Anda di halaman 1dari 5

Nama : Bella Ayu Pertiwi

NIM : 1401010
Kelas : S1 / IVA
Tugas : Farmasi Klinis (Kasus Pasien Gagal Ginjal dan Penyelesaian Masalah SOAP)

Kasus Pasien Gagal Ginjal

Seorang wanita 52 tahun bernama Ny.Andriana ; TB : 165 cm; BB : 70 kg, masuk RS.
Riwayat penyakit : DM sejak 2 tahun yang lalu
Keluhan yang di rasa : Mual, lemas, sakit di ulu hati
Diagnosa utama : CRF
Diagnosa lain : DM II NO, ISK dan Hipertensi

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan :


Albumin : 1,89 g/dL
Cholesterol : 175 mg/dL
Trigliserida : 163 mg/dL
BUN : 74.4 mg/dL
Kreatinin : 7,2 mg/dL
Glukosa : 253 mg/dL
Natrium : 129 mmol/L
Kalium : 4,51 mmol/L
Chlorida : 90 mmol/L

Pemeriksaan mikrobiologi :
Bahan : Urine
Jenis Kuman : E. Coli, S. Epidermidis
Pengecekan TD : 180/80 mmHg

Analisa kasus dengan metode SOAP (Subjective, Objective, Assesment and Plan)
1.Subjective
Nama pasien : Ny.Andriana
Jenis kelamin : Wanita
Umur : 52 tahun
Tinggi badan : 165 cm
Berat badan : 70 kg
Riwayat Penyakit : DM sejak 2 tahun yang lalu
Keluhan : Mual, lemas dan sakit di ulu hati.

2.Objective
Albumin : 1,89 g/dL (normal 3,5-5,8 g/dL)
Cholesterol : 175 mg/dL (normal 150-250 mg/dL)
Trigliserida : 163 mg/dL (normal 40-155 mg/dL)
BUN : 74.4 mg/dL (normal < 50 mg/dL)
Kreatinin : 7,2 mg/dL (normal 0,5-1,2 mg/dL)
Glukosa : 253 mg/dL (normal 40-70 mg/dL)
Natrium : 129 mmol/L (normal 135-145 mmol/L)
Kalium : 4,51 mmol/L (normal 3,7-5,0 mEq/L)
Chlorida : 90 mmol/L (normal 100-106 mEq/L)

Pemeriksaan mikrobiologi :
Bahan : Urine
Jenis Kuman : E. Coli, S. Epidermidis
Pengecekan TD : 180/80 mmHg

3.Assesment

Berdasarkan kadar kreatinin, BUN, ClCr (8,56 ml/menit) dan GFR 6,34% maka
pasien di diagnosa mengalami gagal ginjal kronik (CRF) stadium 5. Gagal ginjal
kronik yang dialami pasien dikarenakan adanya riwayat penyakit penyerta yang dapat
memicu kerusakan nefron-nefron ginjal seperti diabetes dan hipertensi.

Pasien menderita DM tipe II yang didasarkan pada kadar glukosa yang melebihi batas
normal (253 mg/dL) dan riwayat penyakit pasien yaitu menderita diabetes mellitus
tipe II NO selama 2 tahun.

Berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi terhadap sampel urine dan ditemukan


kuman E.coli dan S. Epidermidis maka pasien di diagnosa menderita infeksi saluran
kemih.
Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pasien yaitu 180/80 mmHg maka pasien
di diagnosa menderita hipertensi stage II (JNC VII, 2003).

Berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien yaitu mual dan sakit di ulu hati, dimana
keluhan ini merupakan manifestasi dari berlebihnya kadar ureum di dalam darah.

Berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien yaitu lemas maka pasien dapat
disimpulkan bahwa keluhan itu merupakan manifestasi dari kekurangan darah
(anemia).

4.Planning
Tujuan Terapi :
1. Tujuan Terapi Jangka Pendek :
Menurunkan tekanan darah.
Menurunkan kadar glukosa darah.
Mengatasi symptom (keluhan) yang dirasakan pasien yaitu mual, lemas dan sakit di
ulu hati.
Mengatasi infeksi saluran kemih.
Meningkatkan kadar albumin pasien untuk mengatur tekanan osmotik di dalam darah
(mempertahankan volume darah).
2. Tujuan Terapi Jangka Panjang :
Mempertahankan fungsi ginjal agar dapat berfungsi seoptimal mungkin.
Meningkatkan kualitas hidup pasien.
Mempertahankan kadar tekanan darah dan glukosa darah dalam batas normal. untuk
mencegah agar kondisi tidak bertambah buruk.

Sasaran Terapi :
Menurunkan kadar glukosa darah
Menurunkan tekanan darah
Mengobati infeksi saluran kemih
Mengatasi symptom mual, lemas dan sakit di ulu hati
Menurunkan kadar trigliserid dengan terapi non farmakologi
Mempertahankan fungsi ginjal.

Strategi Terapi :
Terapi Farmakologi :
Captopril 12,5 mg 1 kali sehari per oral diminum 2 jam setelah makan.
Insulatard Hm (Insulin kerja sedang mula kerja singkat) 40 UI/ml 2 kali sehari SC
digunakan sebelum sarapan.
Infus dextrose 5%.
Ampicillin trihidrat 500 mg IM tiap 8 jam.
Terapi Non Farmakologi :
Dialisis (cuci darah) dilakukan dengan frekuensi minimal 2-3 kali seminggu, lamanya
cuci darah minimal 4-5 jam untuk setiap kali tindakan. Dialisis dilakukan pada gagal
ginjal kronis pada stadium akhir dimana GFR nya < 15 ml/menit.
Cukup asupan cairan (cukup minum) menurut keadaan ginjal dan jumlah produksi air
seni. Biasanya cairan yang diperlukan tubuh berkisar antara 1500-2000 ml per hari.
Jika jumlah air seni berkurang, pemberian cairan dilakukan berdasarkan jumlah urine
ditambah kehilangan air yang tidak terlihat seperti melalui tinja, keringat dan paru-
paru.
Diet tinggi protein untuk pasien yang menjalani cuci darah secara kontinue.
Menghitung asupan protein bisa dilakukan dengan berat badan yang sebenarnya atau
BB tanpa edema dikalikan dengan 1,2 g protein/hari (untuk pasien cuci darah).
Pengaturan keseluruhan asupan energi dari makanan. Orang normal komposisi
makanannya 60 KH: 20 lemak: 20 protein. Bila pasien cuci darah maka komposisi
makanan dengan perbandingan 55 KH: 30 lemak: 15 protein. Bila pasien tidak cuci
darah perbandingannya adalah 60 KH: 30 lemak: 10 protein.
Dianjurkan untuk menggunakan protein hewani. Karena pada protein hewani banyak
mengandung asam amino essensial yang penting untuk tubuh namun tubuh tidak bisa
memproduksi sendiri, contoh : glutamine.
Membatasi asupan natrium (garam). Asupan Na yang dianjurkan bagi pasien yang
menjalani cuci darah adalah 800-100 mmol (1840-2300 mg Na) atau 4,5-5,8 g NaCl.
contoh makanannya adalah margarine, coklat, susu, daging dan ikan.
Membatasi asupan kalium hingga 50-60 mmol/hari atau sekitar 3 g per hari. Untuk
pasien yang menjalani cuci darah adalah 1 mmol (39 mg kalium). Contoh
makanannya adalah : havermut, kentang, singkong, kacang hijau, kacang kedelai,
bayam, daun pepaya muda, cokelat, teh dan susu.
Meningkatkan kadar kalsium hingga 9-11 mg/dl., kadar kalsium dalam cairan dialisat
harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Membatasi asupan magnesium hingga 300 mg per hari.
Membatasi asupan fosfor hingga 8-12 mg/KgBB/hari. Sedangkan pada pasien yang
menjalani cuci darah, asupan fosfor dapat sedikit dinaikkan menjadi 17
mg/KgBB/hari. Contohnya makanannya adalah jenis serelia (beras, ketan hitam, beras
jagung), kacang-kacangan (kacang mete, kacang hijau, kedelai), telur (telur ayam
kampung, telur bebek), makanan laut (kerang, telur ikan, terasi, teri kering, teri segar,
udang kering) dan susu.
Dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi sekitar 15 mg
seperti protein hewani (daging merah dan hati)
Menghindari stress fisik dan mental karena dapat meningkatkan tekanan darah dan
gula darah
Melakukan olahraga rutin yang ringan seperti jalan di pagi hari selama jam.