Anda di halaman 1dari 9

Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU
LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSHARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2014

Laurensia Yunita1, Faizah Wardhina2, Husnun Fadillah3

1
AKBID Sari Mulia Banjarmasin
2
AKBID Martapura Yayasan Korpri Banjar
e-mail : husnun53@gmail.com
ISSN : 2086-3454
ABSTRAK

Latar belakang: Yaitu Ketuban pecah dini merupakan penyebab utama terjadinya asfiksia pada bayi
baru lahir dan kasusnya selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Objek dalam penelitian ini
adalah seluruh bayi asfiksia di RSUD dr. H. Moch. Anshari Saleh Banjarmasin.
Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui ada hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia
pada bayi baru lahir.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan metode retrosfective dengan
pendekatan case control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 300 bayi. Teknik pengambilan sampel
penelitian ini adalah Simple Random Sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapat
dari register persalinan dan register bayi serta rekam medik kemudian diolah dan dianalisis
menggunakan program komputer. Uji statistik yang digunakan yaitu uji Chi Square dengan 0,05.
Hasil: ditemukan bahwa angka kejadian ketuban pecah dini pada bayi asfiksia terdapat 54 kejadian
(18%) dari 300 bayi sampel. Dari penelitian ini ada hubungan yang bermakna antara ketuban pecah
dini dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir, dimana dari kasus uji Chi Square didapatkan angka
= 0,000 < 0,05. Saran dari hasil penelitian yaitu untuk memperkecil resiko terjadinya ketuban pecah
dini, sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan antenatal minimal empat kali untuk deteksi,
pencegahan dan pengamanan faktor risiko terhadap asfiksia pada bayi baru lahir.

Kata kunci: Ketuban Pecah Dini, Asfiksia, Bayi Baru Lahir

15
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

PENDAHULUAN 2011, Indonesia merupakan negara dengan


Ketuban pecah dini (KPD) merupakan AKB dengan asfiksia tertinggi kelima untuk
masalah penting dalam obstetri berkaitan negara ASEAN yaitu 35 per 1000, dimana
dengan partus lama, atonia uteri, infeksi nifas, Myanmar 48 per 1000, Laos dan Timor Laste
perdarahan post partum, penyulit kelahiran 48 per 1000, Kamboja 36 per 1000
prematur, asfiksia, terjadinya infeksi (Maryunanik, 2013).
korioamnionitis, sepsis neonatorum hingga Menurut laporan dari Departemen
dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi. Kementrian Indonesia (2013), bayi baru lahir
Pencegahan awal akan terjadinya ketuban diharapkan mencapai angka 29/1000 kelahiran
pecah dini merupakan satu kesatuan integral hidup namun pada Provinsi Kalimantan Tengah
pada praktik kebidanan yang efektif. didapatkan angka kematian 50/1000 kelahiran
Pengkajian dimulai dari saat pendaftaran di hidup. Distribusi bayi keluar mati dari rumah
klinik untuk mendapatkan informasi selama sakit seluruh Indonesia didapatkan 5162
masa kehamilan dan pemantauan dilakukan kematian bayi dan didapatkan 1297 (25,13%)
selama masa persalinan. Bidan harus yang disebabkan oleh asfiksia dengan
mewaspadai resiko infeksi dan asfiksia pada menduduki peringkat kedua penyebab kematian
janin yang bermasalah pada periode antenatal bayi baru lahir setelah infeksi.
dalam kehamilan yang memiliki komplikasi Profil Kesehatan Kalimantan Selatan
seperti janin dengan gangguan intrauterin, (2013), menyebutkan AKB di Kalimantan
insufesiensi plasenta atau toksemia. Tetapi pada Tengah terdapat 12 per 1000 kelahiran hidup.
intinya tidak mungkin memprediksikan dengan Rendahnya angka ini mungkin disebabkan
pasti bahwa seorang bayi akan dilahirkan karena kasus-kasus yang terlaporkan adalah
dengan kondisi yang baik, karena pada kasus yang terjadi di masyarakat belum
kelahiran resiko rendah pun dapat mengalami seluruhnya terlaporkan.
infeksi, asfiksia dan memerlukan resusitasi Berdasarkan data yang didapatkan di RS
(Maryunani 2013). dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin pada
Laporan WHO juga menyebutkan bahwa tahun 2012 jumlah asfiksia pada bayi baru lahir
AKB akibat asfiksia kawasan Asia Tenggara sebanyak 264 bayi (17,93%) dari 1472
merupakan kedua yang paling tinggi yaitu persalinan. Kejadian tersebut meningkat di
sebesar 142 per 1000 setelah Afrika. Di tahun tahun 2013 yaitu sebanyak 351 bayi (20,86%)
16
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

dari 1682 persalinan. Pada tahun 2014 angka pada saat ini, kemudian faktor risiko
kejadian asfiksia meningkat (bulan Januari diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu
sampai dengan Agustus 2014) menjadi 492 bayi yang lalu (Notoatmodjo, 2012), dengan
(22,69%) dari 2168 persalinan. Kejadian pendekatan Case Control.
Ketuban Pecah Dini (KPD) di RSUD dr. H. Populasi dalam penelitian ini adalah
Moch Ansari Saleh Banjarmasin yang semua bayi yang dilahirkan di VK Bersalin
merupakan salah faktor penyebab terjadinya RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin
asfiksia pada bayi baru lahir pada tahun 2012 pada bulan Januari sampai dengan bulan
sebesar 127 orang (8,62%) dari 1472 Agustus 2014. Populasi berjumlah 1147 orang,
persalinan, kejadian tersebut menurun pada sedangkan sampel yang digunakan akan dibagi
tahun 2013 yaitu sebesar 87 orang (5,17%) dari menjadi 2, yaitu 1 bagian untuk kasus (100 bayi
1682 persalinan, dan meningkat pada tahun asfiksia) dan 2 bagian untuk kontrol (200 bayi
2014 yaitu sebesar 200 orang (9,22%) dari 2168 tidak asfiksia) sehinga semua sampel berjumlah
persalinan. 300 orang.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah
menganalisis hubungan ketuban pecah dini HASIL PENELITIAN
dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Dari 1.147 bayi yang telah dilahirkan di
RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin
sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini dari tanggal 1 Januari 2014 sampai dengan 31
adalah mengidentifikasi jumlah kejadian Agustus 2014, hanya sebanyak 300 orang yang
ketuban pecah dini, mengidentifikasi kejadian dijadikan sampel. Sampel yang didapatkan
asfiksia pada bayi baru lahir dan menganalisis dianalisis, baik dengan analisis univariat
hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian maupun analisis bivariat berdasarkan masing-
asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD dr. H. masing kategori variabel.
Moch Ansari Saleh Banjarmasin. 1. Hasil Analisis Univariat
Hasil penelitian terhadap 300 sampel
BAHAN DAN METODE dikelompokkan berdasarkan umur ibu.
Penelitian ini menggunakan metode Kelompok umur ibu bersalin akan
penelitian retrospective. Dengan kata lain, efek dikelompokkan menjadi kategori aman dan
(penyakit atau status kesehatan) di identifikasi tidak aman seperti tampak pada tabel 1
17
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

Tabel 1 Distribusi Umur Ibu Bersalin di RSUD dr. H. Moch Hasil penelitian terhadap 300 sampel
Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2014
dikelompokkan berdasarkan umur kehamilan
No. Umur Jumlah % ibu bersalin. Kelompok umur kehamilan ibu
1 Aman 227 76%
2 Tidak Aman 73 24%
bersalin akan dikelompokkan menjadi kategori
Total 300 100% prematur dan aterm seperti tampak pada Tabel
Sumber: Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
3
Tahun 2014 (hasil olahan).
Tabel 3 Distribusi Umur Kehamilan Ibu Bersalin di RSUD dr. H.
Moch Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2014
Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat
dilihat bahwa jumlah ibu bersalin sebanyak 227 No. Umur Kehamilan Jumlah %
1 Prematur 120 40%
orang (75,7%) kelompok umur aman dan
2 Aterm 180 60%
sebanyak 73 orang (24,3%) kelompok umur Total 300 100%

tidak aman. Sumber: Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
Tahun 2014 (hasil olahan).
Hasil penelitian terhadap 300 sampel
dikelompokkan berdasarkan paritas ibu
Berdasarkan tabel tersebut di atas
bersalin. Kelompok paritas ibu bersalin akan
dapat dilihat bahwa jumlah ibu bersalin
dikelompokkan menjadi kategori aman dan
sebanyak 180 orang (60,0%) kelompok
tidak aman seperti tampak pada tabel 2
umur kehamilan aterm dan sebanyak 120

Tabel 2 Distribusi Paritas Ibu Bersalin di RSUD dr. H. Moch orang (40,0%) kelompok umur kehamilan
Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2014 prematur.

No. Paritas Jumlah % Hasil penelitian terhadap 300


1 Aman 106 35% sampel dikelompokkan berdasarkan berat
2 Tidak Aman 194 65%
Total 300 100%
badan lahir bayi. Kelompok berat badan
Sumber: Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh lahir bayi akan dikelompokkan menjadi
Tahun 2014 (hasil olahan).
kategori cukup dan kurang seperti tampak
pada Tabel 4
Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat
dilihat bahwa jumlah ibu bersalin sebanyak 194
orang (64,7%) kelompok paritas tidak aman
dan sebanyak 106 orang (35,3%) kelompok
paritas aman.
18
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

Tabel 4 Distribusi Berat Badan Lahir bayi dengan KPD di RSUD kejadian KPD sebanyak 54 orang (18,00%) dan
dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2014.
yang tidak KPD sebanyak 246 orang (82,00%).

Berat Badan Hasil penelitian berdasarkan kategori


No. Jumlah %
Lahir kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD
1 Cukup 179 60%
2 Kurang 121 40%
dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin pada
Total 300 100% periode bulan januari hingga agustus tahun
Sumber: Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
2014 terhadap sampel yang diambil secara
Tahun 2014 (hasil olahan).
random dikelompokkan berdasarkan asfiksia
Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat dan tidak asfiksia. Hasil pengolahan tersebut
dilihat bahwa jumlah berat badan lahir bayi dapat dilihat pada Tabel 6
sebanyak 179 orang (59,7%) kelompok berat
badan lahir cukup dan sebanyak 121 orang Tabel 6 Distribusi Kejadian Asfiksia Berdasarkan APGAR Skor di
RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2014
(40,3%) kelompok berat badan lahir kurang.
Hasil penelitian terhadap 300 sampel No. Asfiksia Jumlah %
1 Asfiksia 100 33%
dikelompokkan berdasarkan kejadian
2 Tidak Asfiksia 200 67%
persalinan dengan ketuban pecah dini. Total 300 100%

Persalinan yang terjadi dengan ketuban pecah Sumber: Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
Tahun 2014 (hasil olahan).
dini akan dikelompokkan menjadi kategori ya
dan tidak seperti tampak pada tabel 5 Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat
dilihat bahwa dari 300 sampel, terbanyak yaitu
Tabel 5 Distribusi Ibu Bersalin dengan KPD di RSUD dr. H. Moch
Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2014 yang mengalami kejadian asfiksia adalah bayi
yang tidak mengalami asfiksia yaitu sebesar
No. Ketuban Pecah Jumlah %
200 bayi (66,67%) dan yang mengalami
Dini
1 Ya 54 18% asfiksia yaitu sebanyak 100 bayi (33,33%).
2 Tidak 246 82%
Total 300 100%
Sumber: Buku Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari
Saleh Tahun 2014 (hasil olahan).

Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat


dilihat bahwa jumlah persalinan dengan

19
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

2. Hasil Analisis Bivariat sebanyak 100 kasus (33,33%). Sedangkan bayi


Tabel 7 Distribusi ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia pada tidak asfiksia berjumlah 200 (66,67%). Hal ini
bayi baru lahir, RSUD dr. H. Moch. Anshari Saleh
Banjarmasin Tahun 2014 menggambarkan bahwa bayi yang tidak
Kategori Persalinan Jumlah mengalami asfiksia lebih besar dibandingkan
No KPD Asfiksia Tidak Asfiksia
N % n %
N % bayi lahir dengan asfiksia. Namun jika dilihat
1 Ya 54 54% 0 0% 54 18% dari persentasenya, angka kejadian bayi lahir
2 Tidak 46 46% 200 100 % 246 82%
dengan asfiksia di RSUD dr. H. Moch. Ansari
Jumlah 100 100% 200 100 % 300 100%
Sumber: Register Persalinan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Tahun Saleh masih cukup tinggi bila dibandingkan
2014 (hasil olahan). dengan angka kejadian asfiksia dunia yang
berkisar 10%-20%.
Hasil penelitian didapatkan bahwa bayi
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi
yang mengalami asfiksia 54 orang (100%) lahir
yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur,
dari ibu yang mengalami ketuban pecah dini
sehingga dapat menurunkan O2 dan makin
dan 46 (18,7%) lahir dari ibu yang tidak
meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat
mengalami ketuban pecah dini, sedangkan bayi
buruk dalam kehidupan lebih lanjut terutama
yang tidak mengalami asfiksia 200 orang
pada bayi dengan berat badan lahir kurang
(81,3%) lahir dari ibu yang tidak mengalami
(<2500gram) dan akibat umur kehamilan yang
ketuban pecah dini.
belum matang (Prematur/<36 minggu) atau
Hasil uji statistik dengan chi square
kehamilan lewat bulan (Postmatur/>40 minggu)
didapatkan nilai p=0,000 yakni p< (0,05)
(Manuaba, 2010). Tingginya angka kejadian
dengan demikian Ho ditolak artinya ada
asfiksia tersebut dikarenakan kebanyakan
hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian
masyarakat yang menikah pada usia muda,
asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD dr. H.
jarak kehamilan terlalu dekat dan sering serta
Moch. Anshari Saleh periode Januari hingga
masih bekerja berat walaupun sedang hamil.
Agustus tahun 2014.
Penyebab lainnya adalah kurang baiknya status
gizi pada saat hamil, selain itu kurangnya
PEMBAHASAN
pemeriksaan ANC yang baik sehingga deteksi
1. Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
dini komplikasi dan pengamanan faktor risiko
Hasil penelitian terhadap 300 bayi baru
terhadap kejadian asfiksia dapat dicegah
lahir didapatkan kasus bayi dengan asfiksia
(Maryunanik, 2013).
20
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

Berdasarkan penelitian yang telah penatalaksanaan dan pengawasan yang tepat.


dilakukan dari 300 orang yang bersalin dengan Hal ini berkesinambungan dengan masih
bayi asfiksia yaitu bila ditinjau berdasarkan tingginya angka kematian bayi di Indonesia.
umur diketahui bahwa 31 orang (42,5%) Prawiharjdo (2010) mengatakan bahwa
berasal dari ibu dengan umur tidak aman (<20 kejadian asfiksia pada bayi baru lahir akibat
tahun dan >35 tahun), 74 orang (38,1%) ketuban pecah dini banyak dijumpai pada umur
dengan paritas tidak aman (paritas 1/>2), 55 muda dan paritas yang tinggi. Hal ini
kasus (45,8%) dengan kehamilan prematur disebabkan organ pada reproduksi wanita yang
(<36 minggu), dan 70 kasus (57,9%) dengan belum matang sehingga rentan mengalami
berat badan lahir kurang (<2500gram). abortus, kelahiran prematur, berat badan lahir
Hal tersebut sejalan dengan hasil yang rendah, ketuban pecah dini yang dapat
penelitian Muryanti (2012) tentang faktor- mengakibatkan asfiksia pada bayi baru lahir
faktor yang berhubungan dengan kejadian dan komplikasi lain pada ibu dan bayi.
asfiksia akibat ketuban pecah dini di RSUD 2. Hubungan Ketuban Pecah Dini dengan
Ratu Zaleha Martapura, diketahui dari 89 Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
responden adalah responden yang menikah di Persentase kejadian bayi asfiksia yang
usia muda yakni < 20 tahun sebanyak 47 dilahirkan dari ibu dengan ketuban pecah dini
responden (52,80%), paritas yang tidak aman sebesar 100% (54 kasus). Hal ini sesuai dengan
(>3) dengan jarak kehamilan rata-rata <2 tahun teori bahwa Asfiksia neonatorum diperberat
sebanyak 31 responden (34,83%) dan kejadian jika ibu hamil mengalami ketuban pecah dini
ketuban pecah dini sebanyak 71 responden sebelum masa inpartu. Ketuban pecah dini
(79,77%) dialami oleh ibu yang bekerja merupakan salah satu faktor penyebab asfiksia
sedangkan bila ditinjau dari status gizi, 18 dan infeksi (Maryunanik, 2013).
responden (20,22%) mengalami risiko KEK Berdasarkan hasi uji Chi Square, ada
(Kekurangan Energi Kronis dengan LILA < hubungan antara ketuban pecah dini dengan
23,5 cm) dan semua faktor tersebut memiliki kejadian asfiksia (p = 0.000). Hal tersebut
hubungan dengan kejadian asfiksia (p= 0,000). sejalan dengan hasil penelitian Rahmayanti
Kejadian asfiksia pada bayi baru lahir (2012), dimana diperoleh hasil ada hubungan
akibat ketuban pecah dini dapat dicegah dan ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia
frekuensinya dapat dikurangi dengan
21
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

neonatorum pada bayi baru lahir di RSIB Budi Banjarmasin yang telah memberikan ijin dan
Kemuliaan Jakarta (p = 0.003). tempat penelitian sehingga penelitian ini bisa
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah
masalah penting dalam obstetri berkaitan ditentukan.
dengan asfiksia yang dapat menyebabkan
kematian pada bayi. Pencegahan awal akan DAFTAR PUSTAKA
terjadinya ketuban pecah dini merupakan satu Akademi Kebidanan Sari Mulia. 2014. Pedoman
kesatuan integral pada praktik kebidanan yang Penulisan Karya Tulis Ilmiah.
efektif. Pengkajian dimulai dari saat Banjarmasin: Akademi Kebidanan
pendaftaran di klinik untuk mendapatkan Sarimulia
informasi selama masa kehamilan dan Departemen Kesehatan. 2014. Survei Demografi
pemantauan dilakukan selama masa persalinan. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Anka
Bidan harus mewaspadai risiko asfiksia pada kematian Bayi (AKB). Jakarta.
janin yang bermasalah pada periode antenatal
Maryunani. Anik, dkk. 2013. Asuhan
dalam kehamilan yang memiliki komplikasi
Kegawatdaruratan dan Penyulit pada
seperti janin dengan gangguan intrauterin,
Neonatus Yogyakarta: In Media
insufesiensi plasenta atau toksemia. Tetapi pada
intinya tidak mungkin memprediksikan dengan Maryunani, Anik. 2013. Asuhan Neonatus, Bayi,
pasti bahwa seorang bayi akan dilahirkan Balita dan Anak Pra Sekolah. Jakarta:
dengan kondisi yang baik, karena pada Trans Info Media
kelahiran risiko rendah pun dapat mengalami
Notoatmojdo, Soekidjo. 2012. Metodologi
asfiksia dan memerlukan resusitasi (Maryunani
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rieneka
2013). Penelitian ini dapat dijadikan sebagai
Cipta.
bahan perbandingan dan menambah referensi
tentang hubungan ketuban pecah dini dengan Notoatmojdo, Soekidjo. 2012. Pendidikan Dan
ekjadian asfiksia pada bayi baru lahir. Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rieneka
Cipta.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada RSUD dr. H. Moch. Anshari Saleh
22
Dinamika Kesehatan, Vol.13 No.15 Juli 2015 Yunita et al.,Hubungan Ketuban Pecah Dini...

Notoatmojdo, Soekidjo. 2012. Promosi


Kesehatan Teori Dan Aplikasi. Jakarta:
Rieneka Cipta.

23