Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ekonomi
manajerial tentang harga ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya..
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai materi seoutar harga, faktor penetapan harga, metode yang
digunakan dalam mentapkan harga dll . Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Kelompok 1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara teoritis, tidak ada perbedaan signifikan antara perekonomian klasik dengan
modern. Teori harga secara mendasar sama, yakni bahwa harga wajar atau harga
keseimbangan diperoleh dari interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran (suplai)
dalam suatu persaingan sempurna, hanya saja dalam perekonomian modern teori dasar ini
berkembang menyadi kompleks karena adanya diversifikasi pelaku pasar, produk, mekanisme
perdagangan, instrumen, maupun perilakunya,yang mengakibatkan terjadinya distorsi pasar.
Dalam struktur pasar apapun sebuah perusahaan beroperasi, penetapan harga
untuk maksimasi laba mangharuskan analisis yang seksama terhadap hubungan antara biaya
marginal dan pendapatan marginal. Tetapi, riset tentang praktek praktek penetapan harga
aktual menunjukkan bahwa banyak perusahaan tampaknya menetapkan harga tanpa analisis
eksplisit rehadap hubungan marginal. Studi memperlihatkan bahwa kebanyakan perusahaan
menggunakan penetapan harga markup, menetapkan harga untuk menutup semua biaya
langsung ditambah markup sebesar satu presentase tertentu untuk kontribusi laba (biaya
umum dan laba) daripada menetapkan harga di mana MR = MC. Bagaimana sesuatu yang
tampaknya bertentangan antara teori ekonomi dan praktek penetapan harga actual ini
dijelaskan?
Jika kita memahami prosedur yang dipergunakan untuk keputusan penetapan harga
actual, tidak terdapat konflik antara teori dan praktek. Pada kenyataannya, praktek praktek
penetapan harga secara markup merupakan alat praktis yang dengannya perusahaan
perusahaan menerapkan analisis marginal untuk menetapkan harga berbagai barang dan jasa.
Praktek penetapan harga secara markup yang luwes dan mencerminkan perbedaan dalam
biaya marginal dan elastisitas permintaan merupakan cara yang efisien untuk beroperasi
sehingga MR = MC untuk setiap lini produk yang dijual.
Demikian pula, praktek penetapan harga untuk musim puncak dan di luar puncak,
diskriminasi harga, dan penetapan harga untuk produk - produk kesemuanya merupakan cara
yang efisien untuk beroperasi sehingga MR = MC untuk setiap pelanggan atau kelompok
pelanggan dan kelompok produk.

B. Rumusan Masalah
Agar permasalahan tidak meluas serta dapat lebih terarah pada pokok permasalahan,
maka dapat dirumuskan permasalahan berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas
adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Konsep dan Peranan Harga?

2. Mengetahui Tujuan Penetapan Harga

3. Mengetahui Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan harga

4. Penjelasan Metode Penetapan Harga

5. Penjelasan variabel harga


C. Tujuan Penulisan
Berdasar rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui Bagaimana Konsep dan Peranan Harga?

2. Untuk mengetahui Tujuan Penetapan Harga

3. Untuk mengetahui Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan harga

4. Untuk mengetahui Metode Penetapan Harga

5. Untuk mengetahui variabel harga


BAB II
PEMBAHASAN

A. Harga
1. Definisi Harga
Menurut Stanton, (1984) Harga adalah Price is value expressed in terms
of dollars and cens, or any other monetary medium of exchange. yang kurang
lebih memiliki arti harga adalah nilai yang dinyatakan dalam dolar dan sen atau medium
moneter lainnya sebagai alat tukar.
Menurut Basu Swastha (1986: 147) Harga diartikan sebagai Jumlah uang
(kemungkinan ditambah barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi
dari barang beserta pelayanannya.
Menurut menurut Alex S Nitisemito (1991:55) Harga diartikan sebagai nilai suatu
barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut
seseorang atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimiliki kepada pihak
lain.
Harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang
dan jasa) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang
atau jasa, Tjiptono (2001 : 151). Dan harga merupakan unsur satusatunya dari unsur bauran
pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan di banding unsur
bauran pemasaran yang lainnya (produk, promosi dan distribusi).

2. Konsep dan Peranan Harga


a. Konsep Harga
Pada tingkat harga, bila manfaat yang dirasakan konsumen meningkat, maka nilainya
akan meningkat pula, Demikian pula pada tingkat harga tertentu, nilai suatu barang atau jasa
akan meningkat seiring dengan meningkatnya manfaat yang dirasakan
Asumsi :
Harga bisa diungkapkan dengan berbagai istilah : misalnya Iuran, tarif, Sewa, Bunga,
Komisi, Upah, Gaji, Honorarium dsb.
Harga merupakan komponen yang berpengaruh langsung pada laba perusahaan :Laba
= Pendapatan Total Biaya Total ( Harga per unit x Kuantitas yang
terjual) ( Biaya Tetap)
Disudut pandang konsumen harga seringkali digunakan sebagai indikator Nilai,
bilamana harga tersebut. dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu
barang atau jasa.

Menurut Machfoedz (2005: 136) penetapan harga dipengaruhi oleh


berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor
internal meliputi tujuan pemasaran perusahaan, strategi bauran
pemasaran, biaya, dan metode penetapan harga. Faktor eksternal
meliputi sifat pasar dan permintaan, persaingan, dan elemen lingkungan
yang lain.

Nilai (value) didefinisikan sebagai rasio antara manfaat yang dirasakan terakhir. Harga dapat
dirumuskan :

Manfaat YangDirasakan
Nilai =
Harga

b. Peranan Harga
Ada dua Peranan Utama Dalam Proses Pengambilan Keputusan Para Pembeli
1) Peranan Alokasi Dari Harga :
Fungsi harga dalam membatu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh
manfaat atau utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya beli
Dapat membantu pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada
berbagai jenis barang dan jasa
Dapat membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia
Memutuskan alokasi dana yang dikehendaki
2) Peranan Informasi dari Harga :
Fungsi harga dalam mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti
kualitas
Membantu pembeli dalam situasi dimana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai
faktor Produk/ manfaat secara abjektif

c. Sasaran Penetapan Harga


1) Berorientasi pada Laba
Untuk mencapai target laba investasi laba penjualan bersih
Untuk memaksimalkan laba
2) Berorientasi Pada Penjualan;
Untuk meningkatkan Penjualan
Untuk mempertahankan atau meningkatkan bagian pasar dan penjualan
3) Berorientasi Pada Status Quo, yaitu ;
Untuk menstabilkan laba
Untuk menangkal Persaingan
1) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penetapan Harga :
Permintaan Produk
Reaksi Pesaing
Bauran Pemasaran
Target dan Bagian saham pasar
2) Biaya untuk memproduksi

3. Tujuan Penetapan Harga


Penjual barang dalam menetapkan harga dapat mempunyai tujuan
yang berbeda satu sama lain antar penjual maupun antar barang yang
satu dengan yang lain. Tujuan penetapan harga menurut Harini (2008: 55)
adalah sebagai berikut:
a. Penetapan harga untuk mencapai penghasilan atas investasi.
Biasanya besar keuntungan dari suatu investasi telah ditetapkan
prosentasenya dan untuk mencapainya diperlukan penetapan harga
tertentu dari barang yang dihasilkannya.
b. Penetapan harga untuk kestabilan harga. Hal ini biasanya dilakukan
untuk perusahaan yang kebetulan memegang kendali atas harga.
Usaha pengendalian harga diarahkan terutama untuk mencegah
terjadinya perang harga, khususnya bila menghadapi permintaan
yang sedang menurun.
c. Penetapan harga untuk mempertahankan atau meningkatkan
bagiannya dalam pasar. Apabila perusahaan mendapatkan bagian
pasar dengan luas tertentu, maka ia harus berusaha
mempertahankannya atau justru mengembangkannya. Untuk itu
kebijaksanaan dalam penetapan harga jangan sampai merugikan
usaha mempertahankan atau mengembangkan bagian pasar
tersebut.
d. Penetapan harga untuk menghadapi atau mencegah persaingan.
Apabila perusahaan baru mencoba-coba memasuki pasar dengan
tujuan mengetahui pada harga berapa ia akan menetapkan
penjualan. Ini berarti bahwa ia belum memiliki tujuan dalam
menetapkan harga coba-coba tersebut.
e. Penetapan harga untuk memaksimir laba. Tujuan ini biasanya
menjadi anutan setiap usaha bisnis. Kelihatannya usaha mencari
untung mempunyai konotasi yang kurang enak seolah-olah
menindas konsumen. Padahal sesungguhnya hal yang wajar saja.
Setiap usaha untuk bertahan hidup memerlukan laba. Memang
secara teoritis harga bisa berkembang tanpa batas.

Menurut Machfoedz (2005: 139) Tujuan penetapan harga meliputi


(1). Orientasi laba: mencapai target baru, dan meningkatkan laba; (2)
Orientasi penjualan: meningkatkan volume penjualan, dan
mempertahankan atau mengembangkan pangsa pasar. Kemudian
menurut Tjiptono (2002) tujuan penetapan harga adalah :

a. Berorientasi laba yaitu bahwa setiap perusahaan selalu memilih


harga yang dapat menghasilkan laba yang paling tinggi.

b. Berorientasi pada volume yaitu penetapan harga berorientasi pada


volume tertentu.
c. Berorientasi pada citra (image) yaitu bahwa image perusahaan
dapat dibentuk melalui harga.

d. Stabilisasi harga yaitu penetapan harga yang bertujuan untuk


mempertahankan hubungan yang stabil antara harga perusahaan
dengan harga pemimpin pasar (market leader).

e. Tujuan lainnya yaitu menetapkan harga dengan tujuan mencegah


masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas konsumen,
mendukung penjualan ulang atau menghindari campur tangan
pemerintah.

4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penetapan Harga


Dalam menetapkan harga suatu produk dan jasa, perusahan perlu mempertimbangkan
dua faktor berikut:
a. Faktor Internal
1) Tujuan Pemasaran Perusahaan ; (makimalisasi laba; mempertahankan kelangsungan
hidup perusahaan; meraih pangsa pasar yang besar; menciptakan kepeminpinan dlm
hal kualitas; mengatasi persaingan; melaksanakan tanggung jawab sosial ; dll.)
2) Strategi Buran Pemasaran ; (harga perlu dikoordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainya yaitu pruduk, ditribusi dan promosi )
3) Biaya ; (merupakan faktor yang paling menentukan harga minimal yang harus
ditetapkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian, dalam hal ini biaya tetap dan
variabel)
4) Organisasi ;
Manajemen perlu memutuskan siapa di dalam organisasi yang harus menetapkan
harga.
Setiap perusahaan menangani masalah penetapan harga menurut caranya masing-
masing.
Pada perusahaan kecil, umumnya harga ditetapkan oleh manajemen puncak.
Pada perusahaan besar, seringkali masalah penetapan harga ditangani oleh devisi
atau manajer suatu lini produk.
Dalam pasar Industri, para wiraniaga diperkenankan untuk bernegoisasi dengan
pelanggannya guna menetapkan rentang (range) harga tertentu.
Dalam indutri penetapan harga merupakan faktor kunci (misalnya perusahaan
minyak, penerbangan luar angkasa) biasanya setiap perusahaan memiliki
departemen penetapan harga tersendiri yang bertanggung jawab kepada dept.
Pemasaran atau manajemen puncak.
Pihak-pihak lain yang mempunyai pengaruh terhadap penetapan harga adalah
manajer penjualan, manajer produksi, manajer keuangan dan akuntan

b. Faktor Ekternal
1) Sifat Pasar dan Permintaan; setiapperusahaan perlu memahami sifat dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk pasar persingan sempurna, persaingan monopolistik,
oligopoli, atau monopoli. Faktor lain yang tdk kalah pentingnya adalah elastisitas
permintaan
2) Persaingan;( Porter ), Ada lima kekuatan pokok yang berpengaruh dalam persaingan
suatu industri :
Persaingan dalam industri yang bersangkutan
Produk Substitusi
Pemasok
Pelanggan dan
Ancaman-ancaman baru
Informasi yang dibutuhkan untuk menganalisis karakteritik persaingan yang dihadapi :
Jumlah Perusahaan dalam Industri
Ukuran relatif setiap anggota dalam Industri
Deferensiasi Produk
Kemudahanuntuk memasuki industri yang bersangkutan

5. Metode Penetapan Harga


a. Penetapan Harga Markup
Survey praktek bisnis menunjukkan bahwa praktek penetapan harga markup
merupakan metode penerapan harga yang paling luas dipergunakan oleh perusahaan -
perusahaan bisnis. Dalam pendekatan yang paling umum dalam praktek penerapan harga
markup, perusahaan - perusahaan mengestimasi biaya variabel rata - rata untuk memproduksi
dan memasarkan sebuah produk, menambahkan biaya umum, dan lalu menambahkan
markup, atau margin sebesar presentase tertentu untuk laba. Pengenaan biaya tidak langsung,
atau biaya umum, biasanya ditentukan dengan mengalokasikan biaya - biaya ini di antara
produk - produk perusahaan atas dasar biaya variabel rata - rata mereka.

Mark up pricing merupakan penetapan harga, dimana harga tertentu ditetapkan dengan jelas
menambahkan suatu prosentase tetap di atas biaya produksi. Mark up Pricing berbeda-beda
dalam suatu swalayan karena:
1) Adanya persaingan dalam kelas produk yang ada
2) Volume penjualan produk tersebut
3) Resiko yang terjadi dalam menjual masing-masing produk

Markup Atas Biaya yaitu selisih antara harga dan biaya yang ukur secara relatif terhadap
biaya, diukur dalam % (persen)
Markup Atas Harga, selisih harga dan biaya yang diukur secara relatif terhadap harga,
diukur dalam persen. Rumus:

b. Diskriminasi Harga
Diskriminasi harga yaitu kebijaksanaan untuk memberlakukan harga jual yang
berbeda-beda untuk satu jenis barang yang sama di segmen pasar. Jadi, diskriminasi harga
terjadi jika produk yang sama dijual kepada konsumen yang berbeda dengan harga yang
berbeda. Diskriminasi harga dapat dipahami lebih baik dengan memperkenalkan
konsep surplus konsumen. Surplus konsumen adalah nilai barang dan jasa bagi para
konsumen di atas dan di luar jumlah yang mereka bayarkan kepada penjual.

Diskriminasi harga banyak dipakai sekarang ini, terutama dengan barang-barang yang
tidak mudah dipindahkan dari pasar dengan harga rendah ke pasar dengan harga
tinggi. Ternyata, praktek ini seringkali dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Monopolis menaikkan harga jual produk mereka dan menurunkan jumlah penjualan mereka
untuk meningkatkan keuntungan. Dengan melakukan hal tersebut, mereka mungkin bisa
mendapatkan pasar untuk para pembeli yang berkeinginan kuat dan kehilangan pasar untuk
pembeli yang enggan.

Dengan memberikan harga yang berbeda untuk mereka yang mau membeli dengan
harga tinggi dan mereka yang mau membeli dengan harga yang rendah, monopolis dapat
meningkatkan keuntungan serta kepuasan pelanggannya.

Persyaratan untuk diskriminasi harga yang menguntungkan


Dua kondisi diperlukan untuk diskriminasi harga yang menguntungkan. Pertama,
harus terdapat elastisitas harga dari permintaan yang berada di antara berbagai bagian
pelanggan untuk satu produk tertentu. Kecuali elastisitas harga berbeda di antara berbagai
bagian pasar. Kedua, perusahaan tersebut harus mampu mensegmentasi pasar dengan
mengidentifikasi bagian - bagian pasar dan mencegah perpindahan pelanggan dalam bagian -
bagian pasar yang berbeda.
Jenis - jenis diskriminasi harga

1) Diskriminasi harga derajat 1dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-beda
untuk setiap konsumen berdasarkan reservation price (Willingness To Pay) masing-
masing konsumen dibedakan pada kemampuan daya beli masing-masing
konsumen. Contoh: seorang dokter memberlakukan tarif konsultasi yang berbeda-beda
pada setiap pasiennya. Diskriminasi harga derajat 1 juga dijelaskan kedalam grafik yang
tersaji pada gambar 1.

Gambar 1. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 1


6.
Pada gambar 1 menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat 1. Pada grafik
tersebut terdapat hubungan antara P (harga) dan Q (output) yang dimisalkan harga terdapat
P1, P2 dan P3 dan output terdapat Q1, Q2 dan Q3. Pada grafik terlihat apabila P tinggi maka
Q rendah. Hal ini apabila dikaitkan pada kemampuan daya beli konsumen berarti apabila
produsen menawarkan harga yang tinggi maka terdapat sedikit konsumen yang akan membeli
produk tersebut. Dan begitu sebaliknya, apabila produsen menawarkan harga yang rendah
maka terdapat banyak konsumen yang dapat membeli barang tersebut. Jadi, dalam hal ini
perusahaan harus mengetahui kemampuan daya beli pada masing-masing konsumen.
Diskriminasi harga derajat 1 dapat merugikan konsumen karena terdapat surplus konsumen
yang diterima oleh produsen, biaya yang harusnya diterima oleh konsumen namun menjadi
milik konsumen. Diskriminasi harga derajat 1 juga disebut perfect price
discrimination karena memperoleh surplus konsumen paling besar.

2) Diskriminasi harga derajat 2 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-
beda pada jumlah batch atau lot produk yang dijual. Diskriminasi harga ini dilakukan
karena perusahaan tidak memiliki informasi mengenai reservation
pricekonsumen. Contoh: perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian
eceran, pembeli yang membeli mie instan 1 bungkus dan 1 kardus akan berbeda
harganya.Diskriminasi harga derajat 2 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada
gambar 2.
Gambar 2. Grafik Diskriminasi Harga derajat 2

Pada gambar 2 diatas menjelaskan tentang diskriminasi harga derajat 2. Pada


grafik tersebut pelaku usaha menetapkan harga (P1, P2 dan P3) berdasarkan jumlah
konsumsi. Kebijakan ini dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen karena jumlah
output bertambah dan harga jual semakin murah. Hal ini dikarenakan pelaku usaha
menggunakan sistem perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian
eceran. Harga eceran lebih tinggi dari pada harga per pak, sehingga konsumen lebih baik
membeli barang langsung per pak daripada membeli barang eceran.

3) Diskriminasi harga derajat 3dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda
untuk setiap kelompok konsumen berdasarkan reservation price masing-masing
kelompok konsumen. Diskriminasi harga derajat 3 dilakukan karena perusahaan tidak
mengetahui reservation price masing-masing konsumen, tapi mengetahui reservation
price kelompok konsumen. Kelompok konsumen dapat dibedakan atas lokasi, geografis,
maupun karakteristik konsumen seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain-lain.
Contoh : barang yang dijuala di pedesaan dan di perkotaan akan berbda harganya.
Diskriminasi harga derajat 3 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada gambar 3.
4)
Gambar 3. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 3
Pada gambar 3 diatas menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat
3.Diskriminasi harga ditetapkan berdasarkan perbedaan elastisitas harga. Permintaan
yang lebih inelastis dikenakan harga yang lebih tinggi.

c. Penetapan Harga Produk Berganda

Model mikroekonomi dasar dari suatu perusahaan mengasumsikan bahwa perusahaan


memproduksi satu produk yang homogen. Hampir semua perusahaan memproduksi
setidaknya beberapa model, gaya, atau ukuran dari keluaran mereka, dan masing - masing
variasi ini dipandang sebagai produk yang terpisah untuk maksud penetapan harga.
Walaupun penetapan harga produk berganda mengharuskan analisis yang sama seperti untuk
satu produk, analisis ini diperumit dengan adanya keterkaitan permintaan dan produksi.
1) Keterkaitan Permintaan
Keterkaitan permintaan timbul karena persaingan atau sifat saling melengkapi di
antara berbagai produk perusahaan. Analisis Keterkaitan Permintaan Keterkaitan permintaan
mempengaruhi keputusan harga melalui pengaruh mereka terhadap pendapatan marginal
2) Keterkaitan produksi
Sama seperti produk - produk perusahaan yang dapat berkaitan melalui fungsi
permintaan, produk - produk itu juga dapat berkaitan dalam produksi. beberapa produk dapat
diproduksi bersama - sama dalam rasio yang tetap atau dalam proporsi yang dapat
divariasikan.
Produk Gabungan Yang Diproduksi Dalam proporsi Tetap
Kasus paling sederhana dari produksi bersama adalah produk - produk yang dihasilkan dalam
proporsi tetap. Dalam situasi ini, adalah tidak masuk akal untuk mencoba memisahkan
produk - produk tersebut dari sudut pandang produksi atau biaya. Yaitu produk - produk yang
harus dihasilkan dalam proporsi tetap dan tidak memungkinkan penyesuaian terhadap
terhadap rasio keluaran produk.

d. Penetapan Harga Dalam Pasar yang Mapan

Tingkat harga umum yang terjadi di pasar yang mapan adalah tingkat harga yang memenuhi
tujuan harga tertinggi atau tujuan perusahaan - perusahaan tersebut secara umum. Penetapan
harga dalam pasar yang mapan dapat dilakukan dengan cara :

1) Price Positioning
Jumlah maksimum yang akan dibayar oleh pembeli untuk suatu produk dikenal
sebagai harga reservasi pembeli tersebut. Penelitian pasar yang dilakukan dengan
cermat akan bermanfaat bagi perusahaan dalam menunjukkan harga - harga reservasi
untuk produk tertentu dan untuk setiap ciri yang tercakup atau tidak dalam produk
tersebut.
2) Strategi Harga Product Line
Pendekatan ini memilih markup berdasarkan estimasi elastisitas harga permintaan
yang secara implisit mengasumsikan bahwa permintaan akan setiap item pada lini
produk tidak tergantung permintaan setiap item lain dalam lini produk itu.
3) Penentuan Harga Untuk Menduga Kualitas
Penentuan harga sebuah produk yang lebih tinggi akan meyakinkan konsumen bahwa
item itu berkualitas lebih tinggi dan menyebabkan penjualan serta laba lebih besar
dibanding apabila produk itu dijual dengan harga lebih rendah.
4) Penentuan Harga Produk Dalam Satu Paket
Pembundelan produk adalah praktik penjualan satu atau lebih produk secara bersama
- sama sebagai satu paket dengan harga tunggal. Penjualan secara paket akan
meningkatkan laba yang ditempuh dengan cara menaikkan harga setiap produk
apabila dijual terpisah dan menawarkan bundelan sebagai suatu paket dengan satu
harga yang lebih rendah dari harga jual masing - masing komponen dalam bundelan
tersebut.

Perusahaan memilih metode penetapan harga yang mencakup satu atau lebih dari tiga
pertimbangan ini. Menurut Kotler dan Keller (2009:83), ada enam metode penetapan harga,
berikut penjelasannya
1) Penetapan Harga Markup
Metode penetapan harga paling mendasar adalah menambah markup standar ke biaya
produk. Sampai saat ini penetapan harga markup masih populer karena penjual dapat
menentukan biaya jauh lebih mudah daripada memperkirakan permintaan, kemudian harga
cenderung sama dan persaingan harga terminimalisasi ketika perusahaan dalam industri
mengunakan metode ini, dan terakhir banyak orang merasa bahwa penetapan harga biaya
plus lebih adil bagi pembeli dan penjual.
2) Penetapan harga tingkat pembelian sasaran
Perusahaan menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat pengembalian
atas investasi sasarannya.
3) Penetapan harga nilai anggapan
Nilai anggapan terdiri dari beberapa elemen seperti citra pembeli akan kinerja produk,
kemampuan penghantaran dari saluran, kualitas jaminan, dukungan pelanggan, dan atribut
yang kurang dominan seperti reputasi pemasok,ketepercayaan dan harga diri.
4) Penetapan harga nilai
Metode yang menciptakan harga murah kepada konsumen untuk menarik perhatian
konsumen dengan tidak mengabaikan kualitas produk perusahaan.
5) Penetapan harga going-rate
Perusahaan mendasarkan sebagian besar harganya pada harga pesaing, mengenakan
harga yang sama, lebih mahal atau lebih murah dibandingkan harga pesaing utama.
6) Penetapan harga jenis lelang
Penetapan harga jenis lelang dilakukan untuk membuang persediaan lebih atau barang
bekas
Ada beberapa metode yang dapat digunakan sebagai rancangan dan variasi, dalam
penetapan harga menurut Marras (1999: 181-185), harga dapat ditentukan atau dihitung :

a. Harga didasarkan pada biaya total ditambah laba yang diinginkan (cost plus pricing
method).
b. Harga yang berdasarkan pada keseimbangan antara permintaan dan suplai.
c. Penetapan harga pasar yang ditetapkan atas dasar kekuatan pasar.
d. Harga yang berdasarkan keseimbangan antara suplai dan permintaan.
e. Penetapan harga atas dasar kekuatan pasar.

Menurut Tjiptono (2001 : 174) ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu
perusahaan harus selalu meninjau kembali strategi penetapan harga produk - produknya yang
sudah ada di pasar, diantaranya adalah :
a. Adanya perubahan dalam lingkungan pasar, misalnya pesaing besar menurunkan
harga.
b. Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadinya perubahan selera konsumen.

Dalam melakukan peninjauan kembali penetapan harga yang telah dilakukan,


perusahaan mempunyai tiga alternatif strategi, yaitu:
Mempertahankan Harga, strategi ini dilaksanakan dengan tujuan mempertahankan
posisi dalam pasar dan untuk meningkatkan citra yang baik di masyarakat.
Menurunkan Harga, Strategi ini sulit untuk dilaksanakan karena perusahaan harus
memiliki kemampuan finansial yang besar, sementara konsekuensi yang harus
ditanggung, perusahaan menerima margin laba dengan tingkat yang kecil. Ada tiga
alasan atau penyebab perusahaan harus menurunkan harga produk yang sudah
mapan.
Menaikan Harga, suatu perusahaan melakukan kebijakan menaikan harga dengan
tujuan untuk mempertahankan profitabilitas dalam periode inflasi dan untuk
melakukan segmentasi pasar tertentu.

6. Variabel Harga

Menurut Kotler dan Amstrong (2012:52) , didalam variabel harga ada beberapa unsur
kegiatan utama harga yang meliputi tingkatan harga, diskon, potongan harga, dan periode
pembayaran.

Menurut Kotler dan Armstrong (2008:278) ada 4 ( empat ) indikator yang Mencirikan
harga yaitu: keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, daya saing
harga, kesesuaian harga dengan manfaat. Dan disini peneliti mengambil 2 (dua) unsur harga,
yaitu :

a. Tingkatan Harga adalah rate yaitu angka yang menunjukkan nilai, harga, kecepatan
perkembangan, dan produksi berdasarkan satuan ukur tertentu; Biaya premi asuransi
ataupun beban biaya.
b. Potongan Harga adalah pengurangan harga yang diberikan oleh penjual kepada
pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari pembeli yang
menyenangkan bagi penjual. Biasanya potongan harga ini diwujudkan dalam bentuk
tunai ataupun barang dan dimaksudkan untuk menarik konsumen. Terdapat empat
jenis diskon, yaitu diskon kuantitas, diskon musiman, diskon kas, dan trade discount
.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan,
diminta, dicari dan dibeli, digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan
atau keinginan pasar yang bersangkutan, produk yang ditawarkan tersebut meliputi barang,
fisik, jasa, orang atau pribadi, tempat, organisasi dan ide sebagai pengaruh dari Consumer
Adoption Process, produk memiliki siklus hidup yang pada umumnya terdiri dari tahap
perkenalan, pertumbuhan, pendewasaan, dan penurunan.

Kaitannya dengan produk pasti tidak terlapas dari masalah harga, agar dapat sukses dalam
memasarkan suatu barang atau jasa, setipa perusahaan harus menetapkan harga secara tepat,
ada beberapa metode penetapan harga yaitu : pendekatan permintaan untuk menetapkan
harga, pendekatan biaya untuk menetapkan harga dan diskon selain itu pula terdapat beberapa
metode penetapan harga khusus untuk produk baru yaitu : Penetracing Pricing dan Skimming
Pricing

DAFTAR PUSTAKA

Fandy Tjiptono. 2001. Manajemen Jasa. Yogyakarta :Andy Offset.


Karwowski, W and Marras, S.W. 1999. The Occupational Ergonomics Handbook.
New York : CRC Press LLC
Nitisemito, Alex S, 1991. Manajemen Personalia Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakarta: Ghalia
Pappas, James L. dan Hirschey, Mark. 1995. Ekonomi Manajerial.Jakarta : PT. Binarupa
Aksara Indonesia.
Stanton, William J. 1984. Prinsip Pemasaran. Jakarta : Penerbit Erlangga
Swasta, Basu DH dan Irawan. M.B.A. 1986. Manajemen Pemasaran Modern.
Yogyakarta: Edisi ke dua. Penerbit Liberty