Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Glaukoma adalah suatu neuropati optic kronik yang ditandai oleh meningkatnya
tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang
pandang.1,2,3
Di seluruh dunia glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi, 2 %
penduduk berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma dapat juga
didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang. Pria lebih sering terserang dari pada
wanita.
Berdasarkan etiologi, glaukoma dibagi menjadi 4 bagian ; glaukoma primer,
glaukoma kongenital, glaukoma sekunder dan glaukoma absolut sedangkan berdasarkan
mekanisme peningkatan tekanan intraokular glaukoma dibagi menjadi dua, yaitu
glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup.2
Penatalaksanaan glaukoma berupa pengobatan medis, terapi bedah dan laser.
Penatalaksanaan glaukoma terdiri dari tiga macam, yaitu medikamentosa, pembedahan
dan laser. Pembedahan dan laser dilakukan jika obat-obatan tidak mampu mengontrol
tekanan intraokuler.
Pembedahan ditujukan untuk memperlancar aliran keluar cairan aquos di dalam
sistem drainase atau sistem filtrasi sehingga prosedur ini disebut teknik filtrasi.
Pembedahan dapat menurunkan tekanan intraokuler jika dengan medikamentosa tidak
berhasil. Walaupun telah dilakukan tindakan pembedahan, penglihatan yang sudah hilang
tidak dapat kembali normal, terapi medikamentosa juga tetap dibutuhkan, namun jumlah
dan dosisnya menjadi lebih sedikit.3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Glaukoma


Glaukoma merupakan sekelompok penyakit neurooptic yang menyebabkan
kerusakan serat optik (neuropati optik), yang ditandai dengan kelainan atau atrofi papil
nervus opticus yang khas, adanya ekskavasi glaukomatosa, serta kerusakan lapang
pandang dan biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan intraokular sebagai
faktor resikonya.2

2.2. Klasifikasi
Sugar mengklasifikasikan glaucoma menjadi:
1. Glaukoma Primer
a. Dewasa
- Glaukoma simpleks (glaucoma sudut terbuka, glaucoma kronis)
- Glaucoma akut (sudut tertutup)
b. Kongenital/Juvenil
2. Glaukoma Sekunder
a. Sudut tertutup
b. Sudut terbuka

2.3. Gejala Klinis

1. Fase prodormal (fase nonkongestif)


1) Pengelihatan kabur.
2) Terdapat halo (gambaran pelangi) sekitar lampu.
3) Sakit kepala.
4) Sakit pada mata.
5) Akomodasi lemah.
6) Berlangsung - 2 jam.
7) Injeksi perikornea.
8) Kornea agak suram karena edem.
9) Bilik mata depan dangkal.

2
10) Pupil melebar.
11) Tekanan intraokuler meningkat.
12) Mata dapat normal juga serangan reda.

2. Fase kongestif
1) Sakit kepala yang hebat sampai muntah-muntah.
2) Palpebra bengkak.
3) Konjungtiva bulbi : hiperemia kongesti, kemosis dengan injeksi silier, injeksi
konjungtiva.
4) Kornea keruh.
5) Bilik mata depan dangkal.
6) Iris : gambaran, corak bergaris tidak nyata.
7) Pupil : melebar, lonjong, miring agak vertikal, kadang midriasis total, warna
kehijauan, refleksi cahaya menurun sekali atau tidak sama sekali.2

2.4. Penatalaksanaan Glaukoma 1,2,10

Sasaran utama pengobatan glaukoma adalah untuk menurunkan tekanan intraokuler


sehingga dapat mencegah terjadinya penurunan lapangan pandang dan ketajaman
penglihatan lebih lanjut yang berujung pada kebutaan dengan cara mengontrol tekanan
intraokuler supaya berada dalam batasan normal.

Penatalaksanaan glaukoma terdiri dari tiga macam, yaitu medikamentosa,


pembedahan dan laser.
2.5. Terapi Bedah pada Glaukoma
Pembedahan ditujukan untuk memperlancar aliran keluar cairan aquos di dalam
sistem drainase atau sistem filtrasi sehingga prosedur ini disebut teknik filtrasi.
Pembedahan dapat menurunkan tekanan intraokuler jika dengan medikamentosa tidak
berhasil. Walaupun telah dilakukan tindakan pembedahan, penglihatan yang sudah hilang
tidak dapat kembali normal, terapi medikamentosa juga tetap dibutuhkan, namun jumlah
dan dosisnya menjadi lebih sedikit.

3
a. Trabekulektomi

Merupakan teknik yang paling sering digunakan. Pada teknik ini, bagian kecil
trabekula yang terganggu diangkat kemudian dibentuk bleb dari konjungtiva sehingga
terbentuk jalur drainase yang baru. Lubang ini akan meningkatkan aliran keluar cairan
aquos sehingga dapat menurunkan tekanan intraokuler.
Indikasi : pasien dengan glaucoma pada terapi medis maksimum yang dapat
ditolerir yang telah memiliki manfaat laser secara maksimal dan yang
fungsi nervus opticusnya gagal atau kemungkinan besar gagal.
Kegagalan pengobatan yang disebabkan ketidakpatuhan pasien
merupakan indkasi relative dilakukan prosedur ini.
Meskipun penanda glaucoma adalah kerusakan nervus optikus yang
progresif, relative tidak umum membuat keputusan klinik berdasar
deteksi perubahan progresif pada nervus optikus danretina peripapiler.
Progresi kerusakan lapang pandang merupakan indikasi klinis yang jauh
lebih umum digunakan untuk pembedahan
Kontraindikasi : kontraindikasi relative untuk operasi filtrasi glaucoma dapat berupa
ocular atau sistemik. Mata buta seharusnya tidak dipertimbangkan untuk
operasi insisional.ablasio badan siliar adalah alternative yang lebih baik
untuk menurunkan TIO pada mata tersebut jika diperlukan untuk
mengontrol nyeri, meskipun prosedur ini bukan tanpa resiko. Resiko
opthalmia simpatika harus tetap diingat ketika setiap prosedur pada mata
buta atau mata dengan potensi penglihatan yang lemah dipertimbangkan.
Kondisi yang memiliki kecenderungan memiliki kegagalan

4
trabekulektomi seperti neovaskularisasi segmen anterior aktif atau iritis
aktif meru[pakan kontraindikasirelatif. Masalah yangmendasarinya
harus diselesaikan terlebih dahulu.
Operasi filtrasi kurang berhasil jika dilakukan pada pasien afakia atau
pseudofakia yang lebih muda. Angka keberhasilan yang lebih rendah
juga ditemukan pada pasien dengan glaucoma uveitis atau dengan
prosedur filtrasi sebelumnya yang gagal.
Evaluasi preoperative: pasien harus stabil secara medis untuk dilakukannya prosedur
ocular invasive dibawah local anestesi. Control inflamasi preoperative
dengan kortikosteroid membantu menurunkan iritis postoperative dan
pembentukan jaringan parut pada bleb filtrasi. Agen antikolinesterase
harus dihentikan jika mungkin dan digantiakn sementara dengan obat
alternative sekurang-kurangnya 2-3 minggu sebelum operasi dilakukan
untuk mengurangi perdarahan dan iridosiklitis.
Pada perssipan operasi, TIO harus dikurangi sedekat mungkin dengan
tingkat normal sebelum operasi dilakukan, untuk meminimalkan resiko
terjadinya perdaraha koroid ekspulsif. Obat antiplatelet harus dihentika
dan hipertensi sistemik harus dikontrol.
Penting diperhataikan bahwa pasien dengan kehilangan lapang pandang
yang lanjut atau kehilangan lapang pandang yang mengenai fiksasi
memiliki resiko kehilangan total tajam penglihatan setelah prosedur
operasi. Mekanisme fenomena ini tidak diketahui, namun kemungkinan
meliputi:
- Edema macula kistoid.
- Lonjakan TIO pada periode awal postoperative.
- Penyimpangan lamina, yang sangat membahayakan akson yang tersisa.
- Iskemia nervus optikus, kemungkinan terkait anestesi regional.

Tingkat keberhasilan operasi ini cukup tinggi pada tahun pertama, sekitar 70-90%.
Sayangnya di kemudian hari lubang drainase tersebut dapat menutup kembali sebagai
akibat sistem penyembuhan terhadap luka sehingga tekanan intraokuler akan meningkat.
Oleh karena itu, terkadang diperlukan obat seperti mitomycin-C and 5-fluorourasil untuk
memperlambat proses penyembuhan. Teknik ini bisa saja dilakukan beberapa kali pada
mata yang sama.

5
1) Iridektomi perifer

Pada tindakan ini dibuat celah kecil pada kornea bagian perifer dengan insisi di
daerah limbus. Pada tempat insisi ini, iris dipegang dengan pinset dan ditarik keluar. Iris
yang keluar digunting sehingga akan didapatkan celah untuk mengalirnya cairan aquos
secara langsung tanpa harus melalui pupil dari bilik mata belakang ke bilik mata depan.
Teknik ini biasanya dilakukan pada glaukoma sudut tertutup, sangat efektif dan aman,
namun waktu pulihnya lama.
2) Sklerotomi dari Scheie
Pada Operasi Scheie diharapkan terjadi pengaliran cairan aquos di bilik mata depan
langsung ke bawah konjungtiva. Pada operasi ini dilakukan pembuatan flep konjungtiva
di limbus atas (arah jam 12) dan dibuat insisi korneoskleral ke dalam bilik mata depan.
Untuk mempertahankan insisi ini tetap terbuka, dilakukan kauterisasi di tepi luka insisi.
Kemudian flep konjungtiva ini ditutup. Dengan operasi ini diharapkan terjadinya filtrasi
cairan aquos melalui luka korneoskleral ke subkonjungtiva.
3) Cryotherapy surgery
Pada glaukoma absolut badan siliar berfungsi normal memproduksi cairan akuos,
tapi arus keluar terhambat untuk satu alasan atau yang lain. Sehingga tekanan intraokular
yang tinggi menyebabkan rasa sakit kepada pasien dan menyebabkan mata buta yang
menyakitkan.
Karena itu, dilakukan dengan cara menghancurkan badan siliar dengan
cyclocryotherapy mengarah pada mengurangi pembentukan cairan akuos, menurunkan
tekanan intraokular dan memperbaiki rasa sakit..
Caranya terlebih dahulu menginjeksikan obat anestesi dibawah permukaan
retrobulbar dan injeksi 2% Xylocain, melingkar dan mencembung dari retina (cryo-probe)

6
dengan diameter 4 mm, dilakukan langsung pada permukaan konjungtiva utuh, pusat
ujung menjadi 4 mm dari limbus, selama 1 menit pada suhu sekitar-60 sampai -65 ,
secara langsung di atas tubuh ciliary. Dalam semua kasus, probe diaplikasikan
sedemikian rupa sehingga margin es-kawah menyentuh satu sama lain pada setiap
aplikasi, dan aplikasi yang diberikan di sekeliling limbus, kecuali dalam dua belas
pertama matanya di mana ia diterapkan di bagian atas saja.
Setelah cryosurgery mata yang empuk selama 24 jam, dengan menggunakan salep
mata chloromphenical yang kemudian dilanjutkan 4 kali sehari. Tidak ada obat anti-
inflamasi digunakan baik secara lokal atau sistemik. Hanya analgesik diberikan.
Pasca-operasi tekanan intraokular diperiksa setelah 24 jam, pada hari ke 7, hari ke
14, 6 minggu dan 3 bulan setelah operasi. Keunggulan melakukan cyclocryotherapy
karena memiliki keunggulan cyclodiathermy suhu subfreezing kurang merusak struktur
lain mata, dapat dengan aman diulang beberapa kali, dapat dilakukan sebagai prosedur
rawat jalan.

2.6. Laser
Pada teknik laser, operator akan mengarahkan sebuah lensa pada mata kemudian
sinar laser diarahkan ke lensa itu yang akan memantulkan sinar ke mata. Risiko yang
dapat terjadi pada teknik ini yaitu tekanan intraokuler yang meningkat sesaat setelah
operasi. Namun hal tersebut hanya berlangsung untuk sementara waktu. Beberapa
tindakan operasi yang lazim dilakukan adalah :

1. Laser Iridektomy
Teknik ini biasa digunakan sebagai terapi pencegahan yang aman dan efektif untuk
glaukoma sudut tertutup. Dilakukan dengan membuat celah kecil di iris perifer dan
mengangkat sebagian iris yang menyebabkan sempitnya sudut bilik mata depan.
Beberapa keadaan yang tidak memungkinkan dilakukannya laser iridektomy, diantaranya
kekeruhan kornea, sudut bilik mata depan yang sangat sempit dengan jaringan iris yang
sangat dekat dengan endotel kornea, penderita yang pernah menjalani operasi ini
sebelumnya namun gagal dan pada penderita yang tidak bisa diajak bekerja sama.

7
Gambar : Laser iridektomi.

Indikasi :
Indikasi untuk iridektomi meliputi:
- Adanya blok pupil dan kebutuhan untuk menentukan adanya blok pupil.
- Mencegah adanya blok pupil pada orang yang beresiko tinggi untuk terkena
glaucoma yang ditentukan dengan pemeriksaan gonioskopik atau karena adanya
serangan sudut tertutup pada mata yang lain

Kontra Indikasi
- Mata dengan rubeosis iridis aktif karena dapat berdarah setelah dilakukan
iridektomi laser
- Resiko perdarahan juga meningkat pada pasien yang mengkonsumsi antikoagulasi
sistemik, termasuk aspirin

Iridektomi tidak bermanfaat untuk penutupan sudut yang tidak disebabkan oleh
mekanisme blok pupil, kadang-kadang iridektomi laser diperlukan untuk memastikan
bahwa tidak terjadi blok pupil (indikasi diagnostic)
Teknik
A. Iridektomi laser Argon

Laser argon dapat dipergunakan untuk melakukan iridektomi pada sebagian


besar mata. Namun, iris yang sangat gelap atau sangat terang menimbulkan
kesalahan teknis. Dengan menggunakan lensa kontak yang dipadatkan,
pengaturan lser awal yang khas adalah berdurasi 0.02-0.1 detik. Ukuran bintik
50 m. dan kekuatan 800-1000 mW. Terdapat berbagai variasi teknik dan
warna iris menentukan teknik yang dipakai. Komplikasi meliputi opasitas
lensa terlokalisir, peningkatan TIO yang akut (yang dapat merusak nervus

8
optikus), iritis sementara atau menetap, penutupan awal dari iridektomi dan
terbakarnya kornea dan retina.
B. Laser Nd: YAG Q-switched

Laser ini umumnya membutuhkan pulsasi yang lebih kecil dan energy yang
lebih sedikit dibandeng laser argon untuk membuat iridektomi menetap dan
merupakan teknik yang disukai pada sebagian besar mata. Efektivitas laser ini
tidak mempengaruhi laser iris. Dengan lensa kontak yang dipadatkan,
pengaturan laser awal yang khas adalah 2-8 mJ.

Pada umumnya komplikasi yang terjadi pada laser iridektomi meliputi kerusakan
lokal pada lensa dan kornea, ablasio retina, pendarahan, gangguan visus dan tekanan intra
okular meningkat. Kerusakan lensa dihindari dengan cara menghentikan prosedur dan
segera penetrasi iris untuk iridektomi lebih ke superior iris perifer

2. Laser Peripheral Iridotomy (LPI)


Dilakukan pada glaukoma sudut tertutup. Pada teknik ini dibuat lubang kecil di iris
perifer sehingga iris terdorong ke belakang lalu sudut bilik mata depan akan terbuka.

Sumber : http://www.medrounds.org/glaucoma-guide/2006/12/section-9-d-
treatment-of-acute-angle.html

3. Laser Trabeculoplasty
Dilakukan pada glaukoma sudut terbuka. Sinar
laser (biasanya argon) ditembakkan ke anyaman
trabekula sehingga sebagian anyaman
mengkerut. Kerutan ini dapat mempermudah
aliran keluar cairan aquos. Pada beberapa kasus,

9
terapi medikamentosa tetap diperlukan. Tingkat keberhasilan dengan Argon laser
trabeculoplasty mencapai 75%. Karena adanya proses penyembuhan luka maka kerutan
ini hanya akan bertahan selama 2 tahun.

Sumber: http://www.palopticlub.com/vb/showthread.php?t=2911

4. Neodymium: YAG laser cyclophotocoagulation (YAG CP)

Teknik ini digunakan pada glaukoma sudut tertutup. Caranya dengan merusak
sebagian corpus siliar sehingga produksi cairan aquos berkurang.

Sumber : http://biomed.brown.edu/Courses/ 2006-108websites/group02glaucoma.html


2.7. Prosedur lain untuk menurunkan TIO
Prosedur insisional dan non-insisional untuk mengontrol TIO meliputi
operasi pipa-pintas (tube-shunt), ablasio badan siliar, siklodialisis dan
viskokanalostomi dan prosedur non-penetrasi lainnya.

A. Pintasan Pipa Glaukoma

Beberapa tipe alat telah dicptakan untuk membantu filtrasi dengan


memintas aquous ke tempat di sebelah posterior limbus. Alat pintasan atau

10
drainase umumnya ditempatkan pada bilik anterior atau melewati pars plana
yang mengalir ke penampungan ekstraokular yang ditempatkan di ekuator
sclera.

Indikasi:
Keadaan klinis yang dapat dipertimbangakan untuk melakukan pintasan pipa
glaucoma adalah:
1. Kegagalan trabekulektomi
2. Kegagalan trabekulektomi dengan antifibrotik
3. Uveitis akut
4. Glaucoma neovaskuler
5. Konjungtiva yang tidak adekuat
6. Kebutuhan yang mengancam untuk dilakukannya keratoplasti penetrasi
(PK)
7. Kandidat pasien yang buruk untuk dilakukan trabekulektomi
8. Pontensial untuk memperbaiki tajam penglihatan
9. Kebutuhan TIO yang lebih rendah

Kontraindikasi
Operasi ini merupakan kontraindikasi relative pada mata dengan potensi
penglihatan yang sangat buruk atau pada pasien yang tidak dapat menuruti
petunjuk perawatan pribadi pada periode post operasi. . fungsi endotel kornea
yang terbatas merupakann kontraindikasi relative dilakukannya penempatan
pipa pada bilik anterior.
B. Ablasi Badan Siliar

Beberapa prosedur pembedahan menurunkan sekresi aquouos dengan merusak


sebagian badan siliar dapat terapi menggunakan siklokryoterapi, diatermi iltrasound
terapetik dan laser terminal seperti laser Nd:YAG gelombang berlanjut (continous
wave), argon dan diode.
Indikasi : ablasio siliar diindikasikan untuk menurunkan TIO pada mata dengan
potensi penglihatan yang buruk atau calon buruk untuk dilakukannya operasi
insisional. Operasi pada mata buta harus dihindari. Jika memungkinkan karena
resiko kecil terjadinya oftamia simpatika. Intervensi seperti injeksi alcohol
retrobulbar atau enukleasi dapat dipertimbangkan untuk mata buta yang sangat
nyeri. Ablasio badan siliar umumnya dicadangkan untuk mata yang tidak
11
responsive atau sangat mungkin tidak responsive atau sangat mungkin tidak
responsive terhadap terapi jenis lain.

Kontraindikasi. Ablasio siliar relative di kontraindikasikan untuk mata dengan


penglihatan baik karena terdapat resiko kehilangan penglihatan.
C. Siklodialisis

Siklodialisis merupakan prosedur membuat hubungan antara bilik anterior dan ruang
suprakoroid. Hal ini dapat terjadi secara traumatic dan secara bedah
Indikasi: siklodialisis jarang dilakukan namun mungkin bermanfaat pada pasien
afakia yang tidak berespon terhadap operasi filtrasi.
Teknik : insisi sclera kecil dibuat kira-kira 4 mm dari limbus dan spatula halus
dilewatkan di bawah sclera menuju bilik anterior. Spatual ini menyelipkan bagian
muskulus siliaris dari skleral pur dan membuat celah pada sudut , menyediakan
hubungan langsung antara bilik anterior dan ruang suprakoroid.
D. Goniotomi dan Trabekulektomi

Indikasi : adanya glaucoma pada masa anak-anak


Kontraindikasi : terjadi pada bayi dengan kesehatan yang tidak stabil, bayi dengan
anomaly multipel dengan prognosis yang buruk dan mata yang benar-benar tidak
terorganisir

12
BAB III
KESIMPULAN

Glaukoma merupakan sekelompok penyakit neurooptik yang menyebabkan


kerusakan serat optik (neuropati optik), yang ditandai dengan kelainan atau atrofi papil
nervus opticus yang khas, adanya ekskavasi glaukomatosa, serta kerusakan lapang
pandang dan biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan intraokular sebagai
faktor resikonya.
Sasaran utama penatalaksanaan glaukoma adalah untuk menurunkan tekanan
intraokuler sehingga dapat mencegah terjadinya penurunan lapangan pandang dan
ketajaman penglihatan lebih lanjut yang berujung pada kebutaan dengan cara mengontrol
tekanan intraokuler supaya berada dalam batasan normal.
Penatalaksanaan glaukoma terdiri dari tiga macam, yaitu medikamentosa dan non
medikamentosa. Penatalaksanaan non medikamentosa terdiri dari pembedahan dan laser.
Pembedahan dan laser dilakukan jika obat-obatan tidak mampu mengontrol tekanan
intraokuler.
Terapi bedah pada glaukoma terdiri dari terapi bedah insisi dan laser. Untuk terapi
bedah insisi dapat dilakukan dengan trabekulektomi ataupun dengan iridektomi perifer.
Terapi laser terdiri dari laser iridektomi, laser iridotomi, laser trabekuloplasti dan juga
YAG laser cyclophotocoagulation.
Pembedahan ditujukan untuk memperlancar aliran keluar cairan aquos di dalam
sistem drainase atau sistem filtrasi sehingga prosedur ini disebut teknik filtrasi.
Pembedahan dapat menurunkan tekanan intraokuler jika dengan medikamentosa tidak
berhasil. Pembedahan merupakan terapi definitif namun walaupun telah dilakukan
tindakan pembedahan, penglihatan yang sudah hilang tidak dapat kembali normal, terapi
medikamentosa juga tetap dibutuhkan, namun jumlah dan dosisnya menjadi lebih sedikit.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Glaukoma dalam ilmu penyakit mata. Ed 3. Cetakan ke 4. Jakarta: Balai


Penerbit FKUI; 2007
2. Vaughan DG, Eva RP, Asbury T. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika.
Jakarta. 2000.
3. Ilyas S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
4. James B, Chew C, Bron A. Anatomi dalam Oftalmologi. Edisi IX.Erlangga.
Jakarta 2006;1-17
5. American Academy of Ophthalmology : Basic and clinical science course 2003 -
2004.
6. Nurilhidayat A. Glaukoma. [Online] 2010. Tersedia dari.
http://www.scribd.com/doc/39668732/glaukoma Accesed 19 Februari 2014.
7. Kanski JJ. The Glaucomas, in Clinical Ophthalmology Third edition. Butterworth
Heineann. London. 1994; 233-279
8. Gerhard KL, Oscar, Gabriele, Doris, Peter. Ophtalmology a short textbook.
Second edition. Thieme Stuttgart : New York. 2007.
9. Khaw PT, Elkington AR. AC Of Eyes. Edisi ke-4. BMJ Book: London.2005
10. Vegan. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Glaukoma. [Online] 2010. Tersedia
dari http://drvegan.wordpress.com/2010/07/31/diagnosis-dan-pemeriksaan-
penunjang-glaukoma/ Accesed 19 Februari 2014

14