Anda di halaman 1dari 39

Makalah tentang Pengukuran Fair Value (PSAK 68 dan

kaitannya dengan PSAK 13,16,19,dan 69)


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Topik Khusus

Disusun oleh:

FAZA GHASSANI 120110110214

AYU FUADY SANIA 120110140002

DAYANTI 120110140039

SADZA NABILA 120110140083

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan ke Hadirat Allah SWT yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Berkat Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya
penyusun mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Makalah tentang Fair
Value (PSAK 68 dan kaitannya dengan PSAK 13,16,19,dan 69) guna memenuhi
tugas Akuntansi Topik Khusus. Makalah ini membahas tentang
pengukuran,penerapan pada aset nonkeuangan dan pengungkapan nilai wajar (
Fair Value ) pada PSAK 68 serta kaitannya dengan PSAK 13,16,19 dan 69.
Penyusun dapat menyelesaikan makalah ini berkat bantuan dan dorongan dari
semua pihak. Untuk itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu penyusunan makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan


baik dari penyajian maupun penguraiannya. Oleh karena itu, penyusun berharap
adanya kritikan dan saran, supaya dalam pembuatan makalah berikutnya
penyusun bisa lebih baik lagi. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penyusun sendiri dan umumnya bagi pembaca, Aamiin.

Bandung, 12 Oktober 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah.......................................................................................2
1.3 Maksud dan Tujuan........................................................................................2
1.4 Metode Pendekatan........................................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
PEMBAHASAN......................................................................................................3
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 68 Pengukuran Nilai Wajar.....3
2.1 PENDAHULUAN.........................................................................................3
2.1.1 Tujuan......................................................................................................3
2.1.2 Ruang Lingkup........................................................................................4
2.2 PENGUKURAN............................................................................................5
2.2.1 Definisi Nilai Wajar.................................................................................5
2.2.2 Aset atau Liabilitas..................................................................................5
2.2.3 Transaksi..................................................................................................6
2.2.4 Pelaku Pasar.............................................................................................7
2.2.5 Harga........................................................................................................8
2.2.6 Penerapan pada Aset Nonkeuangan.........................................................9
2.2.7 Penerapan pada Liabilitas dan Instrumen Ekuitas Milik Entitas Sendiri
........................................................................................................................11
2.2.8 Nilai Wajar pada Saat Pengakuan Awal.................................................13
2.2.9 Teknik Penilaian....................................................................................14
2.2.10 Input pada Teknik Penilaian................................................................15
2.2.11 Hirarki Nilai Wajar...............................................................................16

2
2.3 PENGUNGKAPAN.....................................................................................17
Keterkaitan dengan PSAK 13,16,19, dan 69..............................................21
2.4 PSAK 13 ( Properti Investasi )....................................................................21
2.4.1 Definisi Nilai Wajar...............................................................................21
2.4.2 Pengukuran Saat Pengakuan..................................................................21
2.4.3 Pengukuran Setelah Pengakuan.............................................................22
2.4.4 Pengalihan..............................................................................................24
2.4.5 Pelepasan...............................................................................................25
2.5 PSAK 16 ( Aset Tetap )...............................................................................28
2.6 PSAK 19 ( Aset Tidak Berwujud )..............................................................29
2.7 PSAK 69 ( Agrikultur )...............................................................................29
BAB III..................................................................................................................31
KESIMPULAN......................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................32

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Untuk memastikan bahwa laporan keuangan dapat memenuhi tujuannya
yaitu memberikan informasi yang dapat diandalkan dalam pembuatan keputusan
ekonomi, IASB (International Accounting Standards Board) menyusun IFRS
(International Financial Reporting Standards) dan International Accounting
Standards (IAS) yang bertujuan memajukan konsep Akuntansi Nilai Wajar (Fair
Value Accounting - FVA). Nilai Wajar dianggap sebagai basis pengukuran yang
dapat diandalkan untuk setiap komponen asset dan kewajiban pada laporan
keuangan dan mulai diberlakukan 1 Januari 2006. Amerika adalah termasuk
negara yang baru mengadopsi IFRS dan beberapa alasan untuk penerapan FVA
adalah:

1. Keinginan Securities Exchange Commission (SEC) untuk meningkatkan


transparansi informasi mengenai investasi.
2. Komparabilitas terhadap perusahaan asing yang terdaftar di Bursa
Amerika
3. Uni Eropa mensyaratkan penggunaan standar internasional yang
menerapkan akuntansi nilai kini (present value accounting)
4. Kebutuhan pasar modal dan pengguna lain dari laporan keuangan untuk
pengukuran nilai yang lebih akurat

Untuk itu, dalam makalah ini akan di bahas mengenai PSAK 68 yaitu tentang
pengukuran nilai wajar dan kaitannya dengan PSAK 13 (properti investasi),
PSAK 16 (asset tetap), PSAK 19 (asset tak berwujud), dan PSAK 69 (agrikultur)
yang akan memberikan pemahaman dan pengetahuan lebih jauh lagi mengenai
pengukuran nilai wajar ( fair value ).

1
1.2 Identifikasi Masalah
Bagaimana tujuan dan ruang lingkup dari Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan 68 ?
Bagaimana pengukuran dari nilai wajar ( Fair Value ) ?
Bagaimana penerapan nilai wajar ( Fair Value ) pada Aset Nonkeuangan ?
Bagaimana pengungkapan dari nilai wajar ( Fair Value ) ?
Bagaimana keterkaitan antara PSAK 68 dengan PSAK 13,16,19, dan
PSAK 69 ?

1.3 Maksud dan Tujuan


Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada identifikasi masalah
tersebut, tujuan umum dalam penyusunan makalah ini yaitu untuk
memberikan pengetahuan serta wawasan yang lebih jauh mengenai PSAK 68
tentang Pengukuran Nilai wajar serta kaitannya dengan PSAK 13 ( properti
investasi ), PSAK 16 ( aset tetap ), PSAK 19 ( aset tak berwujud ), dan PSAK
69 ( agrikultur ) kemudian untuk tujuan khusus penyusunan makalah ini yaitu
untuk memenuhi salah satu tugas Akuntansi Topik Khusus.

1.4 Metode Pendekatan


Dalam penulisan makalah ini penyusun menggunakan metode study
pustaka yaitu mengambil referensi-referensi dari buku-buku maupun dari
internet yang mendukung penyusunan makalah ini.

2
BAB II

PEMBAHASAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 68 Pengukuran Nilai Wajar


2.1 PENDAHULUAN
2.1.1 Tujuan
Tujuan dari pernyataan ini untuk:

mendefinisikan nilai wajar (fair value)

menetapkan dalam suatu Pernyataan, kerangka pengukuran nilai


wajar

mensyaratkan pengungkapan mengenai pengukuran nilai wajar.

Nilai wajar adalah pengukuran berbasis pasar, bukan pengukuran


spesifik atas suatu entitas. Untuk beberapa aset dan liabilitas, transaksi pasar
atau informasi pasar yang dapat diobservasi dapat tersedia. Untuk aset dan
liabilitas lain, hal tersebut mungkin tidak tersedia. Akan tetapi, tujuan
pengukuran nilai wajar dalam kedua kasus tersebut adalah sama untuk
mengestimasi harga dimana suatu transaksi teratur (orderly transaction)
untuk menjual aset atau mengalihkan liabilitas akan terjadi antara pelaku
pasar (market participants) pada tanggal pengukuran dalam kondisi pasar
saat ini (yaitu harga keluaran (exit price) pada tanggal pengukuran dari
perspektif pelaku pasar yang memiliki aset atau liabilitas).

Transaksi teratur (orderly transaction) adalah transaksi yang


mengasumsikan eksposur ke pasar untuk periode sebelum tanggal
pengukuran untuk memungkinkan kegiatan pemasaran yang lazim dan

3
umum untuk transaksi yang melibatkan aset atau liabilitas; transaksi tersebut
bukan merupakan transaksi yang dipaksakan (contohnya likuidasi yang
dipaksakan atau penjualan karena keterpaksaan)

Ketika harga untuk aset atau liabilitas yang identik tidak dapat
diobservasi, entitas mengukur nilai wajar menggunakan teknik penilaian lain
yang memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi (observable
inputs) yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat
diobservasi (unobservable inputs). Karena nilai wajar merupakan
pengukuran berbasis pasar, maka nilai wajar diukur menggunakan asumsi
yang akan digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau
liabilitas, termasuk asumsi mengenai risiko. Sebagai hasilnya, intensi entitas
untuk memiliki suatu aset atau untuk menyelesaikan atau memenuhi suatu
liabilitas menjadi tidak relevan ketika mengukur nilai wajar.

Input yang dapat diobservasi (observable inputs) adalah input yang


dikembangkan menggunakan data pasar, seperti informasi yang tersedia
untuk publik mengenai peristiwa atau transaksi aktual, dan yang
mencerminkan asumsi yang akan digunakan pelaku pasar ketika menentukan
harga aset atau liabilitas.

Input yang tidak dapat diobservasi (unobservable inputs) adalah input


ketika data pasar tidak tersedia dan yang dikembangkan dengan
menggunakan informasi terbaik yang tersedia mengenai asumsi yang akan
digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau liabilitas.

Nilai wajar fokus pada aset dan liabilitas karena keduanya merupakan
subjek utama pengukuran akuntansi. Sebagai tambahan, Pernyataan ini
diterapkan atas instrumen ekuitas milik entitas sendiri yang diukur pada nilai
wajar.

2.1.2 Ruang Lingkup


Pernyataan ini diterapkan ketika Pernyataan lain mensyaratkan atau
mengizinkan pengukuran atau pengungkapan mengenai nilai wajar (dan

4
pengukuran, seperti nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual (fair
value less costs to sell), berdasarkan nilai wajar atau pengungkapan
mengenai pengukuran tersebut), kecuali:

Persyaratan pengukuran dan pengungkapan dalam Pernyataan ini tidak


berlaku untuk hal sebagai berikut:

a) transaksi pembayaran berbasis saham dalam ruang lingkup PSAK 53:


Pembayaran Berbasis Saham

b) transaksi sewa dalam ruang lingkup PSAK 30: Sewa

c) pengukuran yang memiliki beberapa keserupaan dengan nilai wajar


tetapi bukan merupakan nilai wajar, seperti nilai realisasi neto (net
realisable value) dalam PSAK 14: Persediaan atau nilai pakai (value
in use) dalam PSAK 48: Penurunan Nilai Aset.

Pengungkapan yang disyaratkan dalam Pernyataan ini tidak disyaratkan


untuk hal sebagai berikut:

a) aset program yang diukur pada nilai wajar sesuai dengan PSAK 24:
Imbalan Kerja

b) investasi program manfaat purnakarya yang diukur pada nilai wajar


sesuai dengan PSAK 18: Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat
Purnakarya

c) aset yang jumlah terpulihkannya adalah nilai wajar setelah dikurangi


biaya pelepasan sesuai dengan PSAK 48: Penurunan Nilai Aset.

5
2.2 PENGUKURAN
2.2.1 Definisi Nilai Wajar
Nilai wajar sebagai harga yang akan diterima untuk menjual suatu
aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam
transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.

2.2.2 Aset atau Liabilitas


Pengukuran nilai wajar adalah untuk aset atau liabilitas tertentu.
Oleh karena itu, ketika mengukur nilai wajar, entitas memperhitungkan
karakteristik aset atau liabilitas jika pelaku pasar akan memperhitungkan
karakteristik tersebut ketika menentukan harga aset atau liabilitas pada
tanggal pengukuran. Karakteristik tersebut termasuk, sebagai contoh, hal
sebagai berikut:

a) kondisi dan lokasi aset; dan

b) pembatasan, jika ada, atas penjualan atau penggunaan aset.

Aset atau liabilitas yang diukur pada nilai wajar dapat terdiri dari salah satu
hal sebagai berikut:

a) aset atau liabilitas yang berdiri sendiri (contohnya instrumen keuangan


atau aset nonkeuangan); atau

b) sekelompok aset, sekelompok liabilitas atau sekelompok aset dan


liabilitas (contohnya suatu unit penghasil kas atau bisnis)

Apakah aset atau liabilitas merupakan aset atau liabilitas yang berdiri
sendiri, sekelompok aset, sekelompok liabilitas atau sekelompok aset dan
liabilitas untuk tujuan pengakuan atau pengungkapan tergantung pada unit
akunnya (unit of account). Unit akun aset atau liabilitas ditentukan sesuai
dengan Pernyataan yang mensyaratkan atau mengizinkan pengukuran nilai
wajar, kecuali sebagaimana telah dijelaskan dalam Pernyataan ini.

6
Unit akun (unit of account) adalah level dimana aset atau liabilitas
digabungkan atau dipisahkan dalam suatu Pernyataan untuk tujuan
pengakuan.

2.2.3 Transaksi
Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa aset atau liabilitas
dipertukarkan dalam suatu transaksi teratur antara pelaku pasar untuk
menjual aset atau mengalihkan liabilitas pada tanggal pengukuran
berdasarkan kondisi pasar saat ini.

Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa transaksi untuk


menjual aset atau mengalihkan liabilitas terjadi: di pasar utama (principal
market) untuk aset atau liabilitas tersebut atau jika tidak terdapat pasar
utama, di pasar yang paling menguntungkan (most advantegous market)
untuk aset atau liabilitas tersebut.

Pasar utama (principal market) adalah pasar dengan volume dan


tingkat aktivitas terbesar untuk aset atau liabilitas.

Pasar yang paling menguntungkan (most advantegous market) adalah


pasar yang memaksimalkan jumlah yang akan diterima untuk menjual aset
atau meminimalkan jumlah yang akan dibayar untuk mengalihkan liabilitas,
setelah memperhitungkan biaya transaksi dan biaya transpor.

Entitas harus memiliki akses ke pasar utama (atau pasar yang paling
menguntungkan) pada tanggal pengukuran. Karena entitas yang berbeda
(dan bisnis dalam entitas tersebut) dengan aktivitas yang berbeda dapat
memiliki akses ke pasar yang berbeda, pasar utama (atau pasar yang paling
menguntungkan) untuk aset atau liabilitas yang sama mungkin berbeda
untuk entitas yang berbeda (dan bisnis dalam entitas tersebut). Oleh karena
itu, pasar utama (atau pasar yang paling menguntungkan) dan juga pelaku
pasar dipertimbangkan dari perspektif entitas, sehingga memungkinkan
terdapatnya perbedaan antara entitas dengan aktivitas yang berbeda.

7
2.2.4 Pelaku Pasar
Pelaku pasar (market participants) adalah pembeli dan penjual di
pasar utama (atau pasar yang paling menguntungkan) untuk aset atau
liabilitas yang memiliki seluruh karakteristik sebagai berikut:

a) Pembeli dan penjual independen satu sama lain, yaitu bukan pihak
berelasi sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pihak-pihak
Berelasi, walaupun harga dalam transaksi dengan pihak berelasi
dapat digunakan sebagai input yang digunakan dalam pengukuran
nilai wajar jika entitas memiliki bukti bahwa transaksi dilakukan
menggunakan persyaratan pasar.

b) Pembeli dan penjual memiliki pengetahuan dan pemahaman yang


memadai mengenai aset atau liabilitas dan transaksi menggunakan
seluruh informasi yang tersedia, termasuk informasi yang dapat
diperoleh melalui upaya uji tuntas yang lazim dan umum.

c) Pembeli dan penjual dapat melakukan transaksi atas aset


atauliabilitas.

d) Pembeli dan penjual bersedia untuk melakukan transaksi atas asset


atau liabilitas, yaitu mereka termotivasi namun tidak terpaksa, atau
dipaksa untuk melakukan hal tersebut.

Entitas mengukur nilai wajar suatu aset atau liabilitas menggunakan


asumsi yang akan digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau
liabilitas tersebut, dengan asumsi bahwa pelaku pasar bertindak dalam
kepentingan ekonomik terbaiknya.

Dalam mengembangkan asumsi tersebut, entitas tidak perlu


mengidentifikasi pelaku pasar yang spesifik. Sebaliknya, entitas

8
mengidentifikasi karakteristik yang membedakan pelaku pasar secara umum,
mempertimbangkan faktor yang spesifik untuk seluruh hal sebagai berikut:

a). aset atau liabilitas;

b). pasar utama (atau pasar yang paling menguntungkan) untuk asset atau
liabilitas; dan

c). pelaku pasar yang akan melakukan transaksi dengan entitas di pasar
tersebut.

2.2.5 Harga
Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu
aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam
transaksi teratur di pasar utama (atau pasar yang paling menguntungkan)
pada tanggal pengukuran berdasarkan kondisi pasar saat ini (yaitu harga
keluaran) terlepas apakah harga tersebut dapat diobservasi secara langsung
atau diestimasi menggunakan teknik penilaian lain.

Harga di pasar utama (atau pasar yang paling menguntungkan) yang


digunakan untuk mengukur nilai wajar aset atau liabilitas tidak disesuaikan
dengan biaya transaksi (transaction costs). Biaya transaksi tidak termasuk
biaya transpor (transport costs). Jika lokasi merupakan karakteristik aset
(sebagai contoh dalam kasus suatu komoditas), harga di pasar utama (atau
pasar yang paling menguntungkan) disesuaikan dengan biaya tersebut, jika
ada, yang akan dikeluarkan untuk mentranspor aset dari lokasinya saat ini ke
pasar tersebut.

Biaya transaksi (transaction costs) adalah biaya untuk menjual suatu


aset atau mengalihkan suatu liabilitas di pasar utama (atau pasar yang paling
menguntungkan) untuk aset atau liabilitas yang dapat diatribusikan secara

9
langsung kepada pelepasan aset atau pengalihan liabilitas dan biaya tersebut
memenuhi kedua kriteria sebagai berikut:

a) Timbul secara langsung dari dan penting untuk transaksi tersebut.

b) Tidak akan dikeluarkan entitas jika keputusan untuk menjual asset


atau mengalihkan liabilitas tidak dibuat

2.2.6 Penerapan pada Aset Nonkeuangan


Penggunaan Tertinggi dan Terbaik untuk Aset Nonkeuangan

Pengukuran nilai wajar aset nonkeuangan memperhitungkan


kemampuan pelaku pasar untuk menghasilkan manfaat ekonomik dengan
menggunakan aset dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya (highest and
best use) atau dengan menjualnya kepada pelaku pasar lain yang akan
menggunakan aset tersebut dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya.

Penggunaan tertinggi dan terbaik aset nonkeuangan memperhitungkan


penggunaan aset yang secara fisik dimungkinkan, secara hukum diizinkan
dan layak secara keuangan, sebagai berikut:

a) Penggunaan yang secara fisik dimungkinkan (physically possible)


memperhitungkan karakteristik fisik aset yang akan diperhitungkan
pelaku pasar ketika menentukan harga aset (contohnya lokasi atau
ukuran properti).

b) Penggunaan yang secara hukum diizinkan (legally permissible)


memperhitungkan adanya pembatasan hukum atas penggunaan asset
yang akan diperhitungkan pelaku pasar ketika menentukan harga aset
(contohnya peraturan kawasan yang berlaku atas properti).

10
c) Penggunaan yang layak secara keuangan (financially feasible)
memperhitungkan apakah penggunaan aset yang secara fisik
dimungkinkan dan secara hukum diizinkan menghasilkan pendapatan
atau arus kas yang memadai (dengan memperhitungkan biaya untuk
mengkonversi aset untuk penggunaan tersebut) untuk menghasilkan
imbal hasil investasi yang dibutuhkan pelaku pasar dari investasi
dalam aset tersebut, digunakan dalam penggunaan tersebut.

Premis Penilaian untuk Aset Nonkeuangan

Penggunaan tertinggi dan terbaik aset nonkeuangan menetapkan


premis penilaian (valuation premise) yang digunakan untuk mengukur nilai
wajar aset, sebagai berikut:

a) Penggunaan tertinggi dan terbaik aset nonkeuangan dapat memberikan


nilai maksimum kepada pelaku pasar melalui penggunaan aset tersebut
dalam kombinasi dengan aset lain sebagai suatu kelompok
(sebagaimana terpasang atau terkonfigurasi untuk digunakan) atau
dalam kombinasi dengan aset dan liabilitas lain (contohnya suatu
bisnis).

1. Jika penggunaan tertinggi dan terbaik aset adalah untuk


menggunakan aset tersebut dalam kombinasi dengan aset lain atau
dengan aset dan liabilitas lain, nilai wajar aset adalah harga yang
akan diterima dari transaksi saat ini untuk menjual aset, dengan
asumsi bahwa aset tersebut akan digunakan dengan aset lain atau
dengan aset dan liabilitas lain, dan bahwa asset dan liabilitas
tersebut (yaitu aset pelengkapnya dan liabilitas terkaitnya) akan
tersedia bagi pelaku pasar.

11
2. Liabilitas yang terkait dengan aset dan aset pelengkap termasuk
liabilitas yang mendanai modal kerja, tetapi tidak termasuk
liabilitas yang digunakan untuk mendanai aset selain dari yang
termasuk dalam kelompok aset tersebut.

3. Asumsi mengenai penggunaan tertinggi dan terbaik aset


nonkeuangan konsisten untuk seluruh aset (dimana penggunaan
tertinggi dan terbaik adalah relevan) dari kelompok aset atau
kelompok aset dan liabilitas dimana asset tersebut digunakan.

b) Penggunaan tertinggi dan terbaik aset nonkeuangan dapat


menyediakan nilai maksimum kepada pelaku pasar secara terpisah.
Jika penggunaan tertinggi dan terbaik aset adalah untuk digunakan
secara terpisah, maka nilai wajar aset adalah harga yang akan diterima
dalam transaksi saat ini untuk menjual aset tersebut kepada pelaku
pasar yang akan menggunakan aset tersebut secara terpisah.

2.2.7 Penerapan pada Liabilitas dan Instrumen Ekuitas Milik Entitas


Sendiri
Prinsip umum

Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa liabilitas keuangan


atau, liabilitas non keuangan atau instrumen ekuitas milik entitas sendiri
(contohnya kepemilikan saham yang diterbitkan sebagai pembayaran dalam
suatu kombinasi bisnis) dialihkan kepada pelaku pasar pada tanggal
pengukuran. Pengalihan liabilitas atau instrument ekuitas milik entitas
sendiri mengasumsikan hal sebagai berikut:

a) Liabilitas akan tetap terutang dan pelaku pasar yang menerima


pengalihan (transferee) disyaratkan untuk memenuhi kewajiban

12
tersebut. Liabilitas tidak akan diselesaikan dengan pihak lawan atau
diakhiri pada tanggal pengukuran.

b) Instrumen ekuitas milik entitas sendiri akan tetap beredar dan pelaku
pasar yang menerima pengalihan akan mengambil alih hak dan
tanggung jawab yang terkait dengan instrumen tersebut. Instrumen
tersebut tidak akan dibatalkan atau diakhiri pada tanggal pengukuran.

Ketika harga kuotasian (quoted price) untuk pengalihan liabilitas atau


instrumen ekuitas milik entitas sendiri yang identik atau serupa tidak
tersedia dan item yang identik dimiliki oleh pihak lain sebagai aset, entitas
mengukur nilai wajar liabilitas atau instrument ekuitas dari perspektif pelaku
pasar yang memiliki item yang identik sebagai aset pada tanggal
pengukuran.

Dalam kasus tersebut, entitas mengukur nilai wajar liabilitas atau


instrumen ekuitas sebagai berikut:

a) menggunakan harga kuotasian di pasar aktif (active market) untuk item


yang identik yang dimiliki oleh pihak lain sebagai aset, jika harga
tersebut tersedia.

b) jika harga tersebut tidak tersedia, menggunakan input lain yang dapat
diobservasi, seperti harga kuotasian di pasar yang tidak aktif untuk
item yang identik yang dimiliki oleh pihak lain sebagai aset.

c) jika harga yang dapat diobservasi dalam (a) dan (b) tidak tersedia,
maka menggunakan teknik penilaian lain, seperti:

1. pendekatan penghasilan (income approach) contohnya teknik nilai


kini yang memperhitungkan nilai arus kas masa depan yang

13
diharapkan akan diterima pelaku pasar dari kepemilikannya atas
liabilitas atau instrumen ekuitas sebagai asset

2. pendekatan pasar (market approach) contohnya menggunakan


harga kuotasian untuk liabilitas atau instrumen ekuitas yang serupa
yang dimiliki oleh pihak lain sebagai asset.

Resiko wanprestasi

Nilai wajar liabilitas mencerminkan dampak risiko wanprestasi (non-


performance risk). Risiko wanprestasi mencakup, namun tidak terbatas pada,
risiko kredit entitas. Risiko wanprestasi diasumsikan sama sebelum dan
sesudah pengalihan liabilitas.

Pembatasan yang mencegah pengalihan liabilitas atau instrument ekuitas


milik entitas sendiri

Ketika mengukur nilai wajar liabilitas atau instrumen ekuitas milik


entitas sendiri, entitas tidak memasukkan input yang terpisah atau
penyesuaian terhadap input lain yang terkait dengan keberadaan pembatasan
yang mencegah pengalihan item tersebut. Dampak pembatasan yang
mencegah pengalihan liabilitas atau instrumen ekuitas milik entitas sendiri
baik secara implisit atau eksplisit tercakup dalam input lain terhadap
pengukuran nilai wajar.

Liabilitas keuangan dengan fitur dapat ditarik kembali sewaktu-waktu

Nilai wajar liabilitas keuangan dengan fitur dapat ditarik kembali


sewaktu-waktu (demand feature) (contohnya giro) adalah tidak kurang dari
jumlah yang terutang pada saat penarikan, didiskontokan dari tanggal
pertama jumlah tersebut dapat disyaratkan untuk dibayar.

2.2.8 Nilai Wajar pada Saat Pengakuan Awal


Ketika aset diperoleh atau liabilitas diambil alih dalam transaksi
pertukaran untuk aset atau liabilitas tersebut, harga transaksi adalah harga

14
yang dibayar untuk memperoleh aset atau diterima untuk mengambil alih
liabilitas (harga masukan (entry price). Sebaliknya, nilai wajar aset atau
liabilitas adalah harga yang akan diterima untuk menjual aset atau dibayar
untuk mengalihkan liabilitas (harga keluaran). Entitas tidak perlu menjual
aset pada harga yang dibayar untuk memperoleh asset tersebut. Serupa
dengan hal tersebut, entitas tidak perlu mengalihkan liabilitas pada harga
yang diterima untuk mengambil alih liabilitas tersebut.

Ketika menentukan apakah nilai wajar pada saat pengakuan awal


adalah sama dengan harga transaksi, entitas memperhitungkan faktor yang
spesifik atas transaksi dan aset atau liabilitas tersebut. Sebagai contoh, harga
transaksi dapat tidak merepresentasikan nilai wajar aset atau liabilitas pada
saat pengakuan awal jika terdapat salah satu kondisi sebagai berikut:

a) Transaksi adalah antara pihak-pihak berelasi, walaupun harga dalam


transaksi dengan pihak-pihak berelasi dapat digunakan sebagai input
dalam pengukuran nilai wajar jika entitas memiliki bukti bahwa
transaksi telah dilaksanakan dengan menggunakan persyaratan pasar.

b) Transaksi terjadi di bawah tekanan atau penjual dipaksa untuk


menerima harga dalam transaksi. Sebagai contoh, kasus tersebut
dapat terjadi jika penjual mengalami kesulitan keuangan.

c) Unit akun yang direpresentasikan oleh harga transaksi berbeda dari


unit akun aset atau liabilitas yang diukur pada nilai wajar. Sebagai
contoh, kasus tersebut dapat terjadi jika aset atau liabilitas yang
diukur pada nilai wajar hanyalah merupakan salah satu elemen dalam
transaksi (contohnya dalam kombinasi bisnis), transaksi tersebut
mencakup hak dan keistimewaan tak tertulis yang diukur secara
terpisah sesuai dengan Pernyataan lain, atau harga transaksi
mencakup biaya transaksi.

15
d) Pasar dimana transaksi terjadi berbeda dari pasar utama (atau pasar
yang paling menguntungkan). Sebagai contoh, pasar tersebut dapat
berbeda jika entitas adalah dealer yang melakukan transaksi dengan
pelanggan di pasar ritel, tetapi pasar utama (atau pasar yang paling
menguntungkan) untuk transaksi keluaran adalah dengan dealer lain
di pasar dealer.

2.2.9 Teknik Penilaian


Entitas menggunakan teknik penilaian yang sesuai dalam keadaan
dan dimana data yang memadai tersedia untuk mengukur nilai wajar,
memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan
meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi.

Tujuan penggunaan teknik penilaian adalah untuk mengestimasi


harga dimana suatu transaksi teratur untuk menjual aset atau mengalihkan
liabilitas akan terjadi antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran dalam
kondisi pasar saat ini. Tiga teknik penilaian yang digunakan secara luas
adalah:

a) Pendekatan pasar (market approach) menggunakan harga dan


informasi relevan lain yang dihasilkan oleh transaksi pasar yang
melibatkan aset, liabilitas atau kelompok aset dan liabilitas yang
identits atau sebanding (yaitu serupa), seperti bisnis.

b) Pendekatan biaya (cost approach) mencerminkan jumlah yang akan


dibutuhkan saat ini untuk menggantikan kapasitas manfaat (service
capacity) aset (sering disebut sebagai biaya pengganti saat ini).

c) Pendekatan penghasilan (income approach) mengkonversi jumlah


masa depan (contohnya arus kas atau penghasilan dan beban) ke
suatu jumlah tunggal saat ini (yaitu didiskontokan). Ketika
pendekatan penghasilan digunakan, pengukuran nilai wajar

16
mencerminkan harapan pasar saat ini mengenai jumlah masa depan
tersebut.

Entitas menggunakan teknik penilaian secara konsisten dengan satu atau


lebih dari pendekatan tersebut untuk mengukur nilai wajar.

2.2.10 Input pada Teknik Penilaian


Prinsip Umum

Teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur nilai wajar


memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan
meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi.

Input Berdasarkan Harga Bid and Ask

Jika aset atau liabilitas yang diukur pada nilai wajar memiliki harga
bid dan harga ask (contohnya input dari pasar dealer), harga dalam bidask
spread yang paling merepresentasikan nilai wajar dalam keadaan tersebut
digunakan untuk mengukur nilai wajar terlepas dari dimana input tersebut
dikategorikan dalam hirarki nilai wajar (yaitu Level 1, 2, atau 3).
Penggunaan harga bid untuk posisi aset dan harga ask untuk posisi liabilitas
diizinkan, tetapi tidak disyaratkan.

Pernyataan ini tidak menghalangi penggunaan penentuan harga nilai


tengah pasar (mid-market pricing) atau konvensi penentuan harga lain yang
digunakan pelaku pasar sebagai panduan praktis (practical expedient) untuk
mengukur nilai wajar dalam bid-ask spread.

2.2.11 Hirarki Nilai Wajar


Untuk meningkatkan konsistensi dan keterbandingan dalam
pengukuran nilai wajar dan pengungkapan yang terkait, Pernyataan ini
menetapkan hirarki nilai wajar yang mengkategorikan dalam tiga level input
untuk teknik penilaian yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar.
Hirarki nilai wajar memberikan prioritas tertinggi kepada harga kuotasian

17
(tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik
(input Level 1) dan prioritas terendah untuk input yang tidak dapat
diobservasi (input Level 3)

Input Level 1

Input Level 1 adalah harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar


aktif untuk aset atau liabilitas yang identik yang dapat diakses entitas pada
tanggal pengukuran.

Input Level 1 akan tersedia untuk kebanyakan aset keuangan dan


liabilitas keuangan, beberapa dapat dipertukarkan di beberapa pasar aktif
(contohnya dalam bursa yang berbeda). Oleh karena itu, penekanan pada
Level 1 adalah untuk menentukan kedua hal sebagai berikut:

a) pasar utama untuk aset atau liabilitas atau, jika tidak terdapat pasar
utama, pasar yang paling menguntungkan untuk aset atau liabilitas
tersebut; dan

b) apakah entitas dapat melakukan transaksi untuk aset atau liabilitas


tersebut pada harga di pasar tersebut pada tanggal pengukuran.

Input Level 2

Input Level 2 adalah input selain harga kuotasian yang termasuk dalam
Level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara
langsung atau tidak langsung.

Jika aset atau liabilitas memiliki persyaratan (kontraktual) yang spesifik,


input Level 2 harus dapat diobservasi untuk keseluruhan jangka waktu yang
substansial dari aset atau liabilitas tersebut. Input Level 2 termasuk hal
sebagai berikut:

a) harga kuotasian untuk aset atau liabilitas yang serupa di pasar aktif.

18
b) harga kuotasian untuk aset atau liabilitas yang identik atau yang
serupa di pasar yang tidak aktif.

c) input selain dari harga kuotasian yang dapat diobservasi untuk asset
atau liabilitas, sebagai contoh:

1. suku bunga dan kurva imbal hasil yang dapat diobservasi pada
interval kuotasi yang umum;

2. volatilitas yang tersirat; dan

3. credit spreads.

d) input yang diperkuat pasar (market-corroborated inputs).

Input Level 3

Input Level 3 adalah input yang tidak dapat diobservasi untuk aset
atau liabilitas. Input yang tidak dapat diobservasi digunakan untuk
mengukur nilai wajar sejauh input yang dapat diobservasi yang relevan tidak
tersedia, sehingga memungkinkan adanya situasi dimana terdapat sedikit,
jika ada, aktivitas pasar untuk aset atau liabilitas pada tanggal pengukuran.
Akan tetapi, tujuan pengukuran nilai wajar tetap sama, yaitu harga keluaran
pada tanggal pengukuran dari perspektif pelaku pasar yang memiliki aset
atau liabilitas. Oleh karena itu, input yang tidak dapat diobservasi
mencerminkan asumsi yang akan digunakan pelaku pasar ketika menentukan
harga aset atau liabilitas, termasuk asumsi mengenai risiko.

2.3 PENGUNGKAPAN
Entitas mengungkapkan informasi yang membantu pengguna laporan
keuangannya untuk menilai kedua hal sebagai berikut:

19
a) untuk aset dan liabilitas yang diukur pada nilai wajar secara berulang
(recurring) atau tidak berulang (non-recurring) dalam laporan posisi
keuangan setelah pengakuan awal, teknik penilaian dan input yang
digunakan untuk mengembangkan pengukuran tersebut.

b) untuk pengukuran nilai wajar yang berulang yang menggunakan


input yang tidak dapat diobservasi yang signifikan (Level 3), dampak
dari pengukuran terhadap laba rugi atau penghasilan komprehensif
lain untuk periode tersebut.

Untuk memenuhi tujuan tersebut, entitas mengungkapkan, sedikitnya,


informasi berikut untuk setiap kelas aset dan liabilitas yang diukur pada nilai
wajar (termasuk pengukuran berdasarkan nilai wajar dalam ruang lingkup
Pernyataan ini) dalam laporan posisi keuangan setelah pengakuan awal:

a) untuk pengukuran nilai wajar berulang dan tidak berulang,


pengukuran nilai wajar pada akhir periode pelaporan, dan untuk
pengukuran nilai wajar tidak berulang, alasan untuk pengukuran.
Pengukuran nilai wajar berulang atas aset atau liabilitas adalah yang
disyaratkan atau diizinkan oleh Pernyataan lain dalam laporan posisi
keuangan pada setiap akhir periode pelaporan. Pengukuran nilai
wajar tidak berulang atas aset atau liabilitas adalah yang disyaratkan
atau diizinkan oleh Pernyataan lain dalam laporan posisi keuangan
dalam keadaan tertentu.

b) untuk pengukuran nilai wajar berulang dan tidak berulang, level


hirarki nilai wajar dimana pengukuran nilai wajar dikategorikan
secara keseluruhan (Level 1, 2, atau 3).

c) untuk aset dan liabilitas yang dimiliki pada akhir periode pelaporan
yang diukur pada nilai wajar secara berulang, jumlah perpindahan

20
apapun antara Level 1 dan Level 2 hirarki nilai wajar, alasan untuk
perpindahan tersebut dan kebijakan entitas untuk menentukan kapan
perpindahan antar level dianggap telah terjadi.

d) untuk pengukuran nilai wajar berulang dan tidak berulang yang


dikategorikan dalam Level 2 dan Level 3 hirarki nilai wajar,
penjelasan mengenai teknik penilaian dan input yang digunakan
dalam pengukuran nilai wajar.

e) untuk pengukuran nilai wajar berulang yang dikategorikan dalam


Level 3 hirarki nilai wajar, rekonsiliasi dari saldo awal ke saldo
akhir, mengungkapkan secara terpisah perubahan selama periode
yang disebabkan oleh hal sebagai berikut:

1. total keuntungan atau kerugian untuk periode yang diakui


dalam laba rugi, dan pos dalam laba rugi dimana keuntungan
atau kerugian tersebut diakui.

2. total keuntungan atau kerugian untuk periode yang diakui


dalam penghasilan komprehensif lain, dan pos dalam
penghasilan komprehensif lain dimana keuntungan atau
kerugian tersebut diakui.

3. pembelian, penjualan, penerbitan dan penyelesaian (setiap jenis


perubahan tersebut diungkapkan secara terpisah).

4. jumlah perpindahan apapun ke dalam atau keluar dari Level 3


hirarki nilai wajar, alasan untuk perpindahan tersebut dan
kebijakan entitas untuk menentukan kapan perpindahan antara
level dianggap telah terjadi. Perpindahan ke dalam Level 3

21
diungkapkan dan didiskusikan secara terpisah dari perpindahan
keluar dari Level 3.

f) untuk pengukuran nilai wajar berulang yang dikategorikan dalam


Level 3 hirarki nilai wajar, jumlah total keuntungan atau kerugian
selama periode dalam (e) (i) dalam dalam laba rugi yang
diatribusikan kepada perubahan dalam keuntungan atau kerugian
yang belum direalisasi yang terkait dengan aset dan liabilitas yang
dimiliki pada akhir periode pelaporan, dan pos dalam laba rugi
dimana keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi tersebut
diakui.

g) untuk pengukuran nilai wajar berulang dan tidak berulang yang


dikategorikan dalam Level 3 hirarki nilai wajar, deskripsi proses
penilaian yang digunakan oleh entitas (termasuk, sebagai contoh,
bagaimana entitas menentukan kebijakan dan prosedur penilaiannya
dan menganalisa perubahan dalam pengukuran nilai wajar dari
periode ke periode).

h) untuk pengukuran nilai wajar berulang yang dikategorikan dalam


Level 3 hirarki nilai wajar:

1. untuk seluruh pengukuran tersebut, deskripsi naratif mengenai


sensitivitas pengukuran nilai wajar terhadap perubahan input yang
tidak dapat diobservasi jika perubahan terhadap input ke dalam
jumlah yang berbeda dapat menghasilkan pengukuran nilai wajar
yang secara signifikan lebih tinggi atau lebih rendah.

2. untuk aset keuangan dan liabilitas keuangan, jika mengubah satu


atau lebih input yang tidak dapat diobservasi untuk mencerminkan

22
sewajarnya asumsi alternatif yang dapat mengubah nilai wajar
secara signifikan, entitas menyatakan fakta tersebut dan
mengungkapkan dampak dari perubahan tersebut.

i) Untuk pengukuran nilai wajar berulang dan tidak berulang, jika


penggunaan tertinggi dan terbaik dari aset nonkeuangan berbeda dari
penggunaannya saat ini, entitas mengungkapkan fakta tersebut dan
mengapa aset nonkeuangan digunakan dengan cara yang berbeda
dari penggunaan tertinggi dan terbaiknya.

Entitas menentukan kelas aset dan liabilitas yang sesuai atas dasar sebagai
berikut:

a) sifat, karakteristik dan risiko aset atau liabilitas; dan

b) level hirarki nilai wajar dimana pengukuran nilai wajar tersebut


dikategorikan.

Untuk liabilitas yang diukur pada nilai wajar dan diterbitkan dengan
peningkatan kualitas kredit pihak ketiga yang takterpisahkan, penerbit
mengungkapkan keberadaan peningkatan kualitas kredit dan apakah hal
tersebut telah tercerminkan dalam pengukuran nilai wajar liabilitas.

Keterkaitan dengan PSAK 13,16,19, dan 69

2.4 PSAK 13 ( Properti Investasi )


2.4.1 Definisi Nilai Wajar
Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset
atau harga yang akan di bayar untuk mengalihkan suatu liabilitias dalam
transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran. (Paragraf 5)

23
` Hak atas properti yang dikuasai oleh lessee melalui sewa operasi dapat
dikelompokkan dan dicatat sebagai properti investasi jika, dan hanya jika,
properti tersebut akan memenuhi definisi properti investasi dan lessee
menggunakan model nilai wajar sebagaimana diatur di paragraf 33-35 untuk
aset tersebut. Alternatif pengklasifikasian ini dimungkinkan untuk dilakukan
bagi setiap properti secara individual. Akan tetapi, sekali alternatif
klasifikasi ini dipilih untuk satu hak atas properti tertentu yang dikuasai
dengan cara sewa operasi tersebut, maka seluruh properti yang
diklasifikasikan sebagai properti investasi dicatat dengan menggunakan
model nilai wajar. Jika alternatif klasifikasi ini dipilih, maka setiap hak
kepemilikan diungkapkan sebagaimana disyaratkan oleh paragraf 74-78.
(Paragraf 6)

2.4.2 Pengukuran Saat Pengakuan


Setiap premium yang dibayarkan untuk sewa diperlakukan sebagai
bagian dari pembayaran sewa minimum untuk tujuan ini, dan oleh karena itu
dimasukkan dalam biaya perolehan aset, tetapi dikeluarkan dari liabilitas.
Jika hak atas properti yang dikuasai dengan cara sewa diklasifikasikan
sebagai properti investasi, maka hak atas properti tersebut dicatat pada nilai
wajar dari hak tersebut dan bukan dari properti yang mendasari. Pedoman
pengukuran atas nilai wajar hak properti untuk model nilai wajar diatur
dalam PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar paragraf 33-35, 40, 41, 48, 50, dan
52. Pedoman tersebut juga relevan dalam penentuan nilai wajar ketika nilai
tersebut digunakan sebagai biaya perolehan untuk tujuan pengakuan awal.
(Paragraf 26).

Nilai wajar suatu aset dapat diukur secara andal jika :

Variabilitas dalam rentang pengukuran nilai wajar yang rasional


untuk aset tersebut adalah tidak signifikan; atau
Probabilitas dari beragam estimasi dalam rentang tersebut dapat
dinilai secara rasional dan digunakan ketika mengukur nilai wajar.

24
Jika entitas dapat mengukur nilai wajar secata andal, baik dari aset
yang diterima atau diserahkan, maka nilai wajat dari aset yang diserahkan
digunakan untuk mengukur biaya perolehan dari aset yang diterima, kecuali
jika nilai wajar aset yang diterima lebih jelas. (Paragraf 29)

2.4.3 Pengukuran Setelah Pengakuan


Pernyataan ini mensyaratkan seluruh entitas untuk mengukur nilai
wajar properti investasi, baik untuk tujuan pengukuran (jika menggunakan
model nilai wajar) maupun pengungkapan (jika menggunakan model biaya).
Entitas dianjurkan, tetapi tidak disyaratkan, untuk mengukur nilai wajar
properti investasi berdasarkan penilaian oleh penilai independen yang
memiliki kualifikasi profesional yang telah diakui dan relevan serta
memiliki pengalaman terkini di lokasi dan kategori properti investasi yang
dinilai. (Paragraf 32)

Entitas dapat :

o Memilih apakah model nilai wajar atau model biaya untuk seluruh
properti investasi yang menjadi agunan liabilitas yang membayar
imbal hasil dikaitkan secara langsung dengan nilai wajar dari, atau
imbal hasil dari, aset tertentu yang mencakup properti investasi
tersebut; dan
o Memilih apakah model nilai wajar atau model biaya untuk seluruh
properti investasi lain, tanpa memperhatikan pilihan sebagaimana
dimaksud di hufur (a) (paragraf 32a)

Ketika mengukur nilai wajar properti investasi sesuai dengan PSAK


68 : Pengukuran Nilai Wajar, entitas memastikan bahwa nilai wajar
mencerminkan, diantaranya, penghasilan rental dari sewa yang sedang
berjalan dan asumsi lain yang akan digunakan pelaku pasar ketika
menentukan harga properti investasi dalam kondisi pasar saat ini. (Paragraf
40) .

25
2.4.4 Ketidakmampuan Mengukur Nilai Wajar secara Andal

Terdapat praduga (rebuttable presumption) bahwa entitas dapat


mengukur nilai wajar properti investasi secara andal atas dasar
berkelanjutan. Akan tetapi, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi,
terdapat bukti jelas ketika entitas pertama kali memperoleh properti investasi
(atau ketika properti yang ada pertama kali menjadi properti investasi setelah
perubahan penggunaan) bahwa nilai wajar properti investasi tidak dapat
diukur secara andal atas dasar berkelanjutan. Hal ini timbul jika, dan hanya
jika, pasar untuk properti yang sebanding tidak aktif (contohnya terdapat
sedikit transaksi yang baru, bukan kuotasi harga terkini atau harga transaksi
terobservasi mengindikasikan bahwa penjual dipaksa untuk menjual) dan
alternatif pengukuran nilai wajar andal ( sebagai contoh, berdasarkan
proyeksi arus kas diskontoan) tidak tersedia. Jika entitas menentukan bahwa
nilai wajar properti investasi dalam proses pembangunan tidak dapat diukur
secara andal tetapi memperkirakan nilai wajar properti tersebut dapat
dikukur secara andal saat pembangunan selesai, maka propeeti investasi
dalam proses pembangunan tersebut diukur bedasarkan biaya perolehan
sampai nilai wajarnya dapat diukur secara andal atau sampai
pembangunanya selesai (mana yang lebih awal). Jika entitas menentukan
bahwa nilai wajar dari properti investasi (selain proses investasi dalam
proses pembangunan) tidak dapat diukur secara andal atas dasar
berkelanjutan, maka entitas mengukur properti investasi tersebut
menggunakan model biaya sesuai PSAK 16: Aset Tetap. Nilai residu dari
properti investasi diasumsikan nol. Entitas menerapkan PSAK 16 hingga
pelepasan properti investasi tersebut. (Paragraf 53)

Praduga bahwa nilai wajar properti investasi dalam proses


pembangunan dapat diukur secara andal dapat ditolak hanya pada saat
pengakuan awal. Entitas yang telah mengukur properti investasi dalam
proses pembangunan pada nilai wajar tidak dapat menyimpulkan bahwa

26
nilai wajat properti investasi yang telah selesai dibangun tidak dapat diukur
secara andal. (Paragraf 53b)

Jika sebelumnya entitas telah mengukur properti investasi pada nilai


wajat, maka entitas melanjutkan pengukuran properti tersebut pada nilai
wajar hingga pelepasan (atau hingga properti tersebut menjadi properti yang
digunakan sendiri atau entitas mulai mengembangkan properti tersebut dan
kemudian menjualnya dalam kegiatan usaha sehari-hari) bahkan jika
transaksi pasar yang dapat dibandingkan menjadi jarang terjadi atau harga
pasar menjadi tidak banyak tersedia. (Paragraf 55)

2.4.4 Pengalihan
Untuk properti investasi yang dicatat pada nilai wajar dan kemudian
dialihkan menjadi properti yang digunakan sendiri atau persediaan,
akuntansi selanjutnya mengacu pada PSAK 16: Aset Tetap atau PSAK 14:
Persediaan yang mana biaya perolehan bawaan (deemed cost) sebagai nilai
wajar pada tanggal perubahan penggunaan. (Paragraf 60)

Untuk pengalihan dari persediaan ke properti investasi yang akan


dicatat pada nilai wajar, perbedaan antara nilai wajar properti pada tanggal
tersebut dan jumlah tercatatnya diakui dalam laba rugi. (Paragraf 63)

Ketika entitas menyelesaikan pembangunan atau pengembangan


properti investasi yang dibangun sendiri dan yang akan dicatat pada nilai
wajar, setiap perbedaan antara nilai wajar properti pada tangfal tersebut dan
jumlahnya tercatatnya diakui dalam laba rugi. (Paragraf 65) .

2.4.5 Pelepasan
Entitas mengungkapkan

Menerapkan model nilai wajar atau model biaya

27
Jika menerapkan model nilai wajar, apakah, dan dalam keadaan
bagaimana, hak atas properti yang dimiliki dalam sewa opeasi
diklasifikasikan dan dicatat sebagai properti investasi
Jika pengklasifikasian sulit dilakukan, kriteria yang digunakan untuk
membedakan properti investasi dari properti yang digunakan sendiri
dengan properti yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha
sehari-hari
Dikosongkan
Sejauh mana penetuan nilai wajar properti investasi (yang diukur
atau diungkapkan dalam laporan keuangan) didasarkan pada
penilaian oleh penilai independen yang memiliki klasifikasi
profesional yang telah diakui dan relevan serta memiliki pengalaman
terkini di lokasi dan kategori properti investasi yang dinilai. Jika
tidak ada penilaian tersebut, maka hal ini diungkapkan
Jumlah yang diakui dalam laba rugi untuk;

1. Penghasilan rental dari properti investasi

2. Beban oprasi langsung (mencakup perbaikan dan pemeliharan)


yang timbul dari properti investasi yang menghasilkan penghasilan
rental selama periode

3. Beban oprasi langsung (mencakup perbaikan dan pemeliharaan)


yang timbul dari properti investasi yang tidak menghasilkan
pendapatan rental selama periode; dan

4. Perubahan kumulatif dalam nilai wajar yang diakui dalam laba rugi
atas penjualan properti investasi dari sekelompok aset yang
menggunakan model biaya ke kelompok yang menggunakan model
nilai wajar

o Keberadaan dan jumlah pembatasan atas kemampuan realisasi dari


properti investasi atau atas pengiriman penghasilan dan hasil
pelepasan

28
o Kewajiban kontraktual untuk membeli, membangun atau
mengembangkan atau untuk memperbaiki, memelihara, atau
meningkatkan properti investasi (paragraf 75)

2.4.6 Model Nilai Wajar

Di samping pengungkapan yang disyaratkan oleh paragraf 75, entitas


yang menerapkan model nilai wajar sesuai dengan paragraf 33-35
memgungkapkan rekonsiliasi antara jumlah tercatat properti investasi pada
awal dan akhir periode, yang menunjukkan hal berikut :

Penambahan, dengan pengungkapan terpisah untuk penambahan


yang dihasilkan dari perolehan dan dari pengeluaran selanjutnya yang diakui
dalam jumlah tercatat aset

Penambahan yang dihasilkan dari akuisisi melalui kombinasi bisnis

Aset yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual atau


termasuk dalam kelompok aset lepasan yang diklasifikasikan sebagai
dimiliki untuk di jual sesuai PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki
untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan pelepasan lain

Keuntungan atau kerugian neto dari penyesuaiam terhadap nilai


wajar

Selisih kurs neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan


dari mata uang fungsional menjadi mata uang penyajian yang berbeda,
penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang penyajian dari
entitas pelapor

Pengalihan ke dan dari persediaan dan properti yang digunakan


sendiri

Perubahan lain (paragraf 76)

Ketika penilaian atas properti investasi disesuaikan secara signifikan


untuk tujuan pelaporan keuangan, sebagai contoh untuk menghindari

29
penghitungan ganda atas aset atau liabilitas yang diakui sebagai aset dan
liabilitas terpisah sebagaimana dideskripsikan di paragraf 50, maka entitas
mengungkapkan rekonsiliasi antara penilaian tersebut dan penilaian yang
telah disesuaikan yang dilaporkan dalam laporan keuangan, debgab
menunjukkan secara terpisah jumlah gabungan dari pengakuan kewajiban
sewa yang telah ditambahkan kembali dan penyesuaian signifikan lain.
(Paragraf 77)

Dalam kasus yang dikecualikan di paragraf 53, jika entitas mengujur


properti investasi dengan menggunakan model biaya sesuai dengan PSAK
16: Aset Tetap, rekonsiliasi yang disyaratkan di paragraf 76 mengungkapkan
jumlah yang terkait dengan properti investasi tersebut secara terpisah dari
jumlah yang terkait dengan properti investasi lain. Sebagai tambahan, entitas
mengungkapkan :

Deskripsi properti investasi

Penjelasan mengapa nilai wajar tidak dapat diukur secara andal

Jika memungkinkan, rentang estimasi nilai wajar kemungkinan


besar berada; dan

Untuk pelepasan properti investasi yang tidak dicatat dengan nilai


wajar :

1. Fakta bahwa entitas telah melepaskan properti investasi yang tidak


dicatat dengan nilai wajar

2. Jumlah tercatat properti investasi pada saat di jual; dan

3. Jumlah keuntungan atau kerugian yang diakui. (Paragraf 78)

2.5 PSAK 16 ( Aset Tetap )


Nilai wajar aset dapat diukur secara andal meskipun tidak ada transaksi
pasar yang sejenis, jika: (a) variabilitas rentang estimasi nilai wajar yang

30
masuk akal (wajar) untuk aset tersebut tidak signifikan; atau (b) probabilitas
dari berbagai estimasi dalam rentang tersebut dapat dinilai secara rasional
dan digunakan dalam mengestimasi nilai wajar. Jika entitas dapat
menentukan nilai wajar secara andal, baik dari aset yang diterima atau
diserahkan, maka nilai wajar dari aset yang diserahkan digunakan untuk
mengukur biaya perolehan dari aset yang diterima kecuali jika nilai wajar
aset yang diterima lebih jelas. (paragraf 26 )

Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian


yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi profesional
berdasarkan bukti pasar. Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya
menggunakan nilai pasar yang ditentukan oleh penilai. (paragraph 32 )

Jika tidak ada pasar yang dapat dijadikan dasar penentuan nilai wajar
karena sifat dari aset tetap yang khusus dan jarang diperjual-belikan, kecuali
sebagai bagian dari bisnis yang berkelanjutan, maka entitas mungkin perlu
mengestimasi nilai wajar menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya
pengganti yang telah disusutkan (depreciated replacement cost approach).
( pargraf 33 )

Frekuensi revaluasi tergantung perubahan nilai wajar dari suatu aset tetap
yang direvaluasi. Jika nilai wajar dari aset yang direvaluasi berbeda secara
material dari jumlah tercatatnya, maka revaluasi lanjutan perlu dilakukan.
Beberapa aset tetap mengalami perubahan nilai wajar secara signifikan dan
fluktuatif, sehingga perlu direvaluasi secara tahunan. Revaluasi tahunan
seperti itu tidak perlu dilakukan apabila perubahan nilai wajar tidak
signifikan. Namun demikian, aset tersebut mungkin perlu direvaluasi setiap
tiga atau lima tahun sekali.(paragraf 34 )

2.6 PSAK 19 ( Aset Tidak Berwujud )


Akuisisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis

Sesuai dengan PSAK 22 : Kombinasi bisnis, jika asset takberwujud


diperoleh dalam kombinasi, maka biaya perolehan aset takberwujud adalah

31
nilai wajar aset pada tanggal akuisisi. Nilai wajar dari aset tak berwujud
mencermnkan ekspektasi probabilitas bahwa manfaat ekonomi masa depan
yang diperkirakan dari aset tersebut akan mengalir ke entitas. Dengan kata
lain, entitas mengekpektasikan adanya arus masuk manfaat ekonomi, bahkan
jika ada ketidakpastian mengenai waktu dan jumlah arus masuk tersebut.
Oleh Karena itu, kriteria pengakuan probabilitas kriteria pengakuan
probabilitas pada paragraf 21(a) dianggap selalu terpenuhi untuk aset tidak
berwujud yang diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis. Jika aset diperoleh
melalui kombinasi bisnis dapat dipisahkan atau muncul dari kontrak atau
hak legal lainnya, seharusnya informasi memadai tersedia untuk mengukur
nilai aset secara andal. Dengan demikian kriteria pengukuran andal pada
paragraf 21(b) dianggap selalu terpenuhi untuk aset tidak berwujud yang
diperoleh dari suatu kombinasi bisnis. ( paragraf 33 )

Aset takberwujud yang diperoleh dalam kombinasi bisnis

Jika aset tidak berwujud diperoleh dari kombinasi bisnis dapat


dipisahkan atau timbul dari kontraktual atau hak hukum lain, maka
informasi yang memadai untuk mengukur nilai wajar aset secara andal. Jika
pada saat mengukur nilai wajar aset tidak berwujud terdapat berbagai
kemungkinan atau hasil dengan probalbilitas berbeda,maka ketidakpastian
tersebut dimasukkan dalam perhitungan nilai wajar aset tidak berwujud.
( paragraf 35 ).

2.7 PSAK 69 ( Agrikultur )


Secara umum ED PSAK 69 mengatur bahwa aset biologis atau
produk agrikultur diakui saat memenuhi beberapa kriteria yang sama dengan
kriteria pengakuan aset. Aset tersebut diukur pada saat pengakuan awal dan
pada setiap akhir periode pelaporan keuangan pada nilai wajar dikurangi
biaya untuk menjual. Pengukuran nilai wajar aset biologis atau produk
agrikultur dapat didukung dengan mengelompokkan aset biologis atau
produk agrikultur sesuai dengan atribut yang signifi kan; sebagai contoh,
berdasarkan usia atau kualitas. Ketika nilai wajar aset biologis tersebut

32
dapat diukur secara andal, entitas mengukur aset biologis tersebut pada
nilai wajarnya dikurangi biaya untuk menjual. Nilai wajar aset biologis
tidak dapat diukur secara andal pada saat pengakuan awal aset biologis
yang harga kuotasi pasarnya tidak tersedia dan yang alternatif pengukuran
nilai wajarnya secara jelas tidak dapat diandalkan. aset biologis tersebut
diukur pada biaya perolehannya dikurangi akumulasi penyusutan dan
akumulasi kerugian penurunan nilai.

BAB III

KESIMPULAN

33
1. ketika mengukur nilai wajar, entitas memperhitungkan karakteristik aset
atau liabilitas jika pelaku pasar akan memperhitungkan karakteristik
tersebut ketika menentukan harga aset atau liabilitas pada tanggal
pengukuran.
2. Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa aset atau liabilitas
dipertukarkan dalam suatu transaksi teratur antara pelaku pasar untuk
menjual aset atau mengalihkan liabilitas pada tanggal pengukuran
berdasarkan kondisi pasar saat ini.
3. Pengukuran nilai wajar aset nonkeuangan memperhitungkan kemampuan
pelaku pasar untuk menghasilkan manfaat ekonomik dengan
menggunakan aset dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya (highest
and best use) atau dengan menjualnya kepada pelaku pasar lain yang akan
menggunakan aset tersebut dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya.
4. Ketika aset diperoleh atau liabilitas diambil alih dalam transaksi
pertukaran untuk aset atau liabilitas tersebut, harga transaksi adalah harga
yang dibayar untuk memperoleh aset atau diterima untuk mengambil alih
liabilitas (harga masukan (entry price).

5.

34
DAFTAR PUSTAKA

Pernyataan Standar Akuntansi No.68.(2011).Ikatan Akuntansi Indonesia

Pernyataan Standar Akuntansi No.13.(2011).Ikatan Akuntansi Indonesia

Pernyataan Standar Akuntansi No.16.(2011).Ikatan Akuntansi Indonesia

Pernyataan Standar Akuntansi No.19.(2011).Ikatan Akuntansi Indonesia

Pernyataan Standar Akuntansi No.69.(2011).Ikatan Akuntansi Indonesia

Wilansari,Rahmi.2011.Fair value.[Online] Tersedia: http://rahmi-


wilansari.blogspot.co.id/2011/07/fair-value.html.

35