Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Survei adalah teknik riset dengan memberi batas yang jelas atas data,
penyelidikan, peninjaun di suatu daerah. Menyurvei adalah memeriksa,
menyelidiki, meninjau. Penyurvei adalah orang yang menyurvei. Survei tanah
adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk dapat membedakan tanah satu
dengan yang lain yang kemudian disajikan dalam suatu peta (Tamtomo, 2008).
Penelitian tanah di lapangan dan di laboratorium, yang dilakukan secara
sistematis dengan metoda2 tertentu, terhadap suatu daerah, yang ditunjang oleh
informasi dari sumber-sumber lain yang relevan (SCSA, 1982). Survei sangat
diperlukan dalam proses dalam berbagai penelitian, terutama dalam proses yang
dilakukan dilapangan, oleh karena itu penyajian mengenai berbagai hal tentang
pelaksanaa survei perlu dibahas dan diketahui lebih lanjut.
Tanah adalah berasal dari bebatuan yang melapuk dimana tanah pada
umumnya digunakan untuk tempat tumbuh tanaman dan organisme lain. Tanah
sendiri terdiri dari empat komponen diantaranya yaitu 45% bahan mineral, 5%
bahan organik, 25% air, dan 25% udara. Dalam ilmu tanah, dikenal dengan istilah
profil tanah dimana profil tersebut berkembang membentuk horizon. Horizon
pada setiap profil tanah akan memliki ciri-ciri yang berbeda baik dari warna,
tekstur, stuktur, konsistensi dan hal lain yang menjadi pencirinya. Setiap lokasi
memiliki jenis tanah yang berbeda-beda dimana jenis tanah tersebut sangat
mendukung kehidupan khususnya pada bidang pertanian. Dengan adanya
perbedaan jenis tanah, maka berbeda pula klasifikasi tanah pada tiap lokasi
dimana jenis tanah tersebut dapat mempengaruhi kemampuan lahan, kesesuaian
lahan dan cara pengeloaan lahannya. Untuk itu perlu dilakukannya survey tanah.

1.2 Tujuan Makalah


Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini ialah:
1. Untuk mengetahui tahapan dalam survei tanah.
2. Untuk mengetahui tahapan survey lapang.
3. Untuk mengetahui pelaksanaan survey pada berbagai skala survey tanah.
4. Untuk mengetahui cara analisis laboratorium contoh tanah dan pembuatan
peta dan laporan

1.3 Manfaat Makalah


Dengan disusunya makalah ini bermanfaat untuk kita agar memahami
tahapan dalam survey tanah, memahami tahapan survey lapang, memahami
pelaksanaan survey pada berbagai skala survey tanah dan memahami cara analisis
laboratorium contoh tanah dan pembuatan peta sera laporan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tahapan Persiapan


Berikut ini adalah tahapan-tahapan persiapan pada pelaksanaan survei
tanah, tahapan-tahapan tersebut akan di uraikaan sebagai berikut:
2.1.1 Menentukan Tujuan Survei Tanah
Survei tanah dilakukan untuk mengetahui penyebaran jenis tanah dan
menentukan potensinya untuk berbagai alternatif penggunaan lahan. Tujuan
survei tanah adalah mengklasifikasikan dan memetakan tanah dengan
mengelompokkan tanah yang sama atau hampir sama sifatnya (Subardja.
2000).
2.1.2 Mengestimasi Biaya Survei Tanah
Menurut Rayes (2007) dalam survei tanah macam sekala peta yang
akan dihasilkan sangat berhubungan dengan intesnsitas pengamatan
lapangan, dengan demikian sangat menentukan besarnya buaya yang
diperlukan. Semakin detail survei (semakin besar skala peta yang
dihasilkan) maka semakin tinggi intesitas pengamatan lapangan yang
diperlukan sehingga biaya per satuan luas semakin tinggi. Secara umum,
komponen biaya survey dibedakan ke dalam 2 kelompo, yaiut upah atau gaji
dan biaya survey.
2.1.3 Merumuskan Kerangka Acuan
Menurut Rayes (2007) perumusan kerangka acuan perlu dilakukan
agar pihak pelaksana survie maupun pihak pengguna, mencapai kesepakatan
tentang beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan survey tanah
tersebut. Dalam kerangka acuan ini, diuraikan dengan jelas tentang tujuan
survey, bahan dan alat yang digunakan, metode survey, macam analisis,
susunan organisasi, dana yang diperlukan, macam peta dan laporan yang
dihasilkan dan lain-lain.

2.1.4 Membuat surat perjanjian Kerjasama


Surat perjanjian kerjasama ini dibuat bertujuan agar kedua belah
pihak yang terlibat, baik penyurvei dan pemilik lahan memiliki landasan dan
kekuatan hukum. Sehingga segala perjanjian yg sudah dibuat wajib
disepakati bersama. Apabila salah satu ada yang melanggar maka akan di
kenakan sanksi sesuai dengan sanksi yang sudah disepkati sebelumnya
dalam TOR. Dalam surat perjanjian juga dijelaskan kaa laporan survei harus
diserahkan.
2.1.5 Mengurus Perijinan
Penyurvei mengurus perijinan dengan menggunakan surat surat ijin
dari desa atau penguasa dalam daerah tersebut. Mulai dari pemerintah
daerah tingkat 1 sampai perangkat desa paling bawah.
2.1.6 Mengumpulkan Data-data Sekunder
a. keadaan iklim dan hidrologi
meliputi penilaian kesesuaian lahan, penentuan tempat dan waktu
tanam, dan lain sebagainya. Data klim diambil dari semua stasiun iklim atau
stasiun penakar curah hujan serta dari publikasi yg dikeluakan oleh BMKG.
b. Keadaan geologi dan bahan induk
Untuk menentukan penetapan nama bahan induk.
c. Keadaan topografi
Keadaan topografi daerah tercermin dari peta. Keadaan lereng suatu
daerah sangat mempengaruhi penggunaan lahan.
d. Keadaan vegetasi dan pnggunan lahan
Dipengaruhi oleh keadaan tanah dan ketersedaan air.
e. Keadaan tanah
Sangat penting yakni sebagai pembanding tetang tanah tanah yg
akan dijumpai di daerah survei lainnya. Informasi tersebut biasanya dari
peta tanah yang berskala lebih kecil.
f. Keadaan sosial ekonomi penduduk
Sangat diperlukan, karena dalam merencaanakan penggunaan lahan.
Dengan meliputi kepadatan laju perkembangan, dak kepemilikan tanah serta
sebagainya.
2.1.7 Melakukan Pengadaan Foto Udara dan Citra Satelit
Foto udara dan Citra satelit yang digunakan tergantung pada skala dan
tujuan survey tanah, citra satelit digunakan untuk memberikan informasi
tambahan bagi foto udara. Umumnya foto udara selalu diperlukan dalam
setiap survey tanah karena dapat memberikan beberapa keuntungan.
Idealnya skala foto udara yang digunakan untuk survey tanah adalah dua
kali lebih besar dari skala peta publikasi.
2.1.8 Menyiapkan Peta Dasar
Peta dasar dapat digunakan peta topografi (peta rupa bumi) atau
mosaic-foto) jika tidak tersedia peta topografi/ rupa muka bumi). Peta dasar
dari petarupa bumi harus disederhanakan dengan menghilangkan detail-
detail yang tidak perlu, seperti garis kontur yang terlalu rapat, dan lain-lain.
Informasi maupun objek yang terdapat pada peta dasar, harus diperbaharui
sesuai dengan informasi baru yang diperoleh. Peta Dasar yang digunakan
yaitu:
1. Peta Topografi atau Peta Rupa Bumi Indonesia topografi merupakan peta
yang memuat informasi umum tentang keadaan permukaan tanah
besertain formasi ketinggiannya menggunakan garis kontur, yaitu garis
pembatas bidang yang merupakan tempat kedudukan titik-titik dengan
ketinggian sama terhadap bidang referensi (pedoman/acuan) tertentu
(Rostianingsih,2004). Skala hendaknya 2 kali lebih besar dari peta yang
akan dihasilkan (untuk P. Jawa tersedia 1:25.000, luar Jawa umumnya
1:50.000, bahkan ada yang masih berskala kecil 1:250.000).
2. Sedapat mungkin berupa peta digital, jika tidak ada bisa berupa peta cetak.
Peta digital adalah peta dalam bentuk data digital, baik dalam bentuk data
vektor, raster, atau kombinasi keduanya. Peta Tanah, skala terbesar yang
telah dilakukan survei (sebagian besar wilayah Indonesia tersedia skala
1:250.000, beberapa lokasi tersedia skala 1:50.000)
3. Sebagai bahan pertimbangan untuk memprediksi tanah yang akan
ditemukan. Peta Tata Guna Lahan, skala terbesar dari peta yang telah
dilakukan survei (untuk P. Jawa tersedia 1:25.000, luar Jawa umumnya
1:50.000, bahkan ada yang masih berskala kecil 1:250.000).
2.1.9 Melakukan Interpretasi Foto Udara/Citra Satelit
Melakukan intrepretasi foto udara dan citra satelit dilakukan untuk
menghasilkan peta intrepretasi foto-udara, baik berupa peta wujud lahan
(landform), peta liputan lahan dan lain-lain. Hasil intrepretasi ini kemudian,
dipakai sebagai dasar dalam pembuatan peta rencana rintisan atau rencana
pengamatan, sehingga digunakan sebagai peta lapangan.
2.1.10 Menyiapkan Peta Lapangan
Menurut Rayes (2007) Peta lapangan merupakan peta rencana rintisan
(rencana pengamatan). Peta ini di buat pada peta wujud- lahan. Perlu
diperhatikan letak sebaran dan proporsi daerah kunci atau key area (jka
diperlukan). Dalam membuat rencana rintisan, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yatiu :
1. Rintisan utama hendaklah tegak-lurus terhadap pola wujud lahan
(tidak boleh sejjar dengan pola wujud lahan).
2. Hendaklah semaksimal mungkn memanfaatkan aksesibilitas yang ada.
3. Kedudukan rintisan awal hendaklah diketahui secara pasti, baik pada
peta maupun di lapangan.
4. Jumlah pengamatan, tergantung pada skala peta final (peta yang akan
dihasilkan).
2.1.11 Menyusul Jadwal Pelaksanaan
Menurut Rayes (2007) Penyusunan jadwal pelaksanaan (kegiatan)
survei harus di perhitungkan dengan matang, karena akan membawa
konsekuensi apabila terjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan, terutama
saat survei lapangan.
Sekalipun jadwal secara garis besar sudah tercantum dalam TOR,
namun sebaiknya ketua tim perlu menyusun jadwal yang lebh rinci dan
harus diketahui oleh semua anggota yang terlibat dalam kegiatan survei
tersebut.
2.1.12 Menyiapkan Alat dan Bahan Survei
Segala peralatan untuk pelaksanaan survei tanah disiapkan selengkap
mungkin, disesuaikan dengan jumlah regu yang ada. Berikut adalah Daftar
alat dan bahan yang umumnya diperlukan dalam kegiatan survei tanah :
Alat penggali :
1. Cangkul
2. Sekop
3. Ganco untuk tanah berbatu
4. Bor tanah
5. Palu geologi
Deskripsi tanah
1. Pisau tanah
2. Kaca-pembesar (pembesaran 10x)
3. Buku Munsell Color Chart
4. Botol air
5. Meteran (Roll meter) 2 meter
6. Sabuk profil (meteran berukuran lebar 3-5 cm, panjang 3 m)
7. Pengukur pH (pH meter Truog, atau kertas lakmus)
8. Kartu deskripsi profil tanah, kartu pemboran, kartu minipit
9. Meja-dada (sebagai alas untuk menulis)
10. Alat-alat tulis (Bulpoint + pensil + spidol permanent, stip dll)
11. Kamera
12. Botol masing-masing berisi larutan -dipyridil, HCl, H2O2, NaF
13. Kantong plastik tebal berkapasitas 2 kg
14. Ring sample
15. Kubiena box
16. Kartu label + tali
17. Karet gelang atau tali kecil
18. Stapler
Deskripsi Lokasi
1. Kompas
2. GPS
3. Klinometer atau Abney-hand level
4. Stereoskop saku
5. Altimeter
6. Buku catatan
Referensi Lapangan
1. Buku panduan deskripsi lapangan
2. Buku keys to soil taxonomy
3. Foto udara, Peta Topografi, Peta Geologi, Peta Pengamatan

2.2 Tahap Survei Lapang


2.2.1 Pra Survei
Kegiatan ini biasa dilakukan oleh ketua kelas, ataupun panitia yang
sudah dibentuk sebelum melakukan survei utama. Ketua tim ataupun panitia
yang sudah dibentuk, bertanggung jawab dalam kelancaran survey tanah
yang akan dilakasanakan. Tujuan dari pra-survei tanah dimaksudkan agar
survei utama berjalan dengan lancar dan efisien. Dalam pra-survei, ada
beberapa hal yang dilakukan, antara lain :
1. Mengurus perijinan daerah yang akan di survei, mulai dari tingkat desa,
kecamatan, kabupaten bahkan tingkat provinsi
2. Melakukan pengecekan terhadap hasil interpretasi foto udara atau batas-
batas yang ada pada peta dasar dan peta rencana rintisan guna mendapar
hasil menyeluruh dari hasil daerah survei, sehingga dapat dilakukan
perbaikan pada peta wujud lahan dan peta rencana rintisan.
3. Menyiapkan base camp untuk tempat istirahat dan menyiapkan anggota
tenaga kerja untuk melakukan survei.
4. Menetapkan jdwal survei utama, menyiapkan perpindahan basecamp, serta
biaya yang diperlukan dalam melakukan survei dan lain-lain.

2.2.2 Survei Utama


Survei utama dilakukan dengan anggota tim yang lengkap, sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan oleh ketua tim survei berdasarkan hasil
dari pra-survei. Beberapa kegiatan yang dilakukan pada saat
melakasaanakan survei utama yaitu :
1. Mengadakan Pengamatan Lapang
Pada pengamatan lapang ada tiga pengamatan yang harus dilakukan,
yaitu :
a. Pengamatan Identifikasi
Pada pengamatan identifikasi dilakukan dengan cara mengebor tanah
yang akan akan diidentifikasi atau pengamatan lain seperti pengamatan
pada tebing jalan atau tebing parit, yang bertujuan untuk mengenal satu
taksonomi. Setiap pengamatan bertujuan untuk mengenali kelompok
pedon pada daerah yang diidentifikasi.
Karakteristik tanah yang penting diamati meliputi horizon, warna,
tekstur, struktur, kealaman efektif tanah, keadaan drainase tanah dan lain-
lain. Morfologi lahan seperti lereng, relief, elevasi dan wujud lahan juga
perlu diamati. Disamping itu pengamatan fisiografi juga perlu
dilaksanakan, seperti penggunaan lahan dan macam vegetasi disekitar
lahan dan di catat pada kertas pengamatan.
b. Pengamatan Detail
Pengamatan ini dilakukan dengan masuk kedalam minipit, minipit
merupakan lubang yang dibuat dengan menggali dengan sekop dengan
ukuran 40 cm x 40 cm dan kedalaman sekitar 50 cm. Pengamatan ini
bermanfaat untuk membuat kisaran karakteristik satuan taksonomi tanah
untuk menentukan pedon tipikal maupun pedon satelit. Kedua pedon
dideskripsiskan pada profil tanah.
c. Deskripsi Profil Tanah
Umumnya digunakan pedoman yang diterbitkan oleh Soil Survey
Division Staff (1993), FAO (1990), Puslittanak (2004). Untuk
pengamatan tanah di lapangan dengan computer, dianjurkan
menggunakan kartu profil tanah untuk mendiskripsikan tanah. Deskripsi
profil tanah berfungsi untuk mengilustrasikan satuan taksonomi yang
terdapat di daerah survey. Profil atau penampang dibuat dengan ukuran
panjang 1,5-2 meter daan lebar 1 meter dengan kedalaman mencapai 2
meter atau sampai batuan induk, jika tanah lebih dangkal.
Pada pengamatan lapang adapun cara pengamatan dalam suatu survei
berikut cara-cara yang perlu diperhatikan dalam survei tanah :
a. Pada permulaan survei, pengamatan detail dilakukan terlebih dahulu,
yang bertujuan untuk mengelompokkan satuan taksonomi. Setiap
pengamatan tanah langsung diklasifikasikan menurut Kerangka Acuan
dan memiliki tujuan survei.
b. Dalam pengamatan minipit dilakukan seleksi dalam menentukan modal-
profile yang bertujuan untuk membuat kisaran sifat masing-masing
satuan tanah. Setelah itu mengambil sampel tanah dari masing-masing
horizon pada setiap pedon tipikal, yang selanjutnya akan dilakukan
deskripsi tanah, pengambilan sampel tanah dan deskripsi profil
dilakukan sama pada pedon satelit.
c. Pada akhir pengamatn dilakuka pengeboran tanah pada minipit secara
bergantian, untuk mengetahui komponen tanah pada satuan peta tanah
sudah sesuai dengan legenda peta tanah sementara. Sebagai tambahan,
dibuat profil tanah jika ditemukan tanah yang berbeda dalam
pengambilan tanah sebelumnya.
2. Pengamatan Pada Daerah Kunci (Key-area)
Daerah kunci merupakan daerah terpilih dalam daerah survei yang
didalamnya terletak saling berdekatan, terdapat sebanyak mungkin dalmam
satuan peta yang ada di seluruh daerah survei. Fungsi daerah kunci yaitu :
a. Memepelajari tanah lebih detail dari peta final
b. Membuat definisi satuan peta denga menyusun legenda peta
sementara.
c. Membuat orelasi antara satuan foto.
d. Mengumpulkan lebih lengkap data sumberdaya lahan seperti data pola
tanam, penggunaan lahan, produksi tanam dan lain-lain
Daerah kunci juga memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
a. Dapat mewakili sebanyak mungkin satuan peta yang ada di daerah
survei.
b. Harus dibuat dengan jelas antara hubungan tanah dan bentang-alam
atau landform, agar mudah dipahami.
c. Daerah kunci tidak boleh terlalu kecil (minimal skala semi detail).
d. Harus mudah diakses
Transek juga merupakan daerah kunci yang berbentuk jalur yang
mencakup sebanyak mungkin satuan peta. Ternsek tidak boleh sejajar
dengan batas wujud jalur. Dalam setiap survei tanah selalu membutuhkan
bantuan daerah kunci, kecuali :
a. Daerah suvei relative sempit.
b. Jika sudah mengetahiu bentang alam dengan baik.
c. Jika daerah harus didatangan keseluruhan secara intensif.
d. Jika survei skala kecil.
3. Pengambilan Contoh Tanah
Pengambilan contoh tanah, diambil pada masing-masing horizon.
Pengambilan contoh tanah diambil dari horizon bagian bawah, hal ini
bertujuan agar tanah tidak tercampur tanah dari horizon lainnya. Contoh
tanah diambil sekitar 1 1,5 kg, dan sebaiknya harus mencakup tanah dari
semua horizon. Contoh tanah yang sudah diambil, kemudian dimasukkan
plstik yang kemudian diberi label yang mencakup nomor kode profil, tanggal
pengambilan, symbol horizon, kedalaman (cm), dan pemeta.
Pengambilan contoh tanah sebaiknya pada saat musim kemarau atau
musim salju, karena aktivitas biologi cukup rendah dan keragaman vegetasi
juga cukup rendah. Untuk mengukur bobot isi tanah dll, dilakukan
pengambilan tanah menggunakan ring sampel pada setiap horizon. Pada
skala kecil, status kesuburan tanah pada survei, didasarkan pada profil
pewakil dengan satuan fisiografi dan bahan induk. Untuk skla semi-detail
dan detail, didasarkan dengan bukti sperti komposit pada kedalaman sekitar
0-20 cm dan 20-60 cm, pengambilannya menyesuaikan dengan satuan
taksonomi, keadaan fisiografi dan bahn induknya.
4. Pembuatan Peta Tanah Sementara
Semua titik pengamatan yang berupa minipit maupun pemboran,
langsung diplot pada foto udara atau peta pengamatan. Hasil masing-masing
regu langsung diplot pada peta rekapan saat di basecamp. Diskusi dilakukan
di basecamp yang dipimpin oleh ketua tim. Yang paling penting yaitu
penamaan tanah dengan system klasifikasi tanah. Setip minipit harus telah
diputuskan klasifiksi tanahnya.
Dari hasil semua regu, semua klasifikasi hasil minipit dan pemboran
dikumpulkan uantuk menetukan pedon tipikal. Selanjutnyamenentukan peta
tanah sementara sesuai yang dirumuskan delam kerangaka acuan. Dengan
demikian sebelum semua tim kembali dari lapang, sudah dihasilkan peta
tanah sementara berikut dengan legendanya. Beberpa perubahan batas satuan
tanah, kelas lereng atau relief yang dijumpai di lapang langsung di revisi
pada peta rekapan.
2.3 Pelaksanaan Survei pada Berbagai Skala Survei
2.3.1 Survei Tanah Tingkat Tinjau (Reconnaissance Soil Survey)
2.3.2 Survei Tanah Tingkat Semi Detail (Semi Detailed Soil Mop)
2.3.3 Survei Tanah Tingkat Detail
2.4 Analisis Laboratorium Contoh tanah dan Pembuatan Peta dan Laporan
Setelah pengambilan sampel tanah, tanah diberiperlakuan khusus untuk
memudahk ananalisis contoh tanah di laboratorium. Analisis bertujuan untuk
menilai kesuburan tanah pada suatu lahan. Menurut Rayes (2007), analisis
kesuburan tanah meliputi tekstur, pH, bahan organik, nitrogen, kapasitas tukar
kation (KTK), kejenuhan basa (KB), Al- dan H- ditukar dan besi bebas. Data-data
yang diperlukan untuk analisis, tergantung pada tujuan survei. Sedangkan data
yang dibutuhkan untuk analisis Fisika tanah antara lain tekstur, bobot isi, nilai pF,
permeabilitas, indeks plastisitas serta nilai COLE. Selanjutnya, untuk
menganalisis bahan induk tanah atau susunan mineralogy tanah meliputi mineral
fraksi pasir (menggunakan mikroskop polarisasi) dan analisi mineral liat / debu
(menggunakan alat difraktometer sinar-X).
Analisis standar meliputi: Tekstur 3 fraksi (pasir, debu dan liat) dengan
metoda pipet; ph (H2O dan kcl) rasio 1:2,5; C organik (Walkley and Black); N
total (Kjeldahl); P2O5 total (ekstrak sihcl 25%); K2O total (ekstrak sihcl 25%);
P2O5 tersedia (ekstraksi Bray 1 untuk tanah masam ph5,5); K2O tersedia
(ekstraksi Morgan); Basa-basa dapat ditukar (Ca, Mg, K, Na) ekstraksi
ammonium asetat (NH4OAc 1nph 7) dan kejenuhan basa; KTK tanah dalam
ekstrak ammonium asetat ph 7 (NH4OAc 1nph 7); Al dapat ditukar (ekstraksikc
l1N) untuk tanah masam ph<5,5 (Hikmatullah dkk, 2014).
Peta pengamatan lapang disusun dengan menggunakan peta satuan lahan
hasil interpretasi/ analisis. Semua titik pengamatan tanah di lapangan diplotkan
dalam tiap lembar petasatuan lahan. Data dari hasil pengamatan lapang, yaitu sifat
morfologi tanah dan fisik lingkungan disimpan dalam basis data (Hikmatullah
dkk, 2014).
Peta tanah lapang disusun berdasarkan hasil pengamatan satuan lahan dan
satuan tanah dari hasil pengamatan pemboran, minipit dan profil. Selama
pengamatan di lapangan dilakukan koreksi terhadap satuan lahan, baik terhadap
delineasi maupun penamaan (simbol) satuan lahan sesuai dengan kondisi lapang
(ground truth). Peta tanah perlu dilengkapi dengan legenda peta. Legenda peta
tanah lapang disusun dengan urutan berikut: nomor urut satuan peta tanah (SPT),
satuan tanah pada tingkat macam/subgroup tanah dan sifat-sifatnya, serta
proporsinya, satuan landform, satuan bahan induk, dan satuan relief/lereng, serta
luasan masing-masing SPT (dalam ha dan %). Satuan tanah yang dijumpai pada
setiap SPT dapat lebih dari satu macam tanah, dan penyebarannya dinyatakan
dalam proporsi, yaitu: sangat dominan (P >75%), dominan (D = 50-75%), sedang
(F = 25-49%), sedikit (M = 10-24%) dan sangat sedikit (T=<10%) (CSR/FAO,
1983). Proporsi satuan tanah diduga dari sebaran tanah pada posisi lereng/facet
dari satuan lahan pada saat pengamatan tanah di lapangan. Contoh Legenda Peta
Tanah Semi Detail disajikan pada table berikut.
Gambar contohLegenda Peta Tanah Semi Detail Skala 1:50.000
Laporan hasil pemetaan tanah disajikan dalam bentuk naskah dan
lampiran peta-peta. Naskah laporan hasil pemetaan tanah dibuat seringkas
mungkin, tetapi padat dan informatif. Laporan terdiri atas: (a) Naskah/narasi, (b)
Lampiran uraian morfologi dan data analisis contoh tanah, (c) Lampiran peta-
peta, dan (d) Backup file dalam CD. Peta-peta pendukung dalam laporan, antara
lain: peta lokasi, peta iklim, peta geologi dibuat dalam ukuran A4 atau lebih kecil.
Sedangkan peta-peta utama yang dilampirkan dalam laporan dibuat mengikuti
lembar peta RBI dari BIG dengan ukuran A1, adalah Peta Tanah Semi Detail
skala 1:50.000, Peta Kesesuaian Lahan untuk berbagai komoditas pertanian, Peta
Arahan Penggunaan Lahan, dan peta-peta turunan lainnya yang dibuat sesuai
dengan kebutuhan/permintaan pengguna (Hikmatullahdkk, 2014).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Survei adalah teknik riset dengan memberi batas yang jelas atas data,
penyelidikan, peninjaun di suatu daerah. Menyurvei adalah memeriksa,
menyelidiki, meninjau. Penyurvei adalah orang yang menyurvei. Dengan itu
manfaat dari kegiatan survei tanah adalah pengukuran untuk mencari luas tanah,
untuk mengetahui beda tinggi tanah, untuk pembuatan peta, untuk merencanakan
bangunan
Dengan hasil survey tanah berikut akan menghasilkan satuan peta tanah
yang merupakan bahan untuk menginventarisir dan memanajemen dalam
membantu kebijakan pemanfaatan lahan.

DAFTAR PUSTAKA
Hikmatullah, dkk. 2014. Petunjuk Teknis Survei Dan Pemetaan Tanah Tingkat Semi
Detail Skala 1:50.000. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya
Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Rayes, L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta: Penerbit


Andi.

Rostianingsih, Silvia, Kartika Gunadi, Ivan Handoyo. 2004. Pemodelan Peta


Topografi Ke Objek Tiga Dimensi. Jurnal Informatika Vol. 5.

Surbadja, D. 2000. Perkembangan Metode Survei Tanah dan Evaluasi Lahan di


Indonesia. Prosiding Kongres Nasional VII HITI. Buku I : 123-134

Tamtomo, J, P. 2008. Land Surveying and Mapping : Pengukuran dan Pemetaan


Tanah. http://tanahkoe.tripod.com/bhumiku/id10.html