Anda di halaman 1dari 9

Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

Pengaruh Pelarut dalam Ekstraksi untuk Menghapus Nikotin pada


Pengembangan Arang Briket dari Limbah Batang Tembakau

S. Purwono*, B. Murachman, J. Wintoko, B.A. Simanjuntak, P.P. Sejati, N.E.


Permatasari and D. Lidyawati
Chemical Engineering Department, Gadjah Mada University, Jl. Grafika No. 2, Yogyakarta
*Corresponding author: spurwono@chemeng.ugm.ac.id

Abstrak: Limbah dari batang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif
dengan mendaur ulang menjadi briket arang. Kandungan nikotin pada batang
tembakau dapat dihilangkan dengan beberapa proses ekstraksi menggunakan berbagai
jenis pelarut seperti n-heksana, etanol, minyak tanah dan uap. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengembangkan briket arang dari limbah batang tembakau. Variabel
yang diteliti adalah jenis pelarut untuk ekstraksi, suhu, waktu, tekanan pirolisis, dan
tekanan pembriketan. Indikator kualitas briket adalah nilai kalor dan emisi gas yang
dihasilkan dari pembakaran briket arang. Hasil penelitian kami menunjukkan briket
arang memiliki nilai kalor yang maksimal pada suhu pirolisis 300 C dan 90 menit
sedangkan beban untuk menekan briket adalah 4 ton. Nilai maksimum kalor adalah
5438,9 cal / g atau 22,8 MJ / kg. Emisi gas terdiri dari 0,03% karbon monoksida,
2,7% karbon dioksida, 18% oksigen dari sisa gas nitrogen.

1. Pendahuluan
Indonesia didominasi perekonomian yang berbasis pertanian
dan perkebunan. Salah satu tanaman komersial penting berasal dari
perkebunan tembakau yang memasok berbagai industri rokok di
dalam negeri. Pada tahun 1994 ada sekitar 160.000 ha yang
ditanami tembakau dan produksi tahunan sekitar 95.000 ton daun
tembakau. Produksi tembakau ini digunakan untuk menghasilkan
180 triliun rokok.

1
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

Ada beberapa hal negatif dalam produksi daun tembakau.


Salah satunya adalah limbah dari batang tanaman tembakau.
Menurut Haygreen dan Bowyer 25% dari berat total tembakau
adalah batang, oleh karena itu, akan ada sekitar 24.000 ton sampah
per tahun atau sekitar 70 ton per hari. Saat ini sampah dari industri
rokok tidak dapat dimanfaatkan dengan baik dan hanya sebagian
kecil dari mereka yang menjual kepada petani yang akan dikonversi
menjadi pupuk organik. Beberapa dari mereka menggunakan untuk
memproduksi pestisida dengan mengeluarkan nikotin dari batang
tembakau (kandungan nikotin adalah sekitar 2%).
Dalam batang tembakau, terdapat unsur karbon yang
terikat di selulosa dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi
untuk bahan bakar padat (lihat Tabel 1). Limbah ini bisa langsung
dibakar sebagai bahan bakar padat, namun akan menciptakan
masalah penyimpanan dan asap dari proses pembakaran. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengkonversi batang tembakau
menjadi briket arang dengan penanganan awal untuk mengurangi
kadar nikotin menggunakan ekstraksi dengan beberapa jenis
pelarut. Variabel yang diteliti adalah suhu pirolisis, waktu pirolisis,
tekanan briket, CO dan emisi CO2.
Tabel 1. Kandungan Kimia pada Daun Tembakau (%berat)

2
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

Indikator dari kualitas briket adalah nilai kalor dan emisi gas yang
dihasilkan dari pembakaran briket arang.

2. Eksperimental
2.1 Bahan kimia yang digunakan dalam bahan
Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini dan
diperoleh di laboratorium adalah: air distilat, asam benzoat,
tembaga klorida, garam, indikator metil merah, kalsium hidroksida,
natrium karbonat, oksigen, dan pyrogalol. Limbah daun tembakau
dari PD Tarumartani, CO Ltd, Yogyakarta (industri rokok lokal).

2.2 Proses Ekstraksi


Pada tahap persiapan, beberapa proses ekstraksi dilakukan
untuk menghilangkan kandungan nikotin dalam limbah batang
tembakau. Pelarut yang digunakan adalah etanol, heksana normal
dan uap. Ekstraksi dilakukan dengan menempatkan 1 kg sampel ke
dalam ekstraktor yang terhubung ke tangki pelarut yang berisi 5 L
pelarut. Ekstraksi dilakukan pada suhu mendekati dengan titik didih
pelarut.

3
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

2.3 Pirolisis dan pengembangan briket


Arang briket dari batang tembakau dapat dikembangkan
dengan dan tanpa persiapan awal untuk perlakuan menghilangkan
kandungan nikotin menggunakan proses ekstraksi. Pelarut yang
digunakan untuk ekstraksi yang etanol, minyak tanah, n-hexaneand
uap. Setelah ekstraksi, batang tembakau kering dan tanah yang
terkandung kemudian disaring antara 30 dan 60 mesh. Serbuk
kemudian dimasukkan ke dalam oven pada suhu antara 90-105 C
selama sekitar satu jam untuk menghapus air yang tersisa. Setelah
itu bubuk dimasukkan ke tabung untuk pirolisis pada suhu antara
250-500 C. Waktu pirolisis bervariasi dari 30 sampai 90 menit.
Produk-produk dari pirolisis adalah gas, cair dan padat. Padatan
kemudian dipindahkan dari reaktor dan diberi tekanan hingga 4 ton
untuk membentuk briket arang. Gambar 1 menunjukkan diagram
skematik proses pirolisis.

2.4 Analisis
kandungan nikotin
Kandungan nikotin dalam limbah batang tembakau dinilai
dengan kromatografi planar dan dilakukan di Pusat Penelitian UGM.

4
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

Standar (0,5 ug / ml di asetonitril) dan larutan sampel


diklorometana yang dibutuhkan (1,5-3 ml dari 20 ml) ke dalam plate
C18-TLC serta C30-TLC. Kromatogram dikembangkan untuk jarak
7,5 cm dalam ruang horisontal menggunakan air asetonitril (88 +
12, v / v) dengan penambahan sodium 1-octanesulfonate (50 mg /
100 ml) sebagai fase gerak.
Nilai Kalor
Nilai kalor diukur dengan menggunakan bom Kalorimeter dan menggunakan
prosedur ASTM D 2015 [7]. Prosedurnya adalah sebagai berikut: pertama-tama bom
harus dipindahkan ke kalorimeter untuk memastikan bahwa bom adalah gas rapat
dan terhubung dengan area pembakaran. Setelah itu, tempatkan penutup, pengaduk
dan termometer sesuai posisi. Mulailah pengadukan dan tetap beroperasi diseluruh
prosedur. Setelah itu, atur suhu dan aduk kurang lebih selama 5 menit sebelum mulai
membaca suhu. Sebelum itu, tekan dengan ringan termometer untuk menghindari
setiap kesalahan membaca karena menempelnya raksa ke kaca. Ember temperatur
harus dibaca pada interval 1 menit sampai ember temperatur yang sama diamati di
tiga bacaan berturut-turut. Catat suhu ini sebagai suhu kalorimeter awal dan panjang
termometer (pembacaan skala C).
Setelah mengisi pembakaran, laju aliran air pendingin untuk jaket itu secara
manual dimanipulasi untuk menyesuaikan suhu agar cocok dengan kalorimeter
selama periode kenaikan. Mengontrol suhu jaket diperlukan untuk meminimalkan
kehilangan panas dari kalorimeter ke udara sekitar.
potongan gabungan dari bagian pembakaran kawat yang tidak terbakar
dihapus dan diukur serta dikurangi dari ukuran aslinya, kemudian dicatat sebagai
"kawat dikonsumsi".
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Ekstraksi kadar nikotin
Pengaruh pelarut pada ekstraksi dari tembakau batang ditunjukkan pada Tabel 2. Jelas
bahwa etanol adalah pelarut terbaik, oleh karena itu untuk seluruh percobaan kami
menggunakan etanol sebagai pelarut untuk proses ekstraksi.

5
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

3.2 Proses Pirolisis


Dalam proses pirolisis, ada tiga produk, gas, cair dan padat. Produk padat
kemudian memberi tekanan udara untuk briket arang. Dari awal penelitian, telah
ditemukan bahwa meningkatkan suhu dan waktu pirolisis dapat menurunkan produk
yang solid. Hal ini disebabkan oleh mekanisme yang berbeda dari material yang retak
selama pirolisis. Dekomposisi termal hidrokarbon melibatkan serangkaian reaksi
primer dan sekunder mengarah ke campuran kompleks produk. Studi menunjukkan
bahwa distribusi produk pirolisis bervariasi dengan kondisi pirolisis dan jenis reaktor
yang digunakan. Sebuah studi oleh Tsai dan Albright [6] melaporkan bahwa
setidaknya terjadi tujuh reaksi permukaan proses pirolisis pada sebagian besar
industri.
Dalam percobaan pirolisis, kondensat yang terbentuk adalah di kisaran 25
sampai 45 persen dari berat asli batang tembakau, sedangkan gas yang terbentuk di
kisaran 10 sampai 20 persen, dan sisanya adalah produk padat. Penelitian ini
menunjukkan bahwa lebih dari 36 komponen uatama alkohol seperti metanol, etanol
dan propanol yang dihasilkan selama proses pirolisis . Hasil eksperimen juga
menunjukkan bahwa kondensat dan gas yang terbentuk dipengaruhi oleh suhu di
reaktor dan tingkat pemanasan. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa laju reaksi
dari proses dekomposisi tergantung pada suhu. Menurut Nurmala [4], ada empat
langkah dalam proses karbonisasi kayu atau biomassa:
1. Pertama dengan memanaskan kayu, air di dalamnya menguap dan
dekomposisi selulosa terjadi hingga suhu 260C. Dalam proses ini, distilat
dibentuk terdiri dari asam dan metanol.
2. Pada suhu antara 260-310C, kebanyakan dari selulosa mendegradasi secara
intensif untuk membentuk minuman keras pyrolygeneous (alkohol), gas dan
sejumlah kecil tar yang dapat digunakan sebagai agen pengawet.
3. Pada suhu antara 310-500C, lignin berdisosiasi untuk membentuk tar ber
lebih.
4. Banyaknya gas yang tak terkondensasi terutama hydrogen yang terbentuk
pada suhu antara 500-1000C. Pada langkah ini, produk padat (arang)
memiliki kemurnian tinggi.

6
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

Tabel 2. Ekstraksi nikotin menggunakan berbagai pelarut


Bahan Kadar Nikotin
Awal (%) Setelah ekstraksi

1 Long tobacco stem 0,49


Solvent n-Heksan 0,06
Solvent ethanol 0,00
Solvent Kerosene 0,06
Steam 0,16
2 Short tobacco stem 0,51
Solvent n-Heksan 0,11
Solvent etanol 0,03
Solvent Kerosene 0,06
Steam 0,32

3.3 Nilai Kalor Briket Arang


Nilai kalor merupakan salah satu indikator utama untuk nilai bahan bakar
komersial. Seperti briket arang lainnya (terutama dari kayu), briket arang yang terbuat
dari limbah batang tembakau juga dianalisis nilai kalornya. Dari hasil perhitungan,
nilai kalor optimum yang diperoleh adalah 5,438.9 kal/g. Pengaruh suhu dan panjang
pirolisis terhadap nilai kalor briket arang dapat dilihat pada Tabel 3 serta gambar 2
dan 3. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai kalor meningkat ketika suhu dan
panjang pirolisis meningkat yang disebabkan oleh peningkatan jumlah karbon yang
diperoleh. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurmala dan
Soeparno [4-5]. Hasil ini membandingkan baik dengan nilai kalor kayu (4491,2 kal/g)
atau batubara usia muda (1887,3 kal/g). Namun nilai ini masih lebih rendah dari nilai
arang dari kayu yang memiliki nilai kalor 7.047,3 kal / g). Tabel 4 menunjukkan nilai
kalor beberapa bahan bakar.

Table 3. Nilai kalor briket arang dari limbah batang tembakau


Pressure Pyrolysis at 250C Pyrolysis pada 300C
(ton) Length of pyrolysis (minute) Length of pyrolysis (minute)
0 3 60 9 0 30 6 9

7
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

4 3616.2 3940.8 4882.4 5199 3617. 4404.8 5372.8 5438.9


6 3612.1 3885.2 4713.5 5027 3612. 3903.8 5217.7 5112.1
8 3597.6 3665.8 4250.4 4605 3597. 3761.3 4860.4 5165.4

Gambar 2. Calorific value of charcoal briquette for pyrolysis at 250C.

Gambar 3. Calorific value of charcoal briquette for pyrolysis at 300C

Table 4. Nilai kalor dari beberapa jenis bahan bakar [3].


Type of fuel Calorific value (cal/g)
Dry wood 4491.2
Young coal 1887.3
Coal 6999.5
Charcoal 7047.3
Crude oil 10008.2
Fuel oil 10224.6
Natural gas 9722.9

3.4 Uji Gas Emisi

8
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment
Journal of Sustainable Energy & Environment 2 (2011) 11-13

Pengujian emisi gas yang dihasilkan dari pembakaran briket arang dapat
dilihat pada Tabel 5. Hal ini dapat dilihat bahwa proses pirolisis mempengaruhi
produksi gas emisi dengan nilai-nilai yang lebih rendah dari emisi yang dicapai pada
suhu pirolisis yang lebih tinggi. Panjang pirolisis juga mempengaruhi jumlah gas
yang dipancarkan dari pembakaran briket. Namun demikian kedua hasil penelitian
menunjukkan bahwa briket batang tembakau yang dapat digunakan sebagai bahan
bakar padat yakni dengan kriteria jumlah gas yang dipancarkan kecil sehingga
memungkinkan jenis briket batang tembakau digunakan sebagai bahan bakar
alternatif.

Table 5. Hasil uji emisi gas dari pembakaran briket arang,% volume.

Time Temperature of pyrolysis

(minute) Gas CO Gas CO2 Gas O2


250C 300C 250C 300C 250C 300C
0 0.09 0.09 2.0 2.0 18.7 18.7
30 0.08 0.08 2.1 2.2 18.5 18.4
60 0.06 0.04 2.2 2.5 18.6 18.3
90 0.04 0.03 2.4 2.7 19.0 18.0

4. Kesimpulan
Hasil dari penelitian ini bahwa limbah dari batang tembakau dapat digunakan
sebagai bahan baku pembuatan arang briket. Nilai kalor dan gas emisi dari
pembakaran briket sangat bergantung pada proses pirolisis.

9
Copyright @ 2011 By Journal of Sustainable Energy and Environment