Anda di halaman 1dari 4

KONTROL INFEKSI DALAM PRAKTEK DERMATOLOGY

Pengendalian infeksi merupakan topik yang sering diabaikan sampai


timbulnya sindrom pernapasan akut yang parah (SARS) pada tahun 2003.
Ketika 8 petugas kesehatan meninggal sebagai hasil dari masyarakat dan
wabah nosocomial. Hal ini sebagai peringatan bagi petugas kesehatan untuk
mematuhi dengan pengendalian infeksi baik terhadap pasien dan kegagalan
pengaturan perawatan mungkin sebagai persoalan hidup dan mati. Standar
dan tindakan berbasis pencegahan telah dipromosikan di Rumah Sakit sejak
tahun 1996 dan juga telah di terapkan pada klinik dermatology pada tahun
terahir ini. Standar tindakan pencegahan harus diterapkan pada semua
pasien dengan potensi untuk menginfeksi orang lain melalui darah dan
cairan tubuh dan termasuk kebersihan tangan, penanganan hati hati benda
tajam, dan menggunakan alat pelindug diri saat terpapar darah, cairan tubuh,
sekresi, ekskresi kecuali keringat, kelainan kulit, dan cairan lendir.
Tindakan berbasis pencegahan merupakan tambahan terhadap patogen yang
menyebar melaluikontak, droplet dan udara. Antara semua kontrol infeksi,
kebersihan tangan tanpa air dengan menggosokan alkohol pada tangan
sebagai dasar pengurangan 3 log mikroba setelah 15 detik dari menggosok
tangan. Sejak sebagian besar patogen termasuk kelompok besar meticilin
resisten staphylococcus aureus dan virus influenza dapat bertahan hidup
diangan dalam waktu singkat, sering menggunakan antiseptik berbasis
alkohol, terutama sebelum menyentuh selaput lendir dan mencegah diri
dari patogen. Disisi lain penerapan langsung kebersihan tangan diamati
antara pasien dan pembersihan rutin klinik dapat membantu menurunkan
risikon kontaminasi lingkngan oleh patogen seperti Chlamydia trachomatis
dan Neisseria gonorrhoeae yang dapat bertahan hidup pada permukaan
kering dalam 1 3 hari dan papilomavirus dapat bertahan hidup sampai 7
hari.

PENDAHULUAN
Pencegahan infeksi merupakan permasalahan kuno dengan penekanan pada
praktek kebersihan tangan dan pemisahan pasien dan isolasi. Pada
pertengahan tahun 1880an, Ignaz Semmelweis (1818-1865), seorang dokter
hungarian di Venna, mengadakan hipotesa tentang demam ditularkan
melalui tangan pada petuga kesehatan berdasarkan onbervasi pada wanita
yang melahirkan diluar rumah sakit memiliki kecil kemungkinan untuk
mengalami demam. Dia menemukan mahasiswa kedokteran yang
bertanggungjawab pada penularan biasanya ditunjukkan pembedahan
membantu penularan. Demikian, disinfeksi pada tangan mungkin ankan
mencegah penularan infeksi dari cadavers kepada wanita hamil. Setelah
pelaksanaan cuci tangan dengan disinfeksi lemon sebelum membantu dalam
penularan, angka kematian menurun secara signifikan. Florence nightingale
(1820-1910), seorang perawat inggris,mengusulkan bahawa bentuk rumah
sakit berkaitan erat dengan penularan infeksi. Dia menolak konsep rumah
sakit yang lama dengan pencahayaan yang kurang dan ventilasi natural, dan
percaya bahwa pasien sakit seharusnya tidak diasingkan/ isolasi dengan
pertimbangan sekresi saluran napas berpotensi berbahaya. 1
Meskipun sejarah praktek pencegahan infeksi sudah berdiri lama dengan
jarak yang dimodifikasi (tabel 1), hal ini tetap seringkali terlupakan atau
terlalaikan di bagian profesi kesehatan.
Penularan dari sindroma respirasi akut (SARS) di Hongkon pada tahun 2003
dengan kematian dari 8 petugas kesehatan sangat mengejutkan menyadarkan
dari pentingnya pencegahan infeksi antara petugas dibagian depan /
pertamauntuk dilanjutkan secara berkala. 2
Pemenuhan dengan praktek pencegahan infeksi untuk ditentukan oleh
tanggapan daru petugan kita dalam mempertahankan keselamatan sendiri
telah mengancam.3. zaman sekarang direkomendasikan dari standar dan
tindakan bebasis pencegahan di rumahsakit juga dapat dilaksanakan di
klinik dermatology.
Apa yang akan kita pikirkan dengan tindakan pencegahan ?
Standar pencegahan harusnya tidak iterapkan pada semua pasien dengan
potensi menularkan melalui kontak dengan darah dana cairan tubuh lainnya,
dan termasuk kebersihan tangan, dan tepat dalam menggunakan alat
perlindungan dri (PPE) ( seperti sarung tangan dan pakaian, masker, kaca
mata, dan pelindung wajah) dalam kasus yang berhubungan dengan darah,
cairan tubuh, secresi, eksresi kecuali keringat, kelainan kulit, dan lendir.
Dalam pengaturan dermatology, sarung tangan tidak harus digunakan
selama kontak dengan potensi infeksi kulit pada pemotongan kuku untuk
pemeriksaan jamur ato penerapan cryoterapi. Setelah prosedu, sarung
tangan harus dilepas segera dan dilanjutkan dengan mencuci tangan dengan
menggosok tangan menggunakan alkohol tanpa air atau mencuci dengan
sabun dan air.
Penanganan hati hati juga penting ketika mengumpulkan sample darah
untuk serologi sipilis atau antibodi HIV. Risiko penularan virus melalui
darah 33 % pada hepatitis B, 3 % hepatitis C, dan 0,3% HIV, jika sumber
pasien dari luka jarum yang telah diketahui HbeAg, HCVRNA dan HIV Ab
respectively. Meskipun dalam keadaan keracuan toksin injeksi untuk otot
wajah dengan potensi kontaminasi melalui darah kapiler kecil sekali,
penyebaran virus melalui darah terutama hepatitis B dan C dapat ditularkan.
Oleh karena itu reccaping jarum menjadi kontraindikasi absolut. Selain itu
penggunaan jarum dapat secara langsung kedalam penusukan dengan
mudah dalam pengaturan klinis saat ini.

Apa yang kita pikirkan dengan tindakan pencegahan ?


Tindakan berbasis pencegahan merupakan langkah tambahan melawan
patogen diantaranya penyebaran melalui ontak, droplet, dan udara (tabel 2).
Dalam dermatology diluar pengaturan pasien, merupakan teknik sulit untuk
mencegah penyebaran melalui udara dengan membangun ruang isolasi bagi
pasien yang kemungkinan besar infeksi oleh micobacterium tuberculosis,
measles, dan varicela zoster virus. Ini memerlukan pembaharuan yang besar
dan masinis untuk mengukuhkan high efficiency particulare air
(HEPA).dengan paling sedikit merubah 12 udara per jam dalam ruangan
yang nyaman. Sejak lebih dari 90% dari populasi dewasa di hongkong telah
imunisasi atau terinfeksi oleh meales dan virus varisela zoster, satu mungkin
mempunyai antibodi. Sebagai pencegahan dari potensi penularan M.
Tuberculosis dalam pengaturan klinik, maskers mungkin ditawarkan untuk
pasien dengan batuk kronik sebagai sumber pencegahan sehingga
menurunkan risiko penularan.
Pencegahan penularan droplet dari bakteri dan virs dapat dengan mudah
diterima pada bagian perawat. Ketika pendaftaran, perawat dapat
memberikan masker bagi pasie dengan gejala respiratory. Ii merupakan
ukuran penting dalam pencegahan penularan patogen selama batuk dan
bersin, lebih dari 40.000 droplet 0,5 um akan masuk dengan kecepatan
mulai 100m/s, demikian kontaminasi lingkungan klinik. Sebagian virus
dapat bertahan pada benda mati dan tangan untuk waktu singkat (tabel 3),
infeksi dapat kemudian diperoleh melalui kontak tidak langsung dari lendir
dari lingkungan melalui tangan.
Penularan melalui kontak dari berbagai obat bakteri resisten, respirasi dan
virus gastrointestinal meruapakan penyebab terbanyak penularan didalam
rumah sakit. Dengan timbulnya community associated methicillin resistant
staphylococcus aureus (CA-MRSA) di hongkong, risiko penularan dari
virus patogen diluar pengaturan pasien akan meningkat. Praktek bagus
dengan kebersihan tangan dan menggunakan alat pelindung diri yang tepat
penting sekali untuk menurunkan risiko penularan.