Anda di halaman 1dari 22

1.

Pengobatan sendiri / swamedikasi

Pengobatan sendiri adalah suatu perawatan sendiri oleh masyarakat terhadap


penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di
pasaran atau obat keras yang bisa didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh
apoteker di apotek (BPOM, 2004). The International Pharmaceutical Federation
(FIP) mendefinisikan swamedikasi atau self-medication sebagai penggunaan obat-
obatan tanpa resep oleh seorang individu atas inisiatifnya sendiri (FIP, 1999).
Menurut Sukasediati (1992), pengobatan sendiri merupakan upaya yang dilakukan
oleh orang awam untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit yang dialami sendiri
atau oleh orang sekitarnya, dengan pengetahuan dan persepsi sendiri, tanpa bantuan
atau suruhan seseorang yang ahli dalam bidang medis atau obat. Upaya pengobatan
sendiri ini dapat berupa pengobatan dengan obat modern atau obat tradisional.
Bisa disimpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwasanya swamedikasi
merupakan praktik menyembuhkan diri sendiri dari penyakit-penyakit ringan baik itu
dengan penggunaan obat modern maupun obat tradisional tanpa bantuan dari dokter
tetapi dengan pengawasan apoteker. Swamedikasi bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan diri, mengobati penyakit ringan dan mengelola pengobatan rutin dari penyakit
kronis setelah melalui pemantauan dokter. Sedangkan fungsi dan peran swamedikasi
lebih terfokus pada penanganan terhadap gejala secara cepat dan efektif tanpa intervensi
sebelumnya oleh konsultan medis kecuali apoteker, sehingga dapat mengurangi beban
kerja pada kondisi terbatasnya sumber daya dan tenaga (WHO, 1998)
Ciri umum mengenai swamedikasi dijelaskan oleh Sukasediati dan Sundari
(1996) antara lain :

a. Dipengaruhi oleh perilaku seseorang yang dikarenakan kebiasaan, adat, tradisi


ataupun kepercayaan

b. Dipengaruhi faktor sosial politik dan tingkat pendidikan

c. Dilakukan bila dirasa perlu

d. Tidak termasuk dalam kerja medis profesional

e. Bervariasi praktiknya dan dilakukan oleh semua kelompok masyarakat.


Dalam penyelenggaraan kesehatan, idealnya swamedikasi menjadi langkah
awal yang utama dilakukan masyarakat sebelum berkonsultasi dengan dokter atau
dokter spesialis yang memang ahli dibidangnya (Sukasediati dan Sundari, 1996).
Swamedikasi dilakukan masyarakat untuk mengatasi gejala penyakit penyakit ringan
yang dapat dikenali sendiri. Menurut Winfield dan Richards (1998) kriteria penyakit
ringan yang dimaksud adalah penyakit yang jangka waktunya tidak lama dan
dipercaya tidak mengancam jiwa pasien seperti sakit kepala, demam, batuk pilek,
mual, sakit gigi, dan sebagainya.

Keinginan untuk merawat diri, mengurus keluarga yang sakit, kurang puas terhadap
pelayanan kesehatan yang tersedia, dan semakin banyaknya pilihan obat merupakan
beberapa contoh faktor yang mendukung pelaksanaan praktik
swamedikasi (Phalke et al., 2006). Masyarakat berharap dapat lebih terlibat aktif
dalam pengelolaan kesehatan diri dan keluarga. Di zaman modern hal tersebut dapat
disimpulkan dengan dua alasan utama, yaitu ketersediaan informasi yang dapat
diakses bebas melalui media manapun serta keterbatasan waktu yang dimiliki oleh
masyarakat. Dengan begitu, dimanapun berada, masyarakat cenderung dapat mengatasi
masalah kesehatan yang sifatnya sederhana dan umum diderita. Selain itu, cara ini
terbukti lebih murah dan lebih praktis (BPOM, 2004).

Agar penggunaan obat tanpa resep dapat berjalan aman dan efektif, masyarakat harus
melaksanakan beberapa fungsi yang biasanya dilakukan secara profesional oleh dokter
saat mengobati pasien dengan obat etikal. Fungsi tersebut antara lain : mengenali gejala
dengan akurat, menentukan tujuan dari pengobatan, memilih obat yang akan digunakan,
mempertimbangkan riwayat pengobatan pasien, penyakit yang menyertai dan penyakit
kambuhan, memonitor respon dari pengobatan dan kemungkinan terjadinya ADR (WHO,
2000).

2. Keuntungan kerugian swamedikasi

Manfaat optimal dari swamedikasi dapat diperoleh apabila penatalaksanaannya rasional.


Swamedikasi yang dilakukan dengan tanggungjawab akan memberikan beberapa manfaat
yaitu : membantu mencegah dan mengatasi gejala penyakit ringan yang tidak
memerlukan dokter, memungkinkan aktivitas masyarakat tetap berjalan dan tetap
produktif, menghemat biaya dokter dan penebusan obat resep yang biasanya lebih mahal,
meningkatkan kepercayaan diri dalam pengobatan sehingga menjadi lebih aktif dan
peduli terhadap kesehatan diri (WHO, 2000). Bagi paramedis kesehatan hal ini amat
membantu, terutama di pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas yang jumlah
dokternya terbatas. Selain itu, praktik swamedikasi meningkatkan kemampuan
masyarakat luas mengenai pengobatan dari penyakit yang diderita hingga pada akhirnya,
masyarakat diharapkan mampu memanajemen sakit sampai dengan keadaan kronisnya
(WSMI, 2010). Akan tetapi bila penatalaksanaannya tidak rasional, swamedikasi dapat
menimbulkan kerugian seperti: kesalahan pengobatan karena ketidaktepatan
diagnosis sendiri; penggunaan obat yang terkadang tidak sesuai karena informasi bias
dari iklan obat di media; pemborosan waktu dan biaya apabila swamedikasi tidak
rasional; dapat menimbulkan reaksi obat yang tidak diinginkan seperti sensitivitas, alergi,
efek samping atau resistensi (Holt et al, 1986).

3. Jenis obat pada swamedikasi

Sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan No. 919/MenKes/PER/X/1993


tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep, antara lain : tidak
dikontraindikasikan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun dan lanjut usia
diatas 65 tahun; pengobatan sendiri dengan obat dimaksudkan untuk tidak
memberikan risiko lebih lanjut terhadap penyakitnya; dalam penggunaannya tidak
diperlukan alat atau cara khusus yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan,
seperti injeksi; obat yang digunakan memiliki risiko efek samping minimal dan dapat
dipertanggungjawabkan khasiatnya untuk pengobatan sendiri.
Pada tahun 1998, WHO mensyaratkan obat yang digunakan dalam
swamedikasi harus didukung dengan informasi tentang bagaimana cara penggunaan
obat; efek terapi yang diharapkan dari pengobatan dan kemungkinan efek samping
yang tidak diharapkan; bagimana efek obat tersebut dimonitoring; interaksi yang
mungkin terjadi; perhatian dan peringatan mengenai obat; lama penggunaan; dan
kapan harus menemui dokter.

Berdasarkan dua kriteria diatas, kelompok obat yang baik digunakan untuk
swamedikasi adalah obat-obat yang termasuk dalam obat Over the Counter (OTC)
dan Obat Wajib Apotek (OWA). Obat OTC terdiri dari obat-obat yang dapat
digunakan tanpa resep dokter, meliputi obat bebas, dan obat bebas terbatas.
Sedangkan untuk Obat Wajib Apotek hanya dapat digunakan dibawah pengawasan
Apoteker (BPOM, 2004).
a. Obat Bebas Obat bebas
adalah obat yang dijual secara bebas diwarung kelontong, toko
obat dan apotek. Pemakaian obat bebas ditujukan untuk mengatasi penyakit ringan
sehingga tidak memerlukan pengawasan dari tenaga medis selama diminum sesuai
petunjuk yang tertera pada kemasan, hal ini dikarenakan jenis zat aktif pada obat
bebas relatif aman. Efek samping yang ditimbulkan pun minimum dan tidak
berbahaya. Karena semua informasi penting untuk swamedikasi dengan obat bebas
tertera pada kemasan atau brosur informasi di dalamnya, pembelian obat sangat
disarankan dengan kemasannya. Logo khas obat bebas adalah tanda berupa lingkaran
hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Yang termasuk obat golongan ini contohnya
adalah analgetik antipiretik (parasetamol), vitamin dan mineral (BPOM, 2004).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan obat bebas adalah :
lihat tanggal kedaluwarsa obat; baca dengan baik keterangan tentang obat pada
brosur; perhatikan indikasi penggunaan karena merupakan petunjuk kegunaan obat
untuk penyakit; perhatikan dengan baik dosis yang digunakan, untuk dewasa atau
anak-anak; perhatikan dengan baik komposisi zat berkhasiat dalam kemasan obat;
perhatikan peringatan-peringatan khusus dalam pemakaian obat, perhatikan tentang
kontraindikasi dan efek samping obat (Depkes, 2006).

b. Obat Bebas Terbatas


Golongan obat ini disebut juga obat W (atau Waarschuwing) yang artinya
waspada. Diberi nama obat bebas terbatas karena ada batasan jumlah dan kadar dari
zat aktifnya. Seperti Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas mudah didapatkan karena
dijual bebas dan dapat dibeli tanpa resep dokter.
Meskipun begitu idealnya obat ini hanya dijual di apotek atau toko obat
berizin yang dikelola oleh minimal asisten apoteker dan harus dijual dengan
bungkus/kemasan aslinya. Hal itu disebabkan obat ini sebenarnya masih termasuk
dalam obat keras, artinya obat bebas terbatas aman hanya jika digunakan sesuai
dengan petunjuk. Oleh karenanya, obat bebas terbatas dijual dengan disertai beberapa
peringatan dan informasi memadai bagi masyarakat luas. Obat ini dapat dikenali
lewat lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam yang mengelilingi.
Contoh
obat bebas terbatas : obat batuk, obat flu, obat pereda rasa nyeri, obat yang
mengandung antihistamin (Depkes, 2006).
b. Obat Wajib Apotek
Obat Wajib Apotek adalah golongan obat yang wajib tersedia di apotek.
Merupakan obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Obat ini aman
dikonsumsi bila sudah melalui konsultasi dengan apoteker. Tujuan digolongkannya
obat ini adalah untuk melibatkan apoteker dalam praktik swamedikasi. Tidak ada
logo khusus pada golongan obat wajib apotek, sebab secara umum semua obat OWA
merupakan obat keras. Sebagai gantinya, sesuai dengan ketetapan Menteri Kesehatan
No 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang DOWA 1; No 924/MenKes/PER/X/1993
tentang DOWA 2; No 1176/MenKes/SK/X/1999 tentang DOWA 3 diberikan Daftar
Obat Wajib Apotek untuk mengetahui obat mana saja yang dapat digunakan untuk
swamedikasi. Obat wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral kontrasepsi, obat saluran
cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang mempengaruhi
sistem neuromuskular, anti parasit dan obat kulit topikal (BPOM, 2004).
4. Pelayanan swamedikasi
Untuk melakukan pengobatan sendiri secara benar, masyarakat harus mampu
menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakitnya. Hal ini dapat
disimpulkan dari beberapa hal (Depkes, 2006) :
a. Gejala atau keluhan penyakitnya.
b. Kondis khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut usia, diabetes mellitus dan
lain-lain.
c. Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diingankan terhadap obat tertentu.
d. Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan
interaksi obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat.
e. Pilih obat yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat dengan
obat yang sedang diminum.
f. Berkonsultasi dengan apoteker. Setelah tahap pemilihan dipastikan sesuai, langkah
selanjutnya adalah (Depkes, 2008) :
a. Mengetahui kegunaan dari tiap obat, sehingga dapat mengevaluasi sendiri
perkembangan sakitnya.
b. Menggunakan obat tersebut secara benar (cara, aturan, lama pemakaian) dan tahu
batas kapan mereka harus menghentikan swamedikasi dan segera minta
pertolongan petugas kesehatan.
c. Mengetahui efek samping obat yang digunakan sehingga dapat memperkirakan
apakah suatu keluhan yang timbul kemudian itu suatu penyakit baru atau efek
samping obat.
d. Mengetahui siapa yang tidak boleh menggunakan obat tersebut.
5. Pengobatan rasional
Kriteria penggunaan obat rasional adalah sebagai berikut (Depkes, 2008) :
a. Tepat diagnosis artinya obat diberikan sesuai dengan diagnosis. Apabila
diagnosis tidak ditegakkan dengan benar maka pemilihan obat akan salah.
b. Tepat indikasi penyakit artinya obat yang diberikan harus yang tepat bagi suatu
penyakit.
c. Tepat pemilihan obat artinya obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai
dengan penyakit.
d. Tepat dosis artinya dosis, jumlah, cara, waktu dan lama pemberian obat harus
tepat. Apabila salah satu dari empat hal tersebut tidak dipenuhi menyebabkan efek
terapi tidak tercapai. Selain itu pengobatan rasional juga berarti (Depkes, 2008) :
a. Tepat jumlah artinya jumlah obat yang diberikan harus dalam jumlah yang
cukup.
b. Tepat cara pemberian artinya cara pemberian obat harus tepat contohnya : obat
antasida seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik tidak
boleh dicampur dengan susu karena akan membentuk ikatan sehingga menjadi
tidak dapat diabsorpsi sehingga menurunkan efektifitasnya.
c. Tepat interval waktu pemberian artinya waktu minum obat dibuat sederhana
mungkin dan praktis agar mudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi
pemberian obat per hari (misalnya 4 kali sehari) semakin rendah tingkat ketaatan
minum obat. Obat yang diminum 3 x sehari harus diartikan bahwa obat tersebut
harus diminum dengan interval setiap 8 jam.
d. Tepat lama pemberian artinya lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya
masing masing.
e. Tepat penilaian kondisi pasien. Penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi
pasien, antara lain harus memperhatikan: kontraindikasi obat, komplikasi,
kehamilan, menyusui, lanjut usia atau bayi.
f. Waspada terhadap efek samping. Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu
efek tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi,
seperti timbulya mual, muntah, gatal-gatal, dan lain sebagainya.
g. Efektif, aman, mutu terjamin, tersedia setiap saat, dan harga terjangkau. Untuk
mencapai kriteria ini obat dibeli melalui jalur resmi.
h. Tepat tindak lanjut (follow up). Apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila
sakit berlanjut konsultasikan ke dokter.
i. Tepat penyerahan obat (dispensing). Penggunaan obat rasional melibatkan
penyerah obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. Resep yang dibawa ke
apotek atau tempat penyerahan obat di Puskesmas akan dipersiapkan obatnya dan
diserahkan kepada pasien dengan informasi yang tepat.
j. Kepatuhan, artinya pasien harus patuh terhadap perintah pengobatan yang
diberikan.
6. Masalah penggunaan obat dalam swamedikasi
Masalah dalam penggunaan obat pada swamedikasi antara lain meliputi
penggunaan obat yang tidak tepat, tidak efektif, tidak aman, dan juga tidak
ekonomis. Masalah tersebut biasanya dikenal dengan istilah penggunaan obat yang
tidak rasional. Pengobatan dikatakan tidak rasional jika (Depkes, 2000) :

a. Pemilihan obat tidak tepat, maksudnya obat yang dipilih bukan obat yang
terbukti paling bermanfaat, paling aman, paling sesuai dan paling ekonomis.
b. Penggunaan obat yang tidak tepat, yaitu tidak tepat dosis, tidak tepat cara
pemberian obat, dan tidak tepat frekuensi pemberian.
c. Pemberian obat tidak disertai dengan penjelasan yang sesuai, kepada pasien atau
keluarga.
d. Pengaruh pemberian obat, baik yang diinginkan atau tidak diinginkan tidak
diperkirakan sebelumnya dan tidak dilakukan pemantauan secara langsung atau
tidak langsung.
e. Penggunaan obat dikatakan tidak tepat jika risiko yang mungkin terjadi tidak
seimbang dengan manfaat yang diperoleh dari tindakan pemberian suatu obat.
7. Efek samping obat dalam swamedikasi
Efek samping obat adalah efek tidak diinginkan dari pengobatan dengan
pemberian dosis obat yang digunakan untuk profilaksis, diagnosis maupun terapi
(WHO, 1972). Beberapa reaksi efek samping obat dapat timbul pada semua orang,
sedangkan ada beberapa obat yang efek sampingnya hanya timbul pada orang tertentu
(Mariyono dan Suryana, 2008). Secara umum obat-obat yang digunakan dalam
praktik swamedikasi cenderung aman, tidak berbahaya dan memiliki angka kejadian
timbul efek samping yang rendah (BPOM, 2004).
Pada swamedikasi, efek samping yang biasa terjadi : pada kulit, berupa rasa
gatal, timbul bercak merah atau rasa panas; pada kepala, terasa pusing; pada saluran
pencernaan, terasa mual, dan muntah, serta diare; pada saluran pernafasan, terjadi
sesak nafas; pada jantung terasa dada berdetak kencang (berdebar-debar); urin
berwarna merah sampai hitam (Depkes 2008)
Pengertian rinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan
alergen yang sama
serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan
ulangan dengan
alergen spesifik tersebut (von Pirquet, 1986). Menurut WHO ARIA
(Allergic
Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi adalah
kelainan pada
hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan
tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.
Klasifikasi rinitis alergi
Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat
berlangsungnya,
yaitu:
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis)
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial)
Gejala keduanya hampir sama, hanya berbeda dalam sifat
berlangsungnya
(Irawati, Kasakeyan, Rusmono, 2008). Saat ini digunakan klasifikasi
rinitis alergi
berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi :
1. Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu
atau
kurang dari 4 minggu.
2. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau
lebih dari 4
minggu.
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi
dibagi menjadi:
1. Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas
harian,
bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang
mengganggu.
2. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan
tersebut
diatas (Bousquet et al, 2001).
Etiologi rinitis alergi
Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan
predisposisi
genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan
herediter sangat
berperan pada ekspresi rinitis alergi (Adams, Boies, Higler, 1997).
Penyebab
rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa dan
ingestan pada anakanak. Pada anak-anak sering disertai gejala
alergi lain, seperti urtikaria dan
gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda
tergantung dari
klasifikasi. Beberapa pasien sensitif terhadap beberapa alergen.
Alergen yang
menyebabkan rinitis alergi musiman biasanya berupa serbuk sari
atau jamur.
Rinitis alergi perenial (sepanjang tahun) diantaranya debu tungau,
terdapat dua
spesies utama tungau yaitu Dermatophagoides farinae dan
Dermatophagoides
pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan seperti kecoa dan
binatang pengerat.
Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya karpet serta
sprai tempat
tidur, suhu yang tinggi, dan faktor kelembaban udara. Kelembaban
yang tinggi
merupakan faktor resiko untuk untuk tumbuhnya jamur. Berbagai
pemicu yang
bisa berperan dan memperberat adalah beberapa faktor nonspesifik
diantaranya
asap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat atau merangsang
dan perubahan
cuaca (Becker, 1994).
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:
Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan,
misalnya
debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.
Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan,

misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.


Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan,
misalnya
penisilin atau sengatan lebah.
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau

jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan (Kaplan, 2003).
Patofisiologi rinitis alergi
Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali
dengan
tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi
terdiri dari 2 fase
yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat
(RAFC) yang
berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya
dan late phase
allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang
berlangsung 2-4 jam
dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan
dan dapat
berlangsung 24-48 jam.
Gambar 2.1 Patofisiologi alergi (rinitis, eczema, asma)
paparan
alergen pertama dan selanjutnya (Benjamini, Coico,
Sunshine, 2000)

Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi,


makrofag atau
monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting
Cell/APC) akan
menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung.
Setelah
diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan
bergabung
dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC
kelas II (Major
Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada
sel T helper
(Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin
1 (IL-1)
yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan
Th2. Th2 akan
menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13.
IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel
limfosit B,
sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi
imunoglobulin E
(IgE). IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh
reseptor IgE
di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga
kedua sel ini
menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel
mediator yang
tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar
alergen yang sama,
maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi
degranulasi
(pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat
terlepasnya mediator
kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama
histamin. Selain
histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain
prostaglandin D2
(PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin,
Platelet
Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-CSF
(Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain.
Inilah yang
disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus
sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.
Histamin juga
akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami
hipersekresi dan
permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain
adalah hidung
tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang
ujung saraf
Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung
sehingga terjadi
pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1)

Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik


yang
menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target.
Respons ini
tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan
mencapai
puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan
penambahan
jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil,
basofil dan
mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-
4, IL-5 dan
Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan
ICAM1 pada
sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif
hidung adalah
akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya
seperti
Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosiniphilic Derived Protein
(EDP), Major
Basic Protein (MBP), dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase
ini, selain
faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat
memperberat gejala
seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan
kelembaban udara
yang tinggi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).
Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular
bad)
dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat
juga
pembesaran ruang interseluler dan penebalan membran basal,
serta ditemukan
infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa
hidung.
Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat serangan. Diluar
keadaan serangan,
mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus-
menerus
(persisten) sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi
perubahan yang
ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia
mukosa, sehingga
tampak mukosa hidung menebal. Dengan masuknya antigen asing
ke dalam tubuh
terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari:

1. Respon primer Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen


(Ag). Reaksi ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai
disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi
berlanjut menjadi respon sekunder.
2. Respon sekunder Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang
mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau
humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi
pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada, atau memang
sudah ada defek dari sistem imunologik, maka reaksi berlanjut
menjadi respon tersier.
3. Respon tersier Reaksi imunologik yang terjadi tidak
menguntungkan tubuh. Reaksi ini dapat bersifat sementara atau
menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. Gell dan
Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1,
atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau
reaksi sitotoksik, tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4
atau reaksi tuberculin (delayed hypersensitivity). Manifestasi
klinis kerusakan jaringan yang banyak dijumpai di bidang THT
adalah tipe 1, yaitu rinitis alergi (Irawati, Kasakayan,
Rusmono,2008).

Gejala klinik rinitis alergi, yaitu :

Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin


berulang.
Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada
pagi hari atau
bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini
merupakan mekanisme
4. fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning
process). Bersin
dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan,
sebagai akibat
dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin patologis
(Soepardi,
Iskandar, 2004). Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer
dan banyak,
hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang
disertai dengan
banyak air mata keluar (lakrimasi). Tanda-tanda alergi juga terlihat
di hidung,
mata, telinga, faring atau laring. Tanda hidung termasuk lipatan
hidung melintang
garis hitam melintang pada tengah punggung hidung akibat sering
menggosok
hidung ke atas menirukan pemberian hormat (allergic salute), pucat
dan edema.

mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan. Lubang hidung


bengkak. Disertai
dengan sekret mukoid atau cair. Tanda di mata termasuk edema
kelopak mata,
kongesti konjungtiva, lingkar hitam dibawah mata (allergic shiner).
Tanda pada
telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa
sebagai hasil
dari hambatan tuba eustachii. Tanda faringeal termasuk faringitis
granuler akibat
hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda laringeal termasuk
suara serak dan
edema pita suara (Bousquet, Cauwenberge, Khaltaev, ARIA
Workshop Group.
WHO, 2001). Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit
kepala,
masalah penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah,
post nasal
drip. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah
marah, kehilangan
nafsu makan dan sulit tidur (Harmadji, 1993).

Diagnosis rinitis alergi

Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan:

1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena sering kali serangan tidak
terjadi dihadapan
pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari
anamnesis saja. Gejala
rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin
berulang. Gejala lain
ialah keluar hingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung
tersumbat, hidung dan
mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air
mata keluar
(lakrimasi). Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat
merupakan keluhan utama
atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien (Irawati,
Kasakayan,
Rusmono, 2008). Perlu ditanyakan pola gejala (hilang timbul,
menetap) beserta
onset dan keparahannya, identifikasi faktor predisposisi karena
faktor genetik dan
herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi, respon
terhadap pengobatan,
kondisi lingkungan dan pekerjaan. Rinitis alergi dapat ditegakkan
berdasarkan
anamnesis, bila terdapat 2 atau lebih gejala seperti bersin-bersin
lebih 5 kali setiap
serangan, hidung dan mata gatal, ingus encer lebih dari satu
jam, hidung
tersumbat, dan mata merah serta berair maka dinyatakan positif
(Rusmono,
Kasakayan, 1990).
Pemeriksaan Fisik
Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan
allergic
shinner, yaitu bayangan gelap di daerah bawah mata karena
stasis vena sekunder
akibat obstruksi hidung (Irawati, 2002). Selain itu, dapat
ditemukan juga allergic
crease yaitu berupa garis melintang pada dorsum nasi bagian
sepertiga bawah.
Garis ini timbul akibat hidung yang sering digosok-gosok oleh
punggung tangan
(allergic salute). Pada pemeriksaan rinoskopi ditemukan mukosa
hidung basah,
berwarna pucat atau livid dengan konka edema dan sekret yang
encer dan banyak.
Perlu juga dilihat adanya kelainan septum atau polip hidung yang
dapat
memperberat gejala hidung tersumbat. Selain itu, dapat pula
ditemukan
konjungtivis bilateral atau penyakit yang berhubungan lainnya
seperti sinusitis
dan otitis media (Irawati, 2002).
3. Pemeriksaan Penunjang
a. In vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.
Demikian
pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test)
sering kali
menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien
lebih dari satu
macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita
asma bronkial atau
urtikaria. Lebih bermakna adalah dengan RAST (Radio Immuno
Sorbent Test)
atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test).
Pemeriksaan sitologi
hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap
berguna sebagai
pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah
banyak
menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (5 sel/lap)
mungkin
disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN
menunjukkan
adanya infeksi bakteri (Irawati, 2002).
c. In vivo

Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit


kulit, uji
intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point
Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan
menyuntikkan
alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya.
Keuntungan
SET, selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial
untuk
desensitisasi dapat diketahui (Sumarman, 2000). Untuk alergi
makanan, uji kulit
seperti tersebut diatas kurang dapat diandalkan. Diagnosis biasanya
ditegakkan
dengan diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test). Alergen
ingestan secara
tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari. Karena itu pada
Challenge Test,
makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang
selama 5 hari,
selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan
setiap kali
dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala
menghilang dengan
meniadakan suatu jenis makanan (Irawati, 2002).

Penatalaksanaan rinitis alergi

1. Terapi yang paling ideal adalah dengan alergen penyebabnya


(avoidance) dan
eliminasi.
2. Simptomatis

a. Medikamentosa-Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H-1,


yang bekerja
secara inhibitor komppetitif pada reseptor H-1 sel target, dan
merupakan preparat
farmakologik yang paling sering dipakai sebagai inti pertama
pengobatan rinitis
alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan
dekongestan secara peroral. Antihistamin dibagi dalam 2 golongan
yaitu golongan
antihistamin generasi-1 (klasik) dan generasi -2 (non sedatif).
Antihistamin
generasi-1 bersifat lipofilik, sehingga dapat menembus sawar darah
otak
(mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek
kolinergik.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai
dekongestan
hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau
tropikal.
Namun pemakaian secara tropikal hanya boleh untuk beberapa hari
saja untuk
menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. Preparat kortikosteroid
dipilih bila
gejala trauma sumbatan hidung akibat respons fase lambat berhasil
diatasi dengan
obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid tropikal
(beklometosa,
budesonid, flusolid, flutikason, mometasonfuroat dan triamsinolon).
Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida, bermanfaat
untuk mengatasi
rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik permukaan sel
efektor
(Mulyarjo, 2006).

b. Operatif - Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu


dipikirkan
bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan
cara
kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau troklor asetat (Roland,
McCluggage,
Sciinneider, 2001).
c. Imunoterapi - Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi.
Desensitasi dan
hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi
inhalan yang
gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum
memuaskan
(Mulyarjo, 2006).

Komplikasi rinitis alergi

Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah:

a. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous


glands,
akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil
dan
limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia
skuamosa.

b. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.

c. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih


sinus para
nasal. Terjadi akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam
mukosa yang
menyebabkan sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi
dan tekanan
udara rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan
bakteri
terutama bakteri anaerob dan akan menyebabkan rusaknya fungsi
barier epitel
antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator protein basa yang
dilepas sel
eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah (Durham,
2006).