Anda di halaman 1dari 4

Peran Farmasis atau Apoteker dalam

1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

A. Latar Belakang
Gerakan Scaling Up Nutrition (SUN Movement) merupakan gerakan global di
bawah koordinasi Sekretaris Jenderal PBB. Gerakan ini merupakan respon negara-negara di
dunia terhadap kondisi status pangan dan gizi di sebagian besar negara berkembang dan
akibat lambat dan tidak meratanya pencapaian sasaran Tujuan Pembangunan
Milenium/MDGs (Goal 1). Pencapaian sasaran goal 1 juga berpengaruh terhadap pencapaian
goal MDGs lainnya terutama Goal 2, Goal 3, Goal 4, Goal 5, dan Goal 6.
Tujuan Global SUN Movement adalah menurunkan masalah gizi, dengan fokus pada
1000 hari pertama kehidupan (270 hari selama kehamilan dan 730 hari dari kelahiran sampai
usia 2 tahun) yaitu pada ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia 0-23 bulan. Indikator Global
SUN Movement adalah penurunan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), anak balita pendek
(stunting), kurus (wasting), gizi kurang (underweight), dan gizi lebih (overweight).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas tahun 2010), persentase BBLR di
Indonesia sebesar 8,8 persen, anak balita pendek sebesar 35,6 persen, anak balita kurus
sebesar 13,3 persen, anak balita gizi kurang sebesar 17,9 persen, dan anak balita gizi lebih
sebesar 12,2 persen. Dengan demikian Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, di satu
pihak mengalami kekurangan gizi di pihak lain mengalami kelebihan gizi.
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi tersebut diatas, dalam jangka
pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik,
dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan, dalam jangka panjang akibat buruk
yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya
penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan
disabilitas pada usia tua. Kesemuanya itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia
Indonesia, produktifitas, dan daya saing bangsa
Untuk mengatasi masalah ini Indonesia telah menyepakati untuk menjadi bagian dari
Gerakan SUN Movement sejak bulan Desember 2011, melalui penyampaian surat
keikutsertaan dari Menteri Kesehatan kepada Sekjen PBB. Saat ini jumlah negara yang
bergabung dalam Gerakan SUN sebanyak 28 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia
Gerakan SUN Movement disebut dengan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam
Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan disingkat menjadi Gerakan 1000 Hari Pertama
Kehidupan Gerakan 1000 HPK. Untuk merumuskan Gerakan 1000 HPK di Indonesia
telah dilakukan serangkaian kegiatan melibatkan pemangku kepentingan utama yang terdiri
dari Kementerian dan Lembaga, dunia usaha, mitra pembangunan internasional, lembaga
sosial kemasyarakatan, dan didukung oleh organisasi profesi, perguruan tinggi, serta media.
Gerakan 1000 HPK terdiri dari intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive.
Intervensi spesifik, adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan
khusus untuk kelompok 1000 HPK. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor
kesehatan, seperti imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di
Posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI Eksklusif, MP-ASI dan
sebagainya. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu
relatif pendek.
1000 HPK atau Seribu Hari Pertama Kehidupan adalah masa awal kehidupan yang
dimulai saat di dalam kandungan sampai 2 tahun pertama setelah kelahiran. Seribu hari
pertama kehidupan merupakan Periode Emas seorang anak untuk tumbuh dan berkembang
secara optimal. Gangguan yang terjadi pada periode ini, khususnya asupan gizi yang tepat,
akan berdampak pada kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak yang bersifat
permanen dan berjangka panjang serta lebih sulit untuk diperbaiki setelah anak berusia
2 tahun.
Kehamilan, persalinan dan menyusui merupakan proses fisiologi yang perlu
dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Selama masa
kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan. Kesehatan ibu hamil adalah
persyaratan penting untuk fungsi optimal dan perkembangan kedua bagian unit tersebut.
Obat dapat menyebabkan efek yang tidak dikehendaki pada janin selama masa
kehamilan. Selama kehamilan dan menyusui, seorang ibu dapat mengalami berbagai keluhan
atau gangguan kesehatan yang membutuhkan obat. Banyak ibu hamil menggunakan obat dan
suplemen pada periode organogenesis sedang berlangsung sehingga risiko terjadi cacat janin
lebih besar. Di sisi lain, banyak ibu yang sedang menyusui menggunakan obat-obatan yang
dapat memberikan efek yang tidak dikehendaki pada bayi yang disusui.
Karena banyak obat yang dapat melintasi plasenta, maka penggunaan obat pada wanita
hamil perlu berhati-hati. Dalam plasenta obat mengalami proses biotransformasi, mungkin
sebagai upaya perlindungan dan dapat terbentuk senyawa antara yang reaktif, yang bersifat
teratogenik/dismorfogenik. Obatobat teratogenik atau obat-obat yang dapat menyebabkan
terbentuknya senyawa teratogenik dapat merusak janin dalam pertumbuhan.
Beberapa obat dapat memberi risiko bagi kesehatan ibu, dan dapat member efek pada
janin juga. Selama trimester pertama, obat dapat menyebabkan cacat lahir (teratogenesis),
dan risiko terbesar adalah kehamilan 3-8 minggu. Selama trimester kedua dan ketiga, obat
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan secara fungsional pada janin atau
dapat meracuni plasenta.

B. Peran Apoteker/Farmasi
1. PENGKAJIAN / PENILAIAN PERESEPAN (PEDOMAN TELAAH
ULANG REGIMEN OBAT (DRUG REGIMEN REVIEW) )
Tujuan :
Memastikan bahwa rejimen obat diberikan sesuai dengan indikasi kliniknya, mencegah
atau meminimalkan efek yang merugikan akibat penggunaan obat dan mengevaluasi
kepatuhan pasien dalam mengikuti rejimen pengobatan.

Kriteria ibu hamil/menyusui yang mendapat prioritas untuk dilakukan telaah ulang
rejimen obat :
Mendapat 5 macam obat atau lebih, atau 12 dosis atau lebih dalam sehari
Mendapat obat dengan rejimen yang kompleks, dan atau obat yang berisiko tinggi
untuk mengalami efek samping yang serius
Menderita tiga penyakit atau lebih
Mengalami gangguan kognitif, atau tinggal sendiri
Tidak patuh dalam mengikuti rejimen pengobatan
Akan pulang dari perawatan di rumah sakit
Berobat pada banyak dokter
Mengalami efek samping yang serius, alergi

Tatalaksana telaah ulang rejimen obat :


a. Apoteker yang melakukan kegiatan ini harus memiliki pengetahuan tentang prinsip-
prinsip farmakoterapi ibu hamil dan menyusui dan ketrampilan yang memadai
b. Melakukan pengambilan riwayat penggunaan obat ibu hamil / menyusui:
Meminta ibu hamil/menyusui untuk memperlihatkan semua obat yang sedang
digunakannya
Menanyakan mengenai semua obat yang sedang digunakan ibu hamil/menyusui,
meliputi: obat resep, obat bebas, obat tradisional/jamu, obat suplemen
Aspek-aspek yang ditanyakan meliputi: nama obat, frekuensi, cara penggunaan
dan alasan penggunaan
Melakukan cek silang antara informasi yang diberikan ibu hamil/menyusui
dengan data yang ada di catatan medis, catatan pemberian obat dan hasil
pemeriksaan terhadap obat yang diperlihatkan
Memisahkan obat-obat yang seharusnya tidak digunakan lagi oleh ibu hamil /
menyusui
Menanyakan mengenai efek yang dirasakan oleh ibu hamil / menyusui,
baik efek terapi maupun efek samping
Mencatat semua informasi di atas pada formulir pengambilan riwayat penggunaan
obat ibu hamil/ menyusui
c. Meneliti obat-obat yang baru diresepkan dokter
d. Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
e. Melakukan tindakan yang sesuai untuk masalah yang teridentifikasi

2. PEDOMAN PEMANTAUAN PENGGUNAAN OBAT


Tujuan :
Mengoptimalkan efek terapi obat dan mencegah atau meminimalkan efek merugikan
akibat penggunaan obat.

Tatalaksana pemantauan penggunaan obat :


a. Apoteker yang melakukan kegiatan ini harus memiliki pengetahuan tentang
patofisiologi, terutama pada ibu hamil dan menyusui, prinsipprinsip farmakoterapi,
cara menafsirkan hasil pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan diagnostik yang
berkaitan dengan penggunaan obat, dan ketrampilan berkomunikasi yang memadai.
b. Mengumpulkan data ibu hamil/menyusui, yang meliputi :
Deskripsi (nama, umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, nama
ruang rawat/poliklinik, nomor registrasi)
Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat penggunaan obat (termasuk riwayat alergi, penggunaan obat
non resep)
Data hasil pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan diagnostic
Masalah medis yang diderita
Data obat-obat yang sedang digunakan
Data /informasi dapat diperoleh melalui :
wawancara dengan ibu hamil / menyusui
catatan medis
kartu indeks (kardeks)
komunikasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, perawat)
c. Berdasarkan data/informasi pada (b), selanjutnya mengidentifikasi
adanya masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
d. Memberikan masukan/saran kepada tenaga kesehatan lain
mengenai penyelesaian masalah yang teridentifikasi.
e. Mendokumentasikan kegiatan pemantauan penggunaan obat pada
formulir
yang dibuat khusus.

3. PEMBERIAN INFORMASI DAN EDUKASI


Informasi perlu diberikan kepada semua wanita yang
merencanakan kehamilan, peran farmasis selain memberikan informasi
tentang obat, juga memberikan penyuluhan tentang kesuburan dan
perencanaan kehamilan. Informasi yang diberikan secara umum adalah
untuk menghindari segala jenis obat, alkohol, rokok, dan obat
penenang.
Yang harus ditekankan dalam pemberian penyuluhan tentang
penggunaan obat pada wanita hamil adalah manfat pengobatan pada
wanita hamil harus lebih besar daripada risiko jika tidak diberikan
pengobatan. Contohnya adalah pada wanita hamil yang menderita
epilepsi, lebih berbahaya apabila tidak diberikan pengobatan karena
risiko terjadi kejang pada ibu dan janin lebih berbahaya dibandingkan
dengan potensi kelainan janin sebagai akibat pemberian obat. Oleh
karena itu, nasehat tentang pengobatan secara berkesinambungan
pada wanita hamil yang menderita penyakit kronis sangat diperlukan.
Apabila pemberian obat tidak dapat dihentikan selama kehamilan,
maka pengobatan harus berada dalam pengawasan dan pemantauan
dokter.
Selain itu, juga harus diberikan informasi mengenai bahaya
penggunaan beberapa obat selama menyusui. Beberapa obat dapat
tepenetrasi ke dalam ASI melalui proses difusi pasif, dosis yang masuk
biasanya 1-2 % dosis yang digunakan ibu. Dengan ini maka bayi akan
terpengaruhi, sehingga penyuluhan penting dilakukan. Metode
penyuluhan dapat diberikan dengan penyuluhan langsung (tatap
muka) ataupun dengan penyebaran pamflet ke masyarakat (melalui RS
ataupun puskesmas) agar informasi tersebar dengan luas dan
menghindari efek-efek yang merusak janin ataupun bayi.