Anda di halaman 1dari 6

PENGERTIAN AKUNTABILITAS

Pusdiklat BPKP (2007), memandang bahwa Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat


terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (good governance dan clean
government) telah mendorong pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban
yang jelas, tepat, teratur, dan efektif yang dikenal dengan Sistem Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (SAKIP). Menurut BPKP, Akuntabilitas dipandang sebagai perwujudan
kewajiban seseorang atau unit organisasi untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan
sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui media pertanggungjawaban berupa laporan
akuntabilitas kinerja secara periodik.

Menurut Starling (1998;164) dalam Kumorotomo (2005) mengatakan bahwa akuntabilitas


ialah kesediaan untuk menjawab pertanyaan publik. Kesulitan untuk menuntut
pertanggungjawaban pemerintah terhadap kualitas pelayanan publik terutama disebabkan
karena sosok pemerintah itu sendiri tidak tunggal. Untuk itu diperlukan sistem akuntabilitas
bagi lembaga pemerintah yang memadai sebagai syarat penting peningkatan kualitas layanan
publik.

Menurut Dwiyanto (2010), birokrasi weberian memandang akuntabilitas secara sederhana,


yaitu sebatas hubungan bawahan dengan atasannya (Gerth & Mills dalam Sharirits &
Hyde,1978;24). Akuntabilitas seorang aparat birokrasi adalah pertanggungjawabannya
kepada atasan,bukan kepada kolega,kelompok dan organisasinya. Model seperti ini membuat
kepedulian terhadap kepentingan dan misi organisasi menjadi rendah.

Denhardt (1998;18) dalam Kumorotomo (2005) menawarkan literatur akuntabilitas dikaitkan


dengan kualitas subyektif, berupa tanggung jawab para pejabat publik dan di lain pihak
banyak menyebut pentingnya kontrol struktur yang menjamin pertanggung jawaban tersebut.
Di sisi lain, Dwiyanto (2010) membagi kepercayaan ke dalam dua jenis yaitu political trust
dan social trust. Dalam perspektif politik, kepercayaan terjadi ketika warga menilai lembaga
pemerintah dan para pemimpinya dapat memenuhi janji, efisien,adil dan jujur (Blind,2007).

Sampai saat ini, menurut Kumorotomo (2005) banyak perilaku birokrat yang masih
berorientasi pada kekuasaan bukannya kepentingan publik ataupun pelayanan publik serta
adanya perbedaan yang besar antara apa yang dimaui oleh rakyat dengan apa yang
diputuskan oleh pembuat kebijakan. Kegagalan administrasi publik dalam menjembatani
kepentingan elit politik dan rakyat pada umumnya, mendorong rakyat agar birokrasi menjadi
netral. Dengan adanya kontrol dan akuntabilitas yang kuat, diharapkan rumusan kebijakan
oleh birokrat tidak lagi berorientasi sempit semata.

Dalam Pandangan Dwivedi dan Jabbra (1989) akuntabilitas pelayanan publik merupakan
metode yang digunakan oleh lembaga publik dan pejabat publik dalam melaksanakan tugas
dan kewajiban, dan proses yang seharusnya dilakukan lembaga atau pejabat publik untuk
mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan yang dilaksanakan. Dipandang sebagai sebuah
strategi untuk memenuhi standar yang dapat diterima dan sebagai cara untuk mengurangi
penyalagunaan kekuasaan dan kewenangan.
Elemen Elemen Akuntabilitas

Ferlie et al (1997;202-216) dalam Kumorotomo (2005) membedakan beberapa model


akuntabilitas yakni akuntabilitas ke atas, akuntabilitas kepada staff, akuntabilitas ke bawah;
akuntabilitas berbasis pasar dan akuntabilitas pada diri sendiri. Dua model pertama
menekankan pada konsep kontrol, pengawasan atau pengendalian di dalam birokrasi publik.
Akuntabilitas ke bawah, terhubung dengan konsep partisipatif, bahwa aktifitas politik dan
pelayanan publik harus memiliki kaitan yang erat dengan proses konsultatif antara rakyat
dengan wakilnya (legislatif). Akuntabilitas berbasis pasar mengutamakan kompetisi dan
mekanisme pasar sehingga rakyat memiliki pilihan yang banyak terhadap kalitas pelayanan
publik yang dikehendaki. Sehingga perlu diperbanyak penyedia alternatif alternatif pelayanan
publik disamping memperluas informasi dan mentepkan standar pelayanan publik yang baik.
Akuntabilitas diri sendiri mengutamakan pada penghayatan nilai nilai moraldan etika pejabat
dalam menjalankan tugas pelayanan.

Polidano (1998) membedakan akuntabilitas menjadi dua yaitu akuntabilitas langsung dan
akuntabilitas tidak langsung. Akuntabilitas tidak langsung merujuk pada pertanggung
jawaban kepada pihak eksternal seperti masyarakat, konsumen, atau kelompok klien tertentu,
sedangkan akuntabilitas langsung berkaitan dengan pertanggung jawaban vertikal melalui
rantai komando tertentu.

Dwivedi dan Jabbra (1989) menguraikan akuntabilitas pelayanan publik yang mencakup
lima elemen sebagai berikut ; pertama, Akuntabilitas Administratif/ Organisasional
(Administrative/ Organizational Accountability), Akuntabilitas ini menuntut pemangkasan
hubungan birokrasi antara tanggung jawab dan perintah yang dilaksanakan; kedua,
Akuntabilitas Hukum (Legal Accountability) , berhubungan dengan tindakan dalam domain
publik untuk memperkuat proses legislatif dan yudikatif. Ketika kekuatan legislatif dan
yudikatif untuk menghukum administrasi baik tidak dengan cepat maupun tidak luas,
akuntabilitas hukum dapat diterapkan, cepat atau lambat, atau hukum akan diubah; ketiga,
Akuntabilitas Politik (Political Accountability) Akuntabilitas politik dalam beberapa kasus
memasukkan akuntabilitas administrasi atau organisasi, terutama karena politisi terpilih
menganggap tanggung jawab baik politik maupun hukum untuk mencapai hasil pekerjaan;
keempat, Akuntabilitas Profesi (Profesional Accountability) menuntut PNS profesional untuk
menyeimbangkan antara pelaksanaan kode etik profesi dengan kepentingan masyarakat.
Sekali waktu, keduanya tidak dapat berjalan bersamaan dan kadang-kadang juga sejajar atau
bersaing untuk didahulukan; kelima, Akuntabilitas Moral (Moral Accountability) Aktivitas
pejabat publik harus berakar pada prinsip moral dan etika sebagai pembenaran atas dokumen
konstitusi dan hukum, dan diterima publik untuk membentuk norma dan perilaku sosial.

Polidano membagi akuntabilitas kedalam tiga elemen utama yaitu: pertama, Adanya
kekuasaan untuk mendapatkan persetujuan awal sebelum sebuah keputusan dibuat. Hal ini
berkaitan dengan otoritas untuk mengatur perilaku para birokrat dengan menundukkan
mereka di bawah persyaratan prosedural tertentu serta mengharuskan adanya otorisasi
sebelum langkah tertentu diambil. Tipikal akuntabilitas seperti ini secara tradisional
dihubungkan dengan badan/lembaga pemerintah pusat (walaupun setiap departemen/lembaga
dapat saja menyusun aturan atau standarnya masing-masing). Kedua, akuntabilitas peran,
yang merujuk pada kemampuan seorang pejabat untuk menjalankan peran kuncinya, yaitu
berbagai tugas yang harus dijalankan sebagai kewajiban utama. Ini merupakan tipe
akuntabilitas yang langsung berkaitan dengan hasil sebagaimana diperjuangkan paradigma
manajemen publik baru (new public management). Hal ini mungkin saja tergantung pada
target kinerja formal yang berkaitan dengan gerakan manajemen publik baru; ketiga,
peninjauan ulang secara retrospektif yang mengacu pada analisis operasi suatu departemen
setelah berlangsungnya suatu kegiatan yang dilakukan oleh lembaga eksternal seperti kantor
audit, komite parlemen, ombudsmen, atau lembaga peradilan. Bisa juga termasuk badan-
badan di luar negara seperti media massa dan kelompok penekan. Aspek subyektivitas dan
ketidakterprediksikan dalam proses peninjauan ulang itu seringkali bervariasi, tergantung
pada kondisi dan aktor yang menjalankannya.

Tingkatan Akuntabilitas
Tingkatan akuntabilitas menurut majalah Akuntansi:

1. Akuntabilitas Personal. Akuntabilitas berkaitan dengan diri sendiri.

2. Akuntabilitas Individu. Akuntabilitas yang berkaitan dengan suatu


pelaksanaan.

3. Akuntabilitas Tim. Akuntabilitas yang dibagi dalam kerja kelompok atau


tim.

4. Akuntabilitas Organisasi. Akuntabilitas Internal dan Eksternal didalam


organisasi.

5. Akuntabilitas Stakeholders. Akuntabilitas yang terpisah antara


stakeholders dan organisasi.

D. Dimensi Akuntabilitas

Terwujudnya akuntabilitas merupakan tujuan utama dari reformasi sektor publik. Tuntutan
akuntabilitas publik mengharuskan lembaga-lembaga sektor publik untuk lebih menekankan
pada pertanggungjawaban horizontal bukan hanya pertanggungjawaban vertical. Tuntutan
yang kemudian muncul adalah perlunya dibuat laporan keuangan eksternal yang dapat
menggambarkan kinerja lembaga sektor publik.
Akuntabilitas publik yang harus dilakukan oleh organisasi sektor publik terdiri atas beberapa
dimensi. Ellwood (1993) menjelaskan terdapat empat dimensi akuntabilitas yang harus
dipenuhi oleh organisasi sektor publik, yaitu:
1. Akutabilitas Kejujuran dan Akuntabilitas Hukum (Accountability for Probity and
Legality)
Akuntabilitas kejujuran terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan (abuse of
power), sedangkan akuntabilitas hokum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan
terhadap hokum dan peraturan lain yang disyaratkan dalam penggunaan sumber dana
publik.
2. Akuntabilitas Proses
Akuntabilitas proses terkait dengan apakah prosedur yang digunakan dalam melaksanakan
tugas sudah cukup baik dalam hal kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi
manajemen, dan prosedur administrasi. Akuntabilitas proses termanifestasi melalui
pemberian pelayanan publik yang cepat, responsive, dan murah biaya.
Pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan akuntabilitas proses dapat dilakukan,
misalnya dengan memeriksa ada tidaknya mark up dan pungutan-pungutan lain di luar
yang ditetapkan, serta sumber-sumber inefisiensi dan pemborosan yang menyebabkan
mahalnya biaya pelayanan publik dan kelambanan dalam pelayanan. Pengawasan dan
pemeriksaan akuntabilitas proses juga terkait dengan pemeriksaan terhadap proses tender
untuk melaksanakan proyek-proyek publik. Yang harus dicermati dalam kontrak tender
adalah apakah proses tender telah dilakukan secara fair melalui Compulsory Competitive
Tendering (CCT), ataukah dilakukan melalui korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

3. Akuntabilitas Program
Akuntabilitas program terkait dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat
dicapai atau tidak, dan apakah telah mempertimbangkan alternatif program yang
memberikan hasil yang optimal dengan biaya yang minimal.
4. Akuntabilitas Kebijakan
Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah, baik pusat
maupun daerah, atas kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah terhadap DPR/DPRD
dan masyarakat luas.

Dimensi akuntabilitas ada 5, yaitu (Syahrudin Rasul, 2002:11):

1. Akuntabilitas hukum dan kejujuran (accuntability for probity and legality)

Akuntabilitas hukum terkait dengan dilakukannya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan
lain yang disyaratkan dalam organisasi, sedangkan akuntabilitas kejujuran terkait dengan
penghindaran penyalahgunaan jabatan, korupsi dan kolusi. Akuntabilitas hukum menjamin
ditegakkannya supremasi hukum, sedangkan akuntabilitas kejujuran menjamin adanya
praktik organisasi yang sehat.

2. Akuntabilitas manajerial

Akuntabilitas manajerial yang dapat juga diartikan sebagai akuntabilitas kinerja


(performance accountability) adalah pertanggungjawaban untuk melakukan pengelolaan
organisasi secara efektif dan efisien.

3. Akuntabilitas program

Akuntabilitas program juga berarti bahwa programprogram organisasi hendaknya merupakan


program yang bermutu dan mendukung strategi dalam pencapaian visi, misi dan tujuan
organisasi. Lembaga publik harus mempertanggungjawabkan program yang telah dibuat
sampai pada pelaksanaan program.

4. Akuntabilitas kebijakan

Lembaga-lembaga publik hendaknya dapat mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah


ditetapkan dengan mempertimbangkan dampak dimasa depan. Dalam membuat kebijakan
harus dipertimbangkan apa tujuan kebijakan tersebut, mengapa kebijakan itu dilakukan.
5. Akuntabilitas financial

Akuntabilitas ini merupakan pertanggungjawaban lembagalembaga publik untuk


menggunakan dana publik (public money) secara ekonomis, efisien dan efektif, tidak ada
pemborosan dan kebocoran dana, serta korupsi. Akuntabilitas financial ini sangat penting
karena menjadi sorotan utama masyarakat. Akuntabilitas ini mengharuskan lembaga-lembaga
publikuntuk membuat laporan keuangan untuk menggambarkan kinerja financial organisasi
kepada pihak luar.

MEKANISME DAN METODE AKUNTABILITAS

BPKP (2007), melihat bahwa dalam pelaksanaan akuntabilitas di instansi pemerintah, harus
memegang teguh tiga prinsip yaitu pertama, Adanya komitmen dari pimpinan dan seluruh
staf instansi yang bersangkutan; kedua, Berdasarkan suatu sistem yang dapat menjamin
penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundangundangan
yang berlaku ; ketiga, menunjukkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan yang telah
ditetapkan.

Tatang, menyebutkan beberapa metode untuk menegakan akuntabilitas antara lain :

1. Kontrol Legislatif : Legislatif melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan


melalui diskusi dan sejumlah komisi di dalamnya. Jika komisi-komisi legislatif dapat
berfungsi secara efektif, maka mereka dapat meningkatkan kualitas pembuatan
keputusan (meningkatkan responsivitasnya terhadap kebutuhan dan tuntutan
masyarakat), mengawasi penyalahgunaan kekuasaan pemerintah melalui investigasi,
dan menegakkan kinerja.

2. Akuntabilitas Legal : Ini merupakan karakter dominan dari suatu negara hukum.
Pemerintah dituntut untuk menghormati aturan hukum, yang didasarkan pada badan
peradilan yang independen. Aturan hukum yang dibuat berdasarkan landasan ini
biasanya memiliki sistem peradilan, dan semua pejabat publik dapat dituntut
pertanggung jawabannya di depan pengadilan atas semua tindakannya.

3. Ombudsman: Dewan ombudsman, baik yang dibentuk di dalam suatu konstitusi


maupun legislasi, berfungsi sebagai pembela hak-hak masyarakat. Ombudsmen
mengakomodasi keluhan masyarakat, melakukan investigasi, dan menyusun
rekomendasi tentang bagaimana keluhan tersebut diatasi tanpa membebani
masyarakat.

4. Desentralisasi dan Partisipasi: Akuntabilitas dalam pelayanan publik juga dapat


ditegakkan melalui struktur pemerintah yang terdesentralisasi dan partisipasi.
Terdapat beberapa situasi khusus di mana berbagai tugas pemerintah didelegasikan ke
tingkat lokal yang dijalankan oleh para birokrat lokal yang bertanggung jawab
langsung kepada masyarakat lokal. Legitimasi elektoral juga menjadi faktor penting
seperti dalam kasus pemerintah pusat. Tetapi cakupan akuntabilitas di dalam sebuah
sistem yang terdesentralisasi lebih merupakan fungsi otonomi di tingkat lokal.
5. Kontrol Administratif Internal: Pejabat publik yang diangkat sering memainkan peran
dominan dalam menjalankan tugas pemerintahan karena relatif permanennya masa
jabatan serta keterampilan teknis. Biasanya, kepala-kepala unit pemerintahan
setingkat menteri diharapkan dapat mempertahankan kontrol hirarkis terhadap para
pejabatnya dengan dukungan aturan dan regulasi administratif dan finansial dan
sistem inspeksi.

6. Media massa dan Opini Publik: Hampir di semua konteks, efektivitas berbagai
metode dalam menegakkan akuntabilitas sebagaimana diuraikan di atas sangat
tergantung tingkat dukungan media massa serta opini publik. Tantangannya, misalnya,
adalah bagaimana dan sejauhmana masyarakat mampu mendayagunakan media massa
untuk memberitakan penyalahgunaan kekuasaan dan menghukum para pelakunya.
Terdapat 3 faktor yang menentukan dampak aktual dari media massa dan opini publik.
Pertama, kebebasan berekspresi dan berserikat harus diterima dan dihormati. Di
banyak negara, kebebasan tersebut dilindungi dalam konstitusi. Derajat penerimaan
dan rasa hormat umumnya dapat diukur dari peran media massa (termasuk perhatian
terhadap pola kepemilikan) dan pentingnya peran kelompok kepentingan, asosiasi
dagang, organisasi wanita, lembaga konsumen, koperasi, dan asosiasi profesional.
Kedua, pelaksanaan berbagai tugas pemerintah harus transparan. Kuncinya adalah
adanya akses masyarakat terhadap informasi. Hal ini harus dijamin melalui konstitusi
(misalnya, UU Kebebasan Informasi) dengan hanya mempertimbangkan
pertimbangan keamanan nasional (dalam pengertian sempit) dan privasi setiap
individu. Informasi yang dihasilkan pemerintah yang seharusnya dapat diakses secara
luas antara lain meliputi anggaran, akuntansi publik, dan laporan audit. Tanpa akses
terhadap beragam informasi tersebut, masyarakat tidak akan sepenuhnya menyadari
apa yang dilakukan dan tidak dilakukan pemerintah dan efektivitas media massa akan
sedikit dibatasi. Ketiga, adanya pendidikan sipil yang diberikan kepada warga negara,
pemahaman mereka akan hak dan kewajibannya, di samping kesiapan untuk
menjalankannya