Anda di halaman 1dari 11

BAB 1 :

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


1.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek
Pertunjukan seni merupakan suatu sarana ekspresi yang dilakukan kebanyakan
orang saat ini, baik itu seni tari, seni peran, dan seni musik. Seni sendiri adalah
manifestasi keindahan manusia yang diungkapkan melalui penciptaan suatu karya.
Seni merupakan bagian dari kehidupan manusia yang perlu mendapat tempat seperti
bidang kehidupan lainnya1.
Seni sendiri terdiri dari beberapa gaya/aliran seperti aliran tradisional dan
modern. Di Indonesia sendiri yang terdiri dari beragam suku bangsa, seni merupakan
bagian yang tumbuh didalam kehidupan masyarakatnya dan tidak dapat dipisahkan
karena berkaitan erat satu sama lain. Setiap suku memiliki ciri khas keseniannya
sendiri dan menjadi kebanggan oleh setiap orang menjadi bagian dari suku tersebut.
Sehingga jika dihitung secara keseluruhan dari setiap bagian dari wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa kekayaan ragam kesenian
dihasilkan oleh setiap suku budaya yang ada di Indonesia.
Pontianak adalah ibukota provinsi Kalimantan Barat, pusat dari segala bidang
baik itu dari bidang politik, bidang ekonomi, bidang pendidikan dan kesehatan, serta
bidang lainnya. Kota ini tumbuh dengan keberagaman suku dan budaya didalamnya.
Ada tiga suku besar yang mendiami kota Pontianak ini, yaitu suku Tionghoa, suku
Melayu, dan suku Dayak. Tidak hanya ketiga suku itu saja namun juga terdapat suku-
suku lainnya seperti suku Jawa, Bugis, Batak, Madura, dan suku-suku lainnya
terdapat di kota ini. Keberagaman inilah yang dapat menunjang dan mendukung
kegiatan seni, mengingat setiap kebudayaan menghasilkan seni yang berbeda-beda
sehingga dapat memperkaya dari jenis kesenian tersebut.
Kota Pontianak memiliki luas 107,81 km, atau 0,07% dari luas Kalimantan
Barat, merupakan kawasan budidaya karena terletak pada ketinggian 0,8 1,5 meter
diatas permukaan laut dan kemiringan lahan berkisar 0 0,2% (Dinas Tata Kota
Pontianak, 2012). Sampai dengan tahun 2013, kota ini memiliki penduduk sebanyak
587.169 jiwa atau sekitar 12,2% dari total penduduk Kalimantan Barat. Selama
periode 2009-2013, tingkat pertumbuhan penduduk kota Pontianak sebesar 11,4%.
Sedangkan kepadatan penduduknya sejumlah 5.446 jiwa/km pada tahun 2013, yang
berarti menjadikan wilayah yang paling padat penduduknya (Badan Pusat Statistik
Kota Pontianak, 2013).
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak tahun 2011 menyebutkan
bahwa di kota Pontianak, perkembangan kesenian sudah mulai terlihat kemajuannya
baik dari pelaku seni maupun penikmat seni. Hal ini terlihat dari berkembangnya

1 http://puspitasari-wisatailmubudaya.blogspot.com, Peranan seni dalam


kehidupan manusia, 7 Agustus 2014

1
jumlah dari sanggar-sanggar seni yang mewadahi fasilitas dalam pelatihan dan
pengembangan seni itu sendiri. Tercatat ada sekitar 165 wadah berupa sanggar dan
kelompok pelaku seni budaya yang ada di kota Pontianak, dan wadah-wadah ini
mengembangkan kesenian tradisional maupun kesenian modern.
Sebagai salah satu kota yang berkembang dengan masyarakat yang telah
berpikir maju, kota Pontianak masih belum memiliki sarana untuk pengembangan
kreativitas yang memadai bagi penduduknya untuk menyalurkan ekspresi seni yang
dimilikinya. Fasilitas yang ada masih berupa bangunan serba guna untuk semua
kegiatan acara, sehingga belum ada tempat yang benar-benar menjadi pusat bagi para
penikmat seni dan pelaku seni untuk menampilkan dan menikmati kreasi seni yang
mereka hasilkan. Oleh karena itu perlu adanya suatu wadah/fasilitas yang dapat
mewadahi kegiatan seni itu sendiri.
Pengadaan Performing Art Center dengan konsep waterfront city sendiri
merupakan bagian dari rencana Pemerintah Kota Pontianak dalam mengembangkan
kota dalam konsep Waterfront City. Mengingat kota Pontinak dilalui oleh sungai
terpanjang di Indonesia, yaitu sungai Kapuas. Sungai Kapuas dapat menjadi daya
tarik tersendiri bagi objek pariwisata di kota Pontianak. Sungai Kapuas juga berfungsi
sebagai pendukung kegiatan bagi masyarakat di Pontianak. Kegiatan ekonomi
misalnya, aliran sungai Kapuas digunakan sebagai akses untuk kapal-kapal membawa
logistic kedaerah ini. Dari segi rekreasi, terdapat Taman Alun Kapuas yang menjadi
ruang terbuka publik (public space) bagi masyarakat kota Pontianak. Tempat ini
sering digunakan untuk oleh masyarakat Pontianak untuk bersantai dan menikmati
pemandangan kearah sungai Kapuas. Jika area sepanjang pinggir sungai Kapuas
dikelola dengan baik maka konsep kota Pontianak dapat menjadi salah satu model
kota dengan penataan konsep Waterfront City di Indonesia.
Berdasarkan pada RTRW Kota Pontianak tahun 2013 2033, terdapat
pengertian perancangan waterfront yang berbunyi Perencanaan kawasan tepian
sungai (waterfront) adalah perencanaan yang mengoptimalkan potensi sempadan
sungai/pantai dengan cara mengarahkan orientasi bangunan menuju sungai dan
menjadikan daerah sempadan sungai sebagai ruang terbuka public untuk
meningkatkan aksesbilitas masyarakat terhadap pemanfaatan badan air2.
Menurut Dinas Tata Kota Pontianak (2012) dalam RTRW Kota Pontianak
tahun 2012, untuk menjamin eksistensi dan keberlangsungan kawasan waterfront city
di kota Pontianak, ada beberapa persyaratan umum yang perlu dipenuhi antara lain.3
a. Tetap terpeliharanya kualitas perairan sungai Kapuas, sungai Kapuas kecil,
dan sungai Landak. Untuk itu setiap pelaku yang berlokasi di kawasan
waterfront city berkewajiban untuk memelihara kelestarian lingkungan
perairan sungai. Misalnya dalam hal pembuangan limbah, baik limbah padat
maupun limbah cair. Dalam hal ini, diperlukan suatu system dan peraturan

2 Studio Arsitektur 7, Waterfront City Pontianak, Steven Michael Lesil, 2015.

3 Jurnal Online Mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura Pontianak, Gedung


Pertunjukan Seni di Tepian Sungai Kapuas, Essy Narita, September 2014.

2
mengenai pengelolaan dan pengawasan lingkungan perairan sungai, yang
melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, swasta dan masyarakat.
b. Adanya system yang mengatur pengelolaan kawasan waterfront city secara
keseluruan, untuk mencegah terjadinya konflik berbagai kepentingan, dan
mengupayakan terjadinya sinergitas antar kegiatan dan antar pusat-pusat
kegiatan yang ada pada kawasan tersebut. Pengelolaan disini meliputi kegiatan
keuangan, operasional, dan pemeliharaan masing-masing kegiatan. Bentuknya
bias berupa pengelolaan kawasan waterfront city.
c. Adanya upaya untuk memperbaiki nilai estetika lingkungan, sehingga waktu
mendukung daya tarik kawasan waterfront city tersebut sebagai daerah tujuan
wisata. Salah satu upaya misalnya melalui pendekatan urban design kota tropis
yang mempertahankan arsitektur tradisional, pemanfaatan pepohonan dan
penataan bangunan.
d. Ditegakkannya hukum/peraturan pengelolaan dan pengawasan di kawasan
waterfront city dan sekitarnya secara tegas.

Seiring bertumbuhnya ketertarikan masyarakat kota Pontianak terhadap


apresiasi seni baik itu sebagai pelaku seni maupun penikmat seni, maka perlu adanya
suatu tempat/fasilitas dimana orang-orang dapat menikmati seni dengan nyaman dan
aman. Fasilitas ini dapat menjadi daya tarik pariwisata dan penunjang kegiatan
promosi budaya daerah setempat. Salah satu fasilitas untuk mendukung terpenuhinya
kebutuhan akan tempat untuk melihat dan menikmati berbagai macam pertunjukan
seni adalah Gedung Pertunjukan Seni atau Performing Art Center.
Performing Art Center adalah tempat yang dipergunakan sebagai tempat
pertunjukan seni, baik itu dari seni tari tradisional dan modern, seni musik, sampai ke
seni peran/teater. Terkait dalam hal itu, maka perancangan Performing Art Center
harus sesuai dengan standar perancangan ruang pertunjukan sehingga kualitas ruang
dapat mendukung penampilan seni itu sendiri, dan tercapai kepuasan bagi para
penikmat seni. Aspek-aspek seperti akustik, pencahayaan, view, dan beberapa aspek
lainnya perlu diperhatikan, sehingga kualitas ruang pertunjukan dapat sesuai standar
pertunjukan.

1.1.2. Latar Belakang Permasalahan


Dalam proses peningkatan nilai dari pariwisata dan kesenian-budaya di Kota
Pontianak, Pemerintah Kota Pontianak sedang mengembangkan pembangunan sektor
tepian sungai dalam rangka mewujudkan konsep kota Waterfront City. Pada saat ini
pembangunan yang dilakukan menggunakan konsep waterfront city yaitu pada
lapangan Alun-alun Kapuas yang berada langsung pada tepian sungai Kapuas yang
merupakan ruang publik bagi masyarakat kota Pontianak. Untuk selanjutnya
pemerintah kota sedang mengupayakan pembangunan sepanjang tepian sungai
Kapuas.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pembangunan dengan konsep
Waterfront City belum sepenuhnya terealisasikan, jika mengacu pada Peraturan
Daerah Kota Pontianak No. 4 Tahun 2002 antara lain adalah.
3
a. Terbatasnya dana anggaran oleh pemerintah, dimana pembangunan Waterfront
City memakan biaya yang sangat besar karena berkaitan dengan penataan
kawasan.
b. Belum terlaksananya pembanguanan Waterfront City dikarenakan belum
adanya RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan) yang menjadi dasar
dalam pengembangan konsep dari Waterfront City itu sendiri.
c. Lahan milik masyarakat ditepian sungai Kapuas yang masuk kedalam
perencanaan Waterfront City cukup banyak, sehingga jika realisasikan maka
akan membutuhkan dana yang besar untuk proses ganti rugi dan/atau
konsolidasi.
d. Sumber daya masyarakat (SDM) baik dari segi kuantitas maupun kualitas
belum cukup dalam mendukung pembangunan Waterfront City.
e. Sulitnya penataan kembali pada area pengembangan karena kondisi eksisting
ini merupakan milik dari masyarakat. Sehingga jika dilakukan penataan
kembali maka dana yang dikeluarkan akan bertambah berkali lipat. Selain itu
bangunan-bangunan yang ada di tepian sungai Kapuas belum tertata rapi
sehingga menjadi salah satu permasalahan perencanaan tata ruang pada
kawasan tepian sungai. Padahal jika mengacu pada konsep perancangan
Waterfront City, dicirikan dengan orientasi bangunan yang menghadap sungai,
atau dengan kata lain bagian muka menghadap sungai. Sehingga membentuk
karakter koridor sungai.
f. Proses sosialisasi mengenai konsep Waterfront City oleh Pemerintah Kota
kepada masyarakat khususnya mereka yang mendiami kawasana/area tepian
sungai Kapuas dinilai masih kurang gencar.

Pada tahun 2013, Pemerintah Kota Pontianak telah menganggarkan sekitar Rp. 200
Miliar untuk merealisasikan penataan Waterfront City, sementara pengerjaannya akan
dilakukan secara bertahap.
Rencana awal permerintah merupakan pembanguna jalan parallel/riverwalk
disepanjang tepian sungai Kapuas dengan lebah minimal 10 meter dan dilengkapi
dengan aksesoris streetscape serta penambahan ruang terbuka hijau. Saat ini di tepian
sungai Kapuas telah dibangunan turap oleh Balai Sungai dan pihak swasta
menggunakan dana dari APBN dengan jalur lokasi pasar Parit Besar Taman Alun
Kapuas Pelabuhan Senghi. Mengingat ketiga tempat ini menjadi pusat kegiatan
masyarakat yaitu dibidang ekonomi dan rekreasi wisata air. Rencana pemerintah
termasuk dalam penataan toko-toko disekitar kawasan Jl. Sultan Mahmod akan ditata
dua hadap atau memiliki dua wajah banguan/faade. Dan untuk bagian belakang yang
menghadap kearah sungai Kapuas langsung mungkin akan dipotong sekita 10 meter
sehingga memungkinkan untuk mengembangkan konsep Waterfront City sepanjang
tepian sungai Kapuas4.
Selain dalam pengembangan konsep Waterfront City, terdapat beberapa
masalah juga untuk pengadaan Performing Center Art yang berada ditepian sungai
Kapuas, diantaranya adalah.

4 Studio Arsitektur 7, Waterfront City Pontianak, Steven Michael Lesil, 2015.

4
a. Kondisi disekitar tepian sungai Kapuas yang didominasi oleh bangunan-
bangunan komersial sebagai pengerak kegiatan ekonomi, sehingga masalah
kemacetan dan sibuknya alur lalu lintas tidak dapat terelakkan.
b. Belum adanya penataan untuk para pedagang kaki lima disepanjang tepian
sungai Kapuas, sehingga memberikan kesan tidak rapi pada area yang akan
dijadikan Waterfront City terutama pada kawasan Taman Alun Kapuas.
c. Keberadaan Performing Art Center akan menjadi pusat kegiatan baru pada
area tepian sungai Kapuas, karena pada kawasan/area tersebut didominasi oleh
bangunan-bangunan komersial dan pemerintahan.
d. Kebutuhan fasilitas untuk pertunjukan seni yang sangat minim, meningat
perkembangan seni terus berkembang namun fasilitas untuk mewadahi
pertunjukan seni tersebut sangat sedikit. Wadah yang ada baru sebatas
sanggar dan komunitas-komunitas pengerak seni.

Dalam pengembangannya pengadaan Performing Art Center bertujuan untuk


memfasilitasi kebutuhan akan ruang untuk menikmati dan mempertunjukan seni.
Namun pada kenyataannya saat ini, pertunjukan seni yang dilaksanakan belum pada
tempat yang semestinya. Pertunjukan seni yang ada dilaksanakan umumnya dilakukan
di gedung serba guna dan lapangan terbuka. Sehingga jika di ukur dari kualitas suara,
pencahayaan, dan kenyamanan, hal ini menjadi nilai minus dan seni yang ditampilkan
tidak akan tersampaikan dengan baik kepada penontonon. Maka dari itu dalam
perancanganannya akan dimaksimalkan pada desain ruang pertunjukannya, sehingga
para penonton dapat menikmati seni yang ditampilkan oleh para pelaku seni.

Seni sendiri adalah suatu hal yang tidak bisa dibatasi jangkauannya, karena
seni sendiri itu berasal dari dalam diri seseorang yang diekspresikan keluar baik itu
melalui seni tari/gerak, seni music dan seni peran. Dan hal ini menjadikannya
memiliki sebuah bentuk (form) yang dinamis/tidak kaku. Dalam seni tari misalnya
kita dapat melihat gerakan-gerakan dinamis yang dihasilkan oleh sang penari, dan
menjadikan hal ini menarik. Maka pada perancanganan Performing Art Center ini
memenerapkan unsur-unsur karakter yang dinamis, karena sesuai dengan fungsi
tipologinya yang merupakan bagunan untuk kegiatan seni, maka ada unsur seni yang
diambil dan diterapkan kedalam bangunan. Selain karakter dinamis sendiri, seni juga
memiliki salah satu karakter yang penting yaitu ekspresif, seperti pokok bahasannya
Performing Art Center yang mana tempat untuk para seniman khususnya seni
pertunjukan untuk meng-ekspresikan seni yang mereka miliki. Jika ditinjau kembali
dari karakter seni yang dinamis dan ekspresif maka akan menjadi kesatuan dengan
tipologi bangunan Performing Art Center yang mana untuk menunjukan seni
pertunjukan yang ditampilkan oleh para pelaku seni/seniman yang memiliki karakter
dinamis dan ekspresif dalam setiap karyanya. Karakter dinamis dan ekspresif ini
sendiri bukan hanya diterapkan untuk perancanganan Performing Art Center saja,
namun diharapkan dari penerapan karakter ini para pegunjung juga dapat terlibat dan
merasakan karakter seni yang dinamis dan ekspresif melalui rancangan tampilan dan
penataan ruang pada Performing Art Center ini.

5
Perancangan Performing Art Center ini juga memperhatikan bagaimana
bangunan ini dapat menjadi pusat dari kegiatan seni itu sendiri. Sehingga bukan hanya
bangunan iconic saja, yang setelah dibangun namun tidak dapat menunjang kegiatan
seni pertunjukan yang ada di Kota Pontianak. Salah satu caranya adalah dengan
membuat tampilan atau visual dari pengunjung terhadap Performing Art Center
semenarik mungkin, sehingga pengunjung akan dibuat penasaran dengan fungsi
bangunan tersebut. Pemilihan gaya bangunan juga berpengaruh pada perancangan
Performing Art Center ini. Kota Pontianak sendiri termasuk kedalam kategori kota
yang sedang membangun pertumbuhannya, baik dari segi ekonomi, social, budaya,
pariwisata, dan lain-lain. Ini menunjukan kota ini sedang bergerak maju kearah
perkembangan kota yang lebih baik. Dan pengaruh dari perkembangan ini juga
berdampak pada gaya bangunan yang ada dikota ini, yaitu condong kearah masa kini
atau postmodern. Yang mana mulai menggunakan teknologi-teknologi industry dalam
pembangunannya. Namun hal ini juga dapat menjadi dampak buruk pada arsitektur
lokal daerah setempat, yang mana ada indikasi mulai ditinggalkan dan lebih condong
pada arsitektur masa kini (postmodern). Maka dari itu pada perancangan Performing
Art Center mengkombinasikan antara arsitektur masa kini (postmodern) dan arsitektur
regional setempat dalam konteks ini arsitetur regional Kota Pontianak. Kombinasi ini
ditujukan agar Performing Art Center sendiri dapat menyesuaikan diri pada
perkembangan zaman, namun juga tidak melupakan arsitektur daerah setempat.
Dalam penerapannya dapat berupa penerapan-penerapan ornamen-ornamen daerah
lokal, teknik konstruksi daerah setempat, atau material-material lokal yang sudah
dimodifikasi sehingga dapat menyesuaikan dengan arsitektur masa kini. Sehingga jika
ditinjau dari gaya arsitektur yang digunakan maka akan ditemukan gaya arsitektur
Postmodern Regionalism. Rancangan yang dihasilkan mengikuti perkembangan
zaman, namun juga tetap menerapkan kearifan arsitektur regional setempat.

Konsep dari penataan kawasana Waterfornt City sendiri adalah menjadikan


kawasan tepian sungai sebagai tempat dimana orang-orang dapat berinteraksi satu
sama lain karena fungsinya sebagai ruang terbuka publik (public space), dapat
bersantai, dan sebagainya. Tidak hanya itu konsep Waterfront City dapat digunakan
untuk pengembangan bangunan lain seperti perumahan, institusi, perkantoran dan
hotel resort yang mana memiliki nilai tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi kawasan
tersebut. Namun jika hanya berfokus pada perkembangan ekonomi maka kota tersebut
akan menjadi tidak sehat, karena masyarakat kota tersebut akan menjadi stress karena
terlalu fokus terhadap pekerjaaan dan kurang menikmati waktu luang yang mereka
miliki. Maka dari itu untuk penerapan konsep Waterfront City sendiri pada area dari
Performing Art Center akan diterapkan dalam konsep desain yang berupa taman
dengan diberi fasilitas seperti elemen-elemen penghias taman dan vegetasi-vegetasi,
pusat kuliner untuk memberi tempat kepada para pedagang kaki lima yang berjualan
sembarangan sehingga memberi kesan tidak rapi, tempat pertunjukan seni outdoor
sehingga dapat menjadi tempat untuk orang-orang menikmati seni dengan
pemandangan langsung ke arah sungai Kapuas, penyediaan area riverwalk agar wisata

6
sungai Kapuas dapat meningkat sekaligus menjadi koridor pergerakkan di
area/kawasan tersebut.
Pengadaan bangunan publik dan ruang publik seperti ini perlu diadakan karena
selain sebagai tempat orang-orang menikmati dan menunjukkan hasil kreatifitas
mereka, kemudian orang-orang dapat bersantai dan saling berinteraksi, dapat juga
membantu mengurangi tingkat kejenuhan dalam suatu kota karena masyarakatnya
yang terlalu fokus pada pekerjaan. Selain itu dapat juga membantu promosi pariwisata
baik itu tentang seni-budaya dan wisata alamnya dari hal ini adalah sungai Kapuas
sebagai objek. Selain itu pengadaan Performing Art Center di tepian sungai Kapuas
juga dapat menjadi wajah baru dan ikon baru bagi kota Pontianak sendiri.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Bagaimana wujud rancangan Performing Art Center di Waterfront City
Pontianak yang menampilkan karakter dinamis dan ekspresif melalui penataan ruang
dan tampilan bangunan dengan pendekatan arsitektur Postmodern - Regionalism ?

1.3.TUJUAN DAN SASARAN


1.3.1. Tujuan
Tujuan dasar dari perancangan Performing Art Center ini adalah
memberikan wadah/fasilitas bagi kegiatan seni khususnya seni pertunjukan,
yaitu seni tari, seni musik, dan seni peran/teater. Yang memiliki karakter
dinamis dan ekspresif melalui penataan ruang dan tampilan sesuai dengan ciri
dari arsitektur Postmodern - Regionalism. Sehingga Performing Art Center di
Waterfront City Pontianak dapat menjadi fasilitas baru dan ikon baru bagi kota
ini.

1.3.2. SASARAN
Sasaran dari perancangan Performing Art Center ini adalah.
Memfasilitasi kegitan seni pertunjukan, mulai dari proses
pembelajaran/edukasi hingga sampai pada tahap pertunjukan.
Menghasilkan sebuah rancangan bangunan yang dapat menjadi
simbol/ikon baru bagi kota Pontianak di kawasan Waterfront City.
Studi tentang karakter seni yang dinamis dan ekspresif untuk
diterapkan kedalam rancangan bangunan.
Studi tentang teori arsitektur Postmodern - Regionalism untuk
penerapan kedalam bangunan Performing Art Center.
Studi terhadap sistem penataan Tata Suara (akustika), Tata Cahaya
(lighting), dan penglihatan dari penonton (view) untuk menentukan
standar kualitas ruang pertunjukan.

1.4.LINGKUP STUDI
7
1.4.1. MATERI STUDI
1.4.1.1. Lingkup Spatial
Penekanan studi dalam perancangan Performing Art Center adalah
penataan ruang luar dan ruang dalam yang mana untuk mendukung
tujuan utamanya yaitu pertunjukan seni. Untuk penataan ruang dalam
diberatkan pada peletakan ruang untuk sirkulasi bagi para pengguna.
Mengingat bangunan ini merupakan fasilitas untuk pertunjukan seni,
maka akses bagi penonton dan pelaku seni tidak boleh bertabrakan.
Penataan ruang luar difokuskan pada penataan area publik yang sesuai
dengan konsep penataan Waterfront City yang mana area publik ini
dapat juga sebagai tempat untuk pertunjukan seni, dan pola penataan
sirkulasi parkir kendaraan baik bagi pengunjung dan juga pengelola.

1.4.1.2. Lingkup Substansial


Bagian-bagian dari ruang dalam dan ruang luar pada obyek
perancangan akan diolah sebagai penakanan studi adalah suprasegmen
arsitekur yang mana mencakupi bentuk (form), jenis bahan (materials),
warna, tekstur, dan skala/proporsi pada bagian-bagian interior dan
eksterior dari Performing Art Center sesuai dengan konsep
Postmodern-Regionalism sehingga dapat menampilkan bangunan
dengan karakteristik dinamis dan ekspresif.

1.4.1.3. Lingkup Temporal


Rancangan Performing Art Center ini yang mana merupakan
tempat/fasilitas pertama untuk pertunjukan seni dapat menjadi
penyelesaian penekanan studi untuk 33 tahun kedepan atau umur 1
generasi.

1.4.2. PENDEKATAN STUDI


Untuk penyelesaian penekanan studi akan dilakukan dengan penataan
ruang, dan tampilan bangunan yang memiliki karakter dinamis dan ekspresif
dengan menggambil pendekatan arsitektur Postmodern-Regionalism.

1.5.METODE STUDI
1.5.1. POLA PROSEDURAL
1.5.1.1. Studi Literatur
Studi ini dilakukan untuk mendapatkan pengertian awal tentang
obyek studi, data-data awal tentang proyek, standar untuk perancangan
gedung pertunjukan, dan landasan tentang sistem perancangan akustika
tata cahaya penglihatan (view) secara teoritis.

8
1.5.1.2. Studi Lapangan
Studi ini bertujuan untuk memahami kondisi lapangan secara
detail sebagai data dan informasi untuk pemecahaan masalah sehingga
dapat memberikan respon bagi pemecahan masalah tersebut. Hasil dari
survey ini berupa catatan dan informasi mengenai site, dan foto-foto
sebagai gambaran untuk pemecahan masalah yang ada.

1.5.1.3. Studi Komparasi


Mengumpulkan data-data tentang bangunan Performing Art
Center dan penataan kawasan Waterfront serupa, sehingga data-data
yang didapatkan akan digunakan sebagai acuan dan pembanding untuk
proses perancangan.

9
1.5.2. TATA LANGKAH

10
1.6. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan ini dibagi kedalam 6 BAB, yaitu.

BAB I : PENDAHULUAN, Bab ini akan menjelaskan mengenai latar berlakang


pengadaan proyek, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, lingkup studi, metode
studi, kerangka pikir dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN TENTANG PERFORMING ART CENTER, Bab ini akan


membahas pengertian dari seni, gedung pertunjukan, dan standar-standar
perancangan gedungung pertunjukan.

BAB III : TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN KONTEKSTUAL, Bab


ini akan membahas tentang teori-teori yang akan digunakan. Mulai dari teori
arsitektur Postmodern-Regionalism, hingga tata cara pengaplikasian sistem akustik,
tata cahaya dan penglihatan pada ruang pertunjukan.

BAB IV : TINJAUAN KOTA PONTIANAK, Bab ini meninjau tentang kondisi


tapak yang akan dijadikan site perancangan. Mulai dari peraturan daerah, iklim,
kebudayaan, dan lain-lain.

BAB V : ANALISIS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN, Bab ini akan


menjelaskan tentang analisis tapak, sistem organisasi ruang dan hubungan ruang.

BAB VI : KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN, Bab ini


merupakan rumusan konsep dari hasil analisis mulai dari Bab I hingga Bab V.
Konsep ini mulai dari perencanaan tapak, perencanaan gubahan massa, perencanaan
tampilan interior maupun eksterior, perencanaan sistem utilitas, dan perencanaan
struktur.

11