Anda di halaman 1dari 46

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi dan Penggunaan

Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar
biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus
mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli (PSAK
102 paragraf 5). Definisi ini menunjukkan bahwa transaksi murabahah
tidak harus dalam bentuk pembayaran tangguh (kredit), melainkan dapat
juga dalam bentuk tunai setelah menerima barang, ditangguhkan dengan
mencicil setelah menerima barang, ataupun ditangguhkan dengan
membayar sekaligus di kemudian hari (PSAK 102 paragraf 8).

Praktik yang paling banyak digunakan adalah skema pembayaran


dengan mencicil setelah menerima barang. Adapun praktik dengan
pembayaran sekaligus setelah ditangguhkan beberapa lama, diterapkan
secara efektif nasabah pembiayaan dengan karakteristik penerimaan
pendapatan musiman, seperti nasabah yang memiliki usaha pemasok
barang dengan pembeli yang membayar secara periodik.

B. Ketentuan Syari, Rukun Transaksi dan Pengawasan Syariah


Transaksi Murabahah

1. Ketentuan Syari Transaksi Murabahah

Ketentuan syari terkait dengan transaksi murabahah,


digariskan oleh fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/DSN-
MUI/IV/2000. Fatwa tersebut membahas tentang ketentuan umum
murabahah dalam bank syariah, ketentuan murabahah kepada nasabah,

1
jaminan, utang dalam murabahah, penundaan pembayaran, dan kondisi
bangkrut pada nasabah murabahah.

2. Rukun Transaksi Murabahah

a. Transaktor

Dalam transaksi murabahah terdiri atas pembeli (yaitu


nasabah yang memerlukan barang) dan penjual (yaitu bank
syariah). Dalam fikih muamalah, transaktor disyaratkan memilki
kompetensi berupa akil baligh dan kemampuan memilih yang
optimal, seperti tidak gila, tidak sedang dipaksa, dan lainnya.

Terkait dengan jual beli, DSN membolehkan bank meminta


nasabah untuk membayar uang muka (urbun) saat menandatangani
kesepakatan awal pemesanan. Kebijakan meminta uang muka
diterapkan secara ketat pada transaksi murabahah yang pembelian
asetnya dilakukan oleh bank. Adanya uang muka juga
dimaksudkan untuk mengantisipasi kerugian bank akibat
pembatalan nasabah membeli barang yang sudah dipesan dan
diperoleh bank.

Adapun jika uang muka tidak mencukupi untuk menutupi


kerugian Bank, DSN membolehkan bank meminta sisa
kerugiannya kepada nasabah. Fatwa DSN MUI tentang Murabahah
membolehkan bank syariah meminta nasabah untuk menyediakan
jaminan yang dapat disimpan oleh bank. Jaminan tersebut
bertujuan agar nasabah serius dengan pesanannya maupun dengan
pelunasan piutanganya.

Berdarkan fatwa DSN Nomor 17, nasabah tidak dibenarkan


menunda-nunda pembayaran, termasuk dalam pembayaran piutang

2
murabahah. DSN MUI membolehkan bank syariah menerapkan
sanksi berupa denda sejumlah uang teretntu kepada nasabah
menunda-nunda menunaikan kewajibannya padahal memiliki
kemapuan untuk melunasi kewajibannya.

b. Objek Murabahah

Rukun objek akad transaksi murabahah meliputi barang dan


harga yang diperjualbelikan. Fatwa DSN Nomor 4 menyatakan
bahwa barang yang diperjualbelikan bukanlah barang yang
diharamkan oleh syariah islam. Pemilikan barang oleh bank terbagi
menjadi dua yaitu murabahah tanpa pesanan dan murabahah
dengan pesanan. Dalam teori, murabahah dengan pesanan terbagi
menjadi dua, yaitu yang bersifat mengikat dan tidak mengikat
nasabah untuk membeli barang yang dipesan (PSAK 102 paragraf
7).

Berdarkan PAPSI 2003 metode pengakuan pendapatan


margin murabahah yang dianjurkan adalah metode proporsional
yang mengakui pendapatan secara proporsional atas jumlah
piutang yang berhasil ditagih (PSAK 102 paragraf 24). Akan tetapi
pada kenyataannya, sebagian bank ada yang menggunakan metode
anuitas. Dalam perkembangannya PAPSI 2013 mengakomodasi
kedua pendekatan tersebut tanpa menyebutkan bahwa salah
satunya adalah lebih dianjurkan. Pengakuan pendapatan
murabahah secara non-tunai dapat menggunakan metode anuitas
(efektif) atau metode proprsional (flat).

Pelunasan piutang umumnya dilakukan dengan mencicil


setiap bulan dengan jumlah yang sama. Pada pelunasan dengan
angsuran, nasabah diwajibkan membayar angsuran sebelum waktu
jatuh tempo angsuran dengan cara mengisi rekening tabungannya.

3
Selanjutnya, bank melakukan penarikan dana di tabungan nasabah
sebesar utang angsurannya yang jatuh tempo. Jumlah angsuran
piutang oleh nasabah biasanya adalah sama setiap bulan.

Bank syariah diperbolehkan mengenakan denda pada


nasabah yang sengaja menunda-nunda pembayaran kewajibannya.
Denda yang dikenakan selanjutnya dijadikan sebagai penambah
dana qardhul hasan untuk disalurkan kepada masyarakat.

c. Ijab dan Kabul

Ijab dan kabul merupakan pernyataan kehendak para pihak


yang bertransaksi, baik secara lisan, tertulism atau secara diam-
diam. Akad murabahah bersifat mengikat bagi kedua pihak dan
mencantumkan berbagai hal, antara lain sebagai berikut:

1) Nama notaris serta informasi tentang waktu dan tempat


penandatanganan akad.
2) Identitas pihak pertama, dalam hal ini pihak yang
mewakili bank syariah (biasanya kepada cabang).
3) Identitas pihak kedua, dalam hal ini nasabah yang akan
membeli barang dengan didampingi oleh suami/istri
yang bersangkutan sebagai ahli waris.
4) Bentuk akad beserta penjelasan akad.
5) Kesepakatan-kesepakatan yang disepakati.

3. Pengawasan Syariah Transaksi Murabahah

DPS biasanya melakukan pengawasan secara periodik.


Pengawasan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Bank
Indonesia Nomor 8/19/DPBs Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengawasan Syariah dan Tata Cara Pelaporan Hasil Pengawasan bagi
Dewan Pengawas Syariah berupa sebagai berikut:

4
1) Memastikan barang yang diperjualbelikan tidak
diharamkan oleh syariah Islam.
2) Memastikan bank menjual barang tersebut kepada nasabah
dengan harga jual senilai harga beli plus margin.
3) Meneliti pembiayaan berdasarkan prinsip murabahah
dilakukan setelah adanya permohonan nasabah dan
perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank.
4) Meneliti apakah akad wakalah telah dibuat oleh bank secara
terpisah dari akad murabahah, apabila bank hendak
mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang
tersebut dari pihak ketiga.

C. Alur Transaksi Murabahah

1. Pertama : Nasabah melakukan pengajuan pembelian barang kepada


bank, di dalamnya nasabah melakukan negosiasi mengenai harga
barang yang dibelinya, margin, dan jangka waktu pembayaran dan
besar angsuran perbulannya ketika membeli kredit.
2. Kedua : Bank akan mempelajari pengajuan nasabah apakah nasabah
tersebut mampu membayar piutang murabahah atau tidak. Apabila
nasabah mampu melakukan perjanjian ini yang telah disepakati maka
dibuatlah akad murabahah dimana didalamnya mencakup berbagai hal
agar rukun murabahah dipenuhi dalam tranksasi jual beli yang
dilakukan.
3. Ketiga : Setelah akad murabahah tersebut telah disepakati bank
membeli barang yang diinginkan kepada pemasok. Ada 2 jenis akad
murabahah yang pertama adalah tanpa pesanan, bank langsung
menyerahkan barang kepada nasabah karena telah ada stocknya
terlebih dahulu dan stocknya umum. Yang kedua adalah akad
murabahah dengan pesanan dapat diwakilkan kepada nasabah atas
nama bank. Dokumen pembelian barang tersebut harus diserahkan
oleh pemasok kepada bank.
4. Keempat : Setelah barangnya sampai kepada pemasok selanjutnya
akan dikirim kepada nasabah.

5
5. Kelima : Setelah barang itu sampai kepada nasabah, nasabah
melakukan pembayaran kepada bank yang telah disepakati
sebelumnya. Nasabah melakukan pembayaran tersebut dengan cara
mencicil sejumlah uang yang ditentukan selama jangka waktu yang
telah disepakati sebelumnya.

Adapun skema transaksi murabahah melalui pesanan adalah :

1. Negosiasi

2. Akad Murabahah

Bank Nasabah
Syariah 6. Bayar
(Pembeli
(Penjual) )

5. Kirim dokumen

PEMASOK
3. Membeli barang 4. Mengirim barang
D. Cakupan Standar Akuntansi Murabahah

Dalam menggunakan standar akuntansi murabahah harus


bergantung pada metode pengakuan pendapatan murabahah. Menurut
PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah) tahun 2013 mengatakan
bahwa untuk pengakuan murabahah yang menggunakan metode anuitas
harus menggunakan PSAK 55 pada tahun 2011 mengenai tentang

6
Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, PSAK 50 tahun 2010
mengenai tentang Instrumen Keuangan: Penyajian, PSAK 60 yang
berhubungan dengan Instrumen Keuangan: pengungkapan dan PSAK
lainnya harus relavan dan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip
syariah. Pada saat bank mulai memilih menggunakan metode proporsional
(flat) maka pencatatan tranksasi murabahah tersebut harus menggunakan
PSAK 102 mengenai Akuntansi Murabahah. Menurut PSAK 102 bahwa
untuk lembaga keuangan syariah seperti bank, asuransi, lembaga
pembiayaan, dana pensiun, koperasi dan lainnya dalam menjalankan
tranksasi murabahah.

Berbagai tranksasi yang perlu diakui dalam tranksasi kepada


penjual antara lain saat menerima uang muka murabahah, pengakuan dan
pengukuran yang berhubungan dengan asset murabahah pada saat
perolehan, asset murabahah setelah perolehan terjadi penurunan nilai asset
atau diskon pembelian. Menurut PSAK 102 bahwa dalam memberikan
panduan bagi pembeli akhir yang secara khusus diatur dalam standar ini
adalah saat terjadi utang yang timbul dari tranksasi, aset yang diperoleh,
beban murabahah, terdapat diskon pembelian yang diterima dari penjual,
diberlakukan denda yang dibayar akibat kelalaian dan pada saat potongan
uang muka akibat pembatalan pembelian.

E. Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Tranksasi Murabahah


1. Perhitungan Transaksi Murabahah

Teknis perhitungan dan perjurnalan tranksasi jual beli murabahah


ini dilihat dari soal: Pada tanggal 23 Januari 2016, PT Marifat mulai
melakukan negosiasi dengan Bank BNI Syariah untuk memperoleh

7
fasilitas murabahah melalui pesanan untuk pembelian kendaraan sebuah
mobil dengan rencana sebagai berikut :

Harga barang : Rp. 100.000.000


Uang Muka : Rp. 10.000.000 (10% dari harga barang)
Pembiayaan oleh bank : Rp. 90.000.000
Margin : Rp. 18.000.000 (20% dari pembiayaan oleh
bank)
Harga jual : Rp 118.000.000 (harga barang plus margin)
Jangka waktu : 24 Bulan
Biaya administrasi : 1% dari pembiayaan oleh bank.

Teknis perhitungan transaksi murabahah antara lain :


a. Perhitungan Penentuan Margin Murabahah

Dalam menghitung margin menggunakan metode


anuitas, semakin lama jangka waktu pembiayaan, semakin
besar juga margin yang dikenakan pada nasabah. Setelah
margin ditentukan, nilai margin tersebut bersifat tetap dan tidak
berubah walaupun adanya nasabah melakukan keterlambatan
pembayaran .Menurut PSAK 102 bahwa akad murabahah
memperkenalkan penawaran harga yang berbeda-beda untuk
melakukan cara pembayaran yang berbeda juga sebelum akad
murabahah ini dilakukan.

b. Perhitungan Angsuran per Bulan dan Pendapatan yang


Diakui
Rumus perhitungan angsuran ini adalah :
Angsuran per bulan = Total piutang Uang muka
Jumlah bulan pelunasan
Seperti contoh : dalam menggunakan data murabahah
melalui pesanan rencana pembelian mobil (total piutang Rp
118.000.000 , uang mukaRp. 10.000.000, jangka waktu 24
bulan maka :

8
Angsuran per bulan = (Total Piutang Uang muka)
Jumlah beban pelunasan

= (Rp 118.000.000-Rp.10.000.000)

24 bulan

= Rp. 108.000.000

24 ulan

= Rp. 4.500.000

c. Perhitungan Pendapatan Margin yang diakui saat Jatuh


Tempo atau Pembayaran Angsuran

Saat tanggal jatuh tempo, bank syariah akan mengakui


adanya pendapatan margin. Bank dalam menggunakan metode
pendekatan proposional, besarnya margin setiap bulan adalah
sama. Sedangkan dalam menggunakan metode pendekatan
table anuitas, margin pada bulan pertama akan lebih besar
dibandingkan dengan bulan kedua dan seterusnya. Menurut
PSAK 102 paragraf 24 bahwa metode yang disarankan yaitu
metode pendekatan proposional karena proposional terhadap
jumlah piutang yang berhasil ditagih dengan mengalikan
persentase keuntungan terhadap jumlah piutang yang sudah
ditagih.

1) Perhitungan persentase keuntungan dari


perbandingan margin dengan biaya perolehan
Rumusnya adalah :
Persentase Keuntungan = Total Margin
Biaya perolehan Aset
murabahah diluar
uang muka nasabah X
100%

9
= Rp. 18.000.000

Rp 90.000.000X100%

= 20%

Margin per bulan = 20% X Biaya perolehan per


Bulan

= 20 % X 4.500.000
= 900.000
Dalam persentase keuntungan dari
perbandingan margin dengan biaya perolehan asset
murabahah tidaklah mudah jika diterapkan terutama
dalam melakukan perhitungan margin yang telah
diakui oleh bank saat nasabah melakukan angsuran.

2) Perhitungan persentase keuntungan dari


perbandingan margin dengan total piutang
Rumusnya perhitungan persentase keuntungan dari
perbandingan margin dengan total piutang adalah :

Persentase Keuntungan = Total margin


TotalPiutangBersihX100%

= Rp. 18.000.000

Rp. 108.000.000X100%
= 16,666666 %
Dalam menggunakan pendekatan ini tentang
perhitungan margin per bulan yang dihitung
proporsional terhadap jumlah yang dibayar :
Margin per Bulan = Persentase keuntungan X
Angsuran per bulan
= 16,666666 % X Rp.
4.500.000
= Rp. 750.000

10
Pokok per Bulan = Angsuran per Bulan
Margin per Bulan

= Rp. 4.500.000 Rp.

750.000

= Rp. 3.750.000
Jadi bisa disimpulkan bahwa PT Marifat untuk setiap
pembayaran angsuran sebesar Rp. 4.500.000 per bulan, di
dalamnya terkandung margin sebesar Rp. 750.000 dan pokok
per bulan sebesar Rp 3.750.000. Bedasarkan perhitungan diatas
mengenai angsuran, margin dan pokok per bulan, bank
selanjutnya menyiapkan skedul pembayaran murabahah untuk
PT. Marifat sebagai berikut :

Jadwal Pembayaran Murabahah PT Marifat :

Angsuran
Tanggal Jatuh
No. per Bulan Pokok (Rp) Margin (Rp)
Tempo
(Rp)
1. 10 Februari 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
2. 10 Maret 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
3. 10 April 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
4. 10 Mei 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
5. 10 Juni 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
6. 10 Juli 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
7. 10 Agustus 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
8. 10 September 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
9. 10 Oktober 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
10. 10 November 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
11. 10 Desember 20XA 4.500.000 3.750.000 750.000
12. 10 Januari 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
13. 10 Februari 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
14. 10 Maret 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
15. 10 April 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000

11
16. 10 Mei 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
17. 10 Juni 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
18. 10 Juli 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
19. 10 Agustus 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
20. 10 September 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
21. 10 Oktober 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
22. 10 November 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
23. 10 Desember 20XB 4.500.000 3.750.000 750.000
24. 10 Januari 20XC 4.500.000 3.750.000 750.000
TOTAL 108.000.000 90.000.000 18.000.000

2. Akuntansi Transaksi Murabahah (Penjurnalan)


a. Saat Negosiasi = Bank syariah tidak melakukan jurnal apapun.
b. Pengakuan Uang Muka
Berdasarkan PSAK no 102 paragraf 30 : uang muka diakui
sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima.
Dalam praktik perbankan terdapat 3 alternatif perlakuan:
1) Mendebit langsung uang muka yang disepakati tersebut;
2) Memblokir rekening nasabah sebesar nilai yang
disepakati;
3) Uang muka dipegang dan dibayar langsung oleh
nasabah kepada pemasok.

Dalam pembahasan ini, hanya akan dibahas mengenai


alternatif mendebit langsung rekening nasabah sebesar uang muka
yang disepakati, sedangkan dua alternatif lainnya akan dibahas
pada bagian variasi transaksi.

Contoh: Mendebit langsung kas atau rekening nasabah


sebesar uang muka yang disepakati

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit


(Rp)

5/1/XA Db. Kas/Rek. Tabungan murabahah 10.000.000


PT. Marifat

12
Kr. Uang muka 10.000.000

c. Pembelian barang pesanan

Pembelian barang pesanan dapat dilakukan dengan dua


alternatif, yaitu: (1) bank membeli sendiri barang yang dipesan,
dan (2) bank mewakilkan kepada nasabah pembeli membeli barang
yang dipesan atas nama bank syariah. dalam pembelian sendiri
oleh bank dapat dilakukan dengan membeli secara tunai kepada
pemasok atau membeli secara kreedit kepada pemasok. Dalam
pembahasan ini hanya akan membahas tentang pembelian barang
pesanan yang dilakukan oleh bank.

Alternatif 1 a: Bank membeli sendiri barang yang dipesan


langsung secara tunai kepada pemasok

Contoh: pada tanggal 7 Januari 20XA, Untuk keperluan transaksi


murabahah dengan PT. MARIFAT , BMS melakukan pembelian
barang pesanan PT. MARIFAT kepada pemasok senilai Rp 100
juta secara tunai. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah
sebagai berikut:

Kredit
Tanggal Rekening Debit (Rp)
(Rp)

5/1/XA Db. Persediaan aset murabahah 100.000.000

Kr. Kas/rekening 100.000.00


nasabah pemasok Z 0

13
Alternatif 1b: Membeli langsung barang secara kredit kepada
pemasok

Contoh: pada tanggal 7 Januari 20XA, Untuk keperluan transaksi


murabahah dengan PT. MARIFAT, BMS melakukan pembelian
barang pesanan PT. MARIFAT kepada pemasok senilai Rp 100 juta
secara kredit. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut sebagai
berikut:

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Db. Persediaan aset murabahah 100.000.000

Kr. Utang pada pemasok Z 100.000.000

Pada saat pelunasan utang pada pemasok adalah sebagai berikut :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Db. Utang pd pemasok Z 100.000.000

Kr. Kas/rekening nasabah 100.000.000


pemasok Z

14
d. Saat akad murabahah tidak jadi disepakati

Berdasarkan PSAK 102 paragraf 30 disebutkan bahwa jika


barang batal dibeli oleh pembeli, maka uang dikembalikan setelah
diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh
penjual.

Contoh: pada tanggal 10 Januari 20XA, nasabah pembeli


membatalkan rencana pembeliannya dan meminta kembali uang
muka yang telah didebit oleh bank syariah. Atas pembatalan
rencana pembelian tersebut, bank syariah memotong uang muka
sebesar Rp 1.000.000 untuk mengganti biaya-biaya yang telah
dikeluarkan oleh bank syariah dalam rangka pengadaan barang.

Jurnal pengembalian uang muka tersebut adalah sebagai


berikut:

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Db. Utang pd pemasok Z 100.000.000

Kr. Kas/rekening nasabah 100.000.000


pemasok Z

e. Saat Akad Murabahah disepakati

Contoh: Tanggal 10/1/XA, PT. Marifat menandatangani akad


murabahah sebagaimana yang telah dinegosiasikan tgl 5 januari
20XA .

Pada saat akad murabahah jadi disepakati tersebut, terdapat


beberapa transaksi yang perlu dicatat yaitu: (1) Penjualan
murabahah oleh bank kepada PT. Marifat; (2) Pengakuan uang

15
muka sebagai bagian pelunasan piutang murabahah; dan (3)
Pengakuan pendapatan administrasi dan penerimaan lain atas biaya
yang dibebankan kepada nasabah pembiayaan.

1) Pencatatan penjualan murabahah

Berdasarkan PSAK 102 paragraf 22, piutang murabahah diakui sebesar


biaya perolehan asset murabahah ditambah keuntungan yang disepakati. Contoh
dari jurnalnya adalah sebagai berikut :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/1/XA Db. Piutang Murabahah 118.000.000

Kr. Aset aset 100.000.000


murabahah

Kr. Marjin 18.000.000


murabahah yg
ditangguhkan

2) Pencatatan urbun sebagai bagian pelunasan piutang

16
Berdasarkan PSAK 102 paragraf 30, disebutkan
bahwa jika barng jadi oleh pembeli (aka jual beli
disepakati), uang muka diakui sebagai pembayaran piutang,
Untuk uang muka yg sebelumnya diakui dengan mendebit
rekening nasabah, maka jurnal pengakuan uang muka
sebagai bagian pelunasan piutang murabahah adalah:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/1/X Db. Uang muka 10.000.000


A

Kr. Piutang 10.000.000


murabahah

3) Pencatatan biaya-biaya yang ditanggung nasabah

Misalkan dalam transaksi murabahah PT. Marifat,


nasabah dikenakan biaya-biaya sebagai berikut :

Biaya administrasi Rp. 900.000


Biaya materai Rp. 30.000
Biaya notaris Rp. 225.000 (0,25% dari pmbiayaan
oleh bank)
Biaya asuransi jiwa Rp. 378.000 (0,21% X 2 thn X
pembiayaan oleh Bank)

Jurnal transaksi diatas sebagai berikut :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

17
10/1/X Db. Rekening nasabah 1.533.000
A PT. Marifat

Kr. Pendapatan 900.000


administrasi

Kr. Persediaan 30.000


Materai

Kr. Rekening 225.000


notasis

Kr. Rekening 378.000


perusahaan
asuransi

Penentuan biaya administrasi yang dikenakan pada


nasabah dihitung berdasarkan presentase tertentu terhadap
jumlah pembiayaan. Dalam praktik, bank syariah
menerapkan biaya administrasi yang beragam antara satu
bank dengan bank lainnya. Ada bank syariah yang
menerapkan biaya administrasi 1% atau lebih rendah dan
ada juga yang menerapkan sekitar 1,5% dari total
pembiayaan.
Biaya materai ditentukan berdasarkan jumlah
materai yang digunakan untuk berbagai dokumen transaksi.
Biaya notaris didasarkan pada kebijakan notaris
yang digunankan bank syariah. salah satu metode yang
digunakan oleh notaris adalah presentase tertentu dari
transaksi, misalnya 0,25% dari nilai pembiayaan.
Biaya asuransi didasarkan pada kebijakan
perusahaan asuransi syariah yang menjadi mitra bank
syariah. perusahaan asuransi syariah biasanya menetapkan
besar premi asuransi berdasarkan presentase tertentu dari

18
nilai pembiayaan yang dikalikan dengan jumlah tahun
pembiayaan. Dalam transaksi diatas presentase yang
digunakan adalah 0,21% yang selanjutnya dikalikan dengan
jumlah tahun dan besar pembiayaan.
Untuk transaksi murabahah yang dilakukan dengan
perusahaan, asuransi yang diterapkan adalah asuransi
kerugian dan bukan asuransi jiwa.

f. Pembayaran Angsuran dan Pengakuan Keuntungan


Murabahah

PSAK 102 tentang murabahah tidak mengatur mengenai


cara perhitungan keuntungan melainkan cara pengakuan
keuntungan murabahah. Pengakuan dan pengukuran keuntungan
murabahah dalam PSAK 102 paragraf 23 sampai dengan paragraf
25 menjelaskan bahwa keuntungan dapat diakui:

Pada saat penyerahan barang jika dilakukan secara tunai


atau secara tangguh yang tidak melebihi satu tahun atau
Selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya
untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi
tangguh lebih dari satu tahun. Metode berikut ini
digunakan, dan dipilih yang paling sesuai dengan
karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya:
1) Keuntungan diakui pada saat penyerahan aset
murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah
tangguh dimana risiko penagihan kas dari piutang
murabahah dan beban pengelolaan serta penagihannya
relatif kecil.
2) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas
yang berhasih ditagih dari piutang murabahah. Metode
ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh di mana
risiko piutang tidak tertagih relatif besar dan/atau beban

19
untuk mengelola dan menagih piutang tersebut relatif
besar juga.
3) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah
berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk transaksi
murabahah tangguh di mana risiko piutang tidak
tertagih dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya cukup besar. Dalam praktik, metode ini
jarang dipakai, karena transaksi murabahah tangguh
mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian yang
memadai akan penagihan kasnya.

Terkait dengan risiko dalam penerapannya bank melakukan


pengukuran risiko pembiayaan sejak awal pembiayaan diberikan.
Risiko pembiayaan dapat dinilai dengan:

Credit scoring
Agunan
Risk rating
Switching skedul

Keempat cara tersebut dilakukan untuk menyelamatkan aset


bank (aset produktif) sehingga rasio non-performing financing
dapat ditekan.

Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah di


Lembaga Keuangan Syariah sesuai dengan fatwa Dewan Syariah
Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No.84/DSN-
MUI/XII/2012 yang dikeluarkan pada tanggal 21 Desember 2012,
pengakuan keuntungan murabahah dalam bisnis yang dilakukan
oleh lembaga keuangan syariah, boleh dilakukan secara
proporsional dan secara anuitas selama sesuai dengan urf
(kebiasaan) yang berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah.
Dalam perbankan, praktik akuntansi yang cenderung digunakan

20
dalam hal pengakuan keuntungan adalah pengakuan keuntungan
proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih.

Jadwal dan Realisasi Pembayaran Angsuran Murabahah PT Marifat

No Tanggal Jatuh Angsuran Pokok Margin Tanggal Jumlah


Tempo per Bulan (Rp) (Rp) Pembayaran yang
(Rp) Dibayar
1. 10/02/XA 4.500.000 3.750.000 750.000 10/02/XA 4.500.000
Pembayaran
angsuran
dilakukan pada
waktu tanggal
jatuh tempo.

2. 10/03/XA 4.500.000 3.750.000 750.000 20/03/XA 4.500.000


Pembayaran
angsuran
dilakukan
setelah
tanggal jatuh
tempo tanpa
dikenakan
denda
3. 10/04/XA 4.500.000 3.750.000 750.000 10/04/XA 2.000.000
Pembayaran 15/04/XA 2.500.000
angsuran
dilakukan
sebagian pada
waktu tanggal
jatuh tempo
dan sebagian
lagi setelah

21
jatuh tempo
tanpa
dikenakan
denda.

4. 10/05/XA 4.500.000 3.750.000 750.000 30/05/XA 4.500.000


Pembayaran plus denda
angsuran
dilakukan
setelah
tanggal jatuh
tempo dengan
pengenaan
denda
keterlambatan
.

5. 10/06/XA 4.500.000 3.750.000 750.000 10/06/XA Pelunasan


Pembayaran dini (Rp
untuk melunasi 90.000.00
piutang lebih 0) minus
awal dari potongan
waktu yang
ditentukan
(pelunasan
dini).

Berdasarkan skedul di atas, terdapat beberapa pola


pembayaran oleh nasabah. Pola pembayaran tersebut adalah
sebagai berikut:

22
i. Pembayaran angsuran dilakukan pada waktu
tanggal jatuh tempo.

Tanggal Jurnal Debet Kredit


10/02/XA Kas/Rekening nasabah PT 4.500.000
MARIFAT
Piutang murabahah 4.500.000
Margin murabahah yang 750.000
ditangguhkan
Pendapatan margin murabahah 750.000

ii. Pembayaran angsuran dilakukan setelah tanggal


jatuh tempo tanpa dikenakan denda.

Tanggal Jurnal Debet Kredit


10/03/XA Piutang murabahah jatuh tempo 4.500.000
Piutang murabahah 4.500.000
Margin murabahah yang 750.000
ditangguhkan
Pendapatan margin murabahah - 750.000
akrual
20/03/XA Kas/Rekening nasabah - PT 4.500.000
MARIFAT
Piutang murabahah jatuh tempo 4.500.000
Pendapatan margin murabahah - 750.000
akrual
Pendapatan margin murabahah 750.000

Saat jatuh tempo, bank mencatat dua pasang jurnal:

Pengakuan terhadap perubahan piutang


murabahah menjadi piutang murabahah
jatuh tempo;

23
Pengakuan terhadap perubahan margin yang
ditangguhkan menjadi pendapatan margin
murabahah akrual

Saat pendebitan rekening nasabah, bank mengakui :

Berkurangnya piutang murabahah jatuh


tempo
Ada perubahan pendapatan margin akrual
menjadi pendapatan margin

Pendapatan margin murabahah akrual adalah


pendapatan margin yang sudah menjadi hak bank
karena jatuh temponya angsuran piutang, akan
tetapi belum berwujud kas karena belum adanya
penerimaan atas angsuran piutang tersebut.

iii. Pembayaran angsuran dilakukan sebagian pada


waktu tanggal jatuh tempo dan sebagian lagi
setelah jatuh tempo tanpa dikenakan denda.

Misalkan pada tanggal 10 April (tanggal


jatuh tempo), ketika bank hendak mendebit
rekening nasabah, didapati tidak terdapat dana yang
cukup di rekening PT Marifat untuk membayar
angsuran bulan April. Saldo rekening sebesar Rp
2.000.000. Maka jurnal yang diperlukan adalah :

Tanggal Jurnal Debet Kredit


10/04/XA Kas/Rekening nasabah - PT Marifat 2.000.000
Piutang murabahah jatuh tempo 2.500.000
Piutang murabahah 4.500.000
Margin murabahah yang 750.000
ditangguhkan
Pendapatan margin 333.333
murabahah

24
Pendapatan margin 416.667
murabahah - akrual
Pendapatan margin murabahah = % keuntungan x angsuran
dibayar

= 16.6666% x 2.000.000

= 333.333

Pendapatan margin murabahah akrual = Margin murabahah


ditangguhkan Pendapatan margin murabahah

= Rp 750.000 Rp
333.333

= Rp 416.667

Misalkan pada tanggal 15 April, PT Marifat


membayar kekurangan pembayaran angsurannya
(Rp 4.500.000 Rp 2.000.000). BMS memaklumi
alasan keterlambatan pembayaran bulan April
sehingga tidak dikenakan denda. Jurnal pembayaran
tersebut adalah :

Tanggal Jurnal Debet Kredit


15/04/XA Rekening nasabah PT MARIFAT 2.500.000
Piutang murabahah 2.500.000
Pendapatan margin murabahah - 416.667
akrual
Pendapatan margin murabahah 416.667

iv. Pembayaran angsuran dilakukan setelah tanggal


jatuh tempo dengan pengenaan denda
keterlambatan.

25
Bank syariah diperbolehkan mengenakan
denda pada nasabah yang memiliki kemampuan
untuk membayar angsurannya, tetapi sengaja
menunda-nunda. Berdasarkan PSAK 109 paragraf
29 disebutkan bahwa denda yang diterima diakui
sebagai bagian dana kebajikan.

Misalkan, karena ketidakdisipliunan PT


Marifat, BMS mengenakan denda sebagaimana
yang telah disepakati dalam akad yaitu sebesar 10%
dari total pendapatan margin akrual yang
tertunggak.

Tanggal Jurnal Debet Kredit


10/05/XA Piutang murabahah jatuh tempo 4.500.000
Piutang murabahah 4.500.000
Margin murabahah yang 750.000
ditangguhkan
Pendapatan margin murabahah - 750.000
akrual
30/05/XA Kas/Rekening nasabah PT Marifat 4.500.000
Piutang murabahah jatuh tempo 4.500.000
Pendapatan margin murabahah - 750.000
akrual
Pendapatan margin murabahah 750.000
30/05/XA Kas/Rekening nasabah PT Marifat 75.000
Rekening dana kebajikan* 75.000
*10% x total margin akrual
10% x 750.000

v. Pembayaran untuk melunasi piutang lebih awal


dari waktu yang ditentukan (pelunasan dini)

26
Nasabah diperkenankan melunasi
pembiayaan yang di dapatnya lebih awal dari waktu
yang disepakati. Bagi bank syariah, pelunasan lebih
awal merupakan hal yang sangat baik karena
mengurangi beban pengawasan dan administrasi di
masa depan. Oleh karena itu, biasanya bank
memberikan potongan atas pelunasan tersebut.
Dalam praktik perbankan, besar atau kecilnya
potongan oleh bank mempertimbangkan jenis
pembiayaan dan jangka waktu. Pembiayaan untuk
perusahaan atau lembaga cenderung lebih besar
dibanding potongan untuk individu. Adapun
pembiayaan dengan sisa waktu yang lebih lama
cenderung lebih besar dibanding dengan sisa waktu
yang lebih pendek. Oleh karena potongan tersebut
merupakan kewenangan bank dan bukan hak
nasabah, maka bank juga boleh tidak memberikan
potongan pada nasabah yang melakukan pelunasan
dini.

Berdasarkan PSAK 102 tentang Akuntansi


Murabahah, potongan pelunasan piutang murabahah
dapat diberikan pada pembeli yang melunasi secara
tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang
disepakati (paragraf 26).

Misalkan pada tanggal 10 Juni 20XA, PT


Marifat bermaksud melunasi sisa kewajibannya
dengan nilai buku Rp. 90.000.000 yang terdiri atas
pokok pembiayaan sebesar Rp 75.000.000 dan
margin yang ditangguhkan sebesar Rp 15.000.000.
disepakati pada saat pelunasan bahwa potongan

27
pelunasan akan diberikan sebesar 80% dari sisa
margin murabahah yang masih ditangguhkan.

Besarnya potongan pelunasan dan margin


murabahah yang akan menjadi pendapatan margin
murabahah adalah sebagai berikut :

Margin yang ditangguhkan = Rp. 15.000.000

Potongan Pelunasan = 80% Rp. 15.000.000

= Rp. 12.000.000

Pendapatan Margin Murabahah :

Margin yang ditangguhkan potongan pelunasan

= Rp. 15.000.000 Rp. 12.000.000

= Rp. 3.000.000

Pemberian potongan pelunasan piutang


murabahah dapat dilakukan dengan menggunakan
salah satu dari metode (PSAK 102 paragraf 27) :

Alternatif 1 : Potongan diberikan pada


saat pelunasan

Berdasarkan metode ini, bank sebagai


penjual mengurangi piutang murabahah dan
keuntungan murabahah (PSAK 102 Paragraf 27a).
Jurnal yang perlu dibuat : (1) Jurnal mengurangi
piutang murabahah dan keuntungan murabahah
sebesar potongan; (2) Penerimaan pembayaran
sebesar piutang murabahah yang telah diberi diskon;
(3) Pengakuan pendapatan margin murabahah.

28
Debit Kredit
Tanggal Rekening
(Rp) (Rp)
10/06/X Db. Beban potongan angsuran 12.000.00
A murabahah* 0
Kr. Piutang Murabahah 12.000.000

Db. Kas/rekening nasabah 78.000.00


0
Kr. Piutang murabahah 78.000.000

Db. Margin murabahah yang 15.000.00


ditangguhkan 0
Kr. Pendapatan margin 15.000.000
murabahah
Ket : dalam laporan laba rugi,
beban potongan akan
mengurangi pendapatan margin
murabahah.

Alternatif 2 : Potongan diberikan setelah


pelunasan.

Pada metode pemberian potongan setelah


pelunasan, bank sebagai penjual menerima
pelunasan piutang dari pembeli dan kemudian
membayarkan potongan pelunasannya kepada
pembeli (PSAK 102 Paragraf 27b). Jurnal yang
perlu dibuat terkait pemberian potongan setelah
pelunasan adalah :

(1) Penerimaan pelunasan piutang dengan


debit rekening sebesar sisa piutang yang

29
akan dilunasi dan kredit rekening
piutang;
(2) Pengakuan pendapatan margin
murabahah kas; dan
(3) Pengakuan potongan pada saat
pemberian potongan.

Debit Kredit
Tanggal Rekening
(Rp) (Rp)
05/06/XA Db. Kas/Rekening nasabah 90.000.00
0
Kr. Piutang murabahah 90.000.000
Db. Margin murabahah 15.000.00
ditangguhkan 0
Kr. Pendapatan margin
15.000.000
murabahah*
Db. Beban potongan pelunasan 12.000.00
0
Kr. Kas/Rekening nasabah
12.000.000

Ket : dalam laporan laba rugi,


beban potongan akan
mengurangi pendapatan margin
murabahah.

Berdasarkan PSAK 102 Paragraf 28,


potongan angsuran murabahah diakui sebagai
pengurang keuntungan murabahah jika diberikan

30
karena pembeli membeli secara tepat waktu atau
lebih cepat dari yang disepakati.

Terkait potongan piutang murabahah PAPSI


2013 (h. 4.9) menyatakan bahwa potongan
pelunasan piutang murabahah diakui sebagai
pengurang pendapatan murabahah pada saat
pelunasan sebesar jumlah yang diberikan. Jika
potongan pembayaran cicilan piutang murabahah
diberikan kepada nasabah :

(i) Karena membayar cicilan tepat


waktu, maka potongan pembayaran
diakui sebagai pengurang pendapatan
murabahah; dan/atau
(ii) Karena adanya penurunan
kemampuan pembayaran oleh
nasabah, maka potongan pembayaran
diakui sebagai beban bank.

Perbedaan alternatif ini memiliki implikasi


pada pendapatan yang dibagihasilkan. jika
diperlakukan sebagai pengurang pendapatan
murabahah, pendapatan yang dibagihasilkan relatif
lebih kecil dibandingkan metode potongan sebagai
beban bank, karena potongan tersebut akan
mengurangi jumlah pendapatan yang akan dibagi
hasil. Adapun metode potongan sebagai beban bank,
pendapatan yang dibagi hasil tidak terpengaruh ,
karena potongan yang diberikan seluruhnya
ditanggung oleh bank Syariah sebagai bagian beban
operasional.

31
g. Variasi dalam Transaksi Murabahah
1) Variasi dalam kebijakan uang muka
a) Memblokir rekening nasabah sebesar nilai uang muka
yang disepakati

Pada praktik pemblokiran rekening, bank tidak


melakukan penjurnalan. Uang yang terdapat dalam
rekening tabungan nasabah masih utuh tanpa dikurangi oleh
bank. Hanya saja dengan adanya pemblokiran tersebut,
nasabah hanya dapat mengambil sebagian tabungannya saja
hingga menyisakan dana minimal sebesar nilai uang muka
yang disepakati. Sekiranya akad murabahah jadi disepakati,
maka dana tabungan nasabah akan ditarik oleh bank sebesar
nilai uang muka, sebagai pengurang piutang atau harga jual.
Uang muka dengan pendekatan pemblokiran ini bank tidak
memerlukan adanya jurnal.

b) Uang muka tidak diserahkan pada bank, tetapi


dipegang dan dibayar langsung oleh nasabah kepada
pemasok

Pada perlakuan uang muka yang dipegang dan


dibayar langsung oleh nasabah kepada pemasok, bank tidak
melakukan jurnal terhadap uang muka yang dipegang oleh
nasabah tersebut. Dalam hal ini, akad jual beli tetap
dinyatakan sebesar Rp. 118.000.000, akan tetapi untuk
kepraktisan akuntansi, dalam buku bank dicatat sebesar Rp.
108.000.000 (pembiayaan bank Rp. 90.000.000 dan margin
Rp. 18.000.000) dengan memberi keterangan bahwa uang
muka sudah dibayar langsung oleh nasabah kepada
pemasok tanpa melalui bank. Dengan demikian, besar

32
margin dan angsuran per bulan adalah tetap sebesar Rp.
750.000 dan Rp. 4.500.000 berturut-turut.

2) Variasi dalam pencatatan urbun sebagai bagian pelunasan


murabahah

Pengakuan uang muka sebagai bagian pelunasan


piutang murabahah dilakukan sesuai dengan metode pencatatan
uang muka sebelum akad murabahah disepakati :

a) Alternatif jika rekening diblokir sebesar uang muka


yang disepakati

Dalam hal ini, pemblokiran hanya dilakukan hingga


akad disepakati. Selanjutnya pada saat akad disepakati,
bank mendebit rekening nasabah dan menjadikannya
sebagai bagian dari pelunasan piutang.

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Db. Rekening nasabah PT Marifat 10.000.000
Kr. Piutang murabahah 10.000.000

b) Alternatif jika uang muka dipegang dan dibayarkan


sendiri oleh nasabah kepada pemasok

Transaksi ini biasanya didahului dengan pembelian


barang dengan mewakilkan kepada nasabah pembeli.
Karena uang muka dipegang oleh nasabah pembeli, uang
yang diserahkan pada nasabah pembeli hanyalah sebesar
pembiayaan oleh Bank.

33
Pada transaksi murabahah PT Marifat sebelumnya,
karena uang muka sebesar Rp 10.000.000 dipegang sendiri
oleh PT Marifat, maka bank syariah mewakilkan pemeblian
aset murabahah dengan menyerahkan uang sebesar Rp
90.000.000. Jurnal transaksi tersebut adalah :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Db. Piutang Wakalah


90.000.000
Kr. Rekening nasabah
90.000.000
PT Marifat

Pada saat PT Marifat menyerahkan barang, BMS


melakukan jurnal :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Db. Persediaan aset murabahah *
90.000.000
Kr. Piutang wakalah
90.000.000

*Adanya pembayaran uang muka sebesar Rp.


10.000.000 yang langsung dilakukan oleh nasabah bisa
berdampak pada perbedaan catatan akuntansi sebesar
Rp. 90.000.000 dengan bukti pembelian sebesar Rp.
100.000.000. Dalam hal ini, baik pada catatan akuntansi
maupun dokumen pembelian perlu ditulis keterangan
tambahan terkait dengan pembayaran uang muka
sebesar Rp. 10.000.000 yang langsung dilakukan oleh
nasabah.

34
Dalam hal ini, bank tidak perlu mengakui dan
mengukur nilai uang muka yang digunakan nasabah dalam
jurnal. Dengan demikian, jurnal penjualannya adalah
sebagai berikut :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/01/XA Db. Piutang murabahah 108.000.00


0
Kr. Persediaan
aset murabahah 90.000.000

Kr. Margin
murabahah yang 18.000.000
ditangguhkan

3) Variasi dalam pengakuan pendapatan margin


a) Alternatif : Pengakuan margin murabahah saat
penyerahan aset murabahah

Alternatif ini diterapkan jika murabahah dilakukan


secara tunai atau tangguh yang tidak melebihi satu tahun
atau murabahah tangguh dengan lebih dari satu tahun
dengan resiko penagihan kas dari piutang murabahah dan
beban pengelolaan piutang serta penagihannya relatif
rendah.

Misalnya pada transaksi murabahah PT Marifat,


bank menilai bahwa resiko penagihan kas dari piutang
murabahah dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya relatif rendah, maka pengakuan
pendapatannya dapat dilakukan pada saat penyerahan aset

35
murabahah. Beberapa jurnal terkait dengan transaksi
tersebut adalah sebagai berikut :

Jurnal saat akad disepakati :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Db. Piutang murabahah
108.000.000
Kr. Persediaan aset
90.000.000
murabahah
Kr. Pendapatan margin
18.000.000
murabahah

Jurnal saat pembayaran angsuran oleh nasabah:

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Db. Kas/rekening nasabah
4.500.000
Kr. Piutang murabahah
4.500.000

b) Alternatif : Pengakuan pendapatan hanya pada saat


piutang murabahah berhasil ditagih seluruhnya

Alternatif ini diterapkan jika transaksi murabahah


tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban
pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar.

Misalnya pada transaksi murabahah PT Marifat di


atas , bank menilai bahwa resiko penagihan kas dari piutang
murabahah dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya cukup besar, maka pengakuan pendapatannya
dilakukan saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih.

36
Beberapa jurnal terkait dengan transaksi tersebut adalah
sebagai berikut :

Jurnal saat akad disepakati :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Db. Piutang Murabahah
108.000.000
Kr. Persediaan aset
90.000.000
murabahah
Kr. Margin yang
18.000.000
ditangguhkan

Jurnal saat pembayaran angsuran oleh nasabah :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Db. Kas/rekening nasabah
4.500.000
Kr. Piutang
4.500.000
murabahah

Jurnal saat pembayaran angsuran terakhir oleh


nasabah :

Dengan asumsi nasabah melakukan pembayaran


sesuai dengan jadwal hingga pembayaran terakhir pada
bulan ke-24, maka jurnal pada bulan ke-24 adalah sebagai
berikut :

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

37
Db. Kas/rekening nasabah
4.500.000
Kr. Piutang
4.500.000
murabahah
Db. Margin yang
18.000.000
ditangguhkan
Kr. Pendapatan
18.000.000
margin

h. Praktik Murabahah untuk Transaksi LC

Transaksi LC biasa menggunakan akad murabahah. Karena


pembelian tidak langsung dilakukan oleh bank, melainkan
diwakilkan kepada nasabah, maka akadnya biasa disebut dengan
akad wakalah wal murabahah.

Transaksi LC dengan Akad Wakalah Wal Murabahah

Nominal LC : $100,000.00
Jenis LC : LC sight (bayar saat dokumen barang sesuai syarat
pembelian)
Periode : 3 bulan (bank membayar tunai kepada supplier
(eksportir)
di luar negeri, nasabah tangguh kepada bank)
Terbit LC : 6 Mei 2009
38
Jatuh Tempo : 6 Agustus 2009
Rate Bank :4%
Skema praktik transaksi LC terdiri atas beberapa langkah,
yaitu sebagai berikut:

1) Nasabah bank (importer) mengajukan LC atas pembelian


barang dari supplier di luar negeri
2) Setelah melewati prosedur pembiayaan, bank setuju
menerbitkan LC. Saat terbit LC, bank mencatat sebagai
komitmen bank (rekening administratif)
3) Saat LC dikonfirmasi di luar negeri, bank membayar kepada
bank beneficiary atas petunjuk eksportir
4) Saat bank membayar kepada bank beneficiary, akad
murabahah pembiayaan dimulai
5) Nasabah membayar bank sesuai skedul yang telah
ditetapkan.

Misalkan realisasi dari akad tersebut adalah sebagai berikut :

Bulan Keterangan Rate Pembayaran Margin


Pokok LC
Jun-09 Margin bulan I 4,00% $0,00 $333,33
Jul-09 Margin bulan II 4,00% $0,00 $333,33
Agt-09 Pokok & Margin 4,00% $100.000,00 $333,34
bulan III
Total $100.000,00 $1000,00

Jurnal atas LC usance dengan akad wakalah wal murabahah


pada kasus diatas adalah sebagai berikut :

a) Saat penerbitan LC

39
Rekening Debit ($) Kredit ($)
Db Kontra-kewajiban komitmen 100.000,00
(LC impor)
Kr. Kewajiban komitmen 100.000,00
(LC impor)
(jurnal ini pada rekening
administratif)

Db. Rekening nasabah 850,00


Kr. Pendapatan atas biaya 850,00
SWIFT
Kr. Ujroh (fee) atas
pembukaan LC impor
(mencatat fee atas LC dan
pendapatan SWIFT, misal Ujroh
ditetapkan 0,75% dari nilai LC dan
biaya fixed USD100)

b) Saat LC dikonfirmasi oleh bank di luar negeri


(beneficiary)

Rekening Debit ($) Kredit ($)


Db. Kewajiban komitmen (LC 100.000,00
impor)
Kr. Kontra-kewajiban 100.000,00
komitmen (LC impor)
(mencatat perubahan dari komitmen
menjadi kewajiban)

Db. Tagihan LC (kepada nasabah) 100.000,00


Kr. Kewajiban LC Impor 100.000,00
(kepada beneficiary bank)
(mencatat kewajiban kepada
beneficiary & tagihan kepada
nasabah pada neraca)

40
c) Saat akad murabahah dengan nasabah atas LC

Rekening Debit ($) Kredit ($)


Db. Piutang Murabahah 101.000,00
Kr. Margin yang 1.000,00
ditangguhkan
Kr. Tagihan LC 100.000,00

d) Saat pembayaran kepada beneficiary (H+2 s/d H+5 dari


konfirmasi)

Rekening Debit ($) Kredit ($)


Db. Kewajiban LC 101.000,00
Kr. Giro Nostro (giro 1.000,00
bank diluar negeri)

e) Saat angsuran I dari nasabah

Rekening Debit ($) Kredit ($)


Db. Kas/rekening nasabah 333,33
Kr. Piutang Murabahah 333,33
Db. Margin yang ditangguhkan 333,33
Kr. Pendapatan Margin
333,33
Murabahah

f) Saat angsuran II dari nasabah

Rekening Debit ($) Kredit ($)


Db. Kas/rekening nasabah 333,33
Kr. Piutang Murabahah 333,33
Db. Margin yang ditangguhkan 333,33
Kr. Pendapatan Margin 333,33
Murabahah

41
g) Saat angsuran III dari nasabah

Rekening Debit ($) Kredit ($)


Db. Kas/rekening nasabah 100.333,33
Kr. Piutang Murabahah 100.333,33
Db. Margin yang ditangguhkan 333,33
Kr. Pendapatan Margin 333,33
Murabahah

F. Penyajian Transaksi Murabahah di Laporan Keuangan

Berdasarkan PAPSI 2013 (hal. 4.9-10) terdapat beberapa akun


terkait pembiayaan murabahah yang relevan untuk disajikan dalam laporan
keuangan :

1. Uang muka murabahah dari pembeli disajikan sebagai liabilitas


lainnya
2. Tagihan kepada nasabah atas pembatalan transaksi murabahah
dimana uang muka nasabah lebih dari beban riil yang dikeluarkan
nasabah disajikan sebagai piutang qardh
3. Piutang murabahah disajikan sebesar saldo pembiayaan murabahah
nasabah kepada bank
4. Margin murabahah ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan
piutang murabahah
5. Beban potongan pelunasan/angsuran murabahah sebagai pos lawan
pendapatan margin murabahah

42
6. Dalam hal bank menggunakan metode proporsional, pendapatan
dan beban terkait langsung dengan transaksi murabahah yang
belum diamortisasi, disajikan sebagai liabilitas lainnya dan asset
lainnya
7. Pendapatan margin murabahah yang akan diterima disajikan
sebagai bagian dari asset lainnya pada saat nasabah tergolong
performing. Sedangkan, apabila nasabah tergolong non-performing
maka pendapatan margin murabahah yang akan diterima disajikan
pada rekening administratif.
8. Cadangan kerugian penurunan nilai murabahah disajikan sebagai
pos lawan (contra account) piutang murabahah.
9. Denda (tazir) disajikan sebagai komponen dari sumber dana
kebajikan (qadhul hasan).

G. Pengungkapan Transaksi Murabahah

Berdasarkan PAPSI 2013 (hal.4.14-15), hal-hal yang harus


diungkapkan terkait transaksi pembiayaan dengan skema murabahah
antara lain :

1. Rincian piutang murabahah berdasarkan jumlah, jangka waktu,


jenis valuta, kualitas piutang, jenis penggunaan, sektor ekonomi,
dan cadangan kerugian penurunan nilai.
2. Jumlah piutang murabahah yang diberikan kepada bank pihak yang
berelasi.
3. Kebijakan dan metode akuntansi untuk pengakuan pendapatan,
cadangan kerugian penurunan nilai, penghapusan dan penanganan
piutang murabahah yang bermasalah.
4. Besarnya piutang murabahah baik yang dibebani sendiri oleh pihak
bank maupun secara bersama-sama dengan pihak lain sebesar
bagian pembiayaan bank.

43
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar
biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus
mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli (PSAK
102 paragraf 5).

Ketentuan syari terkait dengan transaksi murabahah, digariskan


oleh fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/DSN-MUI/IV/2000.

Alur transaksi murabahah :

2. Negosiasi

2. Akad Murabahah

Bank Nasabah
Syariah 6. Bayar
(Pembeli
(Penjual) )

5. Kirim dokumen

44
PEMASOK
3. Membeli barang 4. Mengirim barang

Menurut PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah) tahun


2013 mengatakan bahwa untuk pengakuan murabahah yang menggunakan
metode anuitas harus menggunakan PSAK 55 pada tahun 2011 mengenai
tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, PSAK 50 tahun
2010 mengenai tentang Instrumen Keuangan: Penyajian, PSAK 60 yang
berhubungan dengan Instrumen Keuangan: pengungkapan dan PSAK
lainnya harus relavan dan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip
syariah.

45
DAFTAR PUSTAKA

Yaya, Rizal dkk. Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik

Kontemporer. Jakarta: Salemba Empat. 2014

46

Anda mungkin juga menyukai