Anda di halaman 1dari 5

Sistem Proyeksi TM3 & UTM

Di Indonesia sistem proyeksi yang di gunakan antara lain:

Sistem proyeksi TM 3

Di berlakukan di Instansi BPN berdasarkan pasal 3 PMNA tahun 1997

Sistem proyeksi UTM

Di berlakukan di Instansi BAKOSURTANAL berdasarkan Surat Keputusan


Ketua BAKORSUTANAL No.019.202/1975

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997, sistem


koordinat nasional menggunakan sistem koordinat proyeksi Transverse Mercator
Nasional dengan lebar zone 3 atau disingkat TM3 . Berdasarkan Peraturan
Pemerintah tersebut, sistem koordinat TM3 memiliki ketentuan ketentuan sebagai
berikut
1. Meridian sentral zone TM-3 terletak 1,5 derajat di timur dan barat meridian
sentral zone UTM yang bersangkutan
2. Besaran faktor skala di meridian sentral yang digunakan dalam Zone TM-3 adalah
0,9999
3. Titik nol semu yang digunakan mempunyai koordinat (X) = 200.000 m barat
dan (Y) = 1.500.000 m selatan.
4. Model matematik bumi sebagai bidang referensi adalah spheroid pada datum WGS-
1984 dengan parameter a = 6.378.137 meter dan f = 1 / 298,25722357

World Geodetic System 1984 (WGS 84) selanjutnya dikenal juga dengan
Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN 95). Selengkapnya, datum ini mempunyai
parameter sebagai berikut :
1. Jari-jari ekuator (a) = 6.378.137 m
2. Penggepengan (f) = 1 / 298,257223573.
3. Setengah sumbu pendek (b) = 6.356.752,314 m
4. Jari-jari kutub (c) = 6.399.593,626 m
5. Eksentisitas I kuadrat (e ) = 0,006694380
6. Eksentrisitas II kuadrat (e' ) = 0,006739497
Perbedaan/Persamaan TM3 dan UTM adalah :

TM3 memiliki lebar zona 3 Derajat, sedangkan di UTM satu zona memiliki
lebar 6 Derajat.

Satu Zona UTM dibagi menjadi dua zona TM3. MisalnyaUTM Zona 50 dibagi
menjadi TM3 Zona 50.1 dan TM3 Zona 50.2

Proyeksi TM3 dan UTM sama-sama menggunakan Transverse Mercator


False Easting setiap zona di TM3 adalah 200000, sedangkan di UTM adalah 500000
False Northing setiap zona di TM3 adalah 1500000, sedangkan di UTM adalah 10000000
Central meridian di TM3 berbeda dengan UTM. Tetapi prinsipnya sama. Zona-zona UTM
dibagi dua, meridian di setiap zona yang dibagi dua tersebut otomatis menjadi Central
meridian
Scale Factor di TM3 adalah 0,9999 sedangkan di UTM adalah 0,9996
Latitude of Origin sama yaitu 0 (nol) derajat

Gambar 1. Pembagian Zona TM3

Gambar 2. Configuration Projection pada Global Mapper

Gambar 3. Setting Configuration projection


Gambar 4. Coordinat Convertor

hello :)
Theme credit
part time traveller full time dumber

SISTEM PROYEKSI PETA DI INDONESIA

By itsmeanin October 12

SISTEM PROYEKSI PETA DI INDONESIA

Ada dua instansi yang menggunakan sistem proyeksi Transverse Mercator untuk

Pemetaan dasar nasionalnya dengan sistem grid UTM, yaitu :

Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal)

Peta dasar Nasional yang di terbitkan oleh Bakosurtanal merupakan suatu seri peta yang
meliputi seluruh daerah Indonesia, terdiri dari dan beberapa sekala peta yaitu 1:25.000,
1:50.000, 1:100.000, 1:250.000.

Sistem proyeksi yang digunakan adalah Transverse Mercator dengan lebar zone 6 serta sistem
grid UTM.

Sumbu pertama adalah meridian tengah dari tiap zone, sedang sumbu keduanya adalah
ekuator.

Angka pembesaran pada me.160ridian tengah adaah sebesar 0,9996.


Model matematik bumi sebagai bidang referensi adalah Spheroid Nasional dengan parameter
a (jari-jari ekuator) = 6.378.160 meter, dan f (penggepengan) =1:298.247

Badan Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang sekarang berubah nama menjadi
Badan Informasi Geospasal

http://itsmeanin.tumblr.com/post/99810076089/sistem-proyeksi-peta-di-
indonesia

Sistem Koordinat merupakan kesepakatan tata cara menentukan posisi suatu tempat di muka bumi ini. Dengan adanya sistem koordinat,

masyarakat menjadi saling memehami posisi masing- masing di permukaan bumi. Dengan sistem koordinat pula, pemetaan suatu wilayah

menjadi lebih mudah.

Saat ini terdapat dua sistem koordinat yang biasa digunakan di Indonesia, yaitu system koordinat BUJUR- LINTANG dan

sistem koordinat UTM (Universal TransverseMercator). Tidak semua sistem koordinat cocok untuk dipakai di semua wilayah.

Sistem koordinat bujur-lintang tidak cocok digunakan di tempat-rempat yang berdekatan dengan kutub sebab garis bujur akan

menjadi terlalu pendek. Tetapi, kedua sistem koordinat tersebut cocok digunakan di Indonesia.

Sistem koordinat bujur-lintang (atau dalam bahasa Inggris disebut Latitude-Longitude), terdiri dari dua komponen yang

menentukan, yaitu :

1. Garis dari atas ke bawah (vertikal) yang menghubungkan kutub utara dengan kutub selatan bumi, disebut juga garis

lintang (Latitude).

2. Garis mendatar (horizontal) yang sejajar dengan garis khatulistiwa, disebut juga garis bujur (Longitude).

Sistem Koordinat UTM (Universal Transverse Mercator)

Koordinat Universal Transverse Mercator atau biasa disebut dengan UTM, memang tidak terlalu dikenal di Indonesia karena

lebih sering menggunakan koordinat bujur-lintang.

Pembagian Zona Dalam Koordinat UTM

Seluruh wilayah yang ada di permukaan bumi dibagi menjadi 60 zona bujur. Zona 1 dimulai dari lautan teduh (pertemuan

antara garis 180 Bujur Barat dan 180 Bujur Timur), menuju ke timur dan berakhir di tempat berawalnya zona 1. Masing-masing

zona bujur memiliki lebar 6 (derajat) atau sekitar 667 kilometer. Garis lintang UTM dibagi menjadi 20 zona lintang dengan

panjang masing-masing zona adalah 8 (derajat) atau sekitar 890 km. Zona lintang dimulai dari 80 LS - 72 LS diberi nama zona

C dan berakhir pada zona X yang terletak pada koordinat 72 LU - 84 LU. Huruf (I) dan (O) tidak dipergunakan dalam

penamaan zona lintang. Dengan demikian penamaan setiap zona UTM adalah koordinasi antara kode angka (garis bujur) dan
kode huruf (garis lintang). Sebagai contoh kabupaten Garut terletak pada zona 47M dan 48M, Kabupaten Jember terletak di

zona 49M.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Koordinat UTM

Berikut ini adalah beberapa kelebihan koordinat UTM :

Proyeksinya (sistem sumbu) untuk setiap zona sama dengan lebar bujur 6 .

Transformasi koordinat dari zona ke zona dapat dikerjakan dengan rumus yang sama untuk setiap zona di seluruh dunia.

Penyimpangannya cukup kecil, antara... -40 cm/ 1000m sampai dengan 70 cm/ 1000m.

Setiap zona berukuran 6 bujur X 8 lintang (kecuali pada lintang 72 LU-84 LU memiliki ukuran 6 bujur X 12 lintang).
http://geoenviron.blogspot.co.id/2014/05/sistem-koordinat-dan-proyeksi-
peta.html

Beberapa Sistem Proyeksi yang lazim digunakan di Indonesia adalah : Proyeksi


Marcator, Tranverse Mercator, Universal Tranverse Mercator (UTM) serta Kerucut
Konformal. Masing-masing sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan,
dan pemilihan proyeksi umumnya didasarkan pada tujuan peta yang akan
dibuat. Peta-peta produksi Dinas Hydro Oseanografi (dishidros) umumnya
menggunakan proyeksi Tranverse Mercator dengan sistem koordinat Geografi
atau UTM. Sedangkan peta-peta produksi Bakosurtanal umumnya menggunakan
proyeksi UTM.

http://gis-advntr.blogspot.co.id/2009/03/sistem-koordinat-dan-proyeksi-peta.html