Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

KLIMATOLOGI

Disusun oleh:

Nur Khafidz Arrosyid 23040115140082

PROGRAM STUDI S-1 AGRIBISNIS


JURUSAN PERTANIAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

1
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : LAPORAN PRAKTIKUM KLIMATOLOGI

Kelompok : VB (LIMA)B

Program Studi : SI-AGRIBISNIS

Tanggal Pengesahan : NOVEMBER 2016

Menyetujui,

Koordinator Praktikum Asisten Pembimbing Praktikum


Klimatologi Klimatologi

Ir. Sutarno, M.S Eric Cantona


NIP. 19580611 198303 1 002 NIM.23040114120024

1
RINGKASAN

Kelompok V AgribisnisB. 2016. Laporan Praktikum Klimatologi.TIPE IKLIM


DAN PEMETAAN POLA TANAM (Asisten: Eric Cantona).

Tujuan dari praktikum Klimatologi acara Tipe Iklim dan Pemetaan Pola Tanam
yaitu untuk mengetahui tipe-tipe iklim dan menentukan tipe iklim sesuai
klasifikasi iklim di Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, serta mengetahui
jenis tanaman yang tepat tumbuh di daerah tersebut dengan memetakan pola
tanam pada suatu daerah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan keringnya.
Materi yang digunakan adalah alat dan bahan penunjang praktikum. Bahan
yang digunakan adalah data curah hujan Kecamatan Tegowanu sepuluh tahun
terakhir. Alat yang digunakan adalah alat tulis sebagai alat untuk mencatat data
yang diperoleh serta kamera sebagai alat untuk menyimpan data dalam bentuk
gambar. Metode yang digunakan dalam praktikum adalah mencari data curah
hujan dalam kurun waktu sepuluh tahun yang dapat diperoleh di BPS. Data curah
hujan dapat diperoleh dengan kunjungan langsung ke lapangan atau mencari di
database BPS di internet. Data yang diperoleh lalu diolah dan dianalisis dalam
bentuk tabel yang telah disediakan dan menganalisis iklim (Mohr, Oldeman,
Schmidt-Ferguson) sesuai dengan data curah hujan yang diperoleh. Hasil analisis
lalu digunakan untuk membuat pemetaan pola tanam komoditas padi dan palawija
berdasarkan tipe iklim Kecamatan Tegowanu yang telah dianalisis.
Hasil praktikum klimatologi acara Tipe Iklim dan Pemetaan Pola Tanam
diperoleh tipe iklim Kecamatan Wanareja menurut klasifikasi iklim Mohr adalah
tipe iklim II yaitu iklim agak basah, menurut klasifikasi iklim Oldeman diperoleh
tipe iklim C2, dan menurut klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson diperoleh iklim
tipe C yaitu iklim agak basah. Dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Tegowanu
memiliki tipe iklim sedang dan pemetaan pola tanam yang dapat dilakukan yaitu
padi-padi-palawija dimana ketika bulan lembab dan kering pengairan tanaman
dibantu dengan irigasi.
Kata kunci : Iklim, pola tanam, padi, palawija, Tegowanu.

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat

dan karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan laporan praktikum

klimatologi tipe iklim dan pemetaan polatanam di Kecamatan Tegowanu

Kabupaten Grobogan.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Ir. Sutarno, M.S.selaku

Koordinator Praktikum Klimatologi dan Eric Cantona selaku Asisten Pembimbing

Praktikum Klimatologi, yang telah membimbing dan memberikan pengarahan dan

saran selama praktikum dan penyusunan laporan ini Harapan penulis adalah

semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Penulis menyadari laporan praktikum ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh

penulis. Akhir kata, penulis menyampaikan terima kasih atas perhatian dan

koreksi dari berbagai pihak.

Semarang, November 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................... ii
RINGKASAN............................................................................................ iii
KATA PENGANTAR................................................................................ iv
DAFTAR ISI.............................................................................................. v
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................ 2
2.1. Iklim.......................................................................................... 2
2.2. Kecamatan Tegowanu............................................................... 2
2.3 Klasifikasi Iklim Mohr.............................................................. 2
2.4 Klasifikasi Iklim Oldeman........................................................ 3
2.5 Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson......................................... 4
2.6 Kalender Pola Tanam................................................................ 4
2.6.1 Padi (Oryza Sativa L.)...................................................... 5
2.6.2 Palawija............................................................................ 5
BAB III. MATERI DAN METODE......................................................... 6
3.1. Materi........................................................................................ 6
3.2. Metode....................................................................................... 6
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................. 7
4.1. Klasifikasi Iklim Mohr.............................................................. 7
4.2. Klasifikasi Iklim Oldeman........................................................ 8
4.3. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson......................................... 9
4.4 Kalender Pola Tanam Padi Palawija......................................... 10
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN...................................................... 12
5.1. Simpulan................................................................................... 12
5.2. Saran.......................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 13
LAMPIRAN.............................................................................................. 15

1
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Tipe Iklim Kecamatan Tegowanu Menurut


Klasifikasi Iklim Mohr..................................................................
Tabel 2. Tipe Iklim Kecamatan Tegowanu Menurut
Klasifikasi Iklim Oldeman............................................................
Tabel 3. Tipe Iklim Kecamatan Tegowanu Menurut
Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson.............................................
Tabel 4. Pemetaan Pola Tanam Padi-Palawija
di Kecamatan Tegowanu...............................................................

1
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Pengamatan Curah Hujan dan Perhitungan nilai Q


di Kecamatan Tegowanu........................................................

1
BAB I

PENDAHULUAN

Iklim merupakan fenomena alam atau unsur cuaca yang terjadi


dalam skala luas dan kurun waktu yang lama. Studi tentang iklim
dipelajari dalam cabang ilmu klimatologi. Iklim suatu tempat di bumi
sangat berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh letak geografis dan
topografi tempat tersebut. Selain itu, iklim di bumi juga sangat
dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Perbedaan faktor-
faktor inilah yang menghasilkan beberapa sistem klasifikasi iklim.

Tipe iklim yang digunakan di Indonesia ada tiga yaitu tipe iklim
Mohr, Oldemen dan Schmidt-Ferguson. Tipe iklim Mohr diukur
berdasarkan jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah pada kurun
waktu tertentu. Tipe iklim Oldemen hanya memakai unsur curah hujan
sebagai dasar klasifikasi iklim. Tipe iklim Schmidt-Ferguson
berdasarkan jumlah rata-rata bulan basah dan kering yang dihitung
menggunakan nilai Q.

Tegowanu merupakan sebuah kecamatan yang ada di


kabupaten Grobogan, Jawa Tengah yang sebagian besar wilayahnya
berupa persawahan dan banyak tanaman pangan maupun palawija
seperti padi,jagung, kacang hijau, kedelai, kacang tanah, lombok dan
kacang panjang. Kecamatan Tegowanu beriklim tropis dan memiliki
temperatur sedang. Sebagian besar lahan pertanian yang ada di
kecamatan ini pada saat musim penghujan merupakan lahan yang
produktif, akan tetapi pada saat musim kering / kemarau menjadi lahan
tidur.

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui parameter, jenis, dan


klasifikasi iklim pada suatu daerah yang digunakan sebagai dasar

1
dalam budidaya tanaman yang cocok untuk daerah tersebut. Manfaat
dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pola tanam yang cocok
pada suatu daerah dan mengklasifikasikan iklim.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Iklim

Iklim merupakan suatu kondisi cuaca atau fenomena alam yang


terjadi pada suatu tempat yang luas dan dalam jangka waktu yang
lama. Iklim dipengaruhi oleh letak geografis dan topografi suatu
tempat. Unsur-unsur iklim yang mempengaruhi pertanian yaitu suhu,
kelembaban udara, curah hujan, radiasi, dan evaporasi (Dini et al.,
2010). Jenis-jenis dan sifat-sifat iklim bisa menentukan jenis tanaman
yang tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Tidak teraturnya
perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti
musim kemarau dan musim hujan membuat para petani kesulitan
untuk merencanakan masa tanam dan masa panen (Hartono, 2007).

2.2 Kecamatan Tegowanu

Tegowanu adalah sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Grobogan,


Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kecamatan
Karangngawen Kabupaten Demak disebelah barat, Kecamatan Guntur
Kabupaten Demak disebelah utara, Kecamatan Gubug Kabupaten
Grobogan disebelah timur dan disebelah selatan berbatasan langsung

1
dengan Kecamatan Tanggungharjo. Luas dari Kecamatan Tegowanu
yaitu sekitar 5.116.98 Ha atau sekitar 79% lahan sawah dan 21% lahan
kering (Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan, 2015). ).
Kecamatan Tegowanu beriklim tropis dan memiliki temperatur sedang
sehingga cocok untuk tanaman padi dan palawija. Sebagian besar
lahan pertanian yang ada di kecamatan ini pada saat musim
penghujan merupakan lahan pertanian yang efektif, pada saat musim
kering / kemarau menjadi lahan tidur (Adwy dan Tobari, 2008).

2.3. Klasifikasi Iklim Mohr

Klasifikasi iklim Mohr didasarkan pada jumlah bulan basah dan


bulan kering yang dihitung selama kurun waktu satu tahun. Klasifikasi
Mohr merupakan hubungan antara penguapan dan besarnya curah
hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam
kurun waktu satu tahun. Keadaan yang disebut bulan basah adalah
apabila curah hujan > 100 mm per bulan, bulan lembab apabila curah
hujan bulan berkisar antara 100 60 mm per bulan dan bulan kering
apabila curah hujan < 60 mm per bulan (Gunawan, 2010). Mohr
membagi iklim menjadi 5 zona, antara lain zona I merupakan daerah
basah, yaitu daerah dimana hampir tidak ada satu bulan pun yang
curah hujannya kurang dari 60 mm, zona II merupakan daerah agak
basah, terdapat 1 - 2 bulan kering, zona III merupakan daerah agak
kering, dimana jumlah bulan kering antara 3 - 4 bulan, zona IV
merupakan daerah kering dimana jumlah bulan kering mencapai enam
bulan, zona V merupakan daerah sangat kering dengan kekeringan
yang panjang dan amat sangat kuat (Indayanti, 2009).

2.4. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson

1
Klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson yaitu dengan
menggunakan perbandingan rata-rata bulan kering dan bulan basah
dari data curah hujan selama kurun waktu 10 tahunan. Dasar untuk
menggolongan iklim menurut Schmidt-Ferguson adalah dengan cara
menghitung dan menentukan nilai Q (quitient). Schmidt-Ferguson
membagi iklim menjadi beberapa tipe, yaitu tipe iklim A (sangat
basah), tipe iklim B (basah), tipe iklim C (agak basah), tipe iklim D
(sedang), tipe iklim E (agak kering), tipe iklim F (kering), tipe iklim G
(sangat kering) dan tipe iklim H (luar biasa kering) (Wibowo, 2012).
Penentuan jenis bulan pada klasifikasi Schmidt-Ferguson yaitu bulan
kering adalah bulan yang jumlah curah hujannya kurang dari 60 mm,
bulan basah adalah bulan yang curah hujannya lebih dari 100 mm,
bulan dengan curah hujan antara 60 - 100 mm dianggap sebagai bulan
lembab (Nugroho, 2013).

2.4. Klasifikasi Iklim Oldeman

Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan pada


jumlah curah hujan dan kebutuhan air oleh tanaman. Klasifikasi iklim
Oldeman digunakan untuk keperluan budidaya tanaman terutama
pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan pada
jumlah bulan basah yang berlangsung secara berturut-turut. Klasifikasi
iklim pada sistem Oldeman adalah tipe iklim A yaitu jika terdapat > 9
bulan basah berturut-turut, tipe iklim B yaitu jika terdapat 7 - 9 bulan
basah berturut-turut, tipe iklim C yaitu jika terdapat 5 6 bulan basah
berturut-turut, tipe iklim D yaitu jika terdapat 3 - 4 bulan basah
berturut-turut, dan tipe iklim E yaitu jika terdapat < 3 bulan basah
berturut-turut (Kumala, 2015). Penggolongan iklim Oldeman dikenal
dengan sebutan agroklimat. Penentuan jenis bulan pada klasifikasi
iklim Oldeman yaitu bulan basah jika rata-rata curah hujan lebih dari
200 mm, bulan lembab jika rata-rata curah hujan 100 200 mm, dan
bulan kering jika rata-rata curah hujan kurang dari 100 mm (Indayanti,
2009).

1
2.6. Pemetaan Pola Tanam

Pola tanam merupakan suatu urutan penanaman dan pengaturan


penggunaan lahan dalam kurun waktu tertentu. Pemetaan pola tanam digunakan
untuk mempermudah petani dalam bercocok tanam. Penentuan pola tanam yang
tepat akan mempengaruhi keberhasilan panen, terutama pada lahan pertanian
tanpa irigasi (tadah hujan) (Sigit, 2006). Pada kegiatan pertanian, ketersedian air
sangat menentukan hasil produksi. Curah hujan dalam hal ini adalah yang
menentukan ketersedian air pada suatu daerah. Data curah hujan yang diketahui
dapat digunakan untuk memetakan pola tanam sepanjang tahun sesuai dengan
kebutuhan airnya. Pola tanam sendiri ada tiga macam, yaitu monokultur,
polikultur (tumpangsari), dan rotasi tanaman (Huda et al., 2012). Ketiga pola
tanam tersebut memiliki keuntungan dan kelemahan tersendiri.

2.6.1. Padi

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan


yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat indonesia. Padi
merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Padi cocok ditanam pada musim penghujan karena musim ini memiliki
intensitas curah hujan yang tinggi sehingga dapat memenuhi
kebutuhan air tanaman padi (Ai dan Ballo, 2010). Rata-rata curah hujan
yang baik untuk tanaman padi adalah 200 mm/bulan atau 1500 - 2000
mm/tahun (Hasanah, 2007). Padi mempunyai kemampuan beradaptasi
hampir pada semua lingkungan dari dataran rendah sampai dataran
tinggi. Budidaya tanaman padi di Kecamatan Tegowanu dilakukan
dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

1
2.6.2. Palawija

Palawija merupakan kelompok tanaman pangan kedua terpenting


setelah padi. Komoditas palawija biasanya di tanam oleh petani pada
musim kemarau. Palawija hemat dalam penggunaan air, sehingga
dapat ditanam pada musim kemarau saat persediaan air terbatas
(Rohmat dan Soekarno, 2006). Meskipun tanaman palawija tidak
membutuhkan air dalam jumlah banyak tetapi kebutuhan air tanaman
palawija akan terus meningkat (Riajaya, 2008). Jenis tanaman yang
tergolong tanaman palawija antara lain adalah kedelai, kacang hijau,
kacang tanah dan jagung (Dewi, 2006).

BAB III
MATERI DAN METODE

Praktikum klimatologi dengan materi tipe iklim dan pemetaan


pola tanam dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2016. Lokasi
pencarian data antara lain di Badan Pusat Statistika Provinsi Jawa
Tengah, Jalan Pahlawan, Pandanaran, Kota Semarang.

3.1. Materi

Materi yang digunakan dalam praktikum acara ini terdiri dari


komponen alat dan bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini
adalah data curah hujan di kecamatan Tegowanu sebagai data

1
pengamatan yang akan digolongkan berdasarkan tipe iklimnya dan
pemetaan pola tanamnya. Alat yang digunakan dalam praktikum ini
adalah alat tulis sebagai alat untuk mencatat data yang diperoleh,
kamera sebagai alat untuk mengambil data dalam bentuk gambar.

3.2. Metode

Metode yang diterapkan dalam praktikum acara ini adalah


mencari data curah hujan dalam kurun waktu sepuluh tahun, data
dapat diperoleh di BPS dan ... (bila mencari di tempat selain BPS). Data
yang disediakan dapat diperoleh secara kunjungan lapangan ataupun
mencarinya melalui database BPS di internet. Kemudian mengolah
data tersebut pada tabel yang telah disediakan, dan menganalisis tipe
iklim (Mohr, Oldeman, Schmidt-Ferguson) sesuai dengan data curah
hujan sepuluh tahunan yang telah diperoleh. Setelah menganalisis,
kemudian membuat pemetaan pola tanam untuk komoditas padi dan
palawija (palawija disini bisa dijabarkan sesuai keinginan kalian,
semisal jagung atau kacang-kacangan, atau boleh menjabarkan
palawija secara keseluruhan) berdasarkan tipe iklim yang telah
dianalisis untuk kecamatan pengamatan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Klasifikasi Iklim Mohr

1
Berdasarkan pengklasifikasian curah hujan sepuluh tahunan di
Kecamatan Tegowanu menurut klasifikasi iklim Mohr, maka diperoleh
keterangan seperti yang tercantum di dalam tabel di bawah ini

Tabel 1. Tipe Iklim Kecamatan Tegowanu Menurut Klasifikasi Iklim


Mohr

Kecamatan Rata-rata Rata-rata Tipe iklim


jumlah bulan jumlah bulan menurut
basah dalam kering dalam klasifikasi
sepuluh tahun sepuluh tahun iklim Mohr
Tegowanu 9 2 Kelas II
Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2016.

Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa Kecamatan


Tegowanu termasuk dalam tipe iklim kelas II karena terdapat rata-rata
dua bulan kering dan sembilan bulan basah selama kurun waktu
sepuluh tahun. Menurut klasifikasi Mohr, tipe iklim kelas II adalah agak
basah,dikarenakan Kecamatan Tegowanu memiliki curah hujan tinggi .
Hal ini sesuai pendapat Indayanti (2009) yang menyatakan tipe iklim II
adalah tipe iklim agak basah dengan jumlah bulan kering 1 2 bulan.
Bulan basah dan bulan kering ini ditentukan oleh jumlah curah hujan
yang turun di daerah tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat
Gunawan (2010) yang menyatakan bulan basah adalah bulan dengan
curah hujan lebih dari 100 mm, bulan lembab adalah bulan dengan
curah hujan antara 60 100 mm sedangkan bulan kering adalah bulan
dimana memiliki curah hujan kurang dari 60 mm. Penentuan tipe iklim
menurut Mohr biasanya digunakan untuk memetakan pola tanam
tanaman tahunan.

4.2. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson

Berdasarkan pengklasifikasian curah hujan sepuluh tahunan di


Kecamatan Tegowanu menurut klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson,
maka diperoleh keterangan seperti yang tercantum di dalam tabel di
bawah ini

1
Tabel 3. Tipe Iklim Kecamatan Tegowanu Menurut Klasifikasi Iklim
Schmidt-Ferguson

Kecamatan Rata-rata Rata-rata Nilai Q Tipe iklim


jumlah bulan jumlah menurut
basah dalam bulan klasifikasi
sepuluh kering iklim
tahun dalam Schmidt-
sepuluh Ferguson
tahun
Tegowanu 8 3 0,375 C
Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2016.

Melalui tabel diatas bisa dilihat bahwa Kecamatan Tegowanu


termasuk dalam tipe iklim C karena terdapat rata-rata tiga bulan kering
dan delapan bulan basah selama kurun waktu sepuluh tahun. Nilai Q
sama dengan 0,375 menunjukkan tipe iklim ini termasuk dalam tipe
agak basah. Hal ini sesuai pendapat Wibowo (2012) yang menyatakan
tipe iklim C adalah tipe iklim agak basah dengan nilai Q antara 33,3
sampai 60,0. Bulan basah dan bulan kering ini ditentukan oleh jumlah
curah hujan yang turun di daerah tersebut. Hal ini sesuai dengan
pendapat Nugroho (2013) yang menyatakan bulan basah adalah bulan
dengan curah hujan lebih dari 100 mm, bulan lembab adalah bulan
dengan curah hujan antara 60 100 mm sedangkan bulan kering
adalah bulan dimana memiliki curah hujan kurang dari 60 mm.
Penentuan tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson biasanya digunakan
untuk memetakan pola tanam tanaman tahunan.

4.3. Klasifikasi Iklim Oldeman

Berdasarkan pengklasifikasian curah hujan sepuluh tahunan di


Kecamatan Tegowanu menurut klasifikasi iklim Oldeman, maka

1
diperoleh keterangan seperti yang tercantum di dalam tabel di bawah
ini

Tabel 2. Tipe Iklim Kecamatan Tegowanu Menurut Klasifikasi Iklim


Oldeman

Kecamatan Rata-rata Rata-rata Tipe iklim


jumlah bulan jumlah bulan menurut
basah dalam kering dalam klasifikasi
sepuluh tahun sepuluh tahun iklim Oldeman
Tegowanu 6 3 C2
Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2016.

Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa Kecamatan


Tegowanu termasuk dalam tipe iklim C2 karena terdapat rata-rata tiga
bulan kering dan enam bulan basah berturut-turut selama kurun waktu
sepuluh tahun. Sesuai pendapat Kumala (2015) yang menyatakan tipe
iklim C2 adalah tipe iklim dengan jumlah bulan kering 2 4 bulan
berturut-turut. Bulan basah dan bulan kering ini ditentukan oleh jumlah
curah hujan yang turun di daerah tersebut. Hal ini sesuai dengan
pendapat Indayanti (2009) yang menyatakan bulan basah adalah bulan
dengan curah hujan lebih dari 200 mm, bulan lembab adalah bulan
dengan curah hujan antara 100 200 mm sedangkan bulan kering
adalah bulan dimana memiliki curah hujan kurang dari 100 mm.
Penentuan tipe iklim menurut Oldeman biasanya digunakan untuk
memetakan pola tanam tanaman semusim khususnya padi, tetapi juga
bisa digunakan untuk tanaman palawija.

4.4. Kalender Pola Tanam Padi-Palawija

Kalender atau pemetaan pola tanam padi-palawija dilakukan


berdasarkan pedoman tipe iklim Oldeman. Berdasarkan jumlah bulan
basah dan bulan kering yang diperoleh berdasarkan klasifikasi iklim
oldeman, diperoleh pemetaan pola tanam sebagai berikut:

Tabel 4. Pemetaan Pola Tanam Padi-Palawija di Kecamatan Tegowanu

1
Bulan
Ag No
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Sep Okt Des
u v
C 312, 237, 273, 196, 115, 79, 26, 189, 252, 328, 245,
4
H 7 2 5 8 2 6 5 4 9 8 9
LP
Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2016.

Keterangan:

CH : Rata-rata curah hujan (mm/bulan)

LP : Label pemetaan, warna untuk bulan basah, warna

untuk bulan lembab, warna untuk bulan kering,

Melalui tabel diatas dapat dikatakan bahwa berdasarkan


analisis tipe iklim sepuluh tahunan di Kecamatan Tegowanu dapat
dilakukan pemetaan pola tanam padi-palawija-padi. Bulan Januari
hingga April dan bulan September hingga Desember dapat ditanami
padi karena memiliki tiga bulan basah dan satu bulan lembab yang
dapat mendukung pertumbuhan padi. Hal ini sesuai pendapat Hasanah
(2007) yang menyatakan padi dapat tumbuh subur pada lahan dengan
curah hujan 200 mm/bulan dan matahari yang cukup. Bulan Mei hingga
Agustus cocok untuk ditanami palawija karena tidak memiliki bulan
basah dan hanya terdapat satu bulan lembab serta tiga bulan kering.
Tanaman palawija tidak terlalu membutuhkan banyak air sehingga
dapat ditanam pada kondisi lahan jenis ini. Hal ini sesuai pendapat
Rohmat dan Soekarno (2006) yang menyatakan tanaman palawija
dapat tumbuh pada curah hujan kurang dari 200 mm/bulan. Tanaman
palawija yang bisa ditanam yaitu palawija jenis kacang-kacangan,
antara lain kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah. Tanaman ini bisa
bertahan pada kondisi yang kering dan pengairannya dapat
menggunakan irigasi.

1
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Dari praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bahwa


gambaran umum iklim pada Kecamatan Tegowanu Kabupaten
Grobogan adalah sedang. Perbedaan antara ketiga klasifikasi iklim
yang digunakan adalah klasifikasi iklim Mohr dan Oldeman
menggunakan metode pendekatan kualitatif dalam
pengklasifikasiannya, sedangkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson
menggunakan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan tipe iklim di
Kecamatan Tegowanu Pola tanam yang dapat direapkan adalah padi-
palawija-padi.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan untuk menunjang hasil praktikum


yang lebih baik adalah mengatur pola tanam yang lebih beimbang dan
bertahap, mempersiapkan tenaga pendamping yang mengerti
budidaya secara tuntas dan memiliki komoditas yang unggul dan unik
agar mendapatkan nilai tambah dan pemilihan wilayah untuk
pengamatan curah hujan yang lebih baik agar tidak terlalu banyak
data yang kosong, serta lebih teliti dalam melakukan pengamatan data
curah hujan.

1
DAFTAR PUSTAKA

Adwy H. K. E. dan Tobari. (2008). Profil pengembangan tanaman


pangan di kabupaten cilacap jawa tengah. Jurnal Agrin, 12(2), 146
157.

Ai N. S. dan M. Ballo. (2010). Peranan air dalam perkecambahan biji.


Jurnal Ilmiah SAINS, 10(2) ,190 195.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan. (2015). Kecamatan


Tegowanu Dalam Angka.

Dewi, N. K. (2006). Kesesuaian iklim terhadap pertumbuhan tanaman.


Mediagro, 1(2), 1 15.

Dini, A. M. V., R. N. Fitriany, dan R. A. Wulandari. (2010). Faktor iklim


dan angka insiden demam berdarah dengue di kabupaten Serang.
Makara Kesehatan, 14(1), 37 45.

Gunawan. R. (2010). Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir


Jakarta dari Masa ke Masa. PT Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Hartono. (2007). Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Citra Praya,
Bandung.

Hasanah, I. ( 2007). Bercocok Tanam Padi. Azka Mulia Media, Jakarta.

Huda M. N., D. Harisuseno dan D. Priyantoro. (2012). Kajian sistem


pemberian air irigasi sebagai dasar penyusunan jadwal rotasi pada

1
daerah irigasi tumpang kabupaten malang. Jurnal Teknik Lingkungan,
3(2), 221 229.

Indayanti, D. (2009). Perbandingan hasil penentuan curah hujan


bulanan menurut teori mohr dan oldeman dengan pendekatan sistem
informasi geografis. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.

Kumala, R. (2015). Analisis agihan iklim klasifikasi oldeman


menggunakan sistem informasi geografis di kabupaten cilacap.
Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Nugroho, D. A. (2013). Potensi dan upaya pengembangan pariwisata


rawa jombor di desa krakitan kecamatan bayat kabupaten klaten.
Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.

Rohmat. D., dan Soekarno. I. (2006). Formulasi efek sifat fisik tanah
terhadap permeabilitas dan suction head tanah (kajian empirik untuk
meningkatkan laju infiltrasi). Jurnal Bionatura, 8(1), 1 9.

Riajaya, P. D. 2008. Rekomendasi waktu tanam kapas di lahan tadah


hujan. Perspektif , 7(2): 92 101.

Sigit. A. A. (2006). Analisis keselarasan antara kondisi lahan dan


produktivitas tanaman pangan dengan teknologi sig di kabupaten
klaten jawa tengah. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, 27(2),
150 169.

Sugeng, R. I. (2012). Dampak implementasi program reforma agraria


terhadap pendapatan petani di kecamatan cipari kabupaten cilacap
tahun 2010. Economics Development Analysis Journal, 1(2), 1 6.

1
Wibowo, C. (2012). Analisis sebaran iklim klasifikasi smith fergusson
menggunakan sistem informasi geografis di kabupaten banteng
sulawesi selatan. Skripsi. Universitas Hasanudin.

1
LAMPIRAN

Tabel 5. Pengamatan Curah Hujan di Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan

Ra
ta- Olde Mo
Tahun
Ra man hr
Bulan
ta
20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
05 06 07 08 09 10 11 12 13 14
33 33 32 23 29 33 35 29 29 32 31
Januari BB BB
9 2 5 3 4 3 6 6 8 1 2.7
17 28 26 23 22 18 23 25 26 25 23
Februari BB BB
4 1 3 6 2 9 5 7 1 4 7.2
25 20 33 39 23 18 25 36 30 20 27
Maret BB BB
6 4 1 9 8 5 2 5 1 4 3.5
21 20 23 19 18 17 16 20 21 18 19
April BL BB
1 4 5 6 0 6 9 1 2 4 6.8
17 20 15 12 10 12 15 11
Mei 14 17 94 BL BB
2 3 0 4 5 1 2 5.2
18 10 10 79.
Juni 76 6 61 84 74 63 BK BL
5 0 45 2 6
26.
Juli 24 41 35 32 0 24 19 26 31 BK BK
33 5
Agustus 0 0 0 0 13 0 6 3 0 18 4 BK BK
Septem 25 12 10 24 20 10 29 18
- - - BL BB
ber 1 1 9 2 1 6 6 9.4
61 15 17 25 27 23 11 21 25
Oktober - - BB BB
3 0 5 1 5 0 8 1 2.9
Novemb 32 33 33 33 35 32 31 30 33 32 32
BB BB
er 8 0 4 9 2 1 7 4 7 6 8.8
Desemb 20 30 30 22 20 32 26 21 19 22 24
BB BB
er 5 1 6 3 1 3 5 6 6 3 5.9
26 19 21 18 20 20 23 22 20 23
Jumlah
00 65 08 31 24 72 30 60 39 22
Rata-rata
Rata- 21 16 17 15 16 17 19 18 16 19
rata 6.7 3.8 5.7 2.6 8.7 2.7 4.2 8.3 9.9 3.5
Sch B
3 2 2 4 3 3 2 2 2 2 2.5
midt- K
Ferg B 0 1 1 0 0 0 1 2 1 0 0.6
L

1
B
9 7 7 7 9 9 9 8 9 10 8.4
uson B
Sumber: Data Badan Pusat Statistika Semarang, 2016.

Jumlah bulan kering 3


Q= x 100% = x 100% = 37,5% = 0,375
Jumlah bulan basah 8