Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

.1. Latar belakang

Sinar biru adalah sinar yang panjang gelombangnya masih dalam spektrum

yang dapat dilihat mata. Sinar biru atau dikenal juga dengan nama high-energy

visible (HEV) light memiliki panjang gelombang antara 400 sampai dengan 500nm

ketika diukur menggunakan spektrometer. Sinar biru bukan bagian dari sinar UV.

Karena sinar UV memiliki rentang panjang gelombang dari 200 hingga 380 nm. Pada

masa sekarang ini manusia seringkali terpapar sinar biru setiap harinya baik yang

bersifat alami dari matahari ataupun artifisial seperti LED (light emitting diode) yang

terdapat pada bohlam, layar komputer dan smartphone (Morgan, 2014).

Pada panjang gelombang 465 sampai dengan 495 nm sinar biru bermanfaat

pada fungsi irama sirkadian, memori dan kognitif. Sinar biru juga memiliki fungsi

fisiologi dalam mengatur pelepasan melatonin dan mempengaruhi pengaturan suhu

tubuh manusia. Namun begitu karena gelombangnya yang pendek (400-500 nm), efek

kumulatif dari sinar biru dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ seperti

peningkatan risiko kanker payudara dan prostat, diabetes dan gangguan mata

(Morgan, 2014; Roberts, 2011).

Paparan pada mata akan menyebabkan gangguan pada retina. Paparan dalam

jangka waktu panjang dapat mengakibatkan proses degenerasi pada makula. Efek

buruk sinar biru terutama pada panjang gelombang 415 sampai dengan 455 nm.

1
Kerusakan ini diakibatkan karena pada panjang gelombang 415-455 cahaya yang

ditangkap akan mengaktivasi fotosensitisasi A2E. fotosensitisasi ini akan menjadi

awal patogenesis AMD. Semakin pendek gelombang dan semakin lama paparan akan

memperbesar risiko degenerasi makula (Morgan, 2014; Roberts, 2011).

Age related macular degeneration (AMD) adalah kondisi medis kronik yang

menyebabkan hilangnya penglihatan sentral akibat kerusakan makula atau bagian

tengah retina. AMD adalah penyebab gangguan penglihatan berat hingga kebutaan

utama pada individu berusia lebih dari 55 tahun di Amerika Serikat. Meskipun

insidensinya bervariasi, diperkirakan terdapat dua juta kasus baru AMD tiap

tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh European Eye Study diketahui

bahwa paparan sinar biru dapat memacu degenerasi makula terutama pada orang

dengan daya tahan tubuh yang rendah (usia tua, terlalu muda dan gangguan daya

tahan tubuh). Selain itu dari studi tahun 2013 oleh Arnault dengan 838 sampel

diketahui bahwa pasien dengan AMD derajat lanjut memiliki riwayat paparan sinar

UV dan sinar biru lebih dari 20 tahun lamanya (Dunbar, 2014; Arnault, 2013; Kiser,

2008).

Penyebab terjadinya AMD masih belum diketahui. Faktor risiko seseorang

mengalami degenerasi makula bisa dipengaruhi oleh organ mata itu sendiri, mulai

dari lesi prekursor pada mata, status refraksi, warna iris dan pigmentasi makula.

Selain itu gaya hidup, seperti rokok, konsumsi minuman beralkohol, konsumsi lemak

jenuh dan obesitas dapat meningkatkan risiko degenerasi makula. Faktor predisposisi

seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan gangguan pembuluh darah dan

2
diabetes dapat juga meningkatkan risiko degenerasi makula. Hal lain yang dpaat

menyebabkan degenerasi makula adalah riwayat operasi katarak dan paparan sinar

matahari dan sinar biru (Chakravarthy, 2013).

Manifestasi klinis dari AMD berupa gangguan penglihatan sentral memburam

secara bertahap atau dengan cepat. Selain iu pasien juga dapat mengalami penglihatan

bayangan gelap atau hilangnya lapang pandang. Keluhan lain dapat berupa distorsi

penglihatan, problem membedakan warna dan kehilangan sensitivitas kontras (Skuta,

2011).

Kerusakan akibat sinar biru terjadi ketika adanya paparan kumulatif pada

rentang 380-500 nm yang akan mengaktivasi senyawa trans-retinayang ada di retina.

Aktivasi ini akan mengakibatkan produksi reactive oxygen species (ROS) berupa

radikal bebas, hidrogen peroksida dan oksigen tunggal. ROS akan menyerang

berbagai molekul seperti lemak tidak jenuh yang merupakan komponen utama

membran sel retina. Kerusakan ini akan mengakibatkan gangguan struktur membran

segmen luar retina. Lebih lanjut kerusakan tersebut akan mengakibatkan akumulasi

lipofusin yang berimplikasi langsung dalam patogenesis AMD (Vilette, 2013).

Dalam Islam sudah dijelaskan bahwa segala sesuatu yang sifatnya berlebihan

itu tidak baik. Perkembangan teknologi sekarang ini semakin mendorong

penggunaan sinar biru. Namun begitu karena hampir seluruh layar alat elektronik atau

gadget sekarang ini menggunakan sinar biru, akumulasinya pada mata tidak dapat

dihindarkan. Islam memiliki program untuk seluruh dimensi kehidupan manusia, dan

3
menyarankan keseimbangan dan proporsionalitas dalam semua persoalan kepada para

pengikutnya (Rahmat, 2014; Islamquest, 2011).

Israf adalah berlebihan dan melanggar, dimana kontradiksinya adalah

bertujuan dan pertengahan. Batasannya ditentukan oleh dosa-dosa, hal-hal yang

diharamkan secara syari, hukum akal dan tolak-tolak ukur akli dan urf atau hal yang

berlaku umum di tengah masyarakat.Sedangkan tabdzr bermakna menyebar. Tabdzr

mencakup menghamburkan dan berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, dan

segala yang berkaitan dengan kehidupan (Rahmat, 2014; Islamquest, 2011).

Mengingat adanya hubungan antara paparan sinar biru berlebih dengan risiko

degenrasi makula maka penulis akan mengangkat skripsi dengan judul hubungan

paparan sinar biru berintensitas tinggi dengan peningkatan risiko degenerasi makula

ditinjau dari kedokteran dan Islam.

.2. Perumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan sinar biru?


2. Bagaimana efek paparan sinar biru terhadap macula?
3. Bagaimana pencegahan terjadinya degenerasi macula akibat paparan sinar

biru?
4. Bagaimana pandangan Islam terhadap degenerasi macula akibat paparan sinar

biru?

.3. Tujuan skripsi

4
Tujuan umum

Mengetahui dan mampu menjelaskan tentang paparan sinar biru berintensitas

tinggi dengan peningkatan terjadinya degenerasi makula.

Tujuan khusus

1. Mengetahui dan mampu menjelaskan definisi sinar biru dan

pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.


2. Mengetahui dan menjelaskan degenerasi makula.
3. Mengetahui dan mampu menjelaskan kaitan antara paparan sinar biru

berintensitas tinggi dengan degenerasi makula.


4. Mengetahui dan mampu menjelaskankaitan antara paparan sinar biru

berintensitas tinggi dengan degenrasi makuladitinjaudari pandangan

Islam.

.4 Manfaat skripsi

1. Bagi penulis
Untuk menambah pengetahuan tentang paparan sinar biru berintensitas tinggi

dengan peningkatan risiko degenerasi makuladitinjau dari kedokteran dan

Islam serta menambah pengalaman dalam menyusun karya ilmiah yang baik

dan benar.

2. Bagi Universitas YARSI


Dengan penyusunan skripsi ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu

pengetahuan di perpustakaan Universitas YARSI serta menjadi bahan

masukan bagi civitas akademika tentang paparan sinar biru berintensitas

5
tinggi dengan peningkatan risiko degenerasi makula ditinjau dari kedokteran

dan Islam.

3. Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat dapatmemahami dan mengetahui kaitan antara

paparan sinar biru berintensitas tinggi dengan peningkatan risiko degenerasi

makula ditinjau dari kedokteran dan Islam.