Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTIKUM AVERTEBRATA LAUT PRAKTIKUM AVERTEBRATA LAUT

FILUM ARTHROPODA
FILUM ARTHROPODA

Kelas: Ilmu Kelautan-A Kelompok: 7


OLEH:
Bab Nilai
Ilmu Kelautan-A/7 I. Pendahuluan
II. Tinjauan Pustaka
Wildari Nurjannah Sembiring 26020116120020 III. Materi dan Metode
Aninda Putri Amelia 26020116120027 IV. Hasil dan Pembahasan
Desni Elfrida Samosir 26020116120028 V. Penutup
Dewi Kusumawati 26020116120047 Daftar Pustaka
Sidiq Sakti Prawira 26020116120051 Lampiran
M. Amien Rois 26020116120062 TOTAL

Mengesahkan,

Koordinator Asisten Asisten

Faqih Akbar Alghozali Ichsan Suryo Wibowo


26020114120024 26020115120023
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
mengetahui apa saja spesies dari ketiga filum tersebut, ciri
I. PENDAHULUAN morfologi serta cara pengidentifikasiannya.

I.1 Latar Belakang I.2 Tujuan


Laut adalah bagian dari bumi yang tertutup oleh air asin. Praktikum ini bertujuan untuk:
a. Mempelajari dan mengetahui struktur morfologi
Laut, seperti halnya daratan, pasti dihuni oleh berbagai macam
arhtopoda
biota, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme hidup.
b. Mempelajari dan menjelaskan anatomi arthropoda
Namun biota yang ada didaratan tentu berbeda dengan yang ada c. Melakukan identifikasi terhadap arthropoda
dilautan. Biota laut hamper menghuni semua bagian laut, mulai
dari pantai, permukaan laut, hingga bagian dasar laut. Keberadaa
biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan hanya
kehidupannya yang penuh dengan rahasia yang membuat
penasaran, tapi juga dibalik semua itu biota laut ternyata memiliki
manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Seiring
berjalannya waktu dan makin pesat nya kemajuan teknologi, maka
pemanfaatan dari biota laut pun makin baik, karna bisa dijadikan
bahan makanan, obat-obatan dan lain lain.
Biota-biota laut terutama hewan dibagi menjadi dua
pengelompokan yang salah stunya adalah aveterbrata. Avertebrata
laut berati hewan yang tidak memiliki tulang belakang yang
sebagian besar siklus hidupnya terjadi dilaut. Avertebrata laut
sendiri memiliki berbagai macam filum yang diantaranya adalah
dari filum Arthropoda. Filum ini tentu memiliki perbedaan masing-
masing terutama dalam morfologinya yang dapat dibedakan
langsung. Setiap filum juga memiliki spesies yang berbeda pula.
Namun untuk membedakan dan mengidentifikasi nya tidak mudah
II. TINJAUAN PUSTAKA
tanpa melihat langsung. Untuk itu praktikum ini dilakukan untuk
Banyak di antara anggotanya yang berperan besar dalam
2.1 Avertebrata Laut ekosistem laut, terutama ekosistem litoral pantai berbatu, terumbu
Avertebrata air adalah hewan air yang tidak mempunyai karang, perairan dangkal, dan palung laut.Echinodermata
tulang belakang dan susunan pencernaannya terletak dibawah mempunyai kemampuan untuk melakukan regenerasi bagian
saluran pencernaan. Avertebrata air tebagi menjadi delapan filum tubuhnya yang hilang, contohnya timun laut. Apabila timun laut
yaitu: Porifera, Coelenterata, Echinodermata, Mollusca, merasa dirinya terancam, maka timun laut akan menyemprotkan
Plathyhelmanthes, Nemalthelminthes, annelida dan Anthropoda. organ tubuhnya agar mendapatkan kesempatan untuk melarikan
Ditinjau dari segi bentuk, ukuran, dan adaptasi lingkungan, hewan diri. Kelak, organ tubuh yang hilang akan tumbuh kembali
avertebrata air mempunyai keanekaragaman yang tinggi. (Sabdono,2005).
Sementara dari segi ukuran dijumpai mulai dari yang berukuran Menurut Romomohtarto dan Sri (2007), avertebrata air
mikron sampai meter, dari bentuk tubuh yang sederhana sampai dapat didefinisikan sebagai hewan tidak bertulang belakang, yang
yang kompleks. Dilihat dari lingkungan hidupnya, ada yang di sebagian atau seluruh daur hidupnya, hidup di dalam air. Bidang
darat, air tawar, air payau, air laut, bahkan ada yang di daerah perikanan tidak hanya mencakup studi tentang perikanan saja,
ekstrim seperti danau garam (Romomohtarto dan Sri, 2007). melainkan juga menyangkut seluruh kehidupan yang terdapat di
Avertebrata laut menghasilkan metabolit sekunder yang dalam perairan, termasuk avertebrata. Semua kehidupan dalam
mempunai peranan penting dalam ekologinya dan telah menjadi perairan membentuk hubungan keterkaitan antara satu dengan yang
target bagi sumber senawa bioaktif. Kelompok hewan Avetebrata lainnya, juga dengan lingkungan yang disebut ekosistem.
memiliki ciri sebagai tidak bertulang belakang dan susunan syaraf Avertebrata air terbagi atas Filum Echinodermata, Filum Porifera
pusat terletak di perut. Berkembang biak secara kawin dan tidak dan Filum Cnidararia.
kawin. Susunan alat tubuh masih sederhana. Dunia hewan, berdasar
pada ada tidaknya tulang belakang digolongkan jadi hewan
bertulang belakang (vertebrata) serta hewan tidak bertulang 2.2 Arthropoda
belakang (Avertebrata). Grup hewan avertebrata memiliki tanda- Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku,
tanda tak bertulang belakang, susunan syaraf terdapat dibagian segmen ; podos = kaki) merupakanhewan yang memiliki ciri
ventral (perut) dibawah saluran pencernaan, biasanya mempunyai kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.Segmen tersebut juga
rangka luar (eksoskeleton) serta otak tak dilindungi oleh tengkorak. terdapatpada tubuhnya.Tubuh Arthropoda merupakan simeri
bilateral dan tergolong tripoblastikselomata. Arthropoda merupakan komunitas dan komposisi vegetasi tertentu pada suatu ekosistem
filum terbesar di antara filum-filum yang lain karena lebihdari 75 secara tidak langsung menunjukan pula adanya perubahan
% dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota komunitas hewan dan sebaliknya (Hamdani, 2013).
dari filum ini. Karenaitu, sebagian besar dari jenis-jenis hama
Ciri-ciri umum dari antropoda antara lain mempunyai
tanaman juga termasuk dalam filum Arthropoda.Binatang yang
anggota yang beruas, tubuhnya bilateral simetris terdiri atas
berupa hama tanaman dapat terdiri dari kelompok atau filum
sejumlah ruas-ruas, tubuh dibungkus oleh zat kitin
Nematoda (cacing), Mollusca (Bekicot), Chordata (terutama
sehinggamerupakan rangka luar, biasanya ruas-ruas terdapat
Mamalia), dan Arthropoda (terutama Serangga danTungau)
bagian-bagian yang tidak berkitinsehingga ruas-ruas tersebut
(Larosa, 2013).
mudah digerakkan, sistem saraf berupa sistem saraf tangga
Arthtropoda merupakan phylum terbesar dalam kingdom
tali,coelom pada hewan dewasa adalah kecil dan merupakan
Animalia dan kelompok terbesar dalam phylum itu adalah
satu rongga berisi darah dan disebuthaemocoel. Klasifikasi
Insekta. Diperkirakan terdapat 713.500 jenis Arthropoda
antropoda terdiri dari klas crustae, contoh: udang ; klas
dengan jumlah itu diperkirakan 80% dari jenis hewan yang sudah
onychophora,contoh : preparatus ; klas chilopoda, contoh :
dikenal. Arthropoda tanah merupakan salah satu kelompok hewan
kelabang ; klas diplopoda, contoh : kelemayar ;klas insecta,
tanah yang dikelompokkan atas Arthropoda 2 dalam tanah dan
contoh : belalang ; klas arachnoidae, contoh : laba-laba ; klas
Arthropoda permukaan tanah. Arthropoda tanah berperan penting
pauropoda, contoh: pauropus dan klas symphyla, contoh :
dalam peningkatan kesuburan tanah dan penghancuran serasah
scutigerella (Ferdinand, 2009).
serta sisa-sisa bahan organik (Ariesta, 2013).
Cara hidup dan habitat Arthropoda sangat beragam, ada
Arthropoda permukaan tanah sebagai komponen biotik pada
yang hidup bebas, parasit,komensal, atau simbiotik. Dilingkungan
ekosistem tanah sangat tergantung pada faktor lingkungan.
kita, sering dijumpai kelompok hewan ini, misalnya nyamuk, lalat,
Perubahan lingkungan akan berpengaruh terhadap kehadiran dan
semut, kupu-kupu, capung, belalang, dan lebah. Habitat penyebaran
kepadatan populasi Arthropoda. Perubahan faktor fisika kimia
arthropoda sangat luas. Ada yang di laut, perairan tawar, gurun
tanah berpengaruh terhadap kepadatan hewan tanah.
pasir, dan padang rumput. Serangga adalah hewan-hewan yang
Keanekaragam hewan tanah lebih rendah daripada daerah yang
bersegmen dengan eksoskeleton berkitin, dan alat-alat tambahan
terganggu daripada daerah yang tidak terganggu. Perubahan
bersegmen. Segmentasi itu tampak jelas secara eksternal. Jumlah
jenis dalam filum ini lebih banyak dari jumlah jenis dari semua chelicerae,sepasang pedipalpi dan empat pasang kaki. Antena dan
filum lainnya. Baik laut, air tawar maupunhabitat terrestrial didiami mandible. klasifikasinya chelicerata terdiri atas kelas Arachnida,
oleh serangga. Coelom pada antropoda tereduksi. Hoemocoel Pycnogonida, dan Xiphosura.Adapun beberapa kelas yang sudah
merupakan sebagian dari sistem sirkulasi. Jenis kelamin terpisah punah yaitu, Eurypterida dan Chasmataspidida. Arachnida
namun demikian pada jenis- jenis tertentu reproduksi partogenesis merupakan kelas dari filum arthropoda dan subfilum Chelicerata.
merupakan karakteristiknya. Sirkulasi terjadi karenagerakan pulsasi Semua arachnida memiliki delapan kaki, meskipun di beberapa
jantung dorsal. Pernapasan dengan trakea selalu dicirikan dengan spesies pasangan depan dapat mengkonversi untukfungsi sensorik.
adanya porus berpasangan pada tiap segmen (Sabdono, 2005). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Arachne, yang
berarti laba-laba (Dunlop, 2010)
2.2.1 Sub-Filum Chelicerata
Chelicerata berasal dari bahasa Yunani chele berarti capit Chelicerata memiliki dua daerah tubuh yang berbeda;
dan keros yang artinya tanduk. Chelicerata meliputi berbagai prosoma anterior (cephalothorax) dan opisthosoma posterior (perut)
jenis laba-laba, kalajengking, tungau dan mimi. Kebanyakan yang dapat dibagi menjadi mesosoma dan metasoma. Anterior yang
anggotanya berukuran kecil dan terdapat di daerah yang kering dan paling pelengkap adalah pedipalpus dan chelicera. Chelicerates
hangat, namun beberapa hidup di perairan. Cheli- tidak memiliki antena. Semua chelicerates memiliki empat pasang
cerata termasuk dalam filum Arthropoda. Banyak jenis chelicerata
uniramous berjalan kaki di tagma pertama. Dalam hampir semua
yang mempunyai kelenjar racun yang terdapat dirahang atau taring
kasus chelicerata adalah predator dan beberapa kutu dan tungau
racun sebagaisarana untuk membunuh mangsa, kemudian
telah menjadi spesialis di miniaturisasi menggunakannya untuk
menghisap cairan tubuh atau jaringan lunaknya. Gigitan atau
mengeksploitasi mereka kebuasaan predator. Chelicertaes
sengatan berbagai jenis laba-laba atau kalajengking menimbulkan
pengumpan cairan dan baik mencairkan mangsa mereka sebelum
kesakitan bahkankematian. Beberapa jenis tungau merupakan hama
menelan atau memeras zat dari makanan mereka menggunakan
tumbuhan dan jenis lainnya, jugasebagai parasit pada manusia dan
mulut mereka (Hoseman, 2013).
ternak atau menjadi inang perantara berbagai protozoa dan virus
2.2.2 Sub-Filum Crustacea
yang menyebabkan penyakit tertentu (Farley, 2012).
Crustacea adalah hewan yang tubuhnya beruas-ruas,
Tubuh biasanya terdiri atas cephalothorax dan abdomen
memiliki kulit luar yang keras. Udang dan kepiting termasuk
yang tampak jelas, kecuali padaAcarina. Pada cephalothorax
kedalam kelompok hewan tersebut. Hewan air
terdapat enam pasang apendik bersendi , yaitu sepasang
ini meliputi beberapa spesies yang bernilai ekonomis tinggi,
misalnya udang windu (Penaeus monodon), udang galah interrhizon Danau Lutan untuk ujicoba pembiakan, dengan
(Macrobrachium rosenbergii) dan kepiting bakau (Scylla cerrata) pertimbangan ukuran tubuh yang cukup besar dari spesies
(Yamnidago, 2013). cladocera yang lain dalam sampel serta bentuk antena dan isi
tubuhnya yang tampak mencolok dari yang lain (Hamdani, 2013).
Ciri-ciri umum dari kelas Crustacea yaitu habitatnya di
danau, air tawar, kolam dan sungai. Tubuhnya terdiri dari 2.2.3 Sub-filum Hexapoda
Coleoptera atau biasa dikenal dengan hexapoda adalah ordo
cephalothorax dan abdomen serta bersegmen. Kerangka luarnya
yang terbesar dari serangga-serangga dan mengandung kira-kira
dari zat kitin dan ciri yang terakhir yaitu makanan pokoknya berupa
40% dari jenis yang terkenal dalam heksapoda. Lebih dari
zat organik hidup dan zatyang busuk. Crustacea biasanya terdiri
seperempat jenis kumbang sudah diuraikan kira-kira 30.000
dari lima ruas yang tergabung menjadi satu. Mereka mempunyai
kumbang-kumbang ini ada di Amerika Serikat dan Kanada. Ada
dua pasang antena, sepasang mandibel atau rahan dan dua pasang
perbedaan pendapat diantara para ahlientomologi mengelompokkan
maksila. Dada mempunyai embelan dada yang bentuknya berbeda-
sistem klasifikasi Coleoptera. Coleoptera terdiri dari 4 subordo, 3
beda. Beberapa diantaranya digunakan untuk berjalan. Ruas
superfamili dan 26 famili. Banyak jenis yang mempunyai
abdomen biasanya sempit dan lebih mudah bergerak daripada
kepentingan ekonomi yang besar salah satunya sebagai agen
kepala dan dada (Pratiwi, 2016).
pengendali hayati hama tanaman pertanian karena sifatnya sebagai
Cladocera merupakan subkelas dari subfilum crustacea yang
predator (Nelly, 2014).
termasuk zooplankton, dengan ciri-ciri umum antara lain: kulit luar Hewan yang menjadi hama sebagian besar berasal dan
(carapace) sebagai sebuah tutup yang berkelopak 2 menutup bagian kelompok serannga atau insekta. Serangga mendominasi dan segi
tubuh saja tidak sampai bagian kepala, memiliki 4-6 pasang lengan jumlah yang mendiami bumi ini yaitu sekitar 55,56% dan total
renang, antena besar dan bercabang dua yang digunakan sebagai makhluk hidup. Dari segi taksonomi, serangga termasuk dalam
alat untuk bergerak, cara berenang cladocera tersendat-sendat filum Arthtopoda dan kelas Insekta atau heksapoda. Adapun ciri-
terdapat sebuah mata majemuk kepala, berkembang biak secara ciri serangga adalah tubuh serangga terbagi dalam tiga bagian
partenogenesis, dan kebanyakan cladocera berukuran 0,5-1 mm. utama yaitu kepala, thorax, dan abdomen. Memiliki kerangka luar
Marcothrix sp merupakan salah satu spesies cladocera yang banyak (eksoskeleton) yang pada penode tertentu harus ditinggalkan dan
hidup pada perairan litoral yang berasosiasi dengan tumbuhan. digantikan dengan kulit baru melalui proses ganti kulit untuk
Spesies cladocera inilah yang dipilih dalam sampel dari zona pertumbuhan dan perkembangan serangga tersebut terutama pada
saat serangga muda, selain itu tubbuh serangga beruas- yang Pauropoda dan Symphyla. Kaki seribu berbeda dari
ruassehingga da[pat membantu dalam pergerakan, memiliki tiga kelompok lain dalam memiliki segmen tubuh mereka
pasang tungkai atau enam tungkai (heksapoda) yang masing- menyatu menjadi pasangan, memberikan penampilan yang
masing pasang tungkai terdapat pada tiga ruas toraks yaitu toraks setiap segmen beruang dua pasang kaki, sedangkan tiga
ruas depan, tengah dan belakang serta sayap dua pasang yang kelompok lainnya memiliki satu pasang kaki pada setiap
terdapat pada toraks ruas tengah dan belakang (Dadang, 2016). segmen tubuh. Ada sekitar 12.000 spesies yang dikenal dari
Menurut Ariesta (2013), ciri-ciri khas dari bentuk dewasa
myriapoda (Starr, 2011).
kelas filum dalam kelas heksapoda sebagai berikut: Myriapoda memiliki fungsi ekologis penting dan
a. Bagian luar tubuh tertutup oleh lapisan keras yang
beragam, dengan kelabang terutama yang bergerak cepat
disebut eksoskeleton;
dan predator, makan serangga dan invertebrata lainnya, dan
b. Tubuh terdiri dari tiga segmen yaitu kepala, thorax dan
bahkan vertebrata kecil, sementara kaki seribu yang
perut;
c. Pada bagian dada terdapat tiga pasang tungkai dan satu bergerak terutama lambat dan detrivory, makan pada hal-hal
atau dua pasang sayap; seperti sampah daun dan membusuk atau tanaman mati
d. Struktur dari sistem pencernaan makanan berbentuk
masalah. Myriapoda menyediakan sumber makanan penting
tabung;
bagi banyak invertebrata dan vertebrata. Selain itu, kaki
e. Sistem peredaran darah terbuka;
f. Sitem pernapasan melalui trakea dan terbuka pada seribu membantu dalam daur ulang nutrisi, dan orang-orang
bagian luar melalui spirakel; bantuan lipan dengan mengkonsumsi berbagai hama rumah
g. Biasanya mengalami proses metamorphosis.
tangga, seperti kutu busuk, rayap, dan kecoa (Farley, 2012).
2.2.4 Sub-Filum Myriapoda
Myriapoda yang paling melimpah di hutan lembap,
Myriapoda adalah subfilum dari arthropoda darat,
dimana mereka memenuhi peran penting dalam mengurai
ditandai dengan tubuh memanjang dengan banyak segmen,
bahan tanaman membusuk, meskipun beberapa tinggal di
dengan banyak kaki, satu pasang antena dan mata
padang rumput bahkan gurun. Mayoritas adalah
sederhana. Nama Myriapoda menunjukkan invertebrata ini
detritivorous dengan pengecualian dari kelabang, terutama
telah banyak sekali memiliki kaki, tapi berkisar kurang dari
aktif di malam hari predator. Pauropodans dan symphylans
sepuluh kaki. Anggota terkemuka termasuk lipan, yang
kecil, kadang-kadang hewan mikroskopis yang menyerupai
terdiri dari kelas Chilopoda, dan kaki seribu, yang terdiri
lipan dangkal dan hidup di tanah. Kaki seribu berbeda
dari kelas Diplopoda. Dua kelas yang masih ada lainnya
dengan kelompok lain dalam memiliki segmen tubuh yang
menyatu menjadi pasangan-pasangan memberikan kesan ovate(seperti daun, hexagonal, pentagonal, dan lain-lain) dan
bahwa setiap segmen tubuh menyatu menjadi pasangan- karakter menyatu dan dapat digerakkan dan tidak menyatu.
pasangan memberikan kesan bahwa setiap segmen Bentuk capit, kaki renang, ekor kipas bagian telson, kaki jalan
dikenakan dua pasang kaki sedangkan tiga lainnya dan yang membantu untuk makan (Yamnidago, 2013).
Duri pada karpus dan gigi frontal margin merupakan
kelompok memiliki satu pasang kaki pada setiap segmen
bagian dari morfologi kepiting bakau, yang merupakan
tubuh (Fortey dan Thomas, 2008).
penentu jenis Scylla sp. Pengelompokkan Syclla sp diawali
2.3 Kunci Identifikasi
dengan gigi anterolateral akhir sama dengan gigi-gigi yang lain
Sebagai hasil dari daya adaptasi yang tinggi, Arthropoda
pada daerah ini. Kemudian mulai terbagi pada daerah karpus
telah menyebar ke seluruh bagian bumi, baik daratan maupun
dari cheliped terdiri dari dua duri atau hanya satu duri yang
perairan, yang suhunya diatas titik beku dalam jangka waktu
mereduksi pada permukaan luarnya serta capit yang berwarna
yang cukup lama untuk memmungkinkan perkembangbiakan.
kuning dan orange. Kedua, karpus dari cheliped memiliki dua
Karena itu, anggota filum ini amat mudah dijumpai di darat,
duri tajam pada bagian frontal pada karapasnya. Jika memiliki
perairan tawar, maupun laut. Selain itu, filum Arthropoda juga
duri tajam pada bagian frontal dan memiliki dua duri karpus
mencakup satu-satunya kelompok hewan invertebrata yang
yang juga tajam, maka ciri-ciri tersebut merupakan jenis S.
dapat terbang. Arthropoda merupakan hewan tubuhnya
Serrata. Selain itu pada capit memiliki duri yang tajam dan
bersegmen-segmen. Ada tiga ciri khas Arthropoda yang dapat
warna karapas biasanya berwarna hijau tua sampai hijau
dilihat dari luar. Pertama adalah embelan yang berbuku-buku
kehitaman. Bagian luar capit berwarna hijau kebiruan dan
yang muncul berpasangan dari sebagian atau semua segmen
memiliki pola marmer. Kaki renang baik jantan maupun betina
tubuh. Yang kedua adalah organisasi segmen-segmen ke dalam
memiliki pola yang sama (Larosa, 2013).
bagian-bagian tubuh yang disebut tagmata (tunggal :tagma).
Yang ketiga adalah kutikula yang disekresikan oleh epidermis, 2.4 Morfologi Arthropoda
Arthropoda memiliki tubuh dilapisi oleh kutikula (tersusun
yang menyelubungi tubuh dan biasanya membentuk
dari lapisan protein dan zat kitin), yang berfungsi sebagai
eksoskeleton yang keras kecuali di bagian-bagian tubuh yang
rangka luar (eksoskeleton). Lapisan yang tebal dan keras ini
perlu lentur (Fakhrah, 2016).
Karakter-karakter yang digunakan untuk identifikasi ada walaupun dapat melindungi tubuh, akan tetapi menghambat
crustacea khususnya kepiting adalah bentuk capace misalnya pertumbuhan. Akibatnya, hewan ini harus menggugurkan
kulitnya dan menggantinya secara periodik (molting). Sama 1. Tubuh tersusun atas segmentasi luar (heteronom),
seperti Nematoda, Arthropoda juga merupakan anggota terdiri atas tiga bagian kepala, dada dan perut;
2. Tubuh simetri bilateral. Bagian tubuhnya berpasangan
kelompok Ecdysozoa. Anggota filum Arthropoda merupakan
yaitu kaki, capit dan sistem pernapasan;
hewan yang memiliki tiga lapisan embrionik (triploblastik),
3. Memiliki susunan saraf tangga tali dengan ganglion
dan telah memiliki selom sejati. Oleh karena itu, Arthropoda
cerebralum dan ganglia abdominalia;
adalah hewan triploblastik selomata. Tubuhnya berbentuk 4. Satu pembuluh darah punggung yang berfungsi
simetris bilateral, sehingga merupakan kelompok Bilateria. sebagai jantung untuk memompah darah ke arah
Pada perkembangan embrionya, mulut pada embrio anterior.
Arthropoda terbentuk terlebih dahulu daripada anus, sehingga
hewan ini termasuk dalam kelompok protostomia. Tubuh
Arthropoda juga bersegmen-segmen. Pada beberapa kelas
Arthropoda, segmen-segmen terlihat sama. (Sabdono 2005).
Sifat umum arthropoda mencakup kerangka luar keras dan III. MATERI METODE
zat kitin, yakni polisakarida majemuk, suatu jenis karbohidrat.
Cangkang ini dihasilkan oleh epidermis dan karena sifatnya III.1 Waktu dan Tempat
Hari : Senin, 13 Maret 2017
yang tidak elastis jika mengeras, ia harus di tanggalkan secara
Waktu : 16.00 WIB
berkala untuk memungkinkan hewan tumbuh. Sifat umum Tempat :Laboratorium Biologi Gedung E
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
yang terpenting yang berlaku pada semua kelas arhtropoda
Universitas Diponegoro Semarang
adanya embelan tubuh yang bersendi dan bebas dari bulu-bulu
III.2 Alat dan Bahan
getar. Bentuk tubuhnya simetri bilateral dan tubuhnya terdiri
3.2.1. Alat Praktikum
dari ruas-ruas yang tersusun secara linear berurutan. Pada
masing-masing ruas atau pada beberapa ruas melekat embelan Tabel 1. Alat Praktikum

tubuh. Tubuh tertutup kerangka luar dari kitin yang elastis pada N NAMA GAMBAR FUNGSI
bagian pergerakan sendi (Romimohtarto dan Sri, 2001). O
Menurut Yamindago (2013), secara umum karakteristik
filum Arthropoda sebagai berikut:
1. Mistar Digunakan 6. Kamera Digunakan
untuk untuk
mengukur dokumentasi.
panjang objek
2. lateks Untuk
melindungi
tangan ketika
akan
menyentuh
spesies
3. Masker Untukmenghin
dari aroma
yang
3.2.2 Bahan Praktikum
menyengat
Tabel 2.Bahan praktikum

4. Nampan Sebagai tempat No. Nama Gambar Fungsi


sampel yang 1. Sampel Berfungsi sebagai

akan yang objek/ spesies yang

diidentifikasi diamati diamatati dan


diidentifikasi
5. Kertas Alas dari morfologinya
Laminati sampel yang
ng akan difoto

3.3 Metode (cara identifikasi)

1. Alat dan bahan disiapkan


2. Morfologi setia sampel diamati
3. Ciri khusus pada setiap sampel diamati Kelas : Malacostraca
4. Morfologidan ciri khusus dibandingkn dengan
Ordo : Decapoda
kunci identifikasi
5. Sampel yang telah diidentifikasi Famili : Hippidae
didokumentasikan Genus : Emerita
6. Hasil pengamatan dan identifikasi dicatat

Gambar 2. Metopograpsus sp

Klasifikasi :
IV. PEMBAHASAN Kingdom : Animalia

IV.1 Hasil Filum : Arthropoda


Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Grapsidae
Genus : Metopograpsus

Gambar 1. Emerita sp

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
IV.2 Pembahasan
Gambar 3. Odontodactylus sp
Klasifikasi : Emerita sp memiliki tubuh seperti gentong dengan
Kingdom : Animalia eksoskeleton yang sangat keras yang dapat menahan anggota tubuh
Filum : Arthropoda dari pasang surut gelombang. Emerita sp memiliki antena yang
Subfilum : Crustacea berbulu yang dapat digunakan ntuk menyaring plankton. Emerita
Kelas : Malacostraca jantan biasanya lebih kecil dari betina dan pada beberapa spesies,
Ordo : Stomatopoda Emerita jantang hidup menempel pada betina. Pada Emerita betina
Famili : Odontodactylidae biasanya memiliki panjang karapasnya sekitar 0,8 cm hingga 4 cm
Genus : Odontodactylus sedangkan Emerita jantan memiliki panjang karapas berkisar 2,5
cm hingga 3 cm.

Hewan ini memiliki kemampuan dalam menggali dan


mengubur dirinya pada pasir di dasaran laut. Emerita sp
menggunakan pereiopodnya untuk mengikis pasir dari bawah
tubuhnya. Selama melakukan ini, karapas Emerita ditekan kedalam
pasir untuk meninggalkan anggota tubuhnya saat menggali.
Gambar 4. Portunus sp Persebaran hewan ini umumnya berada pada daerah perairan tropis

Klasifikasi : dan subtropis dan memiliki gerak hidup yang sangat terbatas/ lebih

Kingdom : Animalia kecil. Persebaran hewan ini dapat ditemukan di sepanjang pantai

Filum : Arthropoda Amerika Serikat, pantai Atlantik dan negara Indo-Pasifik termasuk

Subfilum : Crustacea Australia.

Kelas : Malacostraca Odontodactylus sp atau biasa yang lebih dikenal dengan


Ordo : Decapoda udang mantis sering dijumpai dengan ukuran 3 cm hingga 18 cm
Famili : Portunoidea dengan warna hijau dan kaki oranye dengan bintik-bintik yang
Genus : Portunus terdapat pada karapas anteriornya. Hewan ini dapat menggali dan
membuat lubang berbentuk U di dekat pangkalan terumbu karang lalu larva dipindahkan ke muara laut. Portunus sp memakan
di dasaran laut berkisar antara 3-40 meter. Odontodactylus adalah plankton mikroskopis dan). Portunus sp memiliki chelipeds besar
pemburu aktif, biasanya memangsa jenis hewan gastropoda, yang digunakan untuk menangkap mangsa. Setelah megalopa yang
crustacea dan bivalvia dengan cara menghancurkan mangsanya bermetamorfosis ke tahap kepiting, Portunus sp menghabiskan
sampai dapat memperoleh akses ke jaringan lunak mangsanya waktu di muara yang menyediakan habitat yang cocok untuk
untuk di konsumsi. Selain itu, permukaan pada udang mantis terdiri tempat tinggal dan makanan. Namun, bukti menunjukkan bahwa
dari hidrosiapatit sangat padat dan berlapis. Persebaran hewan ini fase awal tidak bisa mentolerir salinitas rendah untuk waktu yang
biasanya terdapat pada air yang asin dan bisa juga hidup pada lama, yang kemungkinan disebabkan kemampuan hiper-
penangkaran yang dapat di kembangbiakan. osmoregulatory yang lemah. Hal ini mungkin menjelaskan
imigrasi massal dari muara ke air laut selama musim hujan.
Ciri-ciri morfologi spesies Portunus sp. adalah sebelah kiri
Portunus jantan biasa hidup pada wilayah teritorial dalam air yang
dan kanan karapaksnya terdapat duri yang besar. Duri-duri sisi
bersuhu dingin. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa kepiting
belakang matanya berjumlah sembilan buah (termasuk duri besar).
jantan jarang terlihat dalam jarak dekat satu sama lain di perairan
Portunus jantan karapaksnya berwarna dasar biru ditaburi bintik-
beriklim dan juga menjelaskan mengapa Portunus betina tampak
bintik putih yang beraneka ragam bentuknya. Sedangkan yang
lebih produktif pada daerah-daerah tersebut.
betina berwarna dasar hijau kotor dengan bintik-bintik seperti
jantan Pada bagian perut (dada) kepiting jantan umumnya organ Portunus sp jantan biasanya berwarna biru terang dengan
kelamin berbentuk segitiga yang sempit dan agak meruncing bintik-bintik putih dan cheliped yang panjang, sedangkan betina
dibagian depan, sedangkan organ kelamin kepiting betina berwarna hijau kegelapan / coklat dengan karapas lebih bulat yang
berbentuk segitiga yang relatif lebar dan dibagian depannya agak bisa mencapai sampai 20 sentimeter. Portunus sp hidup di bawah
tumpul (lonjong). pasir atau lumpur pada waktu yang lama, terutama pada siang hari
dan musim dingin. Dikarenakan Portunus sp beradaptasi dengan
Portunus sp umumnya hidup pada muara untuk makanan
lingkungan yang keberadaan amonium (NH4 +) dan amonia (NH3)
dan tempat tinggal. siklus hidupnya tergantung pada muara sebagai
sangat tinggi. Biasanya datang untuk memberi makan selama
larva dan remaja awal menggunakan habitat ini untuk pertumbuhan
pasang tinggi air laut di berbagai organisme seperti bivalvia, ikan
dan perkembangan. Sebelum menetas, bergerak ke habitat laut
dan pada tingkat lebih rendah, makroalga. Sebagian besar Portunus
dangkal, Portunus sp melepaskan telurnya dan zoea baru menetas
sp merupakan perenang yang sangat baik, karena sepasang kaki c. Praktikan harap berhati-hati dalam mengidentifikasi
rata yang menyerupai dayung. Namun, berbeda dengan kepiting spesies, agar tidak ada spesies yang patah atau rusak
d. Praktikan diharapkan memahami apa saja yang
lain portunid (Scylla serrata) yang tidak dapat bertahan hidup
dipraktikumkan agar meminimalisir terjadi nya kesalahan
untuk waktu yang lebih lama tanpa air.

DAFTAR PUSTAKA

Ariesta, Ririn Kurniati. 2013. Inventarisasi Jenis-Jenis Serangga


Pada Bunga Kelapa Sawit di Perkebunan Kelapa Sawit PT.
V. PENUTUP Agri Andalas (PERSERO) Pasar Ngalam Kecamatan Air
V.1 Kesimpulan Periukan Kabupaten Seluma. Bengkulu: Universitas
a. Struktur morfologi untuk filum artropoda yaitu memiliki Bengkulu. Hal.5.

kaki yang beruas-ruas atau bersegmen. Jika dilihat lagi Dadang. 2016. Konsep Hama dan Dinamika Populasi. Bogor: IPB.
bentuk nya memiliki kaki yang banyak yang digunakan Workshop Hama dan Penyakit Tanaman Jarak (Jatropha
curcaslinn): Potensi Kerusakan dan Teknik Pengendalian
untuk berjalan dan berenang. -nya. Hal 1-7.
b. Pada bagian permukaan artropoda mamiliki bagian tubuh Dunlop, Jason. 2016. Struktur dan Perkembangan Arthropoda.
yang sangat kompleks, terdiri dari kepala, thorax dan Berlin. Hal. 124-142.

abdomen serta kaki yang bersendi-sendi. Fakhrah. 2016. Inventarisasi Insekta Permukaan Tanah di
c. Pengidentifikasian pada filum artropoda bisa dilakukan Gampong Krueng Simpo Kecamatan Juli Kabupaten
dengan melihat dan mengamati bentuk morfologi nya Bireuen. Jurnal Pendidikan Almuslim. Vol.4. No.1. Hal:48-
52.
secara benar. Bisa dilihat dari bentuk tubuhnya, teksturnya,
serta habitatnya Farley, Roger D. 2012. Ultrastruktur Pembangunan Buku Insang di
Embrio dan Instar Pertama Kepiting Tapal Kuda Limulus
III.3 Saran
a. Praktikan diharapkan memakai lateks dan masker saat Polyphemus L. (chelicerata, Xiphosura). Farley Frontiers in
memasuki laboratorium
Zoology. California: Universitas California. Vol.9. No.4:1-
b. Praktikan diharapkan menggunakan lateks saat akan
menyentuh spesies dari ketiga filum 22.
Ferdinand, Fictor. 2009. Praktis Belajar Biologi. Jakarta: Pusat Mangrove. Bogor: Jurnal Fauna Indonesia.Vol.8.No.1.
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 118. Nelly, Movri. 2014. Keanekaragaman Coccinelidae Predator dan
Kutu Pada Ekosistem Cabai. Pros Seminar Nasional
Fortey, R.A. dan Thomas R.H. 2008. Hubungan Arthropoda.
Masyarakat Biodiversitas Indonesia. Vol. 1. No.2:249-253.
Inggris: Springer Science Business Media. Hal. 212.
Pratiwi, R. 2016. Komposisi Keberadaan Krustasea Di Mangrove
Hamdani. 2013. Studi Percobaan Pembiakan Zooplankton jenis
Delta Mahakam Kalimantan Timur.Jakarta: Makara Sains.
Cladocerae (Macrothrix sp) Secara Eksitu. Jurnal Ilmu Vol.13.No.1.
Perikanann Tropis. Vol. 18. No. 2: 1.
Hoseman. 2013. Phylum Arthropoda Chelicerata. Digital Zoologi Romimohtarto, Kasijan dan Sri Juwana. 2007. Biologi Laut Ilmu

Lab Manual. Hal 1-9. Pengetahuan tentang Biota Laut.Yogyakarta: Djambatan.


Sabdono,A. 2005. Eksplorasi Senyawa Bioaktif Antifoulant Bakteri
Kautsari, N. 2014. Potensi dampak Pemanasan Global Terhadap
Reproduksi Crustacea: Suatu Tinjauan Kepustakaan yang Berasosiasi dengan Avertebrata Laut Sebagai

Ringkas. Vol..3. No.3. Hal:221-225. Alternatif Penanganan Biofouling di Laut. Semarang.


Larosa, Roswita. 2013. Identifikasi Sumberdaya Kepiting Bakau Yamindago, Ade. 2013. Naskah Modul Filum Arthtropoda.
yang Didaratkan di TPI Kabupaten Tapanuli Tengah.
Malang: Universitas Brawijaya.
Journal Management of Aquatic Resources. Vol. 2. No.3:
186.
Murniati, D.C. 2008. Decapoda Crustacea Kepiting Biola Dari