Anda di halaman 1dari 16

Kejadian Infeksi Hepatitis B dan Hubungannya dengan Penyakit Akibat Kerja

Wendy Yudija Limbong Allo / 102012312

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Kebon jeruk-Jakarta Barat Telp. 56942061

Email: wendyyudija@yahoo.co.id

Pendahuluan

Ilmu kedokteran kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kedokteran yang berhubungan
denga diagnosis, penatalaksanaan, dan pencegahan penyakit yang disebabkan atau ditimbulkan
akibat bahaya yang terjadi di tempat kerja. Oleh sebab itu, seorang dokter perusahaan harus
terampil dalam ilmu kedokteran preventif dan kuratif yang dapat diterapkan di lingkungan
tempat kerja.1

Data International Labour Organization (ILO) tahun 2003 didapatkan setiap hari 6000
orang meninggal karena pekerjaan, 1 orang tiap 15 detik dan 2,2 juta per tahun akibat penyakit
atau kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Jumlah pria yang meninggal dua kali lebih
banyak daripada wanita. Indonesia menduduki peringkat ke-26 dari 27 negara. Data di Indonesia
jumlah pekerja berdasarkan Biro Pusat Statistik tahun 2000 adalah 95 juta orang, 50% bekerja di
sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, 70-80% angkatan kerja bergerak di sektor informal.
Pekerja di sektor itu umumnya bekerja dalam lingkungan kerja yang kurang baik, manajemen
kurang terorganisasi, perlindungan kerja tidak optimal, dan tingkat kesejahteraan yang kurang.2

Satu diantara 20 orang akan terkena infeksi hepatitis B. Virus dapat bertahan hidup di luar
tubuh manusia sekitar kira-kira 7 hari. Virus ini seharusnya menjadi konsen pada industri
pelayanan kesehatan dan industri lain yang berhubungan dengan darah manusia ataupun produk
darah. Bagi industri dimana pekerja sering kontak dengan darah ataupun produk darah, edukasi
merupakan hal yang sangat dibutuhkan.3

1 | Page
Pembahasan

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 dinyatakan


bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit
atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang.4

Penyakit Akibat Pajanan Biologis

Berbeda dengan pajanan lainnya, pajanan biologis tidak memiliki nilai ambang/ NAB,
karena pada pajanan terendah sekalipun, apabila mikroorganismenya sangat virulen dan daya
tahan tubuh sedang rendah maka dapat menimbulkan penyakit.4

Penyakit akibat kerja karena pajanan biologis adalah penyakit yang disebabkan pajanan
biologis yang terjadi akibat kontak langsung dengan bahan kerja, proses kerja, dan lingkungan
kerja. Pajanan biologis dapat terjadi karena akibat:4

Proses kerja dan bahan kerja

Bila pekerja terpajan bahan biologis karena bekerja langsung dengan bahan biologis
tersebut ataupun merupakan hasil langsung dari proses kerja yang dilakukan pekerja.

Lingkungan kerja

Bila pekerja terpajan lingkungan yang tercemar pajanan biologis yang berasal langsung
dari proses kerja di tempat kerja. Ini termasuk penyakit akibat kerja. Sebagai contoh,
penyakit hepatitis pada petugas laboratorium kesehatan.

Bila pekerja terpajan bahan biologis akibat tercemarnya lingkungan kerja oleh suatu
bahan biologis yang tidak langsung akibat proses kerja seperti hygene dan
pemeliharantempat kerja yang tidak baik bukan merupakan PAK. Contohnya penyakit
hepatitis pada pekerja pabrik sepatu.

Pajanan biologis yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja terdiri dari: (1) golongan
mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, jamur; (2) vertebrata seperti ternak dan binatang
liar; (3) invertebra (serangga); (4) binatang dalam air.4

2 | Page
Centers for Disease Control/CDC mengkategorikan berbagai penyakit di tingkat
Biohazard, Level 1 menjadi risiko minimum dan Level 4 menjadi risiko ekstrim. Laboratorium
dan fasilitas lainnya dikategorikan sebagai BSL (Biosafety Level) 1-4. Pemabagiannya adalah:5

Biohazard Level 1: Bakteri dan virus termasuk Bacillus subtilis, hepatitis,


Escherichia coli, varicella (cacar air), serta beberapa kultur sel dan bakteri non-
menular. Pada tingkat ini tindakan pencegahan terhadap bahan biohazardous yang
dimaksud adalah minimal, kemungkinan besar melibatkan sarung tangan dan beberapa
jenis perlindungan wajah.

Biohazard Level 2: Bakteri dan virus yang menyebabkan hanya penyakit ringan
bagi manusia, atau sulit untuk kontak melalui aerosol dalam pengaturan laboratorium,
seperti hepatitis A, B, dan C, influenza A, penyakit Lyme, salmonella, gondok,
campak, scrapie, demam berdarah. "Pekerjaan diagnostik rutin dengan spesimen klinis
dapat dilakukan secara aman di Biosafety Level 2, menggunakan Biosafety Level 2
praktek dan prosedur.

Biohazard Level 3: Bakteri dan virus yang dapat menyebabkan parah penyakit
fatal pada manusia, tapi untuk yang vaksin atau perawatan lain ada, seperti anthrax,
virus West Nile, Venezuela ensefalitis kuda, virus SARS, TBC, tifus, demam Rift
Valley, HIV, Rocky Mountain spotted fever, demam kuning, dan malaria. Di antara
parasitesPlasmodium falciparum, yang menyebabkan Malaria, dan Trypanosoma cruzi,
yang menyebabkan trypanosomiasis, juga berada di bawah tingkat ini.

Biohazard Level 4: Virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit fatal pada manusia,
dan yang vaksin atau perawatan lain yang tidak tersedia, seperti demam hemoragik,
virus Marburg, virus Ebola, hantaviruses, Lassa demam virus, Crimean-Kongo demam
berdarah, dan penyakit hemoragik.

3 | Page
Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi

1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis
i. Identitas
Identitas biasanya meliputi nama lengkap pasien, umur atau
tanggal lahir, jenis kelamin. nama orang tua atau suami atau istri
atau penanggung jawab, alamat pendidikan, pekerjaan, suku
bangsa dan agama. Hasil skenario pasien seorang perempuan
berumur 32 tahun, bekerja sebagai perawat di IGD RS. X selama
10 tahun.
ii. Keluhan Utama
Lemas sejak 5 hari yang lalu.
iii. Riwayat penyakit sekarang
Demam hilang timbul (menggigil), mual dan kembung, nafsu
makan berkurang, buang air kecil warnanya pekat seperti teh,
belum konsumsi obat.
iv. Riwayat penyakit dahulu
Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya
hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit
sekarang.
v. Riwayat keluarga,
Dapat digunakan untuk memperkuat diagnosis. Karena biasanya
penularan suatu penyakit berasal dari keluarga sendiri yang
terjangkit atau karena faktor genetik pada penyakit-penyakit yang
terpaut gen.5
vi. Riwayat sosial,
Termasuk tentang pekerjaan pasien. Pada umumnya jenis
pekerjaan juga berperan penting dalam penyebab timbulnya
penyakit. Sesuai dengan skenario pada pasien seorang perawat di
IGD RS. X selama 10
Untuk memastikan kemunculan gejala dalam hubungannya dengan
pekerjaan perlu ditanyakan: apakah gejala yang timbul membaik
pada saat istirahat atau liburan?, apakah terdapat pekerja lain yang
menderita gejala yang sama di lingkungan kerja?, apakah terjadi

4 | Page
pajanan debu, uap, atau partikel-partikel zat kimia yang beracun di
lingkungan kerja?.1
Pertanyaan spesifik yang ada hubungannya dengan pajanan
penyakit akibat kerja seperti: pernah bekerja di laboratorium,
seberapa sering terpajan dengan jarum suntik, menangani pasien
kontak langsung dengan cairan tubuh (keringat,darah).1
Riwayat kesehatan lingkungan. Dan terakhir mengenai industri lain
di sekeliling tempat kerja (tingkat polusi lingkungan, pajanan
limbah indsutri/percikan zat beracun dari tempat lain).1
b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/75 mmHg
Frekuensi nadi : 70x/menit
Frekuensi napas : 22x/menit
Suhu : 37,8C

Pemeriksaan mata
Sklera : Ikterik di kedua mata
Konjunctiva : Tidak tampak anemis

Pemeriksaan abdomen
Hepar teraba 1 jari dibawah arcus costae
Lien tidak teraba
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit akibat kerja dapat dibagi
menjadi pemeriksaan laboratorium umum dan khusus. Pemeriksaan
laboratorium umum adalah: (1) Pemeriksaan lab rutin, misalnya
pemeriksaan darah rutin, urin rutin, foto rontgen toraks, EKG; (2)
Pemeriksaan labarotorium non spesifik akibat pemajanan misalnya:
pemeriksaan fungsi hati sebagai indikasi pajanan terhadap zat
hepatotoksik.1
Pemeriksaan laboratorium khusus meliputi (1) Pemeriksaan
laboratorium spesifik akibat pajanan, (2) Tes untuk suatu kelainan
genetika dapat dilakukan dengan tes sensitivitas, (3) perubahan
kromosom.1

5 | Page
Tes Fungsi Hati

Tes fungsi hati yang standar meliputi penentuan kadar beberapa enzim hati dalam serum yang
mungkin dilepaskan sel hati yang rusak ke dalam aliran darah. Pemeriksaan biokimiawi yang
penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar AST/ALT. Pasien dengan kadar
AST/ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh karena
itu pasien dengan AST/ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi.6

Virus atau bakteri yang menginfeksi manusia masuk ke aliran darah dan terbawa sampai
ke hati. di sini agen infeksi menetap dan mengakibatkan peradangan dan terjadi kerusakan sel-sel
hati (hal ini dapat dilihat pada pemeriksaan SGOT dan SGPT). akibat kerusakan ini maka terjadi
penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin sehingga terjadi disfungsi hepatosit dan
mengakibatkan ikterik. peradangan ini akan mengakibatkan peningkatan suhu tubuh sehingga
timbul gejala tidak nafsu makan (anoreksia).6

Pemeriksaan serologi

1. HBsAg
Diagnosis infeksi hepatitis B terutama dengan mendeteksi hepatitis B surface antigen
(HBsAg) dalam darah. Kehadiran HBsAg berarti bahwa ada infeksi virus hepatitis B
aktif. Menyusul suatu paparan pada virus hepatitis B, HBsAg menjadi terdeteksi dalam
darah dalam waktu empat minggu. Pada individu-individu yang sembuh dari infeksi virus
hepatitis B akut, eliminasi atau pembersihan dari HBsAg terjadi dalam waktu empat
bulan setelah timbulnya gejala-gejala.Infeksi virus. Hepatitis B kronis didefinisikan
sebagai HBsAg yang menetap lebih dari 6 bulan.6
2. Anti-HBs
Setelah HBsAg dieliminasi dari tubuh, antibodi-antibodi terhadap HBsAg (anti-HBs)
biasanya timbul. Anti-HBs ini menyediakan kekebalan pada infeksi virus hepatitis B
yang berikutnya. Sama seperti individu-individu yang telah berhasil divaksinasi
terhadap virus hepatitis B mempunyai anti-HBs yang dapat diukur dalam darah.6
3. Anti-HBc
HBc hanya dapat ditemukan dalam hati dan tidak dapat terdeteksi dalam darah.
Kehadiran dari jumlah-jumlah yang besar dari hepatitis B core antigen dalam hati

6 | Page
mengindikasikan suatu reproduksi virus yang sedang berlangsung. Ini berarti bahwa
virus aktif. Antibodi terhadap hepatitis B core antigen, dikenal sebagai antibodi hepatitis
B core (anti-HBc) yang terdeteksi dalam darah ada dua macam yakni IgM dan IgG.6
4. HBeAg, anti-HBe,
HBeAg dan antibodi-antibodinya, anti-HBe, adalah penanda-penanda (markers) yang
bermanfaat untuk menentukan kemungkinan penularan virus oleh seseorang yang
menderita infeksi virus hepatitisB kronis. Mendeteksi keduanya HBeAg dan anti-HBe
dalam darah biasanya adalah eksklusif satu sama lain. Sesuai dengan itu, kehadiran
HBeAg berarti aktivitas virusyang sedang berlangsung dan kemampuan menularkan pada
yang lainnya, sedangkan kehadiran anti HBe menandakan keadaan yang lebih tidak
aktif dari virus dan risiko penularan yang lebih kecil.6
5. HBV DNA
Penanda yang paling spesifik dari replikasi dan aktivitas virus hepatitis B. Metode yang
digunakan adalah PCR. Tujuan mengukur hepatitis B virus DNA biasanya adalah untuk
menentukan apakah infeksi virus hepatitis B aktif atau tidak aktif (diam). Perbedaan ini
dapat dibuat berdasarkan jumlah hepatitis B virus DNA dalam darah. Tingkat-tingkat
yang tinggi dari DNA mengindikasikan suatu infeksi yang aktif, dimana tingkat-tingkat
yang rendah mengindikasikan suatu infeksi yang tidak aktif (tidur). Jadi,pasien-pasien
dengan penyakit yang tidur (tidak aktif) mempunyai kira-kira satu juta partikel-partikel
virus per mililiter darah, sedangkan pasien-pasien dengan penyakit yang aktif mempunyai
beberapa milyar partikel-partikel per mililiter.6

Pada skenario, tuan X telah melakukan pemeriksaan penunjang ALT dan AST. Yang
dikatakan bermakan apabila terjadi peningkatan 2x dari nilai normal. Apabila telah terjadi
peningkatan dari ALT dan AST dapat dikatakan bahwa telah adanya kerusakan hati.

Tabel 1. Intepretasi Marker.1

HBsAg Anti-HBs Anti-HBc IgM anti HBeAg HBV-DNA


HBc
Hep B Akut + - + + + +
Hep B + - + - +/- +

7 | Page
Kronis

Carrier + - + - - -
Vaksinasi - + - - - -
Sembuh - + + - - -

2. Pajanan

Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada


bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja.
Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan:6

o Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang


tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik
o Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja maupun
yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan,
awan, atau kabut
o Golongan biologis : bakteri, virus atau jamur (infeksi)
o Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataaan tempat kerja dan cara
kerja
o Golongan psikososial: lingkungan kerja yang mengakibatkan stres

Penyakit hati dalam praktik kesehatan kerja tidak jauh berbeda dengan
masalah yang dihadapi. Secara umum, sel hati dapat dirusak (efek hepatoseluler)
dan mekanisme transpor dari dan ke sel hati dapat terhambat (efek obstruktif).
Kedua kelainan ini dapat berlanjut menjadi sakit kuning. Pajanan utama di tempat
kerja yang berhubungan dengan penyakit hati adalah bahan kimia dan agen
infeksi.6

Agen kimia

Beberapa hepatotoksin bekerja dengan menyebabkan penyakit akut saat


terjadi pajanan. Hal ini biasanya disebabkan pajanan tersebut yang berat tapi pada
kasus lain, seperti pada kasus yang jarang yaitu keracunan fosfor kuning,
walaupun dalam pajanan yang kecil, efek yang terjadi dapat merupakan bencana

8 | Page
besar dengan kematian sel hati yang luas. Kini, kebanyakan pajanan di tempat
kerja relatif rendah sehingga apapun efek yang terjadi mungkin disebabkan
pajanan kronis dosis rendah yang mengarah ke penyakit keracunan hati kronis.

Agen penyebab infeksi

Pekerja laboratorium/ seorang perawat yang harus memproses organisme


atau spesimen biologis yang terinfeksi merupakan kelompok yang dapat terpajan
berbagai jenis agen penyebab infeksi. Beberapa agen tersebut akan menyebabkan
sebagaian kelainan patologi.

Jika dihubungkan dengan skenario, kemungkinan besar penyakit akibat


kerja yang diderita pasien adalah akibat pajanan biologis yang disebabkan agen
infeksi, yakni virus hepatitis B.

3. Hubungan Diagnosis Klinis dengan Pajanan

Hepatitis B merupakan penyakit akibat kerja tersering di kalangan pekerja


kesehatan, labortorium, dan pekerja kesehatan masyarakat. Hepatitis B dapat
menyebabkan hepatitis fulminant dan juga dapat berakhir sebagai carier kronik
sebanyak 10%. Pengidap carier kronik memiliki resiko lebih tinggi terkena
sirosis dan kanker hati. Prevalensi terkena HBV di antara pekerja kesehatan lebih
banyak 10 kali dibanding populasi umum.7

Darah mengandung titer tertinggi dari virus pada individu yang terinfeksi,
dengan level yang rendah pada berbagai macam cairan tubuh seperti: cairan
serebrospinal, synovial, pleural, peritoneal, pericardial, semen, sekret vagina, dan
cairan amnion. Titer virus pada urin, feses, air mata, dan saliva sangat rendah
untuk memungkinkan penularan.7

Resiko transmisi HBV lewat jarum suntik kira-kira 30%. Bagaimanapun


juga, lebih dari 50% infeksi akut HBV pada orang dewasa adalah tanpa
gejala/asimptomatik. Mengingat bahwa, 10% dari infeksi akut HBV dapat
berujung pada infeksi kronis. Sejumlah besar dari mereka yang terinfeksi HBV
akibat pekerjaan akan menjadi cronic asimptomatik carier.7

9 | Page
HBV dapat bertahan hidup setidaknya 1 bulan pada lingkungan yang
kering pada temperatur kering. Ini menimbulkan peluang tambahan bagi pekerja
untuk mendapat HBV infeksi ketika pekerja dengan luka terbuka, kulit terabrasi,
atau mukosa membran yang kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.
Faktanya, hampir semua infeksi okupasional tidak memiliki cedera perkutan yang
jelas untuk transmisi HBV ini.7

Prescreening tes serologi sebelum vaksinasi tidak direkomendasikan


karena prevalensi infeksi HBV di US rendah. Beberapa kelompok telah
melembagakan penyaringan dari semua penerima vaksin potensial dengan
hepatitis b core antibodi ketika presentasi tinggi datang dari daerah yang endemik
hepatitis B. Antibodi core yang positif mengindikasikan lampau atau sekarang
sedang menderita infeksi HBV. Seharusnya test yang sesuai untuk permukaan
antigen demi mengidentifikasi apakah telah sembuh dari infeksi lampau.7

Walaupun vaksin hepatitis B yang original adalah derivat plasma, studi


menunjukkan bahwa tidak ada transmisi infeksi dari vaksini ini. Perkembangan
vaksin rekombinan DNA pada tahun 1986 menunjukkan bahwa lebih diterima dan
lebih aman untuk vaksinasi massal bagi pekerja kesehatan. Sejak 1991, telah
direkomendasikan untuk melakukan vaksinasi pada bayi baru lahir walaupun
prevalensi dari hepatitis B kurang dari 0,5% dari populasi. Pada tahun yang sama,
terjadi penurunan infeksi okupasional berkat vaksinasi tersebut. Walaupun begitu,
masih ada beberapa pekerja yang menolak divaksinasi sehingga masih rentan
terhadap infeksi ini.7

Eksposure yang dikenal untuk infeksi HBV adalah darah dan produk darah
pada mereka yang tidak divaksinasi atau dimana proteksi antibodi tidak
berkembang memerlukan HBIG atau hepatitis B immune globulin, yang mahal
dan memerlukan dosis kedua pada 1 bulan berikutnya kecuali jika vaksinasi
hepatitis B diberikan sekaligus.7

Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak


menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya.

10 | P a g e
Namun beberapa gejala yang samar diantaranya adalah: lelah, hilang selera
makan, sakit perut, urin menjadi gelap dan kulit atau mata menjadi kuning yang
disebut "jaundice" (jarang terjadi). Pada beberapa kasus dapat ditemukan
peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada
penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal.
Walaupun pasien sirosis sebagian besar memiliki lebih dari satu penyebab,
hepatitis C kronis dan konsumsi alkohol berat secara tradisional menjadi
penyebab paling umum dari sirosis.7

Pada skenario, diketahui bahwa pekerjaan nyonya X bekerja sebagai


perawat IGD. Baik hepatitis B maupun C dapat menular melalui mikrolesi atapun
tusukan jarum. Tetapi pada umumnya hepatitis C tidak memberikan gejala dan
AST/ALT cenderung normal. Prevalensi hepatitis B dibanding C juga berbeda
jauh. Dimana prevalensi hepatitis B lebih sering ditemukan di Indonesia.7

Patofisiologi Hepatitis B

Penyebab hepatitis B Virus (HBV) adalah hepadnavirus. Ini adalah virus yang sangat
tahan terhadap suhu ekstrim dan kelembaban dan meneyerang sel hepatosit hati. HBV dapat
bertahan bila disimpan selama 15 tahun pada -20 C, selama 24 bulan pada -80 C, selama 6
bulan pada suhu kamar, dan selama 7 hari pada 44 C.5

Genom virus adalah sebagian beruntai ganda, DNA sirkular terkait dengan polimerase
DNA yang dikelilingi oleh nukleokapsid ikosahedral dan kemudian dengan amplop lipid.
Tertanam dalam lapisan ini banyak antigen yang penting dalam identifikasi penyakit dan
perkembangan. Dalam nukleokapsid adalah antigen hepatitis B inti (HBcAg) dan precore
hepatitis B e antigen (HBeAg), dan di amplop adalah antigen permukaan hepatitis B (HBsAg).5

Genom dari hepatitis B antara lain: S (the surface, envelop) yang mengkode protein S, C
( the core gen) yang mengkode protein nukleokapsid dan antigen, X (the x gene) yang mengkode
protein X, P (the polymerase gene) yang mengkode protein besar.5

Surface antigen. Gen S mengkodekan envelop virus. Ada 5 faktor penentu antigenik: (1)
umum untuk semua antigen permukaan hepatitis B (HBsAg), dan (2-5) d, y, w, dan r, yang secara

11 | P a g e
epidemiologis penting dan mengidentifikasi serotipe. Core gene (HBcAg) adalah protein yang
membungkus DNA virus. Hal ini juga dapat diekspresikan pada permukaan hepatosit, memulai
respon imun seluler.5

E antigen (HBeAg) yang juga dihasilkan dari wilayah di dekat dan gen inti, adalah
penanda replikasi virus aktif. Ini berfungsi sebagai umpan kekebalan tubuh dan langsung
memanipulasi sistem kekebalan tubuh; sehingga ia terlibat dalam ketahanan virus. HBeAg dapat
dideteksi pada pasien dengan sirkulasi serum HBV DNA yang memiliki "wild type" infeksi.
Virus berkembang dari waktu ke waktu di bawah tekanan kekebalan tubuh.5

X gene. Peran gen X adalah untuk mengkodekan protein yang bertindak sebagai
transactivators transkripsi yang membantu replikasi virus.5

Siklus hidup virus

Ada 5 tahapan yang telah diidentifikasi dalam siklus hidup virus infeksi hepatitis B dan
dibahas secara singkat di bawah:5

Tahap 1: Toleransi imun

Tahap ini, yang berlangsung sekitar 2-4 minggu pada orang dewasa yang sehat,
merupakan masa inkubasi. Replikasi virus aktif meskipun enzim aminotransferase sedikit
atau tidak ada peningkatan, serta tidak ada gejala.

Tahap 2: Imun aktif

Dikenal juga sebagai tahap pembersihan imun, reaksi inflamasi dengan efek sitopatik
terjadi. HBeAg dapat diidentifikasi dalam serum, dan penurunan kadar HBV DNA
terlihat pada beberapa pasien yang membersihkan infeksi. Durasi tahap ini untuk pasien
dengan infeksi akut adalah sekitar 3-4 minggu (periode gejala). Untuk pasien dengan
infeksi kronis, 10 tahun atau lebih sebelum sirosis berkembang, pembersihan imun
berlangsung, HCC berkembang, atau varian HBeAg-negatif kronis muncul.

Tahap 3: Infeksi kronis aktif

12 | P a g e
Pada tahap ketiga, tahap infeksi kronis aktif, host dapat menargetkan hepatosit
yang terinfeksi dan HBV. Replikasi virus rendah atau tidak lagi diukur dalam serum,
dan anti-HBe dapat dideteksi. Tingkat aminotransferase berada dalam kisaran referensi.
Hal ini kemungkinan besar pada tahap ini bahwa integrasi genom virus ke dalam host
genom hepatosit berlangsung. HBsAg masih hadir dalam serum.

Tahap 4: Penyakit kronis

Munculnya penyakit kronis HBeAg-negatif dapat terjadi dari tahap tidak aktif kronis
infeksi (stadium 3) atau langsung dari tahap aktif / pembersihan imun (tahap 2).

Tahap 5: Pemulihan

Pada tahap kelima, virus tidak dapat dideteksi dalam darah dengan tes DNA atau HBsAg,
dan antibodi terhadap berbagai antigen virus telah diproduksi.

4. Jumlah Pajanan

Untuk memastikan seberapa terpapar pasien dengan pajanan biologis


dipastikan dengan mengukur kadar pajanan tersebut dalam darah, dimana pada
pajanan biologis tidak memiliki NAB/nilai ambang batas sebagaimana ada pada
pajanan kimia.

5. Peranan Faktor Individu

Individu seseorang akan mempengaruhi orang tersebut akan mengalami


hepatitis B atau tidak. Penyakit hepatitis B tidak ditularkan melalui makanan
namun melalui percikan darah atau hubungan seksual sehingga higienis seseorang
dalam melakukan tindakan yang berisiko menimbulkan hepatitis B harus
diantisipasi dengan baik misalnya dengan melakukan cuci tangan, hal ini
dilakuakan demi menekan angka kejadian penyakit, contohnya seseorang yang

13 | P a g e
menggunakan sarung tangan dalam menggunakan jarum suntik hal ini bertujuan
untuk mencegah paparan virus.6

Berdasarkan kasus pasien belum pernah mengalami penyakit ini


sebelumnya. Namun yang menjadi penyebab timbulnya kecelakaan kerja adalah
oleh karena pasien yang tidak melakukan tindakan sesuai dengan standar
operasional praktek, seperti tidak menggunakan alat pelindung diri yang teratur
dalam melakukan pekerjaannya sehingga hal ini dapat menimbulkan penyakit
hepatitis B. Selain itu di dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit
serupa.

6. Peranan Faktor Lain


Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Seperti
misalnya hobi pasien, kebiasaan sehari hari, pekerjaan sambilan. Apakah
penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab
penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan
untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja.2
7. Diagnosis Okupasi
Berdasarkan 7 langkah diagnosis penyakit akibat kerja dapat disimpulkan bahwa
hepatitis b yang diderita pasien masih membutuhkan keterangan tambahan dari
pasien.

Tatalaksana

Tabel 2.Tatalaksana Hepatitis B.7

HbeAg HBV DNA ALT Terapi


(>105)
+ + 2xBANN Efikasi terhadap terapi rendah
Observasi bila ALT meningkat
+ + 2xBANN -Mulai terapi dengan : interferon
alfa,lamivudin atau adefovir
-End point
terapi : serokonversi HBeAg dan timbulnya anti
HBe. Durasi terapi Interferon selama 16

14 | P a g e
- + >2BANN -Mulai terapi dengan : interferon
-End point
terapi : normalisasi kadarALT dan HBV DNA
(pemeriksaanPCR) tidak terdeteksi-Durasi
terapi :Interferon selama satu tahun

Pencegahan

Primer

Melaksanakan kewaspadaan standar. Seperti pengendalian lingkungan berupa proses alat sesuai
standar, dekontaminasi, pencucian, dan sterilisasi, membersihkan permukaan dari barang yang
terkontaminasi cairan tubuh.4

Sekunder

Penggunaan alat pelindung diri. Seperti menggunakan sarung tangan pada waktu
melakukan tindakan yang memungkinkan kontak dengan cairan tubuh atau mencuci alat yang
telat terkontaminasi, menggunakan alas kaki tertutup, menggunakan alat pelindung wajah
(google mask) bila melakukan tindakan yang memungkinkan terkena cipratan vaksinasi. Bagi
yang kulitnya terpajan harus dilakukan mencuci bersih dengan air dan sabun. Untuk mata hidung
atau mulut bilas dengan air selama 10 menit. Kalau tertusuk atau tersayat cuci dengan air dan
sabun, biarkan darah mengalir kemudian luka ditutup. Lakukan pemeriksaan HbsAg pada
sesudah terpajan dan 6 bulan berikutnya.4

Jadwal yang sering untuk vaksinasi hepatitis B adalah 0,1 dan 6 bulan. Mereka yang telah
hanya satu/dua dosis tidak perlu mengulang series, mereka hanya perlu melengkapi dosis yang
telah mereka terima ( seperti vaksin lain yang memerlukan dosis tambahan).4

Tersier

Deteksi dini. Pada petugas kesehatan dianjurkan pemeriksaan laboratorium (fungsi liver,
status vaksinasi hepatitis/HbsAg). Pada dasarnya ada 2 jenis pemeriksaan kesehatan berkala,
yaitu: (1) Pemeriksaan berkala umum yang dilakukan terhadap seluruh pekerja sebagai bagian

15 | P a g e
program pemeliharaan kesehatan karyawan, atau bila dicurigai terjadinya suatu kemungkinan
gangguan kesehatan akibat berbagai kondisi kerja yang memadai.1,4

(2) Pemeriksaan kesehatan yang dihubungan dengan ancaman gangguan kesehatan di


lingkungan kerja tertentu yang beresiko tinggi, dilaksanakan secara berkala untuk memantau
pekerja tertentu yang bekerja dalam kondisi spesifik.1,4

Kesimpulan

Berdasarkan diagnosis 7 langkah okupasi dapat ditarik kesimpulan bahwa penyakit hati
yang diderita nyonya X masi mebutuhkan keterangan tambahan. Hal ini dikarenakan belum ada
data pasti apakah sebelumnya pasien pernah menderita Hepatitis B atau tertusuk jarum pada saat
melakukan pekerjaannya.

Daftar Pustaka

1. Harrianto R. Kesehatan kerja. Jakarta: EGC; 2008. h. 2,16-7.


2. Sumamur. Higieni perusahaan dan kesehatan kerja (HIPERKES). Ed 2.Jakarta : Sagung
Seto; 2013.
3. Healey, Bernard J. Introduction to occupational health in public health practice. San
Fransisco: A Wiley Imprint; 2009. p. 206-7
4. Kementerian Kesehatan RI. Penyakit akibat kerja karena pajanan biologi. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2011. h. 3-5,16-8.
5. Gish RG, Locarnini S. Chronic hepatitis b viral infection. In: Yamada T. 5 th ed. Oxford:
Blackwell Publishing; 2009.p. 2112-38.
6. Jeyaratnam J. Buku ajar kedokteran kerja. Jakarta: EGC; 2009. h. 212.
7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Ilmu penyakit dalam.
Jakarta: Internal Publishing; 2009. h. 1521-24.

16 | P a g e