Anda di halaman 1dari 10

BAB III

PERANAN NITROSAMIN TERHADAP TERJADINYA KANKER

NASOFARING

DITINJAU DARI ISLAM

3.1 Pengertian dan dasar hukum makanan halal

secara etimologi makanan adalah memasukan sesuatu melalui mulut. Dalam

bahasa Arab makanan berasal dari kata at-taam ( ) dan jamaknya al-atimah

( ) yang artinya makan-makanan. Sedangkan dalam ensiklopedia hokum

Islam yaitu segala sesuatu yang dimakan oleh manusia, sesuatu yang menghilangkan

lapar (Abdul Aziz, 2013).

Halal berasal dari bahasa Arab ( ) yang artinya membebaskan,

memcahkan, membubarkan dan membolehkan. Sedangkan dalam ensiklopedia hokum

Islam yaitu : segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika

menggunakannya, atau sesuatu yang boleh dikerjakan menurut syara (Abdul Aziz,

2013).

Jadi pada intinya makanan halal adalah makanan yang baik yang dibolehkan

menurut ajaran Islam, yaitu sesuai dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Sedangkan

pengertian makanan yang baik yaitu segala makanan yang dapat membawa kesehatan

bagi tubuh, dapat menimbulkan nafsu makan dan tidak ada larangan dalam Al-Quran

maupun hadits. Tetapi dalam hal yang lain diperlukan keterangan yang lebih jelas

berdasarkan ijma dan Qiyas (rayi/ijtihad) terhadap sesuatu nash yang sifatnya umum

yang harus digali oleh ulama agar kemudian tidak menimbulkan hukum yang syub-

had ( menimbulkan keraguan).


Dalam Al-Quran di bahas tentang makan lah makanan dari makanan yang

baik-baik, dari sini kita bisa memaknai bahwa janganlah kita memakan makanan yang

sembarangan yang kita tidak tau bahan dan cara pembuatannya. Para ulama dalam

menetapkan prinsip bahwa segala sesuatu asal hukumnya boleh, merujuk pada

beberapa ayat dalam al Quran :

Firman Allah :

Artinya: Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu
"manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang
telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya
Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
(Q.S. Al-Baqarah:29)

Pada dasarnya semua makanan dan minuman yang berasal dari tumbuh-

tumbuhan sayur-sayuran, buah-buahan dan hewan adalah halal kecuali yang beracun

dan membahayakan nyawa manusia. Ayat-ayat ini menyatakan bahwa mengkonsumsi

yang halal hukumnya wajib karena merupakan perintah agama, tetapi menunjukan

juga hal tersebut merupakan salah bentuk perwujudan dari rasa syukur dan keimanan

kepada Allah. Sebaliknya, mengkonsumsi yang tidak halal dipandang sebagai

mengikuti ajaran syaitan.


Firman Allah :

Artinya : Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya. (QS.Al-Maidah 88).

Benda yang termasuk kelompok haram li-zatih sangat terbatas, yaitu darah

yang mengalir dan daging babi ; sedang sisanya termasuk kedalam kelompok haram

li-ghoirih yang karena cara penanganannya tidak sejalan dengan syariat Islam. Selain

kedua benda yang dijelaskan al-Quran itu, benda haram li-zatih juga dijelaskan

dalam sejumlah hadits Nabi ; misalnya binatang buas dan binatang bertaring, dan

sebagainya. Demikian juga alkohol (khamar).

Firman Allah :

Artinya : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,


daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS.Al-Baqoroh (2):173)
3.2 Nitrosamin Sebagai Bahan Pengawet Makanan Ditinjau dari Agama

Islam

Penelitian menunjukkan bahwa kandungan nitrosamin banyak ditemukan pada

makanan Asia (Hotchkiss, 1989). Selain itu nitrosamin terbentuk secara endogen dari

senyawa nitrat dan nitrit. Meskipun dalam 20 tahun belakangan ini jumlahnya telah

dikurangi, Natrium nitrat masih tetap digunakan untuk mengawetkan produk produk

daging olahan. Nitrit juga dibentuk dalam tubuh dari reduksi oral nitrat saliva.

Sayuran dan air adalah sumber utama dari asupan nitrat. Nitrit dibentuk menjadi nitrit

oksida oleh pembentukan katalis asam lambung, yang nantinya berperan sebagai agen

pembentuk nitrosamin (Bartsch et al., 1997).

Berdasarkan firman Allah dalam Al-Quran

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik
yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-
benar kepada-Nya kamu menyembah (QS. Al-Baqarah (2): 172)

Makna ayat tersebut bahwa semua yang tidak diharamkan oleh agama adalah

bersifat halal, tak terkecuali dengan pengawet yang digunakan sebagai bahan

tambahan makan. Pengawet makanan yang bersumber dari barang yang haram akan

bersifat haram, bahan pengawet makanan apabila berupa hewan yang halal jika

disembelih dengan tidak menyebut nama Allah pun bersifat haram. Proses

pengawetan telah ada sejak peradaban manusia. Orang kuno menggunakan bahan

yang ada di alam untuk mengawetkan bahan pangan mereka, hal ini dilakukkan secara
turun menurun. Penggunaan asap telah digunakan untuk proses pengawetan daging,

ikan dan jagung. Demikian pula pengawetan dengan garam, asam dan gula telah

dikenal sejak dulu kala. Di abad modern mulai dikenal penggunaan bahan pengawet

mengunakan senyawa kimia sintetis dengan tujuan untuk mempertahankan pangan

dari gangguan mikroba, sehingga bahan pangan lebih awet dan tidak merubah

tampilan dari bahan pangan tersebut.

Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang mempunyai

sifat mudah rusak. Bahan ini dapat menghambat atau memperlambat proses

fermentasi, pengasaman, atau penguraian yang disebabkan oleh mikroba. Akan tetapi

tidak jarang produsen menggunakannya pada bahan pangan yang relatif awet dengan

tujuan untuk memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur (Cahyadi, 2008).

Makanan yang halal pasti akan bersifat toyyib, akan tetapi makanan yang toyyib

belum tentu besifat halal. Makanan yang bersifat aman artinya tidak menyebabkan

penyakit, dengan kata lain aman secara duniawi dan ukhrawi. Keamanan pangan

(food safety) ini secara implisit dinyatakan dalam al-Quran.

Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rizkikan kepadamu, dan bertawakallah keada Allah dan kamu beriman
kepada-Nya. (QS. Al-Maidah (5): 88)

Ayat ini memerintahkan manusia untuk mengkonsumsi makanan/minuman

dalam konteks ketakwaan pada saat menjalankan perintah konsumsi makanan. Supaya

manusia berupaya untuk menghindari makanan/minuman yang mengakibatkan siksa


dan terganggunya rasa aman. Masalah pangan selalu mendesak apabila ditambah

dengan masalah laju kenaikan penduduk. Dalam produksi, penggandaan, dan

konsumsi, bahan pangan banyak mengalami perubahan, baik yang diharapkan atau

tidak. Perubahan tersebut sebagian besar berasal dari reaksi kimia dan bahan-bahan

kimia. Harapannya perubahan bahan pangan tersebut hendaknya tidak bertentangan

dengan ajaran Islam, jangan sampai menjadikan yang halal menjadi haram dan yang

haram menjadi halal.

Produk halal tidak saja memenuhi kebutuhan aspek syar`i, melainkan juga

terjaga dari segi kualitas dan higienisnya. Itu sebabnya produk halal amat didambakan

dan dicari konsumen Muslim di dunia, karena bagi konsumen Muslim, panduannya

sudah jelas sebagaiman dalam al-Quran.

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang
terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;
karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS.
Al-Baqarah (2): 168)

Setelah Allah menjelaskan bahwa tiada Tuhan kecuali Dia, dan Dia yang

menjadikan serta member rizki kepada semua makhluk-Nya, maka dalam ayat ini

Allah memperbolehkan mereka makan semua makanan yang ada di bumi, yaitu yang

halal dan baik, lezat dan tidak mengandung bahaya bagi badan, atau akal dan urat

syaraf. Selain itu Allah melarang manusia mengikuti bisikan setan yang sengaja akan

menyesatkan manusia dari tuntunan Allah dengan cara mengharamkan yang halal dan

menghalalkan yang diharamkan Allah (Bhreisy dan Bahreisy, 2002: 316)


3.3 Sumber Makanan Penyebab Karsinoma Nasofaring

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan suatu keganasan yang

memiliki karakteristik epidemiologi yang unik, dengan insiden yang bervariasi

sesuai ras dan perbedaan geografi. Kanker nasofaring merupakan salah satu

kanker terbanyak di Indonesia, dan dari distribusi usia sering mengenai usia

produktif. Oleh karena itu secara ekonomi, kejadian kanker nasofaring akan

mempengaruhi keadaan ekonomi penderita (Marlinda Adham et al, 2012).

Al-Quran berisi petunjuk tentang obyek studi (ontologis) yang lengkap

dengan perintah mempelajari segala apa yang ada di langit dan di bumi dan di

antara keduanya. Allah telah menunjukkan obyek ilmu itu tidaklah berarti

pembatasan bagi manusia untuk membatasi diri hanya mempelajari obyek yang

ada, namun bagi manusia untuk mengembangkan lebih maju lagi pencarian

ilmunya. Yang perlu diperhatinkan bahwa petunjuk ontologis dari al-Quran boleh

jadi sederhana tapi mempunyai makna konotasi yang luas dan mendalam.

Sebagaimana Allah berfirman:

Artinya: Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.(QS Abasaa


(80): 24)

Dengan perintah yang sangat singkat ini, manusia dapat menentukan objek

ilmu untuk dipelajari yang tiada akhirnya. Dalam konteks ini untuk memahami nilai-

nilai kewahyuan, ummat Islam harus memanfaatkan ilmu pengetahuan. Karena

realitasnya saat ini, ilmu pengetahuanlah yang amat berperan dalam menentukan

tingkat kemajuan ummat manusia. Dengan demikian dapat dipahami untuk

mengulang kembali kesuksesan yang pernah diraih di masa silam, Islamisasi Ilmu
Pengetahuan harus tetap digalakkan (Daud, 2003).

Peningkatan risiko karsinoma nasofaring terlihat pada orang yang memiliki

kebiasaan mengkonsusmsi makanan yang dibakar dalam jumlah besar , ikan dan

daging yang diasinkan dan acar . Nitrat dan nitrit merupakan zat yang umum

ditemukan dalam daging olahan (Hsu WL 2009).

Konsumsi ikan asin yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama dapat

meningkatkan angka kejadian karsinoma nasofaring. Di Cina bagian selatan ikan asin

merupakan makanan awal yang sering diberikan orang tua kepada bayi dan anak-anak

karena status sosial ekonomi rendah. Akumulasi bahan kimia nitrosamin dan

prekursor nitrosamine telah dilaporkan sebagai bahan karsinogenik (Hsu WL 2009).

Mengkonsumsi ikan asin secara berlebihan tidak diperbolehkan dalam agama

Islam karena mengkonsumsi secara berlebihan merupakan perilaku ghuluw. Ghuluw

yang secara bahasa artinya melampaui batas atau berlebih-lebihan. Pengertian ghuluw

dalam arti syariat adalah berbuat melampaui batas, baik dalam keyakinan maupun

amalan yang justru membuatnya menyimpang dari apa yang telah ditetapkan oleh

syariat.

Firman Allah :

Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap


(memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-
lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan. (QS.Al-Araf (7):31)
Firman Allah :

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana


diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta
kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Surah Hud : 112)

Firman Allah :

Artinya : Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung


dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang
bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan
warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan
janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-Anam (6):141)

Allah telah memerintahkan manusia melalui petunjuk Al-Quran untuk

mengkonsumsi makanan/minuman dalam konteks ketakwaan supaya manusia

berupaya untuk menghindari makanan/minuman yang mengakibatkan siksa dan

terganggunya rasa aman. Masalah pangan selalu mendesak apabila ditambah dengan

masalah laju kenaikan penduduk. Dalam produksi, penggandaan, dan konsumsi,

bahan pangan banyak mengalami perubahan, baik yang diharapkan atau tidak.

Perubahan tersebut sebagian besar berasal dari reaksi kimia dan bahan-bahan kimia.
Maka penggunanaan bahan makanan yang dapat memicu terbentuknya

nitrosamin sebaiknya sejak dini harus segera dikurangi atau bahkan dihindari secara

mutlak, mengingat dampak mengkonsumsi makanan yang mengandung nitrosamin

dapat membahayakan organ tubuh khususnya nasofarnig. Oleh karena itu perlu bagi

kita untuk mengetahui dampak apa saja yang mungkin terjadi ketika mengkonsumsi

suatu makanan tertentu, agar terhindar dari makanan yang tidak baik bagi kesehatan.

Hal ini telah sesuai dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa setiap manusia

wajib memperhatikan makanannya. Mengkonsumsi ikan asin berlebihan juga tidak

diperbolehkan karena Allah pun tidak suka dengan tindakan berlebih-lebihan dalam

sesuatu.