Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sering kali pada saat pasien mengeluh sesak nafas maka secara otomatis
yang terpikir adalah pemberian oksigen. Tanpa memandang sebetulnya
perlu atau tidaknya tindakan tersebut dilakukan. Jikapun perlu metoda apa
yang diperlukan dan berapa banyak kadar yang harus diberikan. Oksigen
(O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh.
Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan
dalam setiap kali bernapas. Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan
oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis.

Pemberian oksigen pada pasien perlu mendapat perhatian khusus karena


pada pemberian yang tidak tepat dapat menimbulkan efek yang tidak
diharapkan seperti depresi pernafasan atau keracunan O2. Cara yang tepat
pemberian oksigen adalah didasarkan pada hasil pemeriksaan analisa gas
darah (AGD) melalui penghitungan dengan menggunakan rumus. Melalui
penghitungan ini dapat ditentukan banyaknya/ konsentrasi oksigen yang
diberikan serta dapat memilih alat yang dipakai dalam pemberian oksigen.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Manfaat Penulisan

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Definisi Terapi Oksigen

Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru


melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan
(Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005).

Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih


tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air
laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21% (Brunner & Suddarth,
2001).

Pemberian oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan


menggunakan alat bantu dan oksigen. Pemberian oksigen pada klien dapat
melalui kanula nasal dan masker oksigen (Suparmi, 2008).

2.2 Tujuan

2.2.1 Meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke


jaringan untuk memfasilitasi metabolisme aerob.

2.2.2 Meningkatkan ekspansi dada

2.2.3 Memperbaiki status oksigenasi klien dan memenuhi kekurangan


oksigen

2.2.4 Membantu kelancaran metabolisme

2.2.5 Menurunkan kerja jantung

3
2.2.6 Menurunkan kerja paru paru pada klien dengan dyspnea

2.2.7 Meningkatkan rasa nyaman dan efisiensi frekuensi napas pada


penyakit paru (Aryani, 2009).

2.2.8 Mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 % untuk :

2.2.8.1 Mencegah dan mengatasi hipoksemia/hipoksia serta


mmempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat.

2.2.8.2 Menurunkan kerja nafas dan miokard.

2.2.8.3 Menilai fungsi pertukaran gas.

Alat Aliran Fi O2
(L/menit) (Fraksi Oksigen Inspirasi)
1 0, 24
2 0, 28
3 0, 32
Kanula nasal
4 0, 36
5 0, 40
6 0, 44
5-6 0, 40
Masker
6-7 0, 50
oksigen
7-8 0, 60
6 0, 60
Masker
7 0, 70
dengan
8 0, 80
kantong
9 0,80
reservoir
10 0,80

2.3 Indikasi
Efektif diberikan pada klien yang mengalami:

2.3.1 Gagal nafas Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan


tekanan parsial normal O2 dan CO2 di dalam darah, disebabkan oleh
gangguan pertukaran O2 dan CO2 sehingga sistem pernapasan tidak
mampu memenuhi metabolisme tubuh.

4
2.3.2 Gangguan jantung (gagal jantung) Ketidakmampuan jantung
untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan oksigen.

2.3.3 Kelumpuhan alat pernafasan Suatu keadaan dimana terjadi


kelumpuhan pada alat pernafasan untuk memenuhi kebutuhan
oksigen karena kehilangan kemampuan ventilasi secara adekuat
sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas O2 dan CO2.

2.3.4 Perubahan pola nafas Hipoksia (kekurangan oksigen dalam


jaringan), dyspnea (kesulitan bernapas, misal pada pasien asma),
sianosis (perubahan warna menjadi kebiru-biruan pada permukaan
kulit karena kekurangan oksigen), apnea (tidak bernapas/ berhenti
bernapas), bradipnea (pernapasan lebih lambat dari normal dengan
frekuensi kurang dari 16x/menit), takipnea (pernapasan lebih cepat
dari normal dengan frekuensi lebih dari 24x/menit (Tarwoto &
Wartonah, 2010)

2.3.5 Keadaan gawat (misalnya: koma) Pada keadaan gawat, misal


pada pasien koma tidak dapat mempertahankan sendiri jalan napas
yang adekuat sehingga mengalami penurunan oksigenasi.

2.3.6 Trauma paru Paru-paru sebagai alat penapasan, jika terjadi


benturan atau cedera akan mengalami gangguan untuk melakukan
inspirasi dan ekspirasi.

2.3.7 Metabolisme yang meningkat: luka bakar Pada luka bakar,


konsumsi oksigen oleh jaringan akan meningkat dua kali lipat
sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme.

2.3.8 Post operasi Setelah operasi, tubuh akan kehilangan banyak


darah dan pengaruh dari obat bius akan mempengaruhi aliran darah
ke seluruh tubuh, sehingga sel tidak mendapat asupan oksigen yang
cukup.

5
2.3.9 Keracunan karbon monoksida Keberadaan CO di dalam tubuh
akan sangat berbahaya jika dihirup karena akan menggantikan
posisi O2 yang berikatan dengan hemoglobin dalam darah (Aryani,
2009).

2.4 Kontraindikasi

Tidak ada konsentrasi pada pemberian terapi oksigen dengan syarat


pemberian jenis dan jumlah aliran yang tepat. Namun demikan, perhatikan
pada khusus berikut:
2.4.1 Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun) yang
mulai bernafas spontan maka pemasangan masker partial
rebreathing dan non rebreathing dapat menimbulkan tanda dan
gejala keracunan oksigen. Hal ini dikarenakan jenis masker
rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan oksigen dengan
konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95%.
2.4.2 Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntah-
muntah.
2.4.3 Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal
kanul.

2.5 Hal-hal yang perlu diperhatikan:


2.5.1. Perhatikan jumlah air steril dalam humidifier, jangan berlebih atau
kurang dari batas. Hal ini penting untuk mencegah kekeringan
membran mukosa dan membantu untuk mengencerkan sekret di
saluran pernafasan klien.

2.5.2. Pada beberapa kasus seperti bayi premature, klien dengan penyakit
akut, klien dengan keadaan yang tidak stabil atau klien post operasi,
perawat harus mengobservasi lebih sering terhadap respon klien
selama pemberian terapi oksigen.

6
2.5.3. Pada beberapa klien, pemasangan masker akan memberikan tidak
nyaman karena merasa terperangkat. Rasa tersebut dapat
diminimalisir jika perawat dapat meyakinkan klien akan pentingnya
pemakaian masker tersebut.

2.5.4. Pada klien dengan masalah febris dan diaforesis, maka perawat
perlu melakukan perawatan kulit dan mulut secara ekstra karena
pemasangan masker tersebut dapat menyebabkan efek kekeringan di
sekitar area tersebut.

2.5.5. Jika terdapat luka lecet pada bagian telinga klien karena
pemasangan ikatan tali nasal kanul dan masker. Maka perawat dapat
memakaikan kassa berukuran 4x4cm di area tempat penekanan
tersebut.

2.5.6. Akan lebih baik jika perawat menyediakan alat suction disamping
klien dengan terapi oksigen.

2.5.7. Pada klien dengan usia anak-anak, biarkan anak bermain-main


terlebih dahulu dengan contoh masker.

2.5.8. Jika terapi oksigen tidak dipakai lagi, posisikan flow meter dalam
posisi OFF.

2.5.9. Pasanglah tanda : Dilarang Merokok, Ada Pemakaian Oksigen


di pintu kamar klien, di bagian kaki atau kepala tempat tidur, dan di
dekat tabung oksigen. Instruksikan kepada klien dan pengunjung
akan bahaya merokok di area pemasangan oksigen yang dapat
menyebabkan kebakaran (Aryani, 2009).

7
2.6 Jenis-Jenis Alat Pemberian Terapi Oksigen
2.6.1 Sistem aliran rendah
Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara
ruangan, bekerja dengan memberikan oksigen pada frekuensi aliran
kurang dari volume inspirasi pasien, sisa volume ditarik dari udara
ruangan. Karena oksigen ini bercampur dengan udara ruangan, maka
FiO2 aktual yang diberikan pada pasien tidak diketahui,
menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan
dengan patokan volume tidal klien. Alat oksigen aliran rendah cocok
untuk pasien stabil dengan pola nafas, frekuensi dan volume
ventilasi normal, misalnya klien dengan volume tidal 500 ml dengan
kecepatan pernafasan 16 20 kali permenit.

2.6.1.1 Contoh sistem aliran rendah:


Low flow low concentration:

a. Kateter nasal

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat


memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1
6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%. Prosedur
pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen
ke dalam hidung sampai nasofaring. Persentase oksigen
yang mencapai paru-paru beragam sesuai kedalaman
dan frekuensi pernafasan, terutama jika mukosa nasal
membengkak.

1) Keuntungan

Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak,


makan dan berbicara, dan membersihkan mulut,
murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai
kateter penghisap. Dapat digunakan dalam jangka
waktu yang lama.

8
2) Kerugian

Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang


lebih dari 44 %, tehnik memasukan kateter nasal
lebih sulit dari pada kanula nasal, nyeri saat kateter
melewati nasofaring, dan mukosa nasal akan
mengalami trauma, fiksasi kateter akan memberi
tekanan pada nostril, maka kateter harus diganti tiap
8 jam dan diinsersi kedalam nostril lain, dapat terjadi
distensi lambung, terjadi iritasi selaput lendir
nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat
menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa
hidung, serta kateter mudah tersumbat dan tertekuk.

b. Kanul nasal / kanul binasal / nasal prong

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat


memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 6
liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan
kateter nasal yaitu 24 % - 44 %. Persentase O 2 pasti
tergantung ventilasi per menit pasien. Pada
pemberian oksigen dengan nasal kanula jalan nafas
harus paten, dapat digunakan pada pasien dengan
pernafasan mulut. FiO2 estimation.
Flows FiO2

1 liter/menit: 24%

2 liter/menit: 28%

3 liter/menit: 32%

4 liter/menit: 36%

5 liter/menit: 40%

9
6 liter/menit: 44%

1) Keuntungan

Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal


dan laju pernafasan teratur, pemasangannya
mudah dibandingkan kateter nasal, murah,
disposibel, klien bebas makan, minum,
bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien
dan terasa nyaman. Dapat digunakan pada
pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien
bernapas melalui mulut, menyebabkan udara
masuk pada waktu inhalasi dan akan
mempunyai efek venturi pada bagian belakang
faring sehingga menyebabkan oksigen yang
diberikan melalui kanula hidung terhirup
melalui hidung.

2) Kerugian

Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen


lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila
klien bernafas melalui mulut, mudah lepas
karena kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak
dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi
nasal. Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit
jarang digunakan, sebab pemberian flow rate
yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah
FiO2, bahkan hanya pemborosan oksigen dan
menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi
selaput lendir. Dapat menyebabkan kerusakan
kulit diatas telinga dan di hidung akibat
pemasangan yang terlalu ketat.

10
Low flow high concentration

a. Sungkup muka sederhana

Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai


sedang. Merupakan alat pemberian oksigen jangka
pendek, kontinyu atau selang seling. Aliran 5 8
liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 60%. Masker
ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi
karbondioksida karena akan memperburuk retensi.
Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk
mendorong CO2 keluar dari masker. FiO2 estimation
Flows FiO2

5-6 liter/menit: 40%

6-7 liter/menit: 50%

7-8 liter/menit: 60%

1) Keuntungan

Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi


dari kateter atau kanula nasal, sistem
humidifikasi dapat ditingkatkan melalui
pemilihan sungkup berlubang besar, dapat
digunakan dalam pemberian terapi aerosol.

2) Kerugian

Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen


kurang dari 40%, dapat menyebabkan
penumpukan CO2 jika aliran rendah. Menyekap,
tidak memungkinkan untuk makan dan
batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah.

11
Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat
menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia
ruang tertutup, pita elastik yang dapat
disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan
dan kenyamanan.

b. Sungkup muka dengan kantong rebreathing

1) Rebreathing mask

Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi


tinggi yaitu 35 60% dengan aliran 6 15
liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai PaCO 2.
Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara
inspirasi, sesuai dengan aliran O2, kantong akan
terisi saat ekspirasi dan hampir menguncup waktu
inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O 2 ke
dalam kantong dengan cara menutup lubang antara
kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian
kantong reservoir. Memasang kapas kering pada
daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat
untuk mencegah iritasi kulit. FiO2 estimation :

Flows FiO2
6 liter/menit: 35 %
8 liter/menit: 40 50 %
10 15 liter/menit : 60 %
1) Keuntungan

Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup


muka sederhana, tidak mengeringkan selaput
lendir

12
2) Kerugian

Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi


rendah, kantong oksigen bisa terlipat atau
terputar atau mengempes, apabila ini terjadi
dan aliran yang rendah dapat menyebabkan
pasien akan menghirup sejumlah besar
karbondioksida. Pasien tidak memungkinkan
makan minum atau batuk dan menyekap, bisa
terjadi aspirasi bila pasien muntah, serta perlu
segel pengikat.

c. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing

1) Non rebreathing mask

Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen


yang tinggi mencapai 90 % dengan aliran 6 15
liter/mnt. Pada prinsipnya udara inspirasi tidak
bercampur dengan udara ekspirasi, udara ekspirasi
dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau
lebih katup, sehingga dalam kantong konsentrasi
oksigen menjadi tinggi. Sebelum dipasang ke pasien
isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang
antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian
kantong reservoir. Memasang kapas kering pada
daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk
mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan pernah
kempes dengan total. Perawat harus menjaga agar

13
semua diafragma karet harus pada tempatnya dan
tanpa tongkat. FiO2 estimation:

Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )

6 : 55 60

8 : 60 80

10 : 80 90

12 15 : 90

1) Keuntungan: Konsentrasi oksigen yang


diperoleh dapat mencapi 90%, tidak
mengeringkan selaput lendir.

2) Kerugian: Tidak dapat memberikan oksigen


konsentrasi rendah. Kantong oksigen bisa
terlipat atau terputar, menyekap, perlu segel
pengikat, dan tidak memungkinkan makan,
minum atau batuk, bisa terjadi aspirasi bila
pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar
dan anak-anak.

2.6.2 Sistem aliran tinggi


Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk
memberikan 2 atau 3 kali volume inspirasi pasien. Alat ini
cocok untuk pasien dengan pola nafas pendek dan pasien
dengan PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator.
Suatu teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil
dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga
dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen
yang lebih tepat dan teratur.

Contoh sistem aliran tinggi:

14
a. Sungkup muka dengan venturi / Masker Venturi (High
flow low concentration).
Merupakan metode yang paling akurat dan dapat
diandalkan untuk konsentrasi yang tepat melalui cara
non invasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehingga
memungkinkan aliran udara ruangan bercampur
dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. Masker
venturi menerapkan prinsip entrainmen udara
(menjebak udara seperti vakum), yang memberikan
aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen
terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff
perforasi, membawa gas tersebut bersama
karbondioksida yang dihembuskan. Metode ini
memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan
untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman
dan kecepatan pernafasan.Diberikan pada pasien
hyperkarbia kronik (CO2 yang tinggi ) seperti PPOK
yang terutama tergantung pada kendali hipoksia untuk
bernafas, dan pada pasien hypoksemia sedang sampai
berat. FiO2 estimation, Menurut

Standar Keperawatan ICU Dep.Kes RI. tahun 2005,


estimasi FiO2 venturi mask merk Hudson

Warna dan flows (liter/menit ) FiO2 ( % )

Biru : 2 : 24

Putih : 4 : 28

Orange : 6 : 31

Kuning : 8 : 35

Merah : 10 : 40

Hijau : 15 : 60

15
1) Keuntungan: Konsentrasi oksigen yang diberikan
konstan / tepat sesuai dengan petunjuk pada ala :
FiO2 tidak dipengaruhi oleh pola ventilasi, serta
dapat diukur dengan O2 analiser, temperatur dan
kelembaban gas dapat dikontrol, tidak terjadi
penumpukan CO2.

2) Kerugian : Harus diikat dengan kencang untuk


mencegah oksigen mengalir kedalam mata.

Tidak memungkinkan makan atau batuk,


masker harus dilepaskan bila pasien makan,
minum, atau minum obat.
Bila humidifikasi ditambahkan gunakan
udara tekan sehingga tidak mengganggu
konsentrasi O2.
b. Bag and Mask / resuscitator manual digunakan
pada pasien :
Cardiac arrest

Respiratory failure

Sebelum, selama dan sesudah suctionGas flows


12 15 liter, selama resusitasi buatan,
hiperinflasi/ bagging, kantong resusitasi dengan
reservoir harus digunakan untuk memberikan
konsentrasi oksigen 74 % - 100 %. Dianjurkan
selang yang bengkok tidak digunakan sebagai
reservoir untuk kantong ventilasi. Kantong 2.5
liter dengan kecepatan 15 liter/menit telah
ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang
konsisten dengan konsentrasi 95 % - 100 %.
Penggunaan kantong reservoar 2.5 liter juga
memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen

16
utuh dan kantong menerima oksigen tambahan.
Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan
penggunaan adalah vital :

Kekuatan pemijatan menentukan volume


tidal ( VT ).

Jumlah pijatan permenit menentukan


frekuensi

Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran


puncak.

Hal hal yang harus diperhatikan :


Observasi dada pasien untuk menentukan
kantong bekerja dengan baik dan apakah
terjadi distensi abdomen.
Kemudahan/ tahanan saat pemompaan
mengindikasikan komplain paru.
Risiko terjadinya peningkatan sekresi,
pneumothorak, hemothorak, atau spasme
bronkus yang memburuk.
Syarat syarat Resusitator manual :
Kemampuan kantong untuk memberikan
oksigen 100 % pada kondisi akut.
Masker bila dibutuhkan harus transparan
untuk memudahkan observasi terhadap
muntah/darah yang dapat mengakibatkan
aspirasi.
Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan
pada kondisi akut.
Pembersihan dan pendauran ketahanan
kantong.Large Volume Aerosol Sistem.

17
c. Selang T / T piece / Briggs adaptor
Oksigen dialirkan ke humidifier, aliran harus cukup
tinggi untuk menutup ventilasi pasien per menit
dengan Oksigen T-piece memungkinkan pelembaban
untuk selang ETT (Endo Trakeal Tube) atau
trakeostomi. Tidak akan menimbulkan kondensasi
dalam selang. Pada pemakaiannya, kabut harus
terlihat pada ekshalasi akhir. Flow rate yang
direkomendasikan adalah 10 liter/menit dengan
nebuliser set untuk menjaga inspired oxygen
concentration (FiO2)

d. Sungkup terbuka/ Face tent


Sama dengan selang T, digunakan untuk
memberikan pelembaban pada pasien di ruang
pemulihan atau setelah ekstubasi. Bila pasien
merasakan masker terlalu menyekap, maka masker
wajah harus ditambahkan. Konsentrasi 40% dengan
aliran 10-15 L/mnt (Hudak & Gallo,1997), 8-12
liter/menit : 28%-100 %.
Keuntungan :

Lebih nyaman untuk anak, dapat digunakan


sebagai alternatif pemberian aerosol, dapat
memberikan kelembaban yang tinggi.

Kerugian :
Posisi face tent sulit dipertahankan, FiO2 sulit
dikontrol.

18
e. Collar trakeostomi
Keuntungan :
1) Sama dengan selang T, Memberikan
pelembaban untuk pasien dengan
trakeostomi.
2) Gelang gelang adaptor mencegah bunyi
gemuruh selang trakeostomi.
3) Bagian depan memungkinkan
penghisapan tanpa melepas masker.
4) Kondensasi dalam collar dapat dialirkan
ke dalam selang pasien.
Kerugian :
1) Sekresi dan lapisan kulit sekitar stoma
dapat menyebabkan iritasi dan infeksi.
Keamanan
Untuk pasien :
- Memastikan bahwa selangnya benar-benar
masuk ke dalam saluran pernapasan.
- Selang atau kateter yang masuk ke dalam
saluran napas harus steril.
- Tabung oksigennya dijauhkan dari
jangkauan api.

2.7 Resiko Terapi Oksigen


Salah satu resiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. Hal ini dapat
terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus-menerus
selama 1-2 hari. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya
metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H 2O2 melepaskan enzim
proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli. Sedangkan resiko
yang lain seperti retensi gas karbondioksida dan atelektasis.

19
Oksigen 100% menimbulkan efek toksik, tidak saja pada hewan, namun
juga pada bakteri, jamur, biakan sel hewam dan tanaman. Apabila O 2 80-100
% diberikan kepada manusia selama 8 jam atau lebih, saluran pernafasan
akan teriritasi, menimbulkan distres substernal, kongesti hidung, nyeri
tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam mengakibatkan
kerusakan jaringan paru.

Sejumlah bayi dengan sindroma gawat nafas yang diterapi dengan O 2,


selanjutnya mengalami gangguan menahun yang ditandai dengan kista dan
pemadatan jaringan paru (displasia bronkopulmonal). Komplikasi lain pada
bayi-bayi ini adalah retinopti prematuritas (fibroplkasia retrolental), yaitu
pembentukan jaringan vaskuler opak pada matayang dapat mengakibatkan
kelainan penglihatan berat. Pemberian O2 100 % pada tekanan yang lebih
tinggi berakibat tidak hanya iritasi trakeobronkial, tetapi juga kedutan otot,
bunyi berdering dalam telinga, rasa pening, kejang dan koma. Pajanan
terhadap O2 tekanan tinggi (oksigenasi hiperbarik) dapat menghasilkan
peningkatan jumlah O2 terlarut dalam darah. Oksigen bukan zat pembakar
tetapi dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klein dengan
terapi pemberian oksigen harus menghindari : Merokok, membuka alat
listrik dalam area sumber oksigen, menghindari penggunaan listrik tanpa
Ground.
Hal yang harus dilaporkan dan didokumentasikan
1. Observasi dan catat terhadap penurunan kecemasan, peningkatan
pengetahuan, penurunan kelemahan, penurunan frekuensi nafas,
perubahan warna kulit, peningkatan saturasi oksigen.
2. Monitor dan dokumentasikan hasil analisa gas darah dan pulse
oksimetri untuk menilai keefektifan terapi oksigen. Therapy Oksigen
berhasil jika : Nilai PaO2 dan PaCO2 yang diharapkan tercapai : PaO2
= ( 4 5 ) x FiO 2.

20
3. Monitor dan dokumentasikan kulit disekitar telinga, hidung , mukosa
hidung terhadap iritasi.
4. Monitor dan dokumentasikan terjadinya efek samping / bahaya terapi
oksigen yang lain.
5. Observasi dan catat posisi alat (kanula/masker, dll) yang tepat pada
pasien .
Catat metode yang digunakan, berapa liter/ menit alirannya atau
berapa FiO2 yang diberikan.

2.8 Komplikasi
Kerusakan pada paru : Tergantung konsentrasi oksigen yang diberikan,
tergantung pada lama pemberian
Efek neurologi : Kejang kejang karena tekanan intrakranial
meningkat
Fibro plasia retrolental : Kebutaan pada bayi prematur yang mendapat
terapi oksigen

2.9 Tanda Dan Gejala Keracunan Oksigen


Terjadi penurunan vital capacity (Vc)
Paraesthesia, sakit sendi, mual dan muntah
Atelectesia dan perubahan mental dan gangguan penglihatan

2.10 Monitoring Terapi Oksigen


Tanda klinis
o Kerja nafas : RR, otot nafas tambahan, nafas cuping hidung,
sianosis

21
o Kerja jantung : Nadi, tensi

Transtrakeal kateter

Bag Valve Mask

22
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam
proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel
tubuh. Secara normal elemen ini iperoleh dengan cara menghirup udara
ruangan dalam setiap kali bernafas. Penyampaian O 2 ke jaringan tubuh
ditentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler dan keadaan
hematologis.

Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam


proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat
mengancam kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan
kompetensi perawat dalaam mengenal keadaan hipoksemia dengan segera
untuk mengatasi masalah. tujuan utama pemberian O2 adalah:
1) Untuk mengatasi keadaan Hipoksemia sesuai dengan hasil Analisa Gas
Darah,
2) Untuk menurunkan kerja nafas dan meurunkan kerja miokard

Indikasi terapi oksigen ini adalah untuk pasien hipoksia, oksigenasi kurang
sedangkan paru normal, oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal,
oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal, pasien
yang
membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi, pasien dengan tekanan
partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah. Kontra indikasi pemakaian terapi
oksigen ini adalah pemakaian kanul nasal/kateter binasal/nasal prong : jika
ada obstruksi nasal, pemakaian kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada

23
fraktur dasar tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal,
pemakaian sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan
PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi.
Komplikasi pemakaian terapi oksigen yang terlalu lama dapat
mengakibatkan keracunan oksigen, kerusakan jaringan paru terjadi akibat
terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H 2O2
melepaskan enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak
alveoli.

3.2 Saran
Bagi perawat yang memberikan asuhan keperawatan pada klien yang
memerlukan pemberian terapi oksigen harus lebih memperhatikan dan tahu
bagaimana penatalaksanaan pemberian terapi oksigen tersebut dilaksanakan
agar efek yang diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang
sesuai dengan yang diharapkan.

24
Daftar Pustaka

Astowo. Pudjo. 2005. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi
dan Kedokteran Respirasi. FKUI. Jakarta.
Ikawati, Z. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan. PDF.
Rohsiswatmo, R. 2010. Terapi Oksigen Pada Neonatus. Divisi Perinatologi
Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCMk FKUI RSCM. Jakarta.
Rogayah, R. 2009. The Principle Of Oxigen Therapy. Departemen Pulmonologi
Dan Respiratori FK UI. Jakarta.
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi bahasa Indonesia,
vol. 8. EGC. Jakarta.
Potter & Perry. 2002. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik. Volume 2. Edisi 4. EGC. Jakarta.
Ganong, F. William. 2003. Fisiologi Kedokteran Edisi 20. EGC. Jakarta.
Latief, A. Said. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan
Terapi Intesif. Jakarta.

25