Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan


rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Pengembangan Wilayah Mina Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keberhasilan penulisan makalah ini tidak lepas dari beberapa
pihak. Terimakasih kepada Dr. Ir. Djumanto, M.Sc selaku Dosen yang
mengampu mata kuliah Manajemen Sumberdaya Perikanan dan teman-
teman jurusan perikanan.

Kami menyadari bahwa Makalah dengan judul Pengembangan


Wilayah Mina Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta masih terdapat
banyak kekurangan. Tetapi kami berharap, makalah ini dapat
bermanfaat untuk para pembaca terutama di bidang perikanan.

Akhir kata, semoga makalah dengan judul Pengembangan


Wilayah Mina Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta bermanfaat dan
dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Yogyakarta, 25 September 2016

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL............................................................................1

KATA PENGANTAR...............................................................................2

DAFTAR ISI.........................................................................................3

LATAR BELAKANG...............................................................................4

METODE.............................................................................................5

HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................5

REFERENSI........................................................................................15

2
Latar Belakang

Daerah istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang terletak


di bagian selatan Pulau Jawa. Bagian atas dari provinsi ini dianugerahi
keindahan sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu gunung Merapi.
Perbatasan sebelah selatannya dihiasi oleh deretan pantai yang indah
karena berbatasan langsung dengan samudra hindia. Selain itu semua
banyak sungai sungai besar yang mengalir dari daratan yang lebih
tinggi di sebelah utara ke selatan yang sangat potensial dikembangkan
baik itu secara wisata maupun perikanannya.
Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta, merupakan salah satu
wilayah tujuan wisata di Indonesia, menawarkan berbagai macam obyek
wisata baik obyek wisata alam, wisata pantai, maupun wisata
budayanya. Pengembangan kepariwisataan dan kebudayaan di provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki arti yang sangat penting dan
strategis, karena sektor ini merupakan sektor andalan yang nantinya
diharapkan mampu mendukung perkembangan pembangunan daerah
dengan cara usaha ekonomi daerah multi sektor, serta pemberdayaan
dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terbukti bahwa sektor ini
telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas
lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi yang besar bagi
pendapatan daerah.
Untuk menciptakan kondisi obyek dan daya tarik wisata ideal yang
mampu melayani berbagai kepentingan, antara lain : masyarakat,
swasta dan pemerintah, diperlukan usaha penataan dan pengembangan
secara optimal sesuai dengan daya dukung, daya tampung dan daya
tarik wisatawan. Diharapkan potensi mina wisata dapat menjadi sebuah
sektor pendobrak dalam memajukan provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta di sektor perairannya.
METODE

3
Dalam pengumpulan data-data makalah ini, penulis menggunakan
metode studi pustaka (library research), dengan merujuk pada buku-
buku, internet, dan media-media terkait yang relevan. Dalam
pengumpulan data-data tersebut, penulis lebih mengacu pada data-data
dari buku-buku dan internet karena keterbatasan penulis dalam mencari
data-data yang akurat, relevan, dan original.

4
HASIL DAN PEMBAHASAN

DIY memiliki wilayah perikanan yang cukup banyak seperti laut,


sungai dan darat. Untuk memanfaatkan potensi tersebut diperlukan
konsep yang berbasis mina wisata. Minawisata (mina = perikanan,
wisata = pariwisata) adalah pendekatan pengelolaan terpadu yang
berbasis konservasi dengan menitikberatkan pada pengembangan
perikanan dan pariwisata bahari (Buklet DKP 2007). Minawisata juga
dapat didefinisikan sebagai pengembangan kegiatan perekonomian
masyarakat dan wilayah yang berbasis pada pemanfaatan potensi
sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata secara terintegrasi
pada wilayah tertentu (Dinas Perikanan dan Kelautan Maluku 2007).
Program konsep Mina Wisata bertujuan mengembangkan pulau-
pulau kecil serta lahan perikanan lainnya agar memberikan manfaat
ekonomi kepada masyarakat setempat. Wisata mina berbasis perikanan
dan kombinasinya dapat berupa pengembangan wisata budidiaya laut
seperti melihat proses budidaya ikan, memberi makan ikan dan
memanen ikan. Sedangkan wisata konservasi dapat berupa ekowisata
mangrove dan pendidikan konservasi. Wisata bahari sendiri dapat
dilakukan adalah diving, wisata fotografi bawah air, berenang,
snorkeling, wisata dan olahraga pantai, serta beach festival. Terakhir
adalah wisata kuliner dapat dilakukan seperti kuliner perikanan dapat
berupa menikmati beragam makanan produk perikanan, memasak
sendiri ikan hasil tangkapan, mengamati dan praktek membuat
makanan olahan dari ikan, rumput laut dan buah mangrove, misalnya:
kerupuk ikan, manisan rumput laut, otak-otak, abon ikan, dan beragam
makanan dari buah mangrove.
Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan, perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya
mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan
pemasaran yang dilaksanakan dalam bisnis perikanan. Sementara
menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang

5
Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata
yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh
masyarakat, pengusaha, dan pemerintah. Oleh karena itu dalam
aplikasinya, kegiatan wisata bahari yang memanfaatkan sumber daya
ikan dapat dikembangkan ke arah minawisata.
Potensi sumber daya alamnya bervariasi, seperti pertanian,
kehutanan, kelautan, dan perikanan. Luas lahan sawah irigasi teknis
seluas 18.506 ha, dan non irigasi teknis 29.848 ha, sedangkan potensi
dan pemanfaatan di bidang kelautan dan perikanan terdiri dari perairan
umum seluas 3.113,5 ha dengan tingkat pemanfaatan 5,20 ha, tambak
650 ha dengan tingkat pemanfaatan 58 ha, sawah sebesar 240 ha
belum dimanfaatkan; kolam 4.630,2 ha dengan tingkat pemanfaatan
915 ha, dan mina padi sebesar 10.265,6 ha dengan tingkat
pemanfaatan 1.233 ha (KKP DIY, 2014).
Dengan lahan perikanan, dalam hal ini kolam, 4.630,2 Ha mampu
memberikan kontribusi produksi budidaya ikan untuk tahun 2007 lebih
dari 11 ribu ton. Selain itu, keberadaan pengolah ikan di DIY juga
memberikan potensi olahan kurang dari 500 ton per tahun (KKP DIY,
2007). Jika melihat sumbangan sektor-sektor pembangunan di DIY
terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka sektor perikanan di DIY
terkesan kurang memberikan kontribusi yang nyata dalam beberapa
kurun waktu terakhir. Karena itu, diperlukan inovasi program yang
mampu mendorong peningkatan produksi perikanan dari semua
segmen, mulai dari budidaya hingga pengolahan. Program ini tentunya
juga diharapkan mampu memberdayakan pemanfaatan sarana dan
prasarana perikanan yang sudah ada di DIY secara maksimal. Hal
tersebut juga sejalan dengan program Kementrian Kelautan dan
Perikanan RI untuk lebih banyak mengembangkan kawasan kegiatan
perikanan (mina politan).
Provinsi DIY yang merupakan destinasi wisata yang cukup banyak
di kunjungi, menjadikan provinsi ini memiliki mobilitas penduduk yang
relatif tinggi. Wisata DIY memiliki peran dalam kontribusi pendapatan

6
daerah hingga pembangunan daerahnya. Selama ini pariwisata di DIY
lebih banyak mengandalkan obyek wisata yang berbasis massal,
diantaranya Candi Prambanan, Museum, hingga wisata belanja seperti
Malioboro. Melihat hal tersebut, terbuka peluang untuk menciptakan
paket wisata yang atraktif dan inovatif untuk lebih melengkapi wisata-
wisata yang ada sebelumnya. Wisata Perikanan (mina wisata) mencoba
hadir untuk melengkapi destinasi pariwisata di DIY, sekaligus lebih
mengenalkan perikanan Provinsi DIY kepada khalayak umum.
Mina wisata di DIY pada dasarnya berupa aktivitas yang
berhubungan dengan perikanan seperti mengunjungi, menikmati
maupun memanfaatkan pelayanan yang ada pada beberapa lokasi dan
infrastruktur perikanan di DIY. Seperti gambaran, lokasi area perikanan
DIY antara lain kolam pemancingan dengan keindahan alamnya yang
terdapat di Kalasan, wisata gurame di Kergan, Kretek dan tempat
tempat perikanan lainnya.
Mina wisata yang ditawarkan di DIY antara lain kunjungan ke Balai
Benih Ikan dan Balai Benih Udang, dimana pengunjung atau wisatawan
dapat melihat, belajar tentang budidaya ikan, atau membeli benih
ikan/udang apabila tertarik untuk membudidayakannya. Untuk ikan hias,
wisatawan atau pengunjung dapat berkunjung ke sentra pemasaran
ikan hias atau sentra budidaya ikan mas koki untuk membeli ikan hias
maupun bertanya tentang teknik budidaya ikan hias. Bagi penggemar
olahraga memancing, tersedia pilihan tempat pemancingan di DIY yang
juga menawarkan keindahan pemandangan alam.
Dukungan terhadap pengembangan mina wisata di DIY tidak
hanya berasal dari satu atau dua instansi saja, tetapi menjadi tanggung
jawab seluruh komponen dan elemen masyarakat yang ada. Mengingat
sektor pariwisata bersifat lintas sektoral, maka dalam
perkembangannya membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, seperti
penyediaan jalan untuk akses, pemenuhan fasilitas umum (hotel,
angkutan umum dsb) yang tentunya membutuhkan kerjasama yang
solid dari berbagai pihak yang berkompeten. Dengan adanya prospek

7
dan peluang ke depan, bukan tidak mungkin mina wisata ini jika digarap
dengan serius akan menjadi salah satu sektor penggerak pembangunan
DIY. Ditambah dengan efek pengganda (multiplier effect) dari pariwisata
yang mampu membawa imbas bagi pemberdayaan ekonomi
masyarakat setempat akan menjadi salah satu kekuatan pengembangan
Mina Wisata ke depan.

8
REFERENSI

http://mfec.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3/Profil-
Kelautan-dan-Perikanan-Provinsi-D.I.-Yogyakarta/
http://dkp.bantulkab.go.id/berita/280-panen-ikan-di-
kampung-wisata-gurami-kergan-tirtomulyo-kretek
https://minasewu.wordpress.com/konsep/
http://dppka.jogjaprov.go.id