Anda di halaman 1dari 9

PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE

Pada dasarnya good governance adalah suatu konsep yang mengacu pada proses
pengambilan keputusan yang pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan bersama yang
menggabungkan tiga pilar pokok yaitu pemerintah, sektor swasta dan masyarakat bagi
penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu negara. penerapan dari good governance itu sendiri
merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi seluruh stakeholder untuk dapat menciptakan suatu
sistem pemerintahan yang berpihak kepada kepentingan rakyat sesuai dengan prinsip
pemerintahan demokrasi. Kunci utama agar dapat memahami tentang penerapan good
governance adalah dengan memahami prinsip-prinsip good governance. Karena prinsip good
governance merupakan tolak ukur dari keberhasilan suatu pemerintahan, keberhasilan kinerja
suatu pemerintahan dapat dilihat baik atau buruknya setelah bersinggungan dengan prinsip-
prinsip dari good governance. Menurut LAN (Lembaga Administrasi Negara) pada tahun 2003,
prinsip dari good governance meliputi 12 hal yaitu: akuntabilitas, profesionalitas, partisipasi,
transparansi, kesetaraan, supremasi hukum, keadilan, desentralisasi, kebersamaan, cepat tanggap,
efektif dan efisien, dan berdaya saing (Idup Suhady, 2005: 50).

Sedangkan dalam peraturan pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 yang disebutkan dalam
jurnal yang berjudul Prinsip-Prinsip Good Governance prinsip-prinsip dari good governance
terdiri dari 7 prinsip yaitu :

a. Profesionalitas, meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar


mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau.
b. Akuntabilitas, meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang
yang menyangkut kepentingan masyarakat.
c. Transparansi, menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat
melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang
akurat dan memadai.
d. Pelayanan prima, penyelenggaraan pelayanan publik yang mencakup prosedur yang baik,
kejelasan tarif, kepastian waktu, kemudahan akses, kelengkapan sarana dan prasarana serta
pelayanan yang ramah dan disiplin.

[Type here][Type here] [Type here]


e. Demokrasi dan Partisipasi, mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam
menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut kepentingan
masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung
f. Efisiensi dan Efektifitas, menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan
menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.
g. Supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat, mewujudkan adanya
penegakkan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian,1
kemudian menurut Sedarmayanti (2004:7) menyimpulkan bahwa terdapat empat unsur atau
prinsip utama yang dapat memberi gambaran administrasi publik yang berciri kepemerintahan
yang baik yaitu sebagai berikut:

a. Akuntabilitas : Adanya kewajiban bagi aparatur pemerintah untuk bertindak selaku


penanggung jawab dan penanggung gugat atas segala tindakan dan kebijakan yang ditetapkanya.

b. Transparansi : Kepemerintahan yang baik akan bersifat transparan terhadap rakyatnya, baik
ditingkat pusat maupun daerah.

c. Keterbukaan : Menghendaki terbukanya kesempatan bagi rakyat untuk mengajukan tanggapan


dan kritik terhadap pemerintah yang dinilainya tidak transparan.

d. Aturan Hukum : Kepemerintahan yang baik mempunyai karakteristik berupa jaminan


kepastian hukum dan rasa keadilanmasyarakat terhadap setiap kebijakan publik yang ditempuh.

Berdasarkan sumber-sumber mengenai prinsip dari good governance dari para ahli
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa prinsip-prinsip good governance terdiri 7 prinsip yaitu:
1. partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan, 2. responsivitas pemerintah
terhadap harapan serta aspirasi masyarakat, 3. keadilan pemerintah terhadap masyarakat baik itu
dari golongan atas atau bawah, 4. efisiensi pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya, 5.
transparansi pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya terhadap masyarakat, 6.
akuntabilitas atau kewajiban bertanggung jawab, 7. efektivitas pemerintah dalam menjalankan

1Yenny. 2013. Prinsip-Prinsip Good Governance. Dapat diakses pada


http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/03/EJOURNAL
%20YENNY%20(03-02-13-06-48-29).pdf Diakses pada 27-11-2016 20:21 WIB. Hal
198

[Type here][Type here] [Type here]


pemerintahannya, serta 8. konsensus atau penyatuan perbedaan kepentingan dalam struktur
organisasi menjadi sebuah kesepakatan.

PARTISIPASI

Dalam penerapan good governance dikenal prinsip partisipasi, kata partisipasi itu sendiri
berasal dari bahasa inggris participate yang berarti mengikutsertakan, atau ikut mengambil
bagian. Partisipasi itu sendiri memiliki banyak pengertian yang disimpulkan oleh para ahli,
namun pada hakekatnya masih memiliki makna yang sama. pengertian mengenai prinsip
partisipasi itu sendiri menurut Pretty, et al. (1995) dalam jurnal yang berjudul Partisipasi
Masyarakat dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri di Kelurahan Karang
Anyar Samarinda Ulu menyatakan bahwa partisipasi adalah proses pemberdayaan masyarakat
sehingga mampu menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya. Pengertian partisipasi adalah
pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Dengan demikian, pengertian partisipatif adalah
pengambilan bagian/pengikutsertaan atau masyarakat terlibat langsung dalam setiap tahapan
proses pembangunan mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
pelaksanaan (actuating) sampai pada monitoring dan evaluasi2

Menurut Juliantara (2004:84) dalam jurnal yang berjudul Studi Tentang Partisipasi Masyarakat
dalam Pembangunan partisipasi diartikan sebagai keterlibatan setiap warga negara yang
mempunyai hak dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi
institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya, partisipasi masyarakat merupakan kebebasan
dan berbicara dan berpartisipasi secara konstruktif3

Isbandi (2007:27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan
potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi

2 Ningrum, Harni Abrianti. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Program Nasional


Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM MANDIRI) di Kelurahan Karang Anyar
Samarinda Ulu. Dapat diakses pada http://ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id/site/wp-
content/uploads/2014/09/19.JOURNAL%20GANJIL%20(09-02-14-02-49-28).pdf
diakses pada 28-11-2016 10:13 WIB. hal.4

3 Deviyanti, Dea. 2013. Studi Tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan


di Kelurahan Karang Jati Kecamatan Balikpapan Tengah. Dapat diakses pada
http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/05/JURNAL%20DEA
%20(05-24-13-09-02-30).pdf diakses pada 28-11-2016 09:55 WIB. Hal 382

[Type here][Type here] [Type here]


untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat
dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi.

Partisipasi adalah suatu bentuk dari kepedulian masyarakat terhadap perkembangan


demokrasi yang diwujudkan melalui keikutsertaan masyarakat didalam perencanaan serta
pelaksanaan dari pemerintahan. Partisipasi itu sendiri memiliki beberapa macam, seperti yang
diungkapkan oleh Sundariningrum (Sugiyah 2010:38) mengklasifikasikan partisipasi menjadi
dua berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu: a. Partisipsai langsung Partisipasi yang terjadi
apabila individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi. Partisipasi ini terjadi
apabila setiap orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok permasalahan, mengajukan
keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap ucapannya. b. Partisipasi tidak langsung
Partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya pada orang lain.

responsivitas

pengertian responsivitas menurut Tangkilisan (2005;177) dalam jurnal yang berjudul


Responsivitas PDAM Kabupaten Lamongan dalam Menangani Keluhan Pelanggan
merupakan kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan dari masyarakat, menyusun
agenda dan kemudian memberikan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat tersebut, serta
mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi
masyarakat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa responsivitas ini mengukur daya tanggap
birokrasi terhadap harapan, keinginan dan aspirasi, serta tuntutan masyarakat 4.Sedangkan
pengertian Responsivitas menurut Dwiyanto (2006:62) dalam jurnal yang berjudul
Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa Kantor Pelayanan Wilayah II
dalam Menangani Keluhan Pelanggan Kelurahan Sungai Jawi Dalam di Kota Pontianak
adalah kemampuan birokrasi pemerintah untuk mengenali kebutuhan dari masyarakat, menyusun
agenda dan prioritas pelayanan, serta mengembangkan program-program pelayanan sesuai
dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa responsivitas

4 Aniza, Dewi Elya Nur. 2013. Responsivitas PDAM Kabupaten Lamongan dalam Menangani Keluhan Pelanggan.
Dapat diakses pada http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-Dewi%20Elya%20Nur%20Aniza.pdf diakses
pada 28-11-2016 10:07 WIB. hal 2.

[Type here][Type here] [Type here]


ini mengukur daya tanggap birokrasi terhadap harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan
pengguna jasa 5

Dari pengertian responsivitas tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa responsivitas
memiliki makna yaitu kemampuan suatu organisasi untuk mengenali kebutuhan dari masyarakat
untuk kemudian diberikan respon yang sesuai dengan harapan serta aspirasi masyarakat, serta
kemudian

Menurut Agus Dwiyanto (2008:63) dalam jurnal yang berjudul Responsivitas Perusahaan
Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa Kantor Pelayanan Wilayah II dalam Menangani Keluhan
Pelanggan Kelurahan Sungai Jawi Dalam di Kota Pontianak, bahwa responsivitas pelayanan
publik dijabarkan menjadi beberapa indikator yaitu terdapat tidaknya pengaduan konsumen
selama satu tahun terakhir, sikap aparat birokrasi dalam merespon pengaduan dari konsumen,
penggunaan pengaduan dari konsumen sebagai referensi bagi perbaikan penyelenggaraan
pelayanan pada masa mendatang, berbagai tindakan aparat birokrasi dalam sistem pelayanan
yang berlaku

Equity

Menurut Aristoteles dalam jurnal yang berjudul Konsep Keadilan Menurut Pandangan
Aristoteles mengemukakan bahwa terdapat beberapa konsep keadilan. Kata keadilan yang
dalam bahasa Inggris justice yang berasal dari bahasa latin iustitia memiliki tiga macam
makna yang berbeda yaitu; 1. secara atributif berarti suatu kualitas yang adil atau fair, 2. sebagai
tindakan berarti tindakan menjalankan hukum atau tindakan yang menentukan hak dan ganjaran
atau hukuman, dan 3. orang, yaitu pejabat publik yang berhak menentukan persyaratan sebelum
suatu perkara di bawa ke pengadilan

Kemudian beberapa ahli (Miceli dkk., 1991; Minton dkk., 1994) mengemukakan bahwa
keadilan harus diformulasikan pada tiga tingkatan yaitu outcome, prosedur, dan sistem. Disini
penilaian keadilan tidak hanya tergantung pada besar kecilnya sesuatu yang didapat (outcome),
tetapi juga pada cara menentukannya dan sistem atau kebijakan di balik itu. Keadilan yang
5 Fauzi, Muhammad. 2014. Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa Kantor Pelayanan
Wilayah II dalam Menangani Keluhan Pelanggan Kelurahan Sungai Jawi Dalam di Kota Pontianak. Dapat diakses
pada http://jurmafis.untan.ac.id/index.php/publika/article/viewFile/517/pdf diakses pada 28-11-2016 09:50 WIB.
Hal 4

[Type here][Type here] [Type here]


berkaitan dengan outcome sering disebut sebagai keadilan distributif, namun sesungguhnya
kedua hal tersebut tidak sama. Kajian psikologi tentang keadilan pemberian upah hampir selalu
memasukkannya dalam lingkup keadilan distributif. Bila dicermati, pemberian upah dapat dilihat
dari dua sisi, yaitu distribusi dan pertukaran (Subakti, 1993).

Berdasarkan data diatas, pengertian dari keadilan adalah dalam prinsip good governance
adalah segala hal yang berkenaan dengan sikap atau tindakan manusia yang berisi tuntutan agar
setiap manusia mendapatkan perlakuan sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing.

Efisiensi

Pengertian dari efisiensi telah dijelaskan oleh beberapa ahli, salah satunya adalah Yuto
Paulus dan Nugent (2005) yang menjelaskan pengertian efisiensi dalam jurnal yang berjudul
Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani Cabai Kabupaten
Temanggung sebagai pencapaian output maksimum dari penggunaan sumber daya tertentu. Jika
output yang dihasilkan lebih besar dari sumber daya yang digunakan maka semakin tinggi pula
tingkat efisisensi yang dicapai.6

Selanjutnya pengertian efisiensi juga dijelaskan oleh Deddi dan Ayuningtyas (2010: 161) dalam
jurnal yang berjudul Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja pada
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara efisiensi adalah hubungan antara barang
dan jasa yang dihasilkan sebuah kegiatan atau aktifitas dengan sumber daya yang digunakan.
Suatu organisasi, kegiatan atau program dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output
tertentu dengan input serendah-rendahnya, atau dengan input tertentu mampu menghasilkan
output sebesar-besarnya (spending well). 7

Kemudian pengertian efisiensi juga dijelaskan oleh Nicholson (2002) halaman 11 dalam jurnal
yang berjudul Analisis Efisiensi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Industri Kecil
Kabupaten Kendal Efisiensi adalah kemampuan untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan

6 Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani Cabai
Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf diakses pada
28-11-2016 10:09 WIB. Hal.7

7 Julita,SE,M.Si. 2013. Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja pada Badan
Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara. Dapat diakses pada file:///C:/Users/Aditya
%20Purnomo/Downloads/290-342-1-PB%20(2).pdf diakses pada 28-11-2016 10:34 WIB. Hal 4

[Type here][Type here] [Type here]


(output) dengan mengorbankan input yang minimal. Suatu kegiatan telah dikerjakan secara
efisien jika pelaksanaan kegiatan telah mencapai sasaran (output) dengan pengorbanan (input)
terendah, sehingga efisiensi dapat diartikan sebagai tidak adanya pemborosan 8

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efisiensi adalah suatu usaha atau
kemampuan untuk mencapai hasil kerja (output) sesuai dengan yang diharapkan dengan
memanfaatkan menggunakan usaha (input) yang serendah-rendahnya

Kemudian konsep dari efisiensi diperjelas lagi oleh Roger Lee Rey Miller dan Rojer E
Meiners (2000) yang membagi efisiensi menjadi 2 jenis yaitu; 1. Efisiensi teknis atau technical
efisiensi mengharuskan adanya proses produksi yang dapat memanfaatkan input yang lebih
sedikit demi menghasilkan output dalam jumlah yang sama. 2. Efisiensi Ekonomis Konsep yang
digunakan dalam efisiensi ekonomi adalah meminimalkan biaya artinya suatu proses produksi
akan efisien serta ekonomis pada suatu tingkatan output apabila tidak ada proses lain yang dapat
dihasilkan output serupa dengan biaya yang lebih murah 9

8 Panca Kurniasari, Dr. Dwisetia Poerwono, MSc 2011 . Analisis Efisiensi dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Produksi Industri Kecil Kabupaten Kendal. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/26754/1/jurnal_skripsi_2.pdf diakses pada 28-11-2016 11:37 WIB. hal 11

9 Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani Cabai
Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf diakses pada
28-11-2016 10:09 WIB. Hal.7

[Type here][Type here] [Type here]


DAFTAR PUSTAKA

Yenny. 2013. Prinsip-Prinsip Good Governance. Dapat diakses pada http://ejournal.an.fisip-


unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/03/EJOURNAL%20YENNY%20(03-02-13-06-
48-29).pdf Diakses pada 27-11-2016 20:21 WIB. Hal 198

Ningrum, Harni Abrianti. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri (PNPM MANDIRI) di Kelurahan Karang Anyar Samarinda Ulu.
Dapat diakses pada http://ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id/site/wp-
content/uploads/2014/09/19. JOURNAL%20GANJIL%20(09-02-14-02-49-28).pdf diakses
pada 28-11-2016 10:13 WIB. hal.4

Deviyanti, Dea. 2013. Studi Tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan di Kelurahan
Karang Jati Kecamatan Balikpapan Tengah. Dapat diakses pada http://ejournal.an.fisip-
unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/05/JURNAL%20DEA%20(05-24-13-09-02-
30).pdf diakses pada 28-11-2016 09:55 WIB. Hal 382

Aniza, Dewi Elya Nur. 2013. Responsivitas PDAM Kabupaten Lamongan dalam Menangani
Keluhan Pelanggan. Dapat diakses pada http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-
Dewi%20Elya%20Nur%20Aniza.pdf diakses pada 28-11-2016 10:07 WIB. hal 2.

Fauzi, Muhammad. 2014. Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa
Kantor Pelayanan Wilayah II dalam Menangani Keluhan Pelanggan Kelurahan Sungai
Jawi Dalam di Kota Pontianak. Dapat diakses pada
http://jurmafis.untan.ac.id/index.php/publika/article/ viewFile/517/pdf diakses pada 28-11-
2016 09:50 WIB. Hal 4

Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani
Cabai Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf diakses pada 28-11-2016 10:09 WIB. Hal.7

[Type here][Type here] [Type here]


Julita,SE,M.Si. 2013. Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja pada
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara. Dapat diakses pada
file:///C:/Users/Aditya%20Purnomo/Downloads/290-342-1-PB%20(2).pdf diakses pada
28-11-2016 10:34 WIB. Hal 4

Panca Kurniasari, Dr. Dwisetia Poerwono, MSc 2011 . Analisis Efisiensi dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Produksi Industri Kecil Kabupaten Kendal. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/26754/1/jurnal_skripsi_2.pdf diakses pada 28-11-2016 11:37
WIB. hal 11

Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani
Cabai Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf diakses pada 28-11-2016 10:09 WIB. Hal.7

[Type here][Type here] [Type here]