Anda di halaman 1dari 19

Jurnal Pemetaan Geologi

GEOLOGI DAERAH PANGALA KECAMATAN RINDINGALLO


KABUPATEN TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

Ayuni Intan Karoma


Jurusan Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin
Jl. Poros Gowa-Malino
email : ayuniintan17@gmail.com

ABSTRAK
Secara administrasi daerah penelitian terletak di daerah Pangala Kecamatan Rindingallo
Barat Kabupaten Toraja Utara Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis terletak pada koordinat 02
52' 00"LS 02 56' 00"LS (Lintang Selatan) dan 11946' 00" BT - 119 50' 00" (Bujur Timur).
Metode yang digunakan selama penelitian adalah pengambilan data lapangan dan pemetaan
geologi permukan dengan melakukan pencatatan pada setiap stasiun, pengambilan contoh batuan
untuk analisis petrografi dan mikropaleontologi yang selanjutnya dilakukan interpretasi berdasarkan
hasil pengolahan data yang dilakukan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi
geologi berupa aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi, serta potensi bahan
galian pada daerah penelitian yang selanjutnya dilakukan pembuatan peta geologi daerah penelitian
berdasarkan empat aspek tersebut.
Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi dua satuan morfologi, yaitu satuan morfologi
pegunungan vulkanik dan satuan morfologi perbukitan denudasional. Berdasarkan data yang
diperoleh selama berada di lapangan, daerah penelitian termasuk ke dalam stadia muda menjelang
dewasa. Berdasarkan litostratigrafi tidak resmi, daerah penelitian terbagi atas empat satuan batuan,
yaitu satuan batugamping yang berumur Miosen Bawah bagian Bawah sampai Miosen Tengah bagian
Atas, satuan Tufa Halus yang berumur Miosen Tengah bagian Atas sampai Miosen Atas bagian
Tengah, satuan Basalt dengan umur Miosen Tengah sampai Pliosen, dan satuan Tufa Kasar yang
berumur Plistosen. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian berupa lipatan minor,
kekar dengan jenis non sistematik, dan sesar berupa sesar geser salu maiting. Bahan galian yang
terdapat pada daerah penelitian adalah bahan galian ialah batugamping dan tufa.

ABSTRACT
Administratively, the study area is located in an area Pangala 'Rindingallo Western District
of North Toraja regency, South Sulawesi Province. Geographically located at coordinates 02 52 '00
"latitude - 02 56' 00" latitude (south latitude) and 119 46 '00 "E - 119 50' 00" (East Longitude).
The method used for the study is the collection of field data and geological mapping of the
surface by recording at each station, taking rock samples for petrographic analysis and interpretation
mikropaleontologi is then performed based on the data processing is done. The purpose of this study
was to obtain geological information in the form aspect of geomorphology, stratigraphy, structural
geology, historical geology and extractive potential in the area of further research conducted
geological map-making research areas based on four aspects.
Geomorphology research area is divided into two units of morphology, namely morphology
unit of volcanic mountains and hills denudasional morphology unit. Based on data obtained while in
the field, including the study area into young adulthood stadia. Based on litho unofficial, the study
area is divided into four rock units, namely unit of limestone Miocene Lower parts of the Lower to
Middle Miocene Top section, unit Tufa Smooth the Middle Miocene section Top to Upper Miocene
Central part, the unit Basalt age Middle Miocene up Pliocene, and the unit Tufa-old Rough Plistosen.
Geological structures developed in research areas such as minor folds, stocky with a kind of non-
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan

systematic, and faults in the form of a sliding fault mai'ting Salu. Minerals contained in the study
area was excavated material is limestone and tuf..

PENDAHULUAN

. Sulawesi Selatan merupakan salah


satu daerah yang memiliki fenomena geologi
yang sangat menarik untuk diteliti dan
dianalisa secara lebih detail khususnya pada
daerah Toraja. Hal tersebut didasarkan atas
banyaknya ahli-ahli geologi yang telah lebih
dulu melakukan penelitian baik yang bersifat
regional maupun lokal sehingga dari situlah
tersingkap banyaknya fenomena-fenomena
geologi yang sangat kompleks dan sangat
menarik untuk dilakukan penelitian
selanjutnya.
Penelitian tersebut memerlukan
kemampuan untuk menganalisa dan
menginterpretasi untuk dapat mengetahui
proses awal yang membentuk tatanan geologi
suatu wilayah dengan memperhatikan aspek-
aspek geologi pada daerah penelitian seperti
aspek geomorfologi, tatanan stratigrafi,
struktur geologi, sejarah geologi dan potensi Gambar 1.1 Peta Tunjuk Daerah Penelitian (Atlas
bahan galian pada daerah penelitian. Selain Indonesia, 2000).
itu, penelitian ini juga untuk kepentingan
pengembangan keilmuan maupun GEOMORFOLOGI
pengembangan suatu wilayah.
Maksud dari penelitian pada Penamaan satuan bentangalam daerah
Daerah Pangala Kecamatan Rindingallo penelitian didasarkan pada pendekatan
Kabupaten Toraja Utara Propinsi Sulawesi morfometri dan morfogenesa (Thornbury
Selatan ini adalah melakukan pemetaan 1954) dengan memperhatikan bentuk topografi
geologi permukaan secara umum dengan
di lapangan dan pendekatan genetik atau
menggunakan peta dasar skala 1: 25.000.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk proses geomorfologi yang mengontrol daerah
mengetahui dan memberikan gambaran penelitian. Berdasarkan pendekatan tersebut,
mengenai kondisi geologi yang meliputi maka satuan bentangalam daerah penelitian
geomorfologi, tatanan stratigrafi, struktur dapat dibagi menjadi 2 satuan bentangalam,
geologi, sejarah geologi dan potensi bahan yaitu :
galian pada daerah penelitian. 1. Satuan bentangalam pegunungan
Secara administratif daerah penelitian
vulkanik
termasuk dalam wilayah daerah Pangala
Kecamatan Rindingallo Kabupaten Toraja 2. Satuan bentangalam perbukitan
Utara Propinsi Sulawesi Selatan dan secara denudasional
geografis terletak pada koordinat 119o4600
BT 1195000 BT dan 025200 LS
025600 LS (Gambar 1.1).
Ayuni Intan Karoma D611 12 005

Satuan Bentangalam Pegunungan Vulkanik material tanah yang tidak resisten, kemiringan
lereng yang relatif terjal dan dipengaruhi oleh
gaya gravitasi.

Satuan Bentangalam Perbukitan


Denudasional

Gambar 2. Kenampakan satuan bentangalam


pegunungan vulkanik.
Satuan ini menempati sekitar 36,44 %
atau 19,89 km2 dari seluruh daerah penelitian.
Penyebaran satuan ini menempati daerah Gambar 3. Kenampakan satuan bentangalam
perbukitan denudasional
sepanjang aliran Salu Marin Desa Tana, Desa
Baroko, Buntulepong, Pongko, Lengkong, Satuan bentangalam pegunungan
Parangon, Buntu Togari, Sangpiak, Buntu denudasional menempati sekitar 63,55 % dari
Totosik, Buntu Kalotok, Pakkalotong, keseluruhan daerah penelitian, dengan luas
Sappuko, dan Pangli. Berdasarkan pendekatan sekitar 34,69 km2. Penyebaran satuan ini
morfologi satuan ini memiliki beda ketinggian menempati bagian Utara dari daerah penelitian
600 m dengan ketinggian sekitar 1100-1700 m yaitu pada daerah Batulea, Limbong, Tondok
diatas permukaan laut dan memiliki sudut Baru, Urang-urang, Lokasi, Buntu Toao,
kelerengan sebesar 55%-126%, tersusun oleh Tatarian, Rindingallo, Sarong, Limbong,
litologi berupa basalt porfiri, tufa kasar, dan Papararukan, Buntu Dumbia, Ballasepang, dan
tufa halus dengan kenampakan morfologi Tondokratte.
secara langsung di lapangan memperlihatkan Bentangalam ini dicikan dengan
bentuk topografi berupa bentuk puncak yang ketinggian 1000 mdpl hingga 1500 mdpl
runcing, bentuk lembah yang berbentuk huruf dengan beda tinggi sekitar 500 meter dan
U dengan kondisi lereng yang terjal. memiliki sudut kelerengan sebesar 14,05%-
Proses erosi yang terjadi pada daerah 23,56% dengan kondisi relief perbukitan yang
penelitian khususnya pada satuan bentangalam ditandai dengan dijumpainya lereng yang
ini ditunjukkan oleh adanya erosi permukaan landai kenampakan bentuk puncak yang relatif
berupa rill erosion dan gully erosion. Gully tumpul dan cembung dengan litologi
erosion dicirikan oleh lembahnya yang relatif penyusunnya berupa batugamping dan tufa
melebar kesamping dan mengakibatkan kasar.
terjadinya perkembangan lembah ke arah Proses erosi yang terjadi pada
samping. Sedangkan Rill erosion bentangalam ini relatif sedang. Hasil proses
memperlihatkan erosi yang belum mengalami erosi berupa gully erosion yang dicirikan oleh
pelebaran kesamping dikarenakan air yang
bentuk cekungan yang melebar kesamping
mengalir pada erosi ini tidak deras dan tidak
memiliki volume yang besar sehingga proses hasil erosi lanjutan dari rill erosion dengan
erosi yang terjadi sangat lambat. lebar erosi lebih dari 50 cm dan dikontrol oleh
Bentuk gerakan tanah yang terjadi pada litologi penyusunnya.
daerah penelitian berupa Rock Fall dan Debris Bentuk gerakan tanah yang terjadi
Slide. Rock fall yang terjadi diakibatkan oleh pada daerah penelitian berupa Debris Slide.
kemiringan lereng yang sangat terjal dimana Debris Slide adalah gerakan tanah melalui
terjadi luncuran jatuh bebas dari blok batuan.
bidang gelincir dengan material yang bergerak
Sedangkan Debris slide terjadi yang terjadi
pada daerah penelitian diakibatkan oleh tersusun atas material tak terkonsolidasi yang
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan

terdiri dari tanah, material berukuran pasir satuan tufa kasar, satuan basalt, satuan tufa
hingga kerakal. halus, dan satuan batugamping. Pembahasan
satuan batuan pada daerah penelitian dimulai
Sungai dari satuan tertua ke satuan termuda.

Sungai utama yang mengalir pada Satuan Batugamping


daerah penelitian yaitu Sungai Maiting yang
terdapat dibagian Timur daerah penelitian Satuan batugamping menempati
dengan arah aliran Utara-Selatan dan Sungai sekitar 5,71 % dari luas keseluruhan daerah
Sangpiak yang terdapat dibagian Barat daerah penelitian yaitu dengan luas sekitar 3,12 km2
penelitian yang mengalir dari Utara-Selatan. dengan ketebalan 425 m. Penyebaran satuan
Terdapat beberapa anak sungai mengalir dan ini berada pada bagian utara pada peta yang
berkembang pada lereng perbukitan yang menempati daerah Batulea, Limbong, Tonaka,
bermuara pada sungai utama. Berdasarkan dan Tondok Baru. Secara umum kedudukan
kuantitas / volume air yang mengalir pada batuan berarah relatif selatan Barat Laut-
tubuh sungai, maka sungai pada daerah Tenggara dengan kemiringan relatif kearah
penelitian termasuk sungai permanen dan Barat Daya dengan besarnya dip antara 370-
sungai periodik, pola pengaliran dendritik dan 500.
paralel. Tipe genetik sungai pada daerah
penelitian yaitu konsekuen dan insekuen.

Stadia Daerah Penelitian

Berdasarkan analisa terhadap


dominasi dari persentase penyebaran
karakteristik atau ciri-ciri bentukan alam yang
dijumpai, maka stadia daerah penelitian
mengarah kepada stadia muda.

Gambar 4. Kenampakan lapangan satuan


batugamping.
STRATIGRAFI
Batuan yang menyusun satuan ini
Pengelompokan dan penamaan satuan yaitu batugamping. Kenampakan lapangan
batuan pada daerah penelitian didasarkan atas batugamping pada stasiun 37 (gambar 4),
litostratigrafi tidak resmi dan litodemik dengan bahwa dalam keadaan segar berwarna putih
bersendikan pada ciri-ciri litologi, dominasi keabu-abuan dengan kenampakan lapuk
batuan, keseragaman gejala litologi, dan berwarna cokelat kehitaman, struktur berlapis,
tekstur klastik, ukuran butir meterial secara
hubungan stratigrafi, sehingga dapat
umum 2-7 mm, komposisi kimia karbonat,
disebandingkan baik secara vertikal maupun yang tersusun oleh fosil dan mineral karbonat..
lateral dan dapat dipetakan dalam sekala 1 : Kenampakan mikroskopis dari
25.000 (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). batugamping dengan nomor sayatan
Berdasarkan pengamatan di lapangan dan ST.37/BTG/AIK (Gambar 5) yaitu warna
analisis petrografi, secara umum daerah absorbsi putih kekuningan dengan warna
penelitian tersusun atas batuan sedimen dan interferensi coklat- kehijauan, tekstur klastik,
struktur sekunder stylolite, ukuran butir
batuan beku. Terdapat empat satuan batuan
material penyusun batuan yakni < 0,02 mm
yang akan diuraikan secara berurutan mulai hingga 2,2 mm, bentuk mineral subrounded-
dari yang termuda ke tertua, antara lain satuan subangular, Sortasi baik dengan kemas
Ayuni Intan Karoma D611 12 005

tertutup, tersusun atas skeletal grain berupa


fosil Foraminifera besar, semen berupa
mineral kalsit dan mud. Komposisi material
terdiri dari grain berupa skeletal grain (fosil)
yaitu Alveolinella boscii (Defrance),
Heterostegina sp, Heterostegina depressa
(dOrbigny), Heterostegina multifida (Beida),
Lepidocyclina dilatata, Lepidocyclina
(Multilepidina), Sulcoperculina dickersoni,
non skeletal grain (mineral kalsit) dan mud.
Berdasarkan analisis data, maka nama batuan
adalah Packstone (Dunham 1962).

Gambar 6. Kenampakan lapangan satuan tufa


halus.
Hasil analisis petrografi batuan tufa
halus pada sayatan tipis ST.63/BP/AIK
memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan,
Gambar 5. Kenampakan Fotomikrograf warna interferensi cokelat kehitaman, tekstur
Grainstone dengan komposisi material berupa piroklastik halus, ukuran butir 0.025 0.075
skeletal grain (3H), semen (1A), dan mud (5D). mm, bentuk mineral subrounded subangular,
komposisi material berupa mineral ortoklas
Penentuan lingkungan pengendapan
dari satuan batugamping didasarkan pada ciri (20%), biotit (12%), piroksin (8%), dan gelas
fisik litologi yang dijumpai di lapangan, (60%). Berdasarkan ciri fisik dan komposisi
dimana dicirikan dengan kandungan mineral mineralnya maka dapat diinterpretasikan
bersifat karbonat dan fosil bentonik berupa sebagai Vitric Crystal Tuff (Heinrich, 1956)
foraminifera besar yang menunjukkan (Gambar 7).
lingkungan pengendapan berada pada kondisi
laut dangkal (Inner Neritik- Outer Neritik),
dengan kedalaman 0-200 meter dibawah
permukaan air laut (Bandy, 1967).
Berdasarkan kandungan fosil tersebut, maka
dapat diketahui umur satuan serpih dengan
menggunakan tabel Preliminary Range
Chart of Imprtant Foraminifera Indonesia Gambar 7. Sayatan tipis tufa halus pada stasiun 63
(P. Bauman, 1971) yaitu berumur Miosen dengan komposisi mineral piroksin (2H), ortoklas
Bawah bagian Bawah - Miosen Tengah bagian (2C), biotit (3I), dan gelas vulkanik (1A)..
Atas
Berdasarkan kandungan mikrofosil
Satuan Tufa Halus foraminifera bentonik, maka dengan
menggunakan klasifikasi Wright and
Satuan tufa halus menempati luas Boltovskoy, 1976, lingkungan pengendapan
sekitar 34,40 % dari luas keseluruhan daerah dari satuan batulempung berada pada outer
penelitian atau sekitar 18,78 km2. Satuan tufa neritik atau pada kedalaman 100-130 m.
halus tersebar pada bagian Timur laut sampai Berdasarkan kandungan fosil plantonik
Tenggara daerah penelitian denga ketebalan tersebut, maka dapat diketahui umur satuan
980 meter. tufa halus dengan menggunakan tabel
Penentuan umur menurut Zonasi Blow, 1969
dalam Postuma, 1971 yaitu berumur Miosen
Tengah bagian Atas sampai Miosen Atas
bagian Tengah (N.13-N.16)
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan

Satuan Basalt

Satuan batuan ini menempati sekitar


7,75 % dari keseluruhan daerah penelitian atau
luasnya sekitar 4,23km2. Satuan ini menyebar
di arah Utara yang tersingkap disekitar daerah
Salu Marin, Tana, dan Baroko dengan Gambar 9. Sayatan tipis Basalt dengan nomor
ketebalan 625 meter. sayatan ST.4/BB/AIK, komposisi mineral piroksin
Kenampakan lapangan satuan ini (1D-1I), plagioklas (5F), Biotit (4E), massa dasar
dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan gelas (1C), dan massa dasar mikrolit plagioklas
karakteristik fisik berupa struktur khusus (4A).
batuan dan kandungan mineral batuan. Berdasarkan ciri-ciri diatas, maka
Berdasarkan kenampakan fisiknya, basalt pada satuan basal pada daerah penelitian dapat
disebandingkan dengan Formasi Batuan
daerah penelitian umumnya berupa basalt
Gunungapi Talaya (Tmtv) yang terbentuk
dengan struktur masif, beberapa mengandung pada lingkungan darat dan berumur Miosen
leusit dan sisanya dijumpai berstuktur aliran. Tengah-Pliosen (T.O. Simandjuntak, S.
Gafoer & K. Sukamto ,1985).

Satuan Tufa Kasar

Satuan ini menempati sekitar 52,12 %


dari luas keseluruhan daerah penelitian atau
sekitar 28,45 km2. Penyebaran satuan ini
berada dibagian barat daerah penelitan dengan
ketebalan sekitar 675 meter.
Kenampakan secara megaskopis
stasiun 57 (Gambar 3.17) memiliki warna
segar abu-abu, warna lapuk abu-abu
Gambar 8. Kenampakan satuan basalt di lapangan
kehitaman, tekstur klastik kasar, ukuran butir
Kenampakan mikroskopis dari basalt 2-4 mm, komposisi mineral piroksin, biotit,
dengan nomor sayatan ST.4/BB/AIK batuan plagioklas, sanidin, struktur tidak berlapis,
basalt porfiri memiliki warna absorbsi kuning semen silika. Berdasarkan ciri fisiknya nama
kecokelatan, warna interferensi cokelat batuan ini adalah Tufa Kasar
kehitaman, tekstur terdiri dari kristalinitas (Wenworth,1922).
hipokristalin, granularitas porfiroafanitik,
tekstur khusus vitrofirik, ukuran mineral
0,025 mm 3,25 mm, bentuk subhedral-
anhedral, relasi inequigranular, komposisi
mineral terdiri dari piroksin (25%), plagioklas
(Bytownit) (25%), biotit (10%), massa dasar
gelas (15%) dan mikrolit plagioklas (25%),
indeks bias Nmin > Ncb.. Berdasarkan sifat
fisik dan komposisi mineralnya maka nama
batuan tersebut yaitu Basalt Porfiri (IUGS,
1976) (Gambar 9).

Gambar 10. Kenampakan lapangan satuan tufa


kasar
Ayuni Intan Karoma D611 12 005

namun pada daerah penelitian dijumpai adanya


Kenampakan secara petrografis dari lipatan minor pada stasiun 13 pada litologi tufa
singkapan Tufa Kasar sayatan nomor halus (gambar 12).
ST.57/BP/AIK memperlihatkan warna kuning
kecokelatan, warna interferensi cokelat
kehitaman, tekstur piroklastik kasar, ukuran
butir 0.025mm 1,25mm, bentuk mineral
subrounded subangular, komposisi mineral
berupa mineral plagioklas (Andesin) (20%),
piroksin (15%), biotit (10%), sanidin (25%),
dan gelas vulkanik (30%), indeks bias Nmin >
Ncb nama batuan Crystal Vitric Tuff
(Heinrich, 1956 )(Gambar 11).

Gambar 12. Kenampakan lipatan minor pada


litologi tufa halus.

Struktur Kekar
Gambar 11. Sayatan tipis batuan tufa kasar pada
stasiun 57 dengan komposisi mineral piroksin (3E), Berdasarkan bentuknya kekar pada
biotit (2E), plagioklas (3I), sanidin (5A) dan gelas daerah penelitian termasuk dalam kekar non
vulkanik (5F) sistematik

Berdasarkan kesamaan ciri fisik dan


posisi stratigrafinya serta letak geografis yang
relatif dekat dengan lokasi tipe maka satuan
tufa kasar pada daerah penelitian dapat
disebandingkan dengan anggota Formasi Tuf
Baruppu (Qbt) yang dicirikan oleh batuan tufa
kasar yang diketahui berumur Plistosen.
Penentuan lingkungan pengendapan satuan
tufa kasar didasarkan pada komposisi
semennya yang bersifat silika. Berdasarkan hal
tersebut maka dapat diinterpretasikan bahwa
lingkungan pengendapan satuan tufa adalah Gambar 13. Kenampakan kekar non sitematik pada
lingkungan darat. litologi basalt porfiri.

Berdasarkan pengukuran data kekar


STRUKTUR GEOLOGI
yang dilakukan secara random (acak) pada
Jenis struktur geologi yang daerah penelitian pada batuan yang
berkembang pada daerah penelitian terdiri dari terkekarkan adalah batuan basalt porfiri.
struktur lipatan, kekar dan sesar. Berikut merupakan hasil analisis data
kekar dengan menggunakan metode streografis
Struktur lipatan (aplikasi stereonet) dari stasiun pengambilan
data kekar.
Pada daerah penelitian, struktur lipatan
tidak dapat diinterpretasikan melalui
kedudukan batuan karena kedudukan batuan
yang dijumpai relatif memiliki arah yang sama
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan

tersebut disebut kekar seperti yang dijummpai


pada stasiun 4.
Selanjutnya tekanan yang bekerja terus
berlanjut, sehingga batuan melewati fase
deformasi elastis dan memasuki fase
Gambar 14. Hasil pengukuran kekar pada Litologi deformasi plastis, yaitu fase retakan batuan
basalt di stasiun 4, a. Plane kekar; b. Pole dari yang telah terjadi sebelumnya mengalami
plane (bidang) kekar; c. Kontur populasi data
patahan dan kemudian mengalami perpindahan
kekar; d. Analisis stress utama
tempat atau pergeseran atau yang lazim
Berdasarkan hasil pengolahan data disebut sesar geser. Sesar geser yang terbentuk
kekar dengan stereonet di stasiun 4 (Salu pada daerah penelitian disebut sesar geser Salu
Marin) pada litologi basalt diperoleh nilai 1 = Maiting dan sesar geser Salu Sangpiak yang
N 2080 E/20, 2 = N 2990 E/69 dan 3 = N berarah Selatan Baratdaya Utara Timurlaut.
1190 E/210. Tegasan utama maksimum yang
Sesar ini memotong satuan batuan yang
bekerja adalah relatif berarah dari Baratdaya
ke Timurlaut sedangkan tegasan utama termuda yang berumur Plistosen sehingga
minimumnya adalah relatif berarah dari dapat diinterpretasikan umur dari sesar geser
Tenggara ke Baratlaut dengan jenis sesar Salu Maiting adalah Post Plistosen.
adalah sesar geser.

Struktur Sesar

Berdasarkan pengolahan data kekar


yang dilakukan dengan menggunakan bantuan
aplikasi stereonet yang di korelasikan dengan
principal stress oleh Anderson (1951) dan Gambar 15. Mekanisme pembentukan struktur
terhadap data yang dijumpai di lapangan serta geologi daerah penelitian berdasarkan teori sistem
korelasi terhadap tektonik regional, maka Reidel, 1987.
struktur sesar yang bekerja pada daerah
penelitian berupa sesar geser. Untuk SEJARAH GEOLOGI
mempermudah pembahasan maka sesar ini Sejarah geologi pada daerah penelitian
diberi nama berdasarkan nama geografis dimulai pada Kala Miosen Bawah bagian
daerah yang dilaluinya, yaitu Sesar Geser Bawah, dimana terjadi aktivitas pengendapan
Salu Maiting dan Sesar Geser Salu material sedimen karbonat yang berukuran
Sangpiak. pasir kasar pada suatu cekungan berupa laut
Adapun tahapan-tahapan pembentukan dangkal dan membentuk satuan batugamping.
struktur geologi pada daerah penelititan Proses ini berlanjut hingga Kala Miosen
diawali dengan adanya gaya kompresi berarah Tengah bagian Atas.
Baratdaya ke Timurlaut yang menyebabkan Selanjutnya di tempat yang berbeda
batuan mengalami deformasi dan membentuk terjadi aktivitas vulkanik berupa erupsi
lipatan berupa lipatan minor. Kemudian gaya gunungapi yang bersifat eksplosif dimana
kompresi tersebut bekerja terus-menerus aktivitas vulkanik ini mengeluarkan material-
sehingga menyebabkan batas elastisitas batuan material piroklastik yang berukuran halus
pada daerah penelitian terlampaui dan sampai lempung. Kemudian material-material
mengakibatkan batuan pada daerah penelitian piroklastik ini tertransportasi dan terendapkan
mengalami retakan-retakan dan hasil retakan pada cekungan yang sama (outer neritic zone)
dan membentuk satuan tufa halus. Pada Kala
Ayuni Intan Karoma D611 12 005

yang sama terjadi proses regresi yang Berdasarkan pengamatan di lapangan,


menyebabkan turunnya muka air laut dan bahan galian secara umum batugamping dan
secara perlahan-lahan lingkungan tufa sudah dimanfaatkan oleh penduduk
pengendapan berubah menjadi darat. maupun daerah setempat sebagai bahan
bangunan.
Kemudian masih pada kala yang sama
KESIMPULAN
terjadi aktivitas vulkanik berupa erupsi
gunungapi yang terjadi di darat menghasilkan 1. Geomorfologi daerah penelitian disusun
material gunungapi bersifat efusif dimana oleh dua satuan geomorfologi, yaitu satuan
material yang dikeluarkan berkomposisi basalt bentangalam pegunungan vulkanik dan
yang kemudian mengalami proses pembekuan satuan bentangalam perbukitan
yang relatif cepat sehingga tidak semua denudasional. Jenis sungai yang
mineral-mineral penyusun batuan membentuk berkembang adalah sungai permanen dan
kristal-kristal yang sempurna dan membentuk sungai periodik, dengan tipe genetik sungai
satuan basalt. Proses ini berlanjut hingga pada konsekuen dan insekuen sedangkan pola
Kala Pliosen. Kemudian pada Kala Plistosen alirannya adalah dendritik dan paralel.
pada lingkungan pengendapan darat, kembali Stadia daerah penelitian adalah stadia
terjadi aktivitas vulkanik berupa erupsi muda.
gunungapi yang bersifat eksplosif dimana 2. Stratigrafi daerah penelitian berdasarkan
material yang dikeluarkan berupa material- lithostratigrafi tidak resmi, dibagi menjadi
material piroklastik yang berukuran kasar dan empat satuan batuan, diurut dari satuan
membentuk satuan tufa kasar. Proses ini yang lebih tua ke satuan yang lebih muda
berhenti pada kala itu juga. yaitu, satuan batugamping, satuan tufa
Pada Kala Post Plistosen, terjadi halus, satuan basalt, dan satuan tufa kasar.
aktivitas tektonik yang menyebabkan 3. Struktur geologi daerah penelitian terdiri
timbulnya gaya kompresi dengan tegasan dari lipatan minor, kekar non sistematik,
utama berarah Baratdaya - Timurlaut sesar geser Salu Maiting dan sesar geser
menyebabkan terbentuknya kekar dan gaya Salu Sangpiak.
kompresi tersebut terjadi terus-menerus dan 4. Bahan galian pada daerah penelitian
menyebabkan batuan melewati batas tergolong dalam bahan galian batuan
plastisnya hingga terjadi pergeseran dan batugamping dan tufa digunakan sebagai
membentuk sesar geser Salu Maiting dan bahan bangunan.
sesar geser Salu Sangpiak yang bersifat Saran
dekstral. Daerah penelitian memiliki jenis
batuan lelehan bersifat basaltik berupa basal
Kemudian berlangsung proses-proses
yang menyimpan cadangan bahan galian yang
geologi muda berupa proses pelapukan, erosi,
cukup besar baik berupa blok batuan selain itu
dan sedimentasi. Proses-proses tersebut masih
adanya bahan galian berupa tufa yang dapat
masih berlangsung hingga sekarang yang
digunakan sebagai pengganti pasir dalam
kemudian mengontrol pembentukan
pembangunan sehingga diperlukan adanya
bentangalam pada daerah penelitian.
perhatian dari masyarakat atau pemerintah
daerah setempat dalam hal pengembangan dan
POTENSI BAHAN GALIAN pengelolaannya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.23


Tahun 2010, bahan galian daerah penelitian
termasuk bahan galian berupa batugamping
dan tufa.
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan

DAFTAR PUSTAKA
Noor, Djauhari. 2001. Pengantar Geologi
Asikin, S., 1979. DasarDasar Geologi (Edisi Pertama). Fakultas Teknik
Struktur. Departemen Teknik Geologi, Universitas Pakuan Bogor
Institut Teknologi Bandung, Indonesia.
N. Ratman dan S. Atmawinata .1993. Peta
Billings, M. P., 1968, Structural Geology, Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi.
Second edition, Prentice of India Private Pusat Penelitian dan Pengembangan
Limited, New Delhi. Geologi, Direktorat Geologi dan
Sumberdaya Mineral, Departemen
Clay, Mc, K.R., 1987, The Mapping of Pertambangan dan Energi RI, Bandung .
Geology Structures, University of
London, Halsted Press, Toronto New Pettijohn, F.J., 1956. Sedimentary Rocks ,
York. 161p. Second Edition. SpringerVerlag New
York Inc., USA.
Dunham,R.J.,1962. Classification of carbonate
rocks according to depositional texture, Postuma, J. A., 1971, Manual of Planktonic
in Ham, W.E, ed., AAPG memoir 1. Foraminifera, Elsevier Publishing
Company, Amsterdam, Netherlands.
Geodetic, Edisi I 1991, Peta Rupa Bumi
Indonesia Lembar Rantepao Ragan, D.M., 1973, Structural Geology and
(2013-32) Skala 1 : 50.000, Introduction to Geometrical Techniques,
Bakosurtanal, Bogor. Second Edition, John Wiley and Sons
Inc, New York.p.91-171.
Geodetik, Edisi I2001. Peta Provinsi Sulawesi
Selatan Skala 1:650.000. Bakosurtanal Sofyan, Asep. 2013. Inventarisasi dan Evaluasi
Bogor. Mineral Logam di Kabupaten Luwu
Provinsi Sulawesi Selatan dan
Harding,T.P., 1974, Petroleum Trans Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi
Asochated with Trench Fault , The Sulawesi Barat. Kementerian Energi dan
American Asosiation of Petroleuum Sumberdaya Mineral, Jakarta,
geologist Bull, page 1291 1299 Indonesia.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1996. Sandi Sukamto, Rab., 1975, Perkembangan Tektonik
Stratigrafi Indonesia. Bidang Geologi Sulawesi dan Sekitarnya yang
dan Sumber Daya Mineral. Jakarta. Merupakan Sintesis yang Berdasarkan
Indonesia. Tektonik Lempeng, Penelitian dan
Pengembangan Geologi Direktorat
Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Pertambangan Umum Departemen
Republik Indonesia., 2009. Undang- Pertambangan Dan Energi, Bandung,
Undang Republik Indonesia Nomor 4 Indonesia.
Tahun 2009 Tentang Pertambangan
Mineral Dan Batubara, Jakarta, Simandjuntak, T.O, S. Gafoer & K. Sukamto.,
Indonesia. 1993. Geologi Lembar Mamuju,
Sulawesi.
Kerr, P.F., 1959, Optical Mineralogy, The Mc
Graw Hill Book Company Inc, New Travis, R.B., 1955, Classification of Rock
York, Toronto, London. Volume 50, Colorado School of Mines.
Ayuni Intan Karoma D611 12 005

Thornbury, W. D., 1954, Principles of


Geomorphology, Second edition, John
Willey & Sons, Inc, New York, USA.

Van Zuidam, R.A., 1985, Aerial Photo


Interpretationin Terrain Analysis and
Geomorphologic Mapping, Smith
Publisher The Hague, Enschede,
Netherlands.

Whitney, D. L. And Evans, B. W.,


2010.Abbreviations for Names of Rock
Forming Minerals. Americans
Mineralogist, Volume 95, page 185-187.
Jurnal Pemetaan Geologi
Ayuni Intan Karoma D611 12 005
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan
Ayuni Intan Karoma D611 12 005
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan
Ayuni Intan Karoma D611 12 005
Geologi Daerah Pangala Kec. Rindingallo Kab. Toraja Utara Prov. Sulawesi Selatan
Ayuni Intan Karoma D611 12 005