Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Koperasi Perikanan yang
ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Agribisnis Perikanan, Program
Studi Manajemen Sumberdaya Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen mata kuliah Manajemen
Agribisnis Perikanan yang telah membimbing penulis dengan pemberian materi dalam kelas,
serta terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan
masukan dalam penyusunan makalah ini.
Akhirnya dalam segala keterbatasan serta pengetahuan, penulis menyadari bahwa
dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran dan komentar yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan
kekurangan di masa datang dan semoga dapat bermanfaat dalam perkembangan ilmu
pengetahuan.

Yogyakarta, Maret 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....................................................................2
Daftar Isi..............................................................................3
BAB I.................................................................................... 4
Pendahuluan......................................................................... 4
1.1 Latar Belakang..........................................................................4
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................5
1.3 Tujuan........................................................................................5
1.4 Manfaat.....................................................................................5
BAB II................................................................................... 6
Pembahasan.........................................................................6
2.1 Permasalahan yang dihadapi para nelayan masyarakat Batang
Arau.................................................................................................7
2.2 Peran Koperasi Nelayan bagi para nelayan Batang Arau..........7
2.3 Upaya Koperasi Nelayan Batang Arau Indah untuk mengatasi
kendala masyarakat Batang Arau...................................................7
2.3.1 Wujud dan Hasil Pemberdayaan oleh Koperasi...................8
2.3.2 Kendala yang dialami Koperasi Nelayan Batang Arau Indah
dalam pemberdayaan Istri Nelayan.............................................9
BAB III.................................................................................. 10
Penutup................................................................................ 10
3.1 Kesimpulan................................................................................10
3.2 Saran.........................................................................................10
3.3 Daftar Pustaka...........................................................................11
BAB I PENDAHULUAN

1.1..................................................................................... Lat
ar Belakang
Di Indonesia berbagai program telah diupayakan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat baik oleh pemerintah, maupun oleh organisasi
non pemerintah. Program-program tersebut bertujuan untuk memperbaiki
perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu
program tersebut adalah koperasi. Koperasi merupakan salah satu bentuk
badan usaha yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang
pantas untuk ditumbuh kembangkan sebagai badan usaha penting dan
bukan sebagai alternatif terakhir. Koperasi menurut ketentuan yang
termaksud dalam pasal 1 ayat (1) undang-undang tentang perekonomian
UU No. 25 tahun 1992 Lembaran Negara RI tahun 1992 No 116 adalah
badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum
koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi
sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas
kekeluargaan. Koperasi menurut ketentuan yang termaksud dalam pasal 1
ayat (1) UU RI No 17 tahun 2012 adalah badan hukum yang didirikan oleh
orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan
kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha,
yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi,
sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip Koperasi. Salah satu
unit usaha yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat
pesisir adalah koperasi nelayan.
Dalam makalah ini akan dijelaskan peran Koperasi Nelayan Batang Arau Indah
Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang dalam membantu menunjang pembangunan
masyarakat nelayan di desa tersebut. Terbentuknya koperasi nelayan ini diharapkan dapat
mengatasi kendala-kendala yang dihadapi para nelayan di daerah tersebut. Koperasi Nelayan
Batang Arau Indah diharapkan dapat menjadi lembaga alternatif bagi masyarakat nelayan di
Batang Arau untuk memperoleh akses modal, teknologi penangkapan maupun barang
kebutuhan sehari-hari.
1.2..................................................................................... Ru
musan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini yaitu:
1. Apakah permasalahan yang dihadapi para nelayan masyarakat Batang Arau,
Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang?
2. Bagaimana peran Koperasi Nelayan Batang Arau Indah dalam kaitannya dengan
pengembangan ekonomi masyarakat Batang Arau Kecamatan Padang Selatan, Kota
Padang?
3. Bagaimana upaya Koperasi Nelayan Batang Arau Indah untuk mengatasi kendala
yang ada dalam pengembangan ekonomi masyarakat Batang Arau Kecamatan Padang
Selatan, Kota Padang?

1.3..................................................................................... Tuj
uan
Adapun tujuan dari pembuata makalah ini adalah:
Untuk mengetahui peran Koperasi Nelayan Batang Arau Indah berkaitan dengan
pengembangan ekonomi masyarakat Batang Arau Kecamatan Padang Selatan, Kota
Padang.
Untuk mengetahui upaya yang dilakukan Koperasi Nelayan untuk mengatasi kendala
yang ada dalam pengembangan ekonomi masyarakat Batang Arau Kecamatan Padang
Selatan, Kota Padang.

1.4..................................................................................... Ma
nfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut:
Manfaat secara teoritis, sebagai tambahan referensi untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, khususnya dalam bidang pemberdayaan ekonomi lokal melalui
koperasi.
Manfaat secara praktis, yaitu bagi seluruh masyarakat sebagai bahan masukan agar
lebih memanfaatkan jasa-jasa koperasi.
BAB II PEMBAHASAN

2.1..................................................................................... Per
masalahan yang dihadapi para nelayan masyarakat Batang
Arau
Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir khususnya masyarakat nelayan ini sering
dikategorikan sebagai masyarakat yang biasa bergelut dengan kemiskinan dan
keterbelakangan. Permasalahan pokok yang ada pada masyarakat nelayan yang bermukim di
wilayah pesisir adalah masih rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan kelautan, pemilikan
modal serta manajemen usaha perikanan yang dimiliki. Masalah sosial ini dapat mengurangi
arus proses pembangunan nasional nantinya. Untuk itu diperlukan program pemberdayaan
yang dapat diwujudkan melalui kemandirian masyarakat nelayan sehingga ketika nelayan
tidak melaut, setidaknya mereka masih memiliki keahlian atau skill lain yang bisa
dipergunakan untuk pekerjaan sampingan.
Kemudian persoalan yang dihadapi mereka dalam hal peningkatan kesejahteraan,
tentunya tidak terlepas dari interaksi mereka dengan sumberdaya laut. Nelayan sangat
berhubungan erat dengan intensitas mereka di laut dan hasil tangkapan. Produktifitas
berkaitan erat dengan sarana melaut dan kondisi laut itu sendiri. Pada saat cuaca buruk,
nelayan yang masih belum banyak menggunakan kapal canggih, tentu tidak bisa melaut. Hal
ini berpengaruh langsung pada pendapatan. Belum lagi nelayan harus memperhitungkan
ongkos produksi saat melaut seperti kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM), persaingan
dengan industri perikanan besar, biaya hidup keluarganya. Nilai tambah yang diperoleh dari
hasil melaut selama ini belum optimal. Masyarakat nelayan yang ada di Kelurahan Batang
Arau pada umumnya hanya merasakan pendidikan setara dengan sekolah dasar, sehingga
mereka tidak mempunyai pandangan yang luas mengenai cara dalam mengembangkan
usahanya, mereka hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan sehari-hari untuk memenuhi
kebutuhannya. Keadaan ini menjadi bertambah lemah dengan fasilitas alat tangkap yang
sangat terbatas baik jenis maupun ukurannya serta sebagian besar masih bersifat tradisional,
maka dari itu masyarakat nelayan Kelurahan Batang Arau perlu adanya campur tangan
pemerintah melalui koperasi untuk mengembangkan ekonomi mereka.

2.2..................................................................................... Per
an Koperasi Nelayan bagi para nelayan Batang Arau
Sampai dengan bulan Desember 2014, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat
sebanyak 209,488 unit, 147,249 dengan kondisi aktif dan 62,239 tidak aktif dengan jumlah
anggota 36,443,953. Data tersebut didapat dari situs resmi kementrian koperasi dan usaha
kecil dan menengah Republik Indonesia. Kemudian dari semua koperasi yang ada di
Indonesia, banyak sekali mengenai macam-macam koperasi, salah satunya yaitu Koperasi
Nelayan. Usaha Koperasi Nelayan dibentuk berdasarkan kebutuhan pelayanan kepada
anggota seperti usaha simpan pinjam, sarana-sarana pertanian atau perikanan, memasarkan
produksi anggota dan lain-lainnya. Masyarakat pesisir contohnya yang sangat membutuhkan
pelayanan dari Koperasi agar dapat mencukupi kebutuhannya, mereka terdiri dari nelayan
pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan,
pengolah ikan, penjual sarana produksi perikanan. Dalam bidang non perikanan, masyarakat
pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain.
Nelayan menjadi contoh konkret dari masyarakat pesisir. Koperasi sebagai wadah pusat
pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan harus didirikan serta dikembangkan dengan
perhitungan dan perkembangan ekonomi yang membutuhkan pemikiran yang jauh kemasa
depan. Sedangkan telah kita sadari, bahwa tingkat pendidikan mayarakat di pedesaan
kususnya masyarakat nelayan masih sangat rendah dan rakyat dipedesaan masih sangat kuat
terikat oleh kehidupan dan alam pikir yang tradisional. Sehingga prioritas utama yang harus
dipikirkan dan diusahakan adalah menyadarkan masyarakat tentang arti penting mengenai
koperasi bagi mereka.
Nelayan di Kelurahan Batang Arau sendiri merupakan masyarakat yang sangat
membutuhkan pelayanan dari Koperasi Nelayan karena dapat menyediakan fasilitas-fasilitas
yang dibutuhkan Nelayan menyediakan berbagai fasilitas-fasilitasnya melalui unit usaha yang
mereka buat. Pengembangan ekonomi masyarakat nelayan dapat dilakukan dari sisi
kelembagaan dan pola-pola usaha perikanan yang mampu meningkatkan pendapatan nelayan.
Komponen pengembangan masyarakat dan ekonomi yaitu kegiatan-kegiatan yang bertujuan
untuk meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja melalui pengembangan mata
pencarian tambahan dan alternatif.

2.3..................................................................................... Up
aya Koperasi Nelayan Batang Arau Indah untuk mengatasi
kendala masyarakat Batang Arau
Koperasi Nelayan Batang Arau Indah merupakan satu-satunya koperasi yang ada di
Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang sehingga keberadaan
Koperasi Nelayan Batang Arau Indah sangat penting bagi kegiatan ekonomi serta
kelangsungan hidup masyarakat nelayan di wilayah Kota Padang, khususnya di wilayah
Batang Arau.
Menurut Anoraga (1993), bahwa Koperasi Nelayan harus mampu berfungsi sebagai
pusat pelayanan dalam kegiatan perekonomian nelayan. Program pemberdayaan tersebut
dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk pembangunan, karena pembangunan juga bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan manusia.
Menurut Suryono (2004), mendefinisikan pembangunan sebagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan manusia dalam mempengaruhi masa depannya. Dengan adanya
program pemberdayaan terhadap istri nelayan, diharapkan dapat menambah keahlian yang
dimiliki oleh istri nelayan, sehingga kualitas SDM nelayan semakin baik dan
kesejahteraannya ikut meningkat.
2.3.1 Wujud dan Hasil Pemberdayaan Istri oleh Koperasi Nelayan
Wujud dan hasil pemberdayaan istri nelayan Batang Arau adalah abon ikan tuna. Para
pembuat abon yakni istri-istri nelayan tersebut membuat abon ikan tuna, kemudian
dipasarkan di pasar lokal maupun luar kota, dipandu oleh DKP Kota Padang. Harga abon ikan
tuna tersebut cukup terjangkau, bisa dibeli oleh semua kalangan. Namun sangat disayangkan
karena hanya dua kelompok yang sanggup bertahan hingga saat ini. Dari hal tersebut dapat
dilihat bahwa masyarakat nelayan di wilayah Batang Arau belum dapat diberdayakan dengan
baik, karena sebagian dari mereka tidak mampu untuk melanjutkan program pemberdayaan
ini.
Menurut Widayati (2008), indikator kualitatif yang menandai suatu masyarakat
nelayan memiliki keberdayaan, yaitu tercapainya kesejahteraan sosial-ekonomi baik dalam
individu itu sendiri, rumah tangga maupun dalam masyarakat, yang ditandai dengan
kemandirian ekonomi berkembang dan orientasi kewirausahaan meningkat.

2.3.2 Kendala yang dialami Koperasi Nelayan Batang Arau Indah dalam
Pemberdayaan Istri Nelayan
a) Dana
Dana yang pertama kali dipergunakan dalam pelaksanaan program pemberdayaan
pembuatan abon ikan tuna berasal dari Dana Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dana dari
Koperasi Batang Arau Indah. Dana tersebut digabung kemudian dibagikan kepada Lima
kelompok istri nelayan yang ikut dalam program pemberdayaan. Namun Dana tersebut tidak
dapat mencukupi untuk kegiatan produksi abon ikan tuna, sehingga pihak Koperasi Nelayan
Batang Arau Indah menggunakan Dana internal dari kas koperasi untuk mendukung kegiatan
pelatihan pembuatan abon ikan tuna. Maka dari itu Dana yang dipakai terbatas.
Menurut Anhakim (2008), bahwa faktor yang menjadi kendala dalam upaya
pemberdayaan salah satunya adalah modal bantuan program pemberdayaan yang diberikan
oleh pemerintah atau lembaga-lembaga formal umumnya terbatas dan dibatasi. Akibatnya,
kebutuhan yang harus dipenuhi dalam meningkatkan usaha atau mengembangkan usaha
kurang mencukupi.
b) SDM (Sumber Daya Manusia) dalam Koperasi Nelayan
Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerja di Koperasi Nelayan Batang Arau Indah
rata-rata lulusan SMA/sederajat dan Sarjana (S1). Namun saat ini, pegawai dirasa masih
kurang memadai dalam pengembangan Koperasi Nelayan. Dalam kenyataannya, para
pegawai Koperasi Nelayan memang mendukung kegiatan pemberdayaan istri nelayan, namun
dukungan tersebut kurang memberikan kontribusi yang jelas terhadap program
pemberdayaan ini, terlihat dengan semakin berkurangnya anggota kelompok ibu-ibu yang
bergabung untuk memproduksi abon ikan tuna.
c) Dukungan Dinas Terkait
Sesuai dengan data pengamatan lapangan, dapat diketahui bahwa peran Dinas Kelautan
dan Perikanan (DKP) Kota Padang kurang menunjang proses pemberdayaan istri nelayan di
Batang Arau karena DKP Kota Padang belum melakukan pemberdayaan istri nelayan secara
maksimal. Program pemberdayaan ini memang sudah seharusnya dilakukan secara bertahap
karena dalam hal ini istri nelayan mendapatkan pengetahuan baru sehingga membutuhkan
proses yang bertahap agar mereka dapat memahami kegiatan pemberdayaan tersebut.
Menurut Sulistiyani (2007), bahwasanya pemberdayaan merupakan proses belajar
dalam rangka pemberdayaan masyarakat akan berlangsung bertahap. DKP sebagai pihak
yang berkewajiban untuk memberdayakan istri nelayan seharusnya dapat terus mendampingi
para istri nelayan sampai mereka mampu untuk mandiri dan mengembangkan potensinya
agar kesejahteraan ekonominya dapat tercapai.
Sumodiningrat dalam Sulistiyani (2007), bahwasanya suatu pemberdayaan dalam
masyarakat tidak akan bersifat selamanya, melainkan pemberdayaan tersebut berlangsung
sampai masyarakat dirasa mampu untuk hidup mandiri namun tetap dipantau dari kejauhan
agar bisa tetap stabil dan tidak terjatuh lagi. Namun kegiatan pelatihan tersebut hanya
dilakukan sekali saja, tidak dilakukan secara berkelanjutan. Seiring berjalannya waktu para
anggota kelompok mulai tidak mampu untuk melanjutkan usaha untuk memproduksi abon
ikan tuna tersebut, hal ini terbukti dengan adanya beberapa kelompok yang memutuskan
untuk berhenti memproduksi abon ikan tuna karena mereka tidak mampu untuk
mengembangkan modalnya dengan baik, sehingga pada saat ini hanya tersisa dua kelompok
saja yang bertahan dalam produksi abon ikan tuna tersebut. Agar program pemberdayaan
tersebut dapat berhasil, seharusnya pemerintah daerah setempat dan pihak-pihak yang terkait
dapat lebih melaksanakan tahap-tahap pemberdayaan secara serius dengan menekankan pada
proses pemberdayaan yang terdiri dari beberapa tahap.
Menurut Wrihatnolo (2007), dengan menekankan pada proses, maka pemberdayaan
masyarakat memiliki tahap-tahap yang terdiri dari penyadaran yang dilakukan dengan
mengadakan sosialisasi terhadap komunitas agar mereka mengerti bahwa kegiatan
pemberdayaan ini penting bagi peningkatan kualitas hidup mereka dan dilakukan secara
mandiri, yang kedua adalah pengkapasitasan yang sering disebut sebagai capacity building,
yang terdiri atas pengkapasitasan manusia, organisasi, dan sistem nilai, serta yang ketiga
pendayaan yaitu masyarakat diberikan daya, kekuasaan, dan peluang sesuai dengan
kecakapan yang sudah diperolehnya.

d) Sikap Istri Nelayan (Dukungan Anggota Koperasi)


Dukungan dari para istri nelayan sangat penting bagi keberhasilan program
pemberdayaan ini namun dalam kenyataannya sebagian besar nelayan menganggap hal itu
tidak penting sehingga mereka melarang istri mereka untuk mengikuti pelatihan. Tingkat
pendidikan yang rendah sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat nelayan. Selain itu
modal yang dimiliki juga terbatas sehingga proses produksi abon tuna menjadi terhambat
bahkan dapat terhenti karena modal produksi yang kurang.
Menurut Anhakim (2008), bahwa faktor yang menjadi kendala dalam upaya
pemberdayaan salah satunya adalah masyarakat nelayan yang menjadi sasaran pemberdayaan
umumnya merupakan nelayan tradisional yang tergolong masyarakat berpendidikan dan
berpenghasilan rendah. Padahal dukungan atau partisipasi dari masyarakat dalam suatu
pemberdayaan sangat penting, karena masyarakat merupakan subyek dari pemberdayaan itu
sendiri, selain itu yang menentukan keberhasilan pemberdayaan adalah adanya partisipasi
masyarakat.
Menurut Widayati (2008), bahwa indikator yang menandai bahwa
masyarakat memiliki keberdayaan salah satunya adalah meningkatnya
partisipasi masyarakat dan tumbuhnya kesadaran warga terhadap
persoalan-persoalan pembangunan yang ada di kawasan pesisir.
BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Koperasi Nelayan Batang Arau Indah memiliki fungsi yakni mengatur sistem pendapatan
hasil tangkap nelayan Pantai Batang Arau. Peran lainnya ialah memberdayakan masyarakat
nelayan dengan membantu nelayan beserta istrinya agar memiliki kemampuan untuk
mengolah ikan tuna hasil tangkapan menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual
sehingga dapat menambah penghasilan serta meningkatkan kesejahteraan mereka di kala
tidak musim melaut. Adanya dua kelompok produsen abon ikan tuna merupakan wujud dan
hasil pemberdayaan istri nelayan oleh Koperasi Nelayan Batang Arau Indah. Kendala yang
dialami dalam proses pemberdayaan istri nelayan tersebut diantaranya adalah dana yang
diberikan sebagai modal awal produksi oleh Koperasi Nelayan Batang Arau Indah dan Dinas
Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang jumlahnya terbatas, sosialisasi dan pelatihan
oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) bagi istri nelayan hanya dilakukan satu kali dan
tidak berkelanjutan, kemampuan Koperasi Nelayan yang masih terbatas tidak disertai dengan
dukungan yang baik dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang sehingga
program pemberdayaan istri nelayan di kawasan Batang Arau berjalan kurang maksimal,
serta istri nelayan yang merupakan subyek utama dalam program pemberdayaan nyatanya
kurang memahami maksud dari Koperasi Nelayan Batang Arau Indah, sebab dengan
rendahnya sumber daya manusia (SDM) yang mereka miliki membuat pola pikir menjadi
sempit dan menganggap program tersebut sebagai sesuatu yang terlalu rumit dan
menghabiskan banyak tenaga juga waktu.
3.2 Saran
Setelah mendapat mata kuliah koperasi perikanan ini diharapkan makasiswa juga dapat
berperan aktif dalam memajukan dan menghidupkan kembali koperasi-koperasi di Indonesia
sebagai pilar perekonomian masyarakat. Dengan adanya peran aktif masyarakat terhadap
koperasi dapat membantu koperasi mampu bersaing dan dapat terus berkembang mengikuti
perkembangan jaman.