Anda di halaman 1dari 9

PENYAKIT TROPIS

JENIS-JENIS CACING YANG MENGINFEKSI TUBUH


MANUSIA

Nama : Muh. Ikhsan Fadli Nanlohy

Nim : K1A2 14 027

Konsentrasi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran

Universitas Halu Oleo

Kendari

2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Helmintologi adalah ilmu yang mempelajari khusus tentang cacing.
Cacing dalam bahasa ilmiahnya disebut sebagai Helminthes, berasal dari
Bahasa Yunani Helmins atau Helminthos (Greek) yang secara umum berarti
organisme yang tubuhnya memanjang dan lunak. Dalam perkembangan
selanjutnya, bahwa helmintologi juga mempejari tentang penyakit-penyakit
yang diakibatkan oleh cacing. Oleh karena itu adapula yang mengatakan
bahwa helmintologi masuk dalam ketegori parasitologi, atau ilmu yang
mempelajari tentang penyakit yang disebabkan oleh parasit.

Cacing-cacing yang menjadi parasit manusia dapat menyebabkan infeksi


dan penyakit-penyakit yang ringan hingga parah, penyakit yang biasa terjadi
adalah cacingan yang dapat mengganggu kelangsungan hidup dan
kesejahteraan manusia.

Penyakit kecacingan masih sering dijumpai di seluruh wilayah Indonesia.


Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing ini tergolong penyakit yang
kurang mendapat perhatian, sebab masih sering dianggap sebagai penyakit
yang tidak menimbulkan wabah maupun kematian. Walaupun demikian,
penyakit kecacingan sebenarnya cukup membuat penderitanya mengalami
kerugian, sebab secara perlahan adanya infestasi cacing di dalam tubuh
penderita akan menyebabkan gangguan pada kesehatan mulai yang ringan,
sedang sampai berat yang ditunjukkan sebagai manifestasi klinis
diantaranya :

Berkurangnya nafsu makan


Rasa tidak enak di perut
Gatal gatal
Alergi
Anemia
Kekurangan gizi
Pneumonitis
Syndrome Loeffler
dll.
Terjadinya penyakit kecacingan seringkali dihubungkan dengan kondisi
lingkungan penderita, sosio-ekonomi penderita serta tingkat pendidikan
penderita.

Masalah penyakit kecacingan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan


iklim dan kebersihan diri perorangan, rumah maupun lingkungan sekitarnya
serta kepadatan penduduk yang tinggi. Pada saat musim hujan, udara yang
lembab, rumah yang berlantai tanah, pengetahuan sanitasi kesehatan yang
rendah merupakan faktor penyebab tingginya kejadian penyakit kecacingan.
Contohnya infeksi oleh nematoda usus biasanya berkaitan dengan jeleknya
hygiene. Infeksi ini selalu ada terutama di daerah tropis dan subtropis.
Serangan cacing dalam jumlah sedikit biasanya asimptomatis tetapi infeksi
yang berat dapat menimbulkan masalah yang serius terutama pada anak
anak yang biasanya diikuti oleh terhambatnya perkembangan anak.
( Greenwood D, 2007 ; Brooks GF,2006)

Infeksi parasit Helmint dapat menimbulkan banyak penyakit yang dapat


mengganggu kelangsungan hidup manusia, yang akan berakibat kesehatan
menjadi menurun, kemunduran pertumbuhan fisik dan perkembangan
intelektual yang berdampak terhadap pendidikan, aktivitas sehari-hari
menjadi terganggu, keadaan fisik dan mental terganggu, pertumbuhan
menjadi tidak optimal, sehingga akan menyebabkan kesejahteraan manusia
terganggu.

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana jenis-jenis cacing yang menginfeksi tubuh manusia

C. TUJUAN

Untuk mengetahui jenis cacing yang menginfeksi tubuh manusia


BAB II

PEMBAHASAN

A. Jenis-Jenis Cacing Yang Menginfeksi Tubuh Manusia

1. Ascariasis

Merupakan penyakit endemic di daerah tropis dan subtropis tetapi secara


sporadis dapat terjadi di seluruh dunia. Penduduk pedesaan dengan kondisi
sanitasi yang buruk mempunyai resiko yang tinggi terhadap infeksi cacing
ini. Orang dewasa biasa terinfeksi karena makan sayur mentah yang
terkontaminasi oleh telur cacing ini baik dari feces penderita maupun dari
tanah yang tercemar feces penderita, sedangkan pada anak anak biasa
terinfeksi dengan jalan tangan ke mulut ( hand to mouth) atau karena
kebiasaan mengulum benda benda atau mainan yang terkontaminasi telur
cacing ini. Pemakaian sepatu dan sistim pembuangan feces yang memenuhi
syarat menurunkan tingkat infeksi. (Joklik WK, 1992 ; Natadisastra D dan
Agoes R, 2009 ; Neva A and Brown HW, 1994)

2. Infeksi cacing tambang

Gejala infeksi cacing tambang dapat disebabkan oleh larva maupun


cacing dewasa. Pada saat larva menembus kulit terbentuk maculopapula dan
erithema yang sering disertai rasa gatal (ground itch). Migrasi larva ke paru
dapat menimbulkan bronchitis atau pneumonitis. Cacing dewasa yang
melekat dan melukai mukosa usus akan menimbulkan perasaan tidak enak
di perut, mual dan diare. Seekor cacing dewasa mengisap darah 0,2 0,3
ml/hari, sehingga dapat menimbulkan anemia progresif, hypokromik,
mikrositer, type efisiensi besi. Biasanya gejala klinik timbul setelah tampak
adanya anemi, pada infeksi berat, haemoglobin dapat turun hingga 2 gr %,
sesak nafas, lemah dan pusing kepala. Kelemahan jantung dapat terjadi
karena perubahan pada jantung yang berupa hypertropi, bising katub serta
nadi cepat. Infeksi pada anak dapat Insiden kecacingan akibat cacing
tambang cukup tinggi di Indonesia, kasus penyakit ini banyak ditemukan di
daerah pedesaan, khususnya pada pekerja di daerah perkebunan yang
kontak langsung dengan tanah. Penyebaran infeksi cacing tambang ini
berhubungan erat dengan kebiasaan Buang Air Besar di tanah. Kondisi tanah
yang gembur , berpasir dan temperature sekitar 23 - 32C merupakan
tempat yang paling sesuai untuk pertumbuhan larvanya. (Onggowaluyo JS,
2001)

3. Strongylidiasis

Infeksi yang ringan biasanya tidak menimbulkan gejala, pada infeksi


sedang cacing dewasa betina yang bersarang dalam mukosa duodenum
menyebabkan perasaan terbakar, menusuk-nusuk di daerah epigastrium,
disertai rasa mual , muntah, diare bergantian dengan konstipasi. Pada infeksi
berat dan kronis mengakibatkan berat badan turun, anemi, disentri menahun
serta demam ringan yang disebabkan infeksi bakteri sekunder pada lesi
usus. Kematian dapat terjadi akibat bersarangnya cacing betina di hampir
seluruh epithel usus, meliputi daerah lambung sampai ke daerah colon
bagian distal yang disertai infeksi sekunder bakteri. (Natadisastra D dan
Agoes R, 2009)

4. Trichuriasis

Paling sering menyerang anak usia 1 5 tahun, infeksi ringan biasanya


tanpa gejala. Pada infeksi berat, cacing tersebar ke seluruh colon dan rectum
kadang-kadang terlihat pada mucosa rectum yang prolaps. Infeksi kronis
dan sangat berat menunjukkan gejala-gejala anemia berat, Hb rendah sekali
dapat mencapai 3 gr%, karena seekor cacing setiap hari menghisap darah
0,005 cc, diare dengan feses sedikit dan mengandung sedikit darah, sakit
perut, mual, muntah serta berat badan menurun, kadang-kadang disertai
prolapsus recti. (Joklik WK, 1992 ; Natadisastra D dan Agoes R, 2009 ; Neva A
and Brown HW, 1994)

5. Oxyuriasis

Gejala terpenting ialah pruritis ani dan vulva. Anak sering menangis
dimalam hari karena lubang anusnya gatal.

6. Filariasis

Cacing dewasa dalam pembuluh limfe menyebabkan proliferasi endotel.


Infiltrasi eosinofil, makrofag, limfosit, dan sel-sel raksasa yang menimbulkan
obstruksi, infeksi sekunder, fibrosis dan kalsifikasi.

7. Fasciolasis

Perjalanan cacing imatur melewati hati dapat menimbulkan iritasi


mekanik dan toksik dengan toksemia nekrosis dan fibrosis sekunder.
Perkembangan dalam saluran empedu menimbulkan perbesaran kialik,
hiperplasia endotel dan adenomata, infiltrasi radang sekunder yang
menimbulkan fibrosis dan kolangitis. Dapat terjadi infeksi sekunder bakteri
yang menimbulkan abses, eosinifilia jelas. Cacing dapat dijumpai ektopik di
paru, otak, mata, dsb
BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Infeksi akibat parasit Helminth dapat menurunkan kesejahteraan


manusia, terutama manusia yang berada pada lingkungan yang tidak
menjaga kebersihan, sanitasi tidak baik, sering buang air besar
sembarangan, tempat tinggal kumuh, memasak makanan dengan kurang
baik, kalangan ekonomi rendah dan kurang pengetahuan tentang menularan
infeksi cacing. Dapat pula menyebabkan gangguan pertumbuhan, status gizi
yang buruk dan daya kognitif yang rendah pada anak (Bundy dkk, 2002).
Selain itu faktor iklim, tingkat pendidikan dan sosio-ekonomi juga
mempengaruhi tejadinya infeksi cacing, contohnya negara Indonesia
merupakan daerah beriklim tropis dengan kelembaban yang tinggi serta
suhu yang menunjang perkembangan biakan larva maupun telur cacing.
Tingkat pendidikan, penduduk Indonesia sebagian besar masih tinggal di
desa-desa dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga pengertian
terhadap kebersihan pribadi dan kesehatan pribadi serta lingkungan
sangatlah rendah, misalnya kebiasaan buang besar di sembarang tempat
(ditanah), tidak menggunakan alas kaki dalam kegiatan sehari-hari di luar
rumah dan sering sekali tidak mencuci tangan sebelum makan. Sosio-
ekonomi, sebagian besar masyarakat Indonesia, berpenghasilan rendah, hal
ini menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk menyediakan sanitasi
perorangan maupun lingkungan akibatnya banyak terjadi infeksi seperti
ascariasis, trichuriasis, oxyuriasis, dll.

B. SARAN
Supaya infeksi parasit ini dapat menurun cara yang tepat untuk
menanggulangi dan memberantas parasit adalah dengan cara :

Memutus lingkaran hidup cacing


Mengobati penderita dan Pengobatan masal secara periodik
Perbaikan kesehatan lingkungan
Penyuluhan kesehatan masyarakat
Memperbaiki cara dan sarana pembuangan feses
Mencegah kontaminasi tangan dan juga makanan dengan tanah
dengan cara cuci bersih sebelum makan
Mencuci dan memasak sayur-sayuran dengan baik,
Menghindari pemakaian feses sebagai pupuk

sehingga masyarakat akan lebih sehat, lingkungan menjadi bersih dan


kesejahteraan manusia kembali membaik.
DAFTAR PUSTAKA
Palgunadi, Bagus Uda. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian
kecacingan yang disebabkan oleh soil-transmitted helminth di Indonesia.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Safar, Rosdiana. 2010. Parasitologi Kedokteran edisi khusus. Bandung :


Yrama Widya

Sumanto D. 2010. Faktor Risiko Infeksi Cacing Tambang pada Anak


Sekolah (Studi Kasus Kontrol di Desa Rejosari, Karangawen, Demak.
Tesis.Program Studi Magister Epidemiologi Pasca Sarjana Universitas
Diponegoro.