Anda di halaman 1dari 5

Paket Kebijakan Ekonomi XIII: Rumah Murah Untuk Rakyat

Pemerintah kembali mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) XIII tentang


Perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Hal ini sejalan
dengan Program Nasional Pembangunan 1 (Satu) Juta Rumah sebagai wujud dari
butir kedua yang tertuang dalam amanah Nawacita, yakni Pemerintah tidak absen
untuk membangun pemerintahan yang efektif, demokratis dan terpercaya; dan juga
butir kelima, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Dengan paket kebijakan ekonomi ini, akan meningkatkan akses masyarakat untuk
mendapatkan rumah, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin
Nasution, saat mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi XIII di Istana.

Patut diketahui, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir tahun 2015
lalu, masih ada 17,3% atau sekitar 11,8 juta rumah tangga yang tinggal di hunian
non milik (sewa, kontrak, numpang, rumah dinas atau tidak memiliki rumah sama
sekali). Sementara, pengembang perumahan mewah masih banyak yang enggan
menyediakan hunian menengah dan murah karena untuk membangun hunian
murah seluas 5 ha, memerlukan proses perizinan yang lama dan biaya yang besar.

Melalui PKE XIII ini, pemerintah akan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP)
yang isinya meliputi penyederhanaan jumlah dan waktu perizinan dengan
menghapus atau mengurangi berbagai perizinan dan rekomendasi yang diperlukan
untuk membangun rumah MBR dari semula sebanyak 33 izin dan tahapan, menjadi
11 izin dan rekomendasi. Dengan pengurangan perizinan dan tahapn ini, maka
waktu pembangunan MBR yang selama ini rata-rata mencapai 769-981 hari dapat
dipercepat menjadi 44 hari. Adapun rinciannya:

1. Perizinan yang dihilangkan antara lain: izin lokasi dengan waktu 60 hari kerja,
persetujuan gambar master plan dengan waktu 7 hari kerja, rekomendasi peil banjir
dengan waktu 30-60 hari kerja, persetujuan dan pengesahan gambar site plan
dengan waktu 5-7 hari kerja dan Analisa Dampak Lingkungan Lalu Lintas (Andal
Lalin) dengan waktu 30 hari kerja.

2. Perizinan yang digabungkan, meliputi: (1) Proposal Pengembang (dengan


dilampirkan Sertifikat tanah, bukti bayar PBB (tahun terakhir) dengan Surat
Pernyataan Tidak Sengketa (dilampirkan dengan peta rincikan tanah/blok plan
desa) jika tanah belum bersertifikat; (2) Ijin Pemanfaatan Tanah (IPT)/ Ijin
Pemanfaatan Ruang (IPR) digabung dengan tahap pengecekan kesesuaian
RUTR/RDTR wilayah (KRK) dan Pertimbangan Teknis Penatagunaan
Tanah/Advise Planning, Pengesahan site plan diproses bersamaan dengan izin
lingkungan yang mencakup: SPPL atau Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan
(sampai dengan luas lahan 5 Ha); serta (3) Pengesahan site plan diproses
bersamaan dengan izin lingkungan yang mencakup SPPL (luas < 5 ha),
rekomendasi damkar, dan retribusi penyediaan lahan pemakaman atau
menyediakan pemakaman.

3. Perizinan yang dipercepat, antara lain: (1) Surat Pelepasan Hak (SPH) Atas
Tanah dari Pemilik Tanah kepada pihak developer (dari 15 hari menjadi 3 hari
kerja); (2) Pengukuran dan pembuatan peta bidang tanah (dari 90 hari menjadi 14
hari kerja); (3) Penerbitan IMB Induk dan pemecahan IMB (dari 30 hari menjadi 3
hari kerja); (4) Evaluasi dan Penerbitan SK tentang Penetapan Hak Atas Tanah
(dari 213 hari kerja menjadi 3 hari kerja); (5) Pemecahan sertifikat a/n
pengembang (dari 120 hari menjadi 5 hari kerja); dan (6) Pemecahan PBB atas
nama konsumen (dari 30 hari menjadi 3 hari kerja).

Pemerintah berharap, dengan PKE yang baru ini maka pembangunan rumah untuk
MBR dapat lebih cepat terealisasi. Sebab, pengurangan, penggabungan, dan
percepatan proses perizinan untuk pembangunan rumah MBR, akan mengurangi
biaya untuk pengurusan perizinan hingga 70%.
PAKET KEBIJAKAN EKONOMI XIV

Untuk membangun ekosistem perdagangan secara elektronik serta mendorong perluasan dan
efisiensi bisnis perdagangan secara elektronik, pemerintah mengeluarkan peta jalan (roadmap)
industri e-Commerce yang tertuang dalam paket kebijakan ekonomi jilid-14.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, latar belakang


keluarnya paket kebijakan ekonomi jilid 14 ini karena pemerintah menargetkan Indonesia bisa
menjadi negara digital ekonomi terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Pemerintah pun
menargetkan dapat tercipta seribu technopreneurs dengan valuasi bisnis sebesar US$ 10 miliar
dan pada 2020 diprediksi nilai e-commerce bisa mencapai US$ 130 miliar.

Paket kebijakan ini keluar juga karena belum adanya peta jalan pengembangan e-Commerce
nasional yang menjadi acuan pemangku kepentingan dan adanya berbagai peraturan yang tidak
mendorong tumbuh kembangnya e-Commerce. dalam paket kebijakan ini pemerintah
menetapkan delapan aspek pengaturan yang tertuang dalam peraturan

Kedelapan Aspek tersebut adalah:

a. Pendanaan

Dalam aspek ini pemerintah akan mempermudah dan memperluas akses pendaan melalui skema:

1. KUR untuk tenant pengembangan platform.

2. Hibah untuk inkubator bisnis yang akan membimbing/mendampingi start-up.

3. Dana USO untuk UMKM digital dan start-up e-commerce platform.

4. Angel capital, yang diperlukan saat start-up masih berada dalam tahap valley of death (usaha
masih merugi) dalam tahap komersialisasi.

5. Seed capital dari Bapak Angkat.

6. Crowdfunding, yaitu pendanaan alternatif yang dananya dihimpun dari kelompok/komunitas


tertentu atau masyarakat luas.
Pengurangan pajak
b. Perpajakan

Di sini pemerintah akan memberikan insentif perpajakan melalui:

1. Pengurangan pajak bagi investor lokal yang investasi di start-up.

2. Penyederhanaan izin prosedur perpajakan bagi start-up e-commerce dengan omzet dib awah
Rp 4,8 miliar per tahun melalui pelaksanaan PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu, sehingga PPh final hanya sebesar 1 persen.

3. Memberikan persamaan perlakuan perpajakan antara pengusaha e-commerce asing dengan


domestik. Pelaku usaha asing yang menyediakan layanan dan atau konten di Indonesia wajib
untuk memenuhi seluruh ketentuan perpajakan.

c. Perlindungan Konsumen

1. Melakukan pengharmonisasi regulasi yang menyangkut sertifikasi elektronik, proses


akreditasi, kebijakan mekanisme pembayaran, perlindungan konsumen dan pelaku industri e-
commerce, dan skema penyelesaian sengketa.

2. Pengembangan national payment gateway secara bertahap.

d. Pendidikan dan SDM

1. Meningkatkan kampanye kesadaran e-commerce.

2. Perancangan program inkubator nasional.

3. Penyusunan dan peningkatan kurikulum e-commerce.

4. Peningkatan edukasi e-commerce kepada konsumen, pelaku, penegak hukum.

PT Pos Indonesia
e. Logistik

1. Meningkatkan logistik e-commerce melalui Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS) untuk


meningkatkan kecepatan pengiriman dan mengurangi biaya pengiriman.

2. Revitalisasi, restrukturisasi dan modernisasi PT Pos Indonesia (Persero) sebagai penyedia jasa
pos nasional.
3. Pengembangan alih daya fasilitas logistik e-Commerce.

4. Mengembangkan Sistem Logistik dari Desa ke Kota dengan sinergitas antara pasar, terminal,
komoditi, dan pasar induk, pusat distribusi regional, dan pengaturan transportasi desa dan kota.

f. Infrastruktur Komunikasi

Aspek yang dibangun di sini adalah mempercepat pembangunan jaringan broadband


berkecepatan tinggi, agar e-commerce dapat dimanfaatkan di seluruh Indonesia.

g. Keamanan siber (cyber security)

Melakukan penyusunan model sistem pengawasan nasional dalam transaksi e-commerce dan
meningkatkan public awareness tentang kejahatan dunia maya serta menyusun SOP terkait
penyimpanan data konsumen, sertifikasi untuk keamanan data konsumen.

h. Pembentukan Manajemen Pelaksana

Upaya sistematis dan terkoordinasi untuk penerapan Peta Jalan e-commerce dan sekaligus
melakukan monitoring dan evaluasi implementasi Peta Jalan e-commerce. (Yas/Gdn)