Anda di halaman 1dari 19

PANDUAN TEKNIS

STANDAR AKREDITASI LAYANAN TB DI PUSKESMAS

Juni 2015
Latar belakang
TB masih menjadi masalah kesehatan prioritas global karena menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia dan saat ini Indonesia
masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TB terbanyak di dunia. Berdasarkan angka laporan TB WHO pada tahun 2012
di Indonesia terdapat 460.000 kasus TB baru dengan jumlah total kasus TB 730.000 pasien. Diperkirakan pula ada 67.000 pasien yang
meninggal akibat TB di tahun 2012 atau sekitar 9% dari total kasus TB. Masih banyak kasus TB yang belum ditemukan terutama pasien
TB Resistan Obat yang mencapai lebih dari 80%.

Masih tingginya prevalensi TB di Indonesia berdampak pada tingginya kebutuhan masyarakat untuk akses ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang mampu mendiagnosis dan merawat pasien TB. Hasil studi prevalensi nasional TB tahun 2004 oleh Kementerian
Kesehatan, 47-78% pasien TB mengawali pengobatannya di rumah sakit, BBKPM dan dokter praktek mandiri. Begitu pula dengan
hasil survey riset kesehatan dasar, Kementerian Kesehatan di tahun 2010 menunjukkan bahwa 64% pasien menggunakan RS, BBKPM
, dan dokter praktik mandiri. Tingginya angka pasien yang terdiagnosis TB di RS dan di DPM menjadi tantangan khusus untuk
penyelenggara program TB nasional karena sampai Januari 2014, baru 40% saja RS yang telah terlibat dalam strategi DOTS, sedangkan
Puskesmas telah mencapai 98%. Sementara belum diketahui berapa banyak DPM yang telah ikut terlibat dalam strategi DOTS. Hal ini
menyebabkan terjadinya peluang praktik pengobatan yang tidak sesuai standar.

Disisi lain pemerintah Indonesia melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menetapkan bahwa pemerintah pusat dan
pemerintah daerah dapat memberikan kesempatan kepada swasta untuk berperan serta memenuhi ketersediaan fasilitas kesehatan dan
penyelenggaraan pelayanan kesehatan agar setiap orang mendapatkan akses pelayanan kesehatan melalui asuransi sosial. Di awal tahun
2014, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah bekerjasama dengan 17.947 fasilitas kesehatan tingkat pertama
(FKTP), diantaranya terdapat 9.753 puskesmas.

Dalam era JKN, fasilitas kesehatan dituntut untuk efisien sesuai kebutuhan pasien dalam memberikan pelayanan kesehatan, namun tetap
memperhatikan mutu pelayanan dan aspek keamanan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menerapkan mekanisme pembayaran
secara paket berdasarkan kelompok diagnosis yang relatif sama, yakni Indonesia Case Base Groups (INA CBGs) di fasilitas kesehatan
tingkat lanjutan, dan kapitasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Sebagai tambahan, rujukan berjenjang dengan memposisikan
layanan tingkat pertama sebagai gate keeper juga diterapkan sebagai upaya kendali mutu dan biaya.

Berdasarkan kondisi di atas, JKN mempengaruhi secara langsung proses pelayanan pasien tuberkulosis di layanan kesehatan baik di
tingkat pertama maupun lanjutan. Dengan demikian, diperlukan pendekatan komprehensif terkait peran JKN dalam public private mix
(bauran layanan pemerintah-swasta) untuk pelayanan pasien TB dan program pengendalian TB. Hal ini bertujuan untuk menjamin akses
layanan TB yang bermutu sesuai Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tatalaksana Tuberkulosis.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomer 32 tahun 2014 dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 28 tahun 2014, tentang
pedoman pelaksanaan jaminan kesehatan nasional maka dikeluarkan buku petunjuk teknis pelayanan TB bagi peserta JKN yang
memberikan penjabaran secara rinci tentang tatalaksana TB dalam JKN yang dapat digunakan di tingkat pelayanan kesehatan sebagai
pedoman dalam pelayanan TB.

Dalam upaya jaminan mutu, Kementerian Kesehatan telah menetapkan system akreditasi menjadi satu satuya alat ukur mutu layanan di
fasilitas kesehatan. Pada tahun 2015, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Standar Akreditasi Puskesmas sebagai acuan dalam
menentukan tingkat kelulusan akreditasi, sedangkan BPJS Kesehatan hanya akan menjalin kerjasama dengan fasilitas kesehatan yang
telah terakreditasi.

Panduan Teknis Standar Akreditasi Layanan TB di Puskesmas disusun mengacu pada standar akreditasi puskesmas, namun diperkaya
dengan wawasan program penanggulangan TB. Hal tersebut dimaksudkan agar puskesmas yang terakreditasi juga menjamin mutu
layanan terhadap TB.

Tujuan

Panduan Teknis Standar Akreditasi Layanan TB di Puskesmas, dimaksudkan agar para surveyor, penyelenggara puskesmas, JKN
mempunyai panduan tentang layanan TB terkait dengan program penanggulangan secara utuh.
Sistematika

Panduan ini disusun berdasarkan BAB dalam buku Standar Akreditasi Puskesmas, dan hanya esensi elemen yang spesifik dalam
layanan TB yang diuraikan secara rinci.

Dalam bagan disajikan kolom BAB dan unsur elemen yang dibagi menjadi Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP), serta keterangannya. Hal terseut dimaksudkan untuk mempermudah para surveyor maupun
penyelenggara dalam memenuhi standar.

Lampiran

Lampiran berisi dokumen, form TB dan lain2 terkait.


BAB I
Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP)

ELEMEN PENILAIAN
Perencanaan Operasional yang terintegrasi (RUK & RPK) (RBA & RPK, untuk BLUD)

UKM Keterangan UKP Keterangan

Perencanaan Operasional yang


terintegrasi melalui Public
Private Mix (bauran layanan
pemerintah-swasta) TB.

Public Private Mix (PPM)


adalah pelibatan semua
fasilitas layanan kesehatan
dalam upaya ekspansi layanan
pasien TB dan kesinambungan
program pengendalian TB
dengan pendekatan secara
komperhensif.

Dalam pelaksanaan PPM


dibutuhkan perencanaan yang
melibatkan faskes dan
pemberdayaan masyarakat
dalam jejaring, seperti :
Dokter praktik mandiri,
Klinik
(Rutan/Lapas/BUMN/Tem
pat kerja),
JKN,
Laboratorium pemerintah
dan swasta,
Apotek,
NGO/CSO dalam integrasi
layanan TB sebagai upaya
kesehatan berbasis
masyarakat (UKBM).

Melakukan pelacakan kasus


dan upaya promotif
preventif. *Tupoksi
Puskesmas
BAB II
Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP)
(Tidak dijabarkan)

BAB III
Peningkatan Mutu Puskesmas (PMP)

ELEMEN PENILAIAN
Penanggung jawab manajemen mutu harus ditetapkan dengan kejelasan tugas tanggung jawab dan wewenang
Pedoman peningkatan mutu dan kinerja

UKM Keterangan UKP Keterangan


Terkait layanan TB, perlu Angka Kesembuhan (Cure Rate)
ditunjuk petugas penanggung
jawab TB yang terdokumentasi Jumlah pasien baru TB paru Terkonfirmasi
Bakteriologis yang sembuh
Tugas penanggung jawab TB x
Jumlah pasien baru TB paru Terkonfirmasi 100%
adalah: Bakteriologis yang diobati
Mengisi daftar terduga TB
Mengisi kartu pengobatan
pasien TB
Menyiapkan slide untuk uji Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate)
silang
Pengawas Menelan Obat Jumlah pasien baru TB Paru Terkonfirmasi
Biologis (sembuh + pengobatan lengkap) x
Pelacakan kasus mangkir Jumlah pasien baru TB Paru Terkonfirmasi Biologis yang 100%
Melaksanakan KIE diobati
Menyusun perencanaan
terkait layanan TB Proporsi Pasien TB Baru terkonfirmasi
(Laboratorium supply, OAT, Bakteriologis diantara terduga TB
form TB)
Memfasilitasi kegiatan PPM Jumlah pasien Baru TB paru terkonfirmasi
bakteriologis yg ditemukan x 100%
Jumlah seluruh terduga TB Paru yg diperiksa

Proporsi Pasien TB Anak diantara seluruh


Pedoman peningkatan mutu
pasien TB
dan kinerja
Jumlah pasien TB Paru TerkonfirmasiBakteriologis
Indikator program TB x 100%
Angka Kesembuhan (Cure Jumlah seluruh pasien TB Paru

Rate)
Adalah angka yang
menunjukkan prosentase
pasien baru TB Paru
Terkonfirmasi Bakteriologis
yang sembuh setelah selesai
masa pengobatan, diantara
pasien baru TB Paru
Terkonfirmasi Bakteriologis
yang tercatat.

Angka Keberhasilan
Pengobatan (Success Rate)
Adalah angka yang
menunjukkan prosentase
pasien baru TB Paru
Terkonfirmasi Bakteriologis
yang menyelesaikan
pengobatan (baik yang
sembuh maupun pengobatan
lengkap) diantara pasien
baru TB paru Terkonfirmasi
Bakteriologis yang tercatat.
Dengan demikian angka ini
merupakan penjumlahan dari
angka kesembuhan dan
angka pengobatan lengkap.

Proporsi Pasien TB Baru


terkonfirmasi Bakteriologis
diantara terduga TB
Adalah prosentase pasien
baru TB paru terkonfirmasi
bakteriologis (BTA positif dan
MTB Positif) yang ditemukan
diantara seluruh terduga
yang diperiksa dahaknya.
Angka ini menggambarkan
mutu dari proses penemuan
sampai diagnosis pasien,
serta kepekaan menetapkan
kriteria terduga.

Proporsi Pasien TB Anak


diantara seluruh pasien TB
Adalah prosentase pasien TB
anak (0-14 tahun) yang
diobati diantara seluruh
pasien TB yang diobati.
BAB IV
Upaya Kesehatan Masyarakat yang Berorientasi Sasaran (UKMBS)

ELEMEN PENILAIAN

Peluang inovatif upaya puskesmas


Akses masyarakat dan sasaran terhadap Upaya Puskesmas:

UKM Keterangan UKP Keterangan


Inovasi layanan promotif dan
preventif disiapkan melalui
strategi mendekatkan layanan
pada masyarakat. Contoh
adanya POS TB desa.

Peran pos TB desa, adalah:


1. Meningkatkan jumlah pasien Dokumentasi dapat dilihat pada formulir TB.01
TB baru yang dirujuk oleh
masyarakat atau organisasi
kemasyarakatan yang
tercatat.
2. Peningkatan keberhasilan
pengobatan pasien TB yang
diawasi oleh masyarakat
atau organisasi
kemasyarakatan yang
tercatat.
3. Penurunan angka putus
berobat pasien TB yang
diawasi oleh masyarakat
atau organisasi
kemasyarakatan yang
tercatat.
Akses masyarakat/sasaran Terdapat poster/leaflet/spanduk/banner/buku
terhadap kegiatan Upaya saku/flipchart/audio-visual
Puskesmas
Edukasi masyarakat/kader
mengenai TB yang
terdokumentasi

Penyuluhan TB, pengembangan


KIE, pelatihan kader.

BAB V
Kepemimpinan dan manajemen Upaya Kesehatan Masyarakat

ELEMEN PENILAIAN
Kepemimpinan dan Manajemen Upaya Minimalisasi risiko terhadap lingkungan

UKM Keterangan UKP Keterangan


Pelaksanaan Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi (PPI) TB
dengan strategi TemPO
(TEMukan pasien secepatnya,
Pisahkan secara aman, Obati
secara tepat)

Salah satu risiko utama terkait


dengan penularan TB di tempat
pelayanan kesehatan adalah
yang berasal dari pasien TB
yang belum teridentifikasi.
Upaya yang dilakukan untuk
mencegah/mengurangi
pajanan kuman m. tuberkulosis
kepada petugas kesehatan,
pasien, pengunjung dan
lingkungan dengan
menyediakan,
mendiseminasikan dan
memantau pelaksanaan
standar prosedur dan alur
pelayanan.

Upaya ini mencakup:


a. Strategi TemPO (Temukan
pasien secepatnya,
Pisahkan secara aman,
Obati secara tepat)
b. Penyuluhan pasien
mengenai etika batuk.
c. Penyediaan tisu dan
masker, tempat
pembuangan tisu serta
pembuangan dahak yang
benar.
d. Pemasangan poster,
spanduk dan bahan untuk
KIE.
e. Skrining bagi petugas yang
merawat pasien TB.

BAB VI
Sasaran Kinerja dan MDGs(SKM)

(Tidak dijabarkan)
BAB VII
Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP)

ELEMEN PENILAIAN
Proses pendaftaran sesuai kebutuhan dan keselamatan
Rencana layanan
Rencana rujukan
Pelaksanaan layanan

UKM Keterangan UKP Keterangan


o Penerapan PPI TB atau
TemPO
o Ada triase
menemukan pasien
batuk, kemudian
dipisahkan dan
diberikan akses
secepatnya ke tempat
layanan untuk diobati
secara tepat.

Rencana layanan

Dipandu dengan kebijakan


dan prosedur yang efektif
Terdapat dalam
Panduan Praktik Klinik
(PPK) dan dijabarkan
melalui alur klinis
Rujuk balik TB dari
FKTP lainnya dan
FKRTL yang Dokumentasi TB.05 , TB.09
terdokumentasi atau surat rujukan resmi
lainnya
Informasi rujukan
Cara pemberitahuan
tergantung system
jejaring rujukan yang
disepakati. (melalui
kurir, SMS, dan system
komunikasi lainnya).

Dipandu oleh pedoman


pelayanan klinis
Berdasarkan PPK TB dan
jabaran SPO nya (alur Berdasarkan PPK TB dan
klinis, protocol, algoritme, jabaran SPO nya (alur
prosedur dan standing klinis, protocol, algoritme,
order) prosedur dan standing
order) ambil dari
BPN/PPK

BAB VIII
Manajeen Penunjang Layanan Klinis

ELEMEN PENILAIAN
Pelayanan laboratorium, obat, radiologi

UKM Keterangan UKP Keterangan


o Puskesmas rujukan
laboratorium
memeberikan layanan
pemeriksaan BTA
o Puskesmas yang tidak
dapat memberikan
layanan pemeriksaan
lab merujuk ke PKM
RL
Terdapat sputum booth
Pengambilan dahak
dilakukan di tempat
khusus (sputum booth).

Pemeriksaan dahak
mikroskopis merupakan
pemeriksaan yang paling
efisien, mudah, murah,
bersifat spesifik, sensitif
dan dapat dilaksanakan di
semua unit laboratorium
yang sudah mendapat
sertifikasi BLK dan petugas
yang sudah terlatih. Lihat dokumen laporan
bimtek.
Puskesmas Rujukan Lihat sediaan dahak
Mikroskopis TB mampu mikroskopis dalam boks
membuat sediaan contoh
uji , pewarnaan dan
pemeriksaan mikroskopis
dahak, menerima rujukan
dan melakukan
pembinaan teknis kepada
laboratorium Puskesmas
Satelit.
Menyiapkan slide uji
silang sediaan dahak
dalam boks
Lihat paket OAT, baik stok
Dokumen umpan balik uji maupun yang sudah
silang per triwulan dari terpakai
Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota

Pelayanan obat
o Obat yang tersedia
merupakan obat
program dalam
bentuk paket OAT
o Pemberian
disesuaikan dengan
jadwal sesuai dengan
SPO yang dibuat

OAT lini pertama:


Isoniazid (H), Rifampisin
(R), Pirazinamid (Z),
Etambutol (E) dan
Streptomisin (S).

paduan OAT dalam bentuk


paket individual untuk
setiap pasien. Paket OAT
ini dikemas dalam dua
jenis kemasan, yaitu:
kemasan Kombinasi Dosis
Tetap (KDT)/Fix Dose
Combination (FDC) dan
kemasan Kombipak.

Pelayanan radiodiagnostik
o Pemeriksaan radio
dignostik dibutuhkan
bagi pasien bila ada
indikasi

Apabila pemeriksaan
secara bakteriologis
hasilnya negatif, maka
penegakan diagnosis TB
dapat dilakukan secara
klinis menggunakan hasil
pemeriksaan klinis dan Petugas memperagakan
penunjang (pemeriksaan pemberian informasi
foto toraks) yang sesuai kepada pasien dan atau
dan ditetapkan oleh menggunakan alat bantu
dokter yang telah terlatih apabila tersedia (termasuk
TB. Foto toraks tidak audio-visual).
selalu memberikan
gambaran yang spesifik
pada TB paru, sehingga
dapat menyebabkan
terjadi overdiagnosis
ataupun underdiagnosis.

Manajemen informasi
o Petugas pemberian
obat menjelaskan
tentang cara minum
obat dan konsekuensi
bila tidak patuh
terhadap pengobatan
o Petugas memberikan
informasi tentang
jadwal pengambilan
obat
o Petugas peberi obat
dapat berlaku sebagai
PMO

Prinsip Pengobatan TB:


Pengobatan TB adalah
merupakan salah satu
upaya paling efisien untuk
mencegah penyebaran
lebih lanjut dari kuman
TB.
Pengobatan yang adekuat
harus memenuhi prinsip:
Pengobatan diberikan
dalam bentuk paduan
OAT yang tepat
mengandung minimal 4
macam obat untuk
mencegah terjadinya
resistensi
Diberikan dalam dosis
yang tepat
Ditelan secara teratur
dan diawasi secara Pasien TB tercatat dan
langsung oleh PMO terlaporkan, baik
(Pengawas Menelan fasyankes/faskes
Obat ) sampai selesai pemerintah maupun
pengobatan swasta.
Pengobatan diberikan
dalam jangka waktu
yang cukup terbagi
dalam tahap awal serta
tahap lanjutan untuk
mencegah kekambuhan

Manajemen informasi
Pencatatan pelaporan
manual terstandar (TB.06,
TB.05, TB.04, TB.01, TB.03
UPK)

Setiap fasilitas pelayanan


kesehatan baik milik
pemerintah, pemerintah
daerah maupun swasta
wajib melakukan
pencatatan dan pelaporan
pasien TB yang dilayani.

Pelaporan pasien TB untuk


klinik dan dokter praktik
mandiri disampaikan
kepada Puskesmas
setempat.

BAB IX
Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)
Tracer Instrument
Harus disusun