Anda di halaman 1dari 6

Judul : Analisis Tingkat Risiko Bencana Letusan Gunung Api Peut Sagoe di

Kecamatan Geumpang, Pidie


Nama : RM Teguh Prawira Atmaja Nim : 1609200140008

A. Latar Belakang
Indonesia terletak pada tumbukan tiga lempeng aktif dunia yaitu Lempeng Eurasia,
Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Tumbukan ketiga lempeng tersebut
mengakibatkan adanya zona subduksi aktif di Indonesia. Menurut Lilik Kurniawan dkk
(2011:1) ketiga lempengan tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga Lempeng
Indo-Australia bergerak relatif ke utara menunjam ke bawah lempeng Eurasia yang bergerak
ke arah selatan. Penunjaman (subduction) lempengan tersebut menimbulkan adanya gempa
bumi, rangkaian jalur gunungapi aktif yang memanjang dari Pulau Sumatra, Pulau Jawa,
Pulau Bali, dan Nusa Tenggara serta dapat menimbulkan adaya sesar atau patahan.
Wilayah gunungapi merupakan wilayah yang sangat subur sehingga menjadi daya tarik
bagi manusia untuk menempati wilayah sekitar gunungapi. Sebagian penduduk di Indonesia
menampati wilayah sekitaran gunungapi tersebut. Menurut Peraturan Kepala BNPB Nomor
04 Tahun 2008 jumlah penduduk yang tinggal di wilayah gunungapi mencapai 5,5 juta jiwa.
Keberadaan banyak penduduk yang tinggal dan beraktivitas di sekitar gunungapi akan
berpotensi menimbulkan bencana apabila terjadi aktivitas kegunungapian pada gunungapi
wilayah tersebut.
Erupsi gunungapi dapat mengakibatkan terjadinya berbagai kerusakan pada suatu
wilayah. Kerusakan yang diakibatkan adanya bencana erupsi gunungapi meliputi kerusakan
infrastruktur seperti bangunan rumah penduduk, fasilitas umum, fasilitas pemerintahan,
kerusakan lahan pertanian dan sangat berpotensi menimbulkan jatuhnya korban luka maupun
korban jiwa. Dampak dari kerusakan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terganggunya
kehidupan penduduk, lumpuhnya sektor perekonomian, dan mengganggu jalannya kegiatan
pembangunan nasional. Besarnya dampak yang diakibatkan oleh terjadinya bencana erupsi
gunungapi sangat tergantung dari skala dan intensitas terjadinya bencana erupsi gunungapi.
Aceh merupakan salah satu bagian dari ring of fire di Indonesia, dimana terdapat
beberapa gunungapi yaitu gunung Peut Sagoe berada di wilayah Geumpang (Pidie), gunung
Seulawah Agam yang berada di kawasan Aceh Besar, gunung Geureudong yang berada di
kawasan Bener Meriah, gunung Burni Telong yang berada di kawasan Bener Meriah, gunung
Jaboi yang berada di kawasan Sabang dan gunung Leuser yang berada di kawasan Aceh
Tenggara.
Secara geografis gunung Peut Sagoe terletak pada 40 55,5 LU dan 960 20 BT. Bentuk
dan struktur vulkanik dari gunung Peut Sagoe termasuk gunungapi muda (kwarter) tipe Strato
yang merupakan salah satu gunungapi yang digolongkan masih aktif. Gunung Peut Sagoe
dapat diartikan gunung yang memiliki empat puncak gunungapi, tiga puncak terletak pada
garis lurus yang mengarah Utara ke Selatan dengan puncak tertinggi berada di bagian
Selatan. Sedangkan puncak yang terletak di sebelah Timur Laut merupakan pusat aktivitas
yang masih aktif, karena pada daerah ini terdapat kawah dengan diameter 100 m dan
kedalaman 50 m. Gunung Peut Sagoe termasuk dalam kawasan ekosistem Ulu Masen yang
mencakup enam wilayah diantaranya Kabupaten Bireuen, Pidie Jaya, Pidie, Aceh Besar,
Aceh Jaya dan Aceh Barat. Luas kawasan Ulu Masen sekitar 750.000 ha dengan gunung Peut
Sagoe sebagai puncak yang tertinggi 2780 m dpl.
Tercatat terakhir kali gunung Peut Sagoe mengalami peningkatan aktivitas pada tahun
2000 dimana pada bulan desember terjadi letusan dan sebaran abunya mencapai Geumpang,
Lutung, Mane dan Bangke yang jaraknya 20 km dari gunung Peut Sagoe. Dan pada 08 April
tahun 2007, gunung Peut Sagoe diisukan bakal meletus sehingga menimbulkan kepanikan
warga yang tinggal di sekitar gunung Peut Sagoe. Masyarakat dari lima desa berduyun-duyun
mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman (Serambi Indonesia, 10/04/2007).
Menurut Thornbury (1969: 16) dalam ilmu geomorfologi dikenal adanya sebuah
konsep yaitu hukum dan proses fisika yang sama yang berlaku saat ini, berlangsung pula
sepanjang waktu geologi meskipun intensitasnya tidak selalu sama dengan intensitasnya saat
ini. Hal tersebut menunjukan bahwa gunung Peut Sagoe dapat mengalami peningkatan
aktivitas sewaktu-waktu atau bahkan terjadinya erupsi meskipun saat ini statusnya aktif
normal.
Kecamatan Geumpang memiliki karakteristik wilayah yang berpotensi terdampak
risiko bencana yang diakibatkan oleh erupsi gunungapi. Potensi terjadinya bencana di
Kecamatan Geumpang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bahaya saja, akan tetapi juga
faktor kerentanan dan kapasitas bencana. Potensi terjadinya bencana menyebabkan timbulnya
risiko yang harus dihadapi oleh penduduk yang berada di Kecamatan Geumpang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, salah satu elemen penting dalam penanggulangan
bencana adalah informasi tingkat risiko bencana. Informasi ini dapat dimanfaaatkan sebagai
acuan baik pra bencana, yaitu mitigasi dan kesiapsiagaan, penanganan darurat pada saat
bencana, maupun pemulihan pasca bencana. Kajian mengenai tingkat risiko bencana dapat
digunakan untuk menganalisis tingkat bahaya yang terjadi dan tingkat kerentanan fisik,
sosial, lingkungan, serta ekonomi penduduk di Kecamatan Geumpang dalam menghadapi
bencana. Kajian risiko bencana juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kapasitas atau
kemampuan penduduk dan pemerintah dalam menghadapi bencana yang berpotensi terjadi.
Analisis tingkat dan sebaran risiko perlu dilakukan di Kecamatan Geumpang sebagai wilayah
yang rawan bencana erupsi gunungapi.
B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh dari masing-masing faktor bahaya, kerentanan, dan kapasitas
terhadap terjadinya bencana erupsi Gunungapi Peut Sagoe di Kecamatan
Geumpang.
2. Mengetahui tingkat dan sebaran risiko bencana erupsi Gunungapi Peut Sagoe di
Kecamatan Geumpang, Pidie.
C. Design Penelitian
Desain penelitian merupakan penggambaran tentang hubungan antar variabel,
pengumpulan data, dan analisis data, sehingga dengan adanya desain yang baik peneliti
mempunyai gambaran yang jelas tentang keterkaitan antar variabel dan apa yang hendak
dilakukan peneliti dalam pelaksanaan penelitian (Juliansyah Noor, 2011: 108).
Penelitian ini berdasarkan keterkaitan dengan populasi menggunakan metode penelitian
sampling. Berdasarkan keterkaitan dengan karakteristik objek penelitian, penelitian ini
menggunakan metode survei. Menurut Hadi Sabari Yunus (2012: 311) pada praktiknya
metode survei juga dapat dipraktikan untuk gejala fisikal alami dan budayawi yang
merupakan objek yang tidak dapat diwawancarai, namun atribut terkait dari objek dapat
diketahui melalui pengukuran-pengukuran langsung (observasi) terhadap objek yang
bersangkutan.
Berdasarkan keterkaitan dengan analisis datanya penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan metode kuantitatif.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan geografi yang meliputi pendekatan
keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan. Pendekatan keruangan ditujukan oleh cara
pandang terhadap lokasi penelitian dimana wilayah Kecamatan Geumpang yang terdiri dari
berbagai variasi kondisi lahan dipandang suatu kesatuan ruang yang memiliki pola, interaksi,
dan asosiasi. Pendekatan kelingkungan ditunjukan oleh keterkaitan antara tingkat bahaya
sebagai hasil proses alam dengan tingkat kerentanan dan kapasitas yang melibatkan menusia
serta unsur sosial budaya didalamnya. Pendekatan kewilayahan terutama digunakan dalam
analisis hasil risiko pada setiap desa. Hasil analisis tersebut selanjutnya disusun untuk
menggambarkan tingkat dan sebaran risiko di wilayah Kecamatan Geumpang.
D. Populasi dan Sampel
Populasi digunakan untuk menyebutkan seluruh elemen atau anggota dari suatu
wilayah yang menjadi sasaran penelitian atau merupakan keseluruhan (universum) dari objek
penelitian (Juliansyah Noor, 2011: 147). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh desa
atau kelurahan di wilayah Kecamatan Geumpang yang terbagi menjadi KRB I, KRB, II, dan
KRB III. Perbedaan KRB akan berpengaruh pada tingkat bahaya dan kerentanan yang
dialami oleh setiap desa atau kelurahan di Kecamatan Geumpang.
Pada tingkat kapasitas dilakukan pengambilan sampel untuk memperolah data kapasitas
bencana. Pengambilan sampel adalah proses memilih sejumlah elemen secukupnya dari
populasi, sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman tentang sifat atau
karakteristiknya dapat digunakan untuk menggeneralisasikan sifat atau karakteristik tersebut
pada elemen populasi (Juliansyah Noor, 2011: 148). Pengambilan Sampel dilakukan dengan
teknik purposif. Menurut Hadi Sabari Yunus (2012: 302) penekanan pada teknik purposif
adalah pada karakter anggota sampel yang karena pertimbangan mendalam dianggap atau
diyakini oleh peneliti akan benar-benar mewakili karakter populasi.
Pada tingkat kapasitas bencana populasinya ialah seluruh desa atau kelurahan yang
terbagi pada masing-masing KRB. Penentuan sampel dalam untuk memperoleh data
kapasitas bencana dilakukan dengan teknik purposif berdasarkan tingkat KRB tertinggi luas
wilayah terancam. Masing-masing KRB akan diwakili oleh Desa yang memiliki tingkat
tertinggi. Dari masing-masing desa atau kelurahan tersebut akan diwakilkan oleh
penduduknya yang dianggap berkompeten yaitu perangkat desa atau kelurahan setempat.
E. Cara Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk
menjawab rumusan masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data antara lain:
1. Wawancara
Menurut Hadi Sabari Yunus (2010: 357) wawancara adalah kegiatan pengumpulan
data yang dilakukan peneliti dengan cara menanyakan secara langsung pada sumber
informasi. Instrumen yang digunakan ialah pedoman wawancara. Suatu pedoman
wawancara sangat diperlukan agar peneliti tidak kehilangan orientasi dalam proses
wawancara. Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data kapasitas suatu
wilayah dalam menghadapi bencana yaitu jenis organisasi penanggulangan bencana
dan keberadaan kearifan lokal.
2. Observasi
Menurut Juliansyah Noor (2011: 140) teknik ini menuntut adanya pengamatan dari
peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian.
F. Rencana Analisa
Teknik analisis data adalah cara-cara yang digunakan untuk memberikan makna pada
data-data yang telah didapat. Penelitian ini menggunakan beberapa teknik analisis data yaitu:
1. Analisis Pengharkatan (scoring)
Pengharkatan dilakukan pada masing-masing variabel bahaya, kerentanan, dan
kapasitas untuk mengetahui tingkat risiko bencana. Analisis pengharkatan
dilakukan dengan bantuan software ArcGIS 10.1. Variabel yang akan diharkat
adalah sebagai berikut:
a. Bahaya
Penentuan tingkat bahaya erupsi gunungapi di Kecamatan Geumpang
dilakukan berdasarkan KRB Gunung Peut Sagoe yang diterbitkan oleh Badan
Geologi.
b. Kerentanan
1) Kerentanan Sosial
2) Kerentanan Ekonomi
3) Kerentanan Fisik
4) Kerentanan Lingkungan (Jenis Penggunaan Lahan)
c. Kapasitas
1) Kapasitas Sosial
2) Kapasitas Sistem Menejemen Kebencanaan
Penentuan tingkat risiko bencana dipengaruhi oleh bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Bahaya merupakan faktor yang berasal dari alam sifatnya tidak dapat dikurangi, sedangkan
kerentanan dan kapasitas merupakan faktor yang berasal dari manusia sifatnya dapat dirubah.
Semakin besar kerentanan maka risiko bencana akan semakin besar, sedangkan semakin
besar kapasitas maka risiko bencana akan semakin kecil.
2. Analisis Tumpang-susun Peta (Overlay) dalam Sistem Informasi Geografi (SIG)
Analisis overlay dilakukan dengan melakukan tumpang susun peta pada masing-
masing variabel bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Ketiga variabel tersebut akan
menghasilkan tiga buah peta baru yaitu peta bahaya, peta kerentanan, dan peta
kapasitas. Peta risiko bencana dihasilkan dengan melakukan tumpang susun peta
bahaya, peta kerentanan, dan peta kapasitas. Analisis overlay dilakukan dengan
bantuan software ArcGIS 10.1.
3. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan untuk menggambarkan sebaran tingkat risiko bencana
Erurupsi Gunung Peut Sagoe. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan
peta tingkat risiko bencana erupsi Gunung Peut Sagoe. Deskripsi sebaran meliputi
luas wilayah sebaran masing-masing tingkat risiko dan lokasi keberadaan masing-
masing tingkat risiko di setiap desa atau kelurahan di Kecamatan Geumpang.
G. Timeline

Anda mungkin juga menyukai