Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
LEMAK

Oleh :
Khalidah Nur Mahdi NIM 21030114140145
Faishal Kalbuadi NIM 21030114130141
Via Dolorosa N.G. Tambunan NIM 21030114130143

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015
LEMAK

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
LEMAK

Oleh :
Khalidah Nur Mahdi NIM 21030114140145
Faishal Kalbuadi NIM 21030114130141
Via Dolorosa N.G. Tambunan NIM 21030114130143

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II i


LEMAK

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan resmi berjudul LEMAK yang disusun oleh :


Kelompok : II/Kamis Pagi
Anggota : 1. Khalidah Nur Mahdi NIM 21030114140145
2. Faishal Kalbuadi NIM 21030114130141
3. Via Dolorosa N.G.Tambunan NIM 21030114130143

Telah diterima dan disetujui oleh Wahyu Arga Utama selaku Asisten
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II pengampu materi lemak pada :
Hari :
Tanggal :

Asisten Pengampu,

Wahyu Arga Utama


NIM.21030112120025

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II ii


LEMAK

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa


atas rahmat dan anugerah-Nya sehingga penyusun laporan berjudul
Lemak dapat diselesaikan. Laporan ini disusun sebagai kelengkapan
tugas mata kuliah Praktikum Dasar Teknik Kimia II.
Disadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dan kerja sama dari
berbagai pihak maka laporan ini tidak akan dapat terselesaikan. Oleh
karena itu dalam kesempatan ini ucapan terima kasih ditujukkan
kepada Ibu Ir. C. Sri Budiyati, M.T selaku Dosen penanggung jawab
Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang tahun 2015, Wahyu
Arga Utama Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II selaku
asisten pembimbing penyusunan laporan resmi materi Lemak, segenap
asisten Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II Jurusan Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang dan bapak
Rustam dan Ibu Dini selaku Laboran Laboratorium Praktikum Dasar
Teknik Kimia II Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro Semarang.
Laporan ini masih jauh dari sempurna,sehingga saran dan kritik
yang membangun dari berbagai pihak sangat di perlukan untuk laporan
selanjutnya yang lebih baik. Semoga Laporan ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Semarang, Juni 2015

Penyusun

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II iii


LEMAK

INTISARI

Lemak merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air


tetapi larut dalam pelarut organik non polar yang sering ditemui dalam
kehidupan sehari-hari. Lemak termasuk ester yang tersusun atas asam
lemak dan gliserol. Lemak berguna untuk obat-obatan,untuk minyak
goring,untuk kosmetik dan untuk pembuatan biodiesel. Tujuan
praktikum ini adalah merangkai dan mengoperasikan alat analisa
lemak serta menganalisa kadar lemak,kadar air dan kadar abu pada
daging buah alpukat.
Dalam praktikum analisa lemak digunakan bahan daging buah
alpukat 16 gram dan n-hexane 120 ml. Metode yang digunakan adalah
metode soxlet yang dilanjutkan dengan destilasi untuk memisahkan
lemak dengan solvent. Analisa kadar abu menggunakan metode
furnace. Analisa kadar air dengan pengovenan pada suhu 110oC
selama 1 jam.
Dari hasil praktikum diperoleh data hasil ekstraksi sebesar
11.65% lebih besar dari kadar teoritis sebesar 6.5% dan kadar
destilasi sebesar 5.2% lebih kecil dari kadar teoritis sebesar 6.5%. Hal
ini disebabkan oleh faktor impuritas,selektivitas n-hexane yang rendah
dan adanya senyawa volatil yang ikut menguap. Untuk medapatkan
data yang lebih akurat, dapat dilakukan dengan mengganti metode
soxlet dengan metode goldfish dan menggunakan solvent yang mampu
mengesktraksi secara sempurna semua komponen lemak.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II iv


LEMAK

SUMMARY

Fat is an organic compound that is not soluble in water but


soluble in non-organic solvents that is common to be found in daily life.
Lipid is an esters that is consisted lipidic acid and glycerol. Lipid
functions as medicines, cooking oil, cosmetics and biodiesel equipment.
The objectives of this experiment are to set up and operate a lipid
analyzing equipment and to analyze the lipid,water and ash level in the
avocado flesh.
In this lipid analyzing experiment, a 16 grams and n-hexane 120
ml are used. The method used for this experiment is soxlet method that
is continued by destillation to separate the fat from the solvent. The ash
level analysis uses the furnace method while the water level analysis
uses the oven method on temperature of 110oC for an hour
From this experiment, a conclusion is taken that extraction
product is11.65% , which is higher than the theoretical level 6.5% and
the destilation level is 5.2% ,which is lower than the theoritical level
6.5%. This phenomenon is caused by an impurity factor, selectivity of
n-hexane are low and there are volatile compound that also vaporized.
To get a more accurate data, the method can be switched into the
goldfish method and use a solvent that could extract all the lipid
compound completely.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II v


LEMAK

DAFTAR ISI
Halaman Judul ...................................................................................... i
Lembar Pengesahan .............................................................................. ii
Kata Pengantar ...................................................................................... iii
Intisari ................................................................................................... iv
Summary............................................................................................... v
Daftar Isi ............................................................................................... vi
Dafar Tabel ........................................................................................... vii
Daftar Gambar ...................................................................................... viii
BAB 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum ..................................................................... 1
1.3 Manfaat Praktikum ................................................................... 1
BAB 2
2.1 KomponenKomponen Lemak................................................. 2
2.2 Rumus Umum Lemak ............................................................... 3
2.3 Kegunaan Lemak ...................................................................... 3
2.4 Pengukuran Kualitas Lemak Berdasarkan Pada ....................... 3
2.5 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Pada Proses Ekstraksi ........ 4
2.6 Kandungan Gizi Daging Buah Alpukat .................................... 5
BAB 3
3.1 Alat dan Bahan ......................................................................... 6
3.2 Gambar Alat ............................................................................. 6
3.3 Cara Kerja ................................................................................. 8
BAB 4
4.1 Hasil Praktikum ........................................................................ 10
4.2 Pembahasan .............................................................................. 10
BAB 5
5.1 Kesimpulan ............................................................................... 13
5.2 Saran ......................................................................................... 13
Daftar Pustaka ...................................................................................... 14
Lampiran
A. Data Hasil Praktikum
B. Lembar Perhitungan
C. Lembar Kuantitas Reagen
Refferensi
Lembar Asistensi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II vi


LEMAK

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Praktikum ekstraksi,destilasi dan uji kadar air pada
daging buah alpukat .......................................................... 10
Tabel 4.2 Hasil Analisa kimia minyak alpukat dengan solvent n-
hexane dan IPA ................................................................ 11

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II vii


LEMAK

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Gliserol ................................................................... 2


Gambar 2.2 Struktur Umum Lemak ........................................................ 3
Gambar 3.1 Rangkaian Alat Ekstraksi ..................................................... 6
Gambar 3.2 Rangkaian Alat Destilasi ............................................................7

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II viii


LEMAK

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut
dalam pelarut organik non polar. Lemak termasuk ester yang tersusun atas
asam lemak dan gliserol, dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol diganti
dengan gugus ester.Istilah lemak(fat) biasanya digunakan untuk trigliserida
yang berbentuk padat atau lebih tepatnya semi padat pada suhu kamar, sedang
istilah minyak (oil) digunakan untuk trigliserida yang pada suhu kamar
berbentuk cair.
Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah daging buah alpukat.
Buahnya bertipe buni, memiliki kulit lembut tak rata berwarna hijau tua
hingga ungu kecoklatan, tergantung pada varietasnya. Daging buah alpukat
berwarna hijau muda dekat kulit dan kuning muda dekat biji, dengan tekstur
lembut. Manfaatya adalah daging buahnya dapat dijadikan hidangan serta
menjadi bahan dasar untuk beberapa produk kosmetik dan kecantikan. Selain
itu, daging buah alpukat untuk mengobati sariawan dan melembabkan kulit
yang kering.
Dalam kehidupan sehari hari, sering dijumpai lemak. Kegunaan lemak
sangat banyak terutama dalam bidang industri, misalnya untuk obat obatan,
minyak goreng, cat vernis, kosmetik, biodisel maupun dalam pembuatan
sabun dan detergen. Oleh karena itu, analisa lemak ini perlu dilakukan.

1.2 Tujuan Praktikum


1. Merangkai dan mengoperasikan alat ekstraksi lemak
2. Menganalisa kadar lemak, kadar air, kadar abu dari daging buah alpukat
dengan prosedur yang benar
1.3 Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa mampu merangkai dan mengoperasikan alat analisa lemak
2. Mahasiswa dapat menganalisa kadar lemak, kadar air , kadar abu dari
daging buah alpukat dengan prosedur yang benar.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 1


LEMAK

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lemak


Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi
larut dalam pelarut organik non polar. Lemak termasuk ester yang tersusun
atas asam lemak dan gliserol, dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol
diganti dengan gugus ester.
Istilah fat (lemak) biasanya digunakan untuk trigliserida yang
berbentuk padat atau lebih tepatnya semi padat pada suhu kamar, sedang
istilah minyak (oil) digunakan untuk trigliserida yang pada suhu kamar
berbentuk cair.
2.2 Komponenkomponen lemak
a. Gliserol.
Sering disebut gliserin atau propantial 1,2,3 adalah bermartabat tiga
yang strukturnya adalah
H2 C OH

H C OH

H2 C OH

Gambar 2.1 Struktur gliserol


Sifat fisisnya yaitu berbentuk kristal, rasa manis, tidak berwarna,
dalam keadaan murni bersifat higroskopis, netral terhadap lakmus.
Tidak larut dalam benzene dan karbon disulfida
b. Asam lemak.
Yaitu asam karboksilat yang rantainya lurus dan radikal karboksilatnya
terletak di ujung rantai.
Asam lemak penyusun utamanya adalah :
1. Asam stearat (C17H35COOH)
2. Asam oleat (C17H33COOH)
3. Asam linoleat (C17H31COOH)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 2


LEMAK

2.3 Rumus umum Lemak


O

H2C O C R1
O
HC O C R2
O
H2C O C R3
Gambar 2.2 Struktur Umum Lemak
Ada berbagai cara untuk mengambil minyak atau lemak dari tumbu-
tumbuhan atau jaringan hewan. Cara tersebut antara lain :
Cara Pressing (penekanan)
Cara Extraction (menggunakan solvent)
Ada berbagai jenis solvent yang dapat digunakan sebagai bahan
pengekstrak lemak, diantaranya adalah n-hexana dan diethil eter
2.4 Kegunaan Lemak
1. Untuk obat-obatan
2. Untuk minyak goreng.
3. Untuk cat vernis.
4. Untuk pembuatan margarin.
5. Untuk kosmetik.
6. Untuk menyamak kulit.
7. Untuk insektisida dan fungisida
8. Untuk pembuatan sabun dan deterjen
9. Untuk pembuatan biodiesel

2.5 Pengukuran kualitas lemak berdasarkan pada


1. Bilangan penyabunan
Bilangan Penyabunan adalah banyaknya alkali yang dibutuhkan
untuk menyabunkan sejumlah contoh minyak. Bilangan penyabunan
dinyatakan dalam jumlah milligram kalium hidroksida yang dibutuhkan
untuk menyabunkan 1 gram minyak. Besarnya bilangan penyabunan ini
bergantung dengan jumlah berat molekul minyak. Minyak dengan bobot

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 3


LEMAK

molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan yang lebih tinggi


daripada minyak yang bobot molekulnya tinggi.
2. Bilangan asam
Bilangan Asam merupakan ukuran dari jumlah asam lemak bebas,
dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam
lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH 0,1 N
yang dipakai untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1
gram minyak atau lemak.
3. Bilangan Iod
Bilangan Iod adalah sifat kimia minyak yang dipakai untuk
mengetahui banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tidak jenuh dalam
minyak. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak atau lemak mampu
menyerap sejumlah iod dan membentuk ikatan jenuh. Besarnya jumlah
iod yang diserap oleh minyak inilah yang menunjukan banyaknya ikatan
rangkap. Bilangan iod dinyatakan dalam jumlah gram iod yang diserap
100 gram minyak atau lemak.
2.7 Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses ekstraksi
1. Luas permukaan
Semakin luas bidang permukaan, maka ekstraksi yang terjadi akan
semakin baik.
2. Waktu ekstraksi
Semakin lama waktu ekstraksi, maka semakin banyak lemak yang
dihasilkan. Waktu maksimum ekstraksi adalah 3 jam.
3. Temperatur
Suhu menentukan, dapat diukur dari solvent yang digunakan dan
kelarutan lemak.
4. Solvent
Jenis solvent akan berpengaruh pada banyaknya lemak yang terambil.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 4


LEMAK

2.8 Kandungan Gizi Daging Buah Alpukat


Kandungan Gizi di dalam 100 gram Daging Buah Alpukat
diantaranya terdapat Kalori sebesar 85,0 kal, Protein sebesar 0,9 gram,
Lemak sebesar 6,5 gram, Karbohidrat 7,7 mg, Kalsium sebesar 10,0 mg,
Fosfor sebesar 20,0 mg, Besi sebesar 0,9 S.I, Vitamin A sebesar 180,0 mg,
Vitamin B1 sebesar 0,05 mg, Vitamin C sebesar 13,0 mg, dan Air sebesar
84,3 mg.
(Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI, 1981)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 5


LEMAK

BAB 3
METODE PRAKTIKUM

3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan


3.1.1. BahanYang Digunakan
1. Daging Buah Alpukat 16 gram
2. N-hexane 120 ml
3.1.2. Alat Yang Digunakan
1. Statif dan klem
2. Kompor Listrik
3. Beaker glass
4. Corong
5. Cawan porselin
6. Oven
7. Gelas ukur
8. Timbangan
9. Pendingin balik

3.2 Gambar Alat

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Ekstraksi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 6


LEMAK

Keterangan :
1. Statif
2. Klem
3. Pendingin balik
4. Tabung soklet
5. Sampel dalam kertas saring
6. Pipa aliran embun
7. Pipa aliran uap
8. n-hexane
9. Labu alas bulat
10. Thermostat
11. Thermocouple
12. Heater
13. Waterbat

Gambar 3.2 Rangkaian Alat Distilasi

Keterangan:

1. Labu Destilasi 5. Kompor Listrik


2. Pendingin Leibig 6. Erlenmeyer
3. Thermometer 7. Tripot
4. Heater 8. Statif dan Klem

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 7


LEMAK

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Ekstraksi lemak

1. Mengeringkan labu ekstraksi dalam oven pada suhu 105-110 C,


didinginkan.
2. Menimbang 10 gram daging buah alpukat yang sudah dipotong
kecil.
3. Membungkus bahan dengan kertas saring bebas lemak dan diikat
dengan benang dan dimasukkan dalam tabung soklet.
4. Memasukkan n-hexane dalam labu alas bulat.
5. Melakukan ekstraksi selama 1,5 jam. Diusahakan jumlah tetesan
sekitar 150 tetes per menit.
3.3.2 Destilasi Lemak

1. Menimbang labu destilasi


2. Memindahkan n-hexane + lemak yang ada di labu alas bulat ke
dalam labu destilasi lalu ditimbang
3. Lakukan destilasi untuk menguapkan n-hexane
4. Destilasi dihentikan saat tidak ada lagi n-hexane yang menetes
5. Timbang labu destilasi beserta lemak di dalamnya.
3.3.3 Uji Kadar Air

1. Timbang cawan kering yang akan digunakan dalam keadaan


kosong.
2. Letakkan 3 gram daging buah alpukat di atas cawan kemudian
timbang massanya.
3. Masukkan cawan berisi daging buah alpukat dalam oven dengan
suhu 100oC selama 1 jam, pastikan oven telah panas dan siap untuk
mengeringkan sampel.
4. Setelah selesai dikeringkan, masukkan cawan berisi daging buah
alpukat ke dalam desikator, di dinginkan sampai suhu konstan dan
hingga berat sampel dan cawan tetap.
+ +
%Air = 100%
+ ()

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 8


LEMAK

3.3.4 Uji Kadar Abu

1. Cawan porselin di panaskan terlebih dahulu dalam oven, kemudian di


dinginkan dalam deksikator hingga mencapai suhu ruangan.
2. Selanjutnya 3 gram daging buah alpukat ditimbang kemudian di bakar
di dalam cawan porselin sampai tidak berasap dan di abukan dalam
tanur suhu 550oC
3. Kemudian didinginkan di dalam desikator hingga mencapai suhu
ruangan secara konstan dan ditimbang.

% = 100%

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 9


LEMAK

BAB 4

HASIL PRAKTIKUM Dan PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum


Tabel 4.1 Hasil Praktikum ekstraksi,destilasi dan uji kadar air pada daging
buah alpukat.
Analisa Kadar Praktis Kadar Teoritis
Lemak Ekstraksi 11.65% 6.5%

Lemak Destilasi 5.2% 6.5%

Uji Kadar Air 65.67% 84.3%

4.2 Pembahasan
4.2.1 Perbandingan Kadar Ekstraksi Praktis dengan Teoritis
Pada praktikum, kadar ekstraksi daging buah alpukat yang ditemukan
sebesar 11.65% lebih besar daripada kadar teoritisnya yaitu sebesar 6.5%.
Hal ini disebabkan oleh:
1. Adanya senyawa selain lemak yang terekstraksi.
Untuk mengekstraksi lemak secara murni sangat sulit dilakukan
karena pada saat ekstraksi lemak,zat-zat yang laru dalam lemak
seperti fenolat,phospolipid,aldehid,asam lemak bebas dan lain-lain.
Itu semua termasuk senyawa lipid karena non polar,lipid tidak larut
dalam pelarut polar seperti air,tetapi larut dalam pelarut non polar
seperti alkohol,eter atau kloroform dan n-hexane. Oleh karena
itu,adanya senyawa lain yang ikut terekstraksi menyebabkan kadar
yang ditemukan lebih besar dari kadar teoritisnya.

(Widioko,Septian Ardi.2009)

2. Selektivitas n-hexane yang rendah.


Pada praktikum digunakan solvent n-hexane yang merupakan
senyawa hidrokarbon non-polar.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 10


LEMAK

Tabel 4.2 Hasil Analisa kimia minyak alpukat dengan solvent n-


hexane dan IPA
No Kandungan n- IPA(%w)
Lemak Hexane(%w)
1 Oleic Acid 71.715 73.265
2 Linoleic Acid 13.135 15.601
3 Palmitic Acid 6.032 6.177
4 Aldehid 1.450 0.942
5 Fenolat 0.972 0.292
Pada Tabel 4.2 kadar asam oleat dan linoleat solvent
IPA(Isopropil Alcohol) lebih besar daripada dengan menggunakan
solvent n-hexane. Dimana kadar tersebut menentukan tingkat
selektivitas dari suatu solvent. Selektivitas n-hexane (kadar asam
oleat dan asam lionleat)lebih rendah dibanding selektivitas IPA.
Sehingga, n-hexane tidak hanya mengekstrak minyak tetapi juga
terdapat senyawa lain yang terikut diantaranya fenolat,aldehid,dan
keton. Hal ini yang akan menyebabkan kadar ekstraksi yang di
dapatkan lebih besar dari kadar teoritis.
(Pramudono,Bambang,dkk.2008)
4.2.2 Perbandingan kadar destilasi praktis dengan teoritis
Pada praktikum, kadar destilasi yang ditemukan sebesar 5.2% lebih
kecil dari kadar teoritis sebesar 6.5% . Hal ini disebabkan oleh adanya
senyawa volatil yang ikut menguap. Saat di destilasi,sudah terjadi
penguapan sempurna n-hexane. Setelah di destilasi, hasil destilasi
kemudian di oven. Pada saat pengovenan,dilakukan dengan suhu tinggi
yaitu 100o C sehingga senyawa volatil yang ada dan sudah berikatan
dengan senyawa lemak ikut menguap. Hal inilah yang menyebabkan
kadar destilasi yang di dapatkan lebih kecil dari kadar teoritis.
(Arlene,Aristya,dkk.2010)
4.2.3 Perbandingan kadar ekstraksi dengan kadar destilasi
Pada praktikum yang telah dilakukan terdapat perbedaan kadar
praktis proses ekstraksi dan destilasi. Pada proses ekstrasksi, kadar

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 11


LEMAK

lemak sebesar 11.65% dan pada proses destilasi didapatkan kadar


lemak lebih kecil yaitu 5.2%. Perbedaan ini disebabkan oleh,
Pada saat destilasi,terdapat senyawa volatil yang telah berikatan
dengan senyawa lemak yang ikut menguap pada saat di oven. Hal ini
menyebabkan kadar lemak pada saat destilasi berkurang. Selain itu,
saat ekstraksi terdapat senyawa lain yang ikut terekstrak karena daya
selektivitas n-hexane rendah yang menyebabkan kadar lemak yang di
dapatkan bertambah. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan kadar
ekstraksi dan kadar destilasi didapatkan berbeda.
(Kilo,Ahmad Kadir,dkk.2011)
4.2.4 Perbandingan kadar air praktis dengan teoritis
Pada praktikum yang dilakukan, suhu oven pada proses
pengeringan adalah 100oC dengan waktu selama 1 jam. Suhu 100oC
adalah suhu yang tinggi. Pengeringan dengan menggunakan suhu
tingggi dapat mengakibatkan pengeringan yang tidak merata yaitu
bagian luar kering,sedangkan bagian dalam masih banyak mengandung
air secara tidak langsung,dalam hal ini ukuran dari potongan daging
buah alpukat berpengaruh terhadap pengeringan.
Suhu yang baik dalam pengeringan adalah 50 oC -60 oC selama 17
jam yang menghasilkan pengeringan yang merata. Perbedaan suhu dan
waktu pengeringan pada proses pengeringan menyebabkan sampel
yang telah dikeringkan dalam oven masih mengandung air dan belum
menguap sempurna,sehingga kadar air praktis lebih kecil dari kadar
teoritisnya. (Sukiman,Nurdin.2011). Sesuai dengan persamaan
+ +
Kadar Air =
+ ( )

4.2.5 Kadar Abu


Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik antara
lain dalam bentuk garam fosfat,karbonat,sulfat,nitrat atau komponen
mineral antara lain kalium,fosfor,besi,natrium,kalium,magnesium dan
seng yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari
96% bahan anorganik dan air. Sedangkan sisanya merupakan unsur-

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 12


LEMAK

unsur mineral. Unsur itu juga dikenal sebagai zat organik atau kadar
abu. Kadar abu tersebut dapat menunjukkan total mineral dalam suatu
bahan pangan. Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran akan
terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak,karena itulah disebut
sebagai kadar abu.
(Zahro.2013)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 13


LEMAK

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Kadar praktis lemak hasil ekstraksi sebesar 11.65% dengan
kadar teoritis 6.5%
2. Kadar praktis lemak hasil destilasi sebesar 5.2% dengan
kadar teoritis 6.5%
3. Kadar air praktis sebesar 65.67% dengan kadar teoritis
sebesar 84.3%
5.2 Saran
1. Menggunakan metode ekstraski lemak lain selin metode
soxlet yang telah di lakukan. Dapat menggunakan metode
goldfish yang mirip dengan metode soxlet,yang dapat
mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi karena
labu destilasi yang dipakai sudah di rancang hanya
melewati sampel
2. Solvent yang dipakai untuk ekstraksi harus mampu secara
sempurna mengekstraksi semua komponen lemak,bersifat
non-polar titik didih rendah dan tidak mudah terbakar.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 14


LEMAK

DAFTAR PUSTAKA

Arlene,Ariestya,dkk. 2010. Pengaruh Temperature dan FIS terhadap ekstraski


minyak dari biji kemiri sisa penekanan mekanik.
http://core.ac.id/download/pdf/11727511.pdf. diakses pada 3 Mei
2015

Durant, J., Organic Chemistry, 7th ed., Impression Longmans, Green and
Co., London, 1959.

Fieser, L., Fieser.M., Introduction to Organic Chemistry, Maruhen Co Ltd.,


Tokyo, 1956.

Fieser, L., Fieser.M., Organic Chemistry, Reinhold Publishing Corporation,


New York, 1956.

Groggins, PH., Unit Operation in Organic Synthetis, 5th ed., Mc. Graw Hill
Book Company, New York, 1958.

Jacobs, M., The Chemical Analysis of Food and Food Product, Van
Nostrand Company Inc., New York, 1958.

Jamieson, GS., Vegetable, Fat and Oil, The Chemical Catalog Company
Inc., 1932

Kusumaningrum,Widya.2014.Penentuan adar air dan abu dalam biscuit.


http://widhuzanah.files.UIN/. Diakses pada 6 Mei 2015

Morrison, RT., Boyd, RN., Organic Chemistry, 3th ed., Prentice Hall of India
Private Limited, New Delhi, 1978.

Retanasari,Tri Ariani.2000.Pengaruh tebal rajangan buah alpukat(PERSEA


AMERICANA HILL) dengan metode ekstraksi.
http://sth.unsri.ac.id/indes.php/sth/article/view. diakses pada 3 Mei
2015

Widioko,Septian Ardi,dkk.2009. Proses Ekstraksi kontinyu lawa arah dengan


simulasi batch tiga tahap.
http://eprints.undip.ac.id/1173/1artikel_bambang_undip_8. diakses
pada 3 Mei 2015

Woodman, AC., Food Analysis, Mc. Graw Hill Book Company Inc., New
york, 1941.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 15


LEMAK

LAMPIRAN A

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II


LEMAK

LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

MATERI :
LEMAK

Disusun Oleh :
Kelompok : II/ Kamis Pagi
Anggota : 1. Khalidah Nur Mahdi NIM 21030114140145
2. Faishal Kalbuadi NIM 21030114130141
3. Via Dolorosa N.G Tambunan NIM 21030114130143

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II A-1


LEMAK

Materi : Lemak
1. BAHAN DAN ALAT
1.1. BAHAN

1. Daging buah Alpukat 16 gram


2. N-Hexane 120 ml
1.2 ALAT
1. Statif dan klem
2. Thermostat
3. Beaker glass
4. Corong
5. Cawan porselen
6. Oven
7. Gelas ukur
8. Timbangan
9. Pendingin balik

1.3 Gambar Rangkaian Alat Utama

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Ekstraksi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II A-2


LEMAK

Keterangan :
1. Statif
2. Klem
3. Pendingin balik
4. Tabung soklet
5. Sampel dalam kertas saring
6. Pipa aliran embun
7. Pipa aliran uap
8. n-hexane
9. Labu alas bulat
10. Thermostat
11. Thermocouple
12. Heater
13. Waterbat

2. CARA KERJA
Ekstraksi lemak
1. Mengeringkan labu ekstraksi dalam oven pada suhu 105-
110C, didinginkan.
2. Menimbang 10 gram daging buah alpukat yang sudah dipotong
kecil.

3. Membungkus bahan dengan kertas saring bebas lemak dan


diikat dengan benang dan dimasukkan dalam tabung soklet.
4. Memasukkan n-hexane dalam labu alas bulat.
5. Melakukan ekstraksi selama 1,5 jam. Diusahakan jumlah
tetesan sekitar 150 tetes per menit.
Destilasi Lemak
1. Menimbang labu destilasi
2. Memindahkan n-hexane + lemak yang ada di labu alas bulat ke
dalam labu destilasi lalu ditimbang
3. Lakukan destilasi untuk menguapkan n-hexane

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II A-3


LEMAK

4. Destilasi dihentikan saat tidak ada lagi n-hexane yang menetes


5. Timbang labu destilasi beserta lemak di dalamnya.
Uji Kadar Air
1. Timbang cawan kering yang akan digunakan dalam keadaan
kosong.
2. Letakkan 3 gram daging buah alpukat di atas cawan kemudian
timbang beratnya.
3. Masukkan cawan berisi daging buah alpukat dalam oven
dengan suhu 100oC selama 1 jam, pastikan oven telah panas
dan siap untuk mengeringkan sampel.
4. Setelah selesai dikeringkan, masukkan cawan berisi daging
buah alpukat ke dalam desikator, di dinginkan sampai suhu
konstan dan hingga berat sampel dan cawan tetap.

+ +
% = 100%
+

Uji Kadar Abu


1. Cawan porselin di panaskan terlebih dahulu dalam oven,
kemudian di dinginkan dalam deksikator hingga mencapai
suhu ruangan.
2. Selanjutnya 3 gram daging buah alpukat ditimbang kemudian
di bakar di dalam cawan porselin sampai tidak berasap dan di
abukan dalam tanur suhu 550oC
3. Kemudian didinginkan di dalam desikator hingga mencapai
suhu ruangan secara konstan dan ditimbang

% = 100%

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II A-4


LEMAK

3. HASIL PRAKTIKUM
Ekstraksi Lemak
Massa Kertas Saring : 1.585 gr
Massa Sampel+Kertas saring sebelum : 11.585 gr
Massa Sampel+Kertas saring sesudah : 15.35 gr
Recycle :7


= x100%

11.585 10.42
= 100% = 11.65%
10

Destilasi Lemak
Massa Beaker Glass : 24.99 gram
Massa Setelah di destilasi : 26.68(sebelum di oven)
25.51(sesudah di oven)


= x100%

25.51 24.99
= 100% = 5.2%
10

Uji Kadar Air


Massa Cawan Kosong : 30.77 gram
Massa Cawan +Sampel Basah : 36.77 gram
Massa Cawan+Sampel Kering : 31.80 gram

+ ( + )
= x100%
( + )
33.77 31.80
= 100% = 65.67%
33.77 30.77

PRAKTIKAN MENGETAHUI
ASISTEN

(Khalidah) (Faishal) (Via Tambunan) Wahyu Arga Utama


NIM 21030112120025

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II A-5


LEMAK

LAMPIRAN B

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II


LEMAK

LEMBAR PERHITUNGAN
Ekstraksi Lemak
Massa Kertas Saring : 1.585 gram
Massa Sampel+Kertas saring sebelum : 11.585 gram
Massa Sampel+Kertas saring sesudah : 15.35 gram
Recycle :7


= x100%

11.585 10.42
= 100% = 11.65%
10

Destilasi Lemak
Massa Beaker Glass : 24.99 gram
Massa Setelah di destilasi : 26.68(sebelum di oven)
25.51(sesudah di oven)


= x100%

25.51 24.99
= 100% = 5.2%
10
Uji Kadar Air
Massa Cawan Kosong : 30.77 gram
Massa Cawan +Sampel Basah : 36.77 gram
Massa Cawan+Sampel Kering : 31.80 gram


+ ( + )
= x100%
( + )
33.77 31.80
= 100% = 65.67%
33.77 30.77

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II B-1


LEMAK

LAMPIRAN C

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II


LEMAK

LEMBAR KUANTITAS REAGEN


LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

PRAKTIKUM KE :5
MATERI : LEMAK
HARI : Senin, 13 April 2015
KELOMPOK : II/Kamis Pagi
NAMA : 1. Khalidah Nur Mahdi
2. Faishal Kalbuadi
3. Via Dolorosa N.G. Tambunan

ASISTEN : Wahyu Arga Utama


KUANTITAS REAGEN
NO JENIS REAGEN KUATITAS

1 Daging buah alpukat 16 gram


-dipotong kecil-kecil
2 n-hexane 120 ml

TUGAS TAMBAHAN :
-Cari Jurnal Kandungan lemak pada alpukat
-Klasifikasi Jenis Lemak

CATATAN SEMARANG, 13 April 2015


ASISTEN
Waktu :1.5 Jam

Wahyu Arga Utama


NIM 21030112120025

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II C-1


LEMAK

REFERENSI

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


PROSES EKSTRAKSI KONTINYU LAWAN ARAH DENGAN
SIMULASI BATCH TIGA TAHAP :
PENGAMBILAN MINYAK BIJI ALPUKAT MENGGUNAKAN
PELARUT N-HEXANE DAN ISO PROPIL ALKOHOL

Septian Ardi Widioko (L2C004272) dan Wawan Rustyawan (L2C004280)


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang 50239, Telp/Fax. (024)7460058
Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudono, MS

Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari rendemen dan selektivitas dari ekstraksi
biji alpukat dengan pelarut n-hexane dan IPA. Ekstraksi merupakan metode untuk memisahkan suatu
komponen dari campuran dengan menggunakan solvent sebagai tenaga pemisah. Proses ekstraksi
dilakukan dengan sistem kontinyu simulasi batch bertahap tiga aliran lawan arah dengan solvent IPA
dan n-hexane pada 82 Co and 69 Co secara berturut-turut. Ekstraksi dilakukan selama 2 jam dengan
perbandingan material dan solvent sebesar 20 gr/250 gr. Rendemen yang diperoleh pada penggunaan
n-hexane dan IPA sebesar 18,689 % dan 17,868 %. Kedua minyak yang dihasilkan baik dari
penggunaan n-hexane maupun IPA memenuhi spesifikasi minyak biji alpukat. Dari besarnya
rendemen yang diperoleh menunjukkan bahwa secara kuantitatif n-hexane lebih baik daripada IPA,
tapi dari segi kandungan impuritas atau secara kualitatif IPA lebih baik daripada n-hexane.

Kata kunci : biji alpukat; ekstraksi; rendemen; solven

Abstract
The purpose of this research is to study the yield and selectivity from avocado seed oil
extraction using n-hexane and IPA as solvent. Extraction is a method to separate a component from
the mixture using solvent as the separating agent. The extraction process was carried out by
continuous system with three stages counter current batch simulation using IPA and n-hexane as
o
solvent at 82 C and 69 oC, respectively; during 2 hours with the material and solvent ratio is
20gr/250gr. Yield of the research using n-hexane and IPA are 18,689 % and 17,868 %. Both oils
either using n-hexane or IPA solvent fulfill avocado seed oil specification. The rendement using n-
hexane is quantitatively better than IPA but the impurity content show that IPA is qualitatively better
than n-hexane.

Keywords : avocado seed; extraction; rendement; solvent

Pendahuluan
Hampir semua orang mengenal dan menyukai buah alpukat karena buah ini mudah didapat dan rasanya
lezat. Buah alpukat memiliki kandungan gizi yang tinggi, daunnya pun dapat digunakan sebagai bahan ramuan obat
sakit ginjal. Biji alpukat digunakan untuk keperluan pembibitan dan berkhasiat sebagai obat sakit gigi, kencing batu,
dan kencing manis, namun kebanyakan biji alpukat ini dibuang begitu saja setelah diambil buahnya.
Di samping daging buahnya, biji alpukat juga memiliki potensi karena kandungan proteinnya tinggi
bahkan kandungan minyaknya hampir sama dengan kedelai sehingga biji alpukat dapat dijadikan sebagai sumber
minyak nabati. Berdasarkan pertimbangan bahwa buah alpukat banyak terdapat di masyarakat, harganya murah dan
bijinya belum banyak dimanfaatkan secara maksimal, maka perlu dilakukan penelitian tentang biji alpukat tersebut.
Dalam perkembangan untuk memperoleh minyak dari biji alpukat dapat dilakukan dengan cara ekstraksi.
Dengan ekstraksi ini kehilangan minyak dalam proses dapat dibuat seminimal mungkin. Proses ekstraksi
memerlukan data data tentang kondisi operasi yang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas minyak yang
dihasilkan.
Dalam penelitian ini mengambil permasalahan pengaruh jenis zat pelarut sebagai variabel terhadap proses
ekstraksi biji. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari rendemen dan selektivitas dari ekstraksi biji
alpukat dengan pelarut n-hexane dan IPA dari hasil proses ekstraksi-destilasi minyak biji allpukat dengan
menggunakan kondisi operasi yang telah ditentukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dari parameter yang
telah ditentukan yaitu: indeks bias, density minyak, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan iod dan
rendemen.
2

Data hasil percobaan yang hampir sama juga dapat ditandai dengan kecilnya standar deviasi menunjukkan
bahwa pada saat langkah pertama bukan lagi sebagai langkah pendahuluan melainkan sudah langkah operasi yang
steady. Hal ini disebabkan karena selektifitas solvent terhadap minyak yang cukup tinggi.

Hasil analisis kandungan asam lemak dari proses ekstraksi biji alpukat ditunjukkan pada Tabel 1.3

Tabel 1.3 Hasil analisis kimia minyak biji alpukat


No Kandungan kimia n-hexane ( % w /w) IPA ( % w /w)
1 oleic acid 71,715 73,265
2 linoleic acid 13,135 15,602
3 palmitic acid 6,032 6,177
4 stearic acid 1,530 1,248
5 lauric acid 0,164 0,132
6 myristic acid 0,700 0,733
7 palmitoleic acid 0,606 0,633
8 margaroleic acid 0,017 0,044
9 fenolat 0,972 0,292
10 aldehid 1,450 0,942
11 chlorofil 1,306 0,910
12 riboflavin 0,701 -
13 keton 1,672 0,022

Dari kelima parameter hasil ekstraksi, untuk indeks bias, bilangan iod, dan angka penyabunan dari penggunaan
IPA dan n-hexane dapat dianggap sama. Untuk parameter berat jenis, hasil ekstraksi menggunakan solven n-hexane
memiliki berat jenis yang lebih tinggi yaitu 0,922 gr/ml dibanding 0,912 gr/ml pada IPA. Berat jenis yang lebih
tinggi disebabkan persentase impuritas (fenolat, aldehid, keton, chlorofil, dan riboflavin) pada penggunaan n-hexane
lebih besar. Untuk parameter bilangan asam, hasil ekstraksi menggunakan IPA memiliki bilangan asam yang lebih
tinggi yaitu 0,301 mg KOH/gr dibanding 0,249 mg KOH/gr pada n-hexane. Hal ini disebabkan komponen asam
lemak dari hasil ekstraksi menggunakan IPA lebih besar dibanding hasil ekstraksi yang menggunakan n-hexane.
Sehingga KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak yang terdapat dalam minyak juga lebih banyak.
Untuk perbandingan rendemen, Tabel 1.1 menunjukkan bahwa rendemen ketika menggunakan solven n-hexane
lebih besar daripada rendemen jika menggunakan IPA sebagai solven. Ini dikarenakan n-hexane tidak hanya
mengestrak minyak tetapi juga terdapat senyawa lain yang terikut di antaranya fenolat, aldehid, klorofil, riboflavin,
dan keton dimana senyawa-senyawa tersebut kadarnya lebih besar daripada senyawa-senyawa yang sama yang
terekstrak oleh IPA. Bahkan n-hexane mampu mengestrak riboflavin, sedangkan IPA tidak, riboflavin adalah
senyawa vitamin B2 dimana dalam alpukat sendiri kaya akan vitamin B2. Selain itu bila ditinjau dari sifatnya bahwa
minyak biji alpukat bersifat non polar karena memiliki rantai carbon yang cukup panjang dan bersifat hidrofobik dan
termasuk asam lemak, sedang n-hexane juga bersifat non polar sehingga minyak biji alpukat dapat terekstrak dengan
baik. Sedangkan IPA mempunyai dua buah sisi dimana sisi pertamanya bersifat polar yakni CHOH dan sisi yang
lain bersifat non polar yaitu CH CH2 inilah
3 yang membuat IPA mampu mengestrak minyak biji alpukat karena dia
memiliki bagian yang bersifat non polar seperti minyak biji alpukat yang juga bersifat non polar [7].
Secara kualitatif rendemen hasil n-hexane lebih tinggi daripada IPA tapi dalam n-hexane kandungan
impuritasnya juga lebih tinggi daripada IPA seperti kadar keton 1,672% pada n-hexane, sedangkan dalam minyak
pangan kadar keton harus seminim mungkin bahkan kalau bisa dihilangkan karena efek negatifnya yaitu bila
kandungan keton dalam darah dan urin manusia tinggi berakibat hypoglisemia yang berakibat hyperinsulin atau
menimbulkan kidak harmonisan metabolisme dan ketoasidosis yang berujung pada penyakit diabetes mellitus.
Inilah yang menyebabkan kenapa secara kuantitatif hasil yang diperoleh menggunakan n-hexane lebih bagus
tapi bila dari segi kualitatif IPA lebih baik.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil ekstraksi dengan menggunakan pelarut n-hexane dan IPA dapat disimpulkan beberapa
hal sebagai berikut :
1. Ditinjau dari rendemen yang diperoleh, proses ekstraksi minyak secara kuantitatif lebih bagus menggunakan n-
hexane sebagai solven karena rendemen yang diperoleh lebih tinggi.
2. Ditinjau dari selektivitas (kadar asam oleat dan asam linoleat) proses ekstraksi minyak secara kualitatif lebih
bagus menggunakan IPA karena kadar asam oleat dan asam linoleat lebih tinggi. Selain itu pada minyak hasil
ekstraksi menggunakan IPA kadar bahan berbahaya (keton) lebih rendah.
PENGARUH TEMPERATUR DAN F/S TERHADAP EKSTRAKSI
MINYAK DARI BIJI KEMIRI SISA PENEKANAN MEKANIK

Ariestya Arlene*, Steviana Kristanto, Ign Suharto


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Katolik Parahyangan
Jalan Ciumbuleuit 94, Bandung 40141
Telp / Fax : (022) 2032700
Email : ariestya.arlene@yahoo.com

Abstrak

Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan tanaman asli Hawaii dan saat ini banyak tumbuh secara
alami di Indonesia. Kemiri merupakan tanaman pangan yang dapat tumbuh di daerah tropis dan
subtropis. Potensi kemiri terdapat pada buah yang bijinya mengandung mnyak.Tujuan penelitian
ini adalah mengetahui pengaruh temperatur dalam proses ekstraksi terhadap perolehan minyak
kemiri sisa pressing, pengaruh F/S dalam proses ekstraksi terhadap perolehan minyak kemiri sisa
pressing serta mengetahui ada tidaknya interaksi antara F/S dan temperatur terhadap ekstraksi
minyak biji kemiri sisa pressing. Manfaat penelitian ini adalah mampu meningkatkan produktivitas
dan efisiensi industri minyak kemiri, mampu memberi masukan pada pembuatan SNI minyak biji
kemiri, menambah khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi ekstraksi minyak biji kemiri.
Metodologi penelitian adalah ekstraksi dengan cara batch dengan pengadukan. Penelitian yang
dilakukan terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: perlakuan awal, penelitian pendahuluan, penelitian
utama dan analisis. Perlakuan awal meliputi pengecekkan kadar air, penyortiran biji kemiri,
pengecilan ukuran biji kemiri, pemanggangan dan penekanan biji kemiri. Penelitian pendahuluan
bertujuan untuk menentukan kecepatan pengadukan yang paling baik saat ekstraksi. Penelitian
utama bertujuan untuk mengetahui temperatur dan ratio F/S (feed/solvent) yang memberikan
perolehan (rendemen) terbaik dan kualitas terbaik bilangan asam dan bilangan peroksida terbaik.
Percobaan utama meliputi ekstraksi pelarut dan pemurnian. Variasi temperatur ekstraksi adalah
300C, 45C dan 600 C sedangkan variasi ratio F/S adalah 1/5, 1/10 dan 1/15. Analisis hasil
penelitian meliputi: analisis rendemen, massa jenis, indeks bias, kadar air, bilangan asam, bilangan
penyabunan, bilangan iod, dan bilangan peroksida. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu pada
tingkat kepercayaan 95% , temperatur berpengaruh terhadap hasil analisis rendemen,bilangan
asam dan bilangan peroksida. F/S berpengaruh terhadap hasil analisis rendemen dan bilangan
asam. Terdapat interaksi antara temperatur dan F/S terhadap hasil analisis rendemen dan bilangan
asam. Kondisi ekstraksi terbaik diperoleh saa temperatur 60C dan F/S 1/15.

Kata kunci :Kemiri; temperatur; ekstraksi; ratio umpan/pelarut

1. Pendahuluan
Kemiri (Aleurites moluccana ) merupakan tanaman pangan yang dapat tumbuh di daerah tropis dan
subtropis. Bagian terpenting dari kemiri yaitu bijinya yang digunakan sebagai bumbu masak, penyedap
dalam berbagai jenis makanan, sabun, obat, serta kosmetik. Inti biji kemiri dapat mengandung hingga
60% minyak. Minyak kemiri dimanfaatkan sebagai minyak pengering dalam cat yang selama ini masih di
import dari Amerika, India dan Rusia. Kemiri mengandung gliserida, asam linoleat, palmitat, stearat,
miristat, asam minyak, protein, vitamin B1 dan zat lemak.
Salah satu cara untuk memanfaatkan biji kemiri adalah mengekstraksi biji kemiri sehingga
dihasilkan minyak. Minyak yang terkandung dalam biji kemiri dapat diekstraksi karena pelarut yang
digunakan memiliki kepolaran yang sama dengan minyaknya. Minyak lemak dari biji kemiri mengandung
asam lemak tak jenuh dengan kadar asam oleat 10,54% asam linoleat 48,56%, asam linolenat 28,5% dan
asam lemak jenuh 12,56%. Minyak kemiri memiliki banyak manfaat sehingga penelitian ini memiliki
prospek yang baik.

2. Metodologi Penelitian
Penelitian terbagi menjadi empat bagian yaitu perlakuan awal, penelitian pendahuluan, penelitian
utama, dan analisis. Perlakuan awal bertujuan untuk mempersiapkan bahan ekstraksi yang akan
SEMINAR REKAYASA KIMIA DAN PROSES, 4-5 Agustus 2010
ISSN : 1411-4216

digunakan dalam penelitian. Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan kecepatan pengadukan
yang akan digunakan pada penelitian utama. Penelitian utama bertujuan untuk mengetahui pengaruh
temperatur dan F/S terhadap ekstraksi minyak biji kemiri sisa penekanan mekanik. Minyak yang didapat
dari penelitian utama akan dianalisis. Analisis yang dilakukan meliputi: analisis rendemen, densitas,
indeks bias, kadar air, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan iod dan bilangan peroksida. Dari
hasil analisis dapat diketahui pengaruh temperatur dan F/S terhadap karakteristik minyak biji kemiri sisa
penekanan mekanik dengan menggunakan rancangan percobaan. Rancangan percobaan yang digunakan
adalah rancangan percobaan faktorial dua faktor.

3. Hasil Penelitian
Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan kecepatan pengadukan yang akan digunakan
pada penelitian utama. Kecepatan pengadukan yang terbaik merupakan kecepatan pengadukan yang tidak
menimbulkan vorteks dan menghasilkan laju yang cepat. Kecepatan pengadukan yang didapat dari
percobaan pendahuluan yang terbaik yaitu saat 400 rpm.

Penelitian Utama
Variasi yang dilakukan pada penelitian utama meliputi variasi temperatur (30, 45, 60C) dan F/S
(1/5,1/10,1/15). Metoda yang dilakukan yaitu ekstraksi secara batch dengan menggunakan pelarut n-
heksana. Ekstraksi dilakukan hingga didapat indeks bias konstan yang menunjukkan pelarut sudah tidak
mampu mengekstrak minyak lagi. Hasil ekstraksi merupakan campuran padatan, minyak dan pelarut
dipisahkan dengan menggunakan corong buchner yang dilengkapi dengan labu pemisah dan dihubungkan
dengan water jet ejector, sehingga didapatkan padatan dan campuran minyak biji kemiri dengan pelarut.
Untuk mendapatkan minyak biji kemiri maka perlu dilakukan pemisahan minyak kemiri dan pelarutnya.
Proses pemisahan dilakukan dengan menggunakan evaporator vakum. Hasil minyak biji kemiri kemudian
dianalisis.

Analisis
Analisis Rendemen Minyak
Rendemen yang didapat dari hasil penilitian berkisar antara 41-63%. Hasil kecenderungan data
rendemen minyak biji kemiri dapat dilihat pada gambar 1.

60
40

20

Gambar 1 Hasil analisis rendemen minyak biji kemiri

Semakin tinggi temperatur, maka rendemen minyak biji kemiri yang didapat juga semakin besar.
Hal ini disebabkan makin tinggi temperatur, viskositas fasa cair makin kecil sehingga kelarutan ekstrak
dalam pelarut makin besar. Sehingga minyak yang didapat semakin banyak. Dari segi F/S, makin besar
F/S maka rendemen yang dihasilkan akan makin banyak. F/S yang semakin besar menunjukkan semakin
banyak pelarut yang digunakan. Semakin banyak pelarut yang digunakan maka semakin banyak kontak
yang terjadi antara pelarut dan serbuk biji kemiri.
Berdasarkan rancangan percobaan faktorial dua faktor dengan tingkat kepercayaan 95% dapat
diketahui bahwa variabel temperatur dan F/S berpengaruh terhadap hasil rendemen minyak biji kemiri.
Terdapat interaksi antara temperatur dan F/S terhadap hasil rendemen minyak biji kemiri.

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
C-12- 2
ABSTRAK

Penentuan kadar air dan kadar abu pada biskuit gandum ini bertujuan untuk
menentukan kadar air dan kadar abu dalam suatu produk pangan. Kadar air dan kadar abu
harus memenuhi SNI 01-2973-1992 yaitu, kadar air maksimum 5 %, dan kadar abu
maksimum 1,6 %. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode gravimetri.
Metode gravimetri adalah suatu proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penetuan secara analisis gravimetri meliputi
transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi
bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Pada percobaan ini praktikan menggunakan
biskuit gandum.

Kata kunci: Biskuit, Gandum, Gravimetri, Kadar air, dan Kadar abu.
I. PENDAHULUAN

Biskuit merupakan produk makanan yang dibuat dari bahan dasar terigu yang
dipanggang hingga kadar air kurang dari 5 persen. Biasanya resep produk ini diperkaya
dengan lemak dan gula serta ditambah bahan pengembang. Cookies merupakan sinonim
dengan biskuit biasa digunakan di Amerika sedangkan biskuit digunakan di Inggris. Di
Indonesia dalam hal ini Departemen Perindustrian RI membagi biskuit menjadi 4
kelompok yaitu: biskuit keras, crackers, cookies dan wafer (Anonim, A
http://repository . usu . ac . id/bitstream/123456789/22821/3/Chapter%20II.pdf. Diakses 31
Maret 2014).

Biskuit keras adalah jenis biskuit manis yang dibuat dari adonan keras, berbentuk
pipih, bila dipatahkan penampang potongannya bertekstur padat, dapat berkadar lemak
tinggi maupun rendah. Cracker adalah jenis biskuit yang dibuat dari adonan keras
melalui proses fermentasi atau pemeraman, berbentuk pipih yang rasanya mengarah asin
dan relatif renyah, serta bila dipatahkan penampangnya potongannya berlapis-lapis.
Cookies adalah jenis biskuit yang dibuat dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, relatif
renyah dan bila dipatahkan penampangnya potongannya bertekstur kurang padat. Wafer
adalah jenis biskuit yang dibuat dari adonan cair, berpori-pori kasar, relatif renyah dan
bila dipatahkan penampang potongannya berongga-rongga (Anonim, A
http://repository . usu . ac . id/bitstream/123456789/22821/3/Chapter%20II.pdf. Diakses 31
Maret 2014).

Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penetuan secara analisis gravimetri meliputi
transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi
bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung berdasarkan rumus senyawa
dan berat atom unsur-unsur yang menyusunnya. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang
dikandung dilakukan dengan beberapa cara, seperti: metode pengendapan, metode
penguapan, metode elektroanalisis, atau berbagai macam metode lainnya. Pada prakteknya,
dua metode pertama adalah yang terpenting. Metode gravimetri memakan waktu cukup lama,
adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat
digunakan (S.M Khopkar, 1990: 25).

Prinsip gravimetri ini diterapkan dalam penetuan kadar air dan kadar abu yang
terkandung dalam biskuit tertentu. Menurut Badan Standar Nasional (BSN) syarat mutu
biskuit ialah mengandung kadar air maksimum 5% dan kadar abu maksimum 1,6 %
(Anonim, B http://tinyurl . com/k9nwnzv, akses 24 Maret 2014).

Tabel syarat mutu biskuit menurut SNI 01-2973-1992

$LU__________________ ___
: maximum 5%
Protein...................... : minimum 9%
Lemak...................... : minimum 9,5%
Karbohidrat ............. : minimum 70%
Abu........................... : maximum 1,6%
Logam berbahaya ..... : negatif
Serat kasar............... : maximum 0,5%
Kalori ..... kal/100 gr... : minimum 400
Jenis tepung ............. : terigu
Bau dan rasa ............ : normal,tidak tengik
Warna ....................... : normal
DIPERIKSA
TANDA
KETERANGAN
TANGAN
NO TANGGAL
-Perbaiki Kata Pengantar
1 26/5/2015
-Perbaiki Format :
Spasi, ukuran font,margin,paragraph,tanda
baca,pengetikan kata.

2 28/5/2015 Perbaiki Format

3 29/5/2015 Samakan Format dan Rapikan

4 29/5/2015 Samakan Format dan Rapikan

5 29/5/2015 Samakan Format dan Rapikan