Anda di halaman 1dari 10

REFERAT

INDIKASI RUJUKAN SECTIO


CAESAREA

Disusun oleh :
Redy Setyono, S.ked

Pembimbing :
dr. Zaenal Alim Sp. OG

SMF ILMU PENYAKIT KANDUNGAN


RS TK. II dr. SOEPRAOEN-MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

Persalinan secara sectio caesaria adalah kelahiran bayi melalui abdomen dan
insisi uterus. Hal ini diketahui selama berabad-abad, tetapi hanya pada jaman modern
prosedurnya menjadi relatif lebih aman oleh karenanya persalinan secara caesaria
dilakukan untuk berbagai alasan dan dengan bahaya yang lebih sedikit, namun
bagaimanapun ini dibuat setelah dipertimbangkan cara-cara pervaginam tidak dapat
dilakukan. Kebanyakan alasan untuk melakukan persalinan caesaria adalah posisi
sungsang, distosia dan persalinan caesaria sebelumnya maupun kehamilan dengan
hipertensi.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Sectio Secarea

II.1.1 Pengertian

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka


dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan
janin dari dalam rahim.

II.1.2 Jenis jenis operasi sectio caesarea

1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)

a. Sectio caesarea transperitonealis

SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri)


Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira2 10 cm.

Kelebihan :

-Mengeluarkan janin dengan cepat

Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik

Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan

Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis
yang baik

-Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan

SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim)
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim
(low servical transversal) kira-kira 10 cm

Kelebihan :
Penjahitan luka lebih mudah

Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi
uterus ke rongga peritoneum

Perdarahan tidak begitu banyak

Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil

Kekurangan :

Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri
uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak

Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi

b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian


tidak membuka cavum abdominal

2. Vagina (section caesarea vaginalis)

Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Sayatan memanjang ( longitudinal )

2. Sayatan melintang ( Transversal )

3. Sayatan huruf T ( T insicion )

II.1.3 Indikasi
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu atau pun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang
perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal
( Dystasia )

Fetal distress

His lemah / melemah

Janin dalam posisi sungsang atau melintang

Bayi besar ( BBL 4,2 kg )

Plasenta previa

Kalainan letak

Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul)

Rupture uteri mengancam

Hydrocephalus

Primi muda atau tua

Partus dengan komplikasi

Panggul sempit

Problema plasenta

II.1.4 Komplikasi
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :

1. Infeksi puerperal ( Nifas )

Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari

Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit
kembung

Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

2. Perdarahan

Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

Perdarahan pada plasenta

3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi
terlalu tinggi

4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya

Riwayat operasi sesar pada persalinan yang lalu, dimungkinkan untuk persalinan
pervaginam pada kehamilan berikutnya, dengan indikasi :

1. Bekas insisi tunggal yang melintang dan pada bagian servikal bawah uterus.
2. Indikasi untuk prosedur pertama bukan disproporsi
3. Harapan akan kelahiran dan persalinan yang mudah.

Kontraindikasi riwayat SC sehingga perlu dilakukan rujukan :


1. Bekas insisi vertical tipe apapun
2. Insisi yang tipenya tidak diketahui
3. Pernah sectio caesarea lebih dari satu kali
4. Saran untuk tidak melakukan trial of labor dari dokter bedah yang melaksanakan
pembedahan pertama
5. Panggul sempit
6. Presentasi abnormal seperti presentasi dahi, bokong, atau letak lintang.
7. Indikasi medis untuk segera mengakhiri kehamilan, termasuk diabetes, toxemia
gravidarum dan plasenta previa.

II.1.5 Alasan Merujuk dengan Riwayat Sectio Caesaria


Tindakan rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan
rujukan atau yang memiliki saran lebih lengkap diharapkan mampu menyelamatkan
jiwa para ibu dan BBL. Walaupun sebagian besar ibu menjalani persalinan normal,
namun masih ada sekitar 10-15% diantaranya akan mengalami masalah selama proses
persalinan.

Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam melakukan rujukan (BAKSOKUDA) :

B : (Bidan) Selama tindakan rujukan dilakukan, ibu dan atau bayi lahir didampingi
oleh penolonng persalinan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk
menatalaksana kegawatdaruratan obstetri dan BBL untuk dibawa ke fasilitas rujukan

A : (Alat). Bahan-bahan dan perlengkapan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan
BBL (tabung suntik, selang IV, dll) harus dibawa bersama ibu ke tempat rujukan.
Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan
sedang dalam perjalanan.

K : (Keluarga). Ibu dan keluarga harus diberitahu mengenai kondisi terakhir baik
mengenai kondisi ibu dan atau bayinya serta mengapa ibu dan bayi perlu dirujuk.
Jelaskan pada mereka alasan keperluan dan upaya rujukan tersebut. Suami atau
anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan atau BBL ke tempat rujukan.

S : (Surat). Buat surat pengantar ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan
identifikasi mengenai ibu dan atau BBL, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil
pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang telah diterima ibu dan atau BBL.
Lampirkan partograf hasil persalinan ibu pada saat rujukan.

O : (Obat). Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan.
Obat mungkin diperlukan selama perjalanan.

K : (Kendaraan). Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu


dalam kondisi yang cukup nyaman. Pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk
mencapai tempat rujukan dalam waktu yan tepat.

U : (Uang). Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup
untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang
diperlukan selama ibu dan BBL tinggal di fasilitas rujukan.

DA : (Doa, darah). Ingatkan pada ibu dan keluarga untuk selalu memanjatkan doa
sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Ajak keluarga/tetangga yang mempunyai
golongan darah yang sama dengan pasien bila kasusnya memerlukan tranfusi darah
II.1.6 Penanganan

Riwayat SC menjdi resiko rupture uteri pada kehamilan selanjunya, namun hal
tersebut dapat dicegah. Pencegahan rupture uteri pada wanita yang pernah mengalami
SC, di beberapa Negara terdapat pendapat bahwa sekali seksio, seterusnya seksio.
Pendirian tersebut tidak dianut di Indonesia. Seorang wanita yang mengalami SC
untuk sebab yang hanya terdapat pada persalinan yang memerlukan pembedahan itu
untuk menyelesaikannya, diperbolehkan untuk melahirkan pervaginampada
persalinan berikutnya. Akan tetapi, ia harus bersalin di rumah sakit supaya diawasi
dengan baik. Kala II tidak boleh berlangsung terlalu lama dan pemberian oksitosin
tidak dibenarkan. Ketentuan bahwa tidak perlu dilakukan SC ulangan pada wanita
yang pernah mengalami SC tidak berlaku untuk SC klasik.

Karena adanya bahaya yang lebih besar akan timbulnya rupture uteri pada riwayat
SC, maka perlu dilakukan SC ulang. Selain itu, ibu hendaknya dirawat 3 minggu
sebelum HPL. Dapat dipertimbangkan untuk melakukan SC sebelum persalinan
dimulai, asal kehamilannya benar-benar lebih dari 37 minggu.

BAB III
KESIMPULAN
Tindakan Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas
kesehatan rujukan atau yang memiliki saran lebih lengkap diharapkan mampu
menyelamatkan jiwa para ibu dan BBL walaupun sebagian besar ibu menjalani
persalinan normal, masih ada sekitar 10-15% diantaranya akan mengalami masalah
selama proses persalinan.
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan
janin dari dalam Rahim.