Anda di halaman 1dari 24

TUGAS INTERNAL AUDIT

Ringkasan Bab 12 dan 23 Disertai Contoh Kasus


(Moeller, Robert R ; Herbert Witt, Victor Z. Brink, 1999, Brinks Modern Internal
Auditing, 7th Edition, New York : John Willey and Son Inc.)

Disusun Oleh:

Danang Satriawan 041411331216


Dina Febrianti H 041411331237
Apnia Yoskiana 041411331241
Anis Latifah 041411331250
Klika Vania S 041411331258
Chaira Agita Aminy 041411331271

Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Airlangga
2017
CHAPTER 12
INTERNAL AUDIT CHARTERS AND BUILDING THE
INTERNAL AUDIT FUNCTION

12.1 Membentuk Fungsi Audit Intern


Kebutuhan untuk memiliki fungsi audit internal umumnya berasal
dari persyaratan hukum, seperti Sarbanes-Oxley (SOX) Act, atau
persyaratan lainnya dari lembaga pemerintah. Kepala fungsi audit internal
umumnya dikenal sebagai executive Audit kepala (CAE). Seorang manajer
senior dan segera-to-be CAE yang telah ditantang untuk membangun os
fungsi audit internal baru dihadapkan dengan berbagai pilihan, tergantung
pada bisnis secara keseluruhan perusahaan itu, struktur geografis dan
logistik, kontrol yang risiko yang dihadapinya, dan budaya perusahaan
secara keseluruhan.

12.2 Piagam Audit: Komite Audit dan Otoritas Manajemen


Piagam audit internal adalah dokumen aformal, disetujui oleh
komite audit, untuk menggambarkan misi, independensi, objektivitas,
ruang lingkup, tanggung jawab, wewenang, akuntabilitas, dan standar
fungsi audit internal untuk suatu perusahaan.
Tidak ada persyaratan tetap untuk dokumen otorisasi seperti itu,
tapi piagam audit internal harus menegaskan audit internal ini:
Kemerdekaan dan objektivitas
Cakupan tanggung jawab
Otoritas dan akuntabilitas

12.3 Membangun Internal Audit Staff


Dengan pengecualian dari fungsi audit internal single-orang yang
sangat kecil, setiap fungsi audit internal harus memiliki seseorang yang
bertanggung jawab dan bertanggung jawab untuk audit internal-CAE serta
beberapa staf pendukung dan administrasi.
A) Peran CAE
Seseorang harus bertanggung jawab atas audit internal fungsi-ini
biasanya bos. Meskipun judul direktur audit internal adalah umum dalam
beberapa tahun terakhir, standar IIA hari ini mendukung judul CAE,
petugas audit yang paling senior di perusahaan dengan tanggung jawab
utama untuk seluruh fungsi audit internal.
Topik-topik ini harus bagian dari CAE CBOK dan juga tercermin
dalam piagam audit internal.
Operasi perusahaan dan isu-isu risiko. Selain mengelola
internal fungsi audit, CAE harus memiliki pengetahuan
mengenai semua aspek operasi perusahaan, baik masalah
keuangan, logistik atau operasional.
Sumber daya manusia dan administrasi audit internal. CAE
bertanggung jawab untuk staf audit internal dan harus
membangun organisasi yang efektif dan baik merekrut dan
memimpin tim audit internal yang efektif.
Hubungan dengan komite audit dan manajemen. CAE
adalah Juru bicara audit internal untuk komite audit dan
semua tingkat perusahaan pengelolaan.
Tata kelola perusahaan, akuntansi, dan masalah regulasi.
Apakah itu SOx, akuntansi, masalah keuangan, atau
masalah peraturan lainnya yang berdampak perusahaan,
CAE harus memiliki setidaknya pemahaman umum dan
pengetahuan.
Membangun tim audit internal dan administrasi. Tidak
peduli apa ukuran tim, CAE bertanggung jawab untuk
membangun fungsi audit internal yang efektif yang
dihormati oleh penerima jasa audit internal.
Teknologi. CAE harus memiliki pemahaman umum tentang
bagaimana teknologi digunakan dalam perusahaan serta
bagaimana hal itu dapat diterapkan untuk mempromosikan
intern jasa audit.

B) Manajemen Internal Audit Tanggung Jawab


Tergantung pada ukuran perusahaan secara keseluruhan, fungsi
audit internal mungkin memiliki beberapa tingkat supervisor atau manajer
untuk mengelola fungsi audit internal. Ini sumber membuat fungsi audit
internal yang efektif melalui perencanaan dekat, monitoring, dan
mengawasi staf audit lapangan yang benar-benar melakukan internal yang
audit.
C) Tanggung Jawab internal Staf Audit
Di banyak perusahaan, audit internal adalah tempat masuk yang
sangat baik untuk nonspesialis baru anggota staf yang baru saja keluar dari
perguruan tinggi. Artinya, suatu perusahaan mungkin memiliki persyaratan
untuk insinyur dan akan ingin menyewa lulusan sarjana teknik baru atau
mungkin memiliki kebutuhan untuk orang-orang dalam iklan dan akan
ingin menambahkan kandidat baru dengan iklan atau komunikasi
keterampilan yang sesuai, tapi staf entry-level internal yang calon audit
dapat berasal dari berbagai daerah gelar sarjana.

Information Systems Audit Specialists

Spesialis IT audit internal memerlukan pelatihan dan kemampuan khusus.


Setidaknya fungsi audit internal memerlukan satu staff audit internal dengan
kemampuan pengendalian internal yang berhubungan kuat dengan IT yang
menangani area seperti kemanan sistem, aplikasi pengendalian internal, dan
manajemen operasi sistem komputer.

Keahlian yang dibutuhkan untuk spesialis audit sistem informasi dalam


kelompok audit internal sangat bergantung pada kematangan teknis dari
perusahaan itu.

Other Internal Auditor Specialists


Bergantung pada ukuran perusahaan dan keseluruhan aktifitas audit
internal, terdapat posisi khusus dalam peran pendukung audit internal. Bergantung
bagaimana tanggungjawab audit internal yang ditetapkan.

Selain spesialis audit internal, perusahaan mungkin ingin menambahkan pegawai


pendukung pada kelompok internal audit untuk tugas seperti mengawasi dan
mengorganisasi dokumentasi pengendalian internal. Keseluruhan misi pendukung
professional audit internal ini adalah meninjau kembali dan membantu
mengembangkan pengendalian internal perusahaan.

12.4 Pendekatan Organisasi Departemen Audit Internal

Perusahaan dengan cakupan operasional luas atau mendunia membutuhkan


auditor internal yang mampu memeriksa bidang operasional global itu. Audit
internal dapat diatur dalam fungsi desentralisasi dengan tim lokal yang secara
lebih dekat aktivitas operasional lokal yang terjadi. Auditor internal dapat
mengamati operasional lokal dan dapat dengan cepat berada dilokai tanpa
penundaan waktu. Seringkali dalam fungsi internal audit yang terpusat, tim
auditor internal kantor pusan memiliki tanggungjawab untuk mengunjungi tempat
yang akan mereka audit. Hal ini akan menimbulkan biaya dan tantangan yang
lebih.

Struktur Organisasi Internal Audit Sentralisasi vs Desentralisasi

Keputusan utama dibuat oleh pihak pusat yang berwenang, dan dibawah
lapisan kantor pusat akan melaksanakan tindakan dengan persetujuan dari pusat.
Keputusan yang dibuat oleh pusat terkesan ideal. Namun saat ini, masyarakat
menganggap bahwa sentralisasi itu todak berjalan dengan baik karena alasan
persetujuan yang memakan waktu. Sekarang perusahaan lebih condong ke
desentralisasi dimana unit operasi bertanggung jawab atas keputusan diambil yang
diambilnya termasuk didalamnya keamanan keuangan.

Walaupun Internal Audit yang diatur secara menyeluruh atau tidak, keputusan
utamanya adalah apakah internal audit itu dibuat pada level bawah atau tidak.
Keputusan dan tindakan didalamnya yang dimaksud yakni seperti prosedur audit
yang perlu dimodifikasi, prosedur yang diperlukan untuk melaporkan kelemahan,
aturan dalam rangka melaporkan penemuan audit dsb. Beberapa argument yang
mendukung Desentralisasi :

Membebaskan dari keputusan sederhana dan lebih berfokus pada


permasalahan yang lebih penting
Anggota dari unit lokal lebih memahami apa yang terjadi dalam oprasional
lokal.
Penundaan keputusan karena lamanya persetujuan dari pusat dapat
dihindari.

Disisi lain, berikut beberapa argument yang mendukung Sentralisasi :

Perusahaan dengan internal audit yang tersentralisasi dapat berada pada


posisi yang kuat dalam penyampai pesan manajemen senior pada unit
kerjanya
Ketika komunikasi dalam perusahaan lemah, grup audit yang terpisah akan
kesulitan dalam memahami dampak penuh dari suatu keputusan.
Desentralisasi dala perusahaan akan sulit menjelaskan rasionalitas dalam
keputusan kebijakan pusat
Audti internal yang tersentralisasi dapat mempertahankan keseragaman
dan standar utama perusahaan secara menyeluruh

Dalam perusahaan yang memiliki audit internal yang terdesentralisasi,


seringkali menimbulkan kesetiaan personil pada unit masing-masing secara
berlebihan.

Dari kedua tipe centralisasi dan desentralisasi yang dijelaskan diatas, terdapat
posisi diantara keduanya. Dimana terdapat pendelegasian pada beberapa persoalan
dan ada yang tidak. Ketua audit internal harus bertanggung jawab menentukan
mana yang lebih sesuai dengan perusahaannya

Information Systems Audit Specialists

Spesialis IT audit internal memerlukan pelatihan dan kemampuan khusus.


Setidaknya fungsi audit internal memerlukan satu staff audit internal dengan
kemampuan pengendalian internal yang berhubungan kuat dengan IT yang
menangani area seperti kemanan sistem, aplikasi pengendalian internal, dan
manajemen operasi sistem komputer.

Keahlian yang dibutuhkan untuk spesialis audit sistem informasi dalam


kelompok audit internal sangat bergantung pada kematangan teknis dari
perusahaan itu.

Other Internal Auditor Specialists

Bergantung pada ukuran perusahaan dan keseluruhan aktifitas audit


internal, terdapat posisi khusus dalam peran pendukung audit internal. Bergantung
bagaimana tanggungjawab audit internal yang ditetapkan.

Selain spesialis audit internal, perusahaan mungkin ingin menambahkan


pegawai pendukung pada kelompok internal audit untuk tugas seperti mengawasi
dan mengorganisasi dokumentasi pengendalian internal. Keseluruhan misi
pendukung professional audit internal ini adalah meninjau kembali dan membantu
mengembangkan pengendalian internal perusahaan.

CONTOH KASUS BAB 12

Internal Audit dan Kontrol

PT TIFA FINANCE Tbk


Pasal 1

Piagam Audit & Kontrol Internal

(1) Piagam Audit Internal (Internal Audit Charter) adalah pedoman bagi
Auditor/Internal Controller agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional,
memperoleh hasil Audit yang sesuai dengan standar mutu, dan dapat diterima oleh
berbagai pihak baik internal maupun external.

(2) Piagam Audit Internal menjelaskan tujuan, wewenang, tanggung jawab dan
keorganisasian Satuan Audit & Kontrol Internal PT. Tifa Finance (disebut
Perusahaan).

Pasal 2

Fungsi dan Tujuan

(1) Audit & Kontrol Internal berfungsi untuk membantu Manajemen dalam
merencanakan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pengawasan manajerial
dan fungsi-fungsi operasional Perusahaan.

(2) Tujuan Audit & Kontrol Internal adalah memberi nilai tambah pada kinerja
operasional Perusahaan baik dari faktor efisiensi maupun efektivitas operasional
sesuai dengan standar mutu yang berlaku

Pasal 3

Satuan Audit & Kontrol Internal

(1) Satuan Audit & Kontrol Internal Perusahaan bertanggung jawab kepada
Director in Charge Perusahaan

(2) Susunan organisasi Satuan Audit & Kontrol Internal terdiri dari: Kepala
Satuan Audit & Kontrol Internal, dan Auditor

(3) Auditor adalah pelaksana Audit internal dengan latar belakang dengan
keahlian yang disesuaikan dengan fungsi-fungsi operasional Perusahaan.

Pasal 4
Ruang Lingkup dan Aspek Audit & Kontrol Internal

(1) Ruang lingkup Audit dan Kontrol Internal meliputi Auditing aspek
Operasional dan Keuangan Perusahaan

(2) Aspek Operasional meliputi aspek ketaatan (complaince test) terhadap SOP
Perusahaan, efisiensi pemanfaatan sumber daya dan efektivitas manajerial dalam
melaksanakan operasional Perusahaan.

(3) Aspek Keuangan meliputi aspek substansi dan alokasi dana perusahaan
sesuai dengan Nilai-nilai yang dianut Perusahaan

Pasal 5

Sifat, Prinsip dan Tanggung Jawab

(1) Sifat kegiatan Audit & Kontrol Internal adalah independen dalam melakukan
penilaian terhadap kinerja unit organisasi dan memberikan umpan balik
(feedback) agar tercapai efektivitas manajemen risiko, pengendalian, pengukuran
kinerja dan proses tata kelola yang baik.

(2) Prinsip melaksanakan Audit & Kontrol Internal adalah akuntabilitas,


objektivitas, independensi dan otoritas.

(3) Satuan Audit & Kontrol Internal bertanggung jawab secara


berkesinambungan atas organisasi dan akuntabilitas aktivitas organisasi, etika dan
kinerja untuk kepentingan Perusahaan.

Tanggung jawab meliputi:

a) Pengembangan dan implementasi metode dan prosedur Audit & Kontrol


Internal

b) Perencanaan dan implementasi program Audit & Kontrol Internal secara


efektif dan efisien

c) Melaporkan hasil Audit & Kontrol Internal kepada Direksi

d) Memelihara dan mengembangkan kompetensi profesional auditor sesuai


dengan standar kompetensi yang distandarkan Perusahaan
Pasal 6

Kode Etik Audit & Kontrol Internal

(1) Kode Etik Audit & Kontrol Internal merupakan syarat yang harus dipenuhi
auditor untuk terjaminnya mutu kinerja audit dan kontrol internal

(2) Kode etik Auditor:

a) Competence : Auditor harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan


keahlian teknik audit dan kontrol internal dan memahami operasional unti kerja
yang diauditnya. Dan auditor harus melakukan peningkatan pengetahuan dan
keterampilan secara terus menerus
b) Objective : Auditor melakukan analisa dan telaah berdasarkan data dan fakta
serta tidak memihak.

c) Confidentiality : Auditor harus menjaga kerahasiaan dokumen, data dan


informasi perusahaan baik secara lisan maupun tulisan

d) Integrity : Auditor harus menghindari benturan kepentingan, jujur dan bekerja


hanya untuk kepentingan Perusahaan.

Pasal 7

Perencanaan Audit & Kontrol Internal

(1) Perencanaan Audit & Kontrol Internal disusun tiap tahun dalam bentuk
Perencanaan Audit dan Kontrol Internal Tahunan yang disetujui Direksi.
Perencanaan mencangkup Jadwal Audit dan Ruang Lingkup Audit.

(2) Perluasan Perencanaan program Audit & Kontrol Internal dapat dilakukan
sewaktu-waktu sesuai kebutuhan dan kondisi Perusahaan sesuai persetujuan
Direksi.

Pasal 8

Pelaksanaan Audit & Kontrol Internal

(1) Pekasanaan Audit & Kontrol Internal dilakukan sesuai dengan standar teknik
audit , yaitu:
a) Persiapan pemeriksaaan audit meliputi kegiatan penyusunan sasaran audit
dan penjadwalan audit

b) Persiapan pemeriksaaan audit meliputi penyusunan kertas kerja audit, audit


lapangan, pembahasan dengan auditan dan dokumentasi proses audit.

c) Pelaporan hasil pemeriksaan audit meliputi Laporan Temuan, Analisa


Penyebab dan Rekomendasi Tindakan Pencegahan dan Koreksi.

d) Diskusi dengan Pihak/Departemen terkait dalam pelaksanaan tindak lanjut


rekomendasi.

e) Diskusi hasil audit

(2) Dalam proses pelaksanaan Audit & Kontrol Internal harus dibuka
kesempatan diskusi antara auditor dan auditan. Komentar auditan dapat disajukan
dalam laporan audit.

Pasal 9

Pelaporan Hasil Audit & Kontrol Internal

(1) Isi laporan hasil Audit & Kontrol Internal, meliputi:

a) Tujuan Audit

b) Scope Audit

c) Temuan

d) Kesimpulan dan Rekomendasi

(2) Penyajian laporan Audit & Kontrol Internal meliputi dua bagian, yaitu:

a) Ringkasan eksekutif dan

b) Laporan terperinci

(3) Rekomendasi hasil audit digunakan sebagai usaha perbaikan dan peningkatan
kinerja manajemen unit kerja.

(4) Laporan akhir ditandatangani oleh auditor yang melakukan audit pada unit
kerja terkait dan disetujui oleh Ketua Satuan Audit & Kontrol Internal Perusahaan.
(5) Laporan ringkasan eksekutif disampaikan kepada Komite Audit Perusahaan
dan Laporan terperinci disampaikan kepada Direksi untuk diteruskan kepada unit
kerja terkait untuk digunakan dalam usaha perbaikan dan peningkatan kinerja unit
yang bersangkutan.

(6) Dalam laporan hasil audit dapat dimuat kesepakatan dengan auditan untuk
melakukan tindak lanjut rekomendasi dan jadwal waktu pelaksanaannya.

(7) Laporan hasil audit belum dapat ditutup selama tindak lanjut rekomendasi
perbaikan yang sesuai dengan kesepakatan, belum dilakukan oleh unit kerja dan
dinilai efektif oleh auditor.

(8) Jika ditemukan kasus yang tidak terselesaikan atau perbaikan yang tidak
efektif, maka akan dilakukan tindakan yang diinstruksikan oleh Direksi dan atau
Komite Audit.

CHAPTER 23
BOARD AUDIT COMMITTEE COMMUNICATIONS

23.1 Role of the Audit Committee


Komite Audit memegang peran penting dalam menciptakan good
corporate governance pada entitas-entitas bisnis. Pada mulanya memang
diwajibkan hanya pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek untuk menjaga
kepercayaan pasar terhadap kinerja keuangan dan kepatuhan perusahaan tersebut,
saat ini karena dirasa manfaatnya semakin diperlukan, Komite Audit malah sudah
banyak juga dibentuk di entitas Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK)
dan organisasi nir laba. Perkembangan ini membuktikan bahwa fungsi
pengawasan yang diemban Komite Audit terbukti memberikan nilai tambah bagi
entitas/organisasi tersebut.

Securities and Exchange Commission (SEC), atau pengawas pasar modal-


nya Amerika, pertama sekali mendukung konsep Komite Audit ini sekitar tahun
1940 sebagai tanggapan atas permintaan direksi non-eksekutif beberapa emiten
yang meminta dibentuk Komite Audit yang terdiri dari direktur non-eksekutif
yang bertugas untuk menominasikan dan memilih auditor eksternal dan
menentukan parameter dalam perikatan dengan auditor eksternal tersebut. Untuk
diketahui di Amerika menganut one tear system dimana direksi dan komisaris ada
dalam satu organ, yang membedakannya adalah perannya sebagai eksekutif atau
non-eksekutif. Beberbeda dengan di Indonesia yang menganut two tear
system dengan memisahkan organ direksi dan komisaris.

Komite Audit di Indonesia


Gerakan Komite Audit semakin membumi di Amerika sekitar tahun 1960-
an sampai 1970-an, selanjutnya semakin diterima luas sebagai kendaraan yang
tepat sebagai pengawas keuangan di tahun 1980-an. Pada tahun 1967, The
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), atau Ikatan Akuntan
Publiknya-nya Amerika, mengeluarkan kebijakan yang mendorong emiten dan
perusahaan publik untuk membentuk Komite Audit yang komposisi seluruhnya
bukan dari direksi. Selanjutnya pada tahun 1976, Kongres Amerika melakukan
debat terbuka atas undang-undang yang akan diperlukan bagi perusahaan publik
untuk membentuk Komite Audit yang terdiri dari direktur independen. Meski
gagal melewati RUU ini, Kongres mendorong pembentukan komite ini secara
sukarela dengan memberlakukan Foreign Corrupt Practices Act (FCPA).
Reformasi lainnya adalah, FCPA mensyaratkan diperlukannya pengendalian
akuntansi internal yang dirancang untuk mendeteksi pembayaran ilegal dan
melaporkan pembayaran tersebut kepada dewan direksi. Akhirnya pada tahun
1978, bursa efek New York (NYSE) mewajibkan semua perusahaan yang terdaftar
untuk memiliki Komite Audit. Pada tahun 1985, the National Commission on
Fraudulent Financial Reporting (the Treadway Commission) didirikan untuk
mengatasi kecurangan pelaporan keuangan. Pada tahun 1987, Komisi Treadway
mengeluarkan laporannya, merekomendasikan bahwa semua perusahaan publik
membentuk Komite Audit yang seluruh komposisinya terdiri dari luar direksi.
Komisi Treadway telah dipuji oleh Kongres, SEC dan organisasi lainnya di atas
telah membuat kontribusi yang signifikan terhadap pengurangan kecurangan
pelaporan keuangan. Pada tahun 1989, National Association of Securities
Dealers (NASD) mulai mewajibkan semua perusahaan yang terdaftar di Nasdaq
untuk membentuk Komite Audit. Setelah itu Komite Audit diterima umum di
Amerika, selanjutnya semakin mempengaruhi negara-negara lainnya untuk
melakukan hal yang sama.

Di Indonesia, keberadaan Komite Audit dimulai sejak tahun 2001 melalui


Surat Edaran Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal, sekarang berubah menjadi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)) No: SE-03/PM/2000 yang berisi himbauan
perlunya Komite Audit dimiliki oleh setiap Emiten. Bursa Efek Jakarta (sekarang
Bursa Efek Indonesia) selanjutnya mengeluarkan surat No: Kep. 339/BEJ/07-
2001 mengenai kewajiban perusahaan tercatat untuk memiliki Komite Audit serta
jumlah keanggotaan dari komite itu sendiri. Pada tahun 2003, keberadaan Komite
Audit untuk BUMN diatur melalui Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-
117/M-MBU/2002 yang berisi bahwa dalam membantu Komisaris/Dewan
Pengawas, Komite Audit bertugas :
Menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh Satuan
Pengawasan Intern maupun Auditor Eksternal sehingga dapat dicegah
pelaksanaan dan pelaporan yang tidak memenuhi standar;
Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian
manajemen perusahaan serta pelaksanaannya;
Memastikan bahwa telah terdapat prosedur review yang memuaskan
terhadap informasi yang dikeluarkan BUMN, termasuk brosur, laporan
keuangan berkala, proyeksi/forecast dan informasi keuangan lainnya yang
disampaikan kepada pemegang saham;
Mengindentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris/Dewan
Pengawas;
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Komisaris/Dewan Pengawas
sepanjang masih dalam lingkup tugas dan kewajiban Komisaris/Dewan
Pengawas berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Kemudian, Bapepam melalui suratnya Nomor: Kep-29/PM/2004 tanggal 24
September 2004 mengeluarkan Peraturan Nomor IX.I.5 tentang Pembentukan dan
Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit yakni dalam bagian 1.b mengenai
definisi Komisaris Independen adalah anggota Komisaris yang:
Berasal dari luar Emiten atau Perusahaan Publik;
Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada
Emiten atau Perusahaan Publik;
Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Emiten atau Perusahaan
Publik, Komisaris, Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau
Perusahaan Publik;
Tidak memiliki hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik.
Pada tanggal 7 Desember 2012, Bapepam dan LK telah menerbitkan satu
peraturan yaitu Peraturan Nomor IX.I.5, lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan
LK Nomor: Kep-643/BL/2012 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan
Kerja Komite Audit. Penerbitan peraturan ini menyempurnakan sekaligus
mencabut Keputusan Ketua Bapepam Nomor: KEP-29/PM/2004 tanggal 24
September 2004 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite
Audit.

Penyempurnaan Peraturan ini dimaksudkan untuk meningkatkan


independensi, peran dan kewenangan Komite Audit dalam membantu pelaksanaan
tugas dan fungsi pengawasan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.
Dalam Peraturan ini diatur mengenai ketentuan umum, struktur dan keanggotaan,
persyaratan keanggotaan, masa tugas, tugas dan tanggung jawab, wewenang,
rapat, dan pelaporan Komite Audit, serta sanksi.
Beberapa pokok penyempurnaan yang diatur dalam peraturan dimaksud antara
lain:
Penegasan pengertian Komite Audit dan Komisaris Independen dan
independensinya dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab;
Kewajiban untuk memiliki piagam Komite Audit (audit committee charter)
dan pemuatannya pada website Emiten atau Perusahaan Publik;
Penambahan dan penyempurnaan persyaratan keaggotaan, tugas dan
tanggung jawab, serta wewenang Komite Audit;
Pengaturan mengenai pelaksanaan rapat Komite Audit secara berkala
paling kurang satu kali dalam 3 (tiga) bulan, jumlah quorum peserta rapat,
pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat,
dan risalah rapat, termasuk penuangan adanya perbedaan pendapat
(dissenting opinions); dan
Pengaturan mengenai sistem pelaporan terkait informasi pengangkatan/
pemberhentian Komite Audit kepada Bapepam dan LK, yang juga wajib
dimuat dalam laman (website) bursa dan/ atau laman (website) Emiten atau
Perusahaan Publik.

23.2 Audit Committee Organization and Charter


Agar komunikasi Komite Audit dengan berbagai pihak tersebut dapat
berjalan dengan lancar, maka anggota komite audit perlu memiliki kemampuan
yang cukup qualified. Kualifikasi anggota (personal qualifications) komite audit
menurut The Treadway Commission sebagai berikut :
Independen ( independence)
Memahami aktivitas bisnis (broad business knowledge)
Memiliki kemampuan komunikasi (communication skills), natural
curiosity dan healthy skepticism.
Vigilance.
Menurut Hiro Tugiman (1996) Anggota komite audit disamping harus ahli
di bidangnya juga dituntut untuk mengetahui dan menguasai bidang akuntansi dan
auditing, analisa laporan keuangan, pembelanjaan perusahaan, sistem informasi
manajemen, sistem dan pengendalian perusahaan, serta tanggap terhadap segala
perkembangan.
Menurut American Institute of Certified Public Accountants
(AICPA) jumlah anggota (size) dari komite audit berdasarkan hasil survey
terhadap perusahaan yang memiliki komite audit ternyata sekitar 90 % memiliki
komite audit dengan jumlah 3 sampai dengan 5 anggota. Pada umumnya ,
sebagian besar komite audit tersebut memiliki anggota yang berpengalaman dan
mempunyai judgment tentang bisnis (perusahaan) dengan baik.
Piagam Komite Audit menjadi landasan dan legitimasi bekerjanya Komite
Audit dalam organisasi. Oleh karena itu biasanya dipublikasikan di website
organisasi tersebut sebagai simbol bahwa organisasi tersebut telah menjalankan
tata kelola perusahaan yang baik.
Dalam piagam ini diatur kewenangan yang dimiliki Komite Audit untuk
melakukan atau mengizinkan penyelidikan dalam setiap hal dalam ruang lingkup
tanggung jawab yang dimilikinya, termasuk di dalamnya untuk:
Menunjuk, memberikan kompensasi, dan mengawasi pekerjaan auditor
eksternal yang ditunjuk organisasi
Menyelesaikan perbedaan yang ada antara management dengan auditor
eksternal terkait dengan pelaporan keuangan
Menyetujui penunjukan perikatan jasa audit dan non audit
Menyewa penasihat independen, akuntan, atau orang lain untuk
menyarankan pembentukan panitia atau membantu dalam melakukan
penyelidikan.
Mencari informasi apapun yang diperlukan oleh karyawan, yang semuanya
diarahkan untuk bekerja sama dengan permintaan Komite Audit atau pihak
eksternal.
Bertemu dengan pejabat perusahaan, auditor eksternal, atau penasihat luar
lainnya yang diperlukan.
`Komposisi audit komite juga diatur dalam piagam ini, biasanya terdiri
minimal tiga orang dan tidak lebih dari lima orang, termasuk asalnya dari dalam
atau luar organisasi. Setiap anggota komite haruslah independen dalam hal
keuangan, minimal satu orang haruslah ahli dalam bidang keuangan seperti yang
didefinisikan oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku.
Biasanya dalam piagam ini juga diatur rapat minimum yang harus
dilakukan oleh Komite Audit. Termasuk didalamnya cara pengambilan keputusan
rapat. Juga diatur rapat-rapat dengan auditor internal, auditor eksternal atau pihak-
pihak lain yang diperlukan. Terakhir diatur mengenai tugas dan tanggung jawab
Komite Audit, bisanya dan tidak terbatas pada: review laporan keuangan,
mempertimbangkan efektifitas pengendalian internal, mitra internal audit,
menunjuk dan mengawasi proses audit oleh eksternal audit, pelaporan secara
regular kepada dewan komisaris dan pemegang saham, dan tanggung jawab
lainnya.

23.3 Audit Committee's Financial Expert and Internal Audit

Menurut The Institute of Internal Auditors ( 1999 ) Internal Auditing is an


independent, objective assurance and consulting activity dessigned to add
value and improve an organizations operations. It helps an organization
accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to
evaluate the effectiveness of risk management, control, and governance processes.
Sedangkan International Standards for the Professional Practice of
Internal Auditing (SPPIA), mendefinisikan Audit Internal adalah suatu
kegiatan assurance dan konsultasi (consulting) yang independen dan objektif
yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi suatu organisasi.
Kegiatan kegiatan tersebut membantu organisasi yang bersangkutan mencapai
tujuan-tujuannya dengan mengevaluasi dan memperbaiki efektivitas proses
manajemen risiko, pengendalian, dan tata kelola (governance) melalui pendekatan
yang teratur dan sistematik.
Salah satu tanggung jawab auditor dalam audit atas laporan keuangan
berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia
(IAPI) adalah untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup sebagai dasar
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan entitas. Dalam
memenuhi tanggung jawab ini, auditor mempertahankan independensinya dari
entitas tersebut. Auditor intern bertanggung jawab untuk menyediakan jasa
analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi, dan informasi lain
kepada manajemen entitas dan dewan komisaris, atau pihak lain yang setara
wewenang dan tanggung jawabnya. Untuk memenuhi tanggung jawabnya
tersebut, auditor intern mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan
aktivitas yang diauditnya.
Tanggung jawab penting fungsi audit intern adalah memantau kinerja
pengendalian entitas. Pada waktu auditor berusaha memahami pengendalian
intern, ia harus berusaha memahami fungsi audit intern yang cukup untuk
mengidentifikasi aktivitas audit intern yang relevan dengan perencanaan audit.
Lingkup prosedur yang diperlukan untuk memahaminya bervariasi, tergantung
atas sifat aktivitas audit intern tersebut. Auditor biasanya harus meminta
keterangan kepada manajemen yang bersangkutan dan staf audit intern mengenai
berbagai hal yang berkaitan dengan auditor intern berikut ini:
1. Status auditor intern dalam organisasi entitas.
2. Penerapan standar profesional
3. Perencanaan audit, termasuk sifat, saat, dan lingkup pekerjaan audit.
4. Akses ke catatan dan apakah terdapat pembatasan atas lingkup aktivitas
mereka.
Di samping itu, auditor mungkin meminta keterangan mengenai anggaran
dasar pembentukan fungsi audit intern, pernyataan misi, atau pengarahan lain
yang serupa dari manajemen atau dewan komisaris. Permintaan keterangan ini
biasanya akan menghasilkan informasi mengenai tujuan dan sasaran yang
ditetapkan untuk fungsi audit intern. Aktivitas audit intern tertentu dapat tidak
relevan dengan audit atas laporan keuangan entitas. Sebagai contoh, prosedur
auditor intern untuk menilai efisiensi proses pengambilan keputusan manajemen
tertentu biasanya tidak relevan dengan audit atas laporan keuangan. Aktivitas
relevan adalah aktivitas yang memberikan bukti tentang rancangan dan efektivitas
pengendalian yang berkaitan dengan kemampuan entitas untuk mencatat,
mengolah, meringkas, dan melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi
yang terkandung dalam laporan keuangan atau yang memberikan bukti langsung
mengenai salah saji potensial data tersebut. Auditor dapat menemukan hasil
prosedur berikut ini yang bermanfaat dalam menetapkan relevansi aktivitas audit
intern:
a. Mempertimbangkan pengetahuan dari audit tahun sebelumnya.
b. Me-review bagaimana auditor intern mengalokasikan sumber daya
auditnya ke bidang keuangan
c. bidang operasi sebagai respon dalam proses penentuan risiko.
d. Membaca laporan auditor intern untuk memperoleh informasi rinci
mengenai lingkup aktivitas auditor intern.
Jika, setelah memahami fungsi audit intern, auditor berkesimpulan bahwa
aktivitas auditor intern tidak relevan dengan audit atas laporan keuangan, auditor
tidak harus memberikan pertimbangan lebih lanjut terhadap fungsi audit intern,
kecuali auditor meminta bantuan langsung dari auditor intern. Bahkan bila
beberapa aktivitas auditor intern relevan dengan audit, auditor dapat
menyimpulkan bahwa tidaklah efisien untuk mempertimbangkan lebih lanjut
pekerjaan auditor intern. Jika auditor memutuskan bahwa akan lebih efisien
mempertimbangkan bagaimana pekerjaan auditor intern dapat berdampak
terhadap sifat, saat, dan lingkup prosedur audit, auditor harus menetapkan
kompetensi dan objektivitas fungsi audit intern sejalan dengan dampak yang
diinginkan dari pekerjaan auditor intern terhadap audit.

ANIS
(c) Persetujuan Rencana dan Anggaran Audit internal

Idealnya, komite audit sudah mengembangkan keseluruhan pemahaman


mengenai total kebutuhan audit internaldari suatu perusahaan. Penilaian tingkat-
tinggi yang mencakup berbagai Kendali dan isu pelaporan keuangan khusus,
mempersilahkan komite audit menentukan porsi audit atau pengkajian resiko yang
diperlukan untuk dilakukan baik oleh audit internal atau penyedia lain. Sebagai
bagian dari peran ini, komite audit bertanggungjawab untuk mereview dan
menyetujui semua rencana serta anggaran audit internal tingkat tinggi. Tanggung
jawab ini konsisten dengan peran komite audit sebagai koordinator terakhir usaha
audit secara keseluruhan. Manajemen Perusahaan dan CAE mungkin mempunyai
ide-ide milik mereka sendiri tentang apa diperlukan untuk dilakukan, tetapi
tindakan ini adalah satu tanggung jawab komite audit. Adalah penting bahwa
pihak kunci bersama-sama mempertimbangkan dan dengan penuh kewajaran
merekonsiliasi, tetapi komite audit mempunyai kata akhir di sini.
Review komite dari semua rencana audit internal itu sangat penting jika
kebijakan-kebijakan danrencana untuk masa depan harus ditentukan secara
efektif. Tanggung-jawab baru audit karena pengenalan tentang SOx telah
mengubah peran yang sudah berjalan beberapa lama, dan semua pihak-pihak
berkepentingan harus memahami sifat alami keseluruhan rencana audit.
Manajemen Perusahaan, auditor internal, dan audit eksternal kemudian akan tahu
apa yang harus diharapkan dari pemasok layanan audit. Komite audit harus
mengasumsikan peran koordinasi tingkat-tinggi. Walaupun ada keterbatasan
praktis hingga sebagaimana komite audit aktif bisa dilibatkan dalam proses
perencanaan terperinci, beberapa keterlibatan mendomenstrasikan suatu nilai yang
tinggi. Secara tipikal, dewan komite audit adalah orang yang paling aktif dalam
merencanakan review ini, tetapi saat dia adalah subyek untuk keterbatasan waktu.
Audit internal harus menyiapkan suatu dokumen perencanaan tahunan
menyeluruh untuk komite yang memberikan rencana rinci untuk tahun yang akan
datang sebaik rencana jangka panjang. Format yang diusulkan untuk rencana ini
didiskusikan di bab 6 dalam analisis risiko dan di Chapter 12 dalam aktivitas
pengorganisasian audit internal. Selain itu, audit internal harus menyiapkan
laporan ringkas dari aktivitas audit masa lampau dan taksiran kembali dari
pemenuhan nya untuk memberikan komite audit suatu pemahaman dari area
signifikan dalam review masa lampau. Walaupun audit internal harus melaporkan
aktivitas kepada komite audit secara reguler, laporan ringkasan aktivitas masa
lampau ini memberikan suatu ikhtisar area untuk penekanan audit dan gap acara
penting potensial dalam pemenuhan audit. Tampilan 23.4 adalah satu contoh dari
satu tahun-rencana audit untuk dipresentasikan kepada komite audit. CAE akan
menyajikan jenis laporan kepada komite audit ini, mencakup untuk masing-
masing audit tertentu dan dengan detil pendukung yang cukup untuk menjawab
pertanyaan. Laporan ringkasan aktivitas masa lalu ialah penting untuk
memperlihatkan jadwal area dalam rencana tahun berjalan dan penyempurnaan
rencana tersebut.
Di banyak perusahaan, rencana audit tahunan mengembangkan melalui
dua proses, analisis risiko internal dan diskusi dengan keduanya, yaitu
manajemen senior serta komite audit. Manajemen dan komite dapat menyarankan
area untuk review potensial audit internal, dan audit internal harus
mengembangkan rencana di dalam batasan dari anggaran dan keterbatasan sumber
daya. Jika komite audit telah mengusulkan review beberapa area tetapi audit
internal khusus tidak mampu untuk melakukan audit yang telah direncanakan
terhadap beberapa batasan yang diketahui, CAE harus dengan jelas
mengkomunikasikan kekurangan itu kepada komite audit.

(d) Review dan Tindakan Komite Audit atas Audit Finding yang
Signifikan

Tanggung jawab penting komite audit adalah mereview dan mengambil


tindakan atas audit finding yang signifikan yang dilaporkan oleh auditor internal
dan eksternal, manajemen, dan lain-lain. Audit internal dan yang lain seharusnya
tidak memfilter audit finding dan mengatakan kepada komite audit apa yang
dikatakan signifikan, kepentingan dan efisiensi dari kesuleruhannya akan dilayani
lebih baik oleh audit internal yang secara teratur melaporkan audit finding yang
signifikan seperti halnya keadaan dan disposisi temuan. Dalam memberi reaksi
atas audit finding yang signfikan, membutuhkan kombinasi atas pemahaman,
kompetensi, dan kerjasama pihak-pihak utama yang berkepentingan seperti audit
internal, manajemen, auditor eksternal, dan komite audit sendiri. Kesejahteraan
keseluruhan perusahaan menjadi standar untuk menilai jasa audit internal, dan
kepentingannya dengan manajemen memiliki batas tertentu yang saling
bertentangan.

23.5 Komite Audit dan Auditor Eksternalnya


Komite audit memiliki tanggung jawab utama untuk menyewa perusahaan
audit eksternal, menyetujui anggaran yang diusulkan dan rencana audit, serta
menerbitkan laporan keuangan yang diaudit. Firma akuntan public terutama tidak
lagi memiliki divisi konsultasi, dan dilarang memberikan jasa outsourcing audit
internal kepada perusahaan yang nanti akan diaudit. Oleh karena itu, komite audit
harus lebih menyadari dan sensitive atas hal ini, dimana Sox mengharuskan
komite audit untukmenyetujui seluruh jasa audit eksternal, termasuk comfort
letter, sama seperti halnya jasa nonaudit dari auditor eksternl yang dilarang.
Namun auditor kesternal masih diperbolehkan untuk menyediakan jasa pajak ,
sama halnya dengan jasa pengecualian yang diminimalisir mereka dilarang untuk
memberikan jasa non audit secarakontemporer dengan audit laporan keuangan ,
jasa tersebut seperti :

Pembukuan dan jasa lain yang berkaitan dengan pencatatan akuntansi atau
laporan keuangan klien yang diaudit
Merancang dan mengimplementasikan teknologi informasi keuangan
Jasa penaksiran dan penilaian, pendapat kewajaran atay kontribusi dalam
berbagai pelaporan
Jasa outsourcing audit internal
Fungsi manajemen atau aktivitas pendukung sumberdaya manusia
Broaker atau dealer, penasihat investasi, atau jasa investasi bank
Jasa hukum dan jasa ali lainnya yang tidak berkaitan dengan audit
Jasa lain yang tidak diijinkan oleh PCAOB.

Audit internal harus mempertimbangkan penawaran layanan yang tepat dan


konsisten dengan audit charternya.

23.6 Program Whistleblower dan Kode Etik


Sox menetapkan kepada komite audit untuk membangun prosedur dalam
menerima, penyimpanan, dan perwatan atas keluhan yang berkaitan dengan
akuntansi, pengendalian internal akuntansi, atau masalah auditing, termasuk
prosedur untuk kerahasiaan yang diajukan oleh karyawan atas kekhawatiran
akuntansi dan permasalahan audit. akibatnya akan menghadapi tantangan
dokumentasi karena banyak masalah yang harus dilaksanakan dengan cara yang
rahasia. Audit internal seharusnya menawarkan jasanya kepada komite audit untuk
membangun prosedur dokumentasi dan komunikasi dalam area dibawah ini:
Dokumentasi pencatatan panggilan whistleblower. Sox
mengamanatkan kepada komite audit untuk membangun program
whistleblower formal dimana karyawan dapat meningkatkan perhatian
berkaitan dengan masalah audit yang tidak tepat tanpa takun akan
adanya pembalasan. Biasanya perusahaan besar sudah memiliki fungsi
etika, sehingga hanya perlu mengatasinya dengan cara yang lebih
aman lagi. Ketika perusahaan yang lebih kecil tidak memiliki
sumberdaya, audit internal harus menawarkan fasilitasnya dalam
komunikasi, pencatatan tanggal, waktu, dan nama pemanggil untuk
penyelidikan dan disposisi wishtleblower.
Disposisi permasalahan whistleblower. Dokumentasi harus dijaga
untuk mecatat sifat dari investigasi tindak lanjut dan disposisi yang
terkait. Meskipun Sox mengamanatkan program whistleblower tidak
memiliki program penghargaan tunai, dokumentasi lengkap yang
mencakup tindakan yang diambil serta setiap net saving harus dijaga.
Kode Etik. Sox membuat komite audit bertanggung jawab untuk
mengimplementasikan kode etik perusahaan untuk CEO dan CFO.
Komite audit harus merangkum seperangkat peraturan bagi perilaku
yang tepat dan membuat senior officernya menyatakan bahwa mereka
telah membaca dan memahami serta menyetujui untuk mematuhinya.
23.7. Peran Lain Komite Audit
Audit internal dapat menawarkan untuk bertindak sedikit sebagai
sekretaris dari komite audit dalam mendokumentasi dan menangani masalah
tersebut. Untuk perusahaan besar, komite audit dapat terdiri dari mungkin enam
orang, sedangkan dalam sebuah perusahaan yang lebih kecil, biasanya terdiri dari
hanya dua orang. Direktur komite audit yang independen biasanya merupakan
orang yang sibuk yang mungkin melayani beberapa dewan dengan sedikit
dukungan adminitrasi langsung. Audit internal dapat memberikan bantuan yang
penting. Berdasarkan Sox, komite audit memiliki peran penting dimana memiliki
salah satu posisi terbaik untuk mememberikan fasilitas. CAE memberikan skses
terbuka kepada komite aduit melalui presentasi pada pertemian rutin dan
pertemuan rahasia satu demi satu. Dahulu, pertemuan ini lebih formal dengan
komunikasu sebenarnya yang terbatas, namun telah dirubah oleh Sox oleh karena
itu saat ini komite audit dan ahli keuangan yang dirancangnya memiliki seluruh
tanggung jawab baru audit internal adalah sumber daya yang baik untuk
membantu anggota komite audit untuk memenuhi tanggung jawab mereka terkait
dengan Sox melalui komunikasi yang erat serta dengan menawarkan tugas
dokumentasi tertentu komite audit. Perluasan persyaratan jasa audit internal
merupakan suatu peluang dan tantangan, karena perubahan yang dilakukan Sox,
auditor internal yang modern harus menyadari perluasan penting komite audit.