Anda di halaman 1dari 5

PORTFOLIO PENEGAKKAN DIAGNOSIS ASFIKSIA RINGAN

dr. Indah Prasetya Putri

Subyektif
Pasien bayi baru lahir dengan keluhan lahir tidak langsung menangis. Bayi lahir
spontan. Ketuban hijau kental dan gerakan bayi minimal.

Objektif
Hasil pemeriksaan fisik : Bayi laki laki merintih, kulit muka sampai badan terlihat
pucat, gerakan bayi minimal, sisa ketuban hijau kental. BBL : 2600 gram PB : 45 cm
TTV : HR 132 x/menit, Nafas 36 x/menit, Suhu rektal 36,8 0C
Anus (+) Apgar skor 6/7

Assesment
Asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan
teratur. Asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) ditandai dengan keadaan hipoksemia, hiperkarbia
dan asidosis. Penilaian awal pada BBL sangat membantu untuk penatalaksanaan asfiksia.
Penilaian pada BBL yang terkait dengan penatalaksanaan resusitasi dibuat
berdasarkan dengan keadaan klinis. Penilaian awal harus dilakukan pada semua BBL dan
penatalaksanaan selanjutnya dilakukan menurut dari hasil penilaian tersebut. Penilaian
berkala pada setiap langkah resusitasi dilakukan setiap 30 detik. Penilaian keadaan klinis
dilakukan berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration).

Tabel 1. Skor Apgar

Berdasarkan skor APGAR dapat ditentukan derajat asfiksia yang terjadi pada BBL
yang diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:

1. Asfiksia berat dengan skor APGAR 0-3

1
2. Asfiksia ringan sedang dengan skor APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan skor APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan skor APGAR 10

Asfiksia pada BBL dapat terjadi dikarenakan adanya gangguan sirkulasi darah
uteroplasenter sehingga mengakibatkan oksigen yang menuju ke bayi menjadi berkurang dan
mengakibatkan bayi menjadi hipoksia yang berlanjut menjadi asfiksia. Menurut American
Heart Association and American Academy of Pediatrics (AHA & AAE), penilaian faktor
resiko untuk setiap BBL sangatlah penting dalam memberikan manifestasi klinis untuk
terjadinya asfiksia pada BBL. AHA dan AAE membagi faktor resiko terjadinya asfiksia
menjadi 2, yaitu faktor resiko antepartum dan intrapartum.
a. Faktor resiko antepartum
Diabetes pada ibu
Hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi kronik
Anemia janin / isomunisasi
Riwayat kematian janin
Perdarahan pada trimester dua dan tiga
Infeksi ibu
Ibu dengan penyakit jantung, ginjal, paru, tiroid atau kelainan neurologi
Polihidramnion
Oligohidramnion
Ketuban pecah dini
Hidrops fetalis
Kehamilan lewat waktu
Kehamilan ganda
Berat janin tidak sesuai dengan masa kehamilan
Terapi obat seperti magnesium karbonat, beta blocker
Ibu pengguna obat bius
Malformasi atau anomali janin
Berkurangnya gerakan janin
Tanpa pemeriksaan antenatal
Usia <16 tahun atau > 35 tahun
b. Faktor resiko intrapartum
Seksio sesaria darurat
Kelahiran dengan ekstraksi forsep atau vakum
Letak sungsang atau presentasi abnormal
Kelahiran kurang bulan
Partus presipitatus
Korioamnionitis
Ketuban pecah lama (>18 jam sebelum persalinan)
Partus lama (> 24 jam)

2
Kala dua lama (> 2 jam)
Makrosomnia
Bradikardi janin persisten
Frekuensi jantung janin yang tidak beraturan
Penggunaan anastesi umum
Hiperstimulasi uterus
Penggunaan obat narkotika pada ibu dalam 4 jam sebelum persalinan
Air ketuban bercampur mekonium
Prolaps tali pusat
Plasenta previa
Solusio plasenta
Perdarahan intrapartum

Planning
Penilaian awal penting dilakukan pada setiap BBL untuk menentukan apakah tindakan
resusitasi harus segera dimulai. Segera setelah lahir, penolong harus melakukan penilaian
mengenai :
Apakah bayi lahir cukup bulan ?
Apakah air ketuban jernih dan tidak bercampur mekonium?
Apakah bayi bernafas adekuat atau menangis?
Apakah tonus otot baik?
Bila pertanyaan diatas jawabannya Ya, berarti bayi baik dan tidak memerlukan resusitasi
dan langsung dilakukan asuhan bayi normal. Bila salah satu atau lebih pertanyaan diatas
jawabannya Tidak, bayi harus segera dilakukan tindakan resusitasi dengan langkah awal
resusitasi.
Langkah awal resusitasi terdiri dari tindakan berurutan sebagai berikut :
Memberikan kehangatan
Memposisikan bayi dan membuka/ membersihkan jalan nafas
Mengeringkan, sambil merangsang taktil
Memposisikan kembali
Menilai bayi
Penilaian kondisi bayi kembali dilakukan meliputi penilaian pernafasan, frekuensi
jantung dan warna kulit sesuai dengan alur sistematika resusitasi bayi baru lahir dibawah ini.

3
Pada kasus, bayi diketahui cukup bulan, cairan ketuban hijau kental, tidak langsung
menangis dan tonus otot tidak naik dengan gerakan minimal sehingga dilakukan resusitasi
sampai dengan memberikan kehangatan, posisikan, bersihkan jalan nafas, keringkan,
rangsang dan reposisi. Setelah dikonsulkan dengan spesialis anak diberikan terapi :
Jaga kehangatan
Oksigen liter
Amoksan 3 x 0,4 cc
Pemberian obat tetes Gentamicin dan Injeksi Neo K
Bila stabil berikan ASI dan rawat gabung

Pencegahan
Pencegahan secara umum terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan
menghilangkan atau meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Selain itu juga
menghindari komplikasi saat kehamilan, persalinan dan melahirkan.

4
Daftar Pustaka
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Standar pelayanan medis kesehatan anak. Pusponegoro
H, Kosim MS, Rusmin K, penyunting. Edisi ke I. Jakarta : Badan Penerbit
IDAI.2005;h.272
2. Nani D. Buku Ajar Neonatologi. Badan Penerbit IDAI. Jakarata : 2008.h.103-24.
3. American Heart Association and American Academy of Pediatrics.Textbook of
neonatal resucitation. J Klattwinkel,penyunting. Edisi ke 5. 2006.