Anda di halaman 1dari 13

BAB I

(PENDAHULUAN)

1.1. Latar Belakang


Menurut WHO, kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif
yang menggambarkan keselarasan keseimbangan kejiwaan yang
mencerminkan kedewasaan kepribadiannya. Kesehatan jiwa adalah suatu
kondisi sehat emosional, psikologis, dan social yang terlihat dari hubungan
interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri
yang positif dan kestabilan emosional (Videbeck Sheila L 2010).
Gangguan jiwa menurut Yosep adalah kumpulan dari keadaan
keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun
dengan mental. Keabnormalan terbagi dalam dua golongan yaitu : Gangguan
jiwa(Neurosa) dan sakit jiwa (psikosa). Keabnormalan terlihat dalam berbagai
gejala adalah ketegangan(tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas,
perbuatan yang terpaksa, hysteria, rasa lemah dan tidak mampu mencapai
tujuan.
Gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
di Indonesia. Gangguan jiwadapat menyerang semua usia. Sifat serangan
penyakitnya biasanya akut dan bisa kronis atau menahun. Di masyarakat ada
stigma bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang sulit disembuhkan,
memalukan dan aib bagi keluarganya. Pandangan lain yang beredar di
masyarakat bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh guna-guna orang lain.
(Hawari,2003).
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak
sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat .Anak
dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan
pendidikan. Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari
lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling memengaruhi.
Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang
umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya.Pada gangguan otak
seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan

1
perubahan kepribadian.Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku
anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah,
maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.
1.2. Tujuan
a) Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan kejiawaan yang terjadi
pada manusia serta beberapa klasifikasi yang terkait dengan gangguan
kejiwaan seperti Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Awitan
biasanya pada masa kanak dan remaja.
b) Tujuan Khusus :
1) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan hiperkinetik
2) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan tingkah Laku
3) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguancampuran tingkah laku
dan emosi
4) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan emosional dengan
awitan khas pada masa kanak dan remaja
5) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan fungsi social dengan
awitan khas pada masa kanak dan remaja
6) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan TIK
7) Mahasiswa dapat mengetahui tentang gangguan perilaku dan
emosional lainnya dengan awitan khas biasanya pada masa kanak dan
remaja

2
BAB II

(PEMBAHASAN)

GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN AWITAN


BIASANYA PADA MASA KANAK DAN REMAJA

2.1. F90 Gangguan Hiperkinetik


Ciri - ciri utama ialah berkurangnya perhatian dan aktivitas berlebihan.
Kedua ciri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan haruslah nyata ada
pada lebih dari satu situasi (misalnya di rumah, di kelas)
Berkurangnya perhatian tampak jelas dari terlalu dini dihentikannya
tugas dan ditinggalkannya suatu kegiatan sebelum tuntas selesai. Anak-anak
ini seringkali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain, rupanya kehilangan
minatnya terhadap tugas yang satu, karena perhatiannya tertarik pada kegiatan
lainnya (sekalipun kajian laboratorium pada umumnya tidak menunjukkan
adanya derajat gangguan sensorik atau perseptual yang tidak biasa).
Berkurangnya dalam ketekunan dan perhatian ini seharusnya hanya
didiagnosis bila sifatnya berlebihan bagi anak dengan usia atau IQ yang sama.
Hiperaktivitas dinyatakan dalam kegelisahan yang berlebihan,
khususnya dalam situasi yang menuntut keadaan relatif tenang. Hal ini
tergantung dari situasinya, mencakup anak itu berlari-lari atau berlompat-
lompat sekeliling ruangan, ataupun bangun dari duduk/kursi dalam situasi
yang menghendaki anak itu tetap duduk, terlalu banyak bicara dan ribut, atau
kegugupan/kegelisahan dan berputar-putar (berbelit-belit). Tolak ukur untuk
penilaiannya adalah bahwa suatu aktivitas disebut berlebihan dalam konteks
apa yang diharapkan pada suatu situasi dan dibandingkan dengan anak-anak
lain yang sama umur dan nilai IQ-nya. Ciri khas perilaku ini paling nyata di
dalam situasi yang berstruktur dan diatur yang menuntut suatu tingkat sikap
pengendalian diri yang tinggi.
Gambaran penyerta tidaklah cukup bahkan tidak tidak diperlukan bagi
suatu diagnosis, namun demikian ia dapat mendukung. Kecerobohan dalam
hubungan-hubungan sosial, kesembronoan dalam situasi yang berbahaya dan
sikap yang secara impulsif melanggar tata tertib sosial (yang diperlihatkan

3
dengan mencampuri urusan atau mengganggu kegiatan orang lain, terlampau
cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum lengkap diucapkan orang,
atau tidak sabar menunggu gilirannya), kesemuanya merupakan ciri khas dari
anak-anak dengan gangguan ini.
Gangguan belajar serta kekakuan motorik sangat sering terjadi dan
haruslah dicatat secara terpisah (dibawah F80-F89) bila ada; namun demikian
tidak boleh dijadikan bagian dari diagnosis aktual mengenai gangguan
hiperkinetik yang sesungguhnya.

Gejala-gejala dari gangguan tingkah lakubukan merupakan kriteria


eksklusi ataupun kriteria inklusi untuk diagnosis utamanya, tetapi ada tidaknya
gejala-gejala itu dijadikan dasar untuk subdivisi utama dari gangguan tersebut.

a) F90.0 Gangguan aktivitas & perhatian


b) F90.1 Gangguan tingkah laku hiperkinetik
c) F90.8 Gangguan hiperkinetik lainnya
d) F90.9 Gangguan hiperkinetik YTT
2.2. F91 Gangguan Tingkah Laku
- Ciri inti dari gangguan konduksi (tingkah laku) adalah pola perilaku yang
berulang dan menetap dimana hak dasar orang lain atau norma sosial yang
sesuai dengan usia dilanggar.
- Perilaku harus ditemukan selama sekurangnya enam bulan untuk dapat
memenuhi persyaratan diagnosis.
- Sering menggertak, mengancam atau mengintimidasi orang lain dan sering
keluar malam walaupun dilarang orang tua.
- Dimulai sebelum usia 13 tahun.
Epidemiologi :
a) Sering ditemukan selama masa remaja dan masa anak-anak.
b) 6 16 persen laki-laki.
c) 2 9 persen perempuan.
d) Lebih sering laki-laki.
e) Orang tua memiliki gangguan kepribadian antisosial dan
ketergantungan alkohol.
f) Berhubungan dengan faktor sosial ekonomi.
Etiologi :
Multifaktorial.
1) Faktor parental :
- Sikap orang tua dan cara membesarkan anak yang salah.

4
- Kondisi rumah yang kacau, penyiksaan anak, penelantaran anak.
2) Faktor sosiokultural :
- Anak-anak yang kekurangan secara sosioekonomi dipaksa
untuk mengambil jalan yang tidak dapat diterima.
3) Faktor psikologi :
- Anak-anak yang dibesarkan dalam kondisi yang kacau dan
ditelantarkan marah, mengacau, menuntut, tidak toleran.
- Sedikit motivasi untuk mengikuti norma masyarakat dan relatif
tanpa penyesalan.
4) Faktor neurobiologis :
- Kadar dopamin rendah dan serotonin tinggi dalam darah.
5) Penyiksaan dan penganiayaan anak :
- Anak yang mengalami kekerasan dan penyiksaan fisik agresif.
Terapi :

1) Multimodalitas.
2) Psikoterapi individu.
3) Farmakoterapi antipsikotik, carbamazepin dan clonidine.

Sub Diagnostik

1) Gangguan tingkah laku yang terbatas pada lingkungan keluarga


(F91.0)
2) Gangguan tingkah laku tak berkelompok (F91.1)
3) Gangguan tingkah laku berkelompok (F91.1)
4) Gangguan sikap menentang (membangkang) (F91.3)
5) Gangguan tingkah laku lainnya (F91.8)
2.3. F92 Gangguan Campuran Tingkah Laku dan Emosi
Pedoman Diagnosis
- Ciri khas dari kelompok gangguan ini ialah adanya gabungan dari perilaku
agresif, dissosial, atau menentang yang menetap dengan gejala yang nyata
dari depresif, ansietas atau gangguan emosional lainnya.
- Gangguan ini harus cukup berat untuk dapat memenuhi kriteria gangguan
tingkah laku pada masa kanak (F91) dan gangguan emosional pada masa
kanak (F93) atau bentuk gangguan neurotik pada masa dewasa (F40-F49)
atau gangguan suasana perasaan/mood (F30-F39).

F92.0 Gangguan Tingkah Laku Depresif

5
- Kombinasi dari gangguan tingkah laku masa kanak (F91) dengan keadaan
depresif yang berkelanjutan dan menetap, yang dinyatakan dalam gejala
seperti duka nestapa yang berlebihan, hilangnya minat dan kesenangan
terhadap kegiatan yang sehari-hari, sikap menyesali diri sendiri dan
keputus asaan. Sering juga mengalami susah tidur atau kurang nafsu
makan.
2.4. F93 Gangguan Emosional dengan Awitan Khas pada Masa Kanak
dan Remaja
a) F93.0 Gangguan Ansietas Perpisahan pada Masa Kanak
Ciri khas adanya ansietas berlebihan yang terfokus dan berkaitan dengan
perpisahan dari tokoh yang akrab hubungannya dengan si anak (lazimnya
orang tua atau kerabat akrab lainnya)
b) F93.1 Gangguan Ansietas Fobik Masa Kanak
Kategori ini hanya berlaku terhadap rasa takut yang khas timbul pada
suatu fase perkembangan yang spesifik pada anak.
Adanya kecemasan irasional terhadap benda-benda atau kejadian tertentu
yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

c) F93.2 Gangguan Ansietas Sosial Masa Kanak


Kategori ini hanya berlaku bagi gangguan yang timbul sebelum usia 6
tahun., yang tidak lazim derajatnya dan disertai aneka masalah berkenaan
dengan fungsi secara sosial dan yang tidak merupakan bagian dari
gangguan emosional yang bersifat lebih menyeluruh.
Anak dengan gangguan ini senantiasa dan berulang kali mengalami rasa
was- was dan takut dan menghindari orang yang tak dikenal. Rasa
takutnya dapat timbul hanya terhadap orang dewasa, atau hanya dengan
teman sebaya atau dengan kedua kelompok itu. Rasa takut itu
berhubungan dengan kelekatan yang selektif dengan orang tuanya atau
dengan orang yang lain yang akrab. Kecenderungan menghindar atau rasa
takut terhadap perpisahan sosial melebihi batas normal bagi anak seusia itu
dan berhubungan dengan masalah fungsi sosial yang secara klinis
bermakna.
d) F93.3 Gangguan Persaingan Antar Saudara (Sibling Rivalry)
Ciri khas dari gangguan ini mencakup gabungan dari:

6
- Bukti adanya rasa persaingan dan/atau iri hati terhadap saudara
- Awitan selama beberapa bulan setelah kelahiran adik (terutama adik
kandung)
- Gangguan emosional melampaui taraf normal dan/atau berkelanjutan
dan berhubungan dengan masalah psikososial.

Rasa persaingan/iri hati antar saudara mungkin ditandai oleh upaya


bersaing yang nyata antar saudara untuk merebut perhatian atau cinta
orang tuanya. Untuk menjadi abnormal persaingan itu harus ditandai oleh
perasaan negatif yang berlebihan. Dalam kasus yang berat persaingan ini
mungkin disertai oleh rasa permusuhan yang terbuka, trauma fisik
dan/atau sikap jahat, dan upaya menjegal saudaranya. Dalam kasus yang
ringan rasa persaingan/iri hati itu dapat terlihat dari keengganan berbagi,
kurangnya pandangan positif, dan langkanya interaksi yang ramah.

2.5. F94 Gangguan Fungsi Sosial dengan Awitan Khas pada Masa Kanak
dan Remaja
Ini merupakan kelompok gangguan yang agak heterogen, yang
keseluruhannya sama-sama mencakup gangguan fungsi sosial yang berada
pada kurun masa perkembangan, (namun berbeda dengan gangguan
perkembangan pervasif) terutama tidak ditandai oleh suatu tidak mampuan
atau defisit konstitusi sosial yang nyata yang mencakup keseluruhan fungsi.
a) F94.0 Mutisme Selektif
- Ciri khas kondisi ini adalah selektifitas yang ditentukan secara
emosional dalam berbicara, dimana anak itu menunjukkan
selektifitasnya dalam hal kemampuan bertutur kata dalam situasi-
situasi tertentu, namun tidak mampu melakukannya dalam beberapa
situasi (khas tertentu) lainnya.
- Anak tenang dalam situasi membisunya, tetapi ada beberapa anak
berbisik dan menggunakan kata-kata dengan suku kata tunggal.
- Walaupun tidak bicara, beberapa berkomunikasi dengan kontak mata
dan isyarat non verbal.
b) F94.1 Gangguan Kelekatan Reaktif Masa Kanak

7
Pada kondisi ini terdapat pola abnormal dalam hubungan anak dengan para
pengasuhnya yang timbul sebelum anak mencapai usia 5 tahun, yang
meliputi ciri-ciri maladaptif yang lazimnya tidak dilihat pada anak-anak
normal, dan yang tetap berlanjut namun reaktif terhadap perubahan yang
cukup jelas pola asuhnya.
c) F94.2 Gangguan Kelekatan Tak Terkendali Masa Kanak
Pada gangguan ini didapati adanya pola kelekatan selektif yang kabur
selama 5 tahun pertama kehidupan anak dan umumnya berhubungan
dengan perilaku melekat sewaktu masa bayi dan/atau perangai ramah
terhadap semua orang, dan perilaku menarik perhatian pada masa dini atau
pertengahan usia anak. Biasanya akan mengalami kesulitan dalam
membina hubungan akrab dan saling percaya dengan kelompok teman
sebaya.

8
2.6. F95 Gangguan TIK
Ciri khas yang membedakan Tik dari gangguan motorik lainnya adalah
gerakan yang mendadak, cepat, sekejap dan terbatasnya gerakan tanpa bukti
gangguan neurologis yang mendasarinya; sifatnya berulang-ulang; biasanya
berhenti saat tidur dan mudahnya gejala itu menimbulkan kembali atau
ditekan dengan kemauan. Tik seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal,
namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khusunya
fenomena obsesi dan hipokondrik. Beberapa jenis gangguan yang masuk
dalam kategori ini adalah :
a) F95.0 Gangguan TIK Sementara
Merupakan bentuk yang paling sering ditemukan pada anak usia 4-5
tahun, biasa berupa kedipan mata, muka menyeringai, atau kedutan kepala.
Pada sebagian kasus hanya episode tunggal, namun pada beberapa kasus
lain hilang timbul selama beberapa bulan.
b) F95.1 Gangguang TIK Motorik dan Vokal Kronik
Ciri khas adanya tik motorik atau vokal (namun bukan kedua-duanya). Tik
dapat tunggal atau multipel.
c) F95.2 Gangguan Campuran TIK Motorik dan Vokal Multipel
(Sindrom De La Tourette)
Ciri khas adanya tik motorik multipel dengan satu atau beberapa tik vokal
yang tidak harus timbul secara serentak dan dalam riwayatnya hilang
timbul. Awitan hampir selalu terjadi pada masa kanak atau remaja.
Pada kondisi ini ditemukan adanya tik motorik yang multipel dan adanya
satu atau lebih tik vokal pada saat yang bersamaan walaupun tidak timbul
bertumpang tindih. Tik terjadi beberapa kali sehari, serta timbul hampir
setiap hari. Gejala ini terjadi dalam periode 1 tahun atau lebih. Dalam
kurun waktu tersebut, tidak pernah ditemukan adanya waktu bebas tik
selama 3 bulan berturut-turut.

9
2.7. F98 Gangguan Perilaku dan Emosional Lainnya dengan Awitan Khas
Biasanya pada Masa Kanak dan Remaja
Merupakan sekelompok gangguan heterogen yang seringkali berhubungan
dengan masalah psikososial. Dalam kategori ini termasuk :
a) F98.0 Enuresis Non Organik
Merupakan suatu gangguan yang ditandai dengan buang air seni tanpa
kehendak, pada siang dan/atau malam hari, yang tidak sesuai dengan usia
mental anak, dan bukan akibat kurangnya pengendalian kandung kemih
akibat gangguan neurologis, serangan epilepsi, atau kelainan struktural
pada saluran kemih.
b) F98.1 Enkopresis Non Organik
Pada kondisi ini terjadi pengeluaran tinja secara tidak layak. Kondisi ini
dapat timbul dengan berbagai cara seperti :
1) Latihan toilet yang tidak sempurna
2) Adanya gangguan psikologis dengan pengendalian fisiologis BAB
yang normal tetapi karena adanya keengganan, perlawanan atau
kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial untuk buang
air besar di tempat yang layak
3) Akibat retensi fisiologis, yang bertumpuk pada perlekatan tinja di
tempat yang tidak layak.
c) F98.2 Gangguan Makan Masa Bayi dan Kanak
Gangguan makan dengan berbagai manifestasi biasanya spesifik pada
masa bayi dan kanak. Pada umumnya meliputi penolakan makanan dan
rewel menghadapi makanan yang memadai dari pengasuh yang baik, tanpa
penyakit organik.
d) F98.3 Pika Masa Bayi dan Kanak
Gejala pika adalah terus-menerus makan zat yang tidak bergizi (tanah,
serpihan cat, dsb). Pika dapat timbul sebagai salah satu gejala dari
sejumlah gangguan psikiatrik yang luas (seperti autisme), atau sebagai
perilaku psikopatologis yang tunggal. Fenomena ini paling banyak
ditemukan pada anak dengan retardasi mental.
e) F98.4 Gangguan Gerakan Stereotipik
Merupakan aneka gerakan yang volunter, berulang, stereotipik, non-
fungsional (dan lebih sering bersifat ritmik), dan bukan merupakan bagian
dari suatu kondisi psikiatrik atau neurologis yang dikenal.
f) F98.5 Gagap

10
Cara berbicara yang ditandai dengan pengulangan suara atau perpanjangan
suku kata atau kata, atau sering gugup atau terhenti sehingga mengganggu
irama alur bicara. Harus digolongkan sebagai gangguan hanya bila
keparahannya sangat mengganggu kelancaran berbicara.
g) F98.6 Berbicara Cepat dan Tersendat
Cara berbicara cepat dengan gangguan kelancaran alurnya, namun tanpa
pengulangan atau kegugupan, dengan derajat yang cukup parah sehingga
menyebabkan kurang jelasnya ucapan.
Bicaranya kurang menentu dan kurang berirama, dengan letupan cepat,
tersendat-sendat yang biasanya meliputi pola pengungkapan yang keliru,
antara lain berbicara cepat lalu tersendat sendat silih berganti,
menghasilkan kelompok kata-kata yang kurang teratur susunan tata
bahasanya.

11
BAB III
(PENUTUP)
3.1. Kesimpulan
Gangguan perillaku dan emosional dengan awitan biasanya pada masa kanak
dan remaja yang merupakan salah satu gangguan yang dapat terjadi pada masa
kanak remaja dan perkembangan. Gangguan perilaku dan emosional ini terjadi
disebabkan oleh berbagai factor resiko, antara lain factor biologis, factor
psikologis, pengaruh lingkungan yang mencakup orang tua, saudara-saudara,
dan teman-teman seusia, serta factor sosiologis seperti tingakat pendidikan
dan keadaan sosio-ekonomi keluaga.
3.2. Saran
Jadi dari gangguan perilaku dan emosional yang biasa terjadi pada anak dan
remaja diharapkan kepada orang tua atau orang sekitar agar tidak melakuan
kekerasan terhadap anak dan mencontohkan perilaku baik terhadap mereka
karena akan berdampak buruk pada anak sehingga anak tersebut dapat
berperilaku yang tidak baik dan mudah emosional seperti sering bolos dari
sekolah, lari dari rumah dan kejam terhadap hewan atau sesama teman

12
DAFTAR PUSTAKA

Mangindaaan L. Buku Ajar Psikiatri: Diagnosis Psikiatrik. Jakarta: Penerbit


FKUI; 2010. P. 71-83.
Panduan Pelayanan Medis Departemen Psikiatri RSUP Nasional Dr.Cipto
Mangunkusumo, 2007
Tomb DA. Buku Saku Psikiatri: Klasifikasi Psikiatrik. Gangguan Psikososial.
6thed. Jakarta: EGC; 2000. P. 3, 218
WHO. ICD-10 Classification of Mental and Behavioural. Geneva: WHO; 2005. P.
8-21.
WHO. Multiaxial Presentation of The ICD-10 for use in Adult Psychiatry:
Glossary of Clinical Diagnoses.United States of America: Cambridge
University Press; 2007. P. 37.

13