Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
KESUBURAN TANAH DAN PEMUPUKAN

1.1 Tanah

Tanah adalah suatu benda alam yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang
tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan, dan bahan-
bahan organik sebagai hasil pelapukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan, yang
merupakan medium atau tempat tumbuhnya tanaman dengan sifat-sifat tertentu
(Yuliprianto, 2010:11).
1.1.1 Proses Pembentukan Tanah

Pembentukan tanah dimulai dari penghancuran batuan menjadi partikel


mineral dalam jumlah besar, dengan udara dan air dalam ruang porinya. Proses
penghancuran atau pelapukan ini meliputi pelapukan fisis, pelapukan khemis, dan
pelapukan biologis. Pelapukan fisis adalah adalah penghancuran secara mekanis
dari batuan induk menjadi partikel-partikel kecil akibat pengaruh pendinginan,
angin, abrasi. Pelapukan secara khemis pelapukan yang menghasilkan bahan-
bahan yang tidak seperti bahan asal (batuan induk), sebagai akibat air yang
mengandung CO2 terlarut yang menyebabkan hidrolisa, hidrasi atau larutan
mineral. Proses-proses biologi membantu pelapukan secara fisis seperti pada
waktu penetrasi akar-akar dalam tanah dan perluasan retakan-retakan kecil dalam
tanah (Yuliprianto, 2010:18).

1.1.2 Profil Tanah


Profil tanah tebalnya berlainan mulai dari yang setipis selaput sampai
setebal 10 meter. Pada umumnya tanah makin tipis mendekati kutub dan makin
tebal mendekati khatulistiwa. Uraian profil tanah dimulai dengan menentukan
letak batas horizon, mengukur dalamnya dan mengamati profil tanah secara
keseluruhan. Pada dasarnya horizon tanah mempunyai ciri-ciri yang juga
dihasilkan oleh proses genesa tanah (Darmawijaya, 1997:151).
1.1.3 Tekstur dan Struktur Tanah

Tekstur tanah adalah besarnya partikel tanah yang relatif sangat kecil.
Tekstur tanah menunjukkan halus kasarnya butiran-butiran tanah. Lebih khas lagi
2

tekstur ditentukan oleh perimbangan antara kandungan antara pasir, debu, dan liat
yang terdapat dalam tanah. Sedangkan struktur tanah adalah tersusunnya butir-
butir atau fraksi-fraksi dalam segumpal tanah. Dapat dikatakan dengan batasan
lain, struktur tanah adalah susunan partikel tanah primer (pasir, debu, liat) menjadi
berbagai kelompok partikel yang satu sama lain berbeda dalam ukuran, bentuk
dan warnanya (Rafii, 1987:22-26).

1.2 Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah ialah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara


tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman dan perbandingan
yang sesuai untuk pertumbuhannya sehingga dapat menghasilkan produksi yang
tinggi (Tisdale et al dalam Nurmala et al., 2012:25). Unsur hara dibedakan
menjadi 2 kelompok yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro.

Unsur hara makro merupakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam
jumlah yang banyak. Unsur hara makro terdiri dari C, H, O2, N, P, K, S, Ca, Mg.
Unsur hara mikro merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah
yang sedikit. Unsur hara mikro ada tujuh jenis yaitu Fe, Cl, Mn, Cu, Zn, Bo, Mo.
(Parnata, 2010:12).

1.2.1 Pemeliharaan Kesuburan Tanah

Menurut Nurmala et al. (2012:27-28), usaha manusia untuk pemeliharaan


kesuburan tanah dapat mencakup fakta fakta antara lain:

a. Perencanaan penggunaan tanah sesuai dengan kesanggupannya.


b. Menyiapkan tanah dalam keadaan olah yang baik, konservasi tanah dan air.
c. Pergiliran tanaman yang tersusun dengan baik.

1.3 Pupuk dan Pemupukan


3

Pemupukan bertujuan untuk memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah


dengan memberikan unsur atau zat hara ke dalam tanah. Pemupukan juga akan
memperbaiki pH tanah dan memperbaiki lingkungan (Suriatna, 1951:9-11).

1.3.1 Pupuk

Pupuk adalah zat yang memberikan makanan (hara) terhadap tanaman.


Tanaman yang tumbuh dan bertambah besar memerlukan unsur hara cukup
banyak (Sudarmono, 1997:38).

1.3.2 Jenis-jenis Pupuk

Berdasarkan proses pembuatannya, pupuk digolongkan menjadi dua yaitu:

a. Pupuk alam merupakan pupuk yang langsung didapat dari alam, misalnya
pupuk hijau , pupuk kompos dan pupuk kandang (Sutriana, 1951:12).
b. Pupuk Buatan merupakan pupuk yang dibuat di dalam pabrik. Bahannya
dari bahan anorganik dan dibentuk dengan proses kimia sehingga pupuk ini
lebih dikenal dengan nama pupuk anorganik (Prihmantoro, 2001:14).

Berdasarkan keadaan fisiknya, pupuk digolongkan menjadi dua yaitu:

a. Pupuk padat merupakan pupuk yang bentuknya berupa padatan.


b. Pupuk cair merupakan pupuk yang bentuknya berupa cairan. (Parnata,
2010:66)

1.3.3 Dosis Pemupukan

Dosis adalah jumlah pupuk yang harus diberikan atau yang dianjurkan
untuk per satuan lahan. Sebagai contoh kebutuhan pupuk kandang tanaman cabai
20 ton/ha dan mangga 50 kg/ha. Pemupukan urea pada rumput 100g/m dan
tanaman sayuran 10g/pohon.

Istilah dosis sering rancu dengan istilah konsentrasi, terutama pada pupuk
cair yang diaplikasikan dengan penyemprotan. Bila ada tulisan pada kemasan 3
mm/liter air, 2,5 cc/liter air, atau 5 g/liter air maka hal tersebut menunjukan
konsentrasi atau kepekatan larutan semprot. Aturan yang menunjukan dosis
4

aplikasi misalnya tertulis 300 liter/ha berarti 300 liter larutan semprot untuk 1 ha
(Marsono dan Sigit, 2001:5).

1.3.4 Cara Pemupukan

Cara pemberian pupuk harus dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai


untuk unsur hara tertentu dan jenis tanaman tertentu pula. Pada umumnya
pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara:

a. Pupuk Akar

Semua jenis pupuk, baik organik maupun anorganik, padat maupun cair,
dapat diaplikasikan lewat akar. Berdasarkan teknik aplikasinya, pemberian pupuk
akar dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yaitu:

1) Ditebarkan langsung ke permukaan tanah yaitu pemupukan tanaman dengan


cara ditebar langsung ke permukaan tanah (Marsono dan Sigit, 2001:17)
2) Dibenamkan ke dalam tanah, dengan cara ini, pupuk menjadi lebih dekat
dengan perakaran sehingga pupuk tidak terbuang percuma (Marsono dan Sigit,
2001:21).
3) Dikocor dekat batang tanaman, cara ini dilakukan dengan melarutkan pupuk ke
dalam air penyiraman. Selanjutnya, larutan pupuk tersebut dikocorkan ke
bagian perakaran tanaman (Marsono dan Sigit, 2001:22).
b. Pupuk Daun

Pemupukan lewat daun dilakukan dengan cara melarutkan pupuk ke dalam


air dengan konsentrasi tertentu. Setelah itu, larutan pupuk disemprotkan ke
permukaaan daun dengan mengikuti dosis sesuai di label kemasan. Penyemprotan
pupuk dilakukan dengan menggunakan alat semprot (sprayer). Lubang keluarnya
air juga diatur sedemikian rupa agar air tidak keluar seperti kabut. (Suriatna.
1951:97).

BAB II
INTENSIFIKASI DAN EXTENSIFIKASI PERTANIAN
5

2.1 Intensifikasi Pertanian

Menurut Nurmala et al., (2012:155), intensifikasi yaitu peningkatan


produksi pertanian pada lahan pertanian yang sudah ada dengan menerapkan
teknologi baru (inovasi baru) budidaya tanaman agar hasil per hektar lahan sawah
atau lahan kering meningkat. Dalam peningkatan produksi padi sawah teknologi
baru tersebut dikenal dengan Panca Usaha tani yaitu:

1. Penggunaan bibit unggul

Pemilihan bibit unggul adalah langkah pertama yang dilakukan oleh para
petani pada sapta usaha tani. Bibit unggul adalah jenis bibit yang memiliki sifat-
sifat menguntungkan bagi peningkatan produksi pangan. Pemilihan bibit sangat
berpengaruh besar pada hasil panen yang akan dihasilkan nantinya.

2. Teknik pengolahan lahan pertanian

Proses kedua yang dilakukan pada sapta usaha tani adalah pengolahan tanah
secara baik. Mengolah tanah bertujuan agar tanah yang ditanami dapat
menumbuhkan tanaman secara baik dan membuahkan hasil yang berlimpah.
Makin maju peradaban manusia, makin canggih pula alat alat-alat dan teknik yang
digunakan untuk mengolah lahan pertanian.

3. Pengaturan irigasi

Untuk meningkatkan produksi perlu diatur sistem irigasi atau pengairan


yang baik karena air merupakan kebutuhan vital bagi tanaman.

4. Pemupukan

Memberikan pupuk pada tanaman pada prinsipnya adalah memberikan zat-


zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Pemupukan harus
dilakukan dengan tepat, baik dalam jumlah pupuk, masa pemupukan maupun jenis
pupuknya.

5. Pemberantasan hama
6

Proses selanjutnya adalah pemberantasan hama, gulma, dan penyakit. Pada


prinsipnya pemberantasaan hama, gulma, dan penyakit bertujuan untuk mencegah
tanaman mati karena diserang oleh hama, gulma, atau penyakit tanaman.

Seiring dengan perkembangan, Panca Usaha Tani berubah menjadi Sapta


Usaha Tani yang terdapat penambahan yakni :

6. Penanganan Panen Dan Pasca Panen

Pasca panen adalah kegiatan yang dilakukan para petani setelah melakukan
panen. Di pulau jawa panen dilakukan tiga kali dalam satu tahun, dengan umur
padi sampai dengan panen kurang lebih empat bulan.

7. Pemasaran

Pemasaran yang baik termasuk hal yang penting dalam sapta usaha tani.
Misalnya, apabila hasil panen baik tetapi cara pemasran kurang sama saja petani
akan merugi.

2.2 Extensifikasi Pertanian

Extensifikasi adalah peningkatan produksi pertanian dengan cara membuka


lahan pertanian baru terutama di luar Jawa. Caranya dengan membuka hutan,
mencetak sawah baru di luar Jawa (Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi).
Program ini selanjutnya dikaitkan dengan program-program transmigrasi
(Nurmala et al., 2012:156).

BAB III
PEMANFAATAN LAHAN PERTANIAN DENGAN AGROTEKNOLOGI
YANG BERKELANJUTAN
7

3.1 Pertanian Berkelanjutan

Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai pertanian yang dapat


mengarahkan pemanfaatan oleh manusia lebih besar, efisiensi penggunaan
sumberdaya lahan lebih besar dan seimbang dengan lingkungan, baik dengan
manusia maupun dengan hewan. Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan pertanian
berkelanjutan dapat mempertahankan produktivitas tanah untuk generasi
mendatang baik secara ekologi, ekonomi, dan budaya (Nurmala et al., 2012:29).

3.2 Multidisiplin Pengelolaan Tanah Berkelanjutan

Pengelolaan tanah berkelanjutan atau Sustainable Soil Management (SSM)


harus menggunakan pendekatan multidisiplin tidak terbatas pada bidang Ilmu
Tanah saja. Menurut Steiner (dalam Nurmala et al., 2012:30) ada tiga aspek
sistem pengelolaan tanah berkelanjutan yaitu aspek bio fisik, aspek sosial budaya,
dan aspek ekonomi.

Berdasarkan ketiga aspek tersebut, maka budidaya pertanian berkelanjutan


meliputi ilmu-ilmu tanah, budidaya pertanian, ekonomi, lingkungan, geografi,
sosiologi merupakan disiplin ilmu yang saling terintegrasi dalam penerapan
pertanian berkelanjutan untuk mendapatkan hasil yang tinggi dalam jangka waktu
yang lama serta tetap memelihara kesehatan tanah dan kualitas lingkungan.

BAB IV
BUDIDAYA TANAMAN PERTANIAN

4.1 Tanaman Semusim


8

Tanaman semusim merupakan istilah tumbuhan yang dapat dipanen hasilnya


dalam satu musim tanam (vernalisasi). Tanaman semusim biasanya bisa
dibudidayakan dengan biji atau benih. Salah satu contoh tanaman semusim adalah
jagung.
4.1.1 Budidaya Tanaman Jagung
Jagung berasal dari Amerika. Di Indonesia jagung memegang peranan ke
dua setelah padi. Rendahnya produktivitas jangung disebabkan oleh belum
menyebarnya varietas unggul, pemakaian pupuk yang sangat sedikit, serta cara
bercocok tanam yang belum diperbaiki.
a. Pemilihan Benih
Pemilihan varietas jagung dimaksudkan untuk memperoleh varietas unggul
yang dapat memberi hasil tinggi dengan keuntungan besar bagi petani. Varietas
jagung ideal dicirikan oleh sifat- sifat berikut yaitu tanggap terhadap pemupukan,
umur pendek, berdaya hasil tinggi, toleran atau tahan terhadap penyakit dan hama,
mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan, tegap, dan tahan
rebah.
b. Persiapan Lahan
Pada umumnya tanah dibajak 15-20 cm diikuti dengan penggaruan tanah
sampai rata. Sebelum digaru, lahan dipupuk dengan pupuk kandang dosis 20
ton/Ha.
c. Penanaman
Waktu tanam yang baik yaitu:
1. Pemulaan musim hujan, bila ditanam di tegalan.
2. Pada musim labuhan, musim marengan dan musim kemarau bila ditanam
disawah.

Populasi 50.000 tanaman jagung dapat ditanamdengan menggunakan jarak


tanam 100 x 40 cm dengan 2 tanaman per lubang atau 100 x 200 cm dengan 1
tanaman per lubang atau 75 x 25 cm dengan satu tanaman per lubang.

d. Pemeliharaan
1) Pemupukan
Jagung menghendaki tersedianya nitrogen secara terus menerus pada semua
stadium pertumbuhan sampai pembentukan biji. Jumlah pupuk N yang diperlukan
kurang lebih 200- 300 kg urea/ha. Diberikan 3 kali, yaitu 1/3 bagian pada waktu
tanam, 1/3 pada waktu berumur 30 hari, dan 1/3 lainnya pada umur 40- 45 hari.
9

Jumlah pupuk fosfat yang dianjurkankurang lebih 40- 80 kg TSP/ha,


diberikan sebagai pupuk dasar. Dosis pupuk K sebesar kurang lebih 50 kg
KCL/ha, diberikan pada waktu tanam sebagai pupuk dasar.
2) Penyiangan
Penyiangan pertama dilakukan pada umur 15 hari setelah tanam dan harus
dijaga jangan sampai mengganggu dan merusak akar tanaman. Penyiangan ke dua
dilakukan sekaligus dengan pembumbungan pada waktu pemupukan kedua.
3) Pengairan
Jagung tumbuh baik pada curah hujan 250- 5.000 mm selama
pertumbuhan. Pengairan yang terlambat dapat menyebabkan daun layu. Pengairan
dilakukan dengan cara digenangi.
e. Panen dan Pascapanen
1) Panen
Jagung pada umumnya sudah masak dan siap panen pada umur 7 minggu
setelah berbunga.
2) Pasca panen
Setelah dipanen, jagung segera dikupas kulitnya kemudian dijemur sampai
cukup kering.

4.2 Tanaman Keras

Tanaman keras adalah tanaman tahunan yang biasa hidup beberapa tahun
dan menghasilkan panen berkali-kali. Tanaman ini bisa hidup di tempat yang agak
asam maupun agak basa. Salah satu contoh tanaman keras adalah karet. Berikut
merupakan budidaya tanaman karet (Setiawan dan Andoko, 2008:55-133).
a. Pengolahan lahan. Langkah pertama pengolahan lahan tanaman karet adalah
membabat pepohonan yang tumbuh. Setelah pepohonan dibabat, tahap
berikutnya adalah membongkar tanah dengan cangkul atau traktor.
b. Pembibitan yang meliputi seleksi biji, pengecambahan, dan penyemaian.
Seleksi biji dilakukan dengan pemisahan biji sesuai klonnya. Sementara itu,
memastikan daya kecambah biji tersebut bisa dilihat dari kesegaran, ukuran,
daya lenting, dan warna belahannya.
c. Pengecambahan dilakukan di lokasi yang dekat sumber air karena harus selalu
lembab. Selanjutnya tanah dibersihkan dari batu-batuan, gulma, dan
10

sebagainya sambil dicangkul sedalam 15 meter. Kemudian membuat bedengan


dengan lebar 120 cm dan diberi naungan dengan tinggi depan 150 cm dan
belakang 90 cm. Biji-biji dibenamkan dengan jarak 1 cm.
d. Penyemaian dilakukan di lahan dengan membersihkan tanah dari bebatuan dan
kotoran lainnya. Kemudian dicangkul sedalam 50-70 cm dan dibuat bedengan-
bedengan selebar 12 meter dan panjang 25 meter.
e. Pemupukan. Pupuk diletakkan pada jarak 1-1,5 meter dari barisan tanaman.
Caranya sama, yaitu tanah digali sedalam 5-10 cm, kemudian pupuk
dimasukkan ke dalamnya dan ditutup dengan tanah.
f. Pemberantasan hama dengan cara menakut-nakuti babi dengan bunyian-
bunyian bising, pemberian obat-obatan kimia untuk ham belalang, siput, uret
tanh, rayap, dan lain-lain.
g. Menggambar bidang sadap. Bukaan sadapan pertama bidang sadap pertama
setinngi 130 cm. untuk sadapan atas di ketinggian sekitar 260 cm dari
permukaan tanah dan bersebrangan dengan bidang sadap pertama. Bidang
sadap digambar membentuk potongan spiral dari kiri ke atas ke kanan bawah
dengan sudut 30-45o.
h. Waktu penyadapan dan pengambilan lateks. Kegiatan penyadapan sebaiknya
dilakukan pada pukul 04.00-8.00 karena pada waktu tersebut tekanan turgor
tanaman tinggi. Sedangkan pengambilan lateks sebaiknya dilakukan pada
pukul 08.00-10.00.
4.3 Tanaman Hortikultura

Menurut Zulkarnain (2009:1), hortikultura adalah ilmu yang mempelajari


budidaya tanaman sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat. Hasil
hortikultura pada umumnya mempunyai sifat mudah busuk/rusak (perishable) dan
bermuatan besar. Sering disebut bahwa sifat seluruh hasil pertanian. Berikut yang
perlu diperhatikan dalam budi daya tanaman holtikultura:
a. Fase pertumbuhan. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman holtikultura
terdiri dari dua fase berbeda (walaupun ada juga yang tumpang tindih), yaitu
fase vegetatif (pembelahan, pemanjangan, dan tahap petama dari deferensiasi
sel) dan fase reproduktif (pendewasaan jaringan-jaringan, perkembangan
hormon tertentu, perkembangan kuncup bunga, dan lain-lain).
11

b. Pemangkasan dan pelatihan tanaman. Tindakan pemangkasan dan pelatihan


tanaman perlu dilakukan terhadap tanaman buah-buahan berkayu tahunan
(umur produktif 20-40 tahun). Tujuan pemangkasan sendiri adalah untuk
mendapatkan bentuk tertentu dari tanaman, mempermudah pengendalian
hama/penyakit, serta mempermudah pemanenan. Sedangkan pelatihan
tanaman bertujuan untuk memperbaiki penampilan tanaman, yaitu dengan
melenturkan, membengkokkan, memberi penopang agar tumbuhan tumbuh
normal, dan lain-lain.
c. Pembungaan. Pembungaan dapat dikendalikan dengan pengaturan kondisi
lingkungan, terutama suhu. Dan secara kimiawi dengan mengaplikasikan
senyawa kimia tanaman tertentu.
d. Cara panen. Pemanenan pada umumnya dilakukan secara manual karena
merupakan metode terbaik bila dipandang dari sudut kualitas buah, karena
pemanenan dapat dilakukan secara selektif terhadap buah-buah yang sudah
memasuki fase matang fisiologis. Pemanenan sebaiknya menggunakan alat
potong, untuk menguragi risiko kerusakan pada tangkai buah dan
mempercepat pekerjaan (Zulkarnain, 2009:99-158).

4.4 Budidaya Tanaman Padi Metoda SRI

Menurut Redaksi Trubus (2013:21-23), Dalam budidaya tanaman di


Indonesia , kenaikan produksi padi SRI rata-rata 2-3 kali lipat produksi pada
sistem konvensional. Bila sebelumnya 4-6 ton GKP, maka pada padi SRI bisa
diperoleh 8-12 ton, hal inilah yang menjadikan metode SRI sangat diterima.

Cara budidaya tanaman padi SRI yaitu:

a. Bibit

Uji viabilitas (daya kecambah) dan vigoritas benih dengan merendamnya


dalam larutan garam dan telur ayam sebagai tester. Larutan itu dibuat dengan
memasukan 1-2 sendok garam ke dalam 10 liter air lalu di uji menggunakan telur
ayam sampai telur ayam tersebut mengapung. Setelah itu, masukan benih ke
dalam ember berisi larutan garam secara bertahap. Biarkan 15-30 menit. Benih
12

yang mengambang adalah benih yang mati , sedangkan benih yang tenggelam
itulah yang dimanfaatkan.

Kemudian tanam benih dalam wadah kecil, misssal kotak plastik segi
empat. Isi wadah dengan mediatanam berupa bahan organik murni atau dicampur
dengan sekam bakar atau pasir hingga setinggi 5cm. taburkan benih secara merata
diatasnya. Tutup dengan media tanam yang sama diatasnya setebal 0,5-1 cm. pada
umur 5-10 hari setelah semai, bibit siap ditanam.

b. Penanaman

Buat garis vertical dengan jarak 30 cm, 40 cm, atau 50 cm, masing-masing
4-5 garis dalam satu bedeng. Setelah itu dibuat parit kecil untuk mengalirkan air
sekaigus sebagai tempat lalu lalang pekerja. Lebarnya 50-60 cm. lalu buat garis
horizontal dengan ukuran yang sama 30 cm, 40 cm, atau 50 cm.

Kemudian cabut bibit umur 5-7 hari dari wadah pesemaian lalu tanam di
titik pertemuan garis vertikal dan horizontal. Cara menanam cukup membuat
lubang menggunakan jari kemudian meletakan bibit dan ditutup dengan tanah.

c. Pengairan dan Penyiangan

Lahan cukup dibuat dalam kondisi macak-macak selama 9-10 hari lalu
digenangi air selama 2 hari untuk dibersihkan dari gulma atau rumput. Lalu
biarkan kondisi tanah dalam keadaan macak-macak dan kering secara bergantian.
Agar tidak terjadi persagan anara padi dan rumput maka penyiangan rumput perlu
dilakukan. Sawah digenangi air selama 3-5 cm agar tanah jadi lunak. Cabut
rumput dengan menggunakan susruk alias gasrok.

d. Pemupukan

Meski sawah kaya bahan organic, tetapi memberi asupan nutrisi lewat daun
tetap perlu dilakukan. Untuk itu digunakan MOL. Perlu diingat MOL yang
diberikan harus sesuai dengan fungsinya. Waktu pemberian pupuk MOL biasanya
13

pada saat penyiangan 1-4, fase primordial, dan saat pengisisan bulir. Oleh karena
itu pemilihan MOL pun harus disesuaikan dengan umur tanaman.

e. Panen

Panen dilakukan setelah buah padi masak, ditandai merunduknya malai


buah padi, rata-rata padi umur 95-125 hst, tergantung varietas yang ditanam. Ciri
lainya bulir-bulir padi menguning secra merata dan bila bulir digigit akan terasa
keras dan tidak mengeluarkan cairan seperti santan.

4.5 Budidaya Tanaman Kopi

Menurut Najiyati dan Danarti (1990:20), kopi adalah spesies tanaman


berbentuk pohon yang termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea. Di
dunia perdagangan, dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering
dibudidayakan hanya kopi arabika, robusta, dan liberika (Najiyati dan Danuarti,
1990:15).

4.5.1 Kesesuaian Lingkungan

Seperti halnya tanaman lain, pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi


sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Bahkan tanaman kopi mempunyai sifat yang
sangat khusus, karena masing-masing jenis kopi menghendaki lingkungan yang
agak berbeda. Faktor-faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap
tanaman kopi antara lain adalah ketinggian tempat, curah hujan, sinar matahari,
angin, dan tanah (Najiyati dan Danarti, 1990:25).

4.5.2 Teknik Budidaya Kopi

a. Pemilihan Bibit

Pemilihan bibit merupakan langkah awal yang akan sangat menentukan


apakah budidaya tanaman kopi akan berhasil atau tidak. Pemilihan bibit tanaman
kopi mencakup berbagai segi yaitu pemilihan varietas/klon unggul yang sesuai,
macam bibit, dan sumber bibitnya (Najiyati dan Danarti, 1990:30).
14

b. Persiapan Lahan

Menurut Najiyati dan Danarti (1990:87-88), persiapan lahan untuk lahan


bukaan baru yang belum pernah ditanami tanaman kopi yaitu dengan tahap-tahap
sebagai berikut :

a) Sekitar 2-3,5 tahun sebelum kopi ditanam, diadakan land charing (penebangan
pohon-pohon beserta tunggul-tunggulnya).
b) Pengolahan tanah dilakukan secara hati-hati agar lapisan humus tidak hilang
dan rusak. Pada tahap ini juga dibuat saluran draenase (parit) dan jalan (jika
kebun luas).
c) Kurang lebih 2-3 tahun sebelum tanam, lahan ditanami dengan tanaman
pelindung. Tanaman pelindung ditanam pada musim penghujan.
d) Bila dikehendaki waktu tanam kopi yang lebih singkat, maka land-charing dan
penanaman pohon pelindung bisa ditanam 1 tahun sebelum tanam kopi. Tetapi
tanaman pelindung yang ditanam harus 2 macam, yaitu tanaman pelindung
utama dan tanaman pelindung pembantu.
c. Penanaman

Tanaman kopi memerlukan pohon pelindung yang dapat mengatur intensitas


sinar matahari sesuai dengan yang dikehendakinya (Najiyati dan Danarti,
1990:68). Pembuatan lubang tanam dibuat 3-6 bulan sebelum penanaman. Hal ini
dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dan untuk membunuh bibit
penyakit. Setelah pohon pelindung dan lubang tanamnya dipersiapkan, maka
tahap selanjutnya adalah penanaman (Najiyati dan Danarti, 1990:89).

d. Pemeliharaan

Tanaman kopi membutuhkan pemeliharaan dari serangan hama, penyakit,


dan gulma. Pemeliharaan tersebut dilakukan melalui pemupukan dan pestisida.
(Najiyati dan Danarti, 1990:95).

e. Panen

Untuk memperoleh hasil yang bermutu tinggii, buah kopi harus dipetik
setelah betul-betul matang yaitu saat kulit buahnya sudah berwarna merah. Untuk
15

mencapai tahap matang, kopi memerlukan waktu dari kuncup bunga 8-11 bulan
untuk robusta dan 6-8 bulan untuk arabika (Najiyati dan Danarti, 1990:134).

f. Penanganan Lepas Panen

Penanganan kopi setelah panen dimulai dengan sortasi (pemilihan) glondong


kemudian dilanjutkan dengan pengolahan, sortasi biji, dan
pengepakan/penyimpanan (Najiyati dan Danarti, 1990:139).

DAFTAR PUSTAKA

Darmawijaya, M. I. 1997. Klasifikasi Tanah. Yogyakarta :Gadjah Mada University


Press.
Foth, H.D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan oleh Endang Dwi
Purbayanti, Dwi Retno Lukiwati, dan Rahayuning Trimulatsih.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Isa, D. M. 1990. Klasifikasi Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Marsono, T. dan Sigit, M. 2001. Pupuk Akar, jenis dan Aplikasi. Jakarta: PT.
Penebar Swadaya.

Najiyati, S., dan Danarti. 1990. Kopi Budidaya Penanganan Lepas Panen.
Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Nurmala, Suyono, Rodjak, Suganda, Natasasmita, Simarmata, Salim, Yuwariah,
Sendjaja, Wiyono, dan Hasani. 2012. Pengantar Ilmu Pertanian.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Prihmantoro, H. 2001. Memupuk Tanaman Sayur. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Rafii, S. 1987. Ilmu Tanah. Bandung: Angkasa.
Redaksi Trubus. 2013. SRI. Jakarta Pusat: PT Trubus Swadaya
Sudarmono, A. S. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengolahannya. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Suriatna, S. 1951. Pupuk dan Pemupukan. Jakarta: PT Melton Putra.
16

Yuliprianto, H. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengolahannya. Yogyakarta:


Graha Ilmu

Zulkarnain. 2009. Dasar-Dasar Holtikultura. Jakarta: Bumi Aksara.