Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

SKRINING KANDUNGAN AMPHETAMIN DALAM URIN

Disusun oleh kelompok F4

Rizkiana Nur Hidayath (10060313151)


Ihsan Al Amin Refnaldi (10060313153)
Ira Khumaira Sukmana (10060313154)
Ai Nurhasanah Maemunah (10060313156)

Tanggal Praktikum : 9 November 2016


Tanggal Penyerahan : 15 November 2016
Asisten : Dewi Sartika, S. Farm.

LABORATORIUM UNIT A
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1438 H/2016 M
PERCOBAAN VII
SKRINING KANDUNGAN AMPHETAMIN DALAM URIN

I. Tujuan Percobaan
1 Memahami prinsip skrining kandungan psikotropika dengan metode
immunoassay.
2 Mendeteksi adanya obat psikotropika dalam urin.

II. Teori Dasar Percobaan


2.1 Amfetamin
Amfetamin merupakan suatu senyawa sintetik analog dengan
epinefrin dan merupakan suatu agnis ketekolamin tidak langsung (Japardi,
2002). Amfetamin termasuk dalam psikotropika golongan I (Hawari,
2006). Psikotropik adalah suatu zat atau obat, baik alamiah maupun
sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebab perubahan khas pada
aktivitas mental dan perilaku (Japardi, 2002). Psikotropika golongan I
adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi
sangat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan (Kemenkes, 2010).
Amfetamin merupakan golongan stimulan (Kemenkes, 2010). Golongan
stimulan adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan
meningkatkan kegairahan kerja. Amfetamin terbagi menjadi dua jenis,
yaitu MDMA (Methylene dioxy methamphetamin) dan amfetamin.
Amfetamin memiliki lama kerja lebih panjang dibanding MDMA, dan
memiliki efek halusinasi yang lebih kuat (Kemenkes, 2010). Sehingga,
dapat disimpulkan bahwa amfetamin merupakan golongan psikotropika I
yang memiliki sifat stimulan dengan efek ketergantungan tinggi dan
terbagi menjadi dua turunan, yaitu MDMA dan amfetamin.
Amfetamin merupakan jenis turunan dari amfetamin. Amfetamin
dikenal dengan ice, di korea, glass di filipina, shabu, di jepang (Kemenkes,
2010 dan Japardi, 2002). Shabu atau amfetamin merupakan kelompok
narkotika yang merupakan stimulan sistem saraf dengan nama kini
methamphetamine hidrochloride, yaitu turunan dari stimulan saraf
amfetamin (Japardi, 2002). Shabu berbentuk kristal putih mirip vetsin
(mitra bintibmas, 2010). Rumus kimia amfetamin adalah (S)-Nmethyl-l-
phenylpropan-2-amine (C10H15N) (Japardi, 2002). Shabu termasuk jenis
stimulan, yang bekerja merangsang sistem saraf pusat otak (mitra
bintibmas, 2010). Sehingga dapat disimpulkan bahwa amfetamin
merupakan jenis zat turunan amfetamin berbentuk kristal putih mirip
vetsin dengan efek stimulan.
Cara penggunaan amfetamin adalah dapat dengan tiga cara. Japardi
(2002), menjabarkan bahwa penggunaan amfetamin dapat digunakan
secara suntikann, inhalasi, dihisap atau dihirup (Japradi, 2002). Dapat
diminum per oral dalam bentuk (Kemenkes, 2010). Dalam bentuk kristal,
dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap
(intra nasal) atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang
khusus (bong) (Kemenkes, 2010). Dalam bentuk kristal yang dilarutkan,
dapat melalui intravena (Kemenkes, 2010).

Struktur Amfetamin

2.2 Mekanisme Kerja Amfetamin


Mekanisme kerja amfetamin pada susunan saraf dipengaruhi oleh
pelepasan biogenik amine yaitu dopamin, norepinefrin, atau serotonin atau
pelepasan ketiganya dari tempat penyimpanan pada persinap yang terletak
pada akhiran saraf (Japardi, 2002). Pada dopamin didapati bahwa
amfetamin menghambat re uptake dopaminergik dan sinapstosom di
hipotalamus dan secara langsung melepaskan dopamin yang baru disintesa
(Japardi, 2002). Pada norepinefrin, amfetamin memblok re uptake
norepinefrin dan juga menyebabkan pelepasan norepinefrin baru,
penambahan atau pengurangan karbon diantara cincin fenil dan nitrogen
melemahkan efek amfetamin pada pelepasan re uptake norepinefrin
(Japardi, 2002). Sedangkan pada serotonin, devirat metamafetamin dengan
elektron kuat yang menari penggantian pada cincin fenil akan
mempengaruhi sistim serotoninergik (Japardi, 2002). Sehingga, dapat
disimpulkan bahwa ketiga kerja reseptor biogenik tersebut saling
mempengaruhi satu sama lain.
Aktivitas susunan saraf pusat yang terjadi melalui jaras tersebut
dalam otak, masing-masing menimbulkan aktivitas serta kepribadian pada
individu pengguna. Stimulasi pada pusat motorik di daerap media otak
depan (medial forebrain) menyebabkan peningkatan dari kadar
norepinefrin dalam sinaps menimbulkan euforia dan meningkatkan libido
(Japardi, 2002). Stimulasi pada ascending reticular activating system
menimbulkan peningkatan aktivitas motorik dan menurunkan rasa lelah
(Japardi, 2002). Stimulasis pada sistim dopaminergik pada otak
menimbulkan gejala yang mirip dengan skizofrenia (Japardi, 2002).
Kesimpulannya adalah kerja dari ketiga reseprtor tersebut diatas, dapat
menimbulkan euforia, meningkatkan libido, peningkatan aktivitas
motorik, menurunkan rasa lelah dan menimbulkan gejala yang mirip
dengan skizofrenia bagi pengguna amfetamin.
2.3 Komborbiditas Amfetamin
Komorbiditas adalah satu penyakit atau lebih berada secara
bersama-sam pada seorang individu pada suatu saat (Kemenkes, 2010).
Komorbiditas biasanya merujuk pada adanya gangguan penggunaan
NAPZA diikuti dengan gangguan mental (Kemenkes, 2010). Komorbiditas
dari penggunaan amfetamin diantaranya paranoid, psikosis, depresi berat
(kadang-kadang percobaan bunuh diri), maniak, agitasi, cemas sampai
panik (Fatmawati, 2005). Kadangkala kondisi menyerupai skizofrenia
kronik dapat timbul pada pengguna kronik yang berat (Kemenkes, 2010).
Sehingga, kesimpulannya adalah komorbiditas dari penggunaan
amfetamin secara garis besar mempengaruhi fisik dan psikis. Kerusakan
pembuluh darah di otak akibat sumbatan partikel amfetamin pada
pembuluh darah yang kecil dapat membuat pecah pembuluh darah di otak
(Kemenkes, 2010 dan Fatmawati, 2005).

2.4 Antibodi
Struktur dasar dari sebuah molekul antibody terdiri dari dua rantai
ringan identik dan dua rantai berat identik dihubungkan oleh ikatan
disulfide. Terdapat lima kelas immunoglobulin yang berbeda dalam urutan
asam amino dan jumlah domain di daerah konstan rantai berat yaitu IgM,
IgG, IgA, IgE dan IgD. Diantara lima golongan immunoglobulin tersebut,
IgG merupakan immunoglobulin yang umum digunakan dalam produksi
bahan biologis untuk immunodiagnostic. Hal tersebut dikarenakan IgG
memiliki prosentase jumlah paling banyka yaitu 70-75% di dalam serum
normal dibandingkan IgM (antibody pertama yang muncul dalam respon
primer ) (Papermaster. 1975).
Secara struktural, IgG memiliki empat rantai polipeptida yang
terbagi atas dua rantai berat (heavy chain) yang memiliki berat molekul 55
kDa serta dua rantai ringan (light chain) dengan berat molekul 25 kDa.
Polipeptida rantai berat dan rantai ringan dihubungkan oleh ikatan
disulfida dan ikatan nonkovalen yang terdapat pada bagian engsel (hinge
region) yang dilambangkan dengan bentuk molekul Y dengan total berat
molekul 150 kD (Lipman et al., 2005). Masing-masing rantai berat dan
rantai ringan dari IgG memiliki bagian konstan (Fc) atau tetap dan bagian
yang dapat berubah atau variabel. Variabel (v) atau bagian yang dapat
berubah pada struktur IgG memiliki fungsi khusus untuk berikatan dengan
antigen melalui antigen binding site (Papermaster, 1975). Bagian konstan
memiliki fungsi efektor seperti aktivasi sel NK (natural killer cell),
aktivasi komplemen dan fagositosis (Lipman et al., 2005). Dua lengan Fab
molekul antibodi mengandung bagian antigen binding site dan bagian Fc
yang dihubungkan oleh bagian yang kaya proline, threonine dan serin yang
disebut hinge (engsel) (Lipman et al., 2005).

2.5 Interaksi Antigen-Antibodi


Suatu antibodi dapat berikatan secara spesifik dengan antigen yang
sesuai. Semua bentuk antibodi seragam satu sama lain, namun terdapat
daerah spesifik yang dapat mengikat satu antigen saja yaitu antigen
binding site. Antigen adalah bahan asing yang masuk kedalam tubuh dan
dapat berinteraksi dengan molekul sistem imun. Bagian dari antigen secara
langsung berikatan dengan molekul reseptor disebut epitop (Rantam,
2003). Antibodi dapat mengenali epitop dengan ukuran yang berbeda dan
dapat mengikat epitop menggunakan beberapa atau semua
complementarity determining regions (CDRs). Pengikatan antara antibodi
dan epitop terjadi secara reversible dan tergantung pada susunan antigen-
antibodi. Antigen dengan struktur yang relatif kecil dapat mempengaruhi
kekuatan interaksi antibodi-antigen. Karena antibodi yang mengenali
komponen antigen relatif kecil menyebabkan terjadinya reaksi silang
dengan epitop yang mirip pada antigen lain tetapi dengan afinitas yang
rendah. Reaksi silang antibodi berguna dalam alat penelitian sebagai dasar
identifikasi antigen yang sesuai. Spesifitas antibodi mengacu pada
kemampuan untuk mengenali epitop spesifik diantara epitop yang lain.
Sebuah antibodi dengan spesifitas yang tinggi mengurangi terjadinya
reaksi silang. Afinitas pengikatan antibodi dipengaruhi oleh konformasi
determinan dan antibodi yang telah mengikat protein sebelumnya tidak
akan mengikat protein yang sama pada kondisi terdenaturasi (Nelson, et al.
1997 dalam Lipman, et al., 2005). Afinitas antibodi merefleksikan
kekuatan pengikatan terhadap satu epitop. Ikatan antigen-antibodi
merupakan suatu reaksi yang seimbang. Afinitas antibodi yang tinggi
cenderung mengikat antigen secara cepat dan memisah secara lambat
dibandingkan afinitas antibodi yang rendah. Afinitas antibodi yang tinggi
juga cenderung mengikat antigen dengan ukuran yang lebih besar. Secara
fungsional, kekuatan antibodi pada aplikasi khusus menentukan aviditas
komplek antigenantibodi
Aviditas menunjukkan keseluruhan pengikatan antara antibodi
dengan berbagai macam epitop yang terdapat pada antigen. Aviditas
ditentukan oleh afinitas antibodi terhadap epitop, jumlah antibodi binding
site dan kompleks antibodi-antigen. Antigen dapat menyajikan epitop yang
identik (homopolymeric) atau hadir dengan epitop yang berbeda. Fungsi
antibodi monoklonal sangat baik dengan antigen homopolymeric ketika
epitop disajikan dengan tidak menghambat pengikatan. Begitu juga dengan
antibodi poliklonal yang baik digunakan untuk imunopresipitasi untuk
kompleks antigen karena antibodi dapat mengikat molekul antigen dan
menghasilkan kompleks antibodi-antigen membentuk garis presipitasi.
Aviditas antibodi yang tinggi menunjukkan tempat yang bervariasi untuk
pengikatan reagen sekunder terhadap setiap komponen esensial pada
teknik imunokimia (Lipman, et al., 2005). Ikatan antigen dan antibodi
pada perkembangannya dapat dijadikan alat untuk identifikasi dan
karakterisasi antigen spesifik menggunakan antibodi spesifik sebagai
probe yang divisuaslisasikan dengan radiolabel atau enzyme-conjugated
second antibody. Beberapa metode yang menggunakan prinsip ikatan
antigen-antibodi diantaranya; imunohistokimia (Hackel, et al., 2006),
ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) (McElroy et al., 2009),
immunodifusi (Cheung, et al., 2002) dan western blotting (Dunbar dan
Timmons, 1990).

2.6 Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)


Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) merupakan suatu
teknik biokimia untuk mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen dalam
suatu sampel. Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu antibodi
dengan spesifitas untuk antigen tertentu. ELISA terdiri atas tiga macam
yaitu Direct ELISA, Indirect ELISA, dan Sandwich ELISA (Baker dkk.
2007: 211).
Direct ELISA merupakan jenis ELISA yang digunakan untuk
mendeteksi dan mengukur konsentrasi suatu antigen. Antigen yang akan
dideteksi akan berikatan langsung (direct) dengan antibodi detector
(antibodi yang telah dilabeli oleh enzim reporter). Antibodi yang
digunakan pada teknik direct ELISA berjumlah satu buah. Kelebihan dari
direct ELISA yaitu Cepat dan tidak terdapat Cross Reaksi dengan antibodi
sekunder. Akan tetapi, direct ELISA memiliki kekurangan yaitu harga
pelabelan antibodi primer yang mahal, tidak ada fleksibilitas pemilihan
antibodi primer, dan sinyal amplifikasinya sedikit (Walker & Rapley
2008: 668).
Indirect ELISA merupakan jenis ELISA yang digunakan untuk
mendeteksi dan mengukur konsentrasi antigen atau antibodi. Teknik
tersebut memiliki karakteristik yaitu antigen tidak menempel langsung
pada antibodi detector (indirect). Antigen akan berikatan dengan antibodi
lain terlebih dahulu. Antibodi tersebut kemudian akan berikatan dengan
antibodi yang telah dilabeli. Kelebihan indirect ELISA yaitu memiliki
sensitivitas tinggi dan sinyal amplifikasi yang tinggi. Kekurangan indirect
ELISA yaitu membutuhkan waktu yang lama dan terjadi cross reaksi
terjadi (Walker & Rapley 2008: 669). .
Sandwich ELISA merupakan jenis ELISA yang dapat digunakan
untuk mengukur antigen maupun antibodi,. Karakteristik khas dari
sandwich ELISA adalah menggunakan antibodi penangkap atau primer
antibodi. Antigen yang akan dideteksi dan diukur konsentrasinya berikatan
terlebih dahulu dengan antibodi penangkap. Antigen akan berikatan
kembali dengan antibodi sesuai jenis sandwich ELISA yang digunakan.
Sandwich ELISA dibagi menjadi dua jenis yaitu sandwich direct ELISA
dan sandwich indirect ELISA (Crowther 1995: 39 43).
Sandwich direct ELISA menggunakan dua antibodi yaitu antibodi
penangkap dan antibodi yang dilabeli enzim. Antigen yang telah berikatan
dengan antobodi penangkap akan berikatan kembali dengan antibodi yang
dilabeli enzim. Sandwich indirect ELISA menggunakan tiga antibodi yaitu
antibodi penangkap, antibodi detektor, dan anti-antibodi yang dilabeli
enzim. Antigen yang telah berikatan dengan antibodi penangkap akan
berikatan dengan antibodi detektor dan anti-antibodi yang dilabeli enzim
(Crowther 1995: 39). Antigen dalam sandwich ELISA tidak perlu
dimurnikan sebelum digunakan. Sandwich ELISA sangat spesifik sehingga
tidak semua antibodi dapat digunakan.
III. Prinsip
Uji immunoassay berdasarkan ikatan antara antibodi kompetititif.
IV. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Alat uji kaset Spesimen urin
Container specimen urin
Pipet untuk meneteskan urin
Stopwatch

V. Prosedur
Urin ditampung pada suatu wadah

Kaset uji ditempatkan pada permukaan yang agak tinggi dan bersih

Pipet dipegang diatas lubang tempat spesimen secara vertikal

diteteskan 3 tetes penuh urin (kira-kira 100 L) kedalam lubang tersebut.

Kaset uji ditempatkan pada permukaan non-absorben yang datar

Timer dinyalakan dan tunggu hingga muncul garis merah

Hasil dibaca pada menit ke-5

VI. Data pengamatan dan Perhitungan


Hasil percobaan menunjukkan dua garis warna pada control dan test

VII. Pembahasan
Praktikum kali ini dilakukan pengujian kandungan amfetamin dalam
urin. Amfetamin termasuk kedalam golongan psikotropika yang memiliki
efek stimulansia kuat dengan meningkatkan kadar dopamine di dalam otak.
Dopamine adalah zat kimia (atau neurotransmiter) yang berhubungan dengan
kesenangan, pergerakkan, dan perhatian. Penggunaan Amfetamin dilegalkan
untuk beberapa indikasi medis seperti Attention Deficit Hyperactivity
Disorder (ADHD), narkolepsi, dan obesitas (Brenner, 2010). Namun
penggunaan amfetamin yang tidak sesuai dengan aturan pengobatan dapat
menimbulkan ketergantungan dan kecanduan. Amfetamin ini sering
disalahgunakan sebagai dopping karena dapat menimbulkan euforia ringan,
meningkatkan rasa percaya diri dan aktivitas. Karena adanya penyalahgunaan
inilah biasanya dilakukan skrining kandungan amfetamin yang dilakukan oleh
polisi untuk menangkap pengguna narkoba
Pemilihan uji amfetamin dengan menggunakan urin karena amfetamin
dieksresikan secara total dalam urin dan didalam urin tidak terdapat protein
yang dapat mengganggu hasil uji. Untuk menguji keberadaan amfetamin
dalam urin dibutuhkan metode analisis yang cepat dan akurat. Metode analisis
yang memenuhi syarat tersebut adalah metode immunoassay. Immunoassay
merupakan uji untuk mengidentifikasi keberadaan suatu obat maupun
metabolitnya dalam sampel biologis. Tujuannya untuk memonitor
penyalahgunaan obat maupun terapi suatu obat pada pasien (Stanley, 2002).
Immunoassay merupakan metode analisis yang didasarkan pada interaksi
antigen dan antibodi. Immunoassay merupakan teknik yang spesifik dan
sensitif (Stripp, 2007).
Urin yang digunakan adalah urin segar yang diambil pada saat
praktikum. Urin yang dipakai merupakan urin yang dikeluarkan ditengah
proses urinasi. Urin yang pertama tidak dipakai karena urin tersebut masih
mengandung banyak pengotor. Setelah sampel diperoleh kemudian diteteskan
pada alat uji. Alat uji yag digunakan berupa suatu kit yang telah didisain
sedemikian rupa sehingga dapat mengenali amfetamin dalam urin. Pada alat
tersebut berupa suatu kaset yang berisi antibody. Antibodi yang ada pada
kaset tersebut adalah antibodi monoklonal dan antibodi poliklonal. Antibodi
monoklonal adalah antibodi yang hanya mengikat satu epitop dan
ditempatkan di bagian bawah sebelum bagian test (T). Pada bagian test (T)
terdapat konjugat obat-protein. Sedangkan antibodi poliklonal adalah
antibodi yang mengikat lebih dari satu epitop dan ditempatkan pada bagian
atas kaset yaitu pada bagian kontrol (C). Urin kemudian diteteskan keatas
kaset sebanyak 3 tetes ( 100 L) pada bagian sampel (S). Pada kaset tersebut
penempatan kontrol berada diatas bertujuan untuk mengontrol ketepatan
volume karena volume yang tidak sesuai akan mempengaruhi hasil. Hasil
dikatakan positif apabila tidak terdapat garis warna pada bagian test (T) tetapi
ada garis warna pada kontrol (C). Apabila garis warna terdapat baik di kontrol
(C) maupun test (T) maka hasil dikatakan negatif sedangkan apabila garis
warna hanya ada pada test (T) maka hasil dikatakan invalid. Hal ini
menunjukkan bahwa volume sampel tidak sesuai dengan yang seharusnya
(<100 L).

Prinsip kerja kaset uji tersebut adalah ikatan antibodi kompetitif.


Kandungan obat (Amfetamin) yang terdapat dalam urin akan berkompetisi
dengan konjugat obat untuk berikatan dengan tempat pengikat pada antibodi.
Pada saat urin diteteskan, urin akan merambat naik yang dikarenakan oleh
kapilaritas dan ikut membawa naik antibodi monoklonal yang ada di bagian
atas sampel. Selama kenaikan sampel tersebut akan terjadi interaksi antara
antibodi monoklonal dengan amfetamin. Jika kandungan obat dalam sampel
urin berada dibawah batas konsentrasi (1000 g/ml) atau tidak ada sama
sekali, maka tidak akan menjenuhkan ikatan dengan antibodi monoklonal
pada bagian test (T). Antibodi yang belum berikatan dengan amfetamin akan
bereaksi dengan konjugat protein-obat pada bagian test (T) dan akan
memberikan garis warna pada bagian test (T) kaset tersebut. Tapi jika kadar
obat obat melebihi batas konsentrasi maka akan menjenuhkan semua ikatan
antibodi. Sehingga tidak ada konjugat obat-protein yang berikatan dengan
antibodi dan tidak terbentuk garis warna. Kontrol yang berisi antibodi
poliklonal akan tetap memberikan garis warna karena menunjukkan bahwa
volume yang digunakan telah sesuai.
Hasil percobaan menunjukkan dua garis warna pada control dan test.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam sampel urin yang dipakai tidak terdapat
amfetamin atau bisa juga kadar amfetamin yang dibawah batas.

VIII. Kesimpulan
1. Metoda immunoassay merupakan pengujian amfetamin berdasarkan ikatan
antibodi kompetitif
2. Hasil percobaan yang dilakukan negatif (urin tidak mengandung
amfetamin)

IX. Daftar pustaka


Baker, G.B, S. Dunn & A. Latja. 2007. Handbook of neurochemistry and
molecular neurobiology: Practical nerochemistry methods, vol. 6.
Springer Science, New York: x + 475 hlm.
Brenner, B. M. (2010). Pocket companion to Brenner & Rector's the kidney,
8th edition. Philadelphia: Saunders/Elsevie
Cheung H, Chan K, Cheng C (2002). Production of polyclonal
antibodiyagainst recombinant goldfish prolactin and demonstration of
itsusefulness in a noncompetitive antigen-capture ELISA. Comp.
Biochem. Physiol. B Biochem. Mol. Biol. 131: 37-46
Crowther, J.R. 1995. ELISA: Theory and practice.Humana Press, New Jersey:
iv + 207 hlm.
Crowther, J.R. 2001. The ELISA guidebook. Humana Press, New Jersey: xi +
407 hlm.
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan. (2010).
Keputusan menteri kesehatan kesehatan republik Indonesia nomor
420/MENKES/SK/III/2010 tentang pedoman layanan terapi dan
rehabilitasi komprehensif pada gangguan penggunaan NAPZA berbasis
rumah sakit. Jakarta : Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa
Dunbar, B. S. dan Schwobel, E. D. 1990. Preparation of Polyclonal
Antibodies. In M.P. Deutscher (Ed.) Guide to Protein Purification.
Methods in Enzymology. 182: 663-679
Fatmawati, Widya. (2005). NAPZA ditinjau dari segi kesehatan. Yogyakarta :
RS grhasia
GenScript. 2010. ELISA protocol. GenScript USA Inc., USA : 5 hlm.
Hackell, N., Schauer, N., Carrari, F., Fernie, AR., Grimm, B., Kuhn, C. 2006.
Sucrose Transporter LeSUT1 and LeSUT2 Inhibition Affects Tomato
Fruit Development In Different Ways. The Plant Journal 45: 180192
Hawari, Dadang. (2006). Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA
(Narkotika, alkohol, dan zat adiktif). Edisi kedua. Jakarta : Balai
penerbit FK UI
Japardi, Iskandar. (2002). Efek neurologis dari ectasy dan shabu-shabu.
Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara
Lipman, N. S., Jackson, L. R. Trudel, L. J. Garcia, F. W. 2005. Monoclonal
Versus Polyclonal Antibodies: Distinguishing Characteristics,
Applications, and Information Resource. ILAR Journal 46: 3
McElroy, A. K., Albarino, C. G., Nichol, S. T. 2009. Development of a RVFV
ELISA that can distinguish infected from vaccinated animals. Virology
journal. 6: 25
Mitra Bintibmas. (2010). Selamatkan anak bangsa dari bahaya narkoba.
Jakarta : Bina darma printing
Papermaster, D. M. D. 1975. Immunology: A Scope Monograph. Michigan:
The Upjohn Company
Rantam. FA. 2003. Metode Imunologi. Surabaya: Airlangga University Pres
Rao, K. 2001. Encyclopedia of life sciences. Nature publishing group. New
Delhi : 7hlm.
Stanley, J., 2002, Essentials of Immunology and Serology. Thomson Learning
Inc. USA.
Stripp, R.A., 2007, The Forensic Aspect of Poisons. Infobase Publishing. New
York.
Walker, J.M. & R. Rapley. 2008. Molecular biomethods handbook. Springer
Science. New York: xx + 1122 hlm.