Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL.... i
HALAMAN PERSETUJUAN.. ii
HALAMAN PENGESAHAN. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN .. iv
KATA PENGANTAR... v
DAFTAR ISI. vii
DAFTAR TABEL..xiv
DAFTAR GAMBAR.. xviii
SARI . xxvii
ABSTRACT ..xxviii
BAB I. PENDAHULUAN.... 1
1.1. Latar Belakang........... 1
1.2. Maksud dan Tujuan.... 2
1.3. Lokasi dan Luas Daerah Penelitian....2
1.4. Kesampaian Daerah Penelitian.. 3
1.5. Batasan Masalah.. 4
BAB II. METODE PENELITIAN..... 5
2.1. Metode Penelitian... 5
2.2. Tahapan Penelitian..... 6
2.2.1. Tahap Persiapan.. 8
2.2.2. Penelitian Lapangan Rinci..9
2.2.3. Penelitian Studio dan Laboratorium...10
2.2.3.1. Analisis Petrografi.. 10
2.2.3.2. Analisis Umur dan Lingkungan Pengendapan 11
2.2.3.3. Analisis Struktur Geologi.. 11
2.2.3.4. Analisis Masalah Khusus 11
2.2.4. Penyusunan Laporan Tugas Akhir..... 11

vii
Halaman
2.2.5. Tahap Presentasi.....12
2.3. Perlengkapan Penelitian.. 12
BAB III. TINJAUAN PUSTAKA... 14
3.1. Geomorfologi Regional. 14
3.1.1. Zona Dataran Aluvial Pantai Utara Jawa.. 15
3.1.2. Zona Depresi Semarang-Rembang.... 15
3.1.3. Zona Rembang...15
3.1.4. Zona Depresi Randublatung...16
3.1.5. Zona Kendeng... 16
3.1.6. Zona Depresi Tengah/Zona Solo..... 17
3.1.7. Zona Pegunungan Selatan..... 17
3.2. Stratigrafi Regional....17
3.2.1. Formasi Kujung.. 19
3.2.2. Formasi Prupuh..21
3.2.3. Formasi Tuban....22
3.2.4. Formasi Tawun...24
3.2.5. Formasi Bulu... 26
3.2.6. Formasi Wonocolo.... 28
3.2.7. Formasi Ledok.. 30
3.2.8. Formasi Mundu... 31
3.2.9. Formasi Paciran......33
3.2.10. Formasi Lidah.......34
3.2.11. Undak Solo.......36
3.3. Tektonik Regional....... 36
BAB IV. GEOLOGI DAERAH PENELITIAN. 41
4.1. Geomorfologi Daerah Penelitian...41
4.1.1 Satuan Geomorfologi..41
4.1.1.1. Satuan Geomorfologi Bergelombang Kuat
Denudasional (D1).......45

viii
Halaman
4.1.1.2. Satuan Geomorfologi Bergelombang Lemah
Denudasional (D5). 47
4.1.1.3. Satuan Geomorfologi Dataran Fluvial (F1).. 48
4.1.1.4. Satuan Geomorfologi Waduk (F2) ... 49
4.1.1.5. Satuan Geomorfologi Perbukitan Struktural (S6).. 49
4.1.2. Pola Pengaliran. 51
4.1.2.1. Pola aliran yang belum mengalami ubahan
(Basic pattern)..52
4.1.2.2. Pola aliran yang telah mengalami ubahan
(Modified pattern) .. 53
4.1.2.3. Pola Pengaliran Daerah Penelitian55
4.1.3. Stadia Sungai..59
4.1.4. Stadia Daerah 61
4.1.5. Morfogenesis Daerah Penelitian.................................................. 63
4.2. Stratigrafi Daerah Penelitian.....64
4.2.1. Satuan Kalsirudit Berlapis Tipis Tawun..69
4.2.1.1. Penyebaran dan Ketebalan.. 69
4.2.1.2. Litologi Penyusun 69
4.2.1.3. Umur.74
4.2.1.4. Lingkungan Pengendapan 75
4.2.1.5. Hubungan Stratigrafi.. 76
4.2.2. Satuan Batupasir Kuarsa Ngrayong... 76
4.2.2.1. Penyebaran dan Ketebalan.76
4.2.2.2. Litologi Penyusun. 77
4.2.2.3. Umur.. 79
4.2.2.4. Lingkungan Pengendapan 79
4.2.2.5. Hubungan Stratigrafi. 80
4.2.3. Satuan Kalkarenit Berlapis Tebal Bulu...80
4.2.3.1. Penyebaran dan Ketebalan.81
4.2.3.2. Litologi Penyusun. 81

ix
Halaman
4.2.3.3. Umur.. 84
4.2.3.4. Lingkungan Pengendapan.. 85
4.2.3.5. Hubungan Stratigrafi.... 86
4.2.4. Satuan Kalkarenit Berlapis Tipis Wonocolo..87
4.2.4.1. Penyebaran dan Ketebalan... 87
4.2.4.2. Litologi Penyusun 88
4.2.4.3. Umur..89
4.2.4.4. Lingkungan Pengendapan.. 91
4.2.4.5. Hubungan Stratigrafi.... 92
4.2.5. Satuan Batupasir Karbonatan Wonocolo. 92
4.2.5.1. Penyebaran dan Ketebalan.92
4.2.5.2. Litologi Penyusun.. 93
4.2.5.3. Umur..97
4.2.5.4. Lingkungan Pengendapan.. 98
4.2.5.5. Hubungan Stratigrafi..99
4.2.6. Satuan Batupasir Glaukonit Karbonatan Ledok.. 99
4.2.6.1. Penyebaran dan Ketebalan... 100
4.2.6.2. Litologi Penyusun..100
4.2.6.3. Umur..
105
4.2.6.4. Lingkungan Pengendapan.. 106
4.2.6.5. Hubungan Stratigrafi..
107
4.2.7. Satuan Batulempung Karbonatan Mundu.. 108
4.2.7.1. Penyebaran dan Ketebalan... 108
4.2.7.2. Litologi Penyusun..109
4.2.7.3. Umur..111
4.2.7.4. Lingkungan Pengendapan.. 113
4.2.7.5. Hubungan Stratigrafi..114
4.2.8. Satuan Endapan Lempung - Pasir.114
4.2.8.1. Penyebaran dan Ketebalan... 114
4.2.8.2. Litologi Penyusun. 114

x
Halaman
4.2.8.3. Umur.. 116
4.2.8.4. Lingkungan Pengendapan. 116
4.2.8.5. Hubungan Stratigrafi 116
4.2.9. Korelasi Stratigrafi Regional dengan Stratigrafi Daerah
Penelitian.. 118
4.3. Struktur Geologi Daerah Penelitian... 119
4.3.1. Struktur Perlapisan. 121
4.3.2. Struktur Kekar 121
4.3.3. Struktur Lipatan. 122
4.3.3.1. Antiklin Lodan.. 125
4.3.3.2. Sinklin Krajan.. 127
4.3.4. Struktur Sesar. 128
4.3.4.1. Sesar Naik Lodan Kulon. 133
4.3.4.2. Sesar Normal Gunung Pegat. 135
4.3.4.3. Sesar Mendatar Mengkiri Sambirata.. 136
4.3.4.4. Sesar Mendatar Mengkanan Kali Kening. 137
4.3.5. Mekanisme Struktur Geologi Daerah Penelitian... 138
4.4. Sejarah Geologi 140
4.4.1. Kala Miosen Tengah Miosen Akhir.. 140
4.4.2. Kala Miosen Akhir Pliosen Awal 145
4.4.3. Kala Pliosen Awal Holosen 147
4.5. Geologi Tata Lingkungan.. 149
4.5.1. Sumber Daya Alam. 150
4.5.1.1. Sumber Daya Tanah 151
4.5.1.2. Sumber Daya Air.152
4.5.1.3. Sumber Daya Bahan Galian 153
4.5.2. Bencana Alam 153
4.5.3. Pengembangan Wilayah. 155

xi
Halaman
BAB V. ANALISIS FASIES PENGENDAPAN SATUAN
BATUPASIR GLAUKONIT KARBOBONATAN LEDOK 156
5.1. Latar Belakang... 156
5.2. Maksud dan Tujuan 157
5.3. Batasan Masalah.157
5.4. Model Fasies Beach-Shelf .157
5.4.1. Backshore dunes..161
5.4.2. Foreshore. 162
5.4.3. Shoreface....163
5.4.3.1. Upper Shoreface...163
5.4.3.2. Middle Shoreface.... 163
5.4.3.3. Lower Shoreface...164
5.4.4. Transition Zone......163
5.4.5. Shelf Mud.....164
5.5. Analisis Fasies Satuan Batupasir Glaukonit Karbonatan Ledok.......... 164
5.5.1. Unit Pengendapan 1....................................................................... 164
5.5.2. Unit Pengendapan 2...................................................................... 168
5.6. Perkembangan Fasies Satuan Batupasir Glaukonit
Karbonatan Ledok
170
BAB VI. KESIMPULAN
172
DAFTAR PUSTAKA
174
LAMPIRAN TERIKAT...
178
1. Peta Sayatan Lereng.
179
2. Perhitungan Sayatan Lereng..
180
3. Analisis Petrografi.
187
4. Analisis Mikrofosil..
217
5. Analisis Struktur Geologi..
251

xii
LAMPIRAN LEPAS.. Halaman
1. Peta Lokasi Pengamatan 252
2. Peta Geomorfologi
3. Peta Geologi
4. Kolom Stratigrafi Terukur Satuan Batupasir Glaukonit Karbonatan
Ledok

DAFTAR TABEL

xiii
Tabel 3.1. Stratigrafi Zona Rembang menurut beberapa peneliti terdahulu
(modifikasi dari Darwin dan Sudijono, 1993)...
Tabel 3.2. Penampang Tipe Formasi Kujung (Pringgoprawiro, 1983)...
Halaman
Tabel 3.3. Penampang Tipe Formasi Prupuh (Pringgoprawiro, 1983)..
Tabel 3.4. Penampang Tipe Formasi Tuban (Pringgoprawiro, 1983)... 18
Tabel 3.5. Penampang Tipe Formasi Tawun (Pringgoprawiro, 1983)... 20
Tabel 3.6. Penampang Tipe Formasi Bulu (Pringgoprawiro, 1983).. 21
Tabel 3.7. Penampang Tipe Formasi Wonocolo (Pringgoprawiro, 1983). 23
Tabel 3.8. Penampang Tipe Formasi Ledok (Pringgoprawiro, 1983)... 25
Tabel 3.9. Penampang Tipe Formasi Mundu (Pringgoprawiro, 1983).... 27
Tabel 3.10.Penampang Tipe Formasi Paciran (Pringgoprawiro, 1983)..... 29
Tabel 3.11.Penampang Tipe Formasi Lidah (Pringgoprawiro, 1983)... 30
Tabel 4.1. Klasifikasi relief berdasarkan sudut lereng dan beda 31
tinggi (Van Zuidam-Cancelado, 1979) 34
Tabel 4.2. Klasifikasi bentuk lahan (Van Zuidam, 1983).... 35
Tabel 4.3. Klasifikasi unit geomorfologi bentukan proses
denudasional (D) (Van Zuidam, 1983).. 42
Tabel 4.4. Klasifikasi unit geomorfologi bentukan asal fluvial (F) 42
(Van Zuidam, 1983)..
Tabel 4.5. Klasifikasi unit geomorfologi bentukan asal struktural (S) 43
(Van Zuidam, 1983)...
Tabel 4.6. Klasifikasi skala Wentworth (1922, dalam Boggs, 1992) 44
Tabel 4.7. Klasifikasi batuan karbonat menurut Grabau
(1904, dalam Pettijohn, 1975)...45
Tabel 4.8. Klasifikasi perlapisan batuan (Mc. Kee dan Weir (1953, dalam 66
Pettijohn, 1975) dan cross bedding (Reineck & Singh, 1971)
Tabel 4.9. Klasifikasi percampuran antara karbonat-lempung 67
(Barth, Correns, dan Eskola, 1939, dalam Pettijohn, 1975)...........
67
Tabel 4.10. Klasifikasi batuan karbonat berdasarkan tekstur pengendapannya
menurut Embry dan Klovan (1971, perluasan dari klasifikasi 68

xiv
Dunham, 1962, dalam Widada, 1999)..... Halaman
Tabel 4.11. Kolom litologi satuan kalsirudit berlapis tipis Tawun
(tidak dalam skala sebenarnya).......
Tabel 4.12. Kisaran umur foraminifera plangtonik pada satuan kalsirudit 68
berlapis tipis Tawun berdasarkan zonasi Blow (1969).
Tabel 4.13. Lingkungan pengendapan pada satuan kalsirudit berlapis tipis 73
Tawun berdasarkan zonasi Tipsword, Setzer, dan Smith (1966,
dalam Pandita, 2009) dan Phleger (1960, dalam Pandita, 2009)... 74
Tabel 4.14. Kolom litologi satuan batupasir kuarsa Ngrayong
(tidak dalam skala sebenarnya)
Tabel 4.15. Kolom litologi satuan kalkarenit berlapis tebal Bulu 75
(tidak dalam skala sebenarnya).....
Tabel 4.16. Kisaran umur foraminifera plangtonik pada satuan kalkarenit 79
berlapis tebal Bulu berdasarkan zonasi Blow (1969).
Tabel 4.17. Lingkungan pengendapan pada satuan kalkarenit berlapis tebal 84
Bulu berdasarkan zonasi Tipsword, Setzer, dan Smith (1966,
dalam Pandita, 2009) dan Phleger (1960, dalam Pandita, 2009) 85
Tabel 4.18. Kolom litologi satuan kalkarenit berlapis tipis Wonocolo
(tidak dalam skala sebenarnya)..
Tabel 4.19. Kisaran umur foraminifera plangtonik pada satuan kalkarenit 86
berlapis tipis Wonocolo berdasarkan zonasi Blow (1969)..
Tabel 4.20. Lingkungan pengendapan pada satuan kalkarenit berlapis tipis 89
Wonocolo berdasarkan zonasi Tipsword, Setzer, dan Smith
(1966, dalam Pandita, 2009) dan Phleger (1960, dalam Pandita, 90
2009)...............................................................................................
Tabel 4.21. Kolom litologi satuan batupasir karbonatan Wonocolo
(tidak dalam skala sebenarnya).
91

Tabel 4.22. Kisaran umur foraminifera plangtonik pada satuan batupasir 96


karbonatan Wonocolo berdasarkan zonasi Blow (1969)

xv
Tabel 4.23. Lingkungan pengendapan pada satuan batupasir karbonatan Halaman
Wonocolo berdasarkan Tipsword, Setzer, dan Smith (1966,
dalam Pandita, 2009) dan Phleger (1960, dalam Pandita, 2009).. 97
Tabel 4.24. Kolom litologi satuan batupasir glaukonit karbonatan Ledok
(tidak dalam skala sebenarnya)
Tabel 4.25. Kisaran umur foraminifera plangtonik pada satuan batupasir 98
glaukonit karbonatan Ledok berdasarkan zonasi Blow (1969)..
Tabel 4.26. Lingkungan pengendapan pada satuan batupasir glaukonit 104
karbonatan Ledok berdasarkan zonasi Tipsword, Setzer, dan
Smith (1966, dalam Pandita, 2009) dan Phleger (1960, dalam 106
Pandita, 2009) .
Tabel 4.27. Kolom litologi satuan batulempung karbonatan Mundu
(tidak dalam skala sebenarnya)
Tabel 4.28. Kisaran umur foraminifera plangtonik pada satuan batulempung 107
karbonatan Mundu berdasarkan zonasi Blow (1969).
Tabel 4.29. Lingkungan pengendapan pada satuan batulempung karbonatan 111
Mundu berdasarkan zonasi Tipsword, Setzer, dan Smith (1966,
dalam Pandita, 2009) dan Phleger (1960, dalam Pandita, 2009) 112
Tabel 4.31. Kolom litologi satuan endapan lempung-pasir
(tidak dalam skala sebenarnya).
Tabel 4.32. Kolom stratigrafi daerah penelitian (tidak dalam skala 113
sebenarnya).....
Tabel 4.33. Korelasi stratigrafi daerah penelitian dengan stratigrafi regional 115
Zona Rembang (Pringgoprawiro, 1983) (tidak dalam skala
sebenarnya) 117
Tabel 4.33. Klasifikasi lipatan berdasarkan interlimb angle
(Fleuty, 1964, dalam Ragan, 1973 )
118

Tabel 4.34. Klasifikasi lipatan berdasarkan hinge-surface dan hinge-line 124


(Fleuty, 1964, dalam Ragan, 1973)...

xvi
Tabel 4.35. Ukuran breksi sesar (Davis, dkk, 1996)Halaman
Tabel 5.1. Hubungan antara lingkungan pengendapan dan fasies sedimen
(Selley, 1976). 125
Tabel 5.2. Kehadiran mineral glaukonit dan karbon terhadap 132
lingkungan terbentuknya (Selley, 1976)..
Tabel 5.3. Analisis unit pengendapan 1 (bukan skala sebenarnya).. 158
Tabel 5.4. Analisis unit pengendapan 2 (bukan skala sebenarnya)
159
167
170

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Peta lokasi daerah penelitian..

xvii
Gambar 2.1. Skema alur penelitian.
Gambar 3.1. Peta Fisiografi Jawa Tengah & Jawa Timur
(modifikasi dari Van Bemmelen, 1949, dalam Hartono, 2010). Halaman
Gambar 3.2. Peta pola struktur regional Jawa 3
(Satyana dan Purwaningsih, 2002).. 6
Gambar 3.3. Kerangka tektonik Pulau Jawa (modifikasi dari Baumann, 1982
(dalam Van Gorsel, dkk., 1989) dan Simandjuntak dan Barber, 14
1996 (dalam Prasetyadi, 2007)
Gambar 3.4. Peta pola struktur Jawa menurut Sribudiyani, dkk 37
(2003 dalam Prasetyadi, 2007)...
Gambar 4.1. Satuan geomorfologi bergelombang kuat denudasional (D1),
perbukitan struktural (S6). Lensa menghadapke SE (Foto 39
diambil di LP 11, daerah Sumberagung), koordinat 06 o 48 10
LS dan 111o 35 22 BT.. 40
Gambar 4.2. Satuan geomorfologi bergelombang kuat denudasional (D1),
bergelombang lemah denudasional (D5). Lensa menghadap ke
selatan (Foto diambil di LP 7, dusun Sambirata), koordinat 06o
47 14 LS dan 111o 34 30 BT........................................ 46
Gambar 4.3. Satuan geomorfologi bergelombang kuat denudasional (D1),
perbukitan struktural (S6), dataran fluvial (F1). Lensa
menghadap ke NE (Foto diambil di LP 12, Desa
Sumberagung), koordinat 06o 48 14.9 LS dan 111o 35 06 47
BT............................................
Gambar 4.4. Satuan geomorfologi bergelombang kuat denudasional (D1),
perbukitan struktural (S6), dan waduk (F2). Lensa menghadap
ke selatan (Foto diambil di LP 14, dusun Lodan), koordinat 06o
47 35 LS dan 111o 36 31 BT 48

Gambar 4.5. Satuan geomorfologi bergelombang kuat denudasional (D1),


perbukitan struktural (S6), dan waduk (F2). Lensa menghadap
ke SE (Foto diambil di LP 14, dusun Lodan), koordinat 06 o 47 49

xviii
35 LS dan 111o 36 31 BT............................................ Halaman
Gambar 4.6. Jenis-jenis pola aliran sungai menurut Howard (1967, dalam
Thonbury,1969)
Gambar 4.7. Peta pola pengaliran dan genetic sungai daerah penelitian
Gambar 4.8. Kenampakan aliran Sungai Gembyang dengan sifat erosional 50
vertikal yang membentuk huruf V. Lensa menghadap ke utara
(Foto diambil di LP 5, daerah Sumbermulyo), koordinat 06 o 49 51
00 LS dan 111o 34 35 BT... 58
Gambar 4.9. Kenampakan aliran Sungai Beliksambi dengan sifat erosional
vertikal dan horizontal yang membentuk huruf U. Lensa
menghadap ke tenggara (Foto diambil di LP 16, Bendungan
Lodan), koordinat 06o 47 47 LS dan 111o 36 41 BT . 60
Gambar 4.10. Stadia daerah menurut Lobeck (1939).
Gambar 4.11. Kenampakan proses pelapukan yang intensif (Lensa
menghadap ke arah selatan). Foto diambil di LP 5, daerah
Wonokerto, koordinat 06 49' 37 LS dan 111 34' 37 BT... 61
Gambar 4.12. Klasifikasi batupasir terigen (Pettijohn, 1975).....62
Gambar 4.13. a) Singkapan kalsirudit berlapis tipis (Lensa menghadap ke
arah N 167 E), b) Kenampakan handspecimen kalsirudit c)
Kenampakan kalsirudit dalam lup yang memperlihatkan 64
pecahan fosil Orbitoid (diperbesar 10x). (Foto diambil di LP 67
11, daerah Sumberagung), koordinat06 48' 10 LS dan 111
35' 22 BT..
Gambar 4.14. Singkapan kalkarenit (Lensa menghadap ke arah SW). Foto
diambil di LP 101, daerah Tegalrejo, koordinat 06 48' 29 LS
dan 111 36' 21 BT...
71

Gambar 4.15. a) Singkapan kalsirudit sisipan batupasir kuarsa (kurang


kompak) (Lensa menghadap ke arah selatan), b) Kenampakan 72
batupasir kuarsa kurang kompak (Foto diambil di LP 24, Desa

xix
Sambirata), koordinat 06 47' 47 LS dan 111 34' 19 Halaman
BT...................................
Gambar 4.16. a) Singkapan yang memperlihatkan kontak antara kalkarenit
Formasi Bulu dengan batupasir kuarsa Anggota Ngrayong,
Formasi Tawun (Lensa menghadap ke arah timur), b)
Singkapan batupasir kuarsa, c) Kenampakan batupasir kuarsa. 73
(Foto diambil di LP 85, Desa Lodan Kulon), koordinat 06 47'
29 LS dan 111 35' 32 BT..
Gambar 4.17. a) Singkapan yang memperlihatkan kontak antara kalkarenit
Formasi Bulu dengan batupasir kuarsa sisipan lignit Anggota
Ngrayong, Formasi Tawun (Lensa menghadap ke arah NW),
b) Singkapan batupasir kuarsa sisipan lignit, c) Kenampakan 77
lignit secara handspecimen. (Foto diambil di LP 67, Desa
Sambirata), koordinat 06 47' 40 LS dan 111 35' 07 BT
Gambar 4.18. a) Singkapan yang memperlihatkan kontak antara kalkarenit
Formasi Bulu dengan batupasir kuarsa Anggota Ngrayong,
Formasi Tawun (Lensa menghadap ke arah timur), b)
Kenampakan struktur berlapis tebal pada kalkarenit, c) 78
Singkapan kalkarenit. (Foto diambil di LP 85, Desa Lodan
Kulon), koordinat 06 47' 29 LS dan 111 35' 32 BT.
Gambar 4.19. a) Singkapan kalkarenit berlapis tebal sisipan kalsirudit (Lensa
menghadap ke arah N 10 E), b) Kenampakan sisipan kalsirudit
(Lensa menghadap ke arah N 18 E), c) Kenampakan pecahan
fosil orbitoid (Foto diambil di LP 14, Gunung Pasir Kuarsa), 82
koordinat 06 47' 31 LS dan 111 36' 28 BT

Gambar 4.20. a) Singkapan kalkarenit berlapis tipis (Lensa menghadap 83


kearah N 35E), b) Kenampakan kalkarenit, c) Kalkarenit
dalam perbesaran 10x (Foto diambil di LP 5, daerah

xx
Wonokerto), koordinat 06 49' 37 LS dan 111 34' 37 BT. Halaman
Gambar 4.21. a) Singkapan batupasir karbonatan (Lensa menghadap ke arah
N 180E), b) Kenampakan struktur laminasi dalam batupasir
karbonatan (Lensa menghadap ke arah N 180 E), c) Batupasir
karbonatan dalam perbesaran 10x. (Foto diambil di LP 3, 89
daerah perhutani Desa Sale), koordinat 06 51' 02 LS dan
111 35' 48 BT.
Gambar 4.22. Kenampakan struktur cross bedding pada singkapan batupasir
karbonatan (Lensa menghadap ke arah selatan). Foto diambil
di LP 41, daerah perhutani Desa Sale, koordinat 06 50' 45
LS dan 111 35' 32 BT 94
Gambar 4.23. Kenampakan singkapan batupasir karbonatan dengan sisipan
kalkarenit (Lensa menghadap ke arah selatan). Foto diambil di
LP 48, daerah perhutani Desa Sale, koordinat 06 50' 29 LS
dan 111 35' 47 BT... 95
Gambar 4.24. a) Kenampakan struktur sedimen mega cross bedding (Lensa
menghadap ke arah SE), b) Kenampakan lapisan yang silang
siur pada struktur sedimen mega cross bedding (Lensa
menghadap ke arah SW), c) Kenampakan lapisan batupasir 96
glaukonit karbonatan. (Foto diambil di 100 meter sebelah
selatan LP 38, Kali Kening, daerah Gembyangindah),
koordinat 06 51' 33 LS dan 111 36' 51 BT.
Gambar 4.25. a) Kenampakan struktur sedimen mega cross bedding dalam
singkapan (Lensa menghadaparah timur), b) Kenampakan dari
lapukan batupasir glaukonit karbonatan, c) Kenampakan trace
fossil (Foto diambil di LP 38, Kali Kening, daerah 101
Gembyangindah),koordinat 0651'30LS dan 11136'50 BT...

Gambar 4.26. Kenampakan struktur sedimen mega cross bedding (Lensa


menghadap ke arah selatan) (Foto diambil 100 meter
selelah selatan LP 2, Kali Peterongan, daerah Anjangsana), 102

xxi
koordinat 06 51' 40 LS dan 111 35' 42 BT Halaman
Gambar 4.27. a) Kenampakan struktur sedimen cross bedding dalam
singkapan batupasir glukonit karbonatan sisipan kalkarenit
(Lensa menghadap ke arah selatan), b) Kenampakan lapisan
yang saling memotong memperlihatkan kenampakan dari 103
struktur sedimen cross bedding, c) Kenampakan sisipan
kalkarenit dalam singkapan batupasir glaukonit karbonatan.
(Foto diambil di LP 50, Kali Kening, daerah Krinjo),
koordinat 06 51' 40 LS dan 111 36' 44 BT..
Gambar 4.28. a) Singkapan batulempung karbonatan (Lensa menghadap ke
arah SE), b) Kenampakan struktur masif pada batulempung
karbonatan. (Foto diambil di LP 25, Kali Gempol, Desa Joho),
koordinat 06 51' 45 LS dan 111 35' 07 BT.. 104
Gambar 4.29. a) Singkapan batulempung karbonatan dan batulanau
karbonatan (Lensa menghadap ke arah timur), b) Perulangan
batulempung karbonatan dan batulanau karbonatan, c)
Kenampakan batulanau karbonatan yang memperlihatkan 110
batuan kurang kompak. (Foto diambil di LP 36, Kali Gempol,
Desa Joho), koordinat 06 51' 42 LS dan 111 35' 37 BT..
Gambar 4.30. Singkapan endapan lempung-pasir. Lensa menghadap ke
tenggara (Foto diambil di LP 16, Bendungan Lodan),
koordinat 6o 47 47 LS dan 111o 36 41 BT.
Gambar 4.31. Konsep elipsoid tegasan mendatar mengkiri (Harding, 1979, 111
dalam Satyana, 2004).

115

120
Gambar 4.32. Kenampakan struktur perlapisan yang relatif berarah E-W
pada batuan kalkarenit dan batupasir kuarsa yang terdapat di
daerah penelitian (Lensa menghadap ke arah timur). (Foto

xxii
diambil di LP 85, Desa Lodan Kulon), koordinat 06 47' 29 Halaman
LS dan 111 35' 32 BT.
Gambar 4.33. Kekar gerus (warna merah) yang dijumpai pada batupasir
karbonatan (a) Lensa menghadap ke arah timur, b) Lensa
menghadap ke N 285 E). (Foto diambil di LP 13 dan LP 80,
Desa Sambirata dan Desa Lodan Kulon), koordinat 6 47 15 121
LS dan 111 37 32BT dan 6 47 14.6 LS dan 111 36
27.1BT..
Gambar 4.34. Geometri dan nomenclature struktur perlipatan
(Twiss dan Moore, 1992)
Gambar 4.35. Mekanisme gaya yang menyebabkan terbentuknya suatu
lipatan (Prastistho, 1993, dalam Mangiwa, 2012).. 122
Gambar 4.36. Sudut antar sayap antiklin Lodan................................................
Gambar 4.37. Steriogram antiklin Lodan.......................................................... 123
Gambar 4.38. Sudut antar sayap sinklin Krajan.................................................
Gambar 4.39. Steriogram sinklin Krajan........................................................... 124
Gambar 4.40. Tiga jenis sesar berdasarkan morfologinya 126
(Twiss dan Moore, 1992). 126
Gambar 4.41. Klasifikasi Sesar (Davis & Reynold, 1996) 128
Gambar 4.42. Hubungan struktur penyerta terhadap arah pergerakan sesar 128
(Mason L. Hill, 1976 dalam Davis, dkk, 1996)...........................
Gambar 4.43. Kenampakan lapisan tegak pada batuan kalkarenit (Lensa 129
menghadap ke arah selatan). Foto diambil di LP 79, Desa 130
Sambirata, koordinat 06 47' 23 LS dan 111 34 23 BT...
Gambar 4.44. Kenampakan lapisan tegak pada batuan kalkarenit. (Foto 132
diambil di LP 84, Desa Lodan Kulon, koordinat 06 47 21
LS dan 111 35' 40 BT)
134
Gambar 4.45. Gerakan tanah tipe runtuhan pada jalur sesar (Lensa
menghadap ke arah NW). Foto diambil di LP 77, Desa
Sambirata, koordinat 06 47' 32 LS dan 111 34' 44 BT 134

xxiii
Gambar 4.46. a) Kenampakan sesar normal, b) Lapisan kalsirudit pada Halaman
Gunung Pasir Kuarsa (LP14), c) Lapisan kalsirudit pada kaki
Gunung Pegat (Lensa menghadap ke arah utara). Foto diambil
di selatan LP 14, Bendungan Lodan, koordinat 06 47' 40 LS 134
dan 111 36' 33 BT...
Gambar 4.47. Kenampakan drag fault akibat dari pergerakan sesar mendatar
mengkiri (Lensa menghadap ke arah utara). Foto diambil di
LP 12, Desa Sumberagung, koordinat 06 48' 15 LS dan 111
35' 08 BT.. 135
Gambar 4.48. Mata air (Lensa menghadap ke arah NE). Foto diambil
sebelah utara di LP 83, Desa Lodan Kulon, koordinat 06 47'
08 LS dan 111 35' 56 BT...
Gambar 4.49. a) Kelurusan Kali Kening (Lensa menghadap ke arah SE), b) 136
Kenampakan struktur sedimen mega cross bedding (Foto
diambil di LP 46, dusun Krajan, koordinat 06 51' 32 LS dan
111 36' 17 BT), c) Kenampakan struktur sedimen mega 137
cross bedding (Foto diambil di sebelah utara LP 1, dusun
Krajan, koordinat 06 51' 39 LS dan 111 36' 28 BT), d)
Kenampakan offset struktur sedimen mega cross bedding pada
peta topografi..
Gambar 4.50. Mekanisme struktur geologi daerah penelitian
Gambar 4.51. Ilustrasi pengendapan satuan kalsirudit berlapis tipis Tawun.
Gambar 4.52. Ilustrasi pengendapan satuan batupasir kuarsa Ngrayong...
Gambar 4.53. Ilustrasi pengendapan satuan kalkarenit berlapis tebal Bulu... 138
Gambar 4.54. Ilustrasi pengendapan satuan kalkarenit berlapis tipis 139
Wonocolo. 141
Gambar 4.55. Ilustrasi pengendapan satuan batupasir karbonatan Wonocolo... 142
143
Gambar 4.56. Ilustrasi pengendapan satuan batupasir glaukonit karbonatan
Ledok... 144
Gambar 4.57. Ilustrasi pengendapan satuan batulempung karbonatan Mundu.. 145

xxiv
Gambar 4.58. Ilustrasi fase tektonik dan pengangkatan di daerah penelitian Halaman
Gambar 4.59. Tata guna lahan perkebunan jati di wilayah pehutani
Kecamatan Sale (Lensa menghadap ke selatan). Foto diambil 146
di LP 29, kawasan perhutani 147
Gambar 4.60. Tata guna lahan perkebunan jagung (Lensa 149
menghadap ke selatan). Foto diambil di LP 25, Desa Joho
Gambar 4.61. Lokasi pengolahan kayu jati milik perhutani (Lensa
menghadap ke tenggara). Foto diambil 100 meter sebelah 150
timur di LP 2, daerah Anjangsana
Gambar 4.62. Pemanfaatan air bawah permukaan (air sumur bor) untuk di 151
daerah Krajan (lensa kamera menghadap ke arah selatan).
Foto diambil di LP 46.
Gambar 4.63. Sumber daya air permukaan (lensa menghadap ke arah 151
selatan). Foto diambil di LP 16, Bendungan Lodan..
Gambar 4.64. Bahan galian batupasir kuarsa (lensa menghadap ke arah NE).
Foto diambil di LP 67, Desa Sambirata) 152
Gambar 4.65. Gerakan tanah tipe longsoran (lensa menghadap ke NE). Foto
diambil di LP 40, Kali Kening, daerah Gembyangindah... 152
Gambar 4.66. Kondisi jalan yang rusak (lensa menghadap ke arah tenggara.
(Foto diambil di LP 30, Desa Wonokerto). 153
Gambar 5.1. Rekonstruksi geomorfologi lingkungan coastal
(Reineck, 1971) 154
Gambar 5.2. Perkembangan sikuen vertikal suatu unit sedimentasi
pada lingkungan coastal (Reineck, 1971)...154
Gambar 5.3. Pola sedimen dari profil beach shelf mud
(Reineck dan Singh, 1971)...160

160
Gambar 5.4. Zonasi unit sedimentasi lingkungan beach nearshore
(Howard dan Reineck, 1972)..161
Gambar 5.5. Kesebandingan unit pengendapan 1 dengan fasies beach-shelf

xxv
mud (Reineck dan Singh, 1971) (bukan skala sebenarnya)..... Halaman
Gambar 5.6. Kesebandingan unit pengendapan 2 dengan fasies beach-shelf
mud (Reineck dan Singh, 1971) (bukan skala sebenarnya)..... 162

166

169

xxvi