Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS KEBERSAMBUNGAN SANAD HADITS

DILIHAT DARI ASPEK PARA PERAWI HADITS


(Sejarah dan Thabaqahnya)

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Dirasat Al-Hadits

Dosen Pengampu:

Dr. H. Mujiyo, M.Ag.

Disusun oleh

Moh. Yandi Ramdhani

PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. atas rahmat dan
hidayah-Nya yang telah diberikan kepada saya. Shalawat dan salam semoga
tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa ajaran
yang hanif dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang.

Makalah Sejarah Para Perawi Hadits ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Dirasat Al-Hadits. Atas terselesaikannya makalah ini, saya sebagai
penyusun mengucapkan terimakasih kepada berbagai media yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Saya menyadari, makalah yang saya susun jauh dari kata sempurna, maka
dari itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar saya lebih
baik ke depannya. Mudah-mudahan makalah ini menjadi salah satu bagian dari
proses meningkatkan pengetahuan Dirasat Al-Hadits.

Bandung, 03 Oktober 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...........................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................1
C. Tujuan Pembahasan....................................................2

BAB II ANALISIS KEBERSAMBUNGAN SANAD HADITS DILIHAT


DARI ASPEK SEJARAH DAN THABAQAH PARA PERAWI
HADITS

A. Tarikh Ar-Ruwah..........................................................3
1. Definisi...................................................................3
2. Manfaat ilmu tarikh ar-ruwah.................................3
3. Kitab-kitab tarikh ar-ruwah....................................4
B. Thabaqah Ar-Ruwah...................................................4
1. Definisi...................................................................4
2. Manfaat ilmu thabaqah ar-ruwah...........................6
3. Kitab-kitab thabaqah ar-ruwah..............................7
C. Kriteria kebersambungan sanad hadits dilihat dari
tarikh dan thabaqah para perawi hadits.....................7

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan...................................................................10
B. Saran........................................................................10

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti yang sudah diketahui bahwa peranan hadits bagi
umat islam sangatlah penting, ia merupakan sumber hukum
kedua setelah Al-Quran. Berbicara hadits tidak terlepas dari
yang namanya sanad dan matan, sanad ialah rentetan para
perawi hadits yang menukilkan matan dari asalnya yang
pertama, sedangkan matan ialah isi haditsnya.
Banyak fakta dalam dunia hadits terjadinya kekeliruan
dalam hal sanad atau matan, baik berupa palsunya hadits atau
terputusnya sanad kepada Nabi, karena memang hadits tidak
secara keseluruhan ditulis di zaman Nabi dengan berbagai
alasan.
Dari sanalah timbul beberapa kekhawatiran umat islam
terhadap hadits, antara keshahihan dan kemauduannya suatu
hadits, antara ittishal dan inqithanya sanad atau antara marfu
dan mursalnya pemberitaan hadits, tetapi umat islam zaman
sekarang patut berbangga karena penelitian terhadap hadits
tersebut sudah dilakukan dan hasilnya telah dibukukan dalam
kitab-kitab rijal- al-hadits.
Rijal al-hadits merupakan ilmu yang membahas tentang
keadaan para perawi hadits baik dari kalangan sahabat, tabiin
maupun generasi-generasi berikutnya, sehingga dengan adanya
ilmu rijal al-hadits pada akhirnya suatu hadits akan diketahui
kebersambungan atau terputusnya sanad kepada Nabi.
Sudah selayaknya kita sebagai mahasiswa memahami ilmu
rijal al-hadits termasuk di dalamnya terdapat ilmu tarikh ar-
ruwah dan thabaqah ar-ruwah yang dapat menganalisis sejarah
dan golongan para perawi hadits, yang pada akhirnya suatu
hadits dapat disimpulkan kebersambungan atau terputusnya
sanad kepada Nabi, agar tidak terjadi kekeliruan dalam
memahami suatu hadits.

B. Rumusan Masalah
Mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu yang
dimiliki oleh penulis, maka makalah ini akan difokuskan pada
Analisis Kebersambungan Sanad Hadits Dilihat dari Aspek Para
Perawi Hadits (Sejarah dan Thabaqahnya), dari pembatasan
masalah tersebut dapat dirumuskan beberapa permasalahan,
diantaranya:

1
1. Apa itu ilmu tarikh ar-ruwah, apa manfaat
mempelajarinya dan apa saja kitab-kitabnya
2. Apa itu ilmu thabaqah ar-ruwah, apa manfaat
mempelajarinya dan apa saja kitab-kitabnya
3. Bagaimana contoh analisis kebersambungan sanad
hadits dilihat dari sejarah dan thabaqah para perawi
hadits

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah
untuk:
1. Mengetahui definisi ilmu tarikh ar-ruwah, manfaat
mempelajarinya dan kitab-kitabnya
2. Mengetahui definisi ilmu thabaqah ar-ruwah,manfaat
mempelajarinya dan kitab-kitabnya
3. Mengetahui analisis kebersambungan sanad hadits
dilihat dari sejarah dan thabaqah para perawi hadits
4.

2
BAB II

ANALISIS KEBERSAMBUNGAN SANAD HADITS DILIHAT


DARI ASPEK SEJARAH DAN THABAQAH PARA PERAWI
HADITS

A. Sejarah Para Perawi Hadits (Tarikh Ar-Ruwah)


1. Definisi
Sejarah para perawi hadits dikenal dengan tarikh ar-ruwah,
tarikh ar-ruwah ialah suatu ilmu yang membahas tentang kapan
dan dimana seorang rawi dilahirkan, dari siapa ia menerima
hadits, siapa orang yang pernah mengambil hadits darinya serta
kapan dan dimana ia wafat.
Dr. Muhammad Ajjaj Al-Khatib mendefinisikan ilmu tarikh
ar-ruwah seperti ini:







.
2. Manfaat ilmu tarikh ar-ruwah
Mengetahui tanggal lahir dan wafatnya para rawi
merupakan hal yang sangat penting untuk menolak pengakuan
seorang rawi yang mengaku pernah bertemu dengan seorang
guru yang pernah memberikan hadits kepadanya, padahal
setelah diketahui tanggal lahir dan wafat gurunya, mungkin
sekali mereka tidak saling bertemu, disebabkan kematian
gurunya mendahului daripada kelahirannya.
Jika demikian halnya, maka hadits yang mereka riwayatkan
itu sanadnya tidak bersambung. Dengan kata lain manfaat
mempelajari ilmu tarikh ar-ruwah itu ialah untuk mengetahui
muttashil atau munqathinya sanad hadits dan untuk mengetahui
marfu atau mursalnya pemberitaan hadits.
Mengetahui kampung halaman rawipun penting, yaitu
untuk membedakan rawi-rawi yang kebetulan sama namanya
akan tetapi berbeda marga dan kampung halamannya. Sebab
sebagaimana yang diketahui bahwa rawi-rawi itu banyak yang

3
namanya bersamaan, akan tetapi tempat tinggal mereka
berbeda. Penting pula dalam hal apabila rawi yang namanya
bersamaan itu sebagiannya ada yang tsiqah, sehingga dapat
diterima haditsnya, dan ada yang tidak tsiqah yang
menyebabkan harus ditolak haditsnya.
Ada contoh fakta mengenai hal ini, yaitu suatu ketika Ufair
bin Madan bercerita: Umar bin Musa pernah datang kepadaku,
lalu kutemui dia di mesjid dan seraya ia berkata: telah bercerita
kepada kami guru kamu kalian yang shalih.... Ketika ia telah
banyak bercerita, lalu kupotong ceritanya, siapa yang kamu
maksud dengan guru kami yang shalih itu? Sebutlah namanya
agar kami mengetahuinya!, Jawabnya yaitu Khalid bin Madan,
tahun berapa kamu bertemu dengan dia? tanyaku lebih lanjut,
aku bertemu pada tahun 108 H jawabnya, dimana kamu
bertemu? tanyaku lagi, aku bertemu dengan dia pada waktu
perang Armenia jawabnya, aku membentak: takutlah kepada
Allah hai saudara jangan kau berdusta, bukankah Khalid bin
Madan itu wafat pada tahun 104 H? Sedangkan kamu
mengatakan bahwa kamu bertemu dengan dia empat tahun
sesudah dia wafat, tambahan pula dia tidak pernah mengikuti
perang Armenia sama sekali, dia hanya ikut perang Romawi
saja.

3. Kitab-kitab tarikh ar-ruwah


Kitab-kitab tarikh ar-ruwah dalam sistem
penyusunannya beragam sesuai kehendak penyusunnya.
Diantara kitab-kitab tarikh ar-ruwah yang harus diketahui oleh
penggali sunnah Rasulullah adalah:
At-Tarikh Al-Kabir, karya Muhammad bin Ismail Al-
Bukhari (th. 194-252 H).
Tarikh Nisabur, karya Imam Muhammad bin Abdullah
Al-Hakim An-Nisabury (321-405 H).
Tarikh Bagdad, karya Abu Bakar Ahmad Ali Al-
Bagdady, yang terkenal dengan nama Al-Khathib Al-
Bagdady (392-463H).
Al-Ikmal Fi Rafi Al-Irtiyab An Al-Mutalif Wa Al-
Mukhtalif Min Al-Asmai Wa Al-kuna Wa Al-Anshab,
karya Al-Amir Al-Hafidz Abi Nashr Ali bin Hibatillah
bin Jafar, yang terkenal dengan nama Ibnu Makula
Al-Bagdady (421-486 H).
Tahdzib Al-Kamal Fi Asma Al-Rijal, karya Al-Hafidz
Jamaluddin Abi Al-Hajjaj Yusuf Al-Mizzay, Ad-
Dimasyqy (654-742 H).

4
B. Golongan Para Perawi Hadits (Thabaqah Ar-Ruwah)
1. Definisi
Para ulama mendefinisikan ilmu thabaqah seperti ini:


Maksud dari tersebut banyak, diantaranya:
1. Bersamaan hidup dalam satu masa
2. Bersamaan tentang umur (kurang lebih)
3. Bersamaan tentang menerima hadits dari syaikh-syaikh
4. Bersamaan tentang bertemu syaikh-syaikh

Jadi bisa dikatakan bahwa seorang rawi bisa mempunyai


beberapa thabaqah jika ditinjau dari berbagai tersebut.

Contoh jika ditinjau dari perjumpaannya dengan Nabi


(shuhbah), para sahabat termasuk dalam thabaqah pertama,
para tabiin termasuk dalam thabaqah kedua, atbau at-tabiin
termasuk thabaqah ketiga dan seterusnya.

.1
.2
.3
.4
dst... .5

Dasar penggolongan yang demikian ini adalah sabda


Rasulullah Saw.:



( )
Namun jika ditinjau dari yang lain, seperti yang duluan
masuk Islam atau banyaknya mengikuti perang dsb., thabaqah
sahabat itu banyak, para muhadditsin ada yang membagi jumlah
thabaqah sahabat menjadi lima thabaqah, sepuluh, dua belas
bahkan lebih.
Thabaqah

Yang dua belas itu sebagai berikut:

1. Para sahabat yang masuk islam lebih dulu di


Makkah
(seperti: Khalifah yang empat dan Bilal bin
Abi Rabah).

5
2. Para sahabat yang masuk Islam sebelum
adanya permusyawaratan orang Quraisy
yang bermusyawarah di Dar An-Nadwah.
3. Para sahabat yang berhijrah ke Habasyah
(seperti: Abu Hurairah, Khatib bin Amr bin
Abdi As-Syam, Suhail bin Baidla dan Abu
Khudzaifah bin Atabah).
4. Para sahabat yang menghadiri Aqabah
pertama
(seperti: Rafi bin Malik, Ubadah bin Shamit
dan Saad bin Zararah).
5. Para sahabat yang menghadiri Aqabah
kedua
(seperti: Barra bin Marur, Jabir bin Abdullah
bin Jubair dsb.).
6. Para muhajirin yang pertama, yakni mereka
yang menyusul Nabi di Quba sebelum
sampai di Madinah
(seperti: Ibnu Salamah bin Abi Asad dan
Amir bin Rabiah).
7. Para sahabat yang mengikuti perang Badar,
mereka sebanyak 313 orang
(seperti: Saad bin Muadz dan Al-Miqdad
bin Al-Aswad).
8. Para sahabat yang berhijrah ke Madinah
setelah perang Badar dan sebelum
Hudaibiyah
(seperti: Al-Mughirah bin Syubah).
9. Para sahabat yang menghadiri Baiatu Al-
Ridwan di Hudaibiyah
(seperti: Salman bin Akwa, Sinan bin Abi
Sinan dan Abdullah bin Amr).
10. Para sahabat yang berhijrah setelah
perdamaian Hudaibiyah dan sebelum
Makkah dikalahkan
(seperti: Khalid bin Walid dan Amr bin
Ash).
11. Para sahabat yang masuk Islam setelah
Makkah terkalahkan
(seperti: Ab Sufyan dan Hakim bin Hazam).
12. Anak-anak yang melihat Nabi setelah
Makkah terkalahkan dan haji wada
(seperti: Said bin Yazid dan Abdullah bin
Tsalabah).

6
Contoh sahabat yang mempunyai beberapa thabaqah ialah
Utsman bin Affan, ia termasuk dalam thabaqah pertama, ketiga
dan ketujuh.

Dalam thabaqah tabiin para ulama juga berselisih


mengenai jumlahnya, menurut Imam Muslim ada tiga thabaqah,
menurut Ibnu Saad ada empat thabaqah, sedangkan menurut
Al-Hakim ada lima belas thabaqah.

Thabaqah pertama dari para tabiin ialah tabiin yang


berjumpa dengan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga
(khulafa al-rasyidin, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid,
Thalhah bin Abdillah, Zubair bin Awwam, Abdu Ar-Rahman bin
Auf dan Ubaidah bin Jarah).

Thabaqah terakhir ialah para tabiin yang berjumpa dengan


Anas bin Malik r.a. untuk mereka yang berdiam di Basrah,
bertemu dengan Saib bin Yazid untuk mereka yang tinggal di
Madinah, bertemu dengan Abu Umamah bin Ajlan Al-Bahily bagi
mereka yang berdiam di Syam, bertemu dengan Abdullah bin
Aufa bagi mereka yang berdiam di hijaz dan bertemu dengan
Abu Thufail bagi mereka yang berdiam di Makkah.

2. Manfaat ilmu tahabaqah


Manfaat ilmu thabaqah ialah untuk mengetahui
kemuttashilan atau kemursalan suatu hadits. Sebab suatu hadits
tidak dapat ditentukan sebagai hadits muttashil atau mursal
kalau tidak diketahui apakah tabiin yang meriwayatkan hadits
dari sahabat itu segenerasi atau tidak, kalau seorang tabiin itu
tidak pernah hidup segenerasi dengan sahabat sudah barang
tentu hadits yang diriwayatkannya tidak muttashil atau apa yang
didakwakan sebagai sabda atau perbuatan Nabi itu adalah
mursal.
3. Kitab-kitab thabaqah
Kitab-kitab thabaqah termasyhur adalah:
At-Thabaqah Al-Kubra, karya Muhammad bin Saad
bin Mani Al-Hafidz Katib Al-Waqidy (168-230H).
Thabaqah Al-Ruwah, karya Al-Hafidz Abu Amr
Khalifah bin Khayyath Asy-Syaibani (240 H).
Thabaqah At-Tabiin, karya Imam Muslim bin Hajjaj Al-
Qusyairy (204-261 H).
Thabaqah Al-Muhadditsin wa Al-Ruwah, karya Nuaim
Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al-Ashbihany (336-
430 H).

7
Thabaqah Al-Hufadz, karya Al-Hafidz Syamsuddin
Adz-Dzahaby (673-748 H).
Thabaqah Al-Hufadz, karya Jalaluddin As-Suyuthy
(849-911 H).

C. Kriteria kebersambungan sanad hadits dilihat dari


tarikh dan thabaqah para perawi hadits

Hadits yang terhimpun dalam kitab-kitab hadits, misalnya


dalam al-kutub al-sittah, terdiri dari matan dan sanad. Dalam
sanad hadits termuat nama-nama periwayat dan kata-kata atau
singkatan kata-kata yang menghubungkan antara masing-
masing periwayat dengan periwayat lainnya yang terdekat.

Matan hadits yang shahih belum tentu sanadnya shahih.


Sebab, boleh jadi dalam sanad hadits tersebut terdapat masalah
sanad, seperti sanadnya tidak bersambung atau salah satu
periwayatnya tidak siqat (adil atau dhabit).

Setidaknya, ada tiga kriteria ketersambungan sanad, yaitu:

1. Periwayat hadits yang terdapat dalam sanad hadits


yang diteliti semua berkualitas siqat (adil atau dhabit).
2. Masing-masing periwayat menggunakan kata
penghubung yang berkualitas tinggi yang sudah
disepakati ulama (al-sam), yang menunjukkan adanya
pertemuan di antara guru dan murid. Istilah yang
dipakai untuk al-sam beragam, diantaranya:


3. Adanya indikasi kuat perjumpaan mereka, ada tiga
indikator yang menunjukkan pertemuan antara mereka
[1] terjadi proses guru dan murid, yang dijelaskan oleh
para penulis rijl al-hadits dalam kitabnya, [2] tahun
lahir dan wafat mereka diperkirakan adanya pertemuan
antara mereka atau dipastikan bersamaan, dan [3]
mereka tinggal belajar atau mengabdi (mengajar) di
tempat yang sama.

Kita lihat dalam contoh, sanad hadits yang dijadikan objek


penelitian di sini adalah hadits riwayat imam Al-Nasai dan Abu-
Hurairah tentang perencanaan objek dakwah Rasulullah Saw.
dalam jangka pendek, yaitu mengislamkan penduduk Makkah.
Sanad hadits tersebut terdiri dari tujuh tingkat dengan delapan

8
orang periwayat hadits, karena Al-Zuhri menerima hadits ini dari
dua orang gurunya, yaitu Said ibn Al-Musayyab dan Abu Salah.




- -
- - :
": {
}



- -



- -

.
Rangkaian periwayatan hadits tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Imam Al-Nasai (wafat: 303 H) menerima hadits dari


Muhammad ibn Khalid dengan menggunakan kata
, kata tersebut menunjukkan adanya proses
penerimaan hadits secara al-sam. Hal penting yang
menjadi pegangan disini adalah bahwa semua penulis
kitab rijl al-hadits mengatakan Imam Al-Nasai
menerima hadits dari Muhammad ibn Khalid dan Imam
Al-Nasai adalah satu-satunya murid Muhammad ibn
Khalid. Karena itu dapat disimpulkan bahwa periwayat
pertama benar-benar menerima hadits dari periwayat
kedua (muttasil).
2. Muhammad ibn Khalid menerima hadits dari Bisyr ibn
Syuaib (wafat: 212 H) dengan menggunakan kata
, kata tersebut menunjukkan adanya proses
penerimaan hadits secara al-sam. Dilihat dari tahun
wafat dan tempat tinggal mereka memberikan indikasi
adanya pertemuan diantara mereka. Muhadditsin
sepakat mengatakan bahwa Muhammad ibn Khalid
adalah murid Bisyr ibn Syuaib.
3. Bisyr ibn Syuaib menerima hadits dari bapaknya
(Syuaib) dengan menggunakan kata . Walaupun
menggunakan kata , tetapi dapat dipastikan mereka

9
bertemu; dengan beberapa alasan: [1] mereka adalah
bapak dan anak, sehingga tempat dan tahun yang
terkait dengan mereka tidak ada celah untuk diragukan
[2] mereka sama-sama ulama hadits.
4. Syuaib menerima hadits dari Al-Zuhri dengan
menggunakan kata . Mereka sezaman dan
mengabdi di tempat yang sama, yaitu di Syam, Makkah
dan Madinah. Semua penulis rijl al-hadits sepakat
mengatakan bahwa Syuaib adalah murid Al-Zuhri
dalam bidang hadits.
5. Al-Zuhri (lahir: 51 H, wafat: 124 H, thabaqah: shigar at-
tabiin) menerima hadits dari Said ibn Al-Musayyab
(lahir: 15 H, wafat: 94 H, thabaqah: tabiin) dengan
menggunakan kata . Kata tersebut
menunjukkan adanya proses penerimaan hadits secara
al-sam dan dilihat dari segi tahun wafat dan tempat
tinggal mereka memungkinkan adanya pertemuan
antara mereka. Namun, yang paling penting adalah
mereka sama-sama ulama besar, baik dalam bidang
hadits maupun dalam bidang fiqih. Oleh karena itu,
muhadditsin sepakat bahwa Al-Zuhri adalah murid Said
ibn Al-Musayyab demikian pula terhadap Abu Salamah.
6. Abu Salamah ibn Abdurrahman dan Said ibn Al-
Musayyab menerima hadits dari Abu Hurairah (wafat:
57/58 H) dengan menggunakan kata . Muhadditsin
sepakat bahwa kedua periwayat tersebut adalah murid
Abu Hurairah.
7. Abu Hurairah menerima hadits dari Rasulullah Saw.
Dengan menggunakan kata . Abu Hurairah adalah
sahabat Rasulullah yang paling banyak menerima dan
meriwayatkan hadits. Namun, yang dapat menimbulkan
pertanyaan menyangkut masalah hadits ini adalah
hadits ini muncul atau disabdakan Nabi Muhammad
Saw. pada tahun ketiga kenabian, sementara Abu
Hurairah pada saat itu belum masuk Islam dan belum
pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw., karena
Abu Hurairah bertemu Nabi Muhammad Saw. pertama
kali pada tahun ketujuh hijriah dan pada waktu itulah
Abu Hurairah menyatakan menganut Islam. Ada dua
informasi yang dapat menghilangkan keraguan
tersebut: [1] hadits tersebut disabdakan berkaitan
dengan turunnya ayat Al-Quran tentang anjuran kepada
Nabi Muhammad Saw. Agar mendakwahi keluarga

10
dekatnya. [2] Ayat tersebut, Nabi sering mengulangnya
termasuk di depan Abu Hurairah. Dengan demikian,
sanad hadits yang diteliti bersambung dari periwayat
pertama sampai kepada Nabi Muhammad Saw.

11
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Mempelajari ilmu tawarikh ar-ruwah yang meliputi tahun
lahir dan wafat para perawi hadits, dari siapa ia menerima
hadits, siapa orang yang pernah mengambil hadits darinya dsb.
dan thabaqah ar-ruwah merupakan hal yang sangat penting
untuk mengetahui antara shahih dan maudunya suatu hadits,
antara ittishal dan inqithanya sanad atau antara marfu dan
mursalnya pemberitaan hadits.

B. Saran
Saya berharap kepada para pembaca agar mampu mengnalisis lebih jauh
tentang kebersambungan sanad hadits dari sejarah dan thabaqah para perawi
hadits. Dalam hal ini saya juga berharap semoga makalah ini bermanfaat dan
dapat dijadikan bahan referensi pada penulisan yang lain. Namun untuk hal-hal
yang kurang sempurna saya mohon maaf dan semoga pembaca bisa melengkapi
dan menyempurnakan yang belum sempurna.

12
DAFTAR PUSTAKA

.1997 .
. : .
..
. - :
.
.1410 .
. : .
.1968 . .
: .
.1404 .
. - : .

M. Isa H.A. Salam. 2004. Metodologi Kritik Hadits. Jakarta: PT.


RajaGrafindo Persada.

Fatchur Rahman. 1985. Ikhtisar Musthalahul-Hadits. Bandung: PT.


Al-Maarif.

A. Qadir Hassan. 2007. Ilmu Mushthalah Hadits. Bandung:


Diponegoro.

https://id.wikipedia.org/wiki/