari semua kasus. Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi

intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Obstruksi yang

disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami operasi

abdomen dalam hidupnya. Perlengketan kongenital juga dapat menimbulkan ileus

obstruktif di dalam masa anak-anak.


2. Hernia inkarserata eksternal (inguinal, femoral, umbilikal, insisional, atau parastomal)

merupakan yang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus obstruktif dan merupakan

penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat operasi abdomen.

Hernia interna (paraduodenal, kecacatan mesentericus, dan hernia foramen Winslow)

juga bisa menyebabkan hernia.


3. Neoplasma. Tumor primer usus halus dapat menyebabkan obstruksi intralumen,

sedangkan tumor metastase atau tumor intraabdominal dapat menyebabkan obstruksi

melalui kompresi eksternal.


4. Intususepsi usus halus menimbulkan obstruksi dan iskhemia terhadap bagian usus

yang mengalami intususepsi. Tumor, polip, atau pembesaran limphanodus

mesentericus dapat sebagai petunjuk awal adanya intususepsi.


5. Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi akut selama

masa infeksi atau karena striktur yang kronik.


6. Volvulus sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital, seperti malrotasi

usus. Volvulus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus besar.


7. Batu empedu yang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat dari kantong empedu

menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus halus yang

menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang

besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup

ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.


8. Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskhemia, inflamasi, terapi radiasi,

atau trauma operasi.


9. Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau penumpukan

cairan.
10. Benda asing, seperti bezoar.
11. Divertikulum Meckel yang bisa menyebabkan volvulus, intususepsi, atau hernia

Littre.
12. Fibrosis kistik dapat menyebabkan obstruksi parsial kronik pada ileum distalis dan

kolon kanan sebagai akibat adanya benda seperti mekonium.


C. MANIFESTASI KLINIS
1. Obstruksi usus halus
a) Gejala awal biasanya berupa nyeri abdomen sekitar umbilicus atau bagian

epigasterium yang cenderung bertambah sejalan dengan beratnya obstruksi dan

bersifat intermiten (hilang timbul). Jika obstruksi terletak di bagian tengah atau

letak tinggi dari usus halus (jejunum dan ileum bagian proksimal) maka nyeri

bersifat konsten atau menetap.


b) Klien dapat mengeluarkan darah dan mucus, tetapi bukan materi fekal dan tidak

terdapat flatus.
c) Umumnya gejala obstruksi berupa konstipasi yang berakhir pada distensi

abdomen, tetapi pada klien obstruksi partial bisa mengalami diare.


d) Pada obstruksi komplet, gelombang peristaltic pada awalnya menjadi sangat keras

dan akhirnya berbalik arah dan isi usus terdorong ke arah mulut.
e) Apabila obstruksi terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat terjadi. Semakin

kebawah obstruksi di area gastrointestinal yang terjadi, semakin jelas adanya

distensi abdomen.
f) Jika obstruksi usus terjadi terus dan tidak diatasi maka akan terjadi syok

hipovolemia akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma, dengan manifestasi

klinis takikardi dan hipotensi, suhu tubuh biasanya normal, tapi kadang kadang

dapat meningkat. Demam menunjukkan obstruksi strangulata.


g) Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen tampak distensi dan peristaltic

meningkat. Pada tahap lanjut dimana obstruksi terus berlanjut, peristaltic akan

melemah dan hilang. Adanya feces bercampur darah pada pemeriksaan rectal

toucher dapat dicurigai adanya keganasan dan intususepsi.


2. Obstruksi usus besar
a) Nyeri perut yang bersifat kolik dalam kualitas yang sama dengan obstruksi pada

usus halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah.


b) Muntah muncul terakhir terutama bila katup ileosekal kompeten. Pada klien

dengan obstruksi di sigmoid dan rectum, konstipasi dapat menjadi gejala satu

satunya selama beberapa hari.


c) Akhirnya abdomen menjadi sangat distensi, loop dari usus besar menjadi dapat

dilihat dari luar melalui dinding abdomen.


d) Klien mengalami kram akibat nyeri abdomen bawah (Suratun & Lusianah, 2010,

hlm 339)
Brunner & Suddarth (2001) membagi dua obstruksi usus yaitu usus halus dan

obstruksi usus besar dimana masing-masing dari keduanya memilki manifestasi yaitu :
1. Manifestasi usus halus
Gejala awal biasanya berupa nyeri kram yang terasa seperti gelombang dan bersif

kolik. Pasien dapat mengeluarkan darah dan mucus, tetapi bukan materi fekal dan

tidak terdapat flatus. Terjadi muntah, pola ini adalah karakter yang sering muncul.
Pada obstruksi komplet, gelombang peristaltik pada awalnya menjadi sangat keras

dan akhirnya berbalik arah, dan isi usus terdorong ke depan mulut. Apabila obstruksi

terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat terjadi. Pertama, pasien akan

memuntahkan isi lambung, kemudian isi duodenum dan jejunum yang mengandung

empedu, dan akhirnya dengan disetai nyeri paroksisme, pasien memuntahkan isi

ileum yaitu suatu bahan mirip fekal yang berwarna lebih gelap.
2. Manifestasi usus besar
Obstruksi usus besar berbeda secara klinis dari onstruksi usus halus, dalam hal ini

gejala terjadi dan berlanjut relative lambat. Pada pasien dengan obstruksi di sigmoid

atau rectum, konstipasi dapat menjadi gejala satu-satunya selama beberapa hari.

Akhirnya abdomen menjadi sangat distensi, loop pada usus besar menjadi dapat

dilihat dari luar melalui dinding abdomen, dan pasien akan menderita kram akibat

nyeri abdomen bawah. Akhirnya terjadi muntah fekal dan dapat mengakibatkan gejala

syok.
D. PATOFISIOLOGI
Obstruksi usus terjadi bila sumbatan mencegah aliran normal dari isi usus melalui saluran

usus. Aliran ini dapat terjadi karena 2 tipe proses yaitu :


a. Mekanis
Terjadi obstruksi intramural atau obstruksi mural dari tekanan pada dinding usus.

Contoh kondisi ini dapat yang dapat menyebabkan obstruksi mekanis adalah

intususepsi, tumor polipoid, dan neoplasma, stenosis, striktur, perlekatan, hernia dan

abses.
b. Fungsional
Muskulatur usus tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya adalah

amiloidosis, distrofi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan

neurologis seperti penyakit Parkinson. Ini juga dapat bersifat sementara sebagai

akibat dari penanganan usus selama pembedahan.


Obstruksi ini dapat bersifat parsial atau komplet. Keparahannya tergantung pada

daerah usus yang terkena, derajat dimana lumen tersumbat, dan khususnya derajat

dimana sirkulasi darah dalam dinding usus terganggu.


Kebanyakan obstruksi usus (85%) terjadi dalam usus halus. Perlekatan paling umum

menyebabkan obstruksi usus halus (insiden sebanyak 60%), diikuti dengan hernia dan

neoplasma. Penyebab lain mencakup intususepsi, vol-vulus (pemutaran usus), dan ileus

paralitik. Kira-kira 15% obstruksi usus terjadi di usus besar, dan kebanyakan ditemukan

di sigmoid. Penyebab paling umum adalah karsinoma, diverticulitis, gangguan usus

inflamasi, dan tumor ganas.


E. PATHWAY
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya

ditemukan hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal.

Peningkatan serum amilase sering didapatkan. Leukositosis menunjukkan adanya

iskemik atau strangulasi. Hematokrit yang meningkat dapat terjadi pada dehidrasi.

Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin

terganggu, dengan alkalosis metabolic bila muntah berat, dan metabolic asidosis bila

ada tanda tanda syok, dehidrasi dan kitosis.


2. Pemeriksaan foto polos abdomen
Dapat memperlihatkan dilatasi lengkung usus halus disertai dengan batas antara

air dan udara atau gas (air fluid lever) yang membentuk bagaikan tangga, terutama

pada obstruksi bagian distal. Jika terjadi strangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat
gambaran berupa hilangnya mukosa yang regular dan adanya gas dalam dinding usus.

Udara bebas pada foto thorax tegak menunjukkan adanya perforasi usus.
3. Pemeriksaan CT scan
Dikerjakan secara klinis dan foto polos abdomen dicurigai adanya strangulasi. CT

scan akan mempertunjukkan secara lebih teliti adanya kelainan pada dinding usus

(obstruksi komplet, abses, keganasan), kelainan mesenterikus, dan peritoneum. Pada

pemeriksaan ini dapat diketahui derajat dan lokasi dari obstruksi.


4. Pemeriksaan radiologi dengan barium enema
Pemeriksaan ini mempunyai suatu peran terbatas pada klien dengan obstruksi

usus halus. Pengujian enema barium terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi

letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto polos abdomen.
5. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran penyebab dari obstruksi.
6. Pemeriksaan MRI
Teknik ini digunakan untuk mengevaluasi iskemia mesenteric kronis.
7. Pemeriksaan angiografi
Angiografi mesenteric superior telah digunakan untuk mendiagnosis adanya

herniasi internal, intususepsi, volvulus, malrotation, dan adhesi (Suratun & Lusianah,

2010, hlm 340 341).


G. KOMPLIKASI
1. Nekrosis usus
2. Perforasi usus dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra

abdomen.
3. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi

peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen


4. Sepsis infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
5. Syok dehidrasi terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma
6. Abses sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi
7. Pneumonia aspirasi dari proses muntah
8. Gangguan elektrolit. Refluk muntah dapat terjadi akibat distensi abdomen. Muntah

mengakibatkan kehilangan ion hidrogen dan kalium dari lambung, serta menimbulkan

penurunan klorida dan kalium dalam darah (Dermawan, dkk. 2010. Hal. 77).
1. PENETALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN
Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan cairan dan

elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah dengan intubasi dan kompresi,

memperbaiki peritonitis dan syok bila ada, serta menghilangkan obstruksi untuk

memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.


a. Perawatan
Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah

dengan intubasi dan kompresi, memperbaiki peritonitis dan syok bila ada, serta

menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali

normal.
b. FarmakologI
Obat antibiotik dapat diberikan untuk membantu mengobati atau mencegah infeksi

dalam perut, obat analgesic untuk mengurangi rasa nyeri.


a. Paracentesis
Prosedur ini juga disebut tekan perut atau peritoneum atau dimasukkan obat khusus di

dalam perut. Menghapus cairan tambahan dapat membantu bernafas lebih mudah dan

merasa lebih nyaman. Cairan dapat dikirim ke laboratorium dan diperiksa untuk

tanda-tanda infeksi atau masalah lainnya


b. Tindakan Bedah

Laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya

perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus. (Arif Mansjoer, 2000).

Laparatomi adalah prosedur tindakan pembedahan dengan membuka cavum abdomen

dengan tujuan eksplorasi.

Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada

pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.

Macam Laparotomi :

1. Midline incision 2,5 cm), panjang (12,5 cm).


2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya

pembedahan colesistotomy dan splenektomy.


4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian 4 cm di atas

anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasibawah appendictomy.


H. BASIC PROMOTING PHYSICOLOGY OF HEALTH ( NUTRISI )
1. Pengertian
Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan

penyakit, termasuk keseluruhan proses proses dalam tubuh manusia untuk menerima

makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan

tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya. Nutrisi

dapat dikatakan sebagai ilmu tentang makanan, zat-zat gizi dan zat lain yang

terkandung, aksi reaksi dan keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan dan

penyakit. ( Wartonah, 2010 )


Nutrisi juga dapat di katakan sebagai ilmu tentang makanan, zat-zat lain yang

terkandung, aksi, dan keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan penyakit.


2. Fisiologi / pengaturan
Tubuh memerlukan bahan bakar untuk menyediakan energi untuk fungsi organ

dan pergerakan badan, untuk menyediakan material mentah, untuk fungsi enzim,

pertumbuhan, penempatan kembali dan perbaikan sel. Metabolisme mengacu pada

semua reaksi biokimia dalm tubuh. Proses metabolic dapat menjadi anabolic

(membangun) atau katabolic (merusak). Energy adalah kekuatan untuk bekerja,

manusia membutuhkan energy untuk terus menerus berhubungan dengan

lingkungannya.
1. Pemasukan energy
Pemasukan energi merupakan energi yang dihasilkan selama oksidasi

makanan. Makanan merupakan sumber utama energi manusia. Besarnya energi

yang dihasilkan dengan satuan kalori. 1 kalori juga disebut 1 kalori besar ( K )
atau kkal adalah jumlah panas yang di butuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg air

sebesar 1 c. 1 kkal = 1 K atau sama dengan 1000 kalori.


2. Pengeluaran energy
Pengeluaran energi adalah energi yang digunakan oleh tubuh untuk men-

support jaringan dan fungsi-fungsi organ tubuh. Cadangan energi tubuh berbentuk

senyawa phospat seperti ATP. Kebutuhan energi seseorang ditentukan oleh BMR

dan aktivitas fisik.


3. Basal metabolisme rate (MBR)
Basal Metabolisme Rate adalah energi yang digunakan tubuh pada saat

istirahat yaitu untuk kegiatan fungsi tubuh seperti pergerakan jantung,

perbafasan, peristaltic usus, kegiatan kelenjar-kelenjar tubuh.

Makanan di dalam tubuh mengalami beberapa proses. Mulai dari pencernaan, absorbsi,

metabolisme, dan penyimpanan hingga eliminasi.

1. Pencernaan
Pencernaan dimulai dari mulut, tempat makanan di pecah secara mekanik dengan

mengunyah. Protein dan lemak dipecahkan secara fisik tetapi tetap tidak berubah

secara kimia karena enzim dalam mulut tidak bereaksi dengan nutrisi ini. Makanan

yang telah ditelan memasuki esopagus dan bergerak sepanjangnya dan dengan

kontraksi otot seperti gelombang (peristaltik). Massa makanan yang berada pada

kardiak spinkter, berlokasi pada pembukaan atas lambung, menyebabkan spinkter

relaksasi dan memungkunkan makanan masuk lambung. Di dalam lambung,

pepsinogen di sekresikan dan diaktifkan oleh asam hidrokolik menjadi pepsin, enzim

pemecah protein. Lambung juga mengeluarkan sejumlah kecil lipase dan amilase

untuk mencerna lemak dan zat tepung secara berturut-turut. Lambung juga bertindak

sebagai penyimpanan dan makanan menetap di dalam perut kira-kira 3 jam, dengan

rentang dari 1-7 jam. Makanan meninggalkan lambung pada spinkter pilorik sebagai
asam, massa cair yang disebut kimus. Kimus mengalir ke duodenum dan bercampur

cepat dengan empedu, getah intestinal, sekresi pangkreas. Peristaltik terjadi terus

menerus dalam usus kecil, mencampur sekresi dengan kimus.


2. Absorbsi
Usus kecil merupakan tempat penyerapan utama nutrien. Sepanjang daerah ini

terdapat penonjolan seperti jari yang disebut vili, untuk meningkatkan area

permukaan absorbsi. Nutrient diabsorbsi oleh difusi pasif dan osmosis, transport aktif,

dan pinositosis.
3. Metabolisme
Nutrien diabsopsi dalam intestinal, termasuk air, yang ditransportasikan melalui

system sirkulasi ke jaringan tubuh. Melalui perubahan kimia dari metabolisme,

nutrien diubah ke jumlah substansi yang diperlukan oleh tubuh. Dua tipe dasar

metabolisme adalah anabolisme dan katabolisme. Anabolisme merupakan produksi

dari substansi kimia yang lebih kompleks dengan sintesis nutrient. Katabolisme

merupakan pemecahan substansi kimia menjadi substansi yang lebih sederhana.


4. Penyimpanan
Beberapa, tapi tidak semua, nutrient yang diperlukan tubuh disimpan dalam jaringan

tubuh. Bentuk pokok tubuh dari energi yang disimpan adalah lemak, yang disimpan

sebagai jaringan adiposa. Glikogen disimpan dalam cadangan kecil di hati dan

jaringan otot dan protein dan protein disimpan dalam massa otot. Ketika keperluan

energi tubuh melebihi persediaan energi dari nutrient yang dimakan, maka energi

yang disimpan digunakan. Sebaliknya energi yang tidak digunakan harus disimpan

terutama lemak.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi
1. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan bergizi dapat mempengaruhi

pola konsusmsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi

sehingga dapat terjadi kesalahan dalam memahami kebutuhan gizi.


2. Usia
Pada usia 0-10 tahun kebutuhan metabolisme basa bertambah dengan cepat hal ini

sehubungan dengan factor pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada usia

tersebut. Setelah usia 20 tahun energy basal relative konstan.


3. Jenis kelamin
Kebutuhan metabolisme basal pada laki-laki lebih besar di bandingkan dengan

wanita pada laki-laki kebutuhan BMR 1,0 kkal/kg BB/jam dan pada wanita 0,9

kkal/kgBB/jam.
4. Tinggi dan berat bada
Tinggi dan berat badan berpaengaruh terhadap luas permukaan tubuh, semakin

luas permukaan tubuh maka semakin besar pengeluaran panas sehingga

kebutuhan metabolisme basal tubuh juga menjadi lebih besar.


5. Ekonomi
Status ekonomi dapat mempengaruhi perubahan status gizi karena penyediaan

makanan bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Oleh karena itu,

masyarakat dengan kondisi perekonomian tinggi biasanya mampu mencukupi

kebutuhan gizi keluarganya dibandingkan masyarakat dengan kondisi

perekonomian rendah.
6. Status kesehatan
Nafsu makan yang baik adalah tanda yang sehat . Anoreksia (kurang nafsu

makan) biasanya gejala penyakit atau karena efek samping obat.


7. Faktor Psikologis serti stress dan ketegangan
Motivasi individu untuk makan makanan yang seimbang dan persepsi individu

tentang diet merupakan pengaruh yang kuat. Makanan mempunyai nilai simbolik

yang kuat bagi banyak orang (mis. Susu menyimbolkan kelemahan dan daging

menyimbulkan kekuatan).

8. Alkohol dan Obat


Penggunaan alcohol dan obat yang berlebihan memberi kontribusi pada defisiensi

nutrisi karena uang mungkin dibelajakan untuk alcohol daripada makanan.


Alcohol yang berlebihan juga mempengaruhi organ gastrointestinal. Obat-obatan

yang menekan nafsu makan dapat menurunkan asupan zat gizi esensial. Obat-

obatan juga menghabiskan zat gizi yang tersimpan dan mengurangi absorpsi zat

gizi di dalam intestine.


4. Nilai-nilai normal
1. Nilai normal kebutuhan gizi
a) Kebutuhan gizi anak usia 1-3 thn : 1300 kal
b) Kebutuhan gizi anak usia 4-6 thn : 1720 kal
c) Kebutuhan gizi anak usia 7-9 thn : 1900 kal
d) Kebutuhan gizi anak usia 10-12 thn : laki-laki : 2000 kal
Perempuan : 1900 kal
e) Kebutuhan gizi dewasa : laki-laki : 3000 kkal/hari

Perempuan : 2000

kkal/hari
f) Kebutuhan gizi lansia : laki-laki : 2250 kkal/hari

perempuan : 1750

kkal/hari
2. Cara penghitungan
a) Status gizi berdasarkan berat badan
berat badan saat ini
berat badanideal x100%

Keterangan :
BB lebih : 110%
BB normal : 90 109%
BB kurang : < 90%
b) Menghitung kebutuhan energy (menetukan BBL dan BBW)

Usia BBL diketahui


1 6 bln 1. DBW : BBL (gr) + (usia dlm 1. DBW : (usia dlm bulan :
7 12 bln bulan x 600 gr) 2)+ 3 4 kg
2. DBW : BBL (gr) + ( usia dalam 2. Usia 6 bln = 2 x BBL
bln x 800) 3. Usia 12 bln = 3 x BBL
>12 bln DBW = (usia dalam tahun x 2 ) = 8
kg
Remaja dan BBL : (TB (cm) 100)
dewasa 10%
berat badan(kg)
IMT =
tinggi badan( cm)

Keterangan :

Kurus = kekurang BB tingkat berat = < 17,0

Kekurangan BB tingkat ringan = 17,0 18,5

Normal = 18,5- 25,0

Gemuk = kelebihan BB ringan = 25,0 27,0

Kelebihan tingkat berat = > 27,0

5. Jenis gangguan
Secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi terdiri atas kekeurangan dan kelebihan

nutrisi, obesitas, malnutrisi, Diabetes Melitus, Hipertensi, Jantung Koroner, Kanker,

Anoreksia Nervosa.

1. Kekurangan nutrisi
Kekurangan nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan

tidak berpuasa (normal) atau resiko penurunan berat badan akibat

ketidakmampuan asupan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.


2. Kelebihan nutrisi
Kelebihan nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang

mempunyai resiko peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme

secara berlebihan.
3. Obesitas
ObesitasObesitas merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai

lebih dari 20% berat badan normal. Status nutrisinya adalah melebihi kebutuhan

asupan kalori dan penurunan dalam penggunaan kalori.


4. Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi

pada tingkat seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan zat gizi yang

tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Gejala umumnya adalah berat badan rendah

dengan asupan makanan yang cukup atau asupan kurang dari kebutuhan tubuh,

adanya kelemahan otot dan penurunan energi, pucat pada kulit, membrane

mukosa, konjungtiva dan lain- lain.


5. Diabetes mellitus
Diabetes Melitus merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan

adanya gangguan metabolism karbohidrat akibat kekurangan insulin atau

penggunaan karbohidrat secara berlebihan.


6. Hipertensi
Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai

masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas,

serta asupan kalsium, natrium, dan gaya hidup yang berlebihan.


7. Penyakit jantung koroner
Penyakit jantung koroner merupakan gangguan nutrisi yang sering disebabkan

oleh adanya peningkatan kolesterol darah dan merokok. Saat ini, penyakit jantung

koroner sering dialami karena adanya perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat,

obesitas dan lain-lain.


8. Kanker
Kanker merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang disebabkan oleh

pengonsumsian lemak secara berlebihan.


I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Untuk mengkaji status nutrisi pasien dipaparkan pendekatan ABCD, yaitu:
a. Anthropolometric measurement
Tujuan pengukuran ini adalah mengevaluasi pertumbuhan dan mengkaji status nutrisi

serta ketersediaan energi tubuh. Pengukuran anthopometrik terdiri atas:


1) Tinggi badan
2) Berat badan
3) Tebal lipatan kulit
4) Lingkar Tubuh
b. Biochemical data
Pengkajian status nutrisi klien ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium. Klien

diperiksa darah dan urinnya yang meliputi pemeriksaan hemoglobin, hemaktokrit,

albumin. Albumin berfungsi untuk memelihara kesembangan cairan dan elektrolit

serta untuk transportasi nutrisi dan hormone.


c. Clinical sign of nutrional status
Klien dengan maslah nutrisi akan memperhatikan tanda-tanda abnormal tersebut

bukan saja pada organ-organ fisiknya tetapi juga fisiologisnya.


d. Dietery history
Masyarakat pada umumnya pernah melakukan diet. Akan tetapi cara ini hanya

merangsang pengeluaran cairan, bukan perubahan kebiasaan makanan. Pola makan

dan kebiasaan makan dipengaruhi oleh budaya, latar belakang, status sosial ekonomi,

aspek psikologi. Faktor yang perlu dikaji dalam riwayat konsumsi nutrisi/diet klien

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d agen injury fisik
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologi
3. Resiko infeksi b.d prosedur infasiv
K. RENCANA KEPERAWATAN
1. Analisa data
2. Intervensi
3. Catatan Perkembangan